Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Dasar Keempat:

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Dasar Keempat:

Dalam banyak jenis, bahkan malam dan siang, musim dingin serta musim semi, ruang udara, bahkan pribadi-pribadi manusia, tubuh yang berganti sepanjang hidupnya serta tidur yang menyerupai maut merupakan sejenis kiamat yang menyerupai kebangkitan serta hidup kembali; semuanya membuat orang merasakan dan mengisyaratkan bahwa kiamat terbesar akan terjadi. Ya, misalnya, menyerupai roda-roda yang menghitung detik, menit, jam, serta hari pada jam mingguan kita, hari, tahun, umur manusia, dan perputaran dunia pada jam besar Allah سُبْحَانَهُ yang disebut dunia berputar serta bekerja, menjadi pendahuluan satu bagi lainnya dan saling memberitakan.

Sebagaimana semuanya menghasilkan pagi setelah malam dan musim semi setelah musim dingin, semuanya mengisyaratkan bahwa pagi kiamat setelah maut akan keluar dari alat kerja serta jam yang amat besar itu. Banyak jenis kiamat telah dialami suatu pribadi sepanjang umurnya. Sebagaimana ia melihat tanda-tanda kebangkitan dengan suatu bentuk mati setiap malam dan hidup kembali setiap pagi, dengan mengganti seluruh zarahnya dalam lima atau enam tahun sebagaimana disepakati, bahkan dua kali dalam satu tahun, ia juga melihat tiruan kiamat serta kebangkitan yang bertahap. Ia juga menyaksikan lebih dari tiga ratus ribu kebangkitan, hidup kembali, dan kiamat jenis-jenis binatang serta tumbuh-tumbuhan pada setiap musim semi. Begitu banyak tanda dan isyarat kebangkitan, serta petunjuk dan lambang hidup kembali ini tentu menunjuk kepada kebangkitan itu, laksana limpahan kiamat terbesar. Kiamat jenis-jenis seperti ini oleh Sang Pembuat yang Hakîm, yakni menghidupkan kembali akar-akar seluruh tumbuhan serta sebagian binatang itu sendiri pada musim semi, dan mengembalikan sebagian hal lain, seperti daun, bunga, serta buah, bukan benda-benda itu sendiri, melainkan yang serupa, sehingga terjadi suatu bentuk kebangkitan serta hidup kembali, dapat menjadi dalil kiamat pribadi pada setiap manusia dalam kiamat umum. Sebab satu pribadi manusia laksana satu jenis makhluk lain.

Sebab cahaya pikiran memberi keluasan begitu besar pada cita-cita serta pikiran manusia sehingga meliputi masa lalu dan masa depan. Sekalipun menelan dunia, ia tidak puas. Pada jenis-jenis lain, hakikat setiap individu bersifat juz'i, nilainya pribadi, pandangannya terbatas, kesempurnaannya dibatasi, serta kenikmatan dan rasa sakitnya sesaat. Adapun hakikat manusia luhur, nilainya tinggi, pandangannya umum, kesempurnaannya tanpa batas, serta kenikmatan dan rasa sakit maknawinya sebagian terus berlangsung. Maka jenis-jenis kiamat serta kebangkitan yang dengan mata kepala terlihat berulang pada jenis-jenis lain mengisyaratkan dan memberitakan bahwa pada kiamat terbesar yang umum ini, setiap pribadi manusia akan dikembalikan sebagai pribadi yang sama dan dikumpulkan dalam kebangkitan. Karena hal itu dibuktikan dalam Hakikat Kesembilan Kalimat Kesepuluh dengan kepastian sebesar dua kali dua sama dengan empat, kami meringkasnya di sini. Dasar Kelima: Para peneliti hakikat melihat bahwa potensi tanpa batas yang dimasukkan dalam inti ruh manusia, kemampuan tidak terbatas yang terkandung dalam potensi itu, kecenderungan tanpa batas yang muncul dari kemampuan tersebut, cita-cita tanpa ujung yang lahir dari kecenderungan itu, serta pikiran dan gambaran manusia tanpa akhir yang lahir dari cita-cita tersebut telah mengulurkan tangan, menatap, dan mengarah kepada kebahagiaan abadi di balik alam yang tampak ini.

Maka fitrah yang tidak pernah berdusta, serta kecenderungan pasti, kuat, dan tidak terguncang dalam fitrah kepada kebahagiaan abadi ini, memberi nurani firasat yang pasti tentang nyatanya kebahagiaan abadi. Karena Hakikat Kesebelas Kalimat Kesepuluh memperlihatkan hakikat ini seperti siang hari, kami mempersingkatnya. Dasar Keenam: Rahmat Sang Pembuat Dzul-Jamâl segala wujud ini, yang merupakan Ar-Rahmân Ar-Rahîm, menunjukkan kebahagiaan abadi. Ya, termasuk keadaan Rahmat itu untuk tidak menahan dari manusia kebahagiaan abadi, yang menjadikan nikmat benar-benar nikmat, menyelamatkan nikmat dari menjadi hukuman, serta membebaskan segala wujud dari jeritan yang lahir akibat perpisahan abadi. Sebab jika kebahagiaan abadi — pangkal, pemimpin, tujuan, serta hasil seluruh nikmat — tidak diberikan, jika dunia tidak hidup kembali dalam bentuk akhirat setelah mati, seluruh nikmat berubah menjadi hukuman. Perubahan itu mengharuskan orang mengingkari adanya Rahmat Ilahi, yang pasti dan terlihat dengan jelas, secara niscaya, serta dengan kesaksian seluruh alam. Padahal Rahmat merupakan hakikat tetap yang lebih terang daripada matahari. Lihatlah dan perhatikan nikmat cinta, kasih sayang, serta akal, yang merupakan manifestasi dan jejak halus Rahmat.

Jika engkau mengandaikan kehidupan manusia akan berujung pada perpisahan abadi dan kehilangan yang tidak pernah berakhir, engkau akan melihat bahwa cinta yang lembut itu menjadi musibah terbesar. Kasih sayang yang nikmat itu menjadi penyakit terbesar. Akal yang bercahaya itu menjadi bencana terbesar. Jadi, Rahmat — karena ia Rahmat — tidak dapat menghadapkan kehilangan abadi kepada cinta sejati. Karena Hakikat Kedua Kalimat Kesepuluh memperlihatkan hakikat ini dengan sangat indah, penjelasannya diringkas di sini. Dasar Ketujuh: Seluruh kelembutan, keindahan, kesempurnaan, daya tarik, kerinduan, serta belas kasih yang terlihat dan diketahui dalam alam ini masing-masing merupakan makna, kandungan, serta kata maknawi yang secara pasti dan jelas memperlihatkan kepada hati serta memasukkannya ke mata akal Tajalli Kelembutan dan Belas Kasih Sang Pembuat Dzul-Jalâl alam ini, serta manifestasi Anugerah dan Kemurahan-Nya. Karena ada hakikat dalam alam ini, jelas ada Rahmat yang sejati. Karena ada Rahmat yang sejati, akan ada kebahagiaan abadi. Hakikat Keempat bersama Hakikat Kedua Kalimat Kesepuluh telah menerangi hakikat ini seperti siang hari. Dasar Kedelapan: Nurani manusia, fitrahnya yang berkesadaran, menghadap kepada dan menunjukkan kebahagiaan abadi. Ya, siapa yang mendengarkan nuraninya yang terjaga akan mendengar suara, "Kekal!

Kekal!" Sekalipun seluruh alam diberikan kepada nurani itu, ia tidak dapat memenuhi kebutuhannya akan hidup yang kekal. Jadi, nurani itu diciptakan untuk hidup yang kekal tersebut. Jadi, daya tarik serta tarikan dalam nurani ini hanya dapat terjadi melalui tarikan suatu tujuan yang sesungguhnya dan suatu hakikat yang menarik. Penutup Hakikat Kesebelas Kalimat Kesepuluh telah menunjukkan hakikat ini. Dasar Kesembilan: Berita Muhammad dari Arab ﷺ, yang jujur, terbukti benar, serta dibenarkan. Ya, perkataan beliau ﷺ telah membuka pintu-pintu kebahagiaan abadi, dan ucapannya ﷺ masing-masing merupakan jendela menuju kebahagiaan abadi. Dengan memegang kesepakatan seluruh nabi alaihimussalâm dan mutawatir seluruh wali, seluruh klaimnya dengan seluruh kekuatannya, setelah Tauhid Ilahi, berpusat pada kebangkitan serta kebahagiaan ini. Adakah sesuatu yang dapat mengguncangkan kekuatan tersebut? Hakikat Kedua Belas Kalimat Kesepuluh telah memperlihatkan hakikat ini dengan sangat jelas. Dasar Kesepuluh: Berita-berita pasti Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, yang selama tiga belas abad memelihara mukjizatnya dari tujuh segi dan, sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kedua Puluh Lima, merupakan mukjizat dengan empat puluh jenis mukjizatnya. Ya, berita Al-Qur'an itu sendiri menyingkap kebangkitan jasmani dan merupakan kunci teka-teki rumit alam serta isyarat Hikmah alam ini.

Juga terdapat ribuan hujah akal yang pasti, yang dicakup Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat itu dan berulang kali diperintahkan untuk direnungkan serta dihadapkan kepada pandangan. Di antaranya, melalui banyak ayat seperti

ﻭَ ﻗَﺪْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺍَﻃْﻮَﺍﺭًﺍ

dan

ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ

yang mengandung penalaran dengan perumpamaan, serta

ﻭَ ﻣَﺎ ﺭَﺑُّﻚَ بِظَلَّامٍ ﻟِﻠْﻌَﺒِﻴﺪِ

yang menunjuk kepada dalil keadilan, Al-Qur'an menempatkan di hadapan perhatian manusia banyak teropong yang memperlihatkan kebahagiaan abadi dalam kebangkitan jasmani. Dalam Nokta Risalesi, kami telah menjelaskan ringkasan penalaran dengan perumpamaan pada

ﻭَ ﻗَﺪْ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺍَﻃْﻮَﺍﺭًﺍ

dan

ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ

, yang dijelaskan Al-Qur'an melalui ayat-ayat lain, sebagai berikut: Ketika wujud manusia beralih dari tahap ke tahap, ia mengalami perubahan yang menakjubkan dan teratur. Peralihannya dari nutfah ke alaqah, dari alaqah ke mudgah, dari mudgah ke tulang serta daging, dan dari tulang serta daging ke ciptaan baru, yakni rupa manusia, mengikuti kaidah-kaidah yang sangat halus. Setiap tahap itu memiliki hukum-hukum khusus, tatanan yang tertentu, serta gerakan yang teratur, sehingga seperti kaca memperlihatkan di baliknya manifestasi Maksud, Kehendak, Pilihan, dan Hikmah.

Sang Pembuat yang Hakîm, yang membuat tubuh dengan cara ini, mengganti tubuh itu setiap tahun seperti pakaian. Agar tubuh itu berganti dan tetap bertahan, ia memerlukan suatu susunan untuk datangnya zarah-zarah baru yang akan bekerja dan mengisi tempat bagian-bagian yang terurai. Karena sel-sel tubuh itu runtuh menurut Hukum Ilahi yang teratur, untuk memperbaikinya kembali menurut Hukum Rabb yang teratur, ia menghendaki zat halus bernama rezeki; Ar-Razzâq Yang Hakiki membagi serta menyalurkannya melalui Hukum khusus menurut kebutuhan masing-masing organ tubuh. Sekarang lihatlah tahap-tahap zat halus yang dikirim Ar-Razzâq yang Hakîm itu; engkau akan melihat bahwa ketika zarah-zarah zat tersebut tersebar seperti rombongan di udara, tanah, serta air, tiba-tiba mereka berkumpul dalam keadaan yang mengandung gerak disengaja, seolah telah menerima perintah bergerak. Seolah setiap zarah ditugasi pergi ke suatu tempat tertentu dengan suatu tugas, mereka berkumpul dengan sangat teratur. Dari perjalanannya juga tampak bahwa mereka diarahkan oleh Hukum khusus Sang Pelaku yang memilih dan masuk dari alam benda tidak bernyawa ke alam makhluk yang tumbuh, yakni alam makhluk hidup.

Kemudian dengan tatanan tertentu, gerakan teratur, serta kaidah khusus, mereka masuk ke suatu tubuh sebagai rezeki; setelah dimasak dalam empat dapur di tubuh itu, melewati empat perubahan menakjubkan, dan disaring melalui empat penyaring, mereka menyebar ke seluruh penjuru tubuh dan terbagi menurut tingkat kebutuhan yang berbeda-beda pada seluruh organ yang membutuhkan, dengan Perhatian serta Hukum-Hukum Ar-Razzâq Yang Hakiki yang teratur. Zarah mana pun di antara mereka yang engkau lihat dengan pandangan hikmah, engkau akan melihat bahwa pertemuan buta, kebetulan tanpa hukum, tabiat tuli, serta sebab-sebab tanpa kesadaran sama sekali tidak dapat mencampuri zarah yang diarahkan seolah melihat, teratur, mendengar, dan mengetahui itu. Sebab dari unsur yang meliputinya hingga sel tubuh, pada tahap mana pun ia masuk, ia seolah bertindak dengan pilihan menurut hukum-hukum tertentu tahap itu dan masuk dengan teratur. Ke lapisan mana pun ia bepergian, ia melangkah sedemikian teratur sehingga jelas terlihat pergi menurut Perintah Sang Pengarah yang Hakîm.

Dengan pergi dari tahap ke tahap dan lapisan ke lapisan secara teratur seperti ini, tanpa meninggalkan sasaran serta tujuannya, melalui Perintah Rabb ia masuk ke tempat yang layak baginya, misalnya pupil mata Tevfik, lalu menetap dan bekerja. Keadaan ini, yakni Tajalli Rububiyah dalam rezeki, menunjukkan bahwa sejak awal zarah-zarah itu telah ditentukan, ditugasi, dan disiapkan bagi tempat-tempat tersebut. Adanya keteraturan seolah pada dahi serta wajah setiap zarah tertulis "Akan menjadi rezeki sel tertentu" mengisyaratkan bahwa rezeki setiap orang ditulis pada dahinya dengan Pena Takdir dan namanya ditulis di atas rezekinya. Apakah mungkin Sang Pembuat Dzul-Jalâl, yang menjalankan Rububiyah dengan Kudrat tanpa batas serta Hikmah yang meliputi sebesar ini, memegang seluruh wujud dari zarah hingga planet dalam Genggaman Tasarruf-Nya, serta memutarnya dalam lingkup keteraturan dan timbangan, tidak melakukan atau tidak mampu melakukan "penciptaan yang lain"? Banyak ayat Al-Qur'an menghadapkan "penciptaan pertama" yang penuh hikmah ini kepada pandangan manusia. Dengan memperumpamakan "penciptaan yang lain" pada kebangkitan serta kiamat dengannya, ayat-ayat itu menghilangkan anggapan bahwa hal tersebut sulit terjadi.

Al-Qur'an berkata,

ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ

Yakni, "Siapa yang membentuk kalian dari tiada dengan cara yang begitu penuh Hikmah, Dialah yang akan menghidupkan kalian di akhirat." Ia juga berkata,

ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﺒْﺪَﺅُﺍ ﺍﻟْﺨَﻠْﻖَ ﺛُﻢَّ ﻳُﻌ۪ﻴﺪُﻩُ ﻭَﻫُﻮَ ﺍَﻫْﻮَﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

Yakni, "Dikembalikannya dan dihidupkannya kalian pada kebangkitan lebih mudah dan lebih ringan daripada penciptaan kalian di dunia." Sebagaimana apabila prajurit suatu batalion berpencar untuk beristirahat lalu dipanggil dengan terompet, berkumpulnya mereka dengan mudah di bawah bendera batalion jauh lebih mudah dan lebih ringan daripada membentuk batalion baru, begitu pula, ketika zarah-zarah pokok yang telah saling bercampur, akrab, serta berhubungan dalam satu tubuh menjawab Perintah Sang Khâliq Dzul-Jalâl dengan "Labbaik!" melalui Sangkakala Israfil alaihissalâm dan berkumpul, hal itu, menurut akal, lebih mudah dan lebih mungkin daripada penciptaan pertama. Mungkin seluruh zarah juga tidak harus berkumpul. Bagian-bagian pokok serta zarah-zarah asal yang laksana inti dan benih, yang dalam hadis disebut "ajbuz-zanab", merupakan dasar serta landasan yang cukup bagi penciptaan kedua. Sang Pembuat yang Hakîm membangun tubuh manusia di atasnya.

Ringkasan penalaran keadilan yang diisyaratkan ayat-ayat seperti ayat ketiga

ﻭَ ﻣَﺎ ﺭَﺑُّﻚَ بِظَلَّامٍ ﻟِﻠْﻌَﺒ۪ﻴﺪِ

ialah: Dalam alam kita sering melihat bahwa orang-orang zalim, durhaka, dan kejam menjalani umur dalam kemakmuran serta kenyamanan besar, sedangkan orang-orang yang dizalimi serta taat beragama hidup dalam kesulitan dan kehinaan besar. Kemudian kematian datang dan menjadikan keduanya sama. Jika keadaan sama ini tanpa akhir dan tidak memiliki batas, terlihatlah kezaliman. Padahal Keadilan serta Hikmah Ilahi, yang kesuciannya dari kezaliman telah tetap dengan kesaksian alam, sama sekali tidak menerima kezaliman ini; maka keduanya jelas menuntut tempat berkumpul lain, agar yang pertama mendapat hukuman dan yang kedua mendapat balasan. Agar manusia yang tidak teratur dan kacau ini menerima hukuman serta balasan sesuai kemampuannya, menjadi tempat Keadilan murni serta Hikmah Rabb, dan menjadi saudara besar bagi wujud-wujud alam yang penuh hikmah. Ya, negeri dunia ini tidak sesuai untuk tumbuhnya potensi tanpa batas yang terkandung dalam ruh manusia. Jadi, ia akan dikirim ke alam lain. Ya, inti manusia besar. Maka ia calon penerima hidup yang kekal. Hakikatnya luhur, maka kejahatannya pun besar. Ia tidak menyerupai wujud-wujud lain. Keteraturannya juga penting.

Ia tidak dapat tanpa keteraturan, tidak dapat dibiarkan, tidak dijadikan sia-sia, tidak dapat dihukum dengan lenyap mutlak, dan tidak dapat melarikan diri menuju tiada sama sekali. Neraka telah membuka mulutnya dan menunggu. Surga telah membuka pelukannya yang lembut dan menanti. Karena Hakikat Ketiga Kalimat Kesepuluh memperlihatkan contoh kedua kita ini dengan sangat indah, kami mempersingkatnya di sini. Sebagai contoh, bandingkanlah dan telitilah pula ayat-ayat lain yang, seperti kedua ayat mulia ini, mencakup banyak hujah akal yang halus. Sepuluh sumber serta sepuluh dasar ini menghasilkan firasat pasti dan hujah tegas; sebagaimana firasat yang sangat mendasar serta hujah yang sangat kuat itu menunjukkan secara pasti adanya dorongan serta tuntutan kebangkitan dan kiamat, begitu pula sebagian besar Asmaulhusna Sang Pembuat Dzul-Jalâl, seperti Hakîm, Rahîm, Hafîzh, dan Âdil — sebagaimana dibuktikan secara pasti dalam Kalimat Kesepuluh — menuntut datangnya kebangkitan serta kiamat dan adanya kebahagiaan abadi, serta menunjukkan secara pasti nyatanya kebahagiaan abadi. Jadi, tuntutan kebangkitan serta kiamat begitu kuat sehingga tidak dapat menjadi dasar ragu atau syubhat.

DASAR KETIGA

Sang Pelaku Mampu. Ya, sebagaimana hal yang menuntut kebangkitan pasti ada, Zat yang akan melakukan kebangkitan juga sangat Mampu. Kudrat-Nya tidak memiliki kekurangan. Benda yang paling besar dan paling kecil sama bagi-Nya. Menciptakan satu musim semi semudah satu bunga. Ya, bagi Sang Qadîr, yang Keagungan serta Kudrat-Nya disaksikan dengan lidah tanpa batas oleh seluruh matahari, bintang, alam, zarah, dan zat berharga dalam alam ini, adakah dugaan serta waswas yang berhak menganggap kebangkitan jasmani jauh dari Kudrat itu?

Ya, dengan mata kepala terlihat Sang Qadîr Dzul-Jalâl menciptakan dunia baru yang teratur pada setiap abad dalam alam ini, bahkan mengadakan alam baru yang terus bergerak dan teratur pada setiap tahun, bahkan membuat alam baru yang teratur pada setiap hari; Dia terus menciptakan dan mengganti dunia serta alam sementara dengan Hikmah yang sempurna pada wajah langit dan bumi ini, satu di belakang yang lain, menggantung alam-alam teratur sebanyak abad, tahun, bahkan hari pada benang waktu, dan melalui itu memperlihatkan Keagungan Kudrat-Nya; Dia memasangkan bunga musim semi yang besar, dihiasi ukiran seratus ribu jenis kebangkitan, pada kepala bumi seperti satu bunga, lalu memperlihatkan Kesempurnaan Hikmah dan Keindahan Seni-Nya; dapatkah dikatakan tentang Zat itu, "Bagaimana Dia akan mendatangkan kiamat, bagaimana Dia akan mengganti dunia ini dengan akhirat?" Ayat mulia ini menyatakan Kesempurnaan Kudrat Sang Qadîr tersebut, bahwa tidak ada sesuatu yang berat bagi-Nya, bahwa benda terbesar tidak lebih berat bagi Kudrat-Nya daripada benda terkecil, serta bahwa individu tanpa batas semudah satu individu bagi Kudrat itu:

ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ

Hakikat ayat ini telah kami jelaskan secara ringkas dalam Penutup Kalimat Kesepuluh, serta dengan uraian dalam Nokta Risalesi dan Surat Kedua Puluh.

Sesuai maqam ini, kami akan menjelaskan sedikit dalam bentuk tiga persoalan: Kudrat Ilahi melekat pada Zat-Nya. Maka kelemahan tidak dapat masuk. Kudrat juga berkaitan dengan sisi malakut segala sesuatu. Maka penghalang tidak dapat menyela. Hubungan Kudrat juga menurut hukum. Maka bagian setara dengan keseluruhan, dan yang juz'i menjadi seperti yang menyeluruh. Kami akan membuktikan tiga persoalan ini. Persoalan Pertama: Kudrat Azali merupakan Sifat yang pasti dan harus melekat pada Zat Ilahi yang Mahasuci. Yakni, secara pasti merupakan Sifat yang melekat pada Zat-Nya. Tidak dapat terpisah dari-Nya dari segi apa pun. Maka kelemahan, lawan Kudrat, jelas tidak dapat menimpa Zat yang harus memiliki Kudrat tersebut. Sebab jika demikian, dua hal yang berlawanan harus berkumpul. Karena kelemahan tidak dapat menimpa Zat-Nya, jelas ia tidak dapat masuk ke dalam Kudrat yang melekat pada Zat itu. Karena kelemahan tidak dapat masuk ke dalam Kudrat, jelas tidak dapat ada tingkatan dalam Kudrat yang melekat pada Zat tersebut. Sebab tingkatan wujud setiap hal terjadi melalui masuknya lawan hal itu. Misalnya, tingkatan panas melalui masuknya dingin, derajat keindahan melalui masuknya kejelekan, dan bandingkanlah seterusnya... Namun, pada segala yang mungkin ada, karena tidak ada keharusan sejati dan alami yang melekat pada zatnya, hal-hal yang berlawanan dapat saling masuk.

Tingkatan-tingkatan lahir, dan perbedaan serta perubahan alam muncul. Karena tidak dapat ada tingkatan dalam Kudrat Azali, tentu hubungan segala yang diciptakan dengan Kudrat harus sama. Yang terbesar setara dengan yang terkecil, dan zarah-zarah sebanding dengan bintang-bintang. Hasyr seluruh manusia semudah menghidupkan satu jiwa bagi Kudrat itu, dan menciptakan satu musim semi semudah membuat satu bunga. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, saat itu satu bunga seberat satu musim semi. Pada catatan kaki paragraf terakhir tingkatan "Allahu Ekber" Keempat dalam Bagian Kedua Kalimat ini, juga dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, Surat Kedua Puluh, serta tambahannya, telah dibuktikan bahwa jika penciptaan segala sesuatu diserahkan kepada Sang Wâhid lagi Ahad, seluruh benda semudah satu benda. Jika diserahkan kepada sebab-sebab, satu benda sesulit dan seberat seluruh benda. Persoalan Kedua ialah Kudrat berkaitan dengan sisi malakut segala sesuatu. Ya, alam memiliki dua wajah seperti cermin. Pertama, sisi mulk, yang menyerupai sisi berwarna cermin. Yang lain, sisi malakut, yang menyerupai sisi mengilap cermin. Sisi mulk merupakan tempat hal-hal yang berlawanan bergerak. Ia menjadi tempat datangnya hal-hal seperti indah dan buruk, baik dan jahat, kecil dan besar, berat dan mudah. Karena itulah Sang Pembuat Dzul-Jalâl menjadikan sebab-sebab lahir sebagai tirai bagi Tasarruf Kudrat-Nya.

Agar Tangan Kudrat tidak terlihat langsung bekerja pada urusan-urusan yang, menurut akal lahiriah, rendah dan tidak layak. Sebab Keagungan serta Kemuliaan menghendaki demikian. Namun, Dia tidak memberi pengaruh yang sesungguhnya kepada perantara serta sebab-sebab itu. Sebab kesatuan Ahadiyah menghendaki demikian. Adapun sisi malakut pada segala sesuatu mengilap dan bersih. Warna serta kepalsuan ciri-ciri pribadi tidak mencampurinya. Sisi itu menghadap kepada Khâliq-nya sendiri tanpa perantara. Padanya tidak ada urutan sebab atau rantai sebab. Sifat menjadi sebab dan akibat tidak dapat masuk kepadanya. Tidak ada lekuk dan beloknya. Penghalang tidak dapat mencampuri. Zarah menjadi saudara matahari. Kesimpulannya:

Kudrat itu Sederhana, tanpa batas, dan melekat pada Zat-Nya. Adapun tempat berlakunya Kudrat tanpa perantara, tanpa noda, dan tanpa pembangkangan. Maka dalam lingkup Kudrat itu, yang besar tidak memiliki kesombongan terhadap yang kecil. Kelompok tidak dapat memiliki keunggulan terhadap individu. Keseluruhan tidak dapat lebih menyulitkan Kudrat daripada bagian. Persoalan Ketiga ialah hubungan Kudrat menurut hukum. Yakni, Kudrat memandang yang banyak dan yang sedikit, yang besar dan yang kecil, dengan sama. Kami akan mendekatkan persoalan rumit ini kepada benak melalui beberapa perumpamaan. Dalam alam, "bening", "saling berhadapan", "keseimbangan", "keteraturan", "terlepas dari ciri pribadi", dan "ketaatan" masing-masing merupakan hal yang menyamakan yang banyak dengan yang sedikit, serta yang besar dengan yang kecil. Perumpamaan Pertama: Memperlihatkan rahasia "bening". Misalnya, gambaran serta pantulan matahari, yang merupakan limpahan pantulannya, memperlihatkan identitas yang sama pada permukaan laut dan pada setiap tetes laut. Jika bumi terdiri atas berbagai pecahan kaca yang menghadap matahari tanpa tirai, pantulan matahari pada setiap pecahan serta seluruh wajah bumi akan sama, tanpa saling mengganggu, terbagi, atau berkurang.

Jika diandaikan matahari merupakan pelaku yang memilih dan memberikan limpahan cahaya serta gambaran pantulannya dengan kehendaknya, limpahan yang diberikannya kepada seluruh wajah bumi tidak dapat lebih berat daripada limpahan yang diberikannya kepada satu zarah. Perumpamaan Kedua: Rahasia "saling berhadapan". Misalnya, diandaikan seorang individu pada titik pusat suatu lingkaran besar yang terdiri atas individu-individu hidup, yakni manusia, memegang lilin, dan individu-individu pada lingkaran luar masing-masing memegang cermin; hubungan limpahan serta pancaran pantulan yang diberikan titik pusat kepada cermin-cermin di lingkaran luar itu sama, tanpa saling mengganggu, terbagi, atau berkurang. Perumpamaan Ketiga: Rahasia "keseimbangan". Misalnya, jika terdapat timbangan yang sejati, peka, dan sangat besar, serta pada kedua sisinya ada dua matahari, dua bintang, dua gunung, dua telur, atau dua zarah, yang mana pun, dengan kekuatan yang sama salah satu sisi timbangan besar dan peka itu dapat naik ke langit, sedangkan yang lain turun ke bumi. Perumpamaan Keempat: Rahasia "keteraturan". Misalnya, kapal terbesar dapat diputar seperti mainan terkecil. Perumpamaan Kelima: Rahasia "terlepas dari ciri pribadi". Misalnya, suatu hakikat yang terlepas dari ciri-ciri pribadi memandang serta masuk dengan sama ke dalam seluruh hal yang juz'i, dari yang terkecil hingga yang terbesar, tanpa berkurang atau terbagi.

Kekhususan dari segi ciri lahiriah tidak menyela dan mengacaukannya. Tidak mengubah pandangan hakikat yang terlepas dari ciri pribadi itu. Misalnya, ikan sebesar jarum memiliki hakikat yang terlepas dari ciri pribadi itu seperti ikan paus. Mikroba membawa hakikat binatang seperti badak. Perumpamaan Keenam: Memperlihatkan rahasia "ketaatan". Misalnya, sebagaimana seorang panglima menggerakkan satu prajurit dengan perintah "Maju!", dengan perintah yang sama ia menggerakkan suatu pasukan. Hakikat rahasia perumpamaan ketaatan ini ialah: berdasarkan pengalaman, segala sesuatu dalam alam memiliki titik kesempurnaan. Benda itu memiliki kecenderungan menuju titik tersebut. Kecenderungan berlipat menjadi kebutuhan. Kebutuhan berlipat menjadi kerinduan. Kerinduan berlipat menjadi daya tarik. Dan daya tarik, kerinduan, kebutuhan, serta kecenderungan masing-masing merupakan biji dan benih ketaatan hakikat segala sesuatu kepada Perintah-Perintah Penciptaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Kesempurnaan mutlak hakikat segala yang mungkin ada ialah wujud mutlak. Kesempurnaannya yang khusus ialah wujud khusus yang mengeluarkan kemampuannya dari potensi menjadi tindakan. Maka ketaatan seluruh alam kepada Perintah "Kun" seperti ketaatan satu zarah yang laksana satu prajurit.

Dalam ketaatan serta pelaksanaan segala yang mungkin ada terhadap Perintah Azali "Kun" yang datang dari Kehendak Azali, kecenderungan, kebutuhan, kerinduan, serta daya tarik, yang juga merupakan Tajalli Kehendak, terkandung sekaligus bersama-sama. Ketika air yang halus menerima Perintah membeku dengan kecenderungan yang lembut, ia memecahkan besi; hal ini memperlihatkan kekuatan rahasia ketaatan. Jika keenam perumpamaan ini terlihat dengan mata kepala dalam daya serta perbuatan segala yang mungkin ada, yang tidak sempurna, terbatas, lemah, dan tidak memiliki pengaruh yang sesungguhnya, tentu segala sesuatu pasti sama bagi Kudrat Azali, yang tanpa batas, Azali, Abadi, menciptakan seluruh alam dari tiada sama sekali, membuat seluruh akal takjub, serta bertajalli melalui jejak Keagungan-Nya. Tidak ada sesuatu yang berat bagi-Nya. (Jangan lalai.) Kudrat itu tidak ditimbang dengan timbangan kecil keenam rahasia ini dan tidak dapat diperbandingkan dengannya. Semuanya hanya disebutkan untuk mendekatkan kepada pemahaman serta menghilangkan anggapan bahwa hal itu sulit terjadi. Hasil dan ringkasan