Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PERSOALAN KETUJUH

Tongkat Musa · Bahasa Indonesia

PERSOALAN KETUJUH

Merupakan buah satu hari Jumat dalam Penjara Denizli.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﻣَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ اِلَّا ﻛَﻠَﻤْﺢِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍَﻭْ ﻫُﻮَ ﺍَﻗْﺮَﺏُ ٭ ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ ٭ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

Para tahanan yang dapat berhubungan denganku di Penjara Denizli membaca pelajaran yang kuberikan melalui bahasa ilmu-ilmu sekolah dalam Persoalan Keenam sebelumnya, kepada siswa-siswa sekolah menengah atas yang suatu ketika berkata di Kastamonu, "Perkenalkanlah Khâliq kami kepada kami." Karena mereka memperoleh keyakinan iman yang utuh, mereka merasakan kerinduan kepada akhirat dan berkata, "Beritahukanlah pula akhirat kami sepenuhnya, agar nafsu kami serta setan-setan zaman tidak menyesatkan dan memasukkan kami ke penjara-penjara seperti ini lagi." Melalui keinginan para murid Risale-i Nur dalam Penjara Denizli serta mereka yang telah membaca Persoalan Keenam, penjelasan ringkas rukun akhirat pun menjadi perlu. Aku berkata melalui ringkasan singkat dari Risale-i Nur:

Sebagaimana dalam Persoalan Keenam, kami bertanya kepada bumi serta langit mengenai Khâliq kami, dan melalui bahasa ilmu-ilmu, keduanya memperkenalkan Khâliq kami dengan terang seperti matahari; demikian pula, kami akan bertanya mengenai akhirat kami, terutama kepada Rabb yang kami kenal itu, kemudian Nabi kami ﷺ, kemudian Al-Qur’an kami, kemudian para nabi lainnya serta kitab suci, kemudian malaikat, dan kemudian kainat.

Pada tingkatan pertama, kami bertanya kepada Allah سُبْحَانَهُ mengenai akhirat. Melalui seluruh utusan yang dikirim-Nya, Firman-Nya, Asma-Nya, serta Sifat-Nya, Dia menyatakan, "Ya, akhirat ada, dan Aku mengantar kalian ke sana." Kalimat Kesepuluh, melalui dua belas hakikat yang terang serta pasti, telah membuktikan dan menjelaskan jawaban sebagian Asma mengenai akhirat. Di sini, dengan mencukupkan diri pada penjelasan itu, kami memberikan isyarat sangat singkat.

Ya, karena tidak ada kekuasaan yang tanpa pahala bagi mereka yang menaatinya dan tanpa hukuman bagi mereka yang membangkang, tentu Kekuasaan Kekal pada tingkat Rububiyah Mutlak memiliki pahala bagi mereka yang terhubung kepada-Nya melalui iman serta menyerahkan diri kepada Firman-Nya melalui ketaatan, dan hukuman bagi mereka yang mengingkari Kekuasaan yang Bermartabat itu melalui kekufuran serta pembangkangan. Pahala dan hukuman itu akan berlangsung dengan cara yang layak bagi Rahmat serta Jamâl, Martabat serta Jalâl tersebut. Demikian Asma Sang Rabb seluruh alam serta Sang Sultan Yang Dayyân menjawab.

Karena dengan mata sendiri, kita melihat Rahmat umum, Kasih, serta Kemurahan yang meliputi permukaan bumi, sejelas matahari dan siang hari. Misalnya, setiap musim semi, Rahmat itu mengenakan pakaian serta menghiasi semua pohon dan tumbuhan berbuah seperti bidadari surga, lalu memberikan segala jenis buah ke tangan mereka dan menjulurkannya kepada kita, seakan-akan berkata, "Ayo, ambillah dan makanlah." Sebagaimana Rahmat itu membuat kita memakan madu manis yang membawa kesembuhan melalui tangan serangga berbisa, serta mengenakan sutra paling lembut melalui tangan serangga yang tidak memiliki tangan; Rahmat dan Kasih juga menyimpan untuk kita ribuan batman makanan dalam benih-benih kecil yang hanya sebesar segenggam tangan, dan menempatkannya dalam gudang-gudang kecil itu sebagai persediaan cadangan. Tentu, tidak dapat diragukan:

Rahmat serta Kasih itu tidak memusnahkan manusia beriman yang diberi makan dengan begitu lembut, yang dicintai, berterima kasih, serta menghambakan diri kepada-Nya. Dia justru membebastugaskan mereka dari tugas kehidupan dunia, agar mereka menerima Rahmat yang lebih cemerlang. Demikian Asma Rahîm serta Karîm menjawab pertanyaan kami dan berkata, ٔﺍَﻟْﺠَﻨَّﺔُ ﺣَﻖٌّٔ.

Karena dengan mata sendiri, kami melihat suatu Tangan Hikmah bekerja dalam seluruh makhluk serta pada permukaan bumi, dan segala pekerjaan berlangsung dengan ukuran-ukuran Keadilan, sedemikian rupa sehingga akal manusia tidak dapat membayangkan yang lebih tinggi darinya. Misalnya, dari hikmah-hikmah yang dilekatkan pada ribuan perlengkapan manusia, terdapat Hikmah Azali yang menulis seluruh riwayat hidup serta peristiwa tak terhitung yang berhubungan dengannya dalam daya ingat kecil sebesar benih, lalu menjadikannya perpustakaan. Sebagai bukti kecil bagi buku catatan amal yang akan dibuka untuk pengadilan manusia pada kebangkitan, melalui rahasia mengingatkan setiap waktu, Hikmah itu menyerahkannya kepada setiap manusia serta memasukkannya ke dalam saku otak. Terdapat pula Keadilan Kekal yang menempatkan anggota seluruh ciptaan dengan timbangan sangat teliti; dari mikroba sampai badak, lalat sampai burung simurg, tumbuhan berbunga sampai bunga musim semi yang membuka miliaran serta triliunan bunga, menjadikan ciptaan suatu keindahan seni, dalam kesesuaian, keseimbangan, keteraturan, dan keelokan, dengan ukuran tanpa pemborosan; memberikan hak kehidupan setiap makhluk hidup dengan keseimbangan sempurna; membuat kebaikan menghasilkan hal-hal baik dan keburukan menghasilkan hal-hal buruk; serta sejak masa Adam (as) memperlihatkan Diri-Nya dengan sangat kuat melalui tamparan terhadap kaum yang membangkang dan zalim. Tentu, tanpa keraguan:

Sebagaimana matahari tidak tanpa siang, Hikmah Azali serta Keadilan Kekal itu tidak tanpa akhirat. Dari segi mana pun, keduanya tidak mengizinkan pelanggaran hak, ketidakadilan, serta keadaan tanpa Hikmah yang dahsyat dan tanpa kelanjutan, jika orang paling zalim serta paling teraniaya pergi dengan cara yang sama dalam kematian. Demikian Asma Hakîm, Hakam, ‘Adl, serta ‘Âdil menjawab pertanyaan kami dengan pasti.

Karena pada saat seluruh makhluk hidup meminta segala kebutuhan yang tidak terjangkau tangan dan berada di luar kemampuan mereka, serta seluruh permintaan fitri mereka, melalui bahasa kemampuan fitri dan kebutuhan pokok, yang merupakan suatu doa, semuanya diberikan oleh Sang Pemberi Yang Gaib, Yang sangat Mengasihi, Mendengar, serta penuh Kasih. Dari sepuluh doa yang dipanjatkan manusia dengan kehendaknya, khususnya doa orang-orang istimewa serta para nabi, enam atau tujuh diterima di luar kebiasaan. Dari sini, dipahami dengan pasti:

Di balik tabir, Ada Sang Samî’ Yang Mujîb, Yang mendengar serta mendengarkan keluhan setiap penderita dan doa setiap yang membutuhkan. Dia memandang, melihat kebutuhan terkecil makhluk hidup yang paling kecil, mendengar keluhan paling tersembunyinya, mengasihinya, menjawab melalui Perbuatan, serta membuatnya puas.

Tentu, dalam segala keadaan, tidak tersisa kemungkinan keraguan sedikit pun: Satu doa Muhammad ﷺ untuk tetap ada di akhirat serta kebahagiaan abadi, yang mencakup doa-doa mengenai akhirat dari umat manusia, makhluk yang paling penting, merupakan doa yang paling penting serta menyeluruh,

dan berhubungan dengan seluruh kainat serta semua Asma dan Sifat Ilahi. Beliau menghimpun di belakang beliau seluruh nabi, matahari, bintang, serta panglima umat manusia, dan membuat mereka berkata, "Âmin âmin!" kepada doa beliau. Setiap hari, setiap orang taat beragama dari umat beliau, setidaknya beberapa kali bersalawat kepada beliau dan berkata, "Âmin, âmin!" kepada doa beliau. Bahkan, seluruh makhluk turut serta dalam doa itu, dengan berkata, "Ya, yâ Rabbenâ! Berilah yang beliau minta; kami juga menginginkan yang beliau minta." Di bawah seluruh syarat yang tidak dapat ditolak ini, di antara sebab tak terhitung yang mengharuskan kebangkitan, satu doa beliau saja merupakan sebab yang cukup bagi adanya surga serta diciptakannya akhirat, yang bagi Kudrat-Nya mudah seperti menciptakan musim semi. Demikian Asma Mujîb, Samî’, serta Rahîm menjawab pertanyaan kami.

Karena, sebagaimana siang dengan jelas menunjukkan matahari, pada permukaan bumi, dalam kematian serta kehidupan kembali yang menyeluruh saat pergantian musim, Ada Sang Pengelola di balik tabir. Dengan keteraturan besar, Dia menjadikan bola bumi sebesar ini semudah serta seteratur kebun, bahkan pohon, dan musim semi yang agung semudah bunga, dengan hiasannya yang seimbang. Pada halaman bumi, Dia menuliskan golongan-golongan tumbuhan dan hewan seperti tiga ratus ribu kitab, yang memperlihatkan tiga ratus ribu contoh kebangkitan serta penyebaran kembali. Sebuah Pena Kudrat menulis semuanya bersama dan saling terjalin, tanpa keliru, tanpa mencampur meskipun bercampur, tanpa tertukar meskipun serupa, tanpa salah atau cacat, dengan sempurna, teratur, serta penuh makna. Dalam Keagungan ini, pena itu bekerja dengan Rahmat tak terhingga serta Hikmah tanpa batas. Dia juga menundukkan, menghiasi, serta melengkapi kainat besar seperti rumah bagi manusia; menjadikan manusia khalifah bumi; memberinya amanat terbesar yang gunung, langit, serta bumi enggan memikulnya; memuliakannya dengan suatu tingkat pengawasan atas makhluk hidup lain; serta memberi kedudukan luar biasa dengan memuliakannya melalui Sapaan dan Percakapan Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahasuci. Bersama itu, dalam seluruh Firman samawi, Dia berjanji serta berikrar dengan pasti mengenai kebahagiaan abadi dan tetap adanya manusia di akhirat. Tentu, tanpa keraguan:

Dia akan membuka serta membuat negeri kebahagiaan bagi manusia-manusia yang dimuliakan itu, yang bagi Kudrat-Nya mudah seperti musim semi, dan akan mendatangkan kebangkitan serta kiamat. Demikian Asma Muhyî, Mumît, Hayy, Qayyûm, Qadîr, serta ‘Alîm menjawab pertanyaan kami kepada Khâliq kami.

Ya, ada Kudrat Yang setiap musim semi menghidupkan kembali seluruh pohon serta akar rumput sebagaimana semula, dan menciptakan contoh kebangkitan serta penyebaran kembali tiga ratus ribu jenis tumbuhan serta hewan. Jika masa seribu tahun yang dilalui umat masing-masing Muhammad ﷺ dan Musa aleyhimessalâtü vesselâm dihadirkan dalam khayal, disandingkan, lalu dilihat, akan tampak bahwa Kudrat itu menunjukkan seribu contoh serta seribu dalil kebangkitan dan penyebaran kembali dalam dua ribu musim semi. (Catatan kaki: Setiap musim semi terdahulu telah mengalami kiamatnya serta mati, dan musim semi di hadapannya merupakan kebangkitannya.) Menganggap kebangkitan jasmani jauh dari jangkauan Kudrat seperti ini merupakan kebutaan serta sikap tanpa akal pada seribu tingkat.

Karena seratus dua puluh empat ribu nabi, tokoh-tokoh paling terkenal umat manusia, bersama-sama menyatakan kebahagiaan abadi serta tetap ada di akhirat, berdasarkan ribuan Janji dan Ikrar Allah سُبْحَانَهُ, dan membuktikan kebenaran mereka melalui mukjizat; para wali yang tak terhitung pun membubuhkan tanda tangan pada hakikat yang sama melalui penglihatan batin dan pengalaman rohani. Tentu, hakikat itu menjadi terang seperti matahari, dan yang meragukannya kehilangan akal.

Ya, sebagaimana penilaian serta pikiran satu atau dua ahli dalam suatu ilmu atau seni mengenai bidang mereka menggugurkan pendapat berlawanan dari seribu orang yang tidak ahli dalam bidang itu, meskipun ahli serta berilmu dalam bidang lain; demikian pula, dalam suatu persoalan, misalnya membuktikan hilal Ramadan pada hari yang diragukan, atau menyatakan, "Di permukaan bumi terdapat kebun kelapa yang buahnya menyerupai kemasan susu yang diawetkan," dua orang yang membuktikan mengalahkan seribu pengingkar serta penyangkal, dan memenangkan perkara. Sebab, yang membuktikan cukup menunjukkan satu kelapa atau tempatnya untuk dengan mudah memenangkan perkara.

Yang menyangkal serta mengingkarinya baru dapat membuktikan perkaranya dengan menjelajahi dan memeriksa seluruh permukaan bumi, lalu memperlihatkan bahwa tidak ada di tempat mana pun. Demikian pula, yang memberitakan serta membuktikan surga dan negeri kebahagiaan cukup menunjukkan satu jejak, bayangan melalui penglihatan batin seperti dalam film, atau satu pancarannya, untuk memenangkan perkara. Sebaliknya, yang menyangkal serta mengingkarinya baru dapat membuktikan penyangkalan dan memenangkan perkara dengan melihat serta memperlihatkan seluruh kainat serta waktu dari azali sampai abadi.

Berdasarkan rahasia penting ini, para ahli yang meneliti dengan cermat telah bersepakat dan menerima suatu kaidah mendasar: Penyangkalan serta pengingkaran yang tidak mengarah kepada tempat khusus, tetapi kepada seluruh kainat seperti hakikat iman, tidak dapat dibuktikan, dengan syarat yang disangkal tidak mustahil pada hakikatnya.

Berdasarkan hakikat pasti ini, dalam persoalan iman seperti itu, pendapat berlawanan ribuan filsuf seharusnya tidak menimbulkan keraguan, bahkan bisikan waswas, terhadap satu pemberi berita yang benar. Jika demikian, hendaklah dipertimbangkan betapa besar kebodohan serta hilangnya akal, jika dalam rukun-rukun iman yang disepakati seratus dua puluh ribu ahli yang membuktikan dan pemberi berita yang benar, serta para ahli hakikat dan orang-orang yang meneliti dengan cermat yang tak terhitung dan tak terbatas, seseorang jatuh ke dalam keraguan karena pengingkaran beberapa filsuf yang akalnya hanya menjangkau yang terlihat oleh matanya, tanpa hati, menjauh dari maknawi, serta menjadi buta.

Karena dengan mata sendiri, sejelas siang, kami menyaksikan dalam diri serta sekeliling kami Rahmat umum, Hikmah yang meliputi semuanya, serta Pertolongan yang tetap; dan melihat jejak serta manifestasi Kekuasaan Rububiyah yang dahsyat, Keadilan Tinggi yang teliti, serta Pelaksanaan Jalâl yang Bermartabat. Bahkan, terdapat Hikmah yang melekatkan hikmah-hikmah pada sebuah pohon sebanyak buah serta bunganya; Rahmat yang menghubungkan anugerah serta nikmat kepada setiap manusia sebanyak perlengkapan, perasaan, dan dayanya; serta Keadilan yang Bermartabat dan penuh Pertolongan, Yang menampar kaum pembangkang, seperti kaum Nuh, Hud, dan Saleh aleyhimüsselâm, kaum Ad serta Tsamud, dan Fir’aun, serta menjaga hak makhluk hidup yang paling kecil. Ayat

ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﺗَﻘُﻮﻡَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ وَالْاَرْضُ ﺑِﺎَﻣْﺮِﻩ۪ ﺛُﻢَّ ﺍِﺫَﺍ ﺩَﻋَﺎﻛُﻢْ ﺩَﻋْﻮَﺓً ﻣِﻦَ الْاَرْضِ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﺨْﺮُﺟُﻮﻥَ

mengatakan dengan ungkapan ringkas yang agung:

Sebagaimana prajurit patuh yang berbaring dan tinggal dalam dua barak datang mengangkat senjata serta menjalankan tugas, melalui panggilan seorang panglima dan bunyi terompet; demikian pula, dalam perumpamaan dua barak serta kepatuhannya kepada perintah ini, langit yang besar dan bola bumi seperti dua barak patuh bagi prajurit Sang Sultan Azali. Ketika mereka yang berbaring dalam kematian di barak-barak itu dipanggil melalui terompet Israfil aleyhisselâm, mereka segera mengenakan pakaian tubuh serta melompat keluar. Pada setiap musim semi, isi barak bumi memperlihatkan keadaan yang sama melalui terompet malaikat guruh, sehingga membuktikan dan memperlihatkan hal tersebut. Melalui ini, dipahami Keagungan tak terbatas Kekuasaan Rububiyah. Tentu, tentu, dalam segala keadaan, tanpa keraguan:

Berdasarkan bukti dalam Kalimat Kesepuluh, Rahmat, Hikmah, Pertolongan, Keadilan, serta Kekuasaan Kekal itu menuntut negeri akhirat dan lingkup kebangkitan serta hidupnya kembali makhluk dengan sangat pasti. Jika keduanya tidak dibuka, Keindahan Rahmat yang tak terbatas itu akan

berubah menjadi sikap tanpa kasih yang buruk tanpa batas; Kesempurnaan Hikmah yang tak terhingga berubah menjadi kesia-siaan penuh kekurangan serta pemborosan tanpa manfaat yang tak terhingga; Pertolongan yang sangat manis berubah menjadi pengkhianatan yang sangat pahit; Keadilan yang sangat seimbang serta benar berubah menjadi kezaliman yang sangat keras; dan Kekuasaan Kekal yang sangat megah serta kuat jatuh. Jika kebangkitan tidak datang, seluruh Kemegahan-Nya akan hilang serta Kesempurnaan Rububiyah akan ternoda oleh kelemahan dan kekurangan. Hal ini tidak mungkin dari segi mana pun. Akal mana pun tidak memberinya kemungkinan; ia sekaligus berada dalam seratus hal mustahil, batil dan mustahil di luar lingkup yang mungkin.

Sebab, setiap makhluk berkesadaran memahami betapa zalimnya sikap tanpa kasih jika manusia dimusnahkan selamanya, padahal ia diberi makan dengan lembut serta dimuliakan, dan melalui perlengkapan seperti akal serta hati, diberi rasa rindu kepada kebahagiaan abadi dan tetap ada di akhirat. Manusia juga memahami betapa berlawanan dengan Hikmah jika, meskipun hanya pada otaknya dilekatkan ratusan hikmah serta manfaat, seluruh perlengkapan dan kemampuan yang memiliki ribuan manfaat itu diboroskan sepenuhnya melalui kematian tanpa kelanjutan, tanpa kehidupan kembali, tanpa manfaat, hasil, serta Hikmah. Dengan tidak memenuhi ribuan Janji serta Ikrar, memperlihatkan kelemahan dan ketidaktahuan-Nya, hâşâ, betapa berlawanan dengan Kemegahan Kekuasaan serta Kesempurnaan Rububiyah itu! Bandingkan pula Pertolongan dan Keadilan menurut hal-hal ini.

Asma Rahmân, Hakîm, ‘Adl, Karîm, serta Hâkim menjawab melalui hakikat tersebut pertanyaan mengenai akhirat yang kami ajukan kepada Khâliq kami. Tanpa keraguan, semuanya membuktikan akhirat seterang matahari.

Karena dengan mata sendiri, kami melihat Penjagaan yang meliputi semuanya serta sangat agung berlaku: Penjagaan itu mencatat serta membuat ditulis banyak bentuk setiap makhluk hidup dan setiap peristiwa, buku tugas fitri yang dilakukannya, serta lembaran amal mengenai tasbihnya kepada Asma Ilahi melalui bahasa keadaan. Semua itu dicatat dalam lembaran-lembaran alam rupa, benih, serta biji kecil mereka; daya ingat yang merupakan contoh kecil Lauh Mahfuz, khususnya daya ingat dalam otak manusia, perpustakaannya yang sangat besar sekaligus sangat kecil; serta cermin-cermin pantulan jasmani dan maknawi lainnya. Semuanya ditetapkan serta ditempatkan di bawah Penjagaan. Kemudian, ketika musimnya datang, Penjagaan itu juga memperlihatkan seluruh tulisan maknawi itu secara jasmani kepada mata kita. Dengan kekuatan jutaan contoh, dalil, serta contoh nyata, setiap musim semi, bunga Kudrat, melalui miliaran bahasa dalam bunganya yang terbesar, menyatakan kepada kainat hakikat kebangkitan yang paling menakjubkan dalam ayat

ﻭَ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﻧُﺸِﺮَﺕْ

.

Ia membuktikan dengan sangat kuat bahwa seluruh makhluk hidup serta segala sesuatu, terutama umat manusia, tidak diciptakan untuk menjadi fana, jatuh ke dalam tiada, serta binasa dalam tiada; dan makhluk hidup, terutama umat manusia, tidak diciptakan untuk dimusnahkan. Mereka diciptakan untuk maju hingga tetap ada selamanya, dimurnikan agar terus berlangsung, serta melalui kemampuan mereka memasuki tugas yang kekal.

Ya, setiap musim semi, kami menyaksikan kebangkitan tumbuhan tak terhitung yang wafat dalam kiamat musim gugur. Dalam kebangkitan musim semi itu, setiap pohon, akar, benih, serta biji membaca ayat

ﻭَ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﻧُﺸِﺮَﺕْ

. Dengan bahasanya sendiri, ia menafsirkan satu makna serta satu contoh ayat itu melalui contoh tugas yang dilakukannya pada tahun-tahun lalu, dan bersaksi atas Penjagaan agung tersebut. Ia memperlihatkan empat hakikat agung dalam ayat

ﻫُﻮَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ ﻭَﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ

pada setiap hal, lalu mengajarkan kepada kami Penjagaan pada tingkat tertinggi serta kebangkitan dengan kemudahan dan kepastian musim semi.

Ya, manifestasi empat Asma ini berlangsung dari lingkup juz'i yang paling kecil sampai yang paling menyeluruh. Misalnya, benih yang menjadi asal pohon ini, dengan menjadi tempat Manifestasi Asma اَلْاَوَّلُ, merupakan kotak kecil yang mencakup rancangan pohon yang sangat sempurna, perlengkapan penciptaannya tanpa kekurangan, serta seluruh syarat agar pohon itu terbentuk. Ia membuktikan Keagungan Penjagaan.

Buahnya yang menjadi tempat Manifestasi Asma وَالْاٰخِرُ, melalui benih-benihnya, merupakan peti kecil yang berisi indeks seluruh tugas fitri yang dilakukan pohon itu, daftar amalnya, serta kaidah bagi kehidupan pohon itu yang kedua. Ia bersaksi atas Penjagaan pada tingkat tertinggi.

Bentuk jasmani pohon itu, yang menjadi tempat Manifestasi Asma ﻭَﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ, merupakan pakaian yang begitu serasi, berseni, serta berhias. Ia dihiasi ukiran dan hiasan yang berbeda serta tanda-tanda berlapis emas, seakan-akan pakaian bidadari dengan tujuh puluh warna. Di dalam Penjagaan, ia memperlihatkan kepada mata Keagungan Kudrat, Kesempurnaan Hikmah, serta Keindahan Rahmat.

Mesin di dalam pohon itu, cermin Asma ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ, merupakan pabrik, tempat kerja, laboratorium kimia, serta kuali persediaan pangan yang begitu teratur, sempurna, bermukjizat, dan seimbang, yang tidak membiarkan satu cabang, buah, atau daun pun tanpa makanan. Di dalam Penjagaan, ia membuktikan Kesempurnaan Kudrat serta Keadilan, dan Keindahan Rahmat serta Hikmah, seterang matahari.

Demikian pula, dari segi musim-musim tahunannya, bola bumi merupakan pohon. Melalui manifestasi Asma Awwal, seluruh biji serta benih yang dipercayakan kepada Penjagaan pada musim gugur merupakan kumpulan kecil Perintah Ilahi mengenai susunan pohon permukaan bumi yang mengenakan selimut musim semi, dengan miliaran cabang dan ranting yang berbuah serta berbunga. Semuanya merupakan daftar kaidah yang datang dari Takdir, lembaran amal kecil, serta buku khidmah dari tugas yang dilakukan musim panas lalu. Dengan jelas, hal ini memperlihatkan bahwa Sang Hafîzh Dzul-Jalâl wal-Ikrâm bekerja dengan Kudrat, Keadilan, Hikmah, serta Rahmat tak terbatas.

Akhir pohon tahunan bumi itu, pada musim gugur kedua, menempatkan seluruh tugas yang dilakukannya, semua tasbih fitri kepada Asma Ilahi, serta seluruh lembaran amal yang dapat dibuka pada kebangkitan musim semi berikutnya, dalam kotak-kotak kecil dan seukuran zarah. Ia menyerahkannya kepada Tangan Hikmah Sang Hafîzh Dzul-Jalâl, dan membaca Asma ﻫُﻮَ الْاٰخِرُ dengan bahasa tak terhitung pada wajah kainat.

Sisi lahir pohon ini membuka tiga ratus ribu bunga yang menyeluruh serta beraneka ragam, yang memperlihatkan tiga ratus ribu contoh dan tanda kebangkitan. Dengan membentangkan meja-meja hidangan Rahmaniyah, Razzaqiyah, Rahimiyah, serta Karimiyah yang tak terhitung, ia memberi perjamuan kepada makhluk hidup. Melalui bahasa sebanyak buah, bunga, serta makanannya, ia menyebut, memuji, dan menyanjung Asma ﻫُﻮَ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ; memperlihatkan hakikat

ﻭَ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺼُّﺤُﻒُ ﻧُﺸِﺮَﺕْ

sejelas siang.

Sisi batin pohon megah ini merupakan kuali serta tempat kerja yang mengoperasikan mesin-mesin teratur dan pabrik-pabrik seimbang yang tak terhitung dengan ketelitian serta keteraturan sempurna. Ia memasak seribu batman makanan dari satu dirham, lalu menyampaikannya kepada yang lapar. Ia bekerja dengan keseimbangan serta ketelitian sedemikian rupa, sehingga tidak menyisakan tempat bagi campur tangan kebetulan sebesar satu zarah pun. Seperti sebagian malaikat yang bertasbih melalui sisi batin bumi dengan seratus ribu bahasa, ia menyatakan serta membuktikan Asma ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ dengan seratus ribu cara.

Bumi merupakan pohon dari segi kehidupan tahunannya; melalui keempat Asma itu, tampak Penjagaan yang dijadikan kunci bagi pintu kebangkitan. Demikian pula, dari segi kehidupan dunia sepanjang zaman, ia juga merupakan pohon teratur yang buah-buahnya dikirim ke pasar akhirat. Ia menjadi tempat Manifestasi serta cermin empat Asma itu, dan membuka jalan menuju akhirat yang luasnya tidak dapat diliputi atau diungkapkan akal kami. Kami hanya mengatakan:

Sebagaimana jarum-jarum jam mingguan yang menghitung detik, menit, jam, serta hari saling menyerupai dan membuktikan yang lain; orang yang melihat gerak detiknya harus membenarkan gerak roda-roda lainnya.

Demikian pula, dunia ini merupakan jam terbesar Sang Khâliq Dzul-Jalâl dari langit serta bumi. Hari-hari yang menghitung detiknya, tahun-tahun yang menghitung menitnya, abad-abad yang menunjukkan jamnya, serta zaman-zaman yang menyatakan harinya, saling menyerupai dan membuktikan yang lain. Dengan tanda-tanda tak terhitung, semuanya memberitakan bahwa, sepasti pagi setelah malam ini dan musim semi setelah musim dingin ini, musim dingin gelap dunia fana akan disusul musim semi yang kekal serta pagi yang abadi. Melalui hakikat tersebut, Asma Hafîzh serta Asma

ﻫُﻮَ الْاَوَّلُ وَالْاٰخِرُ ﻭَﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮُ ﻭَﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻦُ

menjawab persoalan kebangkitan yang kami tanyakan kepada Khâliq kami.

Karena dengan mata sendiri, kami melihat, dan dengan akal, kami memahami: