Risale-i NurAl-Maktubat

Jalan Pertama

Al-Maktubat · hlm. 408

Izrâîl Alaihissalâm mencabut ruh setiap orang. Satu pekerjaan tak menghalangi pekerjaan lain, karena ia bercahaya (nurani). Sesuatu yang bercahaya dapat berada sendiri di tempat yang tak terhingga melalui cermin yang tak terhingga, dan berwujud. Perwujudan yang bercahaya memiliki kekhususan zat bercahaya itu; ia dihitung sebagai dirinya, bukan selainnya. Sebagaimana bayangan Matahari di cermin-cermin menunjukkan cahaya dan panas Matahari; demikian pula bayangan ruhaniah seperti malaikat di cermin-cermin alam misal yang berbeda-beda adalah dirinya, menunjukkan kekhususannya. Namun mereka berwujud sesuai kemampuan cermin. Sebagaimana Malaikat Jibrîl Alaihissalâm, pada saat ia tampak dalam rupa Dihyah di antara para sahabat pada suatu waktu, pada saat yang sama di ribuan tempat dalam rupa lain, dan di hadapan Arasy A'zham, ia bersujud dengan sayapnya yang lebar dan megah dari timur hingga barat. Di setiap tempat ia berwujud sesuai kemampuan tempat itu; dalam satu saat ia berada di ribuan tempat.

Maka menurut jalan ini; pada waktu pencabutan ruh, suatu bayangan manusiawi lagi parsial dari Malaikat Maut yang berwujud pada cermin manusia menjadi sasaran tamparan seorang ulul azm yang penuh keagungan dan ketegasan seperti Nabi Mûsâ Alaihissalâm, dan mencungkil mata pada rupa misali Malaikat Maut misali itu yang berkedudukan sebagai pakaiannya; bukanlah hal yang mustahil, bukan luar biasa, bukan pula tak masuk akal.