Salah satunya: Penutup Para Nabi ﷺ, ayat terbesar dari kitab besar ini.
Yang lain ialah Al-Qur'an Yang Agung.
Sekarang kita harus mengenal dan mendengarkan Penutup Para Nabi ﷺ, hujah kedua yang berbicara ini.
Ya, pandanglah pribadi maknawi hujah itu: Permukaan bumi masjid, Makkah mihrab, Madinah mimbar... Nabi kita ﷺ, hujah yang terang itu, imam seluruh ahli iman, pengkhutbah seluruh manusia, pemimpin seluruh nabi, pemuka seluruh wali, serta pemimpin zikir dari lingkaran yang tersusun dari semua nabi dan wali. Ia pohon bercahaya dengan seluruh nabi sebagai akar hidup dan seluruh wali sebagai buah segar; setiap pengakuannya dibenarkan serta ditandatangani seluruh nabi yang bersandar pada mukjizat dan seluruh wali yang mempercayai karamahnya.
Sebab, ia berkata dan mengaku
لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
. Para pezikir bercahaya yang berbaris pada sisi kanan serta kiri, yakni masa lalu dan masa depan, mengulang kalimat yang sama dan melalui ijmak secara maknawi berkata
ٔﺻَﺪَﻗْﺖَ ﻭَ ﺑِﺎْﻟﺤَﻖِّ ﻧَﻄَﻘْﺖَٔ
. Prasangka mana yang berani mencampuri pengakuan yang diteguhkan dengan tanda tangan tak terhitung seperti ini? Tetesan Kedua: Sebagaimana hujah tauhid yang bercahaya itu diteguhkan melalui ijmak serta tawatur kedua sayap, demikian pula kitab samawi seperti Taurat dan Injil {(Catatan kaki):
Husain Al-Jisri mengambil seratus empat belas isyarat dari kitab-kitab itu dalam "Risale-i Hamîdiye". Jika setelah perubahan yang merusak ditemukan sebanyak ini, tentu sebelumnya banyak pernyataan terang.} meneguhkan serta membenarkannya melalui ratusan isyarat; ribuan tanda irhasat, kabar gembira hatif yang terkenal, kesaksian para peramal yang mutawatir, petunjuk ribuan mukjizat seperti terbelahnya bulan, serta syariat yang sesuai haq pun demikian. Akhlak terpuji yang sangat sempurna dalam dirinya, watak berharga dengan keindahan tertinggi dalam tugasnya, serta takwa, ubudiyah, kesungguhan, dan keteguhan luar biasa yang menunjukkan amanah sempurna, kekuatan iman, ketenteraman amat besar, serta kepercayaan tertinggi, memperlihatkan seperti matahari bahwa ia benar pada derajat tertinggi dalam pengakuannya. Tetesan Ketiga: Jika menghendaki, marilah pergi ke Zaman Kebahagiaan, ke Jazirah Arab. Walau melalui khayal, kita melihat dan mengunjunginya ketika menjalankan tugas. Lihatlah, kita melihat tokoh yang istimewa melalui keindahan perilaku serta rupanya; di tangannya kitab yang memperlihatkan mukjizat, di lisannya sapaan yang mengenal hakikat. Kepada seluruh anak Adam, bahkan jin, manusia, serta malaikat, bahkan seluruh makhluk, ia menyampaikan khutbah azali. Ia menyelesaikan serta menjelaskan teka-teki aneh, rahasia penciptaan alam, dan membuka serta menyingkap rahasia rumit kainat.
Terhadap tiga pertanyaan besar yang sulit dan dahsyat, yang ditanyakan kepada seluruh makhluk serta menyibukkan seluruh akal dalam ketakjuban, "Apa dirimu? Dari mana engkau datang? Ke mana engkau pergi?", ia memberikan jawaban yang meyakinkan dan diterima. Tetesan Keempat: Lihatlah! Ia menyebarkan cahaya hakikat demikian, sehingga jika memandang kainat di luar lingkaran hakikat bimbingannya yang bercahaya, tentu engkau melihat rupa kainat sebagai rumah duka umum; makhluk saling asing, bahkan bermusuhan; benda tak bernyawa sebagai jenazah mengerikan; dan semua makhluk hidup sebagai anak yatim yang menangis karena tamparan lenyap serta perpisahan.
Sekarang lihatlah, melalui cahaya yang disebarkannya rumah duka umum itu berubah menjadi tempat zikir dalam semangat serta tarikan ruhani. Makhluk asing dan bermusuhan berubah menjadi sahabat serta saudara. Benda tak bernyawa yang mati dan diam mengambil kedudukan sebagai petugas ramah serta pelayan yang ditundukkan; anak-anak yatim tanpa siapa pun yang menangis dan mengeluh berubah menjadi pezikir dalam tasbih atau orang yang bersyukur karena dibebaskan dari tugas. Tetesan Kelima: Melalui cahaya itu, gerakan, keragaman, pergantian, dan perubahan dalam kainat keluar dari tanpa makna, kesia-siaan, serta permainan kebetulan, lalu naik menjadi surat-surat Rabb, halaman ayat-ayat penciptaan, cermin Asma Allah سُبْحَانَهُ; alam pun menjadi kitab Hikmah Allah سُبْحَانَهُ Yang Shamad.
Ketika kelemahan serta tidak berdayanya manusia yang tanpa batas, fakir serta kebutuhannya yang menjatuhkannya ke bawah semua hewan, dan akalnya yang menjadi sarana membawa kesedihan, kepedihan, serta duka, yang membuatnya lebih malang daripada semua hewan, diterangi cahaya itu, manusia naik di atas seluruh hewan dan makhluk. Dengan keadaan tidak berdaya dan fakir yang diterangi itu, serta akal yang juga diterangi, melalui permohonan ia menjadi sultan yang dikasihi; melalui rintihan, khalifah bumi yang diperlakukan penuh kasih.
Jadi, tanpa cahaya itu, kainat, manusia, bahkan segala sesuatu turun menjadi bukan apa-apa. Ya, tentu dalam kainat seindah ini diperlukan tokoh seperti itu. Jika tidak, kainat dan langit seharusnya tidak ada. Tetesan Keenam: Karena tokoh itu pemberita serta pembawa kabar gembira kebahagiaan abadi, penyingkap serta pengumum Rahmat tanpa batas, penyeru serta pengamat keindahan Kerajaan Rububiyah, dan penyingkap serta penunjuk Khazanah Asma Allah سُبْحَانَهُ, jika memandangnya demikian, yakni dari segi ubudiyahnya, engkau melihatnya sebagai contoh kecintaan, gambaran rahmat, kehormatan manusia, dan buah paling bercahaya pohon penciptaan. Jika memandangnya demikian, yakni dari segi kerasulannya, engkau melihat hujah Allah سُبْحَانَهُ, pelita hakikat, matahari hidayah, dan sarana kebahagiaan.
Lihatlah bagaimana cahayanya seperti kilat yang menyambar meliputi timur hingga barat; separuh bumi dan seperlima manusia menerima hadiah hidayahnya serta menjadikannya penjaga jiwa. Apa yang terjadi pada nafsu dan setan kita sehingga tidak menerima
لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
, dasar seluruh pengakuan tokoh seperti ini, bersama semua tingkatannya? Tetesan Ketujuh: Lihatlah betapa cepat di jazirah luas ini ia sekaligus mencabut serta menghapus kebiasaan dan akhlak buruk yang liar dari berbagai kaum yang liar, fanatik terhadap kebiasaannya, serta keras kepala; ia melengkapi mereka dengan seluruh akhlak
mulia dan menjadikan mereka pengajar seluruh alam serta guru bangsa-bangsa beradab. Lihatlah! Bukan penguasaan lahiriah, melainkan ia menaklukkan serta menundukkan akal, ruh, hati, dan nafsu. Ia menjadi kekasih hati, pengajar akal, pendidik nafsu, serta sultan ruh. Tetesan Kedelapan: Engkau mengetahui bahwa penguasa besar baru dapat selamanya menghapus kebiasaan kecil seperti rokok pada kaum kecil dengan usaha besar. Namun, lihatlah tokoh ini: Banyak kebiasaan besar pada kaum besar yang keras kepala serta fanatik dihapusnya dengan kekuatan kecil secara lahiriah, sedikit usaha, dan dalam waktu singkat. Sebagai gantinya ia menempatkan serta meneguhkan watak luhur yang tetap sampai derajat bercampur dengan darah dan nadi mereka. Ia menjalankan banyak perbuatan luar biasa lainnya seperti ini.
Kini, kepada mereka yang tidak melihat Zaman Kebahagiaan itu, kami tunjukkan Jazirah Arab tepat di depan mata mereka. Silakan mereka membawa ratusan filsuf ke sana dan bekerja selama seratus tahun. Mampukah mereka melakukan seperseratus dari apa yang dilakukan tokoh itu dalam satu tahun pada keadaan zaman tersebut? Tetesan Kesembilan: Engkau juga mengetahui bahwa seorang kecil dengan martabat kecil, di tengah kelompok kecil, dalam persoalan kecil serta perkara yang diperdebatkan, tidak dapat mengucapkan kebohongan kecil tetapi memalukan di hadapan musuh-musuhnya dengan tanpa malu dan tanpa gentar, tanpa menunjukkan rasa terguncang serta gelisah yang membuat tipu dayanya terasa. Sekarang pandanglah tokoh ini: Dalam tugas amat besar, sebagai pemangku tugas amat besar, dengan martabat amat besar, dalam keadaan yang menuntut kepercayaan amat besar, di tengah kelompok amat besar, menghadapi permusuhan amat besar, mengenai persoalan amat besar, dalam perkara amat besar, ia berbicara dengan kebebasan amat besar, tanpa gentar, tanpa ragu, tanpa malu, tanpa gelisah, dengan hati yang tulus dan bersih, dengan kesungguhan besar, serta dengan cara tegas dan luhur yang menyentuh saraf musuh-musuhnya. Adakah sesuatu yang tidak benar dalam perkataannya? Mungkinkah tipu daya bercampur di dalamnya? Sekali-kali tidak!
ﺍِﻥْ ﻫُﻮَ اِلَّا ﻭَﺣْﻰٌ ﻳُﻮﺣٰﻰ
Ya, kebenaran tidak menipu; orang yang melihat hakikat tidak tertipu. Jalan benarnya tidak memerlukan tipu daya. Mana mungkin khayalan tampak sebagai hakikat di mata orang yang melihat hakikat, lalu menipunya? Tetesan Kesepuluh: Lihatlah, betapa ia menunjukkan hakikat yang membangkitkan rasa ingin tahu, memikat, sangat diperlukan, serta dahsyat; dan betapa ia meneguhkan persoalan-persoalan itu dengan dalil.
