Isyarat Kedua
Al-Maktubat · hlm. 344
وَثَانِيًا : مَعَ اِنْتَاجِ الْحَقَائِقِ الْغَيْبِيَّةِ وَالنُّسُوجِ اللَّوْحِيَّةِ Kalimat ini mengisyaratkan bahwa setiap sesuatu — baik parsial maupun menyeluruh — setelah pergi dari wujud (terutama jika ia hidup), di samping menghasilkan banyak hakikat gaib; di atas lauh misali yang ada di buku-buku alam misal, ia meninggalkan rupa sebanyak tingkatan hidupnya; dari rupa-rupa itu tertulislah kisah kehidupan mereka yang bermakna — yang disebut takdir kehidupan — dan menjadi tempat penelaahan bagi para ruhaniah. Sebagaimana misalnya sekuntum bunga pergi dari wujud, tetapi di samping meninggalkan ratusan benih kecilnya dan mahiyahnya dalam benih-benih itu di wujud; ia meninggalkan ribuan rupanya di lauh-lauh mahfuz kecil dan di daya-daya hafalan yang merupakan contoh kecil lauh mahfuz, lalu membuat yang berkesadaran membaca tasbih rabbani dan ukiran asmawi yang diungkapkannya dengan tingkatan hidupnya, kemudian pergi. Demikian pula: musim semi — yang terukir dengan makhluk indah di pot muka bumi — adalah sekuntum bunga; secara lahir ia sirna, pergi menuju ketiadaan, tetapi ia meninggalkan di wujud, sebagai gantinya, hakikat gaib yang diungkapkannya sebanyak benihnya, hakikat misali yang disebarkannya sebanyak bunganya, dan hikmah rabbani yang ditunjukkannya sebanyak makhluknya, lalu bersembunyi dari kita. Ia pun mengosongkan tempat bagi musim-musim semi lain yang menjadi kawan musim semi yang pergi itu, supaya mereka datang dan menunaikan tugas. Artinya, musim semi itu mengeluarkan satu wujud lahiriah; secara maknawi ia mengenakan seribu wujud.