Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Buah Pertama:

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Buah Pertama:

Melihat hakikat rukun-rukun iman dengan mata, menyaksikan malaikat, surga, akhirat, bahkan Zat Dzul-Jalâl dengan mata, telah membawa bagi kainat dan umat manusia hadiah yang azali dan abadi berupa khazanah serta cahaya. Dengan cahaya serta buah itu, ia mengeluarkan kainat ini dari keadaan yang disangka berantakan, sementara dan kacau, lalu memperlihatkan hakikat kainat itu sebagai surat-surat suci dari Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad dan cermin indah Keindahan Zat Yang Ahad. Ia membuat kainat serta seluruh makhluk yang sadar gembira dan bahagia.
Dengan cahaya serta buah itu pula, ia mengeluarkan manusia dari keadaan sesat: kacau, berantakan, tidak berdaya, serba kurang, kebutuhannya tak terbatas, musuhnya tak berhingga, sementara dan tidak kekal. Dengan cahaya serta buah suci itu, ia memperlihatkan manusia dalam wujud sejatinya: mukjizat Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad dalam ahsani taqwîm, salinan yang menyeluruh dari surat-surat Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad, sosok yang diajak bicara oleh Sultan Azali dan Abadi, hamba khusus-Nya, pengagum Kesempurnaan-Nya, sahabat dekat-Nya, pengagum Keindahan-Nya, kekasih-Nya, dan tamu berharga yang menjadi calon penghuni surga-Nya yang kekal.

Kepada seluruh manusia yang tetap menjadi manusia, ia memberi kegembiraan yang tak berhingga dan semangat yang tak terbatas.

Buah Kedua:

Ia membawa kepada jin dan manusia hadiah berupa dasar-dasar Islam, dengan salat pada urutan pertama, yang diridai Rabb, Sang Penguasa Yang Azali dan Abadi, Sang Pembuat segala yang ada, Sang Pemilik kainat, dan Rabb seluruh alam. Memahami apa yang diridai-Nya begitu membangkitkan minat dan mendatangkan kebahagiaan sehingga tak dapat dilukiskan. Sebab, betapa setiap orang ingin mengetahui dari jauh keinginan seorang pemberi nikmat yang besar ataupun raja yang berbuat baik kepadanya, dan betapa puas ia jika mengetahuinya. Ia berharap, "Andai ada sarana untuk menghubunginya sehingga aku dapat langsung berbicara dengannya!
Andai aku memahami apa yang ia inginkan dariku! Andai aku mengetahui perbuatanku yang menyenangkannya!" Engkau dapat memahami betapa manusia seharusnya ingin dan berminat mengetahui apa yang diridai serta dikehendaki-Nya: seluruh yang ada berada dalam Genggaman Tasarruf-Nya; keindahan serta kesempurnaan pada segala yang ada hanyalah bayang-bayang lemah dibandingkan Keindahan dan Kesempurnaan-Nya; manusia setiap saat membutuhkan-Nya dari segi-segi tak berhingga dan menerima karunia-karunia-Nya yang tak berhingga.

Pribadi Ahmad ﷺ, di balik tujuh puluh ribu tabir, langsung mendengar dengan haqqulyaqin (yakin melalui pengalaman langsung) apa yang diridai Sultan Azali dan Abadi itu sebagai buah mikraj, lalu membawa dan menghadiahkannya kepada umat manusia.
Ya, betapa manusia ingin mengetahui keadaan di bulan, agar seseorang pergi ke sana lalu kembali membawa berita. Betapa besar pula pengorbanan yang mereka lakukan. Jika mengetahuinya, betapa mereka akan kagum dan semakin berminat. Padahal, bulan beredar di negeri Sang Mâlikul-Mulk, sehingga ia terbang mengitari bola bumi seperti seekor lalat. Bola bumi terbang mengitari matahari seperti seekor ngengat. Matahari hanyalah satu lampu di antara ribuan lampu yang menjadi penerang di sebuah rumah tamu Sang Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl.
Pribadi Ahmad ﷺ telah melihat Syuunat Zat Dzul-Jalâl itu, keajaiban Seni-Nya serta khazanah Rahmat-Nya di alam kekal, lalu datang dan menceritakannya kepada umat manusia. Engkau dapat memahami betapa manusia bertindak bertentangan dengan akal dan hikmah jika mereka tidak mendengarkan sosok ini dengan minat, kekaguman dan cinta yang penuh.

Buah Ketiga:

Ia melihat harta terpendam kebahagiaan abadi, mengambil dan membawa kuncinya, lalu menghadiahkannya kepada jin dan manusia.

Ya, melalui mikraj ia melihat surga dengan matanya sendiri, menyaksikan manifestasi kekal Rahmat Sang Rahmân Dzul-Jamâl, memahami kebahagiaan abadi dengan pasti pada tingkat haqqulyaqin, dan menghadiahkan kepada jin serta manusia kabar gembira tentang adanya kebahagiaan abadi. Jin dan manusia yang malang berada di dunia yang tak menetap; mereka menyangka dengan cara yang menyayat jiwa bahwa segala yang ada, di tengah guncangan saat sesuatu lenyap dan berpisah, dituangkan oleh arus waktu serta gerak zarah ke dalam lautan tiada dan perpisahan abadi.
Saat mereka berada dalam keadaan itu, tak dapat dilukiskan betapa berharga kabar gembira tersebut, dan betapa kabar itu mendatangkan kebahagiaan ketika sampai ke telinga jin serta manusia yang sementara yang mengira diri mereka dihukum mati selama-lamanya. Jika seseorang, tepat saat akan dihukum mati, diampuni dan diberi sebuah istana di dekat raja, betapa hal itu mendatangkan kegembiraan. Kumpulkan kegembiraan semacam itu sebanyak jumlah seluruh jin dan manusia, lalu nilailah kabar gembira ini.