Jalan Kedua
Al-Maktubat · hlm. 408
adalah bahwa malaikat agung seperti Malaikat Jibrîl, Mikâil, dan Izrâîl, masing-masing berkedudukan sebagai pengawas umum.. memiliki pembantu dari jenis mereka sendiri dan dalam bentuk kecil yang menyerupai mereka. Dan para pembantu itu berbeda-beda sesuai jenis makhluk. [Catatan kaki 1: Di negeri kita, seorang wali agung yang masyhur dengan gelar "Seyda", tatkala sekarat, didatangi Malaikat Maut yang ditugaskan mencabut ruh para wali. Seyda berteriak dan berkata: "Karena aku amat mencintai penuntut ilmu, hendaklah golongan khusus yang ditugaskan mencabut ruh penuntut ilmu yang mencabut ruhku!" demikian ia memohon ke hadirat Ilahi. Orang-orang yang duduk di sisinya menjadi saksi peristiwa ini.] Yang mencabut ruh orang saleh berbeda; yang mencabut ruh ahli kesengsaraan pun berbeda. Sebagaimana ayat وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا ❊ وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا mengisyaratkan bahwa: "Yang mencabut ruh itu bergolong-golong." Menurut jalan ini; Nabi Mûsâ Alaihissalâm menampar — bukan Malaikat Izrâîl Alaihissalâm sendiri, melainkan jasad misali salah seorang pembantu Izrâîl — berdasarkan keagungan fitrinya, ketegasan wataknya, dan kedudukannya yang manja di sisi Allah, menamparnya adalah amat masuk akal.
[Catatan kaki 2: Bahkan di negeri kita, seorang yang amat pemberani melihat Malaikat Maut pada waktu sekarat. Ia berkata: "Engkau menangkapku di dalam tempat tidur!" Ia bangkit, menaiki kudanya, mengambil pedangnya, dan menantangnya. Dengan gagah, ia wafat di atas kuda.]