Ayat ketiga belas Bab Keenam Belas Injil Yohanes juga berbunyi: "Namun, ketika ruh haq itu datang, ia akan membimbing kalian kepada seluruh hakikat. Sebab, ia tidak berkata dari dirinya sendiri. Dengan mengatakan semua yang didengar, ia akan memberitahukan kepada kalian hal-hal yang akan datang." Ayat ini jelas. Siapa selain Muhammad ﷺ, orang Arab itu, yang sekaligus mengundang seluruh manusia kepada hakikat, memberikan setiap berita dari wahyu, mengatakan yang didengar dari Jibril, serta memberitahukan kiamat dan akhirat secara terperinci? Siapa lagi yang mungkin demikian?
Dalam kitab-kitab nabi juga terdapat nama Suryani serta Ibrani bagi Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang bermakna Muhammad ﷺ, Ahmad ﷺ, dan Mukhtar ﷺ.
Dalam suhuf Syu'aib, namanya adalah "Müşeffah" dengan makna Muhammad ﷺ. Dalam Taurat juga "Münhamenna" dengan makna Muhammad ﷺ, serta "Hımyata" dengan makna nabi Tanah Haram ﷺ; dalam Zabur ia disebut dengan nama "El-Muhtar". Dalam Taurat juga "El-Hâtemü'l-Hâtem",
serta dalam Taurat dan Zabur "Mukîmü's-Sünne"; dalam suhuf Ibrahim serta Taurat "Mazmaz"; dalam Taurat juga "Ahyed".
Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda
ﺍِﺳْﻤ۪ﻰ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻭَ ﻓِﻰ الْاِنْج۪يلِ ﺍَﺣْﻤَﺪُ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭٰﻳﺔِ ﺍَﺣْﻴَﺪُ
.
Dalam Injil, di antara nama Nabi ﷺ terdapat
ﺻﺎﺣﺐ ﺍﻟﻘﻀﻴﺐ ﻭﺍﻟﻬﺮﺍﻭﺓ
, yakni pemilik pedang dan tongkat. Ya, pemilik pedang yang terbesar di antara para nabi, yang ditugaskan berjihad bersama umatnya, adalah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.
Dalam Injil juga "Sahibü't-taç". Ya, gelar "Sahibü't-taç" khusus bagi Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Mahkota berarti amamah, yakni serban. Dahulu di antara bangsa-bangsa, kaum Arab yang secara umum sebagai bangsa memakai serban dan agal. Dalam Injil, "Sahibü't-taç" dengan pasti berarti "Rasul Yang Paling Mulia ﷺ".
Dalam Injil juga "El-Baraklit" atau "El-Faraklit", yang dalam tafsir Injil diberi makna "pencinta haq yang membedakan haq dan batil"; itulah nama tokoh yang kelak akan mengarahkan manusia kepada haq.
Pada suatu tempat dalam Injil, Isa aleyhisselâm berkata, "Aku akan pergi agar pemimpin dunia datang." Siapa selain Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang datang setelah Isa aleyhisselâm, akan menjadi pemimpin dunia, membedakan serta memisahkan haq dari batil, dan menggantikan Isa aleyhisselâm membimbing manusia? Jadi, Isa aleyhisselâm senantiasa memberi umatnya kabar gembira dan memberitahukan, "Seseorang akan datang, aku tidak lagi dibutuhkan. Aku pendahulu dan pembawa kabar gembira baginya." Sebagaimana ayat mulia berikut:
َﻭﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﻋ۪ﻴﺴَﻰ ﺍﺑْﻦُ ﻣَﺮْﻳَﻢَ ﻳَﺎ ﺑَﻨ۪ٓﻰ ﺍِﺳْﺮَٓﺍﺋ۪ﻴﻞَ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻣُﺼَﺪِّﻗًﺎ ﻟِﻤَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﻳَﺪَﻯَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭٰﻳﺔِ ﻭَﻣُﺒَﺸِّﺮًﺍ ﺑِﺮَﺳُﻮﻝٍ ﻳَﺎْﺗ۪ﻰ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِﻯ ﺍﺳْﻤُﻪُ ﺍَﺣْﻤَﺪُ
{(Catatan kaki):
ﺍُﻣَّﺘُﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤَّﺎﺩُﻭﻥَ
: Pengembara terkenal Evliya Çelebi membaca ayat berikut dalam Injil Mulia yang ditulis pada kulit kijang di makam Syam'un Safa. Ayat yang turun mengenai Rasul Yang Paling Mulia ﷺ: ﺍﻳﺘﻮﻥ Seorang anak laki-laki, ﺍﺯﺭﺑﻴﻮﻥ yakni akan berasal dari keturunan Ibrahim, ﭘﺮﻭﻓﺘﻮﻥ akan menjadi nabi ﷺ, ﻟﻮﻏﺴﻠﻴﻦ tidak akan berdusta, ﺑﻨﺖ ia ﺍﻓﺰﻭﻻﺕ akan lahir di Makkah, ﻛﻪ ﻛﺎﻟﻮﺷﻴﺮ akan datang dengan kesalehan, ﺗﻮﻧﻮﻣﻨﻴﻦ nama beliau yang diberkahi ﻣﻮﺍﻣﻴﺖ (Kata "Mevamit" ini diubah dari "Memed", dan "Memed" pun dari "Muhammed".)} adalah Ahmad Muhammad ﷺ. ﺍﺳﻔﺪﻭﺱ Para pengikutnya, ﺗﺎﻛﺮﺩﻳﺲ akan menjadi penguasa dunia ini. ﺑﻴﺴﺖ ﺑﻴﺚ ia juga akan menjadi penguasa alam yang lain.
}
Ya, dalam Injil Isa aleyhisselâm berkali-kali memberi kabar gembira kepada umatnya. Ia memberitahukan bahwa pemimpin terpenting manusia akan datang dan menyebut tokoh itu dengan beberapa nama. Nama-nama itu tentu Suryani dan Ibrani. Para peneliti telah melihatnya. Nama-nama itu bermakna "Ahmed, Muhammed, Farikun beyne'l-hakk-ı ve'l-bâtıl". Jadi, Isa aleyhisselâm berkali-kali memberi kabar gembira tentang Ahmad ﷺ.
Pertanyaan:
Jika engkau berkata, "Mengapa Isa aleyhisselâm lebih daripada setiap nabi memberi kabar gembira, sedangkan yang lain hanya memberitahukan dan bentuk kabar gembiranya sedikit?"
Jawaban:
Sebab, selain menyelamatkan Isa aleyhisselâm dari pendustaan dan fitnah orang Yahudi yang dahsyat serta agamanya dari perubahan dahsyat yang merusak, Ahmad ﷺ memiliki syariat luhur yang mudah, menyeluruh, dan dari segi hukum akan melengkapi kekurangan syariat Isa, sebagai ganti syariat berat Bani Israil yang tidak mengenal Isa aleyhisselâm. Karena itulah, Isa berkali-kali memberi kabar gembira, "Pemimpin Alam ﷺ datang!"
Dalam Taurat, Injil, Zabur, serta suhuf nabi lainnya, terdapat pembahasan yang amat penting dan banyak ayat tentang nabi ﷺ yang akan datang pada akhirnya, sebagaimana sebagian contohnya telah kami perlihatkan. Dalam kitab-kitab itu ia juga disebut dengan banyak nama.
Siapa mungkin selain Muhammad ﷺ, Nabi Akhir Zaman ﷺ, yang dalam seluruh kitab nabi dibahas begitu penting melalui ayat-ayat berulang? BAGIAN KEDUA dari irhasat dan dalil kenabian dimaksudkan sebagai berikut: Sebelum pengutusan Ahmad ﷺ, pada masa jeda kenabian, para peramal serta sebagian manusia yang pada waktu itu sampai taraf tertentu wali dan mengenal Allah سُبْحَانَهُ memberitahukan datangnya Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Mereka menyebarkan berita dan meninggalkannya kepada zaman mendatang melalui syair. Mereka banyak; kami akan menyebutkan sebagian yang terkenal, tersebar, serta dinukil dan diterima para ahli sirah serta sejarah. Di antaranya:
Seorang raja Yaman bernama Tubba melihat sifat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dalam kitab-kitab lama dan beriman. Ia mengumumkan syair berikut:
ﺷَﻬِﺪْﺕُ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺍَﻧَّﻪُ ﺭَﺳُﻮﻝٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑَﺎﺭِﻯ ﺍﻟﻨَّﺴَﻢِ ﻓَﻠَﻮْ ﻣُﺪَّ ﻋُﻤْﺮ۪ﻯ ﺍِﻟٰﻰ ﻋُﻤْﺮِﻩِ ﻟَﻜُﻨْﺖُ ﻭَﺯ۪ﻳﺮًﺍ ﻟَﻪُ ﻭَﺍﺑْﻦَ ﻋَﻢٍّ
Yakni, "Aku membenarkan kerasulan Ahmad ﷺ. Jika mencapai zamannya, aku akan menjadi wazir dan putra pamannya." Yakni, menjadi pelayan yang berkorban baginya seperti Ali.
Kedua: Quss bin Sa'idah yang terkenal, pengkhutbah kaum Arab paling terkenal dan penting, orang yang mengesakan Allah سُبْحَانَهُ serta berhati terang. Sebelum pengutusan Nabi ﷺ, ia pun mengumumkan kerasulan Ahmad ﷺ melalui syair ini:
ﺍَﺭْﺳَﻞَ ﻓ۪ﻴﻨَﺎ ﺍَﺣْﻤَﺪَ ﺧَﻴْﺮَ ﻧَﺒِﻰٍّ ﻗَﺪْ ﺑُﻌِﺚَ ٭ ﺻَﻠّٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺎ ﻋَﺞَّ ﻟَﻪُ ﺭَﻛْﺐٌ ﻭَ ﺣُﺚَّ
Ketiga: Ka'ab bin Lu'ay, salah seorang leluhur Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, mengumumkan kenabian Ahmad ﷺ sebagai hasil ilham demikian:
ﻋَﻠٰﻰ ﻏَﻔْﻠَﺔٍ ﻳَﺎْﺗِﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻓَﻴُﺨْﺒِﺮُ ﺍَﺧْﺒَﺎﺭًﺍ ﺻَﺪُﻭﻗًﺎ ﺧَﺒ۪ﻴﺮُﻫَﺎ
Yakni, "Tiba-tiba Muhammad sang Nabi ﷺ akan datang dan memberi berita benar."
Keempat: Saif bin Dzi Yazan, salah seorang raja Yaman, melihat sifat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dalam kitab terdahulu, beriman, dan merindukannya. Ketika Abdul Muthalib, kakek beliau, pergi ke Yaman bersama rombongan Quraisy, Saif bin Dzi Yazan memanggil mereka dan berkata
ﺍِﺫَﺍ ﻭُﻟِﺪَ ﺑِﺘِﻬَﺎﻣَﺔَ ﻭَﻟَﺪٌ ﺑَﻴْﻦَ ﻛَﺘْﻔَﻴْﻪِ ﺷَﺎﻣَﺔٌ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ الْاِمَامَةُ ﻭَﺍِﻧَّﻚَ ﻳَﺎ ﻋَﺒْﺪَ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ ﻟَﺠَﺪُّﻩُ
.
Yakni, "Seorang anak lahir di Hijaz. Di antara kedua bahunya terdapat tanda seperti cap. Anak itulah yang akan menjadi imam seluruh
manusia!" Kemudian ia memanggil Abdul Muthalib secara tersembunyi dan memberitahukan dengan cara karamah sebelum pengutusan Nabi ﷺ, "Engkaulah kakek anak itu."
Kelima: Waraqah bin Naufal, salah seorang putra paman Khadijah Al-Kubra dari pihak ayah: Pada permulaan wahyu Rasul Yang Paling Mulia ﷺ cemas. Khadijah Al-Kubra menceritakan peristiwa itu kepada Waraqah bin Naufal yang terkenal. Waraqah berkata, "Kirimlah ia kepadaku." Beliau pergi ke sisinya dan menceritakan keadaan pada permulaan wahyu. Waraqah berkata
ﺑَﺸِّﺮْ ﻳَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪُ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﺍﻟْﻤُﻨْﺘَﻈَﺮُ ﻭَﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﻚَ ﻋ۪ﻴﺴٰﻰ
.
Yakni, "Jangan cemas; keadaan itu wahyu. Kabar gembira bagimu! Engkau nabi ﷺ yang dinantikan! Isa telah memberi kabar gembira tentangmu."
Keenam: Seorang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ bernama Asqalan Al-Himyari, ketika melihat orang Quraisy sebelum pengutusan Nabi ﷺ, bertanya, "Apakah di antara kalian ada yang mengaku nabi?" Mereka berkata, "Tidak." Kemudian pada waktu pengutusan Nabi ﷺ ia bertanya lagi; mereka berkata, "Ya, seseorang mengaku nabi ﷺ." Ia berkata, "Dialah yang dinantikan alam."
Ketujuh: Ibnu Ala, salah seorang ulama Nasrani ternama, memberitahukan sebelum pengutusan Nabi ﷺ dan sebelum melihatnya. Kemudian ia datang, melihat Nabi ﷺ, dan berkata
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑَﻌَﺜَﻚَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻟَﻘَﺪْ ﻭَﺟَﺪْﺕُ ﺻِﻔَﺘَﻚَ ﻓِﻰ الْاِنْج۪يلِ ﻭَﺑَﺸَّﺮَ ﺑِﻚَ ﺍﺑْﻦُ ﺍﻟْﺒَﺘُﻮﻝِ
.
Yakni, "Aku melihat sifatmu dalam Injil dan beriman. Putra Maryam dalam Injil memberi kabar gembira bahwa engkau akan datang."
Kedelapan: Najasyi, raja Habasyah yang telah dibahas, berkata
ﻟَﻴْﺖَ ﻟ۪ﻰ ﺧِﺪْﻣَﺘَﻪُ بَدَلًا ﻋَﻦْ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺴَّﻠْﻄَﻨَﺔِ
, yakni "Seandainya sebagai ganti kerajaan ini aku menjadi pelayan Muhammad ﷺ, orang Arab itu. Pelayanan itu jauh di atas kerajaan."
Setelah orang-orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ dan memberitakan yang gaib melalui Ilham Rabb ini, para peramal yang memberitakan yang gaib melalui ruh serta jin juga dengan sangat jelas memberitahukan kedatangan dan kenabian Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Mereka banyak; kami akan menyebutkan beberapa yang terkenal, berada pada kedudukan tawatur maknawi, dan dinukil dalam sebagian besar sejarah serta sirah. Kisah dan perkataan mereka yang panjang kami serahkan kepada kitab sirah; kami hanya membahas secara ringkas.
Pertama: Peramal terkenal bernama Syiqq, yang memiliki satu mata, satu tangan, dan satu kaki, seakan-akan setengah manusia... Peramal ini, sebagaimana tercatat dalam sejarah dengan pasti pada derajat tawatur maknawi, memberitahukan kerasulan Ahmad ﷺ dan mengulanginya berkali-kali.
Kedua: Satih, peramal Syam yang terkenal, bertubuh tanpa tulang, seakan-akan tanpa anggota tubuh, wajah di dalam dadanya, keajaiban penciptaan, serta hidup amat lama. Berita gaibnya yang benar terkenal di antara manusia pada masa itu. Bahkan, Kisra, yakni raja Persia, mengirim utusan berilmu yang disebut Muyzan untuk bertanya kepada Satih mengenai mimpi aneh yang dilihatnya dan rahasia jatuhnya empat belas puncak dinding istana ketika kelahiran Ahmad ﷺ. Satih mengirim berita kepada Kisra dengan makna, "Empat belas orang akan memimpin di antara kalian, kemudian kerajaan kalian akan hancur. Seseorang akan datang dan memperlihatkan agama. Ia akan menghapus agama serta negara kalian!" Satih dengan jelas memberitahukan datangnya Nabi Akhir Zaman ﷺ.
Para peramal terkenal seperti Sawad bin Qarib Ad-Dausi, Hunafir, Af'asiyah Najran, Jizl bin Jizl Al-Kindi, Ibnu Khalasah Ad-Dausi, dan Fatimah binti Nu'man An-Najjariyah juga, sebagaimana dijelaskan secara terperinci dalam kitab sirah serta sejarah, memberitahukan bahwa Nabi Akhir Zaman ﷺ akan datang dan nabi itu Muhammad ﷺ.
Sa'ad bin binti Kuraiz, kerabat Utsman, juga melalui ramalan menerima berita gaib tentang kenabian Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Pada permulaan Islam ia berkata kepada Utsman Dzun-Nurain, "Pergilah dan berimanlah." Utsman datang serta beriman pada permulaan. Sa'ad menceritakan peristiwa itu melalui syair berikut:
ﻫَﺪَﻯ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋُﺜْﻤَﺎﻧًﺎ ﺑِﻘَﻮْﻟ۪ﻰ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﺑِﻬَﺎ ﺭُﺷْﺪُﻩُ ﻭَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﻬْﺪِﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺤَﻖِّ
Seperti para peramal, jin yang disebut hatif, yang dirinya tidak terlihat tetapi suaranya terdengar, juga berulang kali memberitahukan datangnya Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.
Di antaranya, hatif dari jin berseru demikian kepada Zayyab bin Harits dan menjadi sebab dirinya serta orang lain masuk Islam:
ﻳَﺎ ﺫَﻳَﺎﺏُ ﻳَﺎ ﺫَﻳَﺎﺏُ ﺍِﺳْﻤَﻊِ ﺍﻟْﻌَﺠَﺐَ ﺍﻟْﻌُﺠَﺎﺏَ ﺑُﻌِﺚَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺑِﺎﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﻤَﻜَّﺔَ فَلَا ﻳُﺠَﺎﺏُ
Hatif dari jin lainnya berseru demikian kepada Sami'ah bin Qarrah Al-Ghathafani dan membuat sebagian orang beriman:
ﺟَﺎﺀَ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﻓَﺴَﻄَﻊَ ﻭَ ﺩُﻣِّﺮَ ﺑَﺎﻃِﻞٌ ﻓَﺎﻧْﻘَﻤَﻊَ
Kabar gembira dan berita hatif-hatif ini amat terkenal serta banyak.
Sebagaimana para peramal dan hatif memberitahukan, berhala serta hewan yang dikurbankan bagi berhala juga memberitahukan kerasulan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.
Di antaranya, termasuk kisah terkenal bahwa berhala suku Mazin berseru dan berkata:
Dengan berkata
ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰُّ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻞُ ﺟَٓﺎﺀَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ
, ia memberitahukan kerasulan Ahmad ﷺ.
Peristiwa terkenal yang menjadi sebab Abbas bin Mirdas masuk Islam ialah: Ia memiliki berhala bernama Dimar. Suatu hari berhala bersuara demikian:
ﺍَﻭْﺩٰﻯ ﺿِﻤَﺎﺭُ ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻳُﻌْﺒَﺪُ ﻣُﺪَّﺓً ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﺒَﻴَﺎﻥِ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ
Yakni, "Sebelum Muhammad ﷺ datang aku disembah; sekarang penjelasan Muhammad ﷺ datang, kesesatan itu tidak dapat lagi terjadi."
Sebelum Islam, Umar mendengar demikian dari hewan yang dikurbankan bagi berhala:
ﻳَﺎ ﺍٰﻝَ ﺍﻟﺬَّﺑ۪ﻴﺢِ ﺍَﻣْﺮٌ ﻧَﺠ۪ﻴﺢٌ ﺭَﺟُﻞٌ ﻓَﺼ۪ﻴﺢٌ ﻳَﻘُﻮﻝُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Ada banyak peristiwa seperti contoh ini yang diterima serta dinukil kitab tepercaya.
Sebagaimana para peramal, orang yang mengenal Allah سُبْحَانَهُ, hatif, bahkan berhala serta hewan kurban memberitahukan kerasulan Ahmad ﷺ dan setiap peristiwa menjadi sebab sebagian orang beriman,
demikian pula pada sebagian batu, kubur, dan batu nisan ditemukan ungkapan seperti
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻣُﺼْﻠِﺢٌ ﺍَﻣِﻴﻦٌ
dengan tulisan kuno; melalui hal itu sebagian orang beriman.
Ya,
ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﻣُﺼْﻠِﺢٌ ﺍَﻣِﻴﻦٌ
yang ditemukan dengan tulisan kuno pada sebagian batu menunjuk kepada Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Sebab, sebelum beliau,
pada masa yang sangat dekat dengannya, hanya ada tujuh nama Muhammad, tidak ada yang lain. Ketujuh orang itu dari segi mana pun tidak layak bagi ungkapan "Muslih-i Emin". BAGIAN KETIGA dari irhasat adalah keajaiban serta peristiwa yang terjadi ketika kelahiran Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Peristiwa-peristiwa itu terjadi dengan berhubungan pada kelahirannya. Sebagian peristiwa sebelum pengutusan Nabi ﷺ pun langsung merupakan mukjizatnya. Semuanya banyak. Sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa yang terkenal, diterima para imam hadis, dan terbukti sahih:
Pertama: Cahaya besar yang pada malam kelahiran Nabi ﷺ dilihat ibunya, ibu Utsman bin As yang berada di sisi ibunya, serta ibu Abdurrahman bin Auf. Ketiganya berkata, "Pada waktu kelahirannya, kami melihat cahaya demikian terang sehingga menerangi timur dan barat bagi kami."
Kedua: Pada malam itu sebagian besar berhala Ka'bah jatuh dengan kepala ke bawah.
Ketiga: Balairung Kisra yang terkenal, yakni istananya yang terkenal, pada malam itu berguncang dan terbelah, serta empat belas puncak dinding istananya jatuh.
Keempat: Laut kecil Sawa yang disucikan tenggelam ke dalam tanah pada malam itu; api kaum Majusi di Istahr-Abad, yang selama seribu tahun selalu dinyalakan, menyala tanpa padam, dan dijadikan sesembahan, padam pada malam kelahiran.
Tiga atau empat peristiwa ini mengisyaratkan bahwa tokoh yang baru lahir akan menghapus penyembahan api, menghancurkan istana kerajaan Persia, dan melarang disucikannya segala sesuatu tanpa Izin Allah سُبْحَانَهُ.
Kelima: Meskipun bukan pada malam kelahiran, karena amat dekat dengan kelahiran, peristiwa ini juga irhasat Ahmad ﷺ, yaitu "Peristiwa Gajah" yang dijelaskan melalui nas pasti dalam Surah ﺍَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﻛَﻴْﻒَ. Raja Habasyah bernama Abrahah datang untuk menghancurkan Ka'bah dan maju dengan gajah amat besar bernama Gajah Mahmudi di depan. Ketika dekat Makkah, gajah tidak berjalan. Mereka tidak menemukan jalan penyelesaian dan berbalik. Burung-burung Ababil mengalahkan serta mengacaukan mereka; mereka melarikan diri. Kisah aneh ini terkenal secara terperinci dalam kitab sejarah.
Peristiwa ini termasuk dalil kenabian Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Sebab, pada waktu yang amat dekat dengan kelahirannya, Ka'bah yang mulia, kiblatnya,
tempat kelahirannya, dan tanah air yang dikasihinya, selamat dari penghancuran Abrahah melalui cara gaib serta luar biasa.
Keenam: Ketika Rasul Yang Paling Mulia ﷺ masih kecil dan berada di sisi Halimah As-Sa'diyah, menurut kesaksian Halimah serta suaminya, mereka sering melihat sepotong awan memberi naungan di atasnya agar tidak terganggu oleh matahari. Mereka memberitahukannya kepada orang-orang, dan peristiwa itu terkenal secara sahih.
Ketika beliau pergi ke arah Syam pada umur dua belas tahun, melalui kesaksian rahib Buhaira, ia melihat dan memperlihatkan sepotong awan memberi naungan di atas kepala Rasul Yang Paling Mulia ﷺ.
Sebelum pengutusan Nabi ﷺ, suatu kali ketika beliau kembali dari perdagangan bersama Maisarah, pelayan Khadijah Al-Kubra, Khadijah melihat dua malaikat di atas kepala beliau memberi naungan seperti awan. Ia memberitahukan kepada pelayannya, Maisarah. Maisarah pun berkata kepadanya, "Sepanjang perjalanan kami aku melihat demikian."
Ketujuh: Terbukti melalui nukilan sahih: Sebelum pengutusan Nabi ﷺ, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ duduk di bawah pohon. Tempat itu kering dan tiba-tiba menjadi hijau. Dahan pohon menunduk serta melengkung di atas kepalanya dan memberi naungan.
Kedelapan: Ketika kecil, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ tinggal di rumah Abu Thalib. Jika Abu Thalib bersama keluarga serta anak-anak makan bersama beliau, mereka kenyang. Setiap kali beliau tidak hadir saat makan, mereka tidak kenyang. Peristiwa ini terkenal dan pasti.
Ummu Aiman, yang merawat serta melayani beliau ketika kecil, juga berkata, "Rasul Yang Paling Mulia ﷺ tidak pernah mengeluhkan lapar atau haus, baik ketika kecil maupun besar."
Kesembilan: Banyaknya berkah dan bertambahnya harta serta susu kambing Halimah As-Sa'diyah, ibu susunya, berbeda dari sukunya. Peristiwa ini terkenal dan pasti.
Lalat pun tidak mengganggunya dan tidak hinggap pada tubuh yang diberkahi ataupun pakaiannya. Sebagaimana Sayyid Abdul Qadir Jailani (ks), salah seorang keturunannya, mewarisi keadaan itu dari leluhurnya; lalat tidak hinggap padanya pula.
Kesepuluh: Setelah Rasul Yang Paling Mulia ﷺ lahir ke dunia, khususnya pada malam kelahiran, jatuhnya bintang
bertambah banyak. Sebagaimana kami buktikan dengan pasti melalui hujah dalam Kalimat Kelima Belas, jatuhnya bintang ini merupakan tanda serta isyarat bahwa setan dan jin terputus dari berita gaib.
Karena Rasul Yang Paling Mulia ﷺ muncul ke dunia dengan wahyu, tentu berita yang tidak lengkap dan bercampur dusta dari para peramal, orang-orang yang memberitakan yang gaib, serta jin harus dihalangi, agar tidak menimbulkan keraguan terhadap wahyu dan tidak menyerupainya.
Ya, sebelum pengutusan Nabi ﷺ, ramalan banyak. Setelah Al-Qur'an turun, ia mengakhirinya. Bahkan, banyak peramal beriman, sebab tidak lagi menemukan pemberi berita mereka dari kelompok jin. Jadi, Al-Qur'an telah mengakhirinya.
Seperti peramal dahulu, sekarang pun suatu jenis ramalan muncul lagi di antara kaum spiritis Eropa dalam bentuk medium. Bagaimanapun...
Kesimpulannya:
Sebelum kenabian Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, telah tampak banyak peristiwa dan tokoh yang membuat kenabiannya dibenarkan serta membenarkannya.
Ya, seseorang yang akan menjadi pemimpin dunia secara maknawi {(Catatan kaki):
Ya, Sultan Levlâke Levlâk merupakan pemimpin yang kerajaannya berlangsung selama seribu tiga ratus lima puluh tahun. Setelah abad pertama, pada setiap abad ia memiliki setidaknya tiga ratus lima puluh juta pengikut serta rakyat. Ia membawa separuh bumi di bawah panjinya; dengan berserah sepenuhnya, para pengikut setiap hari memperbarui baiat melalui salawat serta salam dan menaati perintahnya.} dan mengubah rupa maknawi dunia, menjadikan dunia ladang akhirat, mengumumkan nilai makhluk dunia, menunjukkan jalan kebahagiaan abadi bagi jin serta manusia, menyelamatkan jin serta manusia fana agar tidak dilenyapkan selama-lamanya, membuka hikmah penciptaan, rahasia rumit, serta teka-teki dunia, mengetahui dan memberitahukan Tujuan Sang Khâliq kainat, serta mengenal-Nya dan memperkenalkan-Nya kepada semua, tentu sebelum ia datang setiap sesuatu, jenis, serta kelompok akan menyukai dan menantikan kedatangannya, menyambutnya dengan baik, dan bertepuk tangan. Jika suatu makhluk diberi tahu tentang kedatangannya oleh Sang Khâliq, makhluk itu pun akan memberitahukannya. Sebagaimana terlihat pada isyarat dan contoh terdahulu, setiap jenis makhluk seakan-akan menyambutnya dengan baik melalui memperlihatkan mukjizatnya; dengan bahasa mukjizat, mereka membenarkan kenabiannya.
ISYARAT KETUJUH BELAS
Mukjizat terbesar Rasul Yang Paling Mulia ﷺ setelah Al-Qur'an ialah dirinya sendiri. Yakni, akhlak luhur yang berkumpul padanya; kawan dan lawan sepakat bahwa dalam setiap sifat ia berada pada tingkatan tertinggi. Bahkan, Ali, pahlawan keberanian, berulang kali berkata, "Ketika perang menjadi dahsyat, kami mencari perlindungan dan berlindung di belakang Rasul Yang Paling Mulia ﷺ." Demikian seterusnya... Dalam seluruh akhlak terpuji ia memiliki derajat tertinggi yang tidak dapat dicapai. Mukjizat terbesar ini kami serahkan kepada Şifa-i Şerif karya ahli besar Magrib, Qadi Iyadh. Sungguh, ia telah menjelaskan serta membuktikan mukjizat akhlak terpuji itu dengan sangat baik.
Mukjizat Ahmad ﷺ yang amat besar dan dibenarkan kawan serta lawan juga ialah syariatnya yang besar; tidak pernah dan tidak akan datang padanannya. Penjelasan mukjizat terbesar ini sampai taraf tertentu kami serahkan kepada seluruh tulisan kami: tiga puluh tiga Kalimat, tiga puluh tiga Surat, tiga puluh satu Lem'a, serta tiga belas Şuâ.
Mukjizat besar Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang mutawatir dan pasti juga ialah terbelahnya bulan. Selain terbelahnya bulan diberitahukan dalam bentuk mutawatir melalui banyak jalur dari sahabat-sahabat besar seperti Ibnu Mas'ud, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Imam Ali, Anas, serta Hudzaifah, nas Al-Qur'an melalui ayat
ﺍِﻗْﺘَﺮَﺑَﺖِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔُ ﻭَ ﺍﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ
telah mengumumkan mukjizat besar itu kepada alam. Orang musyrik Quraisy yang keras kepala pada waktu itu tidak menanggapi berita ayat tersebut dengan pengingkaran; mereka hanya berkata, "Sihir." Jadi, bahkan menurut orang kafir, terbelahnya bulan pasti. Mukjizat besar ini kami serahkan kepada Şakk-ı Kamer Risalesi, yang kami tulis tentang terbelahnya bulan sebagai tambahan bagi Kalimat Ketiga Puluh Satu.
Sebagaimana Rasul Yang Paling Mulia ﷺ memperlihatkan mukjizat terbelahnya bulan kepada penghuni bumi, demikian pula beliau memperlihatkan mukjizat terbesar mikraj kepada penghuni langit. Mukjizat terbesar yang disebut mikraj ini kami serahkan kepada Mi'rac Risalesi (Risalah Mikraj), Kalimat Ketiga Puluh Satu. Sebab, risalah itu melalui hujah pasti membuktikan, bahkan terhadap para pengingkar, betapa mukjizat besar itu bercahaya, luhur, dan benar.
Kami hanya akan membahas perjalanan ke Baitulmaqdis, pendahuluan mukjizat mikraj, dan mukjizat yang terjadi pada pagi hari ketika kaum Quraisy meminta gambaran Baitulmaqdis. Sebagai berikut:
Pada pagi setelah malam mikraj, beliau memberitahukan mikrajnya kepada Quraisy. Quraisy mendustakan dan berkata, "Jika engkau pergi ke Baitulmaqdis, gambarkan kepada kami pintu, dinding, dan keadaannya!" Rasul Yang Paling Mulia ﷺ bersabda
ﻓَﻜَﺮَﺑْﺖُ ﻛَﺮْﺑًﺎ ﻟَﻢْ ﺍَﻛْﺮُﺏْ ﻣِﺜْﻠَﻪُ ﻗَﻂُّ ﻓَﺠَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟ۪ﻰ ﺑَﻴْﺖَ ﺍﻟْﻤَﻘْﺪِﺱِ ﻭَﻛَﺸَﻒَ ﺍﻟْﺤُﺠُﺐَ ﺑَﻴْﻨ۪ﻰ ﻭَﺑَﻴْﻨَﻪُ ﺣَﺘّٰﻰ ﺭَﺍَﻳْﺘُﻪُ ﻓَﻨَﻌَﺘُّﻪُ ﻭَ ﺍَﻧَﺎ ﺍَﻧْﻈُﺮُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ
.
Yakni, "Aku sangat tertekan oleh pendustaan dan pertanyaan mereka. Bahkan, aku belum pernah mengalami tekanan seperti itu. Tiba-tiba Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memperlihatkan Baitulmaqdis kepadaku; aku pun memandangnya dan menggambarkan segala sesuatu satu demi satu." Ketika itu Quraisy melihat bahwa beliau memberikan berita benar dan lengkap tentang Baitulmaqdis.
Beliau juga berkata kepada Quraisy, "Ketika berjalan di jalan, aku melihat rombongan kalian; besok rombongan itu akan datang pada waktu tertentu." Kemudian mereka menunggu rombongan pada waktu itu. Rombongan terlambat satu jam. Agar berita beliau benar, menurut pembenaran para peneliti, matahari berhenti satu jam. Yakni, untuk membuat perkataannya benar, bumi menghentikan tugas serta perjalanannya selama satu jam dan memperlihatkan penghentian itu melalui diamnya matahari.
Untuk membenarkan satu perkataan Muhammad ﷺ, orang Arab itu, bumi besar meninggalkan tugasnya dan matahari besar menjadi saksi. Pahamilah betapa malang orang yang tidak membenarkan tokoh seperti ini dan tidak menjalankan perintahnya, serta betapa bahagia orang yang membenarkannya dan berkata
ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺍَﻃَﻌْﻨَﺎ
terhadap perintahnya; katakan Elhamdülillahi ale'l-iman ve'l-İslâm.
ISYARAT KEDELAPAN BELAS
Mukjizat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang terbesar, kekal, menghimpun ratusan dalil kenabian, serta i'jaz-nya dibuktikan melalui empat puluh segi juga ialah Al-Qur'an Al-Hakîm.
Kalimat Kedua Puluh Lima, dalam sekitar seratus lima puluh halaman, menjelaskan dan membuktikan secara ringkas empat puluh segi i'jaz mukjizat terbesar ini. Maka, dengan menyerahkan mukjizat terbesar, gudang mukjizat ini, kepada Kalimat tersebut, kami hanya akan menjelaskan dua atau tiga butir hikmah. BUTIR HIKMAH PERTAMA:
Jika dikatakan:
I'jaz Al-Qur'an terdapat dalam balagah. Padahal, setiap lapisan manusia berhak memiliki bagian dari i'jaz-nya. Namun, hanya satu ulama peneliti di antara seribu yang dapat memahami i'jaz dalam balagah?
Jawaban:
Al-Qur'an Al-Hakîm memiliki suatu jenis i'jaz bagi setiap lapisan, dan melalui suatu cara membuat adanya i'jaz-nya terasa.
Misalnya, kepada lapisan ahli balagah dan kefasihan, ia memperlihatkan i'jaz dalam balagah yang luar biasa.
Kepada lapisan ahli syair serta pidato, ia memperlihatkan i'jaz gaya yang menakjubkan, indah, dan luhur. Meskipun gaya itu menyenangkan setiap orang, tidak seorang pun dapat menirunya. Berlalunya waktu tidak membuatnya tua; ia senantiasa muda dan segar. Ia prosa yang begitu teratur dan puisi dalam bentuk prosa, sekaligus luhur serta manis.
Kepada lapisan peramal serta orang-orang yang memberi berita gaib, ia memperlihatkan i'jaz berita-berita gaib yang luar biasa.
Kepada lapisan ahli sejarah serta para ahli peristiwa dunia, ia memperlihatkan i'jaz berita Al-Qur'an tentang peristiwa umat terdahulu serta keadaan dan peristiwa masa depan, barzakh, dan akhirat.
Kepada lapisan ahli ilmu sosial serta ahli politik, ia memperlihatkan i'jaz kaidah-kaidah suci Al-Qur'an. Ya, syariat besar yang keluar dari Al-Qur'an memperlihatkan rahasia i'jaz itu.
Kepada lapisan yang mendalami pengetahuan tentang Allah سُبْحَانَهُ serta hakikat makhluk, ia memperlihatkan i'jaz hakikat-hakikat Ilahi yang suci dalam Al-Qur'an atau membuat adanya i'jaz terasa.
Kepada ahli tarekat dan kewalian, Al-Qur'an memperlihatkan i'jaz dalam rahasia ayat-ayatnya yang senantiasa bergelombang seperti laut, dan seterusnya...
Kepada setiap lapisan dari empat puluh lapisan, ia membuka jendela serta memperlihatkan i'jaz-nya.
Bahkan, kepada lapisan awam yang hanya memiliki telinga dan memahami makna sampai taraf tertentu, orang yang memiliki telinga membenarkan bahwa melalui pembacaannya Al-Qur'an tidak menyerupai kitab lain. Orang awam itu berkata, "Salah satu kemungkinannya ialah bahwa Al-Qur'an ini berada di bawah seluruh kitab yang kami dengar. Hal ini tidak dapat dikatakan musuh mana pun dan seratus derajat mustahil. Maka, ia berada di atas seluruh kitab yang didengar. Maka, ia mukjizat." Untuk membantunya, kami akan menjelaskan sampai taraf tertentu i'jaz yang dipahami orang awam bertelinga ini. Sebagai berikut:
Ketika Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya muncul, ia menantang seluruh alam dan membangkitkan dua perasaan kuat dalam manusia:
Pertama: Perasaan meniru pada para pencintanya, yakni keinginan menyerupai gaya Al-Qur'an yang dikasihi serta perasaan berbicara seperti itu...
Kedua: Perasaan mengkritik dan menandingi pada musuh-musuhnya, yakni perasaan mematahkan pengakuan i'jaz dengan melawan gaya Al-Qur'an...
Melalui kedua perasaan kuat ini, jutaan kitab bahasa Arab telah ditulis dan tersedia. Sekarang, ketika yang paling tinggi balagahnya serta paling fasih dari semua kitab ini dibaca bersama Al-Qur'an, siapa pun yang mendengar pasti berkata bahwa Al-Qur'an tidak menyerupai satu pun. Jadi, Al-Qur'an tidak berada pada derajat seluruh kitab itu. Maka, tentu salah satu kemungkinannya ialah bahwa Al-Qur'an berada di bawah semuanya. Hal ini, selain seratus derajat mustahil, tidak dapat dikatakan siapa pun, bahkan setan. {(Catatan kaki):
Pembahasan Pertama yang penting pada Surat Kedua Puluh Enam merupakan catatan kaki serta penjelasan kalimat ini.} Maka, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya berada di atas seluruh kitab yang ditulis.
Bahkan, kepada lapisan orang tidak tahu dan awam yang tidak memahami makna pun, Al-Qur'an Al-Hakîm memperlihatkan i'jaz dengan tidak membuat bosan. Ya, orang awam yang tidak tahu itu berkata, "Jika mendengar bait paling indah dan terkenal dua atau tiga kali, aku bosan. Namun, Al-Qur'an ini sama sekali tidak membuat bosan; semakin lama, semakin aku senang mendengarnya. Maka, ini bukan perkataan manusia."
Kepada lapisan anak-anak yang berusaha menghafal, Al-Qur'an Al-Hakîm juga memperlihatkan i'jaz-nya: Meskipun anak-anak itu halus, lemah, sederhana, dan tidak dapat menjaga satu halaman kitab dalam hafalan, Al-Qur'an yang besar, dengan kemiripan ayat serta kalimat yang pada banyak tempat dapat menyebabkan tertukar dan kacau, menetap dengan kemudahan serta kelancaran sempurna dalam ingatan kepala kecil mereka.
Bahkan, bagi orang sakit dan yang berada dalam sakaratulmaut, yang terganggu oleh sedikit perkataan serta suara gaduh, senandung dan suara Al-Qur'an nikmat serta manis seperti air Zamzam; melalui segi ini ia membuat suatu jenis i'jaz terasa bagi mereka pula.
Kesimpulannya:
Kepada empat puluh lapisan berbeda serta orang yang berlainan, Al-Qur'an Al-Hakîm memperlihatkan i'jaz-nya melalui empat puluh segi atau membuat adanya i'jaz terasa. Ia tidak membiarkan siapa pun tanpa bagian.
Bahkan, bagi lapisan yang hanya memiliki mata {(Catatan kaki-1):
Segi i'jaz bagi lapisan yang hanya memiliki mata, tanpa telinga dan hati, di sini sangat ringkas, singkat, dan kurang lengkap. Namun, segi i'jaz ini diperlihatkan dengan amat cemerlang, bercahaya, jelas, serta terang dalam Surat Kedua Puluh Sembilan dan Ketiga Puluh (); bahkan orang buta dapat melihat. Kami membuat Al-Qur'an ditulis untuk memperlihatkan segi i'jaz itu. İnşâallah akan dicetak dan setiap orang melihat segi yang indah tersebut.
() Surat Ketiga Puluh telah dibayangkan dan diniatkan amat cemerlang, tetapi memberi tempatnya kepada yang lain, İşaratü'l-İ'caz. Ia sendiri tidak muncul.} tanpa telinga, hati, dan ilmu, Al-Qur'an pun memiliki suatu jenis tanda i'jaz. Sebagai berikut:
Kata-kata yang ditulis dalam Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, dengan tulisan serta cetakan Hâfız Osman, saling berhadapan.
Misalnya, jika lembaran dilubangi di bawah kata
ﻭَﺛَﺎﻣِﻨُﻬُﻢْ ﻛَﻠْﺒُﻬُﻢْ
dalam Surah Kahfi, kata ﻗِﻄْﻤ۪ﻴﺮٍ dalam Surah Fathir akan terlihat dengan sedikit pergeseran, dan nama anjing itu pun dapat dipahami.
Dalam Surah Yasin, dua kali ﻣُﺤْﻀَﺮُﻭﻥَ berada satu di atas yang lain; ﻣُﺤْﻀَﺮ۪ﻳﻦَ dan ﻣُﺤْﻀَﺮُﻭﻥَ dalam Surah Saffat saling berhadapan serta menghadap keduanya. Jika satu dilubangi, yang lain terlihat dengan sedikit pergeseran.
Misalnya, dua ﻣَﺜْﻨٰﻰ pada akhir Surah Saba dan awal Surah Fathir saling berhadapan. Dari hanya tiga ﻣَﺜْﻨٰﻰ dalam seluruh Al-Qur'an, dua saling berhadapan tidak mungkin kebetulan.
Banyak contoh seperti ini. Bahkan, satu kata pada lima atau enam tempat di balik lembaran-lembaran saling berhadapan dengan sedikit pergeseran.
Aku melihat Al-Qur'an yang kalimat-kalimat saling berhadapan pada dua halaman yang berhadapan ditulis dengan pena merah. Pada waktu itu aku berkata, "Keadaan ini
juga tanda suatu jenis mukjizat." Kemudian aku melihat banyak kalimat Al-Qur'an di balik beberapa lembaran saling berhadapan dengan penuh makna.
Karena susunan Al-Qur'an melalui bimbingan Nabi ﷺ, dan Al-Qur'an yang tersebar serta dicetak juga melalui Ilham Allah سُبْحَانَهُ, dalam ukiran serta tulisan Al-Qur'an Al-Hakîm terdapat isyarat suatu jenis tanda i'jaz. Sebab, keadaan itu bukan pekerjaan kebetulan dan bukan hasil pemikiran manusia. Namun, ada sedikit pergeseran karena kekurangan pencetakan; jika sepenuhnya teratur, kata-kata akan tepat bertumpuk.
Pada setiap halaman surah-surah sedang serta panjang Al-Qur'an yang turun di Madinah, "lafaz Allah" سُبْحَانَهُ berulang dengan cara amat indah. Umumnya lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, atau sebelas pengulangan menunjukkan hubungan angka yang indah dan penuh makna pada kedua sisi satu lembar serta halaman yang saling berhadapan. {(Catatan kaki 1:) Bagi ahli zikir dan munajat, selain memiliki banyak keistimewaan balagah yang mengarahkan pandangan kepadanya, lafaz Al-Qur'an yang berhias serta berima dan gayanya yang fasih serta berseni memberi kesungguhan luhur, ketenangan di hadirat Allah سُبْحَانَهُ, dan terpusatnya pikiran tanpa merusaknya. Padahal, keistimewaan kefasihan, seni lafaz, puisi, serta rima seperti itu biasanya merusak kesungguhan, memberi kesan gaya yang halus dan indah, mengganggu ketenangan itu, dan memencarkan pandangan.
Bahkan, aku sering membaca munajat Imam Syafi'i yang terkenal, yang paling lembut, paling sungguh-sungguh, paling luhur puisinya, serta menjadi sebab hilangnya paceklik dan mahalnya harga di Mesir. Aku melihat bahwa karena berbentuk puisi serta berima, ia mengganggu kesungguhan luhur munajat. Selama delapan atau sembilan tahun ia menjadi wiridku. Aku tidak dapat menggabungkan kesungguhan sejati dengan rima serta puisinya. Dari sana aku memahami bahwa dalam rima, susunan puisi, dan keistimewaan Al-Qur'an yang khusus, fitri, serta istimewa terdapat suatu jenis i'jaz yang menjaga kesungguhan sejati dan ketenangan yang sempurna tanpa merusaknya. Ahli munajat serta zikir, meskipun tidak memahami jenis i'jaz ini dengan akal, merasakannya dengan hati.
(Catatan kaki 2:) Rahasia maknawi i'jaz Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya ialah: Al-Qur'an mengungkapkan derajat iman yang amat besar dan cemerlang dari Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang menjadi tempat tampaknya Ismul A'zham.
Seperti peta suci, ia juga secara fitri mengungkapkan serta mengajarkan tingkatan luhur agama haq yang amat besar, luas, dan tinggi, yang menjelaskan hakikat luhur alam akhirat serta alam rububiyah.
Ia juga mengungkapkan Sapaan Sang Khâliq kainat, dari segi Dia sebagai Rabb seluruh makhluk, dengan Kemuliaan dan Keagungan-Nya yang tanpa batas. Menurut rahasia
ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ الْاِنْسُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫٰﺬَﺍ ﺍْﻟﻘُﺮْﺍٰﻥِ لَا ﻳَﺎْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪ۪
, meskipun seluruh akal manusia bersatu menjadi satu akal, tentu ia tidak dapat menghadapi atau menandingi ungkapan Al-Furqan seperti ini dan penjelasan Al-Qur'an dengan cara tersebut.
ﺍَﻳْﻦَ ﺍﻟﺜَّﺮَﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜُّﺮَﻳَّﺎ
Sebab, dari sudut pandang ketiga dasar ini, ia dengan pasti tidak dapat ditiru atau dibuat padanannya!
(Catatan kaki 3:) Pada akhir setiap halaman Al-Qur'an Al-Hakîm, ayat selesai dan penutup berakhir dengan rima indah. Rahasianya: Karena ayat terpanjang, Ayat Utang, dijadikan ukuran pembanding bagi halaman, serta Surah Ikhlas dan Kautsar bagi baris, keistimewaan indah dan tanda i'jaz Al-Qur'an ini terlihat.
(Catatan kaki 4:) Karena musibah terburu-buru, pembahasan bagian ini hanya memuat keadaan yang sangat sedikit dan kecil, contoh sangat singkat, serta tanda amat kecil dari karamah itu. Karamah tersebut sangat penting, agung, dan besar; dari segi keberhasilan Risale-i Nur, ia juga amat berhias, menyenangkan, dan membangkitkan semangat.
Padahal, hakikat besar dan karamah menyenangkan itu, dengan nama tawafuk melalui lima atau enam jenisnya, membentuk rangkaian karamah Risale-i Nur, kilau suatu jenis i'jaz Al-Qur'an yang terlihat mata, serta sumber isyarat tanda-tanda gaib. Kemudian dibuat Al-Qur'an bersepuh untuk memperlihatkan kilau i'jaz yang keluar dari tawafuk "lafaz Allah" سُبْحَانَهُ dalam Al-Qur'an. Delapan risalah kecil bernama Rumuzat-ı Semaniye juga disusun untuk menjelaskan hubungan yang halus serta isyarat gaib yang keluar dari tawafuk huruf-huruf Al-Qur'an. Lima risalah bernama Keramet-i Gavsiye, tiga Keramet-i Aleviye, serta İşarat-ı Kur'aniye ditulis pula, yang membenarkan, menghargai, dan memuji Risale-i Nur melalui rahasia tawafuk.
Jadi, ketika Mu'cizat-ı Ahmediye disusun, hakikat besar itu telah dirasakan secara ringkas. Namun, sayangnya, penulis hanya melihat serta memperlihatkan seujung kuku darinya, lalu berlari pergi tanpa memandang ke belakangnya.}
BUTIR HIKMAH KEDUA: Sebagaimana pada masa Musa aleyhisselâm sihir populer dan mukjizat pentingnya datang dengan bentuk yang menyerupainya, serta pada masa Isa aleyhisselâm ilmu kedokteran populer dan sebagian besar mukjizatnya dari jenis itu, demikian pula pada masa Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, empat hal paling populer di Jazirah Arab:
Pertama: Balagah dan kefasihan.
Kedua: Syair dan pidato.
Ketiga: Ramalan dan pemberitaan yang gaib.
Keempat: Mengetahui peristiwa masa lalu dan kejadian alam.
Ketika Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya datang, ia menantang pemilik keempat jenis pengetahuan ini:
Pertama-tama, ia sekaligus membuat ahli balagah berlutut. Mereka mendengarkan Al-Qur'an dengan takjub.
Kedua, kepada ahli syair serta pidato, yakni pembaca pidato teratur dan pengucap syair indah, ia menimbulkan rasa takjub demikian hebat sehingga membuat mereka terpana. Ia membuat mereka menurunkan syair paling indah yang ditulis dengan emas dan "Muallakat-ı Seb'a" yang terkenal, yang digantung pada dinding Ka'bah sebagai kebanggaan, serta menjatuhkan nilainya.
Ia juga membungkam para peramal yang memberitakan yang gaib dan para penyihir, membuat mereka melupakan berita gaib, mengusir jin mereka, serta mengakhiri ramalan.
Ia juga menyelamatkan orang yang mengetahui peristiwa umat terdahulu serta keadaan peristiwa dunia dari takhayul dan dusta, lalu mengajarkan kepada mereka peristiwa masa lalu yang nyata serta peristiwa dunia yang bercahaya.
Keempat lapisan ini berlutut di hadapan Al-Qur'an dengan rasa takjub dan hormat yang sempurna, lalu menjadi murid. Tidak seorang pun pernah mampu mengajukan satu surah untuk menandinginya.
Jika dikatakan:
Bagaimana kita mengetahui bahwa tidak seorang pun dapat menandingi dan bahwa menandingi tidak mungkin?
Jawaban:
Jika menandingi mungkin, tentu akan diusahakan, sebab kebutuhan untuk menandingi sangat kuat. Agama, harta, jiwa, serta keluarga mereka berada dalam bahaya. Jika dapat menandingi, mereka akan selamat. Jika menandingi mungkin, tentu mereka akan melakukannya. Jika ada tandingan, karena orang kafir dan munafik yang mendukung tandingan banyak, bahkan amat banyak, tentu akan muncul pendukungnya, berpegang padanya, dan menyebarkannya kepada setiap orang, sebagaimana mereka menyebarkan segala sesuatu yang melawan Islam. Jika menyebarkan dan ada tandingan, tentu hal itu akan tercatat dengan gemerlap dalam sejarah serta kitab.
Seluruh sejarah dan kitab tersedia; tidak satu pun memuat selain beberapa kalimat Musailamah Si Pendusta. Padahal, selama dua puluh tiga tahun Al-Qur'an Al-Hakîm terus menantang dengan cara yang mengusik dan menggerakkan sikap keras kepala. Ia berkata:
Buat dan perlihatkan padanan Al-Qur'an ini dari orang ummi seperti Muhammad Al-Amin ﷺ.
Jika kalian tidak dapat melakukannya, biarlah orang itu tidak ummi, melainkan sangat berilmu dan pandai menulis.
Jika ini pun tidak dapat kalian bawa, biarlah bukan satu orang; seluruh ulama serta ahli balagah kalian berkumpul dan saling menolong, bahkan sesembahan yang kalian andalkan menolong kalian.
Jika melalui ini pun kalian tidak dapat melakukannya, manfaatkan karya fasih yang ditulis dahulu, bahkan panggil pula orang yang akan datang untuk membantu; perlihatkan dan buatlah padanan Al-Qur'an.
Jika ini pun tidak dapat kalian lakukan, bawalah padanan hanya sepuluh surahnya, bukan seluruh Al-Qur'an.
Jika kalian tidak dapat membawa tandingan yang nyata dan benar bagi sepuluh surah, susunlah dari cerita serta kisah tanpa dasar. Bawalah hanya padanan susunan dan balagahnya.
Jika ini pun tidak dapat kalian lakukan, bawalah padanan satu surah saja.
Biarlah surah tidak panjang, melainkan pendek; bawalah padanannya. Jika tidak, agama, jiwa, harta, serta keluarga kalian akan berada dalam bahaya, di dunia maupun akhirat!
Melalui delapan tingkatan yang mematahkan penolakan, Al-Qur'an Al-Hakîm menantang dan terus menantang seluruh manusia serta jin, bukan dua puluh tiga tahun, melainkan seribu tiga ratus tahun. Padahal, dahulu orang-orang kafir menempatkan jiwa, harta, dan keluarga dalam bahaya, memilih jalan perang yang paling mengerikan, serta meninggalkan jalan menandingi yang paling mudah dan singkat. Jadi, jalan menandingi tidak mungkin.
Apakah orang berakal mana pun, khususnya orang Jazirah Arab pada masa itu dan orang cerdas seperti Quraisy, akan meninggalkan jalan singkat serta mudah—yakni membuat salah seorang sastrawannya menyusun padanan satu surah Al-Qur'an untuk menjamin keselamatan dari serangannya—lalu menempatkan jiwa, harta, dan keluarga dalam bahaya serta menempuh jalan tersulit?
Kesimpulannya,
sebagaimana dikatakan Jahiz yang terkenal, "Menandingi dengan huruf tidak mungkin; mereka terpaksa berperang dengan pedang."
Jika dikatakan:
Sebagian ulama peneliti berkata, "Bukan hanya satu surah Al-Qur'an, melainkan satu ayatnya, bahkan satu kalimatnya, bahkan satu katanya pun tidak dapat dan belum pernah ditandingi." Perkataan ini tampak berlebihan dan tidak diterima akal, sebab dalam perkataan manusia ada banyak kalimat yang menyerupai kalimat Al-Qur'an. Apa rahasia hikmah perkataan tersebut?
Jawaban:
Dalam i'jaz Al-Qur'an ada dua mazhab.
Mazhab yang dianut kebanyakan ulama dan yang lebih kuat ialah: Kehalusan balagah serta keistimewaan makna dalam Al-Qur'an berada di atas kemampuan manusia.
Mazhab kedua yang kurang kuat ialah: Menandingi satu surah Al-Qur'an berada dalam kemampuan manusia, tetapi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mencegahnya sebagai mukjizat Ahmad ﷺ. Seperti seseorang dapat berdiri, tetapi sebagai hasil mukjizat, jika nabi berkata, "Engkau tidak akan dapat berdiri!", dan ia tidak dapat berdiri, hal itu menjadi mukjizat. Mazhab yang kurang kuat ini disebut mazhab Sarfah. Yakni, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mencegah jin serta manusia agar tidak dapat menandingi satu surah Al-Qur'an. Seandainya Allah سُبْحَانَهُ tidak mencegahnya, jin serta manusia akan dapat menandingi satu surahnya.
Menurut mazhab ini, perkataan ulama yang berkata, "Satu katanya pun tidak dapat ditandingi," adalah hakikat. Sebab, karena Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mencegah mereka demi i'jaz, mereka tidak dapat membuka mulut untuk menandingi. Jika membuka pun, tanpa Izin Allah سُبْحَانَهُ mereka tidak dapat mengeluarkan kata.
Adapun menurut mazhab pertama yang lebih kuat dan dianut kebanyakan pun, pemikiran ulama itu memiliki segi halus sebagai berikut:
Kalimat serta kata Al-Qur'an Al-Hakîm saling memandang. Kadang-kadang satu kata mengarah kepada sepuluh tempat; di dalamnya terdapat sepuluh butir hikmah balagah dan sepuluh hubungan. Sebagaimana dalam tafsir bernama İşaratü'l-İ'caz, di dalam sebagian kalimat Fatihah serta kalimat-kalimat
ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪ۪
kami memperlihatkan beberapa contoh butir hikmah itu.
Misalnya, meletakkan satu batu yang menjadi simpul banyak ukiran berbeda dalam istana berhias, pada tempat yang mengarah kepada seluruh ukiran, menuntut pengetahuan tentang seluruh dinding beserta ukirannya.
Menempatkan pupil mata pada tempatnya di kepala manusia pun memerlukan pengetahuan tentang seluruh hubungan serta tugas menakjubkan tubuh, dan kedudukan mata terhadap tugas-tugas itu.
Demikian pula, sebagian ahli hakikat yang sangat maju memperlihatkan banyak hubungan dalam kata-kata Al-Qur'an serta segi dan kaitan yang mengarah kepada kalimat dalam ayat lainnya. Khususnya, ulama ilmu huruf melangkah lebih jauh, menjelaskan serta membuktikan kepada ahlinya rahasia sebanyak satu halaman dalam satu huruf Al-Qur'an. Selain itu, karena ia Firman Sang Khâliq segala sesuatu, setiap kata dapat berkedudukan sebagai jantung dan biji. Di sekelilingnya,
ia dapat menjadi jantung bagi tubuh maknawi yang tersusun dari rahasia, serta biji bagi pohon maknawi.
Dalam perkataan manusia mungkin terdapat kata, bahkan kalimat dan ayat seperti kata Al-Qur'an. Namun, pada tempat kata-kata Al-Qur'an diletakkan dengan cara yang mempertimbangkan banyak hubungan, diperlukan Ilmu Yang Meliputi segala sesuatu agar tepat pada tempatnya demikian. BUTIR HIKMAH KETIGA: Untuk uraian paling ringkas mengenai hakikat Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya, suatu waktu Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menganugerahkan kepada hatiku tafakur hakiki dengan ungkapan Arab. Sekarang kami menuliskan tafakur itu persis dalam bahasa Arab, kemudian menjelaskan maknanya. Inilah:
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺷَﻬِﺪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻪ۪ ﻭَﺻَﺮَّﺡَ ﺑِﺎَﻭْﺻَﺎﻑِ ﺟَﻤَﺎﻟِﻪ۪ وَجَلَالِه۪ ﻭَﻛَﻤَﺎﻟِﻪِ ﺍَﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﻤُﻨَﻮَّﺭُ ﺟِﻬَﺎﺗُﻪُ ﺍﻟﺴِّﺖُّ ﺍَﻟْﺤَﺎﻭ۪ﻯ ﻟِﺴِﺮِّ ﺍِﺟْﻤَﺎﻉِ ﻛُﻞِّ ﻛُﺘُﺐِ الْاَنْبِيَٓاءِ وَالْاَوْلِيَٓاءِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻮَﺣِّﺪ۪ﻳﻦَ ﺍﻟْﻤُﺨْﺘَﻠِﻔ۪ﻴﻦَ ﻓِﻰ الْاَعْصَارِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺸَﺎﺭِﺏِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴَﺎﻟِﻚِ ﺍﻟْﻤُﺘَّﻔِﻘ۪ﻴﻦَ ﺑِﻘُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻭَﻋُﻘُﻮﻟِﻬِﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻖِ ﺍَﺳَﺎﺳَﺎﺕِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَﻛُﻠِّﻴَّﺎﺕِ ﺍَﺣْﻜَﺎﻣِﻪ۪ ﻋَﻠٰﻰ ﻭَﺟْﻪِ الْاِجْمَالِ ﻭَﻫُﻮَ ﻣَﺤْﺾُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻰِ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰِﻝِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﻋَﻴْﻦُ ﺍﻟْﻬِﺪَﺍﻳَﺔِ ﺑِﺎﻟْﺒَﺪَﺍﻫَﺔِ ﻭَﻣَﻌْﺪَﻥُ ﺍَﻧْﻮَﺍﺭِ الْا۪يمَانِ ﺑِﺎﻟﻀَّﺮُﻭﺭَﺓِ ﻭَﻣَﺠْﻤَﻊُ ﺍﻟْﺤَﻘَٓﺎﺋِﻖِ ﺑِﺎﻟْﻴَﻘ۪ﻴﻦِ ﻭَﻣُﻮﺻِﻞٌ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻌَﺎﺩَﺓِ ﺑِﺎﻟْﻌَﻴَﺎﻥِ ﻭَﺫُﻭ الْاَثْمَارِ ﺍﻟْﻜَﺎﻣِﻠ۪ﻴﻦَ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَﻣَﻘْﺒُﻮﻝُ ﺍﻟْﻤَﻠَﻚِ وَالْاِنْسِ ﻭَﺍﻟْﺠَﺎﻥِّ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪْﺱِ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕِ ﻣِﻦْ ﺗَﻔَﺎﺭ۪ﻳﻖِ الْاَمَارَاتِ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆَﻳَّﺪُ بِالدَّلَٓائِلِ ﺍﻟْﻌَﻘْﻠِﻴَّﺔِ ﺑِﺎِﺗِّﻔَﺎﻕِ الْعُقَلَٓاءِ ﺍﻟْﻜَﺎﻣِﻠ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻕُ ﻣِﻦْ ﺟِﻬَﺔِ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮَﺓِ ﺍﻟﺴَّﻠ۪ﻴﻤَﺔِ ﺑِﺸَﻬَﺎﺩَﺓِ ﺍِﻃْﻤِﺌْﻨَﺎﻥِ ﺍﻟْﻮِﺟْﺪَﺍﻥِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰَﺓُ الْاَبَدِيَّةُ ﺍﻟْﺒَﺎﻗ۪ﻰ ﻭَﺟْﻪُ ﺍِﻋْﺠَﺎﺯِﻩ۪ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﺮِّ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥِ ﺑِﺎﻟْﻤُﺸَﺎﻫَﺪَﺓِ ﻭَﺍﻟْﻤُﻨْﺒَﺴِﻂُ ﺩَﺍﺋِﺮَﺓُ ﺍِﺭْﺷَﺎﺩِﻩ۪ ﻣِﻦَ اْلَمَـَلِا الْاَعْلٰٓى ﺍِﻟٰﻰ ﻣَﻜْﺘَﺐِ ﺍﻟﺼِّﺒْﻴَﺎﻥِ ﻳَﺴْﺘَﻔ۪ﻴﺪُ ﻣِﻦْ ﻋَﻴْﻦِ ﺩَﺭْﺱٍ ﺍَﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔُ ﻣَﻊَ ﺍﻟﺼَّﺒِﻴّ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ ﻫُﻮَ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮِ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖِ ﻳَﺮَﻯ الْاَشْيَٓاءَ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮﺡِ ﻭَﺍﻟﻈُّﻬُﻮﺭِ ﻭَﻳُﺤ۪ﻴﻂُ ﺑِﻬَﺎ ﻭَﻳُﻘَﻠِّﺐُ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢَ ﻓِﻰ ﻳَﺪِﻩ۪ ﻭَﻳُﻌَﺮِّﻓُﻪُ ﻟَﻨَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﻳُﻘَﻠِّﺐُ ﺻَﺎﻧِﻊُ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔِ ﺍﻟﺴَّﺎﻋَﺔَ ﻓ۪ﻰ ﻛَﻔِّﻪ۪ ﻭَﻳُﻌَﺮِّﻓُﻬَﺎ ﻟِﻠﻨَّﺎﺱِ ﻓَﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﺍﻟْﻌَﻈ۪ﻴﻢُ ﺍﻟﺸَّﺎﻥِ ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﻣُﻜَﺮَّﺭًﺍ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Terjemahan dan makna tafakur Arab tersebut ialah:
Yakni, keenam sisi Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya cemerlang serta bercahaya. Prasangka dan syubhat (keraguan) tidak dapat masuk. Sebab, belakangnya bersandar pada arasy; pada sisi itu ada cahaya wahyu. Di depan serta tujuannya ada kebahagiaan dunia dan akhirat. Ia menjangkau hidup yang kekal dan akhirat; terdapat cahaya surga serta kebahagiaan. Di atasnya cap i'jaz bersinar. Di bawahnya tiang hujah dan dalil. Dalamnya hidayah murni. Sisi kanannya, melalui اَفَلَا ﻳَﻌْﻘِﻠُﻮﻥَ, membuat akal berbicara dan berkata "Sadakte". Sisi kirinya, dengan memberi hati kenikmatan ruhani dan menjadikan nurani saksi, membuatnya berkata "Bârekellah". Dari sudut dan sisi mana pencuri prasangka serta syubhat dapat masuk ke Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya?
Ya, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menghimpun rahasia ijmak kitab-kitab nabi, wali, serta orang yang mengesakan Allah سُبْحَانَهُ, yang zaman, cara ruhani, dan jalannya berbeda. Yakni, seluruh ahli hati serta akal menyebut dan menerima asas-asas itu dalam kitab mereka dengan membenarkan ketetapan ringkas serta asas Al-Qur'an Al-Hakîm. Jadi, mereka berkedudukan sebagai akar pohon samawi Al-Qur'an.
Al-Qur'an Al-Hakîm bersandar pada wahyu dan merupakan wahyu. Sebab, Zat Dzul-Jalâl Yang Menurunkan Al-Qur'an menunjukkan serta membuktikan melalui mukjizat Ahmad ﷺ bahwa Al-Qur'an wahyu. Al-Qur'an yang turun pun, melalui i'jaz pada dirinya, menunjukkan bahwa ia datang dari arasy. Kecemasan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, penerima wahyu, pada permulaan wahyu; keadaannya yang tak sadar ketika wahyu turun; serta ikhlas dan hormatnya terhadap Al-Qur'an yang melampaui setiap orang, menunjukkan bahwa Al-Qur'an merupakan wahyu yang datang dari azali dan menjadi tamu beliau.
Al-Qur'an dengan jelas merupakan hidayah murni, sebab lawannya secara nyata terlihat sebagai kesesatan kufur. Al-Qur'an juga dengan pasti merupakan sumber cahaya iman. Tentu kebalikan cahaya iman adalah gelap. Dalam banyak Kalimat kami membuktikannya dengan pasti.
Al-Qur'an pasti merupakan tempat berkumpulnya hakikat. Khayal serta takhayul tidak dapat masuk. Melalui kesaksian alam Islam yang nyata yang dibentuknya, syariat mendasar yang diperlihatkannya, dan kesempurnaan luhur yang ditunjukkannya, ia membuktikan bahwa pembahasan mengenai alam gaib pun, seperti pembahasan alam yang terlihat, merupakan hakikat itu sendiri serta tidak mengandung pertentangan.
Al-Qur'an dengan nyata dan tanpa keraguan mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat dan mengarahkan manusia kepadanya. Siapa yang ragu, hendaknya sekali membaca serta mendengarkan Al-Qur'an; apa yang dikatakannya? Buah-buah Al-Qur'an sempurna dan hidup. Maka, akar pohon Al-Qur'an berada pada hakikat serta hidup. Sebab, kehidupan buah menunjukkan kehidupan pohon. Lihatlah betapa pada setiap zaman ia memberi banyak buah sempurna, matang, hidup, dan bercahaya seperti asfiya serta wali.
Melalui pemahaman intuitif dan keyakinan yang lahir dari tanda-tanda tersebar yang tak terhitung, Al-Qur'an diterima serta diinginkan manusia, jin, dan malaikat; ketika dibaca, mereka berkumpul di sekelilingnya dengan rindu seperti ngengat.
Selain merupakan wahyu, Al-Qur'an diteguhkan serta diperkuat melalui dalil akal. Ya, kesepakatan orang-orang berakal sempurna bersaksi bagi hal ini. Terutama ahli besar ilmu kalam dan para genius filsafat seperti Ibnu Sina serta Ibnu Rusyd, semuanya membuktikan asas Al-Qur'an melalui kaidah dan dalil mereka.
Al-Qur'an juga dibenarkan dari segi fitrah yang sehat. Jika tidak ada gangguan atau penyakit, setiap fitrah sehat membenarkannya. Sebab, ketenteraman nurani dan kenyamanan hati terjadi melalui cahayanya. Jadi, melalui kesaksian ketenteraman nurani, fitrah sehat membenarkannya. Ya, melalui bahasa keadaannya fitrah berkata kepada Al-Qur'an, "Kesempurnaan fitrah kami tidak dapat terjadi tanpamu!" Kami membuktikan hakikat ini di banyak tempat.
Al-Qur'an, secara nyata disaksikan dan dengan jelas, merupakan mukjizat yang kekal serta terus ada. Setiap waktu ia memperlihatkan i'jaz. Ia tidak padam seperti mukjizat lain, waktunya tidak habis, dan ia kekal.
Dalam derajat bimbingan Al-Qur'an terdapat keluasan demikian, sehingga dalam satu pelajaran Jibril (as) berdampingan dengan anak yang baru tumbuh dan mendengarkan
pelajaran itu; mereka memperoleh bagian masing-masing. Filsuf paling genius seperti Ibnu Sina pun duduk berdampingan dengan pembaca paling awam, membaca pelajaran yang sama dan memperoleh pelajarannya. Bahkan, kadang-kadang orang awam itu dari segi kekuatan serta kemurnian iman memperoleh manfaat lebih banyak daripada Ibnu Sina.
Di dalam Al-Qur'an terdapat mata yang melihat serta meliputi seluruh kainat, menjaga kainat di hadapan mata seperti halaman kitab, dan menjelaskan lapisan serta alamnya. Sebagaimana pembuat jam memutar, membuka, memperlihatkan, dan menggambarkan jamnya, Al-Qur'an memegang kainat di tangannya dan melakukan demikian. Al-Qur'an Yang Agung seperti inilah yang berkata
ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
dan mengumumkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍﺟْﻌَﻞِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥَ ﻟَﻨَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻗَﺮ۪ﻳﻨًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﻣُﻮﻧِﺴًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺷَﻔ۪ﻴﻌًﺎ ﻭَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﻧُﻮﺭًﺍ ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﺳِﺘْﺮًﺍ ﻭَ ﺣِﺠَﺎﺑًﺎ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ ﺭَﻓ۪ﻴﻘًﺎ ﻭَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ﻛُﻠِّﻬَﺎ دَل۪يلًا ﻭَ ﺍِﻣَﺎﻣًﺎ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻧَﻮِّﺭْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻭَ ﻗُﺒُﻮﺭَﻧَﺎ ﺑِﻨُﻮﺭِ الْا۪يمَانِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﻭَ ﻧَﻮِّﺭْ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑِﺤَﻖِّ ﻭَ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺔِ ﻣَﻦْ ﺍُﻧْﺰِﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪِ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟْﺤَﻨَّﺎﻥِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
ISYARAT KESEMBILAN BELAS DENGAN BUTIR HIKMAH
Dalam isyarat terdahulu telah dibuktikan dengan sangat pasti dan tanpa keraguan bahwa Rasul Yang Paling Mulia ﷺ adalah rasul Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Muhammad ﷺ, orang Arab itu, yang kerasulannya terbukti melalui ribuan dalil pasti, merupakan dalil paling cemerlang dan hujah paling pasti bagi Keesaan Allah سُبْحَانَهُ serta kebahagiaan abadi.
Dalam isyarat ini, melalui uraian paling ringkas kami memberikan gambaran kecil mengenai dalil yang terang dan cemerlang serta hujah yang berbicara benar itu. Sebab, karena ia dalil dan hasilnya makrifat Allah سُبْحَانَهُ, tentu dalil harus dikenal dan segi yang ditunjukkannya diketahui. Maka, melalui uraian sangat singkat kami pun menjelaskan segi petunjuk serta kesahihannya. Sebagai berikut:
Sebagaimana makhluk kainat ini menunjukkan adanya serta Keesaan Sang Khâliq kainat, diri Rasul Yang Paling Mulia ﷺ sendiri menunjukkannya; dengan lisannya ia mengumumkan petunjuk dirinya bersama petunjuk seluruh makhluk. Karena ia dalil, melalui lima belas dasar kami menunjukkan hujahnya, sifatnya yang lurus, kebenarannya, serta kesesuaiannya dengan haq:
Dasar Pertama: Dalil yang menunjukkan Sang Pembuat kainat melalui diri, lisan, petunjuk keadaan, serta perkataannya ini dibenarkan oleh hakikat kainat dan benar. Sebab, petunjuk seluruh makhluk kepada Keesaan Allah سُبْحَانَهُ tentu berkedudukan sebagai pembenaran terhadap tokoh yang menyatakan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ. Jadi, pengakuan yang dikatakannya pun dibenarkan seluruh kainat.
Keesaan Allah سُبْحَانَهُ yang dijelaskannya merupakan kesempurnaan mutlak, dan kebahagiaan abadi yang dijelaskannya merupakan kebaikan mutlak. Keduanya sesuai serta cocok dengan keindahan dan kesempurnaan seluruh hakikat alam. Karena itu, tentu ia benar dalam pengakuannya.
Jadi, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ adalah hujah yang berbicara, benar, dan dibenarkan bagi Keesaan Allah سُبْحَانَهُ serta kebahagiaan abadi.
Dasar Kedua: Karena dalil yang benar dan dibenarkan itu memiliki ribuan mukjizat melampaui seluruh nabi, syariat yang tidak dihapus berlakunya, serta seruan yang meliputi seluruh jin dan manusia, tentu ia pemimpin semua nabi. Maka, ia menghimpun rahasia mukjizat serta kesepakatan seluruh nabi. Jadi, kekuatan ijmak semua nabi dan kesaksian mukjizat mereka menjadi titik sandaran bagi kebenaran serta kesesuaiannya dengan haq.
Ia juga sultan dan guru seluruh wali serta asfiya yang mencapai kesempurnaan melalui pendidikan, bimbingan, dan cahaya syariatnya. Maka, ia menghimpun rahasia karamah, pembenaran yang bersifat ijmak, serta kekuatan penelitian mereka. Sebab, mereka menempuh jalan yang dibuka gurunya dan pintunya dibiarkan terbuka, lalu menemukan hakikat. Maka, seluruh karamah, penelitian, dan ijmak mereka menjadi titik sandaran bagi kebenaran serta kesesuaian guru suci mereka dengan haq.
Sebagaimana terlihat pada isyarat terdahulu, hujah Keesaan Allah سُبْحَانَهُ itu memiliki mukjizat yang begitu pasti, meyakinkan, dan terang, irhasat luar biasa, serta dalil kenabian tanpa keraguan yang membenarkan beliau demikian kuat, sehingga jika kainat berkumpul, ia tidak dapat membatalkan pembenaran mereka!
Dasar Ketiga: Penyeru Keesaan Allah سُبْحَانَهُ dan pembawa kabar gembira kebahagiaan abadi yang memiliki mukjizat terang itu mempunyai akhlak begitu luhur dalam dirinya yang diberkahi, watak begitu tinggi dalam tugas kerasulan, dan sifat-sifat begitu
berharga dalam syariat serta agama yang disampaikannya, sehingga bahkan musuh paling keras membenarkan dan tidak menemukan ruang untuk mengingkari. Karena dalam diri, tugas, serta agamanya terdapat akhlak tertinggi dan terindah, watak paling luhur dan sempurna, serta sifat paling berharga dan diterima, tentu ia contoh, wakil, gambaran, dan guru kesempurnaan serta akhlak luhur pada makhluk.
Maka, kesempurnaan dalam diri, tugas, serta agamanya merupakan titik sandaran yang begitu kuat bagi kesesuaiannya dengan haq dan kebenarannya, sehingga tidak terguncang dari segi mana pun.
Dasar Keempat: Penyeru Keesaan Allah سُبْحَانَهُ serta kebahagiaan, sumber kesempurnaan dan pengajar akhlak luhur itu tidak berkata dari dirinya sendiri, melainkan dibuat berbicara. Ya, ia dibuat berbicara oleh Sang Khâliq kainat. Ia menerima pelajaran dari Sang Guru Azali, kemudian mengajarkannya. Sebab, melalui ribuan dalil kenabian yang sebagian dijelaskan dalam isyarat terdahulu, dengan Menciptakan seluruh mukjizat itu melalui tangannya, Sang Khâliq kainat menunjukkan bahwa ia berbicara atas nama-Nya dan menyampaikan Firman-Nya.
Al-Qur'an yang datang kepadanya, melalui empat puluh segi i'jaz di dalam serta luarnya, menunjukkan bahwa ia penjelas Firman Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Dalam dirinya, seluruh ikhlas, takwa, kesungguhan, amanah, serta semua keadaan dan sikapnya menunjukkan bahwa ia tidak berkata atas nama sendiri atau dari pikirannya, tetapi berbicara atas nama Khâliq-nya.
Seluruh ahli hakikat yang mendengarkannya melalui kasyaf serta penelitian membenarkan dan beriman dengan ilmulyaqin bahwa ia tidak berbicara sendiri; sebaliknya, Sang Khâliq kainat membuatnya berbicara, memberinya pelajaran, dan membuat pelajaran disampaikan melalui beliau.
Maka, kebenaran serta kesesuaiannya dengan haq bersandar pada ijmak keempat dasar yang sangat kuat ini.
Dasar Kelima: Penjelas Firman Azali itu melihat ruh, berbincang dengan malaikat, serta membimbing jin dan manusia. Ia menerima pelajaran bukan hanya di atas alam manusia serta jin, melainkan juga di atas alam ruh dan malaikat. Ia memiliki hubungan serta pengetahuan tentang yang di baliknya. Mukjizat terdahulu dan perjalanan hidupnya yang pasti melalui tawatur membuktikan hakikat ini.
Maka, berbeda dari para peramal serta pemberita gaib lainnya, dalam beritanya bukan jin, ruh, atau malaikat yang dapat ikut campur; bahkan para malaikat yang didekatkan, selain Jibril, pun tidak dapat. Kadang-kadang ia bahkan meninggalkan Jibril, yang pada kebanyakan waktu menjadi sahabatnya, di belakang.
Dasar Keenam: Tokoh yang menjadi pemimpin malaikat, jin, dan manusia itu merupakan buah paling bercahaya serta sempurna dari pohon kainat ini, gambaran Rahmat Allah سُبْحَانَهُ, contoh Kecintaan Rabb, hujah Allah سُبْحَانَهُ paling bercahaya, pelita hakikat paling cemerlang, kunci rahasia kainat, penyingkap teka-teki penciptaan, penjelas hikmah alam, penyeru Kerajaan Allah سُبْحَانَهُ, serta yang menggambarkan keindahan Seni Rabb. Dari segi bakatnya yang meliputi banyak hal, beliau adalah contoh paling sempurna kesempurnaan pada makhluk.
Maka, sifat serta pribadi maknawi beliau menunjukkan, bahkan memperlihatkan, bahwa ia tujuan yang menjadi sebab kainat. Yakni, Sang Khâliq kainat memandang beliau dan Menciptakan kainat. Dapat dikatakan bahwa seandainya Dia tidak menciptakan beliau, Dia juga tidak akan menciptakan kainat. Ya, hakikat Al-Qur'an serta cahaya iman yang dibawanya kepada jin dan manusia, juga akhlak luhur serta kesempurnaan tinggi yang terlihat pada dirinya, merupakan saksi yang menentukan bagi hakikat ini.
Dasar Ketujuh: Hujah Allah سُبْحَانَهُ dan pelita hakikat itu memperlihatkan agama serta syariat yang menghimpun kaidah untuk menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat. Selain menghimpunnya, ia menjelaskan hakikat dan tugas kainat serta Asma dan Sifat Sang Khâliq kainat dengan sepenuhnya sesuai haq.
Islam dan syariat itu begitu menyeluruh serta sempurna, dan menggambarkan kainat bersama Sang Khâliq-nya dengan cara demikian, sehingga orang yang memperhatikan hakikatnya tentu memahami bahwa agama itu pernyataan serta gambaran dari Zat Yang Membuat kainat indah ini, untuk menggambarkan kainat bersama diri-Nya.
Sebagaimana pembuat istana menyusun gambaran yang sesuai dengannya, dan menulis gambaran untuk memperlihatkan diri melalui sifatnya, demikian pula dalam agama serta syariat Muhammad ﷺ terlihat cakupan, kemuliaan, dan kesesuaian dengan haq yang menunjukkan bahwa ia keluar dari Pena Zat Yang Menciptakan serta Mengatur kainat. Siapa yang mengatur kainat dengan indah, Dia pula yang mengatur agama ini dengan indah. Ya, keteraturan yang paling sempurna itu tentu menginginkan susunan yang paling indah ini.
Dasar Kedelapan: Muhammad ﷺ, orang Arab itu, yang memiliki sifat-sifat tersebut dan bersandar pada titik-titik sandaran kuat yang tidak terguncang dari segi mana pun, menghadap alam yang terlihat atas nama alam gaib, mengumumkan di atas kepala jin serta manusia, dan menyapa kaum serta bangsa di balik zaman-zaman yang akan datang. Ia menyerukan panggilan yang diperdengarkan kepada seluruh jin serta manusia, semua tempat, dan semua zaman. Ya, kami mendengar!
Dasar Kesembilan: Ia menyapa dengan begitu tinggi dan kuat, sehingga seluruh zaman mendengarkannya. Ya, setiap zaman mendengar gema suaranya.
Dasar Kesepuluh: Dalam tindakannya terlihat bahwa ia memberitakan apa yang dilihatnya. Sebab, pada waktu paling berbahaya ia berkata dengan keteguhan sempurna, tanpa ragu atau cemas. Kadang-kadang sendirian ia menantang dunia.
Dasar Kesebelas: Dengan seluruh kekuatan ia mengundang serta memanggil demikian kuat, sehingga terhadap suaranya separuh bumi dan seperlima umat manusia berkata "Lebbeyk", serta ia membuat mereka mengucapkan
ﺳَﻤِﻌْﻨَﺎ ﻭَﺍَﻃَﻌْﻨَﺎ
.
Dasar Kedua Belas: Ia mengundang dengan kesungguhan dan mendidik dengan dasar demikian kukuh, sehingga mengukir kaidahnya pada dahi zaman serta batu berbagai penjuru, dan membuatnya terus ada pada wajah masa.
Dasar Ketiga Belas: Dengan kepercayaan serta keyakinan yang begitu kuat terhadap kukuhnya hukum yang disampaikannya, ia berbicara dan mengundang; jika dunia berkumpul, ia tidak dapat membuat beliau mundur dari satu hukum atau menyesal. Seluruh riwayat hidup serta sirahnya yang mulia bersaksi bagi hal ini.
Dasar Keempat Belas: Ia mengundang serta menyampaikan dengan ketenteraman dan kepercayaan demikian besar, sehingga tidak berutang budi kepada siapa pun dan tidak cemas menghadapi kesulitan apa pun. Tanpa ragu, dengan ketulusan serta kemurnian sempurna, sebelum siapa pun ia sendiri menjalankan dan menerima, lalu mengumumkan hukum yang dibawanya. Saksi bagi hal ini ialah zuhudnya yang terkenal, sikapnya tidak membutuhkan pemberian orang, dan tidak merendahkan diri kepada hiasan fana dunia, yang diketahui setiap orang, kawan maupun lawan.
Dasar Kelima Belas: Ketaatannya kepada agama yang dibawa lebih daripada setiap orang, ubudiyahnya kepada Khâliq-nya lebih daripada setiap orang, serta takwanya terhadap larangan lebih daripada setiap orang, menunjukkan dengan pasti bahwa ia penyampai dan utusan Sang Sultan Azali dan Kekal, hamba paling tulus Sang Ma'bûd Yang Hakiki, serta penjelas Firman Azali.
Hasil kelima belas dasar ini ialah: Tokoh yang memiliki sifat-sifat tersebut, dengan seluruh kekuatan, sepanjang hidup berulang kali dan terus-menerus berkata
ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
serta mengumumkan Keesaan Allah سُبْحَانَهُ.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻋَﺪَﺩَ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕِ ﺍُﻣَّﺘِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ
IKRAM DARI ALLAH سُبْحَانَهُ DAN HASIL PERTOLONGAN RABB
Dengan harapan menjadi contoh nyata dari kandungan
ﻭَ ﺍَﻣَّﺎ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺤَﺪِّﺙْ
, kami berkata: Aku akan menyebutkan hasil Pertolongan serta Rahmat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dalam penyusunan risalah ini, agar pembacanya memandangnya dengan penuh perhatian.
Menulis risalah ini sama sekali tidak berada dalam hatiku, sebab Kalimat Ketiga Puluh Satu dan Kesembilan Belas tentang kerasulan Ahmad ﷺ telah ditulis. Tiba-tiba pikiran yang memaksa untuk menulis risalah ini datang ke hati. Daya ingatku telah padam akibat musibah. Dalam caraku dan karya yang kutulis, aku tidak menempuh jalan nukilan, dengan cara "Kāle-Kıyle". Kitab hadis dan sirah pun tidak ada di sisiku. Namun, dengan berkata "Tevekkeltü alallah", aku memulai.
Keberhasilan terjadi demikian, sehingga ingatanku membantu lebih daripada daya ingat Said Lama. Setiap dua atau tiga jam, tiga puluh atau empat puluh halaman ditulis dengan cepat. Dalam satu jam saja lima belas halaman ditulis. Sebagian besar dinukil dari kitab seperti Bukhari, Muslim, Baihaqi, Tirmizi, Şifa-i Şerif, Abu Nu'aim, dan Thabari. Padahal, karena nukilan ini hadis, jika ada kekeliruan mestilah menjadi dosa; karena itu hatiku gemetar. Namun, dipahami bahwa ada pertolongan dan risalah ini dibutuhkan. İnşâallah ditulis dengan sahih. Jika ada kekeliruan pada sebagian lafaz hadis atau nama perawi, aku meminta saudara-saudaraku memperbaikinya dan memandang dengan tenggang rasa.
Said Nursî
Ya, kami menulis draf, sementara guru kami mengucapkannya. Sama sekali tidak ada kitab di sisinya dan ia tidak merujuk apa pun. Tiba-tiba ia berbicara dengan sangat cepat, dan kami menulis. Dalam dua atau tiga jam kami menulis tiga puluh, empat puluh, bahkan lebih banyak halaman. Kami pun memperoleh keyakinan bahwa keberhasilan ini merupakan karamah mukjizat Nabi ﷺ.
Pelayan tetapnya: Abdullah Çavuş
Pelayan dan penulis drafnya: Süleyman Sami
Penulis draf dan saudara akhiratnya: Hâfız Hâlid
Penulis draf dan salinan bersih: Hâfız Tevfik
TAMBAHAN PERTAMA MU'CİZAT-I AHMEDİYE
Karena Kalimat Kesembilan Belas tentang kerasulan Ahmad ﷺ dan tambahannya tentang mukjizat terbelahnya bulan, sesuai dengan bagian ini keduanya ditempatkan di sini.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ
Tetesan Pertama dari Lem'a Keempat Belas yang memuat empat belas tetesan: Ada tiga sumber pengenalan yang besar dan menyeluruh, yang memperkenalkan Rabb kita kepada kita.
Salah satunya: Kitab kainat ini; sebagian kesaksiannya telah kami dengar melalui tiga belas lem'a dari Pelajaran Ketiga Belas risalah Nur.