Risale-i NurAl-Maktubat

Contoh Kelima Belas

Al-Maktubat · hlm. 133

Dipelopori oleh para ahli tahqiq seperti Tirmidzî dan Imam Baihaqî, dengan penukilan sahih dari Hazrat Abu Hurairah, mereka mengabarkan bahwa: Abu Hurairah berkata: Dalam suatu peperangan — menurut riwayat lain dalam Perang Tabuk — pasukan kelaparan. Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم berfirman: هَلْ مِن شَيْءٍ؟ Beliau memerintahkan: "Adakah sesuatu?" Aku berkata: "Ada sepotong kurma dalam kantong." (Menurut satu riwayat, lima belas butir.) Beliau berkata: "Bawalah!" Aku pun membawanya. Beliau memasukkan tangannya yang penuh berkah, mengeluarkan segenggam, lalu meletakkannya dalam sebuah wadah; dan beliau berdoa memohon keberkahan. Kemudian beliau memanggil para prajurit sepuluh demi sepuluh, dan mereka semua makan. Sesudah itu beliau berfirman: خُذْ مَا جِئْتَ بِهِ وَاقْبِضْ عَلَيْهِ وَلاَ تَكُبَّهُ Aku pun mengambil, lalu memasukkan tanganku ke dalam kantong itu. Kurma yang sama banyaknya dengan yang mula-mula kubawa datang ke tanganku. Kemudian aku makan dari kurma-kurma itu sepanjang hayat Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم, sepanjang hayat Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Menurut jalur lain diriwayatkan bahwa: Aku menafkahkan bermuatan-muatan dari kurma itu di jalan Allah. Kemudian, pada saat terbunuhnya Hazrat Utsman, wadah kurma itu turut dijarah dan dirampas, lalu lenyap.

Demikianlah, mukjizat keberkahan yang diberitakan oleh Hazrat Abu Hurairah — murid dan pengikut inti yang menjadi tiang tetap Shuffah, madrasah dan tekke suci milik Kebanggaan Alam صلى الله عليه وسلم, Sang Guru Semesta; yang memperoleh doa Nabi صلى الله عليه وسلم demi bertambahnya daya hafalannya — sebagai peristiwa yang terjadi di suatu perkumpulan manusia seperti Perang Tabuk, sudah seharusnya secara maknawi bersifat pasti dan kuat sekuat ucapan satu pasukan.