Risale-i NurAl-Maktubat

Kalimah Kesembilan

Al-Maktubat · hlm. 283

بِيَدِهِ الْخَيْرُ Yakni: Seluruh kebaikan di tangan-Nya, seluruh amal saleh di catatan-Nya, dan seluruh karunia di khazanah-Nya. Kalau begitu, yang menginginkan kebaikan harus memintanya dari-Nya, yang mendambakan kebaikan harus merayu kepada-Nya… Untuk menunjukkan hakikat kalimah ini secara pasti, kami mengisyaratkan tanda dan kilau dari sebuah dalil luas di antara dalil tak terhingga ilmu Ilahi, dan kami berkata:

Sang Pembuat yang mengadakan dan berkuasa melalui perbuatan yang tampak di alam raya ini memiliki sebuah ilmu yang meliputi. Dan ilmu itu adalah ciri khas zati-Nya yang niscaya lagi wajib, mustahil terpisah darinya. Sebagaimana mustahil zat matahari ada tanpa cahayanya; demikian pula, ribuan derajat lebih mustahil bahwa ilmu Zat yang mengadakan segenap wujud teratur ini terpisah darinya. Ilmu yang meliputi ini, sebagaimana wajib bagi Zat itu, dari sisi keterkaitan wajib pula bagi segala sesuatu. Yakni, mustahil sesuatu tersembunyi dari-Nya. Sebagaimana mustahil benda-benda di muka bumi tak melihat matahari tanpa tabir; demikian pula, mustahil sesuatu tersembunyi dari cahaya ilmu Sang 'Alîm Dzul-Jalâl, seribu derajat lebih mustahil. Sebab ada kehadiran (huzur). Yakni segala sesuatu berada dalam lingkaran pandangan-Nya, berhadapan dengan-Nya, berada dalam lingkaran penyaksian-Nya, dan Ia menembus segala sesuatu. Selama benda-benda bercahaya yang beku seperti matahari, manusia yang lemah, dan sinar rontgen yang tak berkesadaran ini — meski baharu, kurang, dan sementara — cahayanya melihat dan menembus segala sesuatu di hadapannya; sudah pasti tak sesuatu pun dapat tersembunyi dari atau berada di luar cahaya ilmu azali yang wajib, meliputi, lagi zati. Alam raya memiliki tanda dan ayat tak terhitung yang mengisyaratkan hakikat ini. Di antaranya:

Seluruh hikmah yang tampak pada segenap wujud mengisyaratkan ilmu itu. Sebab bekerja dengan hikmah terjadi dengan ilmu. Dan seluruh perhatian serta hiasan mengisyaratkan ilmu itu. Yang bekerja dengan penuh perhatian dan kelembutan, sudah pasti mengetahui dan berbuat dengan pengetahuan. Dan seluruh wujud teratur yang masing-masing berada dalam sebuah timbangan, serta seluruh susunan yang tertimbang dan terukur yang masing-masing berada dalam sebuah keteraturan, mengisyaratkan ilmu yang meliputi itu. Sebab bekerja dengan keteraturan terjadi dengan ilmu. Yang membuat dengan berseni melalui ukuran dan timbangan, sudah pasti membuatnya berdasarkan ilmu yang kuat. Dan ukuran teratur yang tampak pada segenap wujud, bentuk yang dipotong menurut hikmah dan maslahat, serta keadaan dan susunan berbuah yang seakan-akan ditata dengan undang-undang qadhâ dan jangka takdir, menunjukkan ilmu yang meliputi.

Ya, memberikan rupa teratur yang berbeda-beda kepada segala sesuatu, memberikan bentuk khas yang layak bagi maslahat hidup dan wujud setiap sesuatu, terjadi dengan ilmu yang meliputi, tak dapat dengan cara lain.

Dan memberikan rezeki kepada setiap makhluk hidup dengan cara yang layak baginya, pada waktu yang sesuai, dari tempat yang tak disangka, terjadi dengan ilmu yang meliputi. Sebab yang mengirim rezeki akan mengetahui dan mengenal yang membutuhkannya, mengetahui waktunya, memahami kebutuhannya, lalu dapat memberikan rezekinya dengan cara yang layak.

Dan ajal serta kematian seluruh makhluk hidup — yang terikat pada sebuah hukum ketetapan di bawah nama ketersamaran — menunjukkan ilmu yang meliputi. Sebab meski waktu ajal setiap individu golongan secara lahir tak tampak, ajal golongan itu ditetapkan dalam rentang waktu tertentu di antara dua batas. Pada saat ajal itu, penjagaan hasil, buah, dan biji yang akan melanjutkan tugas sesuatu di belakangnya, serta pengubahannya menjadi kehidupan yang baru; kembali menunjukkan ilmu yang meliputi.

Dan pemuliaan rahmat yang mencakup segenap wujud, dengan cara yang layak bagi setiap wujud; menunjukkan ilmu yang meliputi di dalam rahmat yang luas. Sebab misalnya, yang memberi makan anak-anak makhluk hidup dengan susu, dan menolong tumbuhan bumi yang membutuhkan air dengan hujan; sudah pasti mengenal anak-anak itu, mengetahui kebutuhannya, dan melihat tumbuhan itu serta memahami keperluannya akan hujan, lalu mengirimnya. Dan seterusnya… Seluruh kilau rahmat-Nya yang penuh hikmah dan perhatian menunjukkan ilmu yang meliputi.

Dan kecermatan dalam seni segala sesuatu, pelukisan yang berseni, serta hiasan yang piawai, menunjukkan ilmu yang meliputi. Sebab memilih sebuah keadaan yang teratur, berhias, berseni, lagi penuh hikmah di antara ribuan keadaan yang mungkin, terjadi dengan ilmu yang mendalam. Cara pemilihan pada segala sesuatu ini menunjukkan ilmu yang meliputi.

Dan kemudahan sempurna dalam mengadakan serta mencipta segala sesuatu menunjukkan ilmu yang paling sempurna. Sebab kemudahan pada suatu pekerjaan dan kelancaran pada suatu keadaan sebanding dengan derajat ilmu dan kepiawaian. Semakin banyak seseorang mengetahui, semakin mudah ia berbuat.

Nah, berdasarkan rahasia ini, kita memandang segenap wujud yang masing-masing merupakan mukjizat seni bahwa; ia diadakan dengan kemudahan yang menakjubkan, tanpa beban, tanpa kesulitan, dalam waktu singkat, tetapi dengan cara yang menampakkan mukjizat. Berarti ada ilmu tak terhingga, sehingga dibuat dengan kemudahan tak terhingga. Dan seterusnya… Seperti tanda-tanda tersebut, ada ribuan tanda jujur bahwa Zat yang berkuasa di alam raya ini memiliki ilmu yang meliputi. Dan Ia mengetahui segala sesuatu dengan segala keadaannya, lalu membuatnya. Selama Pemilik alam raya ini memiliki ilmu semacam ini; sudah pasti Ia melihat manusia dan amal manusia, mengetahui apa yang layak dan berhak bagi mereka, serta memperlakukan mereka sesuai tuntutan hikmah dan rahmat, dan akan memperlakukannya.

Wahai manusia! Sadarkanlah dirimