Risalah Nur — Bahasa Indonesia

CATATAN KAKI BAGI SATU BUTIR TENTANG SIFAT BERMUKJIZAT MENGENAI SURAH INI:

Zulfikar · Bahasa Indonesia

CATATAN KAKI BAGI SATU BUTIR TENTANG SIFAT BERMUKJIZAT MENGENAI SURAH INI:

Sebagaimana surah ini, melalui empat dari lima kalimatnya, mengarah dengan makna isyarat kepada empat pergolakan serta badai besar yang buruk dalam abad kita; demikian pula, melalui kata ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّ yang diulang empat kali—syaddah tidak dihitung—ia mengarah serta menunjuk empat kali, dengan makna isyarat dan nilai perhitungan jafr, kepada abad terjadinya fitnah Cengiz dan Hülâgu yang paling dahsyat bagi dunia Islam, serta masa runtuhnya negara Abbasiyah.

Ya, ﺷَﺮِّ tanpa syaddah menghasilkan lima ratus (500); ﻣِﻦْ bernilai sembilan puluh (90). Banyak ayat yang mengarah kepada masa depan menunjuk kepada abad kita maupun abad-abad tersebut. Demikian pula, Imam Ali (ra) dan Ghauts Yang Agung (ks), yang memberi kabar tentang masa depan, mengarah serta memberi kabar kepada abad kita maupun abad tersebut. Kata-kata

ﻏَﺎﺳِﻖٍ ﺍِﺫَﺍ ﻭَﻗَﺐَ

tidak mengarah kepada masa ini; justru ﻏَﺎﺳِﻖٍ menghasilkan seribu seratus enam puluh satu (1161), dan ﺍِﺫَﺍ ﻭَﻗَﺐَ menghasilkan delapan ratus sepuluh (810), sehingga menunjuk kepada keburukan jasmani dan maknawi yang penting pada masa-masa itu.

Jika keduanya digabungkan, hasilnya seribu sembilan ratus tujuh puluh satu (1971) Masehi. Ia memberi kabar tentang keburukan dahsyat pada tanggal itu. Jika hasil benih-benih sekarang tidak diperbaiki, dua puluh tahun kemudian pukulannya tentu akan dahsyat.

LAMPIRAN BAGI CATATAN KAKI PERSOALAN KESEBELAS

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴﻢِ

Sebagai pelengkap Ayat Kursi,

لَا ﺍِﻛْﺮَﺍﻩَ ﻓِﻰ ﴾ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻗَﺪْ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪُ﴿ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻰِّ

seribu tiga ratus lima puluh (1350)

ﻓَﻤَﻦْ ﻳَﻜْﻔُﺮْ ﺑِﺎﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕِ

seribu sembilan ratus dua puluh sembilan (1929) atau (1928)

ﻭَﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ

sembilan ratus empat puluh enam (946), sesuai dengan nama Risaletü'n-Nur

ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘٰﻰ

(1347)

لَا ﺍﻧْﻔِﺼَﺎﻡَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺳَﻤِﻴﻊٌ ﻋَﻠِﻴﻢٌ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﴾ﻭَﻟِﻰُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ﴿

, jika digabungkan, seribu dua belas (1012); jika tidak digabungkan, sembilan ratus empat puluh lima (945) (satu syaddah tidak dihitung)

ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﴾ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ﴿ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ

seribu tiga ratus tujuh puluh dua (1372) (tanpa syaddah)

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺅُﻫُﻢُ ﴾ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕُ﴿

seribu empat ratus tujuh belas (1417)

﴾ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍِﻟَﻰ﴿ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ

seribu tiga ratus tiga puluh delapan (1338) (syaddah tidak dihitung)

ﺍُﻭﻟٰﺌِﻚَ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ

seribu dua ratus sembilan puluh lima (1295) (syaddah dihitung), bertawafuk dengan sangat tepat dua kali dengan nama Risaletü'n-Nur, cara perjuangannya, terwujudnya, serta masa penulisan dan penyempurnaannya. Selain itu, ia bertawafuk sangat tepat dengan masa ketika kaum kafir, melalui perang seribu dua ratus sembilan puluh tiga (1293), berusaha memadamkan cahaya dunia Islam; dan dengan tanggal perjanjian-perjanjian dahsyat pada seribu tiga ratus tiga puluh delapan (1338), yang dibuat dengan memanfaatkan Perang Dunia Pertama untuk benar-benar melemparkan dari cahaya ke dalam gelap.

Di dalamnya, cahaya dan gelap berulang kali diperbandingkan. Dengan makna isyarat, ia memberi kabar bahwa dalam perjuangan maknawi ini, sebuah cahaya yang berasal dari cahaya Al-Qur'an akan menjadi titik sandaran bagi ahli iman. Demikianlah diingatkan kepada hatiku; aku pun terpaksa menuliskannya.

Kemudian, aku melihat bahwa hubungan maknanya dengan abad kita begitu kuat. Bahkan seandainya tidak ada tanda tawafuk sama sekali, aku tetap yakin bahwa sebagaimana ayat-ayat ini mengarah kepada setiap abad, melalui makna isyaratnya ia juga berbicara dengan kita.

YA, PERTAMA: Kalimat

لَا ﺍِﻛْﺮَﺍﻩَ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪِّﻳﻦِ ﻗَﺪْ ﺗَﺒَﻴَّﻦَ ﺍﻟﺮُّﺷْﺪُ

pada awalnya menunjuk, melalui nilai perhitungan jafr serta abjad, kepada tahun seribu tiga ratus lima puluh (1350), dan melalui makna isyaratnya berkata: Memang, pada masa itu, dengan dipisahkannya agama dari dunia, kebebasan hati nurani yang menentang paksaan dan tekanan dalam agama, perjuangan keagamaan, serta jihad bersenjata demi agama menjadi hukum dasar dan prinsip politik pemerintahan; pemerintahan berubah menjadi republik sekuler.

Namun, sebagai tandingannya, akan ada jihad keagamaan secara maknawi dengan pedang iman yang bertumpu pada bukti. Sebab, akan muncul dari Al-Qur'an sebuah cahaya yang mengungkap serta menjelaskan dalil-dalil kuat hingga dapat memperlihatkan dengan nyata jalan yang benar dan petunjuk dalam agama, kebenaran serta hakikat, dan membuat semuanya menjadi jelas. Dengan memberi kabar demikian, kalimat itu memperlihatkan satu pancaran sifat bermukjizat.

Selain itu, hingga kata ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ, bagian ini merupakan dasar serta sumber seluruh perbandingan dalam Risale-i Nur. Sebagaimana perbandingan-perbandingan itu, ia berulang kali memperbandingkan cahaya dengan gelap, serta iman dengan gelap. Hal ini merupakan tanda tersembunyi bahwa dalam pertarungan jihad maknawi pada masa tersebut, satu pahlawan besar ialah Risale-i Nur, yang bernama Nur. Pedang berlian maknawinya yang menyingkap ratusan rahasia dalam agama membuat pedang-pedang jasmani tidak lagi diperlukan.

Ya, syukur yang tiada batas: selama dua puluh tahun, Risale-i Nur telah memperlihatkan kabar gaib serta pancaran sifat bermukjizat ini secara nyata. Karena rahasia agung inilah, para murid Risale-i Nur tidak mencampuri politik dunia, arus-arusnya, serta pertarungan jasmaninya; mereka tidak memandangnya penting dan tidak merendahkan diri untuk terlibat. Murid-muridnya yang sejati, ketika menghadapi musuh yang paling dahsyat serta serangannya yang menghina, berkata kepadanya:

‘Wahai orang malang! Aku berusaha menyelamatkanmu dari kemusnahan abadi serta mengangkatmu dari tingkat sifat hewani fana yang paling rendah dan menyakitkan menuju kebahagiaan manusiawi yang kekal. Engkau justru berusaha membunuh serta menghukum matiku. Kesenanganmu di dunia ini sangat sedikit dan singkat, sedangkan hukuman serta bencanamu di akhirat sangat banyak dan panjang. Kematianku sendiri merupakan pembebasan dari tugas. Pergilah; aku tidak akan bertengkar denganmu, lakukan apa saja yang engkau kehendaki.’ Terhadap musuh zalimnya, ia merasakan kasih dan iba, bukan kemarahan; dengan harapan agar musuh itu selamat, ia berusaha memperbaikinya.

KEDUA:

﴾ﻭَﻳُﺆْﻣِﻦْ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ﺍﺳْﺘَﻤْﺴَﻚَ﴿ ﴾ﺑِﺎﻟْﻌُﺮْﻭَﺓِ ﺍﻟْﻮُﺛْﻘٰﻰ﴿

Dengan hubungan maknawi yang kuat serta nilai perhitungan jafr dan abjad, kalimat pertama dari dua kalimat suci ini sesuai dengan sangat tepat, secara maknawi serta jafr, dengan nama Risaletü'n-Nur; kalimat kedua sesuai dengan terwujudnya, penyempurnaannya, serta kemajuan-kemajuannya yang gemilang. Ini merupakan tanda bahwa dalam abad dan pada masa ini, Risaletü'n-Nur adalah sebuah ‘urvetü'l-vüska’, yakni rantai yang sangat kokoh dan tidak terputus, serta sebuah ‘hablullah’.

Melalui makna tersiratnya, ia memberi kabar bahwa siapa yang mengulurkan tangan dan berpegang padanya akan selamat.

KETIGA: Kalimat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻟِﻰُّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ

memiliki satu petunjuk tersirat kepada Risaletü'n-Nur, baik melalui makna maupun jafr. Demikian: ...

(Pada kedudukan ini tirai turun. Tidak diizinkan menulis. Ditunda ke waktu lain.)

(Catatan kaki): Sebab bagian yang tersisa dari butir ini belum didiktekan untuk sementara ialah karena ia sedikit menyentuh dunia serta politik. Kami pun dilarang memandangnya. Ya,

ﺍِﻥَّ الْاِنْسَانَ ﻟَﻴَﻄْﻐٰﻰ

mengarah kepada tagut ini serta mengarahkan pandangan kepadanya.

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜِﻴﻢُ

Said Nursî