Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Buah Ketiga:

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Buah Ketiga:

Wahai nafsu! Jika engkau menginginkan amal akhirat yang tak terhingga dalam umur yang singkat, ingin setiap menit umurmu memberi manfaat sebesar satu umur, dan suka mengubah kebiasaanmu menjadi ibadah serta kelalaianmu menjadi sadar di hadapan Allah سُبْحَانَهُ, ikutilah Sunnah yang mulia. Sebab, ketika engkau menyesuaikan amalmu dengan tata cara syariat, hal itu memberimu suatu bentuk kesadaran di hadapan Allah سُبْحَانَهُ. Ia menjadi suatu bentuk ibadah dan menghasilkan banyak buah akhirat. Misalnya, engkau membeli sesuatu. Pada saat menerapkan ijab dan kabul sesuai syariat, jual beli biasa itu menjadi seperti ibadah. Mengingat hukum syariat itu menghadirkan bayangan tentang wahyu. Dengan memikirkan Sang Penetap syariat, hal itu membuatmu menghadap kepada Allah سُبْحَانَهُ, lalu memberimu kesadaran di hadapan-Nya. Jadi, dengan menyesuaikan amal dengan Sunnah yang mulia, diperoleh manfaat yang membuat umur fana ini menghasilkan buah-buah kekal dan menjadi sarana bagi kehidupan abadi. Dengarkanlah Perintah

ﻓَﺎٰﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ الْاُمِّىِّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَﺍﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

.

Berusahalah menjadi tempat yang menyeluruh bagi limpahan Tajalli setiap Nama dalam Asmaul Husna, yang manifestasinya tersebar di dalam hukum-hukum syariat dan Sunnah yang mulia.

Buah Keempat:

Wahai nafsu! Jangan meniru orang-orang yang mengejar dunia, terutama mereka yang hidup bejat, terlebih orang-orang kafir, dengan terpikat oleh hiasan lahiriah dan kenikmatan haram mereka yang menipu. Sebab, jika engkau meniru mereka, engkau tidak akan dapat menjadi seperti mereka. Engkau akan jatuh amat jauh. Menjadi hewan pun engkau tidak bisa. Sebab, akal di kepalamu menjadi alat pembawa petaka yang akan terus memukul kepalamu. Misalnya, ada sebuah istana dengan lampu listrik besar di ruang besarnya. Lampu-lampu listrik kecil yang bercabang dari lampu itu dan terhubung dengannya tersebar di ruang-ruang kecil. Jika seseorang memutar sakelar lampu listrik besar itu dan memadamkan cahayanya, semua ruang jatuh ke dalam gelap yang pekat dan suasana mencekam. Di istana lain, setiap ruang memiliki lampu listrik kecil yang tidak terhubung dengan lampu besar. Jika pemilik istana memutar sakelar lampu besar dan memadamkannya, ruang-ruang lain masih dapat memiliki cahaya. Ia dapat mengerjakan urusannya dengan cahaya itu, dan para pencuri tidak dapat mengambil keuntungan. Wahai nafsuku! Istana pertama adalah seorang Muslim. Nabi ﷺ adalah lampu listrik besar itu di dalam hatinya.

Jika ia melupakan beliau, lalu mengeluarkan beliau dari hatinya—el'iyazü billah—ia tidak dapat lagi menerima nabi mana pun. Bahkan, tak ada lagi tempat bagi kesempurnaan apa pun dalam ruhnya; ia bahkan tidak mengenal Rabbnya. Semua ruang dan daya halus dalam dirinya jatuh ke dalam gelap, dan terjadi kehancuran dahsyat serta suasana mencekam dalam hatinya. Apa yang dapat engkau peroleh untuk merasakan keakraban sebagai ganti kehancuran dan suasana mencekam ini? Manfaat apa yang dapat engkau temukan untuk memperbaiki kerusakan akibat kehancuran itu? Sementara itu, orang-orang asing seperti istana kedua. Meski mengeluarkan cahaya Nabi ﷺ dari hati mereka, menurut pandangan mereka, sebagian cahaya dapat tetap tinggal, atau mereka mengira demikian. Suatu bentuk iman kepada Musa dan Isa Aleyhimesselâm serta suatu macam keyakinan kepada Khâliq mereka dapat tetap tinggal dan menjadi dasar kesempurnaan akhlak ruhani mereka. Wahai nafsu ammarah! Jika engkau berkata, "Aku tidak ingin menjadi orang asing, melainkan hewan," sudah berapa kali kukatakan kepadamu, "Engkau tidak dapat menjadi seperti hewan. Sebab, di kepalamu ada akal. Dengan tamparan derita masa lalu dan ketakutan akan masa depan, akal itu memukul wajah, mata, dan kepalamu. Ia mencampurkan seribu derita ke dalam satu kenikmatan. Adapun hewan menikmati kenikmatan yang baik tanpa derita dan merasakan lezatnya. Maka, keluarkan dan buanglah akalmu dahulu, barulah menjadi hewan.

Lihat pula tamparan peringatan

كَالْاَنْعَامِ ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﺍَﺿَﻞُّ

."

Buah Kelima:

Wahai nafsu! Sebagaimana telah berulang kali kita katakan, manusia adalah buah pohon penciptaan. Karena itu, seperti buah, ia merupakan makhluk yang berada paling jauh, paling menyeluruh, dan menghadap kepada semuanya; membawa benih berupa hati yang menyimpan sisi kesatuan semuanya, sedangkan wajahnya menghadap kepada yang banyak, yang akan lenyap, dan dunia. Ubudiyah adalah benang penghubung yang memalingkan wajahnya dari yang akan lenyap kepada yang kekal, dari makhluk kepada Al-Haqq, dari yang banyak kepada kesatuan, dari ujung kepada pangkal; atau titik penghubung antara pangkal dan ujung. Seandainya suatu buah berharga yang memiliki kesadaran dan akan menjadi benih melihat makhluk bernyawa di bawah pohon, percaya pada kecantikannya, lalu melemparkan dirinya ke tangan mereka, atau lalai dan jatuh, ia akan masuk ke tangan mereka, hancur, dan terbuang seperti satu buah biasa. Jika buah itu menemukan sandarannya dan dapat memikirkan bahwa benih di dalamnya bukan saja memuat sisi kesatuan seluruh pohon, tetapi juga akan menjadi sarana bagi pohon untuk tetap hidup dan hakikatnya untuk terus berlangsung, maka satu benih dalam satu buah itu menjadi tempat tampilnya hakikat menyeluruh yang terus bertahan, dalam umur yang kekal. Demikian pula manusia.

Jika ia tenggelam dalam yang banyak, terbenam di tengah kainat, pening karena cinta kepada dunia, tertipu oleh senyum mereka yang fana, lalu melemparkan dirinya ke pelukan mereka, tentu ia jatuh ke dalam kerugian yang tak terhingga. Ia jatuh dalam fana, dalam yang bersifat fana, dan dalam keadaan tidak ada. Secara ruhani, ia pun menghukum mati dirinya. Jika dengan telinga hati ia mendengar pelajaran iman dari lisan Al-Qur'an, mengangkat kepalanya, dan menghadap kepada kesatuan, ia dapat naik ke arasy kesempurnaan melalui mi'raj ubudiyah. Ia menjadi manusia yang kekal. Wahai nafsuku! Karena hakikatnya demikian dan engkau termasuk umat Ibrahim (as), ucapkanlah

لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ

seperti Ibrahim, palingkan wajahmu kepada Sang Kekasih Yang Kekal, dan menangislah seperti aku, demikian:

ﻟَﻘَﺪْ ﺍَﺑْﻜَﺎﻧِﻰ ﻧَﻌْﻰُ ﴾ لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ ﴿ ﻣِﻦْ ﺧَﻠ۪ﻴﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻓَﺼَﺒَّﺖْ ﻋَﻴْﻦُ ﻗَﻠْﺒ۪ﻰ ﻗَﻄَﺮَﺍﺕٍ ﺑَﺎﻛِﻴَﺎﺕٍ ﻣِﻦْ ﺷُﺌُﻮﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻟِﺘَﻔْﺴ۪ﻴﺮِ كَلَامٍ ﻣِﻦْ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٍ ﺍَﻯْ ﻧَﺒِﻰٍّ ﻓ۪ﻰ كَلَامِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺯِﻳﺒَﺎﺳْﺖْ ﺍُﻓُﻮﻟْﺪَﻩ ﮔُﻢْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﺤْﺒُﻮﺏْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺍَﺭْﺯَﺩْ ﻏُﺮُﻭﺑْﺪَﻩ ﻏَﻴْﺐْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻄْﻠُﻮﺏْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻫَﻢْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻩ ﻣَﺤْﻮْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻘْﺼُﻮﺩْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻧَﻢْ ﺯَﻭَﺍﻟْﺪَﻩ ﺩَﻓْﻦْ ﺷُﺪَﻥْ ﻣَﻌْﺒُﻮﺩْ ﻋَﻘْﻞْ ﻓَﺮْﻳَﺎﺩْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﻧِﺪَﺍﺀِ ﴾لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ﴿ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﺭُﻭﺣَﻢْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻫَﻢْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻧَﻢْ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺗَﺎﺑَﻢْ ﻓِﺮَﺍﻗ۪ﻰ ﻧَﻤ۪ﻰ ﺍَﺭْﺯَﺩْ ﻣَﺮَﺍﻗَﻪ ﺍ۪ﻳﻦْ ﺯَﻭَﺍﻝْ ﺩَﺭْ ﭘَﺲْ تَلَاق۪ى ﺍَﺯْ ﺁﻥْ ﺩَﺭْﺩ۪ﻯ ﮔِﺮ۪ﻳﻦِ ﴾ لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ ﴿ ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﻗَﻠْﺒَﻢْ ﺩَﺭْ ﺍ۪ﻳﻦْ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺑَﻘَﺎ ﺧَﺎﺯِﻯ ﺑَﻘَﺎ ﺧِﻴﺰَﺩْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻥْ ﻓَﻨَﺎ ﺷُﺪْ ﻫَﻢْ ﻓَﺪَﺍ ﻛُﻦْ ﻫَﻢْ ﻋَﺪَﻡْ ﺑ۪ﻴﻦْ ﻛِﻪ ﺍَﺯْ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺑَﻘَﺎﻳَﻪ ﺭَﺍﻩْ ﻓَﻨَﺎﺩَﻥْ ﻓِﻜِﺮْ ﻓ۪ﻴﺰَﺍﺭْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﺍَﻧ۪ﻴﻦِ ﴾ لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ ﴿ ﻣ۪ﻰ ﺯَﻧَﺪْ ﻭِﺟْﺪَﺍﻥْ ﺑِﺪَﺍﻥْ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺲِ ﻧَﺎﺩَﺍﻧَﻢْ ﻛِﻪ ﺩَﺭْ ﻫَﺮْ ﻓَﺮْﺩْ ﺍَﺯْ ﻓَﺎﻧ۪ﻰ ﺩُﻭ ﺭَﺍﻩْ ﻫَﺴْﺖْ ﺑَﺎ ﺑَﺎﻗ۪ﻰ ﺩُﻭ ﺳِﺮِّ ﺟَﺎﻥِ ﺟَﺎﻧَﺎﻧ۪ﻰ ﻛِﻪ ﺩَﺭْ ﻧِﻌْﻤَﺘْﻬَﺎ ﺍِﻧْﻌَﺎﻡْ ﻫَﺴْﺖْ ﻭَ ﭘَﺲْ ﺁﺛَﺎﺭْﻫَﺎ ﺍَﺳْﻤَﺎ ﺑِﮕِﻴﺮْ ﻣَﻐْﺰِﻯ ﻭَ ﻣِﻴﺰَﻥْ ﺩَﺭْ ﻓَﻨَﺎ ﺁﻥْ ﻗِﺸْﺮِ ﺑِﻰ ﻣَﻌْﻨَﺎ ﺑَﻠ۪ﻰ ﺁﺛَﺎﺭْﻫَﺎ ﮔُﻮﻳَﻨْﺪْ ﺯِﺍَﺳْﻤَﺎ ﻟَﻔْﻆِ ﭘُﺮْ ﻣَﻌْﻨَﺎ ﺑِﺨَﺎﻥْ ﻣَﻌْﻨَﺎ ﻭَ ﻣ۪ﻴﺰَﻥْ ﺩَﺭْ ﻫَﻮَﺍ ﺁﻥْ ﻟَﻔْﻆِ ﺑ۪ﻰ ﺳَﻮْﺩَﺍ ﻋَﻘْﻞْ ﻓَﺮْﻳَﺎﺩْ ﻣ۪ﻰ ﺩَﺍﺭَﺩْ ﻏِﻴَﺎﺙِ ﴾ لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ ﴿ ﻣ۪ﻴﺰَﻥْ ﺍَﻯْ ﻧَﻔْﺴَﻢْ ﭼِﻪ ﺧُﻮﺵْ ﮔُﻮﻳَﺪْ ﺍُﻭ ﺷَﻴْﺪَﺍ ﺟَﺎﻣ۪ﻰ ﻋِﺸْﻖْ ﺧُﻮﻯْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻩْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺧَﻮﺍﻥْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺟُﻮﻯْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺑ۪ﻴﻦْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﺩَﺍﻥْ ﻳَﻜ۪ﻰ ﮔُﻮﻯْ

{(Catatan kaki): Paragraf kecil ini milik Jami.}

ﻧَﻌَﻢْ ﺻَﺪَﻗْﺖَ ﺍَﻯْ ﺟَﺎﻣ۪ﻰ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻄْﻠُﻮﺏُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﺤْﺒُﻮﺏُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻘْﺼُﻮﺩُ ٭ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤَﻌْﺒُﻮﺩُ ﻛِﻪ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮ ﺑَﺮَﺍﺑَﺮْ ﻣ۪ﻴﺰَﻧَﺪْ ﻋَﺎﻟَﻢْ ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﻠَّﻴْﺖَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻝِ ﺍِﺑْﺮَﺍﻫ۪ﻴﻢَ ﻓﻰِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺍِﻧَّﻚَ ﺣَﻤ۪ﻴﺪٌ ﻣَﺠ۪ﻴﺪٌ

Dasar Keempat Kalimat Ketiga Puluh Satu
Apa buah serta manfaat mikraj?
Jawaban:
Sebagai contoh, kami hanya akan menyebut lima dari lebih lima ratus buah mikraj, yang merupakan pohon Tuba rohani ini.