Suatu butir hikmah yang penting dan suatu rahasia yang lebih penting
Dalam ayat yang menakjubkan ini terdapat isyarat tersirat yang luhur dan halus sebagai berikut, ketika ayat tersebut menyatakan dengan sebutan "Ta'lîmul-Asmâ" seluruh kesempurnaan ilmu, kemajuan pengetahuan, serta keajaiban buatan manusia yang ia terima berkat kemampuannya yang mencakup banyak hal: Setiap kesempurnaan, setiap ilmu, setiap kemajuan, dan setiap bidang pengetahuan memiliki hakikat luhur yang bersandar pada suatu Nama Ilahi. Dengan bersandar pada Nama yang memiliki banyak tabir, beragam Tajalli, serta lingkup yang berbeda itu, bidang pengetahuan, kesempurnaan, dan seni tersebut mencapai bentuknya yang sempurna serta menjadi hakikat.
Jika tidak, semuanya hanyalah bayangan yang kurang dan setengah-setengah. Misalnya, geometri adalah suatu ilmu. Hakikat serta titik paling akhirnya ialah mencapai Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Al-'Adl dan Al-Muqaddir, serta menyaksikan dengan Kemegahan-Nya manifestasi penuh Hikmah dari Nama itu dalam cermin geometri. Misalnya, kedokteran adalah ilmu sekaligus seni. Ia juga mencapai bentuknya yang sempurna serta menjadi hakikat dengan bersandar pada Nama Sang Hakîm Mutlak, Asy-Syâfî, dan melihat manifestasi-Nya yang penuh Rahmat dalam obat-obatan di muka bumi, apotek besar-Nya.
Misalnya, ilmu mengenai benda-benda, yang membahas hakikat makhluk, dapat menjadi hikmah dengan melihat Tajalli agung Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Al-Hakîm, pada benda-benda, manfaat, serta kebaikannya, sebagai Pengatur dan Pendidik; dengan mencapai Nama itu dan bersandar pada-Nya. Jika tidak, ia berubah menjadi takhayul serta hal-hal yang tidak berguna, atau membuka jalan kesesatan seperti filsafat alam. Inilah tiga contoh bagimu; bandingkan kesempurnaan serta ilmu lainnya dengan ketiga contoh ini. Melalui ayat ini, Al-Qur'an Al-Hakîm menepuk punggung manusia dengan tangan dorongannya dan menunjuk dengan jarinya tingkat-tingkat itu, sambil mengatakan, "Ayo, maju!" Ia mendorong manusia menuju titik-titik tertinggi, batas-batas paling maju, serta tingkat-tingkat paling akhir, yang masih jauh tertinggal oleh kemajuan manusia sekarang.
Untuk saat ini, kita mencukupkan diri dengan permata ini dari khazanah agung ayat tersebut, lalu menutup pintu itu. Misalnya pula,
dengan banyak ayat yang jelas, seperti
ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ الْاِنْسُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ لَا ﻳَﺎْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪِ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬِﻴﺮًﺍ
, Al-Qur'an mengarahkan pandangan manusia dan jin kepada segi paling nyata serta paling cemerlang dari sisi-sisi kemukjizatan mukjizat abadi ini. Ayat-ayat itu menyatakan kekuatan penjelasan mengenai haq dan hakikat, kefasihan ungkapan, luas cakupan makna, serta gaya yang luhur dan manis dari Al-Qur'an Al-Hakîm, yang merupakan mukjizat agung Muhammad ﷺ.
Beliau adalah penutup majelis kenabian ﷺ dan pemuka para nabi ﷺ, yang seluruh mukjizat mereka menjadi satu mukjizat bagi pernyataan kerasulannya; kebanggaan kainat ini ﷺ; serta tempat seluruh nama yang diajarkan secara ringkas kepada Nabi Adam tampak secara terperinci dengan seluruh tingkatnya ﷺ. Dengan mengangkat jari ke atas penuh keagungan, beliau membelah bulan; dengan menurunkannya ke bawah penuh keindahan, beliau mengalirkan air seperti Kautsar dari kesepuluh jarinya; dan beliau dibenarkan serta diteguhkan oleh seribu mukjizat.
Ayat-ayat itu menyentuh urat-urat seluruh manusia dan jin, menggerakkan semangat para pendukung serta sikap keras kepala para musuhnya, dan dengan dorongan yang besar serta ajakan yang kuat, membawa pendukung dan musuh untuk membuat bandingan serta menirunya, yakni membuat yang sebanding dan menyerupakan tutur mereka dengannya. Ayat-ayat itu menempatkan mukjizat tersebut di hadapan pandangan makhluk sedemikian rupa, sehingga seolah satu-satunya tujuan manusia datang ke dunia ini ialah menjadikan mukjizat itu tujuan serta pedoman, lalu memandangnya dan berjalan dengan sadar menuju hasil penciptaan manusia.
Kesimpulannya,
mukjizat para nabi lainnya, aleyhimüsselâm, mengisyaratkan keajaiban-keajaiban seni, sedangkan mukjizat Nabi Adam, aleyhisselâm, selain mengisyaratkan dasar-dasar seni, juga mengisyaratkan dan mendorong secara ringkas daftar keajaiban serta kesempurnaan ilmu dan pengetahuan. Adapun Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat, mukjizat agung Ahmad ﷺ, dengan jelas menunjukkan bahwa ia menjadi tempat hakikat Ta'lîmul-Asmâ tampak secara terperinci, serta menunjukkan tujuan-tujuan yang benar dari ilmu dan pengetahuan yang merupakan haq dan hakikat, juga kesempurnaan serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dengan banyak dorongan besar, ia membawa manusia menuju semua itu. Cara ia membawa dan mendorong membuat hal berikut dipahami: "Wahai manusia! Tujuan tertinggi kainat ini ialah ubudiyah manusia yang menyeluruh sebagai tanggapan terhadap Rububiyah yang tampak, dan tujuan paling akhir manusia ialah mencapai ubudiyah itu dengan ilmu serta kesempurnaan." Ia juga mengungkapkan dengan cara yang mengisyaratkan, "Tentu, pada masa akhir, umat manusia akan mengalir menuju ilmu dan pengetahuan. Ia akan memperoleh seluruh kekuatannya dari ilmu.
Kekuasaan serta kekuatan akan berpindah ke tangan ilmu." Dengan berulang kali mengemukakan kekuatan dan kefasihan tutur Al-Qur'an, Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat juga membuat hal berikut dipahami secara tersirat: "Kefasihan dan kekuatan tutur, yang paling cemerlang di antara ilmu dan pengetahuan, akan menjadi sangat diminati dalam segala bentuknya pada akhir zaman. Bahkan, untuk membuat orang lain menerima pemikiran mereka serta memberlakukan ketetapan mereka satu sama lain, manusia akan memperoleh senjatanya yang paling tajam dari kekuatan penjelasan, dan kekuatannya yang paling sulit dilawan dari kefasihan penyampaian." Kesimpulannya:
Setiap ayat di antara sebagian besar ayat Al-Qur'an merupakan kunci suatu khazanah kesempurnaan serta pembuka suatu simpanan ilmu. Jika engkau ingin mencapai langit Al-Qur'an serta bintang-bintang ayatnya, naiklah dengan menjadikan dua puluh Kalimat terdahulu tangga dengan dua puluh anak tangga {(Catatan kaki): Bahkan, tiga puluh tiga Kalimat, tiga puluh tiga Surat, tiga puluh satu Lem'a, serta tiga belas Syuâ merupakan tangga dengan seratus dua puluh anak tangga.}. Melaluinya, lihatlah betapa cemerlangnya matahari Al-Qur'an; pandanglah bagaimana ia menebarkan cahaya yang murni serta memancarkan sinar cemerlang pada Hakikat-Hakikat Ilahi dan hakikat segala yang mungkin ada.
Hasil:
Karena ayat-ayat mengenai para nabi memiliki cara pengungkapan yang, selain memberikan suatu isyarat mengenai keajaiban kemajuan manusia sekarang, seolah menggariskan batas yang lebih maju; karena setiap ayat pasti menunjukkan banyak makna, bahkan hal itu disepakati; serta karena ada Perintah-Perintah yang mutlak untuk mengikuti dan meneladani para nabi, maka dapat dikatakan bahwa, selain menunjukkan makna-makna yang jelas, ayat-ayat terdahulu juga menunjukkan secara tersirat serta mendorong bidang-bidang penting seni dan pengetahuan manusia.