Risale-i NurAl-Maktubat

Kalimah Kedelapan

Al-Maktubat · hlm. 281

وَ هُوَ حَىٌّ لاَ يَمُوتُ Yakni: Kehidupan-Nya kekal, azali, lagi abadi. Kematian dan kefanaan, ketiadaan dan kesirnaan, tak dapat menimpa-Nya. Sebab kehidupan zati bagi-Nya. Yang zati tak dapat sirna. Ya, yang azali sudah pasti abadi. Yang qadîm sudah pasti kekal. Wâjib al-Wujûd sudah pasti sermedi. Ya, sebuah kehidupan yang seluruh wujud beserta seluruh cahayanya adalah bayangannya; bagaimana ketiadaan dapat menimpanya? Ya, sebuah kehidupan yang wujud wajib adalah keharusan dan gelarnya; sudah pasti ketiadaan dan kefanaan sama sekali tak dapat menimpanya. Ya, sebuah kehidupan yang seluruh kehidupan terus-menerus muncul dengan kilaunya, dan seluruh hakikat tetap alam raya bersandar padanya serta tegak dengannya; sudah pasti kefanaan dan kesirnaan sama sekali tak dapat menimpanya. Ya, sebuah kehidupan yang satu kilaunya memberi kesatuan kepada benda-benda banyak yang terancam fana dan sirna, menjadikannya kekal, menyelamatkannya dari tercerai-berai, menjaga wujudnya, dan menjadikannya semacam kekal. Yakni kehidupan memberi kesatuan kepada kemajemukan, mengekalkannya. Jika kehidupan pergi; ia tercerai-berai, sirna. Sudah pasti kesirnaan dan kefanaan tak dapat mendekati kehidupan wajib yang menjadi kilau tak terhingga kilau kehidupan itu.

Saksi pasti bagi hakikat ini adalah kesirnaan dan kefanaan alam raya ini. Yakni sebagaimana segenap wujud dengan wujud dan kehidupannya menunjukkan dan bersaksi atas kehidupan Hayy Yang Tak Mati itu serta wujud wajib kehidupan itu; {(Catatan kaki): Peralihan Nabi Ibrâhîm Alaihissalâm dalam menghadapi Namrud — dari mematikan dan menghidupkan kepada terbit dan tenggelamnya matahari — adalah peralihan dari mematikan-menghidupkan yang parsial kepada yang menyeluruh, dan sebuah kemajuan. Ia adalah menunjukkan lingkaran dalil itu yang paling gemilang lagi paling luas. Bukan seperti kata sebagian ahli tafsir, meninggalkan dalil yang samar lalu berpindah ke dalil yang jelas.} demikian pula: dengan kematian dan kesirnaannya, ia menunjukkan dan bersaksi atas kekekalan dan kesermedian kehidupan itu. Sebab setelah segenap wujud pergi ke kesirnaan, di belakangnya datang yang serupa dengannya memperoleh kehidupan menggantikan tempatnya, sehingga menunjukkan bahwa: ada Yang hidup kekal, yang terus-menerus memperbarui kilau kehidupan. Sebagaimana pada permukaan sungai yang mengalir menghadap matahari, gelembung-gelembung berkilau lalu berlalu. Yang datang menampakkan kilau yang sama, golongan demi golongan berkilau lalu padam dan berlalu. Dengan keadaan padam dan berkilau ini, mereka menunjukkan kelanggengan sebuah Matahari yang tinggi lagi kekal. Demikian pula, pergantian dan giliran hidup serta mati pada makhluk yang mengalir ini bersaksi atas kekekalan dan kelanggengan Hayy Yang Kekal.

Ya, segenap wujud ini adalah cermin. Namun sebagaimana kegelapan menjadi cermin bagi cahaya, dan sebagaimana semakin pekat kegelapan semakin ia menampakkan gemilangnya cahaya, demikian pula ia menjadi cermin dari sisi pertentangan dengan banyak cara. Misalnya: sebagaimana segenap wujud dengan kelemahannya menjadi cermin bagi kudrat Sang Pembuat, dengan kefakirannya menjadi cermin bagi kekayaan-Nya; demikian pula dengan kefanaannya ia menjadi cermin bagi kekekalan-Nya. Ya, wajah bumi dan keadaan fakir pepohonan di atasnya pada musim dingin, serta kekayaan dan kelimpahan yang gemilang pada musim semi, secara amat pasti menjadi cermin bagi kudrat dan rahmat Sang Qadîr Mutlak lagi Sang Ghanî secara mutlak. Ya, segenap wujud, seakan-akan dengan bahasa keadaan, bermunajat laksana Uwais al-Qaranî, katanya:

"Wahai Ilah kami! Engkaulah Rabb kami! Sebab kami hamba. Kami lemah untuk mendidik nafsu kami. Berarti Engkaulah yang mendidik kami!.. Dan Engkaulah Khâliq! Sebab kami makhluk, kami dibuat. Dan Engkaulah Razzâq! Sebab kami membutuhkan rezeki, tangan kami tak menjangkaunya. Berarti Engkaulah yang membuat kami dan memberi rezeki kami. Dan Engkaulah Mâlik! Sebab kami adalah milik. Selain kami berkuasa atas kami. Berarti Pemilik kami adalah Engkau. Dan Engkau 'Azîz, pemilik kemuliaan dan keagungan! Kami memandang kehinaan kami, sedang di atas kami ada kilau kemuliaan. Berarti kami cermin kemuliaan-Mu. Dan Engkaulah Sang Ghanî Mutlak! Sebab kami fakir. Kepada kefakiran kami diberikan kekayaan yang tak dijangkau tangan kami. Berarti Yang Kaya adalah Engkau, Yang Memberi adalah Engkau. Dan Engkaulah Hayy Yang Kekal! Sebab kami mati. Pada kematian dan kebangkitan kami, kami melihat kilau Sang Pemberi hidup yang kekal. Dan Engkaulah Yang Kekal! Sebab pada kefanaan dan kesirnaan kami, kami melihat kelanggengan dan kekekalan-Mu. Dan Yang Menjawab, Yang Memberi anugerah adalah Engkau! Sebab kami, seluruh wujud, dengan lisan ucapan dan lisan keadaan kami senantiasa berseru dan meminta, bermunajat dan merayu. Keinginan kami terpenuhi, maksud kami diberikan. Berarti Yang Menjawab kami adalah Engkau. Dan seterusnya…"

Segenap wujud, yang menyeluruh maupun yang parsial, masing-masing laksana Uwais al-Qaranî, memiliki cermin dalam bentuk munajat maknawi. Dengan kelemahan, kefakiran, dan kekurangannya, mereka mengumumkan kudrat dan kesempurnaan Ilahi.