Contoh Ketiga
Al-Maktubat · hlm. 138
Dalam Perang Buwâth, kembali dengan Bukhârî dan Muslim di barisan terdepan, kitab-kitab sahih menjelaskan: Jâbir berkata: Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda: نَادِ بِالْوُضُوءِ "Serukanlah panggilan untuk berwudu," titah beliau. Lalu dikatakan, "Tak ada air." Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bersabda, "Carilah sedikit air." Kami membawa air yang amat sedikit. Kemudian beliau mengatupkan tangannya di atas air yang sedikit itu, membaca sesuatu; aku tak tahu apa itu. Kemudian beliau bersabda: رِدْنَا بِجَفْنَةِ الرَّكْبِ Yakni, bawalah wadah besar (pasu) milik kafilah. Ia dibawakan kepadaku; lalu aku meletakkannya di hadapan Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Beliau pun memasukkan tangannya ke dalamnya, membuka jari-jemarinya. Dan aku menuangkan air yang sedikit itu ke atas tangannya yang penuh berkah. Aku melihat air mengalir dengan melimpah dari jari-jemarinya yang penuh berkah; lalu pasu itu penuh. Aku memanggil mereka yang membutuhkan air; semuanya datang, berwudu dan minum dari air itu. Aku berkata, "Tak ada seorang pun lagi yang tersisa." Beliau mengangkat tangannya, dan bejana (yakni pasu) itu tetap penuh sampai ke tepi.
Nah, mukjizat cemerlang Ahmadiyah صلى الله عليه وسلم ini secara maknawi adalah mutawatir. Karena Jâbir berada di barisan terdepan dalam peristiwa itu, maka Kelimat pertama adalah haknya. Ia mengumumkannya atas nama semua orang. Karena yang berkhidmat pada waktu itu adalah dirinya; maka pengumuman itu, terutama, adalah haknya. Ibnu Mas'ûd pun, dalam riwayatnya yang sama, berkata: Aku melihat air mengalir dari jari-jemari Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم bagaikan mata air. Gerangan, apabila suatu jamaah seperti Anas, Jâbir, dan Ibnu Mas'ûd — yang termasuk para sahabat shiddîq nan termasyhur — berkata, "Aku menyaksikannya," mungkinkah mereka tidak menyaksikannya? Kini, satukanlah ketiga contoh ini, dan lihatlah betapa kuatnya sebuah mukjizat cemerlang; dan bila ketiga jalur (tarîk) ini disatukan, ia membuktikan secara pasti mengalirnya air dari jari-jemari beliau dalam kedudukan tawatur hakiki.
Mengalirnya air bagaikan mata air dari batu di dua belas tempat oleh Nabi Mûsâ Alaihissalâm, tidaklah mencapai derajat mengalirnya air dari sepuluh keran pada sepuluh jari Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Karena mengalirnya air dari batu adalah sesuatu yang mungkin, dan bandingannya terdapat dalam hal-hal yang biasa (âdiyat). Namun mengalirnya air secara melimpah bagaikan air kautsar dari daging dan tulang, tak ada bandingannya dalam hal-hal yang biasa.