Engkau mengetahui bahwa yang paling menggerakkan manusia ialah rasa ingin tahu. Bahkan, jika dikatakan kepadamu, "Seandainya engkau memberikan separuh umur dan separuh hartamu, seseorang dari Bulan atau Jupiter
akan datang dan memberitahumu segala keadaan di Bulan serta Jupiter: apa yang ada dan yang tidak ada di sana. Ia juga akan memberitahumu masa depan dan apa yang akan menimpamu dengan benar." Jika engkau mempunyai rasa ingin tahu, engkau akan memberikannya.
Padahal, tokoh ini menyampaikan kabar tentang Sang Sultan yang dalam wilayah-Nya bulan berputar seperti seekor lalat mengelilingi seekor ngengat. Ngengat, yakni bumi itu, terbang mengelilingi sebuah lampu. Adapun lampu, yakni matahari itu, merupakan salah satu lampu-Nya di antara ribuan lampu dalam sebuah rumah tamu, salah satu dari ribuan kediaman Sang Sultan tersebut.
Ia juga berbicara dengan benar tentang alam yang demikian menakjubkan dan memberitakan perubahan besar yang, seandainya ribuan bola bumi menjadi bom lalu meledak, ledakan itu tidak akan semenakjubkan perubahan tersebut. Lihatlah, dengarkan dari lisannya surah-surah seperti
ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻛُﻮِّﺭَﺕْ ٭ ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﻔَﻄَﺮَﺕْ ٭ ﺍَﻟْﻘَﺎﺭِﻋَﺔُ
.
Ia juga memberitakan dengan benar suatu masa depan yang dibandingkan dengannya, masa depan dunia ini hanya seperti setetes fatamorgana. Ia juga dengan sangat sungguh-sungguh memberitakan kebahagiaan yang dibandingkan dengannya, seluruh kebahagiaan dunia seperti kilat yang segera lenyap dibandingkan matahari yang terus bersinar selamanya. Tetesan Kesebelas: Di balik tabir lahiriah kainat yang demikian menakjubkan dan penuh teka-teki ini, tentu dan pasti keajaiban-keajaiban seperti itu menanti kita. Untuk memberitakan keajaiban tersebut diperlukan tokoh yang demikian luar biasa, istimewa, dan menampilkan mukjizat. Jalan hidup tokoh ini juga menunjukkan bahwa ia telah melihat, sedang melihat, dan mengatakan apa yang dilihatnya. Ia juga mengajarkan kepada kita dengan sangat kukuh apa yang Allah سُبْحَانَهُ, Sesembahan langit serta bumi yang memelihara kita dengan nikmat-Nya, kehendaki dari kita dan apa yang diridai-Nya.
Seharusnya kita meninggalkan segala sesuatu, berlari menemui tokoh yang mengajarkan banyak hakikat lain seperti itu—yang membangkitkan rasa ingin tahu dan sangat diperlukan—serta mendengarkannya. Namun, apakah yang menimpa kebanyakan manusia sehingga mereka menjadi tuli dan buta, bahkan kehilangan akal, sampai tidak melihat kebenaran ini, tidak mendengar dan tidak memahami hakikat ini? Tetesan Kedua Belas: Sebagaimana tokoh ini, dengan kadar benarnya sendiri, merupakan hujah yang berbicara dan dalil yang benar bagi Keesaan Sang Khâliq segala yang ada, ia juga merupakan hujah yang pasti serta dalil yang bersinar bagi kebangkitan dan kebahagiaan abadi. Bahkan, sebagaimana petunjuknya menjadi sebab terwujudnya kebahagiaan abadi dan sarana untuk mencapainya, doa serta permohonannya juga menjadi sebab kebahagiaan itu ada dan sarana agar ia diciptakan. Sesuai dengan bagian ini, kami mengulang rahasia yang telah dibahas dalam persoalan kebangkitan:
Lihatlah, tokoh itu berdoa dalam salat yang begitu agung sehingga seakan-akan jazirah ini, bahkan bumi, ikut bersalat serta memohon bersama salatnya yang agung. Lihatlah, ia juga memohon di tengah jamaah yang begitu besar sehingga seakan-akan seluruh manusia sempurna yang bercahaya di antara keturunan Adam, sejak masa Adam sampai masa kita hingga kiamat, mengikuti dan bermakmum kepadanya lalu mengucapkan âmin bagi doanya.
Lihatlah, ia juga berdoa bagi suatu kebutuhan bersama sehingga penghuni bumi, bahkan penghuni langit, bahkan segala yang ada turut menyertai permohonannya dengan berkata, "Ya, yâ Rabbenâ, berikanlah; kami juga menginginkannya." Ia juga memohon dengan begitu merasa membutuhkan, begitu sedih, penuh cinta, penuh rindu, serta begitu merendah sehingga membuat seluruh kainat menangis dan turut menyertai doanya.
Lihatlah, ia juga berdoa demi suatu maksud dan tujuan yang mengangkat manusia serta alam, bahkan seluruh makhluk, dari derajat paling rendah, dari jatuh, dari tidak berharga dan tidak bermanfaat menuju derajat paling tinggi; yakni menjadi berharga, kekal, dan menjalankan tugas luhur.
Lihatlah, ia juga meminta dan memohon dengan seruan minta tolong yang begitu tinggi serta permohonan belas kasih yang begitu manis sehingga seakan-akan ia memperdengarkannya kepada segala yang ada, langit, serta Arasy, membuat mereka terhanyut oleh rasa ruhani yang mendalam, lalu membuat mereka mengucapkan "Âmin Allahümme âmin" untuk doanya.
Lihatlah, ia juga meminta kebutuhannya kepada Sang Qadîr yang Semî' lagi Karîm, kepada Sang Alîm yang Basîr lagi Rahîm. Sebagaimana nyata disaksikan, Dia melihat dan mendengar kebutuhan serta permohonan paling tersembunyi dari makhluk hidup paling tersembunyi, mengabulkannya, serta mengasihinya. Sebab, Dia memberikan apa yang dimintanya, sekalipun melalui bahasa keadaan. Dia memberikannya dengan begitu penuh hikmah, melihat segalanya, dan penuh kasih sehingga tidak menyisakan keraguan bahwa pemeliharaan serta pengurusan ini hanya milik Dia Yang Semî' lagi Basîr, Karîm lagi Rahîm. Tetesan Ketiga Belas: Apakah yang diminta oleh tokoh mulia umat manusia, tokoh tiada banding di seluruh alam dan zaman, serta yang memang layak menjadi kebanggaan kainat ini? Ia menghimpun seluruh manusia utama di belakangnya, berdiri di atas bumi, menghadap Arasy Yang Agung, mengangkat tangan, dan berdoa. Lihatlah, dengarkan:
Ia meminta kebahagiaan abadi, meminta hidup kekal, meminta perjumpaan dengan Allah سُبْحَانَهُ, meminta surga. Ia juga memintanya bersama seluruh nama Ilahi yang suci, yang menunjukkan pengaruh serta keindahannya dalam cermin segala yang ada.
Bahkan, seandainya tidak ada sebab-sebab tak terhitung yang mengharuskan apa yang dimintanya itu, seperti rahmat, inayah, hikmah, serta keadilan, doa tokoh ini saja akan menjadi sebab dibangunnya surga, yang ringan bagi Kudrat-Nya seperti menciptakan musim semi kita. Ya, sebagaimana kerasulannya menjadi sebab dibukanya negeri ujian ini,
ubudiyahnya juga menjadi sebab dibukanya negeri yang lain itu.
Adakah tatanan unggul yang disaksikan ini, keindahan karya yang sempurna dalam Rahmat ini, serta Keindahan Allah سُبْحَانَهُ dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu yang tiada banding—yang membuat orang berakal dan mengkaji dengan saksama mengucapkan
ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻰ الْاِمْكَانِ ﺍَﺑْﺪَﻉُ ﻣِﻤَّﺎ ﻛَﺎﻥَ
—akan membenarkan keburukan, sikap tanpa belas kasih, serta keadaan tanpa tatanan seperti ini: Dia mendengar dengan penuh perhatian dan memenuhi keinginan serta suara yang paling kecil dan paling remeh, tetapi menganggap remeh keinginan yang paling penting dan paling diperlukan, lalu tidak mendengarnya, tidak memahaminya, dan tidak memenuhinya? Hâşâ ve kellâ, seratus ribu kali hâşâ! Keindahan seperti ini tidak membenarkan keburukan seperti itu dan tidak menjadi buruk.
Wahai kawanku dalam khayalan! Untuk sekarang sudah cukup; kita harus kembali. Kalau tidak, sekalipun kita tinggal seratus tahun pada zaman dan jazirah ini, tetap saja kita tidak dapat memahami sepenuhnya seperseratus dari tindakan tokoh itu yang luar biasa serta tugas-tugasnya yang menakjubkan, dan tidak akan puas memandangnya.
Sekarang marilah, kita akan memandang satu per satu setiap abad yang kita lalui dalam perjalanan kembali. Lihatlah, bagaimana setiap abad mekar oleh limpahan yang mereka terima dari Matahari Petunjuk itu. Mereka menghasilkan jutaan buah yang bercahaya seperti Abu Hanifah, Syafi'i, Bayazid Al-Bistami, Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Naqsyaband, Imam Ghazali, dan Imam Rabbani.
Dengan menangguhkan rincian apa yang kita saksikan hingga waktu lain, kita harus membaca salawat yang mengisyaratkan sebagian mukjizat pasti dari tokoh yang menampilkan mukjizat serta membawakan petunjuk itu:
ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ٭ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕِ ﺍُﻣَّﺘِﻪ۪ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﺮِﺳَﺎﻟَﺘِﻪِ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭٰﻳﺔُ ﻭَ الْاِنْج۪يلُ ﻭَ ﺍﻟﺰَّﺑُﻮﺭُ ٭ ﻭَ ﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﻨُﺒُﻮَّﺗِﻪِ الْاِرْهَاصَاتُ ﻭَ ﻫَﻮَﺍﺗِﻒُ ﺍﻟْﺠِﻦِّ ﻭَ ﺍَﻭْﻟِﻴَٓﺎﺀُ الْاِنْسِ ﻭَ ﻛَﻮَﺍﻫِﻦُ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ٭ ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺑِﺎِﺷَﺎﺭَﺗِﻪِ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ٭ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺍَﻧْﻔَﺎﺱِ ﺍُﻣَّﺘِﻪ۪ ٭ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺟَٓﺎﺋَﺖْ ﻟِﺪَﻋْﻮَﺗِﻪِ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮُ ﻭَ ﻧَﺰَﻝَ ﺳُﺮْﻋَﺔً ﺑِﺪُﻋَٓﺎﺋِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻄَﺮُ ﻭَ ﺍَﻇَﻠَّﺘْﻪُ ﺍﻟْﻐَﻤَﺎﻣَﺔُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺤَﺮِّ ٭ ﻭَ ﺷَﺒَﻊَ ﻣِﻦْ ﺻَﺎﻉٍ ﻣِﻦْ ﻃَﻌَﺎﻣِﻪ۪ ﻣِﺎَﺕٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﻭَ ﻧَﺒَﻊَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀُ ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌِﻪِ ثَلَاثَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻛَﺎﻟْﻜَﻮْﺛَﺮِ ﻭَ ﺍَﻧْﻄَﻖَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﻀَّﺐَّ ﻭَ ﺍﻟﻈَّﺒْﻰَ ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺬْﻉَ ﻭَ ﺍﻟﺬِّﺭَﺍﻉَ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﻤَﻞَ ﻭَ ﺍﻟْﺠَﺒَﻞَ ﻭَ ﺍﻟْﺤَﺠَﺮَ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﺪَﺭَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﺍﻟْﻤِﻌْﺮَﺍﺝِ ﻭَ ﻣَﺎﺯَﺍﻍَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ٭ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻭَ ﺷَﻔ۪ﻴﻌِﻨَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻟْﻒُ ﺍَﻟْﻒِ صَلَاةٍ ﻭَ سَلَامٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﻛُﻞِّ ﺍﻟْﺤُﺮُﻭﻑِ ﺍﻟْﻤُﺘَﺸَﻜِّﻠَﺔِ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟْﻤُﺘَﻤَﺜِّﻠَﺔِ ﺑِﺎِﺫْﻥِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﻓِﻰ ﻣَﺮَﺍﻳَﺎ ﺗَﻤَﻮُّﺟَﺎﺕِ ﺍﻟْﻬَﻮَٓﺍﺀِ ﻋِﻨْﺪَ ﻗِﺮَﺍﺋَﺔِ ﻛُﻞِّ ﻛَﻠِﻤَﺔٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﻗَﺎﺭِﺀٍ ﻣِﻦْ ﺍَﻭَّﻝِ ﺍﻟﻨُّﺰُﻭﻝِ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺧِﺮِ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﻭَ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻳَٓﺎ ﺍِﻟٰﻬَﻨَﺎ ﺑِﻜُﻞِّ صَلَاةٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
Dalam sebuah risalah berbahasa Turki bernama Şuâat-ı Marifeti'n-Nebi, dalam Surat Kesembilan Belas, dan dalam Kalimat ini, aku telah menjelaskan dalil-dalil kenabian Muhammad ﷺ yang kita isyaratkan secara ringkas. Di dalamnya juga disebutkan secara ringkas segi-segi mukjizat Al-Qur'an Al-Hakîm. Dalam sebuah risalah berbahasa Turki bernama Lemaat dan dalam Kalimat Kedua Puluh Lima, aku juga telah menjelaskan secara ringkas bahwa Al-Qur'an merupakan mukjizat dari empat puluh segi dan mengisyaratkan empat puluh segi mukjizatnya. Di antara empat puluh segi itu, khusus balagah dalam susunan katanya telah kutulis dalam empat puluh halaman sebuah tafsir berbahasa Arab bernama İşaratü'l-İ'caz. Jika engkau memerlukannya, engkau dapat merujuk kepada ketiga kitab tersebut. Tetesan Keempat Belas: Al-Qur'an Al-Hakîm, yang merupakan khazanah mukjizat serta mukjizat terbesar, meneguhkan kenabian Muhammad ﷺ dan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ dengan dalil yang begitu pasti sehingga tidak menyisakan kebutuhan akan hujah lain. Kami pun mengisyaratkan definisinya serta satu-dua kilau mukjizatnya yang menjadi sasaran kritik.
Al-Qur'an Al-Hakîm yang memperkenalkan Rabb kita kepada kita ialah terjemahan azali dari kitab besar kainat ini.
Ia menyingkap khazanah nama-nama Allah سُبْحَانَهُ yang tersembunyi pada lembaran bumi serta langit ini.
Ia merupakan kunci hakikat yang tersimpan di balik baris-baris peristiwa ini.
Ia merupakan khazanah perhatian Ar-Rahmân serta sapaan azali yang datang dari sisi alam gaib di balik tabir alam yang dapat disaksikan ini.
Ia merupakan matahari, landasan, serta rancangan bangunan alam rohani Islam ini.
Ia merupakan peta alam-alam akhirat.
Ia merupakan perkataan yang menguraikan, tafsir yang jelas, hujah yang berbicara, serta penjelas yang bersinar tentang Zat, Sifat, dan urusan-urusan Ilahi.
Ia merupakan pendidik, hikmah hakiki, pembimbing, serta pemberi petunjuk bagi alam manusia ini.
Ia merupakan kitab hikmah serta syariat, juga kitab doa serta ubudiyah, juga kitab perintah serta seruan, juga kitab zikir serta makrifat. Ia adalah "Perpustakaan Suci" yang menghadirkan sebuah kitab bagi setiap kebutuhan rohani manusia, serta sebuah risalah yang sesuai dengan jalan masing-masing wali dan siddiq, orang-orang suci serta pengkaji yang saksama, yang menempuh beragam jalan dan cara.
Pandanglah kilau mukjizat dalam pengulangan-pengulangannya yang dianggap sebagai sebab kekurangan: Karena Al-Qur'an merupakan kitab zikir, kitab doa, sekaligus kitab seruan, pengulangan di dalamnya baik, bahkan amat diperlukan serta lebih tinggi balagahnya. Ia tidak seperti dugaan orang-orang yang mempunyai kekurangan. Sebab, sifat zikir ialah menerangi dengan pengulangan; sifat doa ialah meneguhkan dengan terus mengulang; sifat perintah serta seruan ialah menguatkan dengan pengulangan.
Selain itu, tidak setiap orang mampu membaca seluruh Al-Qur'an setiap saat. Namun, biasanya ia mampu membaca satu surah. Karena itu, tujuan-tujuan terpenting Al-Qur'an dimasukkan ke dalam kebanyakan surah panjang, sehingga setiap surah menjadi seperti Al-Qur'an kecil. Jadi, agar tidak seorang pun terhalang darinya, sebagian tujuan seperti tauhid, kebangkitan, serta kisah Musa diulang.
Kebutuhan rohani juga beragam seperti kebutuhan jasmani. Sebagiannya diperlukan manusia pada setiap napas, seperti udara bagi tubuh dan Hû bagi ruh. Sebagiannya diperlukan setiap jam, seperti Bismillah, dan demikian seterusnya... Jadi, ayat diulang karena kebutuhan berulang. Al-Qur'an mengulang ayat untuk menunjukkan kebutuhan itu, membangunkan serta mendorong manusia, juga menggerakkan rasa rindu dan hasrat.
Al-Qur'an juga mendirikan landasan. Ia merupakan dasar-dasar agama yang jelas dan fondasi alam Islam ini. Ia mengubah kehidupan bersama manusia serta menjawab pertanyaan berulang dari beragam golongan. Untuk meneguhkan landasan, pengulangan diperlukan. Untuk menguatkan, mengulang berkali-kali diperlukan. Untuk mendukung, menegaskan, memastikan, serta mengulang diperlukan.
Ia juga membahas persoalan amat besar serta hakikat yang halus sehingga untuk menanamkannya dalam hati semua orang, pengulangan berkali-kali dalam berbagai bentuk diperlukan. Meskipun demikian, ia merupakan pengulangan dalam bentuk lahiriah. Namun, dalam makna,
setiap ayat mempunyai banyak makna, banyak manfaat, serta banyak segi dan tingkatan. Pada setiap tempat, ia disebutkan untuk makna, manfaat, serta tujuan yang berbeda.
Adapun Al-Qur'an membiarkan sebagian persoalan alam tidak dirinci dan menyebutkannya secara ringkas, hal itu merupakan kilau mukjizat dalam memberi petunjuk. Ia tidak dapat menjadi sasaran kritik seperti dugaan orang yang mengingkari Allah سُبْحَانَهُ dan bukan sebab kekurangan.
Jika engkau berkata:
Mengapa Al-Qur'an Al-Hakîm tidak membahas segala yang ada seperti filsafat membahasnya? Ia membiarkan sebagian persoalan tetap ringkas dan mengungkapkan sebagian lainnya dengan cara sederhana sesuai apa yang tampak, yang menyenangkan pandangan umum, tidak menyakiti perasaan bersama, serta tidak mengganggu dan melelahkan pikiran orang awam.
Sebagai jawaban kami berkata:
Sebab, filsafat telah tersesat dari jalan hakikat. Engkau juga tentu telah memahami dari pelajaran-pelajaran dan Sözler sebelumnya bahwa Al-Qur'an Al-Hakîm membahas kainat ini untuk memperkenalkan Zat, Sifat, serta Asma Allah سُبْحَانَهُ. Yakni, ia menjelaskan makna kitab kainat ini untuk memperkenalkan Sang Khâliq-nya. Jadi, ia memandang segala yang ada demi Penciptanya, bukan demi segala yang ada itu sendiri. Ia juga menyapa semua orang. Adapun ilmu filsafat memandang segala yang ada demi segala yang ada itu sendiri. Ia juga terutama menyapa para ahli ilmu.
Karena Al-Qur'an Al-Hakîm menjadikan segala yang ada sebagai dalil dan hujah, dalil tersebut harus nyata serta cepat dipahami oleh pandangan umum. Karena Al-Qur'an yang memberi petunjuk menyapa seluruh golongan manusia, sedangkan golongan terbanyak ialah orang awam, tentu petunjuk menuntut agar hal-hal yang tidak diperlukan dibiarkan tanpa rincian serta diringkas, hal-hal yang halus didekatkan pada pemahaman melalui perumpamaan, dan hal-hal yang sudah jelas dalam pandangan lahiriah mereka tidak diubah dengan cara yang tidak diperlukan, bahkan merugikan, agar mereka tidak jatuh ke dalam penalaran yang keliru.
Misalnya, tentang matahari ia berkata, "Ia merupakan pelita yang beredar, sebuah lampu." Sebab, ia tidak membahas matahari demi matahari sendiri atau demi hakikat bendanya. Ia membahas matahari karena matahari merupakan semacam pegas penggerak keteraturan serta pusat tatanan, sedangkan keteraturan dan tatanan merupakan cermin untuk mengenal Sang Pembuat. Ya, ia berkata, ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺗَﺠْﺮِﻯ, "Matahari beredar." Dengan ungkapan "beredar" ini, ia mengingatkan tindakan Kudrat yang teratur dalam pergantian musim dingin, musim panas, malam, serta siang, lalu menjelaskan keagungan Sang Pembuat. Apa pun hakikat beredar ini, ia tidak memengaruhi keteraturan yang dimaksud, yang terjalin serta disaksikan itu.
Ia juga berkata,
ﻭَﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﺳِﺮَﺍﺟًﺎ
. Dengan ungkapan "pelita" ini, ia mengingatkan bahwa alam berbentuk sebuah istana dan segala sesuatu di dalamnya merupakan hiasan, makanan, serta perlengkapan yang disediakan
bagi manusia dan makhluk hidup, sedangkan matahari merupakan pembawa lilin yang ditundukkan untuk bertugas. Dengan itu, ia menjelaskan Rahmat serta anugerah Sang Khâliq.
Sekarang lihatlah apa yang dikatakan filsafat yang bingung serta banyak bicara ini. Lihatlah, ia berkata:
"Matahari merupakan massa amat besar berupa cairan yang membara. Ia memutar planet-planet yang terlontar darinya di sekelilingnya; ukurannya sekian, hakikat bendanya begini dan begitu." Selain rasa takut yang dahsyat serta rasa heran yang luar biasa, ia tidak memberikan kesempurnaan ilmu kepada ruh; ia tidak seperti pembahasan Al-Qur'an. Dengan membandingkannya, engkau dapat memahami nilai persoalan-persoalan filsafat yang di dalamnya kosong, tetapi di luarnya gemerlap. Jangan tertipu oleh kemilau lahiriahnya lalu bersikap tidak hormat terhadap penjelasan Al-Qur'an yang sangat menampilkan mukjizat!
Peringatan:
Tetesan Keempat Belas dalam Risaletü'n-Nur berbahasa Arab mempunyai enam titik air. Khususnya, Titik Air Keempat mempunyai enam butir hikmah. Ia menjelaskan lima belas dari sekitar empat puluh jenis mukjizat Al-Qur'an Al-Hakîm. Dengan mencukupkan pada penjelasan tersebut, kami meringkas di sini. Jika engkau mau, rujuklah kepadanya; engkau akan menemukan khazanah mukjizat.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥَ ﺷِﻔَٓﺎﺀً ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺩَٓﺍﺀٍ ﻭَ ﻣُﻮﻧِﺴًﺎ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺣَﻴَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻤَﺎﺗِﻨَﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﺮ۪ﻳﻨًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻣُﻮﻧِﺴًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺷَﻔ۪ﻴﻌًﺎ ﻭَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺳِﺘْﺮًﺍ ﻭَ ﺣِﺠَﺎﺑًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺭَﻓ۪ﻴﻘًﺎ ﻭَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ دَل۪يلًا ﻭَ ﺍِﻣَﺎﻣًﺎ ﺑِﻔَﻀْﻠِﻚَ ﻭَ ﺟُﻮﺩِﻙَ ﻭَ ﻛَﺮَﻣِﻚَ ﻭَ ﺭَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﻛْﺮَﻡَ الْاَكْرَم۪ينَ ﻭَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻔُﺮْﻗَﺎﻥُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ٓ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ
Said Nursî
Tambahan Kalimat Kesembilan Belas dan Kalimat Ketiga Puluh Satu
Tentang Mukjizat Terbelahnya Bulan
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻗْﺘَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ٭ ﻭَﺍِﻥْ ﻳَﺮَﻭْ ﺍٰﻳَﺔً ﻳُﻌْﺮِﺿُﻮﺍ ﻭَ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺳِﺤْﺮٌ ﻣُﺴْﺘَﻤِﺮٌّ
Para filsuf serta para peniru mereka yang tidak menimbang dengan akal, yang ingin menggelapkan mukjizat terbelahnya bulan—mukjizat Muhammad ﷺ yang bersinar seperti bulan—dengan sangkaan-sangkaan yang rusak, berkata:
"Seandainya bulan benar-benar terbelah, seluruh alam akan mengetahuinya. Seluruh sejarah manusia pasti akan meriwayatkannya."
Jawaban:
Terbelahnya bulan diperlihatkan dalam sekejap pada malam hari, saat orang lalai, kepada sekelompok orang yang hadir, yang mendengar serta mengingkari pernyataan kenabian, agar menjadi dalil bagi pernyataan itu. Di samping terdapat sebab-sebab yang menghalangi orang melihatnya, seperti perbedaan tempat terbit bulan, kabut, serta awan, peradaban pada masa itu belum tersebar luas dan masih terbatas di tempat-tempat tertentu, sedangkan pengamatan langit amat sedikit. Karena itu, tentu tidak harus peristiwa itu terlihat di seluruh penjuru alam serta tercatat dalam semua sejarah.
Dari banyak pokok yang akan mengusir awan sangkaan-sangkaan mengenai terbelahnya bulan ini, dengarkanlah lima pokok untuk sekarang:
Pokok Pertama:
Sejarah telah mengenal dan memasyhurkan kerasnya sikap keras kepala orang kafir pada masa serta tempat itu. Al-Qur'an Al-Hakîm juga telah memberitakan peristiwa ini kepada seluruh alam dengan mengatakan
ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ
. Meskipun demikian, tidak seorang pun di antara orang kafir yang mengingkari Al-Qur'an itu membuka mulut untuk mendustakan ayat ini, yakni mengingkari peristiwa yang diberitakannya. Seandainya pada masa itu peristiwa tersebut tidak pasti dan benar-benar terjadi menurut orang kafir itu, mereka akan menjadikan perkataan ini sebagai alasan untuk melancarkan tuduhan dusta yang amat dahsyat serta menyerang untuk membatalkan pernyataan kenabian Nabi ﷺ.
Padahal, kitab-kitab sirah serta sejarah tidak meriwayatkan perkataan apa pun dari orang kafir yang berkaitan dengan peristiwa itu bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi. Hanya inilah yang diriwayatkan sejarah, seperti dijelaskan ayat
ﻭَﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ ﺳِﺤْﺮٌ ﻣُﺴْﺘَﻤِﺮٌّ
: Orang kafir yang melihat peristiwa itu berkata, "Itu sihir," serta berkata, "Ia memperlihatkan sihir kepada kita. Jika kafilah-kafilah di tempat lain telah melihatnya, itu benar. Jika tidak, ia telah menyihir kita." Kemudian, pada pagi hari, kafilah-kafilah yang datang dari Yaman serta tempat lain memberitakan, "Kami telah melihat peristiwa seperti itu." Lalu orang kafir berkata mengenai Kebanggaan Alam ﷺ—hâşâ—"Sihir anak yatim yang diasuh Abu Thalib itu telah memengaruhi langit juga."
Pokok Kedua:
Kebanyakan pengkaji besar yang saksama, seperti Sa'd At-Taftazani, berkata bahwa terbelahnya bulan bersifat mutawatir, seperti air mengalir dari jari-jari Rasulullah ﷺ dan beliau memberi minum seluruh pasukan, dan seperti seluruh jamaah mendengar tiang kering yang menjadi tempat ia bersandar saat berkhotbah di masjid menangis karena berpisah dari Muhammad ﷺ. Yakni, kelompok yang begitu banyak telah meriwayatkannya dari satu generasi ke generasi lain sehingga mustahil mereka bersepakat untuk berdusta. Mereka berkata, "Ia bersifat mutawatir seperti munculnya komet terkenal seperti Hale seribu tahun lalu. Kejadiannya pasti melalui tawatur, seperti pastinya ada Pulau Serendip yang belum kita lihat." Menimbulkan keraguan berdasarkan sangkaan dalam persoalan yang begitu pasti dan disaksikan seperti ini ialah tindakan tanpa akal. Cukuplah bahwa ia tidak mustahil. Padahal, terbelahnya bulan mungkin terjadi seperti sebuah gunung terbelah oleh letusan gunung berapi.
Pokok Ketiga:
Mukjizat bertujuan meyakinkan orang yang mengingkari untuk meneguhkan pernyataan kenabian, bukan untuk memaksa mereka. Karena itu, mukjizat harus diperlihatkan pada kadar yang meyakinkan orang yang mendengar pernyataan kenabian. Memperlihatkannya kepada tempat-tempat lain atau menampakkannya dengan kejelasan sampai memaksa, selain bertentangan dengan Hikmah Sang Hakîm Dzul-Jalâl, juga bertentangan dengan rahasia kewajiban agama. Sebab, rahasia kewajiban agama menuntut "Membuka pintu bagi akal, tanpa merampas pilihan darinya."
Seandainya Sang Fâthir Yang Hakîm membiarkan bulan tetap terbelah selama satu-dua jam untuk memperlihatkannya kepada seluruh alam sesuai keinginan para filsuf, dan peristiwa itu tercatat dalam semua sejarah manusia, ia akan seperti peristiwa langit lainnya: Tidak menjadi dalil bagi pernyataan kenabian dan tidak lagi khusus bagi kerasulan Muhammad ﷺ. Atau, ia akan menjadi mukjizat yang begitu jelas sehingga memaksa akal, merampas pilihannya, serta membuatnya membenarkan kenabian mau ataupun tidak. Orang yang ruhnya seperti arang, seperti Abu Jahal, dan orang yang ruhnya seperti berlian, seperti Abu Bakar As-Siddiq, akan berada pada tingkat yang sama; rahasia kewajiban agama pun hilang.
Karena rahasia inilah, dengan menjadikan kejadiannya yang sekejap, malam hari, saat orang lalai, serta penghalang lain seperti perbedaan tempat terbit bulan, kabut, dan awan sebagai tabir, peristiwa itu tidak diperlihatkan kepada seluruh alam ataupun tidak dicatat dalam kitab-kitab sejarah.
Pokok Keempat: Karena peristiwa ini terjadi dalam sekejap pada malam hari ketika semua orang lalai, tentu ia tidak akan terlihat di seluruh penjuru alam. Sekalipun terlihat oleh sebagian orang, mereka tidak akan memercayai mata mereka. Sekalipun mereka percaya, tentu peristiwa yang demikian penting tidak akan menjadi catatan yang bertahan dalam sejarah hanya dengan khabar wahid.
Adapun tambahan dalam sebagian kitab, "Setelah bulan menjadi dua bagian, ia turun ke bumi," telah ditolak oleh para pengkaji yang saksama. Mereka berkata, "Mungkin seorang munafik telah menambahkannya dengan maksud merendahkan nilai mukjizat yang terang ini."
Misalnya, pada saat itu di Inggris serta Spanyol, yang diselimuti kabut kebodohan, matahari baru terbenam; di Amerika masih siang; di Tiongkok serta Jepang sudah pagi. Seperti itu pula, berdasarkan sebab-sebab penghalang lain di tempat-tempat lain, tentu ia tidak akan terlihat. Sekarang lihatlah pembantah yang tidak berakal ini; ia berkata, "Sejarah bangsa-bangsa seperti Inggris, Tiongkok, Jepang, serta Amerika tidak membicarakannya. Jadi, ia tidak terjadi." Seribu kutukan atas kepala penjilat Eropa seperti dirinya!
Pokok Kelima: Terbelahnya bulan bukan peristiwa alam yang kebetulan terjadi sendiri berdasarkan beberapa sebab, sehingga dapat dicocokkan dengan hukum-hukum biasa serta alami. Justru Sang Khâliq Yang Hakîm yang menciptakan matahari serta bulan telah mewujudkan peristiwa itu secara luar biasa untuk membenarkan kerasulan Rasul-Nya ﷺ serta menerangi pernyataannya. Sesuai tuntutan rahasia memberi petunjuk, rahasia kewajiban agama, serta hikmah kerasulan, ia diperlihatkan kepada manusia yang dikehendaki oleh Hikmah Allah سُبْحَانَهُ dalam memelihara dan menguasai segala sesuatu, untuk menghadapkan hujah yang tidak dapat mereka bantah.
Ia tidak diperlihatkan kepada manusia di penjuru-penjuru bumi yang belum mendengar pernyataan kenabian; rahasia Hikmah tersebut tidak menuntut dan tidak menghendaki agar mereka melihatnya. Hal itu disebabkan banyak penghalang untuk melihatnya, seperti kabut, awan, serta perbedaan tempat terbit bulan: Di sebagian negeri bulan belum terbit, di sebagian lain matahari telah terbit, di sebagian sudah pagi, dan di sebagian matahari baru terbenam.
Seandainya ia juga diperlihatkan kepada mereka semua, ia akan diperlihatkan sebagai hasil isyarat Muhammad ﷺ serta mukjizat kenabian. Ketika itu, kerasulannya akan mencapai derajat yang amat jelas. Semua orang terpaksa membenarkannya, dan akal tidak lagi mempunyai pilihan. Padahal, iman ialah melalui pilihan akal. Rahasia kewajiban agama akan hilang. Jika ia diperlihatkan semata-mata sebagai peristiwa langit, hubungannya dengan kerasulan Muhammad ﷺ akan terputus dan ia tidak lagi khusus baginya.
Kesimpulannya:
Tidak lagi tersisa keraguan bahwa terbelahnya bulan mungkin terjadi; hal itu telah diteguhkan dengan pasti. Sekarang, dari banyak hujah yang menunjukkan bahwa ia telah terjadi, kami mengisyaratkan enam di antaranya {(Catatan kaki):
Yakni, ada enam hujah dalam bentuk ijmak sebanyak enam kali bahwa ia telah terjadi. Meskipun bagian ini patut dijelaskan panjang, sayangnya ia tetap singkat.} Yaitu:
Ijmak para sahabat yang adil bahwa ia telah terjadi.
Dan kesepakatan seluruh mufasir yang mengkaji dengan saksama dalam tafsir
ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ
bahwa ia telah terjadi.
Dan seluruh ahli hadis yang meriwayatkan dengan benar menukil kejadiannya melalui banyak sanad serta beragam jalur.
Dan kesaksian seluruh wali serta siddiq yang memperoleh kasyaf dan ilham.
Dan pembenaran para imam ilmu kalam yang jalan mereka sangat berjauhan satu sama lain, serta ulama yang ilmunya amat luas.
Dan umat Muhammad ﷺ, yang menurut nas pasti tidak bersepakat dalam kesesatan, menyambut serta mengakui peristiwa itu. Semua ini meneguhkan terbelahnya bulan seterang matahari.
Kesimpulannya:
Sampai di sini, uraian disampaikan demi kajian yang saksama serta untuk menghadapkan dalil yang tidak dapat dibantah lawan. Kalimat-kalimat berikut disampaikan demi hakikat dan iman. Ya, kajian yang saksama telah berkata demikian; adapun hakikat berkata:
Penutup Majelis Kenabian, yang merupakan bulan bercahaya di langit kerasulan, telah diperlihatkan keutamaannya serta derajatnya sebagai kekasih kepada penghuni langit dan alam luhur melalui mikraj, yakni dengan membawa sebuah tubuh dari bumi berkeliling di langit. Mikraj itu merupakan karamah teragung serta mukjizat terbesar dari kewalian dalam ubudiyahnya yang mencapai derajat sebagai kekasih, dan meneguhkan kewaliannya.
Demikian pula, dengan membelah bulan yang terikat pada bumi dan tergantung di langit menjadi dua bagian melalui isyarat seorang penghuni bumi, suatu mukjizat bagi kerasulan penghuni bumi itu diperlihatkan kepada penghuni bumi. Dengan mukjizat ini, Muhammad ﷺ terbang menuju puncak kesempurnaan dengan dua sayapnya yang bercahaya, yakni kerasulan serta kewalian, dengan sepasang sayap yang bersinar, seperti dua sayap bulan bercahaya yang terbuka. Ia naik sampai Qab Qausain dan menjadi kebanggaan penghuni langit serta penghuni bumi.
ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَﺍﻟﺘَّﺴْﻠ۪ﻴﻤَﺎﺕُ مِلْاَ الْاَرْضِ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
SEBAGIAN DARI TAMBAHAN MU'CİZAT-I AHMEDİYE ﷺ
Uraian ini mengenai dalil-dalil kerasulan Muhammad ﷺ dan merupakan jawaban dalam bentuk daftar singkat bagi pertanyaan tentang kesulitan pertama dari tiga kesulitan penting pada akhir Dasar Ketiga Mi'rac Risalesi.
Pertanyaan:
Mengapa mikraj yang agung ini khusus bagi Muhammad dari bangsa Arab ﷺ?
Jawaban:
Kesulitan pertama kalian ini telah diselesaikan secara terperinci dalam tiga puluh tiga Kalimat dalam Sözler. Di sini kami hanya menunjukkan daftar singkat berupa isyarat-isyarat ringkas mengenai kesempurnaan Muhammad ﷺ, dalil-dalil kenabiannya, serta bahwa dialah yang paling layak memperoleh mikraj teragung itu. Yaitu:
Pertama: Meskipun kitab-kitab suci seperti Taurat, Injil, serta Zabur telah mengalami banyak perubahan yang merusak, pada masa ini pun seorang pengkaji yang saksama seperti Husain Al-Jisri telah mengambil seratus empat belas kabar gembira berupa isyarat tentang kenabian Muhammad ﷺ dari kitab-kitab tersebut dan menunjukkannya dalam Risale-i Hamîdiye.
Kedua: Sejarah telah meneguhkan serta meriwayatkan dengan benar banyak kabar gembira, seperti pernyataan dua peramal terkenal, Syiqq serta Sathih, tidak lama sebelum kenabian Muhammad ﷺ, tentang kenabiannya serta bahwa ia adalah Nabi Akhir Zaman ﷺ.
Ketiga: Ratusan kejadian luar biasa yang disebut irhas telah masyhur dalam sejarah, seperti berhala-berhala di Ka'bah jatuh dan Iwan, istana terkenal Kisra Persia, retak pada malam kelahiran Muhammad ﷺ.
Keempat: Sejarah serta sirah menunjukkan bahwa ia menonjol dengan mukjizat-mukjizatnya yang menurut kajian para pengkaji yang saksama mencapai seribu, seperti memberi minum pasukan dari air yang datang dari jarinya; tiang kering menangis serta merintih seperti unta di hadapan jamaah besar di masjid karena berpisah dari Muhammad ﷺ akibat mimbar berpindah; serta terbelahnya bulan menurut nas
ﻭَﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ
.
Kelima: Orang yang adil dan cermat tidak ragu bahwa akhlak baik terdapat pada dirinya dalam derajat tertinggi menurut kesepakatan kawan serta lawan; watak luhur terdapat pada tugas serta dakwahnya dalam derajat tertinggi menurut kesaksian seluruh tindakannya; dan sifat-sifat terpuji yang paling tinggi terdapat pada syariatnya dalam derajat paling sempurna menurut kesaksian keindahan akhlak dalam agama Islam.
Keenam: Sebagaimana diisyaratkan dalam Isyarat Kedua Kalimat Kesepuluh, Allah سُبْحَانَهُ sebagai satu-satunya Sesembahan menghendaki agar dikenal sesuai tuntutan Hikmah. Muhammad ﷺ menampakkan hal itu pada derajat terbesar dan paling bersinar melalui ubudiyah yang amat besar dalam agamanya.
Sang Khâliq alam juga menghendaki agar Keindahan-Nya yang amat sempurna diperlihatkan melalui suatu perantara sesuai tuntutan Hikmah serta hakikat. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang memperlihatkan serta memperkenalkannya dengan cara paling indah.
Sang Pembuat seluruh alam juga menghendaki agar perhatian orang ditarik pada Kesempurnaan karya-Nya yang amat indah serta agar karya itu diperlihatkan. Nyata disaksikan bahwa tokoh itu pula yang menyerukannya dengan suara paling tinggi.
Rabb seluruh alam juga menghendaki agar Keesaan-Nya diumumkan di antara tingkatan-tingkatan segala yang beraneka. Pasti bahwa tokoh itu pula yang mengumumkan seluruh derajat tauhid dengan kadar terbesar.
Sang Pemilik alam juga menghendaki, sesuai tuntutan hakikat serta Hikmah, agar Dia melihat dan memperlihatkan dalam cermin-cermin Keindahan Zat-Nya yang tiada batas, keelokan Keindahan-Nya, serta kelembutan Keelokan-Nya, sebagaimana diisyaratkan oleh keindahan yang amat besar dalam karya-karya-Nya. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang menjadi cermin serta memperlihatkannya dengan cara paling gemilang, mencintai-Nya, serta membuat orang lain mencintai-Nya.
Sang Pembuat istana alam ini juga menghendaki agar khazanah gaib-Nya yang penuh mukjizat amat luar biasa serta permata amat berharga ditampakkan dan diperlihatkan, serta agar Kesempurnaan-Nya diperkenalkan dan diberitahukan melalui semua itu. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang memperlihatkan, melukiskan, serta memperkenalkannya dengan kadar terbesar.
Sang Pembuat kainat ini juga telah membuat kainat dengan menghiasinya dengan beragam keajaiban serta perhiasan, lalu memasukkan makhluk-Nya yang sadar ke dalamnya untuk memandang, berwisata, mengambil pelajaran, serta merenung. Sesuai tuntutan Hikmah, Dia menghendaki agar makna serta nilai karya-karya itu diberitahukan kepada mereka yang memandang serta merenung. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang membimbing dengan kadar terbesar
jin serta manusia, bahkan ruh-ruh serta malaikat, melalui Al-Qur'an Al-Hakîm.
Sang Penguasa Yang Hakîm bagi kainat ini juga menghendaki agar melalui seorang utusan, seluruh makhluk yang sadar diberi penjelasan tentang rahasia rumit yang memuat maksud serta tujuan dalam perubahan kainat, dan tentang teka-teki tiga pertanyaan sulit mengenai segala yang ada: "Dari mana? Ke mana? Dan apakah mereka?" Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang membuka rahasia serta memecahkan teka-teki tersebut dengan cara paling jelas dan kadar terbesar melalui hakikat-hakikat Al-Qur'an.
Sang Pembuat Dzul-Jalâl alam ini juga memperkenalkan Diri-Nya kepada makhluk yang sadar melalui seluruh karya-Nya yang indah dan membuat mereka mencintai-Nya melalui nikmat-nikmat berharga. Sebagai balasannya, Dia pasti menghendaki agar mereka diberi tahu tentang Rida serta Kehendak Ilahi melalui seorang utusan. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang menyampaikan serta membawa Rida dan Kehendak tersebut dengan cara paling tinggi serta paling sempurna melalui Al-Qur'an.
Rabb semesta alam juga telah memberikan kepada manusia, buah alam ini, kemampuan yang begitu luas sehingga dapat mencakup alam, serta menyiapkannya bagi ubudiyah yang menyeluruh. Karena manusia, dari segi perasaannya, terikat pada segala yang beraneka serta dunia, Dia menghendaki agar melalui seorang pembimbing, wajah mereka dipalingkan dari segala yang beraneka kepada Yang Esa, dari yang fana kepada Yang Kekal. Jelaslah bahwa tokoh itu pula yang membimbing dengan kadar terbesar, cara yang paling tinggi balagahnya, dan bentuk paling indah melalui Al-Qur'an, serta menjalankan tugas kerasulan dengan cara paling sempurna.
Makhluk hidup adalah yang paling mulia di antara segala yang ada; makhluk yang sadar adalah yang paling mulia di antara makhluk hidup; manusia sejati adalah yang paling mulia di antara makhluk yang sadar. Tokoh yang menjalankan tugas-tugas tersebut dengan kadar terbesar serta cara paling sempurna di antara manusia sejati, tentu dialah pula yang akan naik ke Qab Qausain melalui mikraj teragung, mengetuk pintu kebahagiaan abadi, membuka khazanah Rahmat, serta melihat hakikat-hakikat gaib iman.
Ketujuh: Sebagaimana nyata disaksikan, karya-karya ini mempunyai bentuk yang amat indah serta hiasan yang amat elok. Jelaslah bahwa bentuk serta hiasan seperti itu menunjukkan adanya kehendak amat kuat pada Sang Pembuatnya untuk memperindah serta maksud untuk menghias. Kehendak untuk memperindah serta menghias pasti menunjukkan bahwa Sang Pembuat mempunyai minat yang kuat dan cinta yang suci terhadap karya-Nya. Di antara karya-karya itu, makhluk yang paling menyeluruh, yang sekaligus menunjukkan dalam dirinya kelembutan karya, mengenalnya serta memperkenalkannya, membuat dirinya dicintai, dan menghargai keindahan dalam karya-karya lain dengan berkata "Mâşâallah",
tentu dialah yang paling dicintai dalam pandangan Sang Pembuat yang menggemari karya serta amat mencintai karya-Nya itu.
Nyata disaksikan bahwa tokoh itu pula yang membuat langit bergema dengan berkata "Sübhanallah, Mâşâallah, Allahu ekber" di hadapan keistimewaan serta keindahan yang menyepuh karya-karya, dan kelembutan serta kesempurnaan yang menerangi segala yang ada. Ia membuat kainat bergemuruh dengan nada-nada Al-Qur'an, serta membuat daratan dan lautan terhanyut oleh rasa ruhani yang mendalam dengan menghargai serta memuji, merenung serta memperlihatkan, berzikir serta bertauhid.
Tokoh seperti ini, yang menurut rahasia
ﺍَﻟﺴَّﺒَﺐُ ﻛَﺎﻟْﻔَﺎﻋِﻞِ
mempunyai padanan dari seluruh kebaikan yang dikerjakan umatnya pada piring timbangannya; yang salawat seluruh umatnya membantu kesempurnaan rohaninya; dan yang, bersama hasil tugas-tugas yang dijalankannya dalam kerasulan serta upah rohaninya, menjadi tempat limpahan Rahmat serta Cinta Ilahi yang tiada batas—tentu perjalanannya melalui tangga mikraj sampai surga, Sidratul Muntaha, Arasy, serta Qab Qausain ialah kebenaran itu sendiri, hakikat itu sendiri, dan hikmah semata.
ﺍَﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ
Said Nursî
(Catatan kaki): Dalam sebuah surat kabar Islam yang amat penting, disebutkan bahwa pada sebuah kongres yang berkaitan dengan seluruh dunia Islam dan dihadiri tokoh-tokoh politik amat penting serta seluruh ahli hukum yang sangat berkaitan dengan kehidupan bersama, yang berkumpul di Eropa pada tahun 1927, para filsuf asing penting telah mengucapkan dalam bahasa mereka sendiri kalimat yang persis sama dengan uraian Arab di bawah ini mengenai syariat Muhammad ﷺ. Kami menuliskan ungkapan Arab yang dinukil surat kabar Arab itu persis sebagaimana adanya, serta menambahkan terjemahannya di bawah ungkapan Arab tersebut. Pernyataan empat puluh tiga filsuf asing yang ditulis pada akhir Nur Çeşmesi (Mata Air Cahaya), bersama pernyataan kedua filsuf terkemuka ini, menjadi empat puluh lima saksi yang benar.
ﺍَﻟْﻔَﻀْﻞُ ﻣَﺎ ﺷَﻬِﺪَﺕْ ﺑِﻪِ الْاَعْدَٓاءُ
"Keutamaan ialah apa yang bahkan dibenarkan oleh para musuh."
Pernyataan surat kabar Arab:
ﻭَﻗَﺪْ ﺍِﻋْﺘَﺮَﻑَ ﺣَﺘّٰﻰ ﻋُﻠَﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻟْﻐَﺮْﺏِ ﺑِﺴُﻤُﻮِّ ﻣَﺒَﺎﺩِﻯ الْاِسْلَامِ وَصَلَاحِهَا ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻢِ ﻗَﺎﻝَ ﻋَﻤ۪ﻴﺪُ ﻛُﻠِّﻴَّﺔِ ﺍﻟْﺤُﻘُﻮﻕِ ﺑِﺠَﺎﻣِﻌَﺔِ ﻓ۪ﻴﻴَﻨَﺎ َالْاُسْتَاذُ ﺷَﺒُﻮﻝْ ﻓ۪ﻰ ﻣُﺆْﺗَﻤَﺮِ ﺍﻟْﺤُﻘُﻮﻗِﻴّ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻤُﻨْﻌَﻘَﺪِ ﻓ۪ﻰ ﺳَﻨَﺔِ
(١٩٢٧)
ﺍِﻥَّ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِﻳَّﺔَ ﻟَﺘَﻔْﺘَﺨِﺮُ ﺑِﺎِﻧْﺘِﺴَﺎﺏِ ﺭَﺟُﻞٍ ﻛَﻤُﺤَﻤَّﺪٍ
(ﻉ ﺹ ﻡ)
ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ ﺍِﺫْ ﺍِﻧَّﻪُ ﺭَﻏْﻢَ ﺍُﻣِّﻴَّﺘِﻪ۪ ﺍِﺳْﺘَﻄَﺎﻉَ ﻗَﺒْﻞَ ﺑِﻀْﻌَﺔِ ﻋَﺸَﺮَ ﻗَﺮْﻧًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺗ۪ﻰ ﺑِﺘَﺸْﺮِﻳﻊٍ ﺳَﻨَﻜُﻮﻥُ ﻧَﺤْﻦُ الْاَوْرُوبَائِيّ۪ينَ ﺍَﺳْﻌَﺪَ ﻣَﺎ ﻧَﻜُﻮﻥُ ﻟَﻮْ ﻭَﺻَﻠْﻨَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﻗِﻴْﻤَﺘِﻪ۪ ﺑَﻌْﺪَ ﺍَﻟْﻔَﻰْ ﻋَﺎﻡٍ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﺑَﺮْﻧَﺎﺭْﺩ ﺷَﻮْ
:
ﻟَﻘَﺪْ ﻛَﺎﻥَ ﺩ۪ﻳﻦُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
(ﻉ ﺹ ﻡ)
ﻣَﻮْﺿِﻊَ ﺍﻟﺘَّﻘْﺪ۪ﻳﺮِ ﺍﻟﺴَّﺎﻣ۪ﻰ ﺩَٓﺍﺋِﻤًﺎ ﻟِﻤَﺎ ﻳَﻨْﻄَﻮ۪ﻯ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻣِﻦْ ﺣَﻴَﻮِﻳَّﺔٍ ﻣُﺪْﻫِﺸَﺔٍ لِاَنَّهُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺎ ﻳَﻠُﻮﺡُ ﻟ۪ﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦُ ﺍﻟْﻮَﺣ۪ﻴﺪُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻟَﻪُ ﻣَﻠَﻜَﺔُ ﺍﻟْﻬَﻀْﻢِ لِاَطْوَارِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓِ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠِﻔَﺔِ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﺴْﺘَﻄ۪ﻴﻊُ ﻟِﺬٰﻟِﻚَ ﺍَﻥْ ﻳَﺠْﺬِﺏَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻛُﻞَّ ﺟَﻴْﻞٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَ ﺍَﺭٰﻯ ﻭَﺍﺟِﺒًﺎ ﺍَﻥْ ﻳُﺪْﻋٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ
(ﻉ ﺹ ﻡ)
ﻣُﻨْﻘِﺬَ الْاِنْسَانِيَّةِ ﻭَ ﺍَﻋْﺘَﻘِﺪُ ﺍَﻥَّ رَجُلًا ﻣِﺜْﻠَﻪُ ﺍِﺫَﺍ ﺗَﻮَﻟّٰﻰ ﺯَﻋَﺎﻣَﺔَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺍﻟْﺤَﺪ۪ﻳﺚِ ﻧَﺠَﺢَ ﻓ۪ﻰ ﺣَﻞِّ مُشْكِلَاتِه۪ ﻭَﺍَﺣَﻞَّ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ السَّلَامَةَ ﻭَﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓَ ﴾ﻳَﻌْﻨِﻰ ﺍﻟْﻤُﺴَﺎﻟَﻤَﺔَ ﻭَﺍﻟﺼُّﻠْﺢَ ﺍﻟْﻌُﻤُﻮﻣِﻰَّ﴿ ﻭَﻣَﺎ ﺍَﺷَﺪَّ ﺣَﺎﺟَﺔَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺍَﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺍِﻟَﻴْﻬَﺎ
Ringkasan terjemahannya:
Ya, para ilmuwan serta filsuf Barat telah mengakui dan menyatakan bahwa "Hukum-hukum Islam cukup untuk memperbaiki alam dengan cara yang luhur."
Dalam pertemuan Kongres Fakultas Hukum, kongres tempat seluruh ahli hukum berkumpul pada tahun 1927 itu, ketuanya, filsuf dan guru Shebol, berkata, "Seluruh umat manusia tentu berbangga karena Muhammad ﷺ termasuk umat manusia. Sebab, meskipun tokoh itu tidak bisa membaca dan menulis, tiga belas abad lalu ia membawa syariat sedemikian rupa sehingga jika kami, orang Eropa, dapat mencapai nilai serta hakikatnya setelah dua ribu tahun, kami akan menjadi yang paling berbahagia serta paling sejahtera."
Bernard Shaw, yang merupakan orang kedua, atau orang keempat puluh lima bersama mereka yang ditambahkan pada akhir Nur Çeşmesi, berkata, "Sebab agama Muhammad ﷺ mencapai kedudukan penghargaan tertinggi ialah karena ia menjamin kehidupan yang amat menakjubkan serta kukuh. Yang tampak kepadaku ialah bahwa agama itu merupakan agama tunggal, unik, tiada banding, dan istimewa, yang mampu menampung segala tahap serta ragam kehidupan yang berbeda-beda. Yakni, ia menjernihkannya serta memajukannya melalui perbaikan dan perubahan. Agama Muhammad ﷺ juga merupakan agama yang dapat menarik seluruh bangsa manusia yang berbeda-beda kepada dirinya. Aku melihat dan meyakini bahwa manusia wajib berkata, 'Muhammad ﷺ adalah penyelamat umat manusia, dan sebutan penyelamat harus diberikan kepadanya.'"
Ia juga berkata, "Aku meyakini bahwa seandainya seorang yang seperti Muhammad ﷺ, yakni dalam perilaku serta caranya, menjadi pemimpin dan memerintah dunia baru sekarang ini, ia akan memecahkan kesulitan-kesulitan dunia baru ini serta menjadi sebab tercapainya perdamaian umum dan kebahagiaan hidup dalam dunia baru yang kacau ini. Ya, setiap orang memahami betapa dunia baru ini sangat memerlukan perdamaian serta kebahagiaan hidup."
TINGKATAN KEENAM BELAS DARI RISALAH ÂYETÜ'L-KÜBRA (TANDA YANG PALING AGUNG) YANG MEMBAHAS KERASULAN MUHAMMAD ﷺ
(Ditambahkan di sini karena sesuai dengan bagian ini.)
Kemudian, pengembara dunia itu berkata kepada akalnya sendiri, "Karena aku mencari Sang Pemilik serta Sang Khâliq-ku melalui segala yang ada dalam kainat ini, tentu sebelum segala sesuatu kita harus mengunjungi Muhammad dari bangsa Arab ﷺ—yang paling terkenal di antara segala yang ada ini; yang paling sempurna, bahkan menurut pembenaran musuh-musuhnya; panglima terbesarnya; penguasa paling termasyhurnya; yang paling tinggi perkataannya; yang paling bersinar akalnya; serta yang menerangi empat belas abad dengan keutamaan dan Al-Qur'annya. Kita harus pergi ke Zaman Kebahagiaan untuk bertanya kepadanya tentang Dia yang kucari." Bersama akalnya, ia pun memasuki masa itu. Ia melihat bahwa:
Masa itu benar-benar telah menjadi masa kebahagiaan manusia melalui tokoh tersebut. Sebab, melalui cahaya yang dibawanya, dalam waktu singkat ia menjadikan kaum yang paling badui serta paling buta huruf sebagai guru serta penguasa dunia.
Ia juga berkata kepada akalnya sendiri, "Pertama-tama, kita harus mengetahui sampai tingkat tertentu nilai tokoh yang luar biasa ini, benarnya perkataan-perkataannya, serta kebenaran berita-beritanya; kemudian kita harus bertanya kepadanya tentang Sang Khâliq kita." Ia pun mulai mencari. Dari dalil-dalil pasti yang tak terhitung yang ditemukannya, di sini hanya akan diberikan satu isyarat singkat bagi masing-masing dari sembilan dalil yang menyeluruh.
Pertama: Pada tokoh ini terdapat seluruh perangai serta sifat yang baik, bahkan menurut pembenaran musuh-musuhnya. Ratusan mukjizat tampak melalui tangannya, dengan nas yang pasti serta sebagian melalui tawatur, seperti menurut penjelasan tegas ayat-ayat
ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﺍِﺫْ ﺭَﻣَﻴْﺖَ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﺭَﻣٰﻰ
, bulan terbelah menjadi dua dengan isyarat satu jarinya; sedikit tanah yang dilemparkannya dari satu telapak tangan ke arah pasukan musuh masuk ke mata seluruh pasukan itu sehingga mereka lari; serta ia memberi minum pasukannya yang kehausan dengan air seperti Kautsar yang mengalir dari kelima jarinya sampai
mencukupi mereka. Lebih dari tiga ratus mukjizat ini telah dijelaskan bersama dalil-dalil pastinya dalam Surat Kesembilan Belas, risalah luar biasa yang mempunyai karamah bernama Mu'cizat-ı Ahmediye ﷺ. Dengan merujukkan mukjizat-mukjizat tersebut kepada risalah itu, ia berkata:
Tokoh yang memiliki begitu banyak akhlak baik serta kesempurnaan, sekaligus begitu banyak mukjizat yang terang, tentu paling benar perkataannya. Tidak mungkin ia merendahkan diri kepada tipu daya, dusta, serta kekeliruan, yang merupakan pekerjaan orang tanpa akhlak.
Kedua: Di tangannya terdapat Firman Sang Pemilik kainat ini, dan pada setiap abad lebih dari tiga ratus juta manusia mengakui serta membenarkan Firman itu. Firman tersebut, Al-Qur'an Yang Agung, juga luar biasa dari tujuh segi. Bahwa Al-Qur'an ini merupakan mukjizat dari empat puluh segi serta Firman Sang Khâliq kainat telah dijelaskan secara terperinci bersama dalil-dalil kuatnya dalam Kalimat Kedua Puluh Lima, risalah terkenal bernama Mu'cizat-ı Kur'aniye (Mukjizat-Mukjizat Al-Qur'an) yang merupakan salah satu matahari Risale-i Nur. Dengan merujukkannya kepada risalah itu, ia berkata:
Dalam diri tokoh ﷺ yang merupakan penjelas serta penyampai Firman yang menjadi haq dan hakikat itu sendiri ini, dusta, yang merupakan kejahatan terhadap Firman serta pengkhianatan terhadap Pemilik Firman, tidak mungkin ada dan tidak dapat ditemukan.
Ketiga: Tokoh itu ﷺ tampil dengan syariat, Islam, ubudiyah, doa, seruan, serta iman yang tiada bandingannya dan tidak akan ada bandingannya. Tidak pernah ditemukan dan tidak akan ditemukan yang lebih sempurna darinya.
Sebab, syariat yang muncul melalui tokoh yang tidak bisa membaca dan menulis ini telah mengatur seperlima umat manusia selama empat belas abad dengan hukum-hukumnya yang tak terhitung, secara adil, benar, serta cermat; ia tidak mempunyai bandingan.
Islam yang bersumber dari tindakan, perkataan, serta keadaan tokoh yang tidak bisa membaca dan menulis ini juga tidak dapat dan tidak pernah mempunyai bandingan. Sebab, pada setiap abad ia menjadi pembimbing serta tempat rujukan bagi tiga ratus juta manusia, pengajar serta pembimbing akal mereka, penerang serta penjernih hati mereka, pendidik serta pembersih nafsu mereka, serta sarana tumbuh dan sumber kemajuan ruh mereka.
Ia juga paling maju dalam seluruh jenis ibadah yang terdapat dalam agamanya, lebih bertakwa daripada siapa pun, serta lebih takut kepada Allah سُبْحَانَهُ. Di tengah perjuangan luar biasa yang terus berlangsung serta berbagai kegaduhan, ia memperhatikan ubudiyah sepenuhnya sampai rahasia-rahasianya yang paling halus. Tanpa meniru siapa pun, ia menjalankannya sepenuhnya sebagai pemula, tetapi secara sempurna,
dengan memadukan awal serta akhir. Tentu tidak dapat dan tidak pernah terlihat bandingannya.
Di antara ribuan doa serta munajatnya, hanya dalam Cevşenü'l-Kebir ia melukiskan Rabb-nya dengan makrifat kepada Rabb sedemikian rupa dan pada derajat sedemikian tinggi sehingga sejak masa itu, orang-orang yang memperoleh makrifat serta kewalian, sekalipun dengan pikiran yang saling melengkapi, tidak dapat mencapai tingkatan makrifat ataupun derajat penggambaran tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dalam doa pun ia tiada banding. Orang yang memandang tempat pada awal Risale-i Münâcat yang menjelaskan secara amat singkat makna satu bagian dari sembilan puluh sembilan bagian Cevşenü'l-Kebir akan berkata, "Cevşen pun tiada banding."
Dalam menyampaikan kerasulan serta menyeru manusia kepada haq, ia juga menunjukkan keteguhan, ketabahan, serta keberanian sedemikian besar. Meskipun negara-negara besar, agama-agama besar, bahkan kaum, kabilah, serta pamannya memusuhinya dengan keras, ia tidak menunjukkan sedikit pun tanda ragu, gelisah, ataupun sikap pengecut. Ia menantang seluruh dunia seorang diri, berhasil menuntaskannya, serta menempatkan Islam di puncak dunia. Semua ini meneguhkan bahwa dalam menyampaikan serta menyeru pun ia tidak pernah dan tidak dapat mempunyai bandingan.
Dalam iman, ia juga membawa kekuatan yang demikian luar biasa, keyakinan yang menakjubkan, pertumbuhan yang bersifat mukjizat, serta kepercayaan luhur yang menerangi dunia. Meskipun seluruh pemikiran serta akidah yang menguasai masa itu, hikmah para filsuf, serta ilmu para pemimpin rohani menentang, melawan, dan mengingkarinya, semua itu tidak menimbulkan keraguan, kebimbangan, kelemahan, ataupun waswas sedikit pun pada keyakinan, kepercayaan, sikap bersandar, serta rasa tenteramnya. Seluruh wali yang maju dalam urusan rohani serta tingkatan iman, terutama para sahabat, juga senantiasa menerima limpahan dari derajat imannya dan mendapati derajat itu sebagai yang tertinggi. Jelaslah bahwa imannya pun tiada banding.
Ia pun memahami, dan akalnya juga membenarkan, bahwa pada pemilik syariat yang tiada banding, Islam yang tiada banding, ubudiyah yang menakjubkan, doa yang luar biasa, seruan yang dikagumi dunia, serta iman yang bersifat mukjizat seperti ini, tentu tidak mungkin ada dusta dari segi apa pun dan ia tidak menipu.
Keempat: Sebagaimana ijmak para nabi merupakan dalil yang amat kuat bahwa Allah سُبْحَانَهُ ada serta Esa, ia juga merupakan kesaksian yang amat kukuh bagi benarnya tokoh ini serta kerasulannya. Sebab, sejarah membenarkan bahwa segala sifat suci, mukjizat, serta tugas yang menjadi landasan benarnya para nabi aleyhimüsselâm dan bahwa mereka adalah nabi, terdapat pada taraf paling tinggi dalam diri tokoh itu.
Ia pun memahami: Sebagaimana para nabi melalui bahasa perkataan telah memberitakan kedatangan tokoh ini dalam Taurat, Injil, Zabur, serta suhuf mereka dan memberikan kabar gembira kepada manusia—lebih dari dua puluh isyarat kabar gembira yang amat nyata dari kitab-kitab suci itu telah dijelaskan serta diteguhkan dengan baik dalam Surat Kesembilan Belas—melalui bahasa keadaan, yakni kenabian serta mukjizat mereka, mereka juga membenarkan tokoh ini, yang paling maju serta paling sempurna dalam jalan dan tugas mereka, lalu mengesahkan pernyataannya. Sebagaimana melalui bahasa perkataan serta ijmak mereka menunjukkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ, melalui bahasa keadaan serta kesepakatan mereka juga bersaksi bagi benarnya tokoh ini.
Kelima: Ia melihat bahwa ribuan wali yang mencapai haq, hakikat, kesempurnaan, karamah, kasyaf, serta apa yang disaksikan melalui kaidah, didikan, dan kepatuhan kepada tokoh ini, dengan berjalan di belakangnya, bukan hanya menunjukkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ. Melalui ijmak serta kesepakatan, mereka juga bersaksi bagi benarnya tokoh ini, guru mereka, serta kerasulannya. Mereka menyaksikan sebagian berita yang disampaikannya dari alam gaib melalui cahaya kewalian, serta meyakini dan membenarkan semuanya melalui cahaya iman dalam bentuk ilmulyaqin, ainulyaqin, ataupun haqqulyaqin. Hal ini menunjukkan derajat benar serta jujur tokoh yang menjadi guru mereka itu seterang matahari.
Keenam: Melalui pelajaran serta ajaran tentang hakikat suci yang dibawa tokoh ini meskipun ia tidak bisa membaca dan menulis, ilmu luhur yang diperkenalkannya, serta makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ yang disingkapnya, jutaan orang suci yang cermat, siddiq yang mengkaji dengan saksama, serta filsuf mukmin yang jenius telah mencapai kedudukan tertinggi dalam ilmu. Sebagaimana mereka secara sepakat meneguhkan serta membenarkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ—pernyataan yang menjadi dasar segala dasar tokoh ini—dengan hujah-hujah kuat, kesaksian mereka yang sepakat bagi benarnya pengajar terbesar serta guru teragung ini dan bahwa perkataannya adalah hakikat merupakan hujah bagi kerasulan serta benarnya yang seterang siang. Misalnya, Risale-i Nur dengan seratus bagiannya merupakan satu hujah saja bagi benarnya.
Ketujuh: Ia memahami bahwa kelompok besar bernama keluarga serta sahabat Nabi ﷺ, yang di antara umat manusia setelah para nabi merupakan kelompok paling masyhur karena firasat, daya memahami, serta kesempurnaannya; paling dihormati, paling ternama, paling taat beragama, serta paling tajam pandangannya, telah mencari, memeriksa, dan mengkaji seluruh keadaan tersembunyi serta terbuka, pemikiran, dan sikap tokoh ini dengan rasa ingin tahu yang sempurna, perhatian amat besar, serta kesungguhan sepenuhnya. Hasilnya, pembenaran mereka yang tidak tergoyahkan melalui kesepakatan serta ijmak, dan iman mereka yang kuat bahwa tokoh ini paling benar, paling tinggi, serta paling sesuai dengan haq dan hakikat di dunia, merupakan dalil seperti siang yang menunjukkan cahaya matahari.
Kedelapan: Ia mengetahui bahwa sebagaimana kainat ini menunjukkan Sang Pembuat, Penulis, serta Penghiasnya yang menciptakan, mengurus, menyusun, dan mengelolanya seperti istana, kitab, pameran, serta tempat untuk ditonton dengan memberi bentuk, menentukan ukuran, serta mengaturnya, kainat juga menghendaki dan menuntut adanya penyeru luhur, penyingkap yang benar, guru yang mengkaji dengan saksama, serta pengajar yang jujur. Tokoh itu akan mengetahui dan memperkenalkan tujuan-tujuan Ilahi dalam penciptaan kainat, mengajarkan Hikmah Rabb dalam perubahan-perubahannya, mengajarkan hasil gerak-geraknya yang menjalankan tugas, mengumumkan nilai hakikatnya serta kesempurnaan segala yang ada di dalamnya, dan mengungkapkan makna kitab besar itu. Karena kainat menunjukkan bahwa tokoh semacam ini pasti ada, tentu ia bersaksi bagi benarnya tokoh ini yang menjalankan tugas-tugas tersebut lebih daripada siapa pun, serta bahwa ia adalah petugas tertinggi dan paling jujur dari Sang Khâliq kainat.
Kesembilan: Sebab, di balik tabir ada Dia yang menghendaki agar Kecakapan-Nya serta Kesempurnaan karya-Nya diperlihatkan melalui karya-karya yang penuh seni dan hikmah ini; agar Diri-Nya dikenal serta dicintai melalui makhluk-makhluk tak terbatas yang indah dan berhias ini; agar manusia bersyukur serta memuji-Nya melalui nikmat-nikmat tak terhitung yang lezat dan berharga ini; agar manusia beribadah dengan merasa berutang budi, bersyukur, serta penuh pengabdian kepada-Nya sebagai Pemelihara dan Penguasa segala sesuatu, melalui pemeliharaan serta pemberian rezeki yang menyeluruh, penuh kasih dan perlindungan, bahkan melalui makanan serta jamuan dari Rabb yang disediakan dengan cara memuaskan cita rasa paling halus pada mulut serta seluruh jenis selera; agar manusia beriman, berserah, tunduk, serta patuh kepada-Nya sebagai satu-satunya Sesembahan, dengan menampakkan bahwa Dialah satu-satunya Sesembahan melalui tindakan serta pengelolaan agung dan megah, kegiatan serta penciptaan dahsyat dan penuh hikmah, seperti pergantian musim serta perubahan dan silih bergantinya malam serta siang; dan agar Kebenaran-Nya serta Keadilan-Nya diperlihatkan dengan senantiasa melindungi kebaikan serta orang baik, melenyapkan keburukan serta orang jahat, dan menghancurkan orang zalim serta pendusta dengan tamparan samawi.
Tentu dan pasti, makhluk yang paling dicintai serta hamba yang paling benar di sisi Zat Yang Gaib itu ialah tokoh bernama Muhammad dari Quraisy ﷺ ini. Ia sepenuhnya berkhidmah bagi tujuan-tujuan tersebut, memecahkan serta menyingkap rahasia dan teka-teki penciptaan kainat, senantiasa bertindak atas nama Sang Khâliq-nya, meminta pertolongan serta keberhasilan dari-Nya, dan memperoleh bantuan serta keberhasilan dari-Nya.
Ia juga berkata kepada akalnya, "Karena sembilan hakikat tersebut bersaksi bagi benarnya tokoh ini, tentu manusia ini menjadi sumber kemuliaan keturunan Adam
serta kebanggaan alam ini. Sangat patut ia disebut Kebanggaan Alam ﷺ serta Kemuliaan Keturunan Adam ﷺ. Firman Ar-Rahmân yang berada di tangannya, yakni Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, dengan kuasa rohaninya yang megah meliputi separuh bumi. Hal ini, bersama kesempurnaan pribadinya serta sifat-sifat luhurnya, menunjukkan bahwa dialah tokoh terpenting dalam alam ini, dan perkataan terpenting tentang Sang Khâliq kita adalah miliknya."
Marilah, lihatlah! Dengan bersandar pada kekuatan ratusan mukjizat pasti tokoh yang luar biasa ini, yang nyata serta terang, dan pada ribuan hakikat luhur serta mendasar dalam agamanya, dasar seluruh pernyataannya serta tujuan seluruh hidupnya ialah menunjukkan dan bersaksi bahwa Wâjibul Wujûd ada serta Esa, juga tentang Sifat serta Asma-Nya; lalu meneguhkan, mengumumkan, serta memperkenalkan Wâjibul Wujûd itu.
Jadi, tokoh yang disebut Habibullah ﷺ ini merupakan matahari rohani kainat serta hujah paling bersinar bagi Sang Khâliq kita. Ada tiga ijmak besar yang tidak tertipu dan tidak menipu, yang mendukung, membenarkan, serta mengesahkan kesaksiannya:
Pertama: Pembenaran melalui ijmak dari jamaah bercahaya yang terkenal di seluruh alam dengan nama Keluarga Muhammad ﷺ. Jamaah ini mencakup ribuan wali besar serta para pemimpin rohani yang mempunyai pandangan tajam dan mata yang melihat alam gaib, seperti Imam Ali ra. yang berkata, "Seandainya tabir gaib dibuka, keyakinanku tidak akan bertambah," serta Ghauts Yang Agung q.s. yang, ketika berada di bumi, memandang Arasy Yang Agung serta keagungan sosok Israfil.
Kedua: Pembenaran melalui kesepakatan dari jamaah terkenal yang ternama di dunia dengan sebutan sahabat, dengan iman kuat yang membuat mereka mengorbankan nyawa serta harta, ayah serta kabilah mereka. Dalam kaum badui serta lingkungan yang buta huruf, tanpa kehidupan bermasyarakat serta pemikiran politik, tanpa kitab, dan di tengah gelapnya masa jeda kenabian, dalam waktu amat singkat mereka menjadi guru, pembimbing, diplomat, serta penguasa adil bagi bangsa dan pemerintahan paling beradab serta berpengetahuan, yang paling maju dalam kehidupan bermasyarakat serta politik. Mereka memerintah dari timur sampai barat dengan cara yang dikagumi dunia.