Risalah Nur — Bahasa Indonesia

JENDELA KETIGA BELAS

Tiga Puluh Tiga Jendela · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

JENDELA KETIGA BELAS

Menurut rahasia

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

, setiap sesuatu menyebut Sang Khâliq-nya serta menyatakan-Nya Mahasuci dengan bahasa khususnya. Ya, tasbih seluruh yang ada melalui bahasa keadaan serta ucapan memperlihatkan Wujud satu Zat Yang Suci. Kesaksian fitrah tidak dapat ditolak. Petunjuk keadaan, terutama jika datang dari banyak sisi, tidak menimbulkan syubhat.

Pandanglah bentuk-bentuk teratur yang ada ini, yang mencakup kesaksian fitri tak terbatas, menunjukkan melalui bahasa keadaan dengan cara tak berhingga, dan memandang satu pusat seperti lingkaran-lingkaran yang saling masuk; masing-masing ialah sebuah bahasa. Wujud mereka yang seimbang masing-masing ialah bahasa kesaksian. Hidup mereka yang sempurna masing-masing ialah bahasa tasbih. Sebagaimana dibuktikan dengan pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Empat, tasbih, penghormatan serta kesaksian mereka atas satu Zat Yang Suci, yang amat jelas melalui seluruh bahasa tersebut, memperlihatkan Zat Wâjibul Wujûd, seperti sinar memperlihatkan matahari, dan menunjukkan Kesempurnaan Keilahian-Nya.

JENDELA KEEMPAT BELAS

Menurut rahasia-rahasia

ﻗُﻞْ ﻣَﻦْ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ٭ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ ٭ ﺍِﻥَّ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺣَﻔ۪ﻴﻆٌ

, setiap sesuatu, dalam segala hal serta setiap urusannya, membutuhkan satu Sang Khâliq Dzul-Jalâl.

Ya, kita memandang yang ada dalam kainat dan melihat bahwa di dalam kelemahan mutlak terdapat tampaknya Kekuatan Mutlak. Dalam ketakberdayaan mutlak terlihat hasil-hasil karya Kudrat Mutlak. Misalnya, keadaan luar biasa yang diperlihatkan benih-benih tumbuhan serta simpul-simpul kehidupan pada akarnya saat bangkit.

Dalam keadaan serbakurang serta kering secara mutlak terdapat tampaknya Kekayaan Mutlak, seperti keadaan serbakurang tanah serta pohon pada musim dingin, dan kekayaan serta kemakmuran cemerlang mereka pada musim semi.

Dalam keadaan tak bernyawa secara mutlak terlihat rembesan Kehidupan Mutlak, seperti berubahnya unsur-unsur tak bernyawa menjadi bahan-bahan hidup.

Dalam ketidaktahuan mutlak terlihat tampaknya Kesadaran yang menyeluruh, seperti gerak segala sesuatu, dari zarah hingga bintang, yang sesuai tata alam, manfaat kehidupan serta tuntutan Hikmah, dan keadaan mereka yang penuh kesadaran.

Kudrat dalam ketakberdayaan, Kekuatan dalam kelemahan, Kekayaan serta Kemakmuran dalam keadaan serbakurang, dan Kehidupan serta Kesadaran dalam keadaan tak bernyawa dan tak tahu, jelas serta tentu membuka jendela-jendela dari segala sisi menuju Wujud Niscaya serta Keesaan Zat Yang Qadîr Mutlak, Qawiyy Mutlak, Ghaniyy Mutlak, Alîm Mutlak, Hayy dan Qayyûm. Secara keseluruhan, semuanya memperlihatkan jalan bercahaya dalam skala besar.

Wahai orang lengah yang jatuh ke rawa tabiat! Jika engkau tidak meninggalkan tabiat dan mengenal Kudrat Ilahi, engkau harus menerima bahwa pada setiap sesuatu, bahkan setiap zarah, terdapat kekuatan serta kudrat tak terbatas, hikmah serta keahlian tak berhingga, bahkan daya yang dapat melihat, mengetahui dan mengelola sebagian besar benda.

JENDELA KELIMA BELAS

Menurut rahasia

ﺍَﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺣْﺴَﻦَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ ﺧَﻠَﻘَﻪُ

, memberi wujud dan mengenakan bentuk kepada setiap sesuatu sesuai kemampuan hakikatnya, dipotong dengan timbangan serta tata sempurna, disusun dengan seni indah, pada jalan paling pendek, dalam rupa paling indah, dengan cara paling ringan, dalam bentuk paling mudah digunakan—misalnya, pandanglah pakaian burung serta betapa mudah mereka setiap saat menggerakkan dan menggunakan bulunya—juga dengan cara tanpa pemborosan dan penuh Hikmah, melalui bahasa sebanyak benda-benda itu bersaksi atas Wujud Niscaya Sang Pembuat yang Hakîm, serta menunjukkan Sang Qadîr Yang Alîm Mutlak.

JENDELA KEENAM BELAS

Tata serta penataan dalam mengadakan dan mengatur makhluk-makhluk yang diperbarui dari musim ke musim pada muka bumi jelas memperlihatkan Hikmah umum. Karena sifat tidak ada tanpa pemilik sifat, tentu Hikmah umum itu memperlihatkan Sang Hakîm.

Dalam tabir Hikmah itu, hiasan-hiasan luar biasa jelas memperlihatkan Perhatian sempurna. Perhatian sempurna tentu memperlihatkan Sang Khâliq yang Karîm dan penuh Perhatian.

Dalam tabir Perhatian itu, Perlakuan lembut serta karunia yang mencakup semua jelas memperlihatkan Rahmat luas. Rahmat luas itu tentu memperlihatkan Ar-Rahmân Ar-Rahîm.

Di atas tabir Rahmat itu, pemberian makanan serta persediaan rezeki bagi seluruh makhluk hidup yang membutuhkan rezeki dengan cara yang layak dan sempurna jelas memperlihatkan Pemberian Rezeki yang mendidik dan Rububiyah yang penuh kasih sayang. Pendidikan serta Pengelolaan itu tentu memperlihatkan Ar-Razzâq Yang Mahamulia.

Ya, seluruh makhluk pada muka bumi yang dididik dengan Hikmah sempurna, dihiasi dengan Perhatian sempurna, diperlakukan dengan lembut dengan Rahmat sempurna, serta diberi makanan dengan Kasih Sayang sempurna, satu per satu bersaksi atas Wujud Niscaya Sang Pembuat yang Hakîm, Karîm, Rahîm dan Razzâq, serta menunjukkan Keesaan-Nya. Pandanglah sekaligus: Hikmah umum yang tampak dan terlihat pada segenap muka bumi serta jelas memperlihatkan Maksud dan Kehendak; Perhatian sempurna yang mencakup seluruh karya ciptaan serta memuat Hikmah; Rahmat luas yang memuat Perhatian serta Hikmah dan mencakup seluruh yang ada di bumi; dan pemberian rezeki serta makanan umum, yang memuat Rahmat, Hikmah serta Perhatian, yang mencakup seluruh makhluk hidup dengan cara amat pemurah.

Sebagaimana tujuh warna menyusun cahaya, dan cahaya yang menerangi muka bumi itu tanpa ragu memperlihatkan matahari, demikian pula Perhatian dalam Hikmah, Rahmat dalam Perhatian, serta pemberian rezeki dalam Rahmat memperlihatkan Keesaan serta Kesempurnaan Rububiyah Sang Wâjibul Wujûd yang amat Hakîm, Karîm, Rahîm dan Razzâq, dalam skala besar, pada tingkat tinggi dan dengan cara cemerlang.

Wahai pengingkar bodoh yang lengah! Dengan apa engkau dapat menjelaskan Pendidikan yang penuh Hikmah, Kemurahan, Rahmat serta pemberian rezeki di hadapan mata ini, serta keadaan yang menakjubkan, luar biasa dan penuh mukjizat ini?

Dengan kebetulan yang berkeliaran seperti dirimu? Dengan daya yang buta seperti kalbumu? Dengan tabiat yang tuli seperti kepalamu? Dengan sebab-sebab yang tak berdaya, tak bernyawa dan tak tahu seperti dirimu? Atau engkau hendak membuat kesalahan tak berhingga dengan memberi Zat Dzul-Jalâl, yang tak berhingga tingkatnya Suci, Bebas dari cacat, Bersih dan Luhur, serta tak berhingga tingkatnya Qadîr, Alîm, Samî' dan Basîr, nama "tabiat" yang tak berhingga tingkatnya tak berdaya, tak tahu, tuli, buta, mungkin ada dan serbakurang? Dengan kekuatan mana engkau dapat memadamkan hakikat yang cemerlang seperti matahari ini? Di bawah tabir kelengahan mana engkau dapat menyembunyikannya?