Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Pembahasan Kedua:

Teka-Teki · Bahasa Indonesia

Pembahasan Kedua:

Sebagaimana dikatakan dalam Hakikat Kesepuluh Kalimat Kesepuluh, sebanyak buah serta bunga pada suatu pohon, sebanyak itulah tujuan serta hikmah setiap buah dan bunga. Hikmah-hikmah itu terbagi tiga. Sebagian mengarah kepada Sang Pembuat serta menunjukkan ukiran Asma-Nya. Sebagian mengarah kepada makhluk yang sadar; dalam pandangan mereka, ia merupakan surat berharga serta kata bermakna. Sebagian mengarah kepada diri, kehidupan, serta terus bertahannya makhluk itu sendiri; dan jika bermanfaat bagi manusia, ada hikmah sesuai manfaatnya bagi manusia.

Pada suatu waktu, ketika memikirkan bahwa setiap makhluk mempunyai begitu banyak tujuan, terlintas di pikiranku ungkapan-ungkapan berikut dalam gaya Arab, yang mengisyaratkan tujuan-tujuan menyeluruh serta menjadi catatan bagi dasar-dasar lima isyarat berikut.

ﻭَﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕُ ﺍﻟْﺠَﻠِﻴَّﺔُ ﻣَﻈَﺎﻫِﺮُ ﺳَﻴَّﺎﻟَﺔٌ ﻭَﻣَﺮَﺍﻳَﺎ ﺟَﻮَّﺍﻟَﺔٌ ﻟِﺘَﺠَﺪُّﺩِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِ ﺍ۪ﻳﺠَﺎﺩِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﺑِﺘَﺒَﺪُّﻝِ ﺍﻟﺘَّﻌَﻴُّﻨَﺎﺕِ الْاِعْتِبَارِيَّةِ ٭ اَوَّلًا

:

ﻣَﻊَ ﺍِﺳْﺘِﺤْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻠَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻬُﻮِﻳَّﺎﺕِ ﺍﻟْﻤِﺜَﺎﻟِﻴَّﺔِ ٭ ﻭَﺛَﺎﻧِﻴًﺎ

:

ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘَﺎﺝِ ﺍﻟْﺤَﻘَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺒِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨُّﺴُﻮﺝِ ﺍﻟﻠَّﻮْﺣِﻴَّﺔِ ٭ ﻭَﺛَﺎﻟِﺜًﺎ

:

ﻣَﻊَ ﻧَﺸْﺮِ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ الْاُخْرَوِيَّةِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻇِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻳَّﺔِ ﻭَﺭَﺍﺑِﻌًﺎ

:

ﻣَﻊَ اِعْلَانِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺍِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟْﻤُﻘْﺘَﻀَﻴَﺎﺕِ الْاَسْمَٓائِيَّةِ ٭ ﻭَﺧَﺎﻣِﺴًﺎ

:

ﻟِﻈُﻬُﻮﺭِ ﺍﻟﺸُّﺆُﻧَﺎﺕِ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸَﺎﻫِﺪِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻤِﻴَّﺔِ

Dalam kelima ungkapan ini terdapat dasar-dasar isyarat yang akan kita bahas berikut. Ya, setiap makhluk, terutama makhluk hidup, mempunyai lima tingkatan hikmah serta tujuan yang berbeda. Sebagaimana cabang-cabang pohon berbuah yang berada di atas satu sama lain menghasilkan buah, setiap makhluk hidup juga mempunyai lima tingkatan tujuan berbeda serta hikmah.

Wahai manusia fana! Jika engkau ingin hakikat dirimu sendiri, yang seperti benih kecil, berubah menjadi pohon kekal yang berbuah, serta memperoleh sepuluh tingkatan buah dan sepuluh jenis tujuan yang ditunjukkan dalam lima isyarat, raihlah iman hakiki. Jika tidak, selain terhalang dari semuanya, engkau akan terjepit serta membusuk dalam benih itu.

ISYARAT PERTAMA

Ungkapan فَاَوَّلًا:

ﺑِﺘَﺒَﺪُّﻝِ ﺍﻟﺘَّﻌَﻴُّﻨَﺎﺕِ الْاِعْتِبَارِيَّةِ ﻣَﻊَ ﺍِﺳْﺘِﺤْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟْﻤَﻌَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻠَﺔِ ﻭَﺍﻟْﻬُﻮِﻳَّﺎﺕِ ﺍﻟْﻤِﺜَﺎﻟِﻴَّﺔِ

menyatakan bahwa setelah suatu makhluk meninggalkan wujud, secara lahiriah dirinya menuju tidak ada serta musnah, tetapi makna-makna yang diungkapkannya tetap kekal dan terjaga. Jati dirinya dalam bentuk gambaran, rupa, serta sifat dasarnya juga tetap dalam alam rupa, dalam lembaran-lembaran terjaga yang merupakan contoh alam rupa, serta dalam daya-daya ingat yang merupakan contoh lembaran-lembaran terjaga. Jadi, ia kehilangan satu wujud bentuk, tetapi memperoleh ratusan wujud rohani serta dalam ilmu.

Misalnya, huruf-huruf percetakan yang menjadi sarana mencetak satu halaman diberi keadaan serta susunan tertentu, lalu menjadi sarana mencetak

halaman itu. Setelah halaman tersebut memberikan bentuk serta jati dirinya kepada banyak lembar yang dicetak, dan menyebarkan maknanya ke banyak akal, keadaan serta susunan huruf-huruf percetakan juga diubah. Sebab, keadaan itu tidak diperlukan lagi dan halaman-halaman lain harus dicetak.

Demikian pula, pena Takdir Ilahi memberi susunan serta keadaan tertentu kepada makhluk-makhluk bumi ini, terutama tumbuhan. Kudrat menciptakannya pada lembaran musim semi. Karena setelah mengungkapkan makna-makna indah, bentuk serta jati dirinya masuk ke kitab alam gaib seperti alam rupa, Hikmah menuntut keadaan itu berubah, agar lembaran musim semi lain yang baru datang ditulis dan makhluk-makhluk itu pun mengungkapkan maknanya.

ISYARAT KEDUA

ﻭَﺛَﺎﻧِﻴًﺎ:

ﻣَﻊَ ﺍِﻧْﺘَﺎﺝِ ﺍﻟْﺤَﻘَﺎﺋِﻖِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺒِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟﻨُّﺴُﻮﺝِ ﺍﻟﻠَّﻮْﺣِﻴَّﺔِ

Ungkapan ini mengisyaratkan: Setiap sesuatu, terbatas ataupun menyeluruh, setelah meninggalkan wujud, terutama jika makhluk hidup, menghasilkan banyak hakikat gaib. Bersama itu, pada lembaran gambaran dalam kitab-kitab alam rupa, ia meninggalkan gambar sebanyak tahap kehidupannya. Dari gambar-gambar itu, perjalanan hidupnya yang bermakna, yang disebut ketentuan-ketentuan kehidupan, ditulis dan menjadi tempat untuk dipelajari ruh-ruh.

Misalnya, satu bunga meninggalkan wujud. Namun, selain meninggalkan ratusan benih kecil serta sifat dasarnya dalam benih-benih itu tetap ada, ia juga meninggalkan ribuan gambarnya pada lembaran-lembaran kecil yang terjaga serta pada daya-daya ingat, contoh kecil lembaran-lembaran terjaga tersebut. Ia membuat makhluk yang sadar membaca tasbih kepada Rabb serta ukiran Asma Allah سُبْحَانَهُ yang diungkapkannya melalui tahap kehidupannya, kemudian pergi.

Demikian pula, musim semi yang diukir dengan karya-karya indah dalam pot muka bumi adalah satu bunga. Secara lahiriah ia sirna serta menuju tidak ada. Namun, sebagai penggantinya, ia meninggalkan hakikat-hakikat gaib yang diungkapkannya sebanyak benihnya, jati diri dalam bentuk gambaran yang disebarkannya sebanyak bunganya, serta Hikmah Rabb yang ditunjukkannya sebanyak makhluknya. Semuanya tetap ada, lalu musim semi itu tersembunyi dari kita. Ia juga mengosongkan tempat bagi musim-musim semi lain, kawan-kawan musim semi yang pergi itu, agar mereka datang dan menjalankan tugas. Jadi, musim semi itu melepaskan satu wujud lahiriah, lalu secara makna mengenakan seribu wujud.

ISYARAT KETIGA

Ungkapan ﻭَﺛَﺎﻟِﺜًﺎ:

ﻣَﻊَ ﻧَﺸْﺮِ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ الْاُخْرَوِيَّةِ ﻭَﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻇِﺮِ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻳَّﺔِ

menyatakan: Dunia adalah tempat kerja serta ladang yang menghasilkan hasil-hasil yang sesuai dengan pasar akhirat. Dalam banyak Kalimat, kami telah meneguhkan bahwa sebagaimana amal jin serta manusia dikirim ke pasar akhirat, makhluk-makhluk dunia lainnya juga menjalankan banyak tugas demi akhirat serta menghasilkan banyak hasil. Bahkan, bola bumi berkeliling demi mereka; dapat dikatakan bahwa itulah sebabnya. Kapal dari Rabb ini menempuh jarak dua puluh empat ribu tahun dalam satu tahun serta berputar di sekitar lapangan kebangkitan. Misalnya, penghuni surga tentu ingin mengingat petualangan dunia serta menceritakannya satu sama lain; bahkan mereka amat ingin melihat gambaran serta contohnya. Tentu, jika menyaksikan gambaran serta peristiwa-peristiwa itu seperti menonton di layar sinema, mereka akan amat menikmati.

Karena demikian, tentu dalam negeri surga, negeri kenikmatan serta kediaman kebahagiaan, menurut isyarat

ﻋَﻠٰﻰ ﺳُﺮُﺭٍ ﻣُﺘَﻘَﺎﺑِﻠ۪ﻴﻦَ

, akan terdapat percakapan tentang petualangan dunia serta pemandangan peristiwa-peristiwa dunia dalam pemandangan yang terus berlangsung selamanya.

Makhluk-makhluk indah ini tampak sesaat lalu hilang, serta datang dan pergi berturut-turut; mereka terlihat seperti tempat kerja pabrik untuk menghasilkan pemandangan yang terus berlangsung selamanya. Misalnya, orang-orang beradab mengambil gambar keadaan-keadaan indah atau menakjubkan untuk memberi suatu bentuk kelangsungan kepada keadaan fana serta meninggalkan kenangan bagi orang-orang masa depan. Mereka menghadiahkannya kepada masa depan melalui layar sinema, lalu memperlihatkan serta memuat masa lalu pada masa kini dan masa depan.

Demikian pula, setelah makhluk-makhluk musim semi serta dunia ini menjalani hidup singkat, Sang Pembuat Yang Hakîm, selain mencatat tujuan-tujuan mereka yang berkaitan dengan alam yang kekal pada alam tersebut, juga mencatat tugas-tugas kehidupan yang mereka jalankan serta mukjizat Yang Mahasuci yang tampak dalam tahap-tahap kehidupan mereka, pada pemandangan yang terus berlangsung selamanya dalam alam abadi. Hal ini merupakan tuntutan Nama Al-Hakîm, Ar-Rahîm, serta Al-Wadûd.

ISYARAT KEEMPAT

Ungkapan ﻭَﺭَﺍﺑِﻌًﺎ:

ﻣَﻊَ اِعْلَانِ ﺍﻟﺘَّﺴْﺒ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَ ﺍِﻇْﻬَﺎﺭِ ﺍﻟْﻤُﻘْﺘَﻀَﻴَﺎﺕِ الْاَسْمَائِيَّةِ

menyatakan bahwa makhluk-makhluk melakukan beragam jenis tasbih kepada Rabb melalui tahap-tahap kehidupan mereka. Mereka juga menunjukkan keadaan-keadaan yang dituntut serta diharuskan Asma Allah سُبْحَانَهُ. Misalnya, Nama Ar-Rahîm menghendaki kasih, Nama Ar-Razzâq menuntut pemberian rezeki, Nama Al-Lathîf mengharuskan karunia, dan demikian seterusnya: Setiap Nama mempunyai tuntutannya masing-masing.

Setiap makhluk hidup, selain menunjukkan tuntutan Asma itu melalui kehidupan serta wujudnya, juga bertasbih kepada Sang Pembuat Yang Hakîm sebanyak perangkatnya. Misalnya, seseorang memakan buah-buah indah; buah itu terurai serta larut dalam perutnya dan secara lahiriah musnah. Namun, selain mulut serta perutnya, buah itu memberikan kenikmatan dan rasa lezat yang aktif dalam seluruh sel tubuh, sekaligus menjadi sarana terwujudnya banyak hikmah, seperti memberi makan wujud serta kehidupan di seluruh bagian tubuh dan memelihara kehidupan. Makanan itu sendiri juga naik serta maju dari wujud tumbuhan ke tingkatan kehidupan manusia.

Demikian pula, ketika makhluk-makhluk ini bersembunyi di balik tabir sirna, selain banyak tasbih setiap makhluk tetap kekal sebagai gantinya, mereka juga meninggalkan ukiran serta tuntutan banyak Asma Allah سُبْحَانَهُ pada Asma itu. Yakni, mereka menyerahkannya kepada wujud yang kekal, lalu pergi. Jika ketika suatu wujud fana serta sementara pergi, ribuan wujud yang memperoleh suatu bentuk wujud yang kekal tetap ada sebagai gantinya, apakah dapat dikatakan, "Sayang sekali," atau "Ia sia-sia," atau dikeluhkan, "Mengapa makhluk yang dicintai ini pergi?" Justru Rahmat, Hikmah, serta Cinta terhadapnya menuntut demikian, dan memang harus demikian. Jika tidak, demi menghindari satu kerugian, ribuan manfaat harus ditinggalkan; ketika itu ada ribuan kerugian.

Jadi, Nama Ar-Rahîm, Al-Hakîm, serta Al-Wadûd tidak menentang sirna dan perpisahan; justru mengharuskan serta menuntutnya.

ISYARAT KELIMA

Ungkapan ﻭَﺧَﺎﻣِﺴًﺎ:

ﻟِﻈُﻬُﻮﺭِ ﺍﻟﺸُّﺆُﻧَﺎﺕِ ﺍﻟﺴُّﺒْﺤَﺎﻧِﻴَّﺔِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸَﺎﻫِﺪِ ﺍﻟْﻌِﻠْﻤِﻴَّﺔِ

menyatakan bahwa makhluk-makhluk, terutama makhluk hidup, setelah meninggalkan wujud bentuk, meninggalkan banyak hal yang kekal, lalu pergi. Sebagaimana dijelaskan dalam Petunjuk Tersirat Kedua, dengan cara yang sesuai dengan kesucian serta sempurnanya Zat Wâjibul Wujûd yang tidak membutuhkan apa pun, dan dengan bentuk yang layak bagi-Nya, dalam Syuunat Rububiyah terdapat Cinta tak terhitung, Kasih tiada batas, Rasa Bangga tanpa akhir, dan—jika ungkapan ini diperbolehkan—Rasa Puas Suci serta Sukacita tak terhitung, juga—semoga tidak keliru dalam mengungkapkan—Kenikmatan Suci tak terhitung dan Rasa Lega yang murni. Pengaruh semua itu nyata disaksikan.

Dalam kegiatan yang menimbulkan rasa takjub, yang dituntut oleh Syuunat tersebut, makhluk-makhluk diarahkan dengan cepat melalui pergantian serta perubahan, dalam sirna dan musnah, serta terus dikirim dari alam yang disaksikan ke alam gaib. Di bawah manifestasi Syuunat itu, makhluk-makhluk bergolak dalam perjalanan dan aliran, gerak serta perputaran yang terus berlangsung. Mereka menyebarkan jeritan perpisahan dan sirna ke telinga orang lalai, serta gemuruh zikir dan tasbih ke pendengaran orang yang mendapat petunjuk. Berdasarkan rahasia ini, setiap makhluk meninggalkan makna, sifat, serta keadaan yang tetap ada dan akan menjadi sarana yang kekal bagi tampaknya Syuunat kekal Wâjibul Wujûd, kemudian pergi.

Makhluk itu juga meninggalkan wujud terperinci yang mewakili wujud luarnya: tahap-tahap serta keadaan yang dilalui sepanjang hidupnya, dalam lingkup wujud dalam Ilmu seperti Imâm Mubîn, Kitâb Mubîn, dan Lauh Mahfuz, sebutan-sebutan Ilmu Azali. Kemudian ia pergi. Jadi, setiap yang fana meninggalkan satu wujud, memperoleh serta membuat yang lain memperoleh ribuan wujud yang kekal.

Misalnya, bahan-bahan biasa dimasukkan ke dalam mesin pabrik yang luar biasa; mereka terbakar di dalamnya dan secara lahiriah musnah. Namun, dalam alat penyuling pabrik itu, bahan kimia serta obat-obatan amat berharga mengendap. Dengan kekuatan serta uapnya, roda-roda pabrik berputar; sebagian menjadi sarana menenun kain, sebagian mencetak buku, serta sebagian membuat benda berharga lain seperti gula, dan demikian seterusnya... Jadi, dengan bahan-bahan biasa itu terbakar serta secara lahiriah musnah, ribuan benda terwujud. Jadi, satu wujud biasa pergi dan meninggalkan banyak wujud luhur sebagai warisan. Dalam keadaan ini, apakah dapat dikatakan

bahwa bahan biasa itu tersia-sia? Apakah dapat dikeluhkan bahwa pemilik pabrik tidak mengasihaninya, membakarnya, serta memusnahkan bahan-bahan yang dicintai itu?

Demikian pula,

ﻭَﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى

, Sang Khâliq yang Hakîm, Rahîm, serta Wadûd menggerakkan pabrik kainat sesuai tuntutan Rahmat, Hikmah, serta Cinta-Nya. Dia menjadikan setiap wujud fana sebagai benih bagi banyak wujud yang kekal, sarana tujuan-tujuan-Nya sebagai Rabb, tempat Syuunat-Nya Yang Mahasuci, tinta pena Takdir-Nya, serta sekoci tenun bagi tenunan Kudrat. Demi amat banyak tujuan berharga serta maksud luhur lain yang belum kita ketahui, melalui kegiatan Kudrat-Nya Dia menggerakkan kainat. Dia membuat zarah berputar, makhluk berjalan, hewan mengalir, serta planet beredar; membuat kainat berbicara, mengucapkan tanda-tanda-Nya tanpa suara, serta menuliskannya. Dari segi memelihara dan menguasai makhluk bumi, Dia menjadikan udara semacam arasy bagi Perintah serta Kehendak-Nya, unsur cahaya arasy lain bagi Ilmu serta Hikmah-Nya, air arasy lain bagi Anugerah serta Rahmat-Nya, dan tanah semacam arasy bagi Penjagaan serta Tindakan-Nya menghidupkan. Dia menggerakkan tiga arasy itu di atas makhluk bumi.

Ketahuilah dengan pasti bahwa hakikat luhur yang bersinar, yang ditunjukkan dalam lima petunjuk tersirat serta lima isyarat ini, terlihat melalui cahaya Al-Qur'an dan dapat dimiliki dengan kekuatan iman. Jika tidak, gelap yang amat dahsyat mengambil tempat hakikat yang kekal itu. Bagi orang sesat, dunia penuh perpisahan serta sirna, dan dipenuhi hal-hal yang tidak ada. Kainat menjadi seperti neraka rohani baginya. Setiap sesuatu mempunyai wujud sesaat, dikelilingi keadaan tidak ada yang tak terhitung. Seluruh masa lalu serta masa depan penuh gelap karena tidak ada; hanya pada masa kini yang amat singkat ia dapat menemukan cahaya wujud yang sedih. Namun, melalui rahasia Al-Qur'an serta cahaya iman, terlihat cahaya wujud dari azali sampai abadi. Ia terhubung kepadanya serta menjamin kebahagiaan abadinya melaluinya.

Kesimpulannya:

Dalam gaya seorang penyair Mesir, kami berkata:

Ketika napas menjadi lautan,

Ketika sangkar pecah,

Hingga suara ini terputus,

Aku menyeru: Yâ Hak! Yâ Mevcud! Yâ Hay! Yâ Mabud!

Yâ Hakîm! Yâ Maksud! Yâ Rahîm! Yâ Vedud!..

Dan dengan berseru aku berkata:

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍﻟْﻤُﺒ۪ﻴﻦُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﺎﺩِﻕُ ﺍﻟْﻮَﻋْﺪِ الْاَم۪ينُ

Dengan iman aku meneguhkan:

ﺍِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﻌْﺚَ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓَ الْاَبَدِيَّةَ ﺣَﻖٌّ ﻭَ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺭَﺣ۪ﻴﻢٌ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٌ ﻭَﺩُﻭﺩٌ ﻭَ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔَ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺤَﺒَّﺔَ ﻣُﺤ۪ﻴﻄَﺔٌ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ الْاَشْيَٓاءِ ﻭَ ﺷُﺆُﻧَﺎﺗِﻬَﺎ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﻟِﻬٰﺬَﺍ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻟِﻨَﻬْﺘَﺪِﻯَ لَوْلَٓا ﺍَﻥْ ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻘَﺪْ ﺟَٓﺎﺀَﺕْ ﺭُﺳُﻞُ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ صَلَاةً ﺗَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻚَ ﺭِﺿَٓﺎﺀً ﻭَ ﻟِﺤَﻘِّﻪ۪ ﺍَﺩَٓﺍﺀً ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺟَﻌَﻞَ ﺣَﺪ۪ﻳﻘَﺔَ ﺍَﺭْﺿِﻪ۪ ٭ ﻣَﺸْﻬَﺮَ ﺻَﻨْﻌَﺘِﻪ۪ ٭ ﻣَﺤْﺸَﺮَ ﺧِﻠْﻘَﺘِﻪ۪ ٭ ﻣَﻈْﻬَﺮَ ﻗُﺪْﺭَﺗِﻪ۪ ٭ ﻣَﺪَﺍﺭَ ﺣِﻜْﻤَﺘِﻪ۪ ٭ ﻣَﺰْﻫَﺮَ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ٭ ﻣَﺰْﺭَﻉَ ﺟَﻨَّﺘِﻪ۪ ٭ ﻣَﻤَﺮَّ ﺍﻟْﻤَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺕِ ٭ ﻣَﺴ۪ﻴﻞَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ٭ ﻣَﻜ۪ﻴﻞَ ﺍﻟْﻤَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺕِ ٭ ﻓَﻤُﺰَﻳَّﻦُ ﺍﻟْﺤَﻴْﻮَﺍﻧَﺎﺕِ ٭ ﻣُﻨَﻘَّﺶُ ﺍﻟﻄُّﻴُﻮﺭَﺍﺕِ ٭ ﻣُﺜَﻤَّﺮُ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮَﺍﺕِ ٭ ﻣُﺰَﻫَّﺮُ ﺍﻟﻨَّﺒَﺎﺗَﺎﺕِ ٭ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺕُ ﻋِﻠْﻤِﻪ۪ ﺧَﻮَﺍﺭِﻕُ ﺻُﻨْﻌِﻪ۪ ٭ ﻫَﺪَﺍﻳَٓﺎﺀُ ﺟُﻮﺩِﻩ۪ ٭ ﺑَﺮَﺍﻫِﻴﻦُ ﻟُﻄْﻔِﻪ۪ ٭ دَلَٓائِلُ ﺍﻟْﻮَﺣْﺪَﺓِ ٭ ﻟَﻄَٓﺎﺋِﻒُ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔِ ٭ ﺷَﻮَﺍﻫِﺪُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ٭ ﺗَﺒَﺴُّﻢُ الْاَزْهَارِ ﻣِﻦْ ﺯ۪ﻳﻨَﺔِ الْاَثْمَارِ ٭ ﺗَﺴَﺠُّﻊُ الْاَطْيَارِ ﻓ۪ﻰ ﻧَﺴْﻤَﺔِ الْاَسْحَارِ ٭ ﺗَﻬَﺰُّﺝُ الْاَمْطَارِ ﻋَﻠٰﻰ ﺧُﺪُﻭﺩِ الْاَزْهَارِ ٭ ﺗَﺰَﻳُّﻦُ الْاَزْهَارِ ٭ ﺗَﺒَﺮُّﺝُ الْاَثْمَارِ ﻓ۪ﻰ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﺠِﻨَﺎﻥِ ٭ ﺗَﺮَﺣُّﻢُ ﺍﻟْﻮَﺍﻟِﺪَﺍﺕِ ﻋَﻠَﻰ الْاَطْفَالِ ﺍﻟﺼِّﻐَﺎﺭِ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺍﻟْﺤَﻴْﻮَﺍﻧَﺎﺕِ ﻭَ الْاِنْسَانِ ٭ ﺗَﻌَﺮُّﻑُ ﻭَﺩُﻭﺩٍ ٭ ﺗَﻮَﺩُّﺩُ ﺭَﺣْﻤَﺎﻥٍ ٭ ﺗَﺮَﺣُّﻢُ ﺣَﻨَّﺎﻥٍ ﺗَﺤَﻨُّﻦُ ﻣَﻨَّﺎﻥٍ ﻟِﻠْﺠِﻦِّ ﻭَ الْاِنْسَانِ ﻭَ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﻴْﻮَﺍﻥِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ

Kalimat Kedua Puluh Enam

Kader Risalesi (Risalah Takdir)

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ ٭ ﻭَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺍَﺣْﺼَﻴْﻨَﺎﻩُ ﻓ۪ٓﻰ ﺍِﻣَﺎﻡٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ

Takdir dan kehendak bebas manusia adalah dua persoalan penting. Kami akan berusaha membuka beberapa rahasianya dalam empat pembahasan.

PEMBAHASAN PERTAMA

Takdir dan kehendak bebas manusia merupakan bagian-bagian iman yang dialami dalam keadaan diri dan nurani, yang menunjukkan batas terakhir Islam dan iman. Keduanya bukan perkara ilmu dan teori. Yakni, ketika seorang mukmin terus menyerahkan segala sesuatu, bahkan perbuatan dan nafsunya, kepada Allah سُبْحَانَهُ, pada akhirnya "kehendak bebas manusia" tampil di hadapannya agar ia tidak bebas dari tugas dan tanggung jawab. Ia berkata kepadanya, "Engkau bertanggung jawab dan memikul kewajiban." Kemudian, agar ia tidak menjadi sombong dengan kebaikan dan kesempurnaan yang muncul melalui dirinya, "takdir" tampil di hadapannya. Ia berkata, "Ketahuilah batasmu; Yang mengerjakan bukan engkau." Ya, takdir dan kehendak bebas manusia masuk ke dalam persoalan-persoalan iman agar, pada tingkatan terakhir iman dan Islam, takdir menyelamatkan nafsu dari kesombongan, dan kehendak bebas manusia menyelamatkannya dari anggapan tidak bertanggung jawab. Keduanya bukan persoalan ilmu untuk dijadikan pegangan oleh nafsu-nafsu ammarah yang membangkang, dengan berpegang pada takdir agar bebas dari tanggung jawab atas keburukan yang mereka kerjakan, dan bersandar pada kehendak bebas manusia untuk berbangga serta menyombongkan diri dengan kebaikan yang dianugerahkan kepada mereka; tindakan itu sepenuhnya bertentangan dengan rahasia takdir dan hikmah kehendak bebas manusia.

Ya, di kalangan orang awam yang belum maju secara rohani, ada tempat untuk menggunakan takdir. Namun, tempat itu ialah hal-hal yang telah berlalu dan musibah, sebagai obat bagi putus asa dan kesedihan. Penggunaannya bukan dalam maksiat dan masa depan, agar tidak menjadi sebab hidup mengumbar hawa nafsu dan bermalas-malasan. Jadi, persoalan takdir masuk ke dalam iman bukan untuk membebaskan dari tugas dan tanggung jawab, melainkan untuk menyelamatkan dari kebanggaan diri dan kesombongan. Kehendak bebas manusia yang juz'i masuk ke dalam akidah agar manusia mengakui dirinya sebagai asal keburukan. Bukan untuk bersikap seperti Firaun dengan menganggap diri sebagai sumber kebaikan. Ya, sebagaimana dikatakan Al-Qur'an, manusia bertanggung jawab sepenuhnya atas keburukannya. Sebab dialah yang menghendaki keburukan itu. Karena keburukan termasuk jenis perusakan, dengan satu keburukan manusia dapat menimbulkan banyak kerusakan. Ia layak mendapat hukuman yang mengerikan. Seperti membakar sebuah rumah dengan sebatang korek api. Namun, ia tidak berhak berbangga atas kebaikan. Bagiannya dalam kebaikan itu sangat sedikit. Sebab yang menghendaki dan menuntut kebaikan ialah Rahmat Ilahi, dan yang menciptakannya ialah Kudrat Rabb. Permintaan dan jawaban, dorongan dan sebab, keduanya berasal dari Al-Haqq. Manusia hanya dapat memiliki kebaikan-kebaikan itu melalui doa, iman, kesadaran, dan kerelaan.

Namun, yang menghendaki keburukan ialah nafsu manusia, baik melalui kesiapan fitrahnya maupun melalui pilihannya. Seperti halnya sebagian zat mengambil warna hitam dan bau busuk dari cahaya matahari yang putih dan indah. Warna hitam itu berasal dari kesiapan zat tersebut. Namun, Yang menciptakan keburukan-keburukan itu melalui suatu Hukum Ilahi yang mengandung banyak manfaat tetap Al-Haqq. Jadi, sebab dan permintaan berasal dari nafsu, sehingga nafsulah yang memikul tanggung jawabnya. Adapun Penciptaan dan Pengadaan yang berasal dari Al-Haqq adalah indah dan baik, sebab memiliki hasil serta buah lain yang indah. Karena rahasia inilah: mengusahakan keburukan adalah buruk; menciptakan keburukan bukanlah buruk. Seperti seorang pemalas yang terkena kerugian akibat hujan yang mengandung begitu banyak manfaat, tidak dapat berkata, "Hujan bukan rahmat." Ya, dalam Penciptaan dan Pengadaan, bersama suatu keburukan kecil terdapat banyak kebaikan. Meninggalkan banyak kebaikan demi menghindari suatu keburukan kecil akan menjadi keburukan yang besar. Karena itu, keburukan kecil tersebut beralih menjadi sesuatu yang dinilai baik. Tidak ada keburukan dan kejelekan dalam Penciptaan Ilahi. Sebaliknya, keburukan dan kejelekan itu berasal dari usaha dan kesiapan hamba. Sebagaimana Takdir Ilahi suci dari keburukan dan kejelekan dari segi hasil serta buahnya, begitu pula ia suci dari kezaliman dan kejelekan dari segi alasan dan sebabnya.

Sebab Takdir memandang alasan-alasan yang sebenarnya dan berlaku adil. Manusia mendasarkan putusannya pada alasan-alasan yang dilihat secara lahiriah, lalu jatuh ke dalam kezaliman di tempat Takdir berlaku sepenuhnya adil. Misalnya, hakim menjatuhkan hukuman dan memenjarakanmu karena mencuri. Padahal engkau bukan pencuri. Akan tetapi, engkau telah melakukan pembunuhan tersembunyi yang tidak diketahui siapa pun. Takdir Ilahi juga menjatuhkan hukuman penjara itu kepadamu. Namun, Takdir menghukummu karena pembunuhan tersembunyi tersebut dan berlaku adil. Sedangkan hakim berlaku zalim karena menghukummu atas pencurian yang tidak engkau lakukan. Sebagaimana Keadilan Takdir dan Penciptaan Ilahi serta kezaliman usaha manusia tampak dalam satu hal dari dua segi, bandingkanlah hal-hal lain dengan ini. Jadi, Takdir dan Penciptaan Ilahi suci dari keburukan, kejelekan, serta kezaliman dari segi awal dan akhir, pokok dan cabang, alasan dan hasil. Jika dikatakan:

Karena kehendak bebas manusia tidak memiliki kemampuan menciptakan, dan manusia tidak memiliki apa pun selain usaha yang hanya bersifat nisbi, bagaimana dalam Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat manusia ditempatkan sebagai pembangkang dan musuh terhadap Sang Khâliq langit dan bumi; Sang Khâliq bumi dan langit mengeluh dengan amat keras terhadapnya; Dia mengerahkan Diri-Nya dan para malaikat-Nya untuk menolong hamba yang beriman menghadapi manusia yang membangkang itu; dan Dia memberikan arti penting yang amat besar kepadanya? Jawaban:

Sebab kekufuran, pembangkangan, dan keburukan adalah perusakan dan meniadakan. Padahal kerusakan besar dan lenyapnya begitu banyak hal dapat timbul dari satu perkara yang bersifat nisbi dan berupa tidak berbuat. Seperti halnya, karena juru mudi sebuah kapal besar tidak melaksanakan tugasnya, kapal itu tenggelam dan hasil jerih payah seluruh awaknya menjadi sia-sia. Semua kerusakan itu timbul dari satu perbuatan yang tidak dilakukan. Begitu pula, karena kekufuran dan maksiat termasuk jenis meniadakan dan merusak, kehendak bebas manusia dapat menggerakkannya melalui suatu perkara yang bersifat nisbi dan menyebabkan hasil yang mengerikan. Sebab sekalipun kekufuran merupakan satu keburukan, ia merendahkan seluruh alam dengan menganggapnya tidak bernilai dan sia-sia, mendustakan seluruh wujud yang menunjukkan bukti-bukti Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, serta meremehkan seluruh Tajalli Asma; maka keluhan keras dan ancaman mengerikan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq terhadap orang kafir atas nama seluruh alam, seluruh wujud, dan Asma Ilahi sepenuhnya merupakan Hikmah, dan pemberian azab abadi sepenuhnya merupakan Keadilan. Karena manusia menuju perusakan melalui kekufuran dan pembangkangan, dengan sedikit usaha ia dapat melakukan banyak hal. Karena itulah ahli iman membutuhkan Perhatian Allah سُبْحَانَهُ yang amat besar untuk menghadapi mereka.

Sebab, sebagaimana sepuluh orang kuat yang bertanggung jawab memelihara dan memperbaiki sebuah rumah terpaksa menghadap dan memohon kepada wali anak nakal yang berusaha membakar rumah itu, bahkan kepada rajanya, begitu pula para mukmin membutuhkan banyak Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq untuk dapat bertahan menghadapi orang-orang yang membangkang dan tidak tahu adab seperti itu. Kesimpulannya:

Jika orang yang membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia senantiasa menyadari Kehadiran Allah سُبْحَانَهُ dan memiliki iman yang sempurna, ia menyerahkan kainat serta nafsunya kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq serta mengetahui bahwa semuanya berada dalam Pengelolaan-Nya. Saat itu ia berhak membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia. Sebab, karena ia mengetahui bahwa nafsunya dan segala sesuatu berasal dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, saat itu ia memikul tanggung jawab dengan bersandar pada kehendak bebas manusia. Ia mengakui dirinya sebagai asal keburukan dan menyucikan Rabb-nya. Ia tetap berada dalam lingkup ubudiyah dan memikul kewajiban Ilahi. Ia juga memandang takdir agar tidak menjadi sombong dengan kesempurnaan dan kebaikan yang muncul melalui dirinya, lalu bersyukur sebagai ganti berbangga diri. Ia melihat takdir dalam musibah yang menimpanya dan bersabar. Jika orang yang membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia termasuk orang yang lalai, saat itu ia tidak berhak membicarakan takdir dan kehendak bebas manusia. Sebab, terdorong oleh kelalaian atau kesesatan, nafsu ammarahnya menyerahkan alam kepada sebab-sebab, membagi-bagikan milik Allah سُبْحَانَهُ kepada mereka, dan menjadikan dirinya miliknya sendiri. Ia menganggap perbuatannya berasal dari dirinya dan sebab-sebab. Ia menyerahkan tanggung jawab dan kesalahan kepada takdir.

Saat itu, membicarakan kehendak bebas manusia yang pada akhirnya harus diserahkan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, serta takdir yang baru menjadi perhatian pada tahap terakhir, tidak memiliki makna. Hal itu hanyalah tipu daya nafsu untuk bebas dari tanggung jawab, yang sepenuhnya bertentangan dengan hikmah keduanya.

PEMBAHASAN KEDUA

Ini adalah penelitian ilmiah yang halus, khusus bagi para ahli ilmu {(Catatan kaki): Pembahasan Kedua ini merupakan salah satu persoalan rahasia takdir yang paling dalam dan paling sulit. Bagi seluruh ulama yang meneliti hakikat, ia merupakan persoalan akidah dalam ilmu kalam yang amat penting dan diperdebatkan. Risale-i Nur telah menyelesaikannya sepenuhnya.} Jika engkau berkata:

"Bagaimana takdir dapat dipadukan dengan kehendak bebas manusia?" Jawaban:

Dari tujuh segi... Pertama: Tentu Âdil Yang Hakîm, yang Hikmah dan Keadilan-Nya disaksikan oleh alam melalui bahasa keteraturan dan timbangan, telah memberi manusia suatu kehendak bebas manusia, yang hakikatnya tidak diketahui, untuk menjadi dasar pahala dan hukuman. Sebagaimana kita tidak mengetahui banyak Hikmah Âdil Yang Hakîm itu, ketidaktahuan kita tentang bagaimana kehendak bebas manusia ini dipadukan dengan takdir tidak menunjukkan bahwa perpaduan itu tidak ada. Kedua: Setiap orang pasti merasakan suatu pilihan dalam dirinya. Ia mengetahui adanya pilihan itu melalui nurani. Mengetahui hakikat sesuatu berbeda dengan mengetahui bahwa sesuatu itu ada. Banyak hal yang jelas bagi kita bahwa ia ada, tetapi hakikatnya tidak kita ketahui. Kehendak bebas manusia yang juz'i ini dapat termasuk di antaranya. Segala sesuatu tidak terbatas pada apa yang kita ketahui. Tidak tahunya kita tidak menunjukkan bahwa sesuatu itu tidak ada. Ketiga: Kehendak bebas manusia yang juz'i tidak bertentangan dengan takdir. Bahkan, takdir meneguhkan pilihan. Sebab takdir merupakan suatu jenis Ilmu Ilahi. Ilmu Ilahi berkaitan dengan pilihan kita. Maka Ilmu itu meneguhkan pilihan, tidak membatalkannya. Keempat: Takdir termasuk jenis Ilmu. Ilmu mengikuti apa yang diketahui. Yakni, Ilmu berkaitan dengannya sebagaimana hal itu akan terjadi. Apa yang diketahui tidak mengikuti Ilmu.

Yakni, kaidah-kaidah Ilmu bukan dasar untuk mengatur apa yang diketahui dari segi wujudnya di luar pikiran. Sebab zat dan wujud di luar pikiran dari sesuatu yang diketahui itu menghadap kepada Kehendak dan bersandar pada Kudrat. Azali juga bukan satu ujung rantai masa lalu yang dapat dijadikan dasar adanya segala sesuatu, lalu dibayangkan suatu keterpaksaan berdasarkan hal itu. Azali justru laksana cermin yang memandang dari atas dan mencakup masa lalu, masa kini, serta masa depan sekaligus. Maka membayangkan suatu ujung di sisi masa lalu dari waktu yang memanjang dalam lingkup segala yang mungkin ada, menyebutnya azali, menganggap segala sesuatu masuk secara berurutan ke dalam Ilmu Azali itu, dan membayangkan dirinya berada di luarnya, lalu menilai berdasarkan hal tersebut, bukanlah hakikat. Untuk menyingkap rahasia ini, lihatlah contoh berikut: Andaikan ada cermin di tanganmu, jarak di sebelah kananmu dianggap sebagai masa lalu, dan jarak di sebelah kirimu sebagai masa depan, cermin itu hanya menangkap apa yang ada di hadapannya. Kemudian ia menangkap kedua sisi itu secara berurutan, tetapi tidak dapat menangkap sebagian besarnya. Semakin rendah cermin itu, semakin sedikit yang dilihatnya. Namun, semakin tinggi engkau naik bersama cermin itu, semakin luas wilayah yang berhadapan dengannya. Lambat laun, cermin itu menangkap seluruh jarak di kedua sisi sekaligus, pada satu saat.

Maka, dalam pantulan cermin pada kedudukan ini, keadaan-keadaan yang berlangsung pada jarak-jarak tersebut tidak dapat disebut saling mendahului, mengikuti, bersesuaian, atau bertentangan. Karena takdir berasal dari Ilmu Azali, Ilmu Azali, dengan ungkapan hadis, "berada pada Kedudukan Tertinggi yang memandang dari Tempat Pandang Tertinggi, menangkap dan meliputi segala sesuatu dari azali hingga selama-lamanya, yang telah terjadi dan yang akan terjadi, sekaligus." Kita dan penilaian-penilaian kita tidak dapat berada di luar Ilmu itu sehingga Ilmu tersebut menjadi seperti cermin di kejauhan masa lalu. Kelima: Takdir berkaitan dengan sebab dan akibat bersama-sama. Yakni, akibat ini akan terjadi melalui sebab ini. Maka jangan dikatakan, "Karena kematian orang tertentu pada waktu tertentu telah ditakdirkan, apa kesalahan orang yang menembakkan senapan dengan kehendak bebasnya? Sekalipun ia tidak menembak, orang itu tetap akan mati." Pertanyaan:

Mengapa tidak boleh dikatakan demikian? Jawaban:

Sebab takdir telah menetapkan kematiannya melalui senapan orang itu. Jika engkau mengandaikan ia tidak menembakkan senapan, saat itu engkau mengandaikan takdir tidak berkaitan dengan kejadian tersebut. Lalu atas dasar apa engkau menetapkan bahwa ia akan mati? Jika engkau membayangkan takdir bagi sebab secara terpisah dan bagi akibat secara terpisah seperti kaum Jabariyah, atau mengingkari takdir seperti Muktazilah, engkau meninggalkan Ahlusunah waljamaah dan masuk ke dalam golongan yang sesat. Maka kami, orang-orang yang berpegang pada kebenaran, berkata, "Jika ia tidak menembak, apakah orang itu akan mati tidak kita ketahui." Kaum Jabariyah berkata, "Jika ia tidak menembak, orang itu tetap akan mati." Muktazilah berkata, "Jika ia tidak menembak, orang itu tidak akan mati." Keenam: {(Catatan kaki): Ini adalah suatu hakikat khusus bagi para ulama yang sangat teliti.} Kecenderungan, yang menjadi dasar pokok kehendak bebas manusia, menurut Maturidi merupakan perkara yang bersifat nisbi dan dapat dinisbatkan kepada hamba. Namun, karena Asy'ari memandangnya sebagai sesuatu yang berwujud, ia tidak menisbatkannya kepada hamba. Akan tetapi, menurut Asy'ari, bertindak atas kecenderungan tersebut merupakan perkara yang bersifat nisbi. Maka kecenderungan itu dan tindakan atasnya merupakan perkara nisbi. Keduanya tidak memiliki wujud yang pasti di luar pikiran.

Perkara yang bersifat nisbi tidak memerlukan sebab lengkap yang menuntut perkara itu ada secara pasti, harus, dan niscaya hingga meniadakan pilihan. Bahkan, jika sebab perkara nisbi itu mencapai keadaan yang hanya membuat salah satu pilihan lebih diutamakan, perkara tersebut dapat ditetapkan. Maka pada saat itu ia masih dapat meninggalkannya. Pada saat itu Al-Qur'an dapat berkata kepadanya, "Ini buruk, jangan lakukan." Ya, jika hamba menjadi khâliq perbuatannya dan memiliki kemampuan menciptakan, saat itu pilihannya akan hilang. Sebab dalam ilmu usul dan hikmah, menurut kaidah

ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠِﺐْ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﺟَﺪْ

, telah ditetapkan bahwa, "Sesuatu tidak akan ada jika keberadaannya tidak menjadi niscaya." Yakni, sebab lengkap harus ada, barulah sesuatu itu dapat ada. Sedangkan sebab lengkap menuntut akibatnya secara pasti dan niscaya. Saat itu pilihan tidak tersisa. Jika engkau berkata:

Memilih tanpa sesuatu yang mengunggulkan salah satu pilihan adalah mustahil. Padahal usaha manusia yang kita sebut perkara nisbi itu kadang berupa berbuat dan kadang tidak berbuat; jika tidak ada sesuatu yang mengunggulkan dan mengharuskan pilihan itu, berarti ada pilihan tanpa pengunggul. Bukankah ini meruntuhkan salah satu dasar terpenting ilmu kalam? Jawaban:

Salah satu pilihan menjadi lebih unggul tanpa sesuatu yang mengunggulkannya adalah mustahil. {(Catatan kaki): Menjadi lebih unggul berbeda dengan memilih; terdapat perbedaan yang sangat besar.} Yakni, keunggulan tanpa pengunggul dan tanpa sebab adalah mustahil. Namun, memilih tanpa sesuatu yang mengunggulkan pilihan itu dapat dibenarkan dan memang terjadi. Kehendak adalah suatu sifat; tugasnya memang melakukan hal seperti itu. Jika engkau berkata:

Karena Yang menciptakan pembunuhan adalah Al-Haqq, mengapa aku disebut pembunuh? Jawaban:

Sebab, menurut kaidah ilmu saraf, kata yang menyebut pelaku diturunkan dari masdar, yang merupakan perkara nisbi. Ia tidak diturunkan dari hasil masdar, yang merupakan sesuatu yang tetap. Masdar adalah usaha kita, sehingga kita pula yang mendapat sebutan pembunuh. Hasil masdar adalah ciptaan Al-Haqq. Sesuatu yang mengandung arti tanggung jawab tidak diturunkan dari hasil masdar. Ketujuh: Sekalipun kehendak manusia yang juz'i dan kehendak bebas manusia itu lemah serta merupakan perkara nisbi, Allah سُبْحَانَهُ, Sang Hakîm Mutlak, telah menjadikan kehendak yang terbatas serta lemah itu sebagai syarat menurut kebiasaan bagi berlakunya Kehendak-Nya yang menyeluruh. Yakni, melalui maknanya Dia berkata, "Wahai hamba-Ku! Jalan mana pun yang engkau inginkan dengan pilihanmu, Aku akan membawamu di jalan itu. Maka tanggung jawab ada padamu!" Tanpa menyalahartikan perumpamaan: jika engkau menggendong seorang anak yang tidak berdaya di bahumu, membiarkannya memilih, dan berkata, "Ke mana pun engkau inginkan, aku akan membawamu ke sana," lalu anak itu memilih gunung yang tinggi dan engkau membawanya ke sana, kemudian anak itu kedinginan atau jatuh, tentu engkau akan menegurnya dengan berkata, "Engkau yang menginginkannya!" dan menamparnya di bahumu. Maka Allah سُبْحَانَهُ, Sang Ahkamul-Hâkimîn, menjadikan kehendak hamba yang amat lemah sebagai syarat menurut kebiasaan, dan Kehendak-Nya yang menyeluruh memandang syarat itu. Kesimpulannya:

Wahai manusia! Engkau memiliki kehendak bernama kehendak bebas manusia, yang amat lemah, tetapi tangannya dapat menjangkau sangat jauh dalam keburukan dan perusakan, tetapi sangat pendek dalam kebaikan. Letakkan doa di salah satu tangan kehendak itu agar tangannya dapat mencapai surga, buah dari rantai kebaikan, dan terulur kepada kebahagiaan abadi, salah satu bunganya. Letakkan istigfar di tangannya yang lain agar tangannya memendek dari keburukan dan tidak mencapai zakum neraka, salah satu buah pohon terkutuk itu. Jadi, sebagaimana doa dan tawakal memberi kekuatan besar pada kecenderungan kepada kebaikan, istigfar dan tobat juga memutus kecenderungan kepada keburukan serta mematahkan pelanggarannya.

PEMBAHASAN KETIGA

Iman kepada takdir termasuk rukun iman. Yakni, "Segala sesuatu berdasarkan Ketentuan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq." Bukti-bukti pasti atas takdir begitu banyak sehingga tidak berbatas dan tidak terhitung. Dengan satu pendahuluan, kami akan menunjukkan secara sederhana dan jelas betapa kuat dan luasnya rukun iman ini. Pendahuluan: Banyak ayat Al-Qur'an, seperti

وَلَا ﺭَﻃْﺐٍ وَلَا ﻳَﺎﺑِﺲٍٍ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍٍ

, menyatakan secara terang bahwa segala sesuatu ditulis sebelum ada dan sesudah ada; ayat-ayat Al-Qur'an besar Kudrat yang disebut alam ini juga membenarkan ketetapan Al-Qur'an tersebut melalui ayat-ayat penciptaannya, seperti tatanan, timbangan, keteraturan, pemberian bentuk, hiasan, dan ciri yang membedakan. Ya, surat-surat yang tersusun teratur dan ayat-ayat yang terukur dalam kitab kainat ini bersaksi bahwa segala sesuatu telah tertulis. Adapun bukti bahwa segala sesuatu telah ditakdirkan dan ditulis sebelum ada ialah semua awal, benih, ukuran, dan bentuk yang masing-masing menjadi saksi. Sebab setiap biji dan benih merupakan kotak kecil yang halus, yang keluar dari alat kerja "kaf-nun" dan menyimpan sebuah daftar kecil yang dilukiskan oleh takdir; Kudrat mempergunakan zarah-zarah menurut rancangan takdir itu dan membangun mukjizat-mukjizat Kudrat yang besar di atas biji-biji kecil tersebut. Jadi, seluruh pohon beserta segala kejadian yang akan dialaminya seakan telah tertulis dalam benihnya.

Sebab secara materi, biji-biji itu sederhana, sama satu dengan lainnya, dan tidak memiliki sesuatu secara materi. Ukuran teratur segala sesuatu juga menunjukkan takdir dengan jelas. Ya, makhluk hidup mana pun yang dilihat memiliki ukuran dan bentuk seolah keluar dari cetakan yang penuh hikmah dan seni; untuk memperoleh ukuran, rupa, dan bentuk itu, harus ada cetakan materi yang luar biasa dengan lekukan dan belokan yang amat rumit, atau Kudrat Azali membentuk dan mengenakan rupa serta bentuk tersebut menurut cetakan maknawi yang terukur dalam Ilmu, yang berasal dari takdir. Misalnya, lihatlah dengan teliti pohon dan binatang ini: zarah-zarah yang tidak bernyawa, tuli, buta, tidak berkesadaran, dan sama satu dengan lainnya bergerak dalam pertumbuhannya. Pada batas-batas tertentu yang berlekuk dan berbelok, zarah-zarah itu berhenti, seolah mengenali, melihat, dan mengetahui tempat buah serta manfaat. Kemudian di tempat lain, mereka mengubah jalan seolah mengejar tujuan yang besar. Jadi, zarah-zarah bergerak menurut ukuran maknawi yang berasal dari takdir dan perintah maknawi ukuran itu. Karena Tajalli takdir hadir sebesar ini pada benda-benda materi yang dapat dilihat, tentu bentuk-bentuk yang dikenakan segala sesuatu seiring berjalannya waktu dan keadaan-keadaan yang dihasilkan oleh gerakannya juga mengikuti keteraturan takdir.

Ya, dalam satu benih terdapat dua Tajalli takdir: yang satu nyata, memberitakan dan menunjuk kepada "Kitâb Mubîn", sebutan bagi Kehendak dan Perintah-Perintah penciptaan; yang lain dipahami melalui penalaran, memberitakan dan mengisyaratkan "Imâm Mubîn", suatu sebutan bagi Perintah dan Ilmu Ilahi: Takdir yang nyata ialah sifat-sifat materi, keadaan, dan susunan pohon yang terkandung dalam benih itu, yang kelak akan terlihat oleh mata. Adapun takdir yang dipahami melalui penalaran ialah tahap-tahap, keadaan, bentuk, gerakan, serta tasbih yang akan dilalui sepanjang hidup oleh pohon yang diciptakan dari benih tersebut; tahap-tahap, keadaan, bentuk, dan perbuatan yang berubah dari waktu ke waktu dan disebut riwayat hidup itu masing-masing memiliki ukuran takdir yang teratur, seperti dahan dan daun pohon tersebut. Karena Tajalli takdir semacam ini hadir pada benda yang paling biasa dan sederhana, tentu hal itu menyatakan bahwa semua benda telah tertulis sebelum ada, dan dapat dipahami dengan sedikit perhatian. Adapun bukti bahwa perjalanan hidup segala sesuatu ditulis setelah ada ialah seluruh buah di alam yang memberitakan "Kitâb Mubîn" dan "Imâm Mubîn", serta seluruh daya ingat manusia yang memberitakan dan menunjuk kepada "Lauh Mahfuz"; masing-masing merupakan saksi dan tanda. Ya, dalam setiap buah, ketentuan hidup seluruh pohon ditulis pada benihnya yang laksana jantung pohon itu.

Perjalanan hidup manusia beserta sebagian kejadian masa lalu di alam ditulis dalam daya ingatnya sedemikian rupa, seolah Kudrat Allah سُبْحَانَهُ, dengan Pena Takdir, menyalin sebuah dokumen kecil dari lembaran amal manusia pada daya kecil sebesar biji sesawi itu, memberikannya ke tangan manusia, dan memasukkannya ke dalam saku otaknya. Agar Dia mengingatkannya dengan dokumen itu pada saat perhitungan. Juga agar ia tenteram bahwa di tengah hiruk-pikuk fana dan sirna ini terdapat banyak cermin untuk tetap kekal, tempat Sang Qadîr yang Hakîm melukiskan identitas segala yang sirna dan membuatnya tetap kekal. Terdapat pula banyak lembaran untuk tetap kekal, tempat Sang Hafîzh yang Alîm menulis makna segala yang fana. Kesimpulannya:

Karena kehidupan tumbuh-tumbuhan, tingkat kehidupan paling sederhana dan paling rendah, mengikuti tatanan takdir sebesar ini, tentu kehidupan manusia, tingkat kehidupan paling tinggi, telah digambar dalam seluruh rinciannya dengan Pengukur Takdir dan ditulis dengan Penanya. Ya, sebagaimana tetesan memberitakan awan, percikan menunjukkan sumber air, serta dokumen dan buku catatan kecil menunjuk kepada adanya suatu buku besar, begitu pula buah, sperma, biji, benih, rupa, dan bentuk yang kita saksikan, yang laksana percikan, tetesan, dokumen, dan buku catatan kecil dari takdir nyata berupa keteraturan materi pada makhluk hidup, serta takdir yang dipahami melalui penalaran berupa keteraturan maknawi dan kehidupan, dengan sangat jelas menunjukkan buku Kehendak dan Perintah-Perintah penciptaan yang disebut "Kitab Mubin", serta Lauh Mahfuz, catatan Ilmu Ilahi yang disebut "Imam Mubin". Hasil yang dituju:

Karena kita melihat dengan mata kepala bahwa selama pertumbuhan setiap makhluk hidup, zarah-zarahnya bergerak menuju batas-batas yang berlekuk dan berbelok, lalu berhenti; zarah-zarah itu mengubah jalannya; dan pada ujung batas-batas tersebut mereka menghasilkan hikmah, manfaat, serta kebaikan, maka jelas bahwa ukuran bentuk benda itu telah dilukiskan dengan suatu Pena Takdir. Takdir yang terlihat dan nyata ini menunjukkan bahwa dalam keadaan-keadaan maknawi makhluk hidup itu pun terdapat batas-batas serta ujung-ujung yang teratur dan berbuah, yang digambar dengan suatu Pena Takdir. Kudrat adalah sumber; takdir adalah penggaris. Kudrat menulis kitab makna itu di atas penggaris tersebut. Karena kita memahami secara pasti bahwa terdapat batas-batas yang berbuah dan ujung-ujung yang penuh hikmah, yang dilukiskan dengan Pena Takdir bagi segi materi dan maknawi, tentu keadaan-keadaan serta tahap-tahap yang akan dilalui setiap makhluk hidup sepanjang hidupnya telah dilukiskan dengan Pena Takdir itu. Sebab perjalanan hidupnya berlangsung dengan keteraturan dan timbangan. Ia berganti rupa dan mengambil bentuk-bentuk. Karena Pena Takdir berkuasa atas seluruh makhluk hidup seperti ini, tentu perjalanan hidup manusia, buah alam yang paling sempurna, khalifah bumi, serta pemikul amanat terbesar, mengikuti Hukum Takdir lebih daripada segala sesuatu. Jika engkau berkata:

"Takdir telah mengikat kita seperti ini dan merampas kebebasan kita. Bukankah iman kepada takdir memberi beban dan kesesakan kepada hati serta ruh yang merindukan rasa lapang dan kebebasan bergerak?" Jawaban:

Sama sekali tidak! Ia tidak menyesakkan; bahkan memberi sukacita dan cahaya yang mendatangkan rasa ringan, nyaman, lega, dan segar tanpa batas, serta menjamin rasa aman dan perlindungan. Sebab jika manusia tidak beriman kepada takdir, dalam suatu lingkup kecil dengan keleluasaan yang kecil dan kebebasan sementara, ia terpaksa membawa beban seberat dunia di bahu ruhnya yang malang. Sebab manusia berkaitan dengan seluruh kainat. Ia memiliki tujuan dan keinginan tanpa batas. Karena daya, kehendak, dan kebebasannya tidak mencukupi untuk satu dari sejuta tujuan serta keinginan itu, dapat dipahami betapa mengerikan dan mencekamnya beban kesesakan maknawi yang ia tanggung. Maka iman kepada takdir melemparkan seluruh beban itu ke kapal takdir dan memberikan tempat bagi ruh serta hati, dengan kenyamanan dan kebebasan yang sempurna, untuk bergerak leluasa dalam kesempurnaannya. Ia hanya merampas kebebasan yang kecil milik nafsu ammarah dan mematahkan sikapnya seperti Firaun, klaim rububiyahnya, serta tindakannya yang semaunya. Iman kepada takdir begitu nikmat dan membahagiakan sehingga tidak dapat dilukiskan. Kami hanya akan mengisyaratkan kenikmatan dan kebahagiaan itu melalui perumpamaan berikut. Demikianlah: Dua orang pergi ke ibu kota kerajaan seorang raja. Mereka masuk ke istana pribadi raja itu, tempat hal-hal yang menakjubkan. Salah satunya tidak mengenal raja; ia ingin menetap di sana sebagai perampas dan pencuri.

Namun, ia melihat beban-beban berat yang dituntut taman dan istana itu, seperti pengelolaan, pengaturan, pemasukan, menjalankan mesin-mesinnya, dan memberi makanan kepada binatang-binatang yang menakjubkan, lalu terus-menerus menderita. Taman yang seperti surga itu menjadi laksana neraka baginya. Ia mengasihani segala sesuatu. Ia tidak dapat mengelolanya. Ia melewatkan waktunya dengan penyesalan. Kemudian orang yang mencuri dan tidak tahu adab itu dimasukkan ke penjara untuk diberi pelajaran. Orang kedua mengenal raja dan mengetahui dirinya sebagai tamu raja. Ia meyakini bahwa seluruh pekerjaan di taman dan istana itu berlangsung menurut tatanan hukum, bahwa segala sesuatu berjalan menurut suatu rancangan dengan sangat mudah. Ia menyerahkan jerih payah dan beban-beban kepada hukum raja, menikmati seluruh kenikmatan taman yang menyerupai surga itu dengan sukacita penuh, dan memandang segala sesuatu dengan senang karena bersandar pada belas kasih raja serta indahnya hukum-hukum pengelolaannya; ia menjalani hidup dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang sempurna. Maka pahamilah rahasia

ﻣَﻦْ ﺍٰﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟْﻘَﺪَﺭِ ﺍَﻣِﻦَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻜَﺪَﺭِ

.

PEMBAHASAN KEEMPAT

Jika engkau berkata:

"Dalam Pembahasan Pertama engkau telah membuktikan bahwa segala sesuatu dalam takdir adalah indah dan baik. Keburukan yang datang darinya pun baik, dan kejelekan pun indah. Padahal musibah dan bencana di negeri dunia ini membantah ketetapan tersebut." Jawaban:

Wahai nafsuku dan sahabatku yang merasakan sakit hebat karena kasih sayang yang begitu besar! Wujud adalah kebaikan murni dan tidak adanya sesuatu adalah keburukan murni. Buktinya, segala keindahan dan kesempurnaan kembali kepada wujud, sedangkan dasar seluruh maksiat, musibah, dan kekurangan ialah tidak adanya sesuatu. Karena tidak adanya sesuatu merupakan keburukan murni, keadaan-keadaan yang berakhir dengan tidak adanya sesuatu atau mengandung makna itu juga mengandung keburukan. Karena itulah kehidupan, cahaya wujud yang paling terang, menjadi kuat dengan bergulir melalui berbagai keadaan. Ia menjadi jernih dengan memasuki keadaan-keadaan yang berbeda. Ia menghasilkan buah-buah yang dikehendaki dengan mengambil berbagai sifat. Dan dengan melalui berbagai tahap, ia memperlihatkan dengan indah ukiran Asma Wâhib kehidupan. Karena hakikat inilah makhluk hidup mengalami keadaan-keadaan berupa rasa sakit, musibah, kesulitan, dan bencana; melalui keadaan-keadaan itu cahaya-cahaya wujud dalam kehidupan mereka diperbarui, gelap akibat tidak adanya sesuatu menjauh, dan kehidupan mereka menjadi jernih. Sebab berhenti, tenang tanpa gerak, diam, menganggur, beristirahat, dan keadaan yang selalu sama masing-masing berarti tidak adanya sesuatu dalam sifat dan keadaan. Bahkan kenikmatan terbesar menjadi tiada apabila terus-menerus sama. Kesimpulannya:

Karena kehidupan memperlihatkan ukiran Asmaulhusna, segala sesuatu yang menimpa kehidupan adalah baik. Misalnya, seseorang yang sangat kaya, memiliki seni yang amat tinggi, dan mahir dalam banyak seni mengenakan kepada seorang miskin biasa, dengan imbalan tertentu selama satu jam, sebuah baju yang dibuatnya dengan indah dan dihiasi permata, agar orang itu bertugas sebagai model untuk memperlihatkan karya seni serta kekayaannya yang berharga; ia mengerjakan baju itu pada tubuhnya, mengatur posisinya, dan mengubahnya. Untuk memperlihatkan setiap jenis seninya, ia juga memotong, mengganti, memanjangkan, dan memendekkannya. Apakah orang miskin yang dibayar itu berhak berkata kepadanya, "Engkau menyusahkanku. Engkau mengatur posisiku dengan membuatku membungkuk dan berdiri. Engkau merusak keindahanku dengan memotong dan memendekkan baju yang memperindah diriku ini"? Dapatkah ia berkata, "Engkau tidak berbelas kasih dan tidak adil"? Begitu pula Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir yang Tiada Banding, memutar baju wujud yang Dia kenakan kepada makhluk hidup, berhias indra dan latifah (daya halus) seperti mata, telinga, akal, serta hati, melalui banyak keadaan dan mengubahnya dalam banyak posisi untuk memperlihatkan ukiran Asmaulhusna. Dalam keadaan-keadaan berupa rasa sakit dan musibah terdapat sinar-sinar Rahmat di dalam kilauan Hikmah, dan keindahan-keindahan lembut di dalam sinar-sinar Rahmat itu, untuk memperlihatkan Ketentuan sebagian Asma-Nya.

PENUTUP

Lima paragraf yang membungkam nafsu Said Lama, yang membangkang, berbangga diri, sombong, kagum kepada diri sendiri, dan riya, serta memaksanya tunduk. Paragraf Pertama: Karena benda-benda ada dan dibuat dengan seni, tentu ada Pembuatnya. Sebagaimana dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Dua, jika segala sesuatu tidak menjadi milik Satu Zat, setiap benda akan sesulit dan seberat seluruh benda. Jika segala sesuatu menjadi milik Satu Zat, seluruh benda akan semudah satu benda. Karena Satu Zat telah membuat dan menciptakan bumi serta langit, tentu Zat yang amat Bijaksana dan amat tinggi Seni-Nya itu tidak akan menyerahkan kepada pihak lain makhluk-makhluk hidup yang merupakan buah, hasil, serta tujuan bumi dan langit, lalu merusak Pekerjaan-Nya. Dia tidak akan menyerahkannya kepada tangan-tangan lain dan menjadikan seluruh Pekerjaan-Nya yang penuh Hikmah sia-sia, merendahkannya menjadi tiada, atau memberikan syukur dan ibadah makhluk-makhluk itu kepada yang lain. Paragraf Kedua: Wahai nafsuku yang sombong! Engkau menyerupai pohon anggur. Jangan berbangga diri! Pohon itu tidak memasang sendiri tandan-tandannya; pihak lain yang memasangkannya. Paragraf Ketiga: Wahai nafsuku yang riya!

Jangan sombong dengan berkata, "Aku telah berkhidmah kepada agama." Menurut rahasia

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻟَﻴُﺆَﻳِّﺪُ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦَ ﺑِﺎﻟﺮَّﺟُﻞِ ﺍﻟْﻔَﺎﺟِﺮِ

, karena belum disucikan, justru engkau harus menganggap dirimu sebagai lelaki durhaka itu. Ketahuilah khidmah dan ubudiyahmu sebagai syukur atas nikmat-nikmat yang telah berlalu, tugas fitrah, kewajiban penciptaan, serta hasil seni penciptaan; bebaskan dirimu dari ujub dan riya! Paragraf Keempat: Jika engkau menginginkan ilmu hakikat dan hikmah yang sejati, raihlah makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebab seluruh hakikat segala wujud adalah sinar-sinar Nama Al-Haqq, tampaknya Asma-Nya, serta Tajalli Sifat-Sifat-Nya. Hakikat setiap benda dan setiap manusia, baik materi maupun maknawi, zat maupun sifat yang melekat padanya, bersandar pada cahaya suatu Nama dan bertumpu pada Hakikat Nama itu. Jika tidak, ia hanyalah bentuk tanpa hakikat dan tanpa arti penting. (Pada akhir Kalimat Kedua Puluh telah ada sedikit pembahasan mengenai rahasia ini.) Wahai nafsu! Jika engkau merindukan kehidupan dunia ini dan melarikan diri dari maut, ketahuilah secara pasti bahwa keadaan-keadaan yang engkau anggap kehidupan hanyalah menit yang sedang engkau jalani. Seluruh waktumu sebelum menit itu dan benda-benda dunia yang berada dalam waktu tersebut telah mati pada menit itu. Seluruh waktumu setelah menit itu beserta isinya belum ada dan tiada pada menit itu.

Jadi, kehidupan materi yang engkau andalkan hanyalah satu menit. Bahkan sebagian peneliti berkata, "Satu bagian waktu yang amat kecil (âşire), bahkan suatu saat yang terus mengalir." Karena rahasia inilah sebagian wali menetapkan bahwa dunia, dari segi keduniaannya, tidak ada. Karena demikian, tinggalkan kehidupan materi nafsu. Naiklah ke tingkatan-tingkatan kehidupan hati, ruh, dan sir, lalu lihatlah betapa luas lingkup kehidupan mereka. Masa lalu dan masa depan, yang mati bagimu, bagi mereka hidup, memiliki kehidupan, dan ada. Wahai nafsuku! Karena demikian, menangis dan berserulah seperti hatiku, lalu katakan: "Aku fana, aku tidak menginginkan yang fana. Aku tak berdaya, aku tidak menginginkan yang tak berdaya. Aku telah menyerahkan ruhku kepada Ar-Rahmân, aku tidak menginginkan yang lain. Aku menginginkan, tetapi aku menginginkan seorang Kekasih yang Kekal. Aku zarah, tetapi aku menginginkan Matahari yang Kekal selamanya. Aku tiada di dalam tiada, tetapi aku menginginkan seluruh wujud ini sekaligus."

Paragraf Kelima: Karena paragraf ini datang dalam bahasa Arab, ia ditulis dalam bahasa Arab. Paragraf Arab ini juga merupakan isyarat kepada satu dari tiga puluh tiga tingkatan tafakur dalam zikir "Allahu Ekber".

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﻛْﺒَﺮُ ﺍِﺫْ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﺮُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻜَﺮ۪ﻳﻢُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺠَﻤ۪ﻴﻞُ ﺍﻟﻨَّﻘَّﺎﺵُ الْاَزَلِىُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻣَﺎ ﺣَﻘ۪ﻴﻘَﺔُ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ كُلًّا ﻭَ ﺟُﺰْﺀً ﻭَ ﺻَﺤَﺎﺋِﻒَ ﻭَ ﻃَﺒَﻘَﺎﺕٍ ﻭَ ﻣَﺎ ﺣَﻘَﺎﺋِﻖُ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻛُﻠِّﻴًًّﺎ ﻭَ ﺟُﺰْﺋِﻴًّﺎ ﻭَ ﻭُﺟُﻮﺩًﺍ ﻭَ ﺑَﻘَﺎﺀً اِلَّا ﺧُﻄُﻮﻁُ ﻗَﻠَﻢِ ﻗَﻀَﺎﺋِﻪِ ﻭَ ﻗَﺪَﺭِﻩِ ﻭَ ﺗَﻨْﻈ۪ﻴﻤِﻪِ ﻭَ ﺗَﻘْﺪ۪ﻳﺮِﻩِ ﺑِﻌِﻠْﻢٍ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺔٍ ﻭَ ﻧُﻘُﻮﺵُ ﭘَﺮْﻛَﺎﺭِ ﻋِﻠْﻤِﻪِ ﻭَ ﺣِﻜْﻤَﺘِﻪِ ﻭَ ﺗَﺼْﻮ۪ﻳﺮِﻩِ ﻭَ ﺗَﺪْﺑِﻴﺮِﻩِ ﺑِﺼُﻨْﻊٍ ﻭَ ﻋِﻨَﺎﻳَﺔٍ ﻭَ ﺗَﺰْﻳ۪ﻴﻨَﺎﺕُ ﻳَﺪِ ﺑَﻴْﻀَﺎﺀِ ﺻُﻨْﻌِﻪِ ﻭَ ﻋِﻨَﺎﻳَﺘِﻪِ ﻭَ ﺗَﺰْﻳِﻴﻨِﻪِ ﻭَ ﺗَﻨْﻮِﻳﺮِﻩِ ﺑِﻠُﻄْﻒٍ ﻭَ ﻛَﺮَﻡٍ ﻭَ ﺍَﺯَﺍﻫ۪ﻴﺮُ ﻟَﻄَﺎﺋِﻒِ ﻟُﻄْﻔِﻪِ ﻭَ ﻛَﺮَﻣِﻪِ ﻭَ ﺗَﻮَﺩُّﺩِﻩِ ﻭَ ﺗَﻌَﺮُّﻓِﻪِ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺔٍ ﻭَ ﻧِﻌْﻤَﺔٍ ﻭَ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕُ ﻓَﻴَّﺎﺽِ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻪِ ﻭَ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﻭَ ﺗَﺮَﺣُّﻤِﻪِ ﻭَ ﺗَﺤَﻨُّﻨِﻪِ ﺑِﺠَﻤَﺎﻝِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﻭَ ﻟَﻤَﻌَﺎﺕِ ﺗَﺠَﻠِّﻴَﺎﺕِ ﺟَﻤَﺎﻟِﻪِ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻟِﻪِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺗَﻔَﺎﻧِﻴَﺔِ ﺍﻟْﻤَﺮَﺍﻳَﺎ ﻭَ ﺳَﻴَّﺎﻟِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤَﻈَﺎﻫِﺮِ ﻣَﻊَ ﺑَﻘَﺎﺀِ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺮَّﺩِ ﺍﻟﺴَّﺮْﻣَﺪِﻯِّ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ ﺍﻟﺘَّﺠَﻠّ۪ﻰ ﻭَ ﺍﻟﻈُّﻬُﻮﺭِ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺮِّ ﺍﻟْﻔُﺼُﻮﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻌُﺼُﻮﺭِ ﻭَ ﺍﻟﺪُّﻫُﻮﺭِ ﻭَ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ الْاِنْعَامِ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺮِّ الْاَنَامِ ﻭَ الْاَيَّامِ ﻭَ الْاَعْوَامِ ﻧَﻌَﻢْ فَالْاَثَرُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﻟِﺬ۪ﻯ ﻋَﻘْﻞٍ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟْﻔِﻌْﻞُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﻟِﺬ۪ﻯ ﻓَﻬْﻢٍ ﻋَﻠَﻰ الْاِسْمِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ الْاِسْمُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺪَﺍﻫَﺔِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻮَﺻْﻒِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟْﻮَﺻْﻒُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺓِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺸَّﺎْﻥِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞِ ﺛُﻢَّ ﺍﻟﺸَّﺎْﻥُ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻞُ ﻳَﺪُﻝُّ ﺑِﺎﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻋَﻠٰﻰ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟﺬَّﺍﺕِ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﻠ۪ﻴﻖُ ﺑِﺎﻟﺬَّﺍﺕِ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦُ ﻧَﻌَﻢْ ﺗَﻔَﺎﻧِﻰ ﺍﻟْﻤِﺮْﺍٰﺓِ ﺯَﻭَﺍﻝُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺟُﻮﺩَﺍﺕِ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺘَّﺠَﻠِّﻰ ﺍﻟﺪَّﺍﺋِﻢِ ﻣَﻊَ ﺍﻟْﻔَﻴْﺾِ الْمُلَازِمِ ﻣِﻦْ ﺍَﻇْﻬَﺮِ ﺍﻟﻈَّﻮَﺍﻫِﺮِ ﺍَﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝَ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَ ﻟَﻴْﺲَ ﻣُﻠْﻚَ ﺍﻟْﻤَﻈَﺎﻫِﺮِ ﻣِﻦْ ﺍَﻓْﺼَﺢِ ﺗِﺒْﻴَﺎﻥٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻭْﺿَﺢِ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥٍ ﻟِﻠْﺠَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺮَّﺩِ لِْلِاحْسَانِ ﺍﻟْﻤُﺠَﺪَّﺩِ ﻟِﻠْﻮَﺍﺟِﺐِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮﺩِ ﻟِﻠْﺒَﺎﻗِﻰ ﺍﻟْﻮَﺩُﻭﺩِ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻣِﻦَ الْاَزَلِ ﺍِﻟَﻰ الْاَبَدِ ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﻋِﻠْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ

Tambahan Kalimat Kedua Puluh Tujuh

Mengenai para sahabat


Aku berkata sebagaimana perkataan Maulana Jami:

ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﭼِﻪ ﺑَﺎﺷَﺪْ ﭼُﻮﻥْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﺩَﺍﺧِﻞِ ﺟَﻨَّﺖْ ﺷَﻮَﻡْ ﺩَﺭْ ﺯُﻣْﺮَﻩﺀِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ ﺍُﻭ ﺭَﻭَﺩْ ﺩَﺭْ ﺟَﻨَّﺖْ ﻣَﻦْ ﺩَﺭْ ﺟَﻬَﻨَّﻢْ ﻛَﻰْ ﺭَﻭَﺍﺳْﺖْ ﺍُﻭ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﻛَﻬْﻒْ ﻣَﻦْ ﺳَﮓِ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺗُﻮ

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُٓ ﺍَﺷِﺪَّٓﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَٓﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ

ilâ âhiri'l-âyet...


Kalian bertanya:


Dalam sebagian riwayat terdapat keterangan bahwa, "Ketika bidah tersebar luas, sebagian orang saleh dari ahli iman dan takwa dapat setingkat dengan sahabat atau lebih utama." Apakah riwayat-riwayat ini sahih?

Jika sahih, apakah hakikatnya?


Jawaban:


Ijmak Ahlusunah waljamaah bahwa para sahabat adalah manusia paling utama setelah para nabi merupakan hujah yang pasti bahwa bagian sahih dari riwayat-riwayat itu mengenai keutamaan yang juz'i (yang sebagian).

Sebab dalam keutamaan yang juz'i dan kesempurnaan tertentu, yang kurang utama dapat melebihi yang lebih utama.

Namun, dari segi keutamaan menyeluruh, para sahabat, yang menerima gambaran penuh pujian dari Rabb pada akhir Surah Fath serta pujian dan sanjungan Taurat, Injil, dan Al-Qur'an, tidak dapat disamai.

Dari banyak sebab dan hikmah hakikat ini, untuk sementara kami akan menjelaskan tiga hikmah yang mencakup tiga sebab: HIKMAH PERTAMA: Pergaulan dengan Nabi ﷺ adalah ramuan yang begitu ampuh sehingga seseorang yang memperolehnya selama satu menit menerima cahaya-cahaya hakikat setara perjalanan rohani selama bertahun-tahun.

Sebab dalam pergaulan terdapat pengaruh yang mewarnai dan pantulan.

Telah diketahui bahwa melalui pantulan dan mengikuti, seseorang dapat naik ke tingkatan yang amat tinggi bersama cahaya kenabian yang paling agung itu.

Seperti halnya seorang pelayan sultan, karena mengikuti sultan itu, naik ke suatu kedudukan yang tidak dapat dicapai seorang raja.

Karena rahasia inilah para wali terbesar tidak dapat naik ke derajat sahabat.

Bahkan para wali seperti Jalaluddin Suyuti, yang berkali-kali memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga, sekalipun bertemu Rasul Yang Paling Mulia ﷺ saat terjaga dan mendapat kehormatan bergaul dengannya dalam alam ini, tetap tidak dapat menyamai sahabat.

Sebab para sahabat bergaul dengannya melalui cahaya kenabian Ahmad ﷺ, yakni mereka bergaul dengannya sebagai Nabi.

Adapun para wali yang melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ setelah wafatnya Nabi ﷺ, pergaulan mereka berlangsung melalui cahaya kewalian Ahmad ﷺ.

Jadi, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang tergambar dan tampak dalam pandangan mereka berasal dari segi kewalian Ahmad ﷺ, bukan dari segi kenabian.

Karena demikian, setinggi apa pun derajat kenabian di atas derajat kewalian, sebesar itu pula perbedaan kedua pergaulan tersebut.

Betapa pergaulan dengan Nabi ﷺ merupakan ramuan cahaya yang ampuh dapat dipahami dari hal ini: seorang pengembara yang memiliki kekerasan hati begitu liar sampai sanggup mengubur putrinya hidup-hidup, datang dan mendapat kehormatan bergaul dengan Nabi ﷺ selama satu jam, lalu memperoleh kasih sayang yang begitu penuh belas kasih sampai tidak dapat lagi menginjak seekor semut.

Seorang yang bodoh dan liar juga memperoleh pergaulan dengan Nabi ﷺ selama satu hari; kemudian ia pergi ke negeri-negeri seperti Tiongkok dan India, lalu menjadi guru hakikat serta pembimbing kesempurnaan bagi bangsa-bangsa yang beradab itu.

SEBAB KEDUA: Sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam pembahasan ijtihad pada Kalimat Kedua Puluh Tujuh, sebagian besar sahabat berada pada tingkat kesempurnaan manusia yang paling tinggi.

Sebab pada zaman itu, dalam perubahan Islam yang amat besar tersebut, kebaikan dan haq terlihat dengan seluruh keindahannya, keburukan dan kebatilan dengan seluruh kejelekannya, dan dirasakan secara nyata.

Terbuka perbedaan begitu besar antara keburukan dan kebaikan, serta jarak begitu jauh antara dusta dan kejujuran, sehingga keduanya saling berjauhan sebesar kekufuran dan iman, bahkan sebesar neraka dan surga.

Karena Musailamah si Pendusta beserta kata-katanya yang menggelikan menjadi penyeru serta contoh dusta, keburukan, dan kebatilan, para sahabat, yang secara fitrah memiliki perasaan luhur, mencintai akhlak yang tinggi, serta cenderung kepada kehormatan dan kemuliaan, tentu tidak mengulurkan tangan dengan pilihan mereka kepada dusta dan keburukan lalu jatuh ke tingkat kehinaan Musailamah.

Dengan memandang kedudukan Habibullah ﷺ, penyeru serta contoh kejujuran, kebaikan, dan haq, pada a'lâ illiyyîn dalam kesempurnaan, berlari ke arah itu dengan seluruh daya serta tekad merupakan tuntutan watak mereka.

Misalnya, kadang dalam pasar peradaban manusia dan toko kehidupan masyarakat, hasil-hasil mengerikan serta dampak buruk suatu barang seperti racun pembunuh, sehingga setiap orang tidak membelinya, bahkan membenci dan menjauhinya dengan seluruh kekuatan.

Adapun hasil-hasil indah dan dampak berharga sebagian barang serta barang maknawi seperti penawar yang bermanfaat dan berlian, yang menarik pandangan penuh minat semua orang.

Semua orang berusaha membelinya semampu mereka.

Begitu pula, di pasar kehidupan masyarakat pada masa Nabi Muhammad ﷺ, karena barang-barang seperti dusta, keburukan, dan kekufuran menghasilkan kesengsaraan abadi serta orang-orang rendah yang menggelikan seperti Musailamah si Pendusta, jelas bahwa para sahabat, yang terpikat oleh watak luhur dan cinta kepada kemuliaan, membenci serta menjauhinya seperti menjauhi racun pembunuh.

Dan para sahabat yang memiliki fitrah jernih serta watak luhur itu tentu mencari dan merindukan dengan seluruh daya, perasaan, serta latifahnya (daya halus dalam diri manusia) kejujuran, haq, dan iman, yang menghasilkan kebahagiaan abadi serta memperlihatkan buah-buah bercahaya seperti Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, laksana penawar paling bermanfaat dan berlian paling berharga.

Namun, setelah zaman itu, lambat laun jarak antara kejujuran dan dusta terus berkurang hingga keduanya berdiri bahu-membahu.

Seperti keduanya mulai dijual bersama dalam satu toko, akhlak masyarakat pun rusak.

Propaganda politik membuat dusta semakin laris.

Ketika keburukan dusta yang mengerikan tersembunyi dan keindahan cemerlang berkata benar mulai tidak terlihat, siapakah yang dapat menyamai kekuatan, keteguhan, dan takwa para sahabat dalam keadilan, kejujuran, sifat luhur, serta kebenaran, atau melampaui derajat mereka?

Aku akan menjelaskan suatu keadaan yang kualami untuk sedikit menerangi persoalan tadi.

Demikianlah: Pada suatu waktu, terlintas dalam hatiku, mengapa pribadi-pribadi luar biasa seperti Muhyiddin Arabi tidak dapat menyamai sahabat?

Kemudian ketika aku mengucapkan

ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻰَ الْاَعْلٰى

dalam salat, makna kalimat ini terbuka.

Bukan maknanya sepenuhnya, tetapi sedikit hakikatnya tampak.

Aku berkata dalam hati, "Andaikan aku berhasil melaksanakan satu salat dengan keadaan seperti kalimat ini, tentu lebih baik daripada ibadah satu tahun." Setelah salat, aku memahami bahwa pikiran dan keadaan itu merupakan petunjuk bahwa derajat para sahabat dalam ibadah tidak dapat disamai.

Ya, dalam perubahan masyarakat yang amat besar yang lahir dari cahaya Al-Qur'an Al-Hakîm itu, ketika hal-hal yang berlawanan muncul dan berpisah satu dari lainnya; ketika keburukan dengan seluruh pengikut, gelap, serta rinciannya, dan kebaikan serta kesempurnaan dengan seluruh cahaya serta hasilnya berhadapan dalam suatu keadaan dan zaman yang menggerakkan perasaan, setiap zikir dan tasbih menyatakan seluruh lapisan maknanya seperti hasil pertama yang baru dipetik, segar, baru, dan muda; ia juga membangunkan seluruh perasaan serta latifah maknawi manusia yang berada di bawah gemuruh perubahan besar itu; bahkan daya-daya batin seperti dugaan, khayal, dan sir menerima serta menyerap berbagai makna dalam zikir dan tasbih tersebut sesuai pengalaman rohani masing-masing, dalam keadaan terjaga dan waspada.

Berdasarkan hikmah ini, ketika para sahabat, yang seluruh perasaannya terjaga dan latifahnya waspada, mengucapkan kalimat-kalimat yang diberkahi dan mencakup cahaya iman serta tasbih, mereka mengucapkannya dengan seluruh makna kalimat itu dan mengambil bagian dengan seluruh latifah mereka.

Namun, setelah ledakan dan perubahan itu, lambat laun latifah tertidur dan indra lalai terhadap hakikat-hakikat tersebut; kalimat-kalimat yang diberkahi itu, seperti buah-buahan, lambat laun kehilangan kelembutan serta kesegarannya karena tirai kebiasaan.

Seakan mengering dalam udara yang dangkal, hanya sedikit kelembapan tersisa, sehingga keadaan sebelumnya hanya dapat dikembalikan melalui usaha tafakur yang kuat.

Karena itulah keutamaan dan kedudukan yang diperoleh seorang sahabat dalam empat puluh menit hanya dapat dicapai orang lain dalam empat puluh hari, bahkan empat puluh tahun.

SEBAB KETIGA: Sebagaimana dibuktikan dalam Kalimat Kedua Belas, Kedua Puluh Empat, dan Kedua Puluh Lima, perbandingan kenabian dengan kewalian seperti matahari itu sendiri dibanding gambaran matahari yang terlihat dalam cermin-cermin.

Maka setinggi apa pun lingkup kenabian di atas lingkup kewalian, sebesar itu pula keunggulan para sahabat, pelayan lingkup kenabian dan bintang-bintang matahari itu, di atas orang-orang saleh dalam lingkup kewalian.

Bahkan jika seorang wali memperoleh warisan kenabian dan siddîqiyah, yakni kewalian agung yang merupakan kewalian para sahabat, ia tetap tidak menyamai kedudukan para sahabat yang berada di barisan pertama.

Dari berbagai segi sebab ketiga ini, kami menjelaskan tiga segi: Segi Pertama: Para sahabat tidak dapat disamai dalam ijtihad, yakni menggali hukum-hukum, yakni memahami hal-hal yang diridai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dari Kalam-Nya.

Sebab perubahan Ilahi yang besar pada zaman itu berpusat pada memahami hal-hal yang diridai Rabb serta Hukum-Hukum Ilahi.

Seluruh benak mengarah kepada menggali hukum-hukum.

Seluruh hati ingin tahu, "Apa yang diinginkan Rabb kita dari kita?" Keadaan zaman berlangsung dengan cara yang mengandung dan membuat orang merasakan keadaan itu.

Percakapan-percakapan terjadi dengan mencakup makna-makna tersebut.

Karena itulah, segala sesuatu, setiap keadaan, percakapan, pergaulan, dan kisah berlangsung dengan cara yang sedikit banyak mengajarkan seluruh makna itu, menyempurnakan kemampuan sahabat, serta menerangi pikirannya; kemampuannya dalam ijtihad dan menggali hukum siap bercahaya seperti korek api, sehingga tingkatan menggali hukum dan ijtihad yang ia peroleh dalam satu hari atau satu bulan tidak akan diperoleh seseorang pada zaman ini yang memiliki kecerdasan serta kemampuan setingkat sahabat itu dalam sepuluh tahun, bahkan seratus tahun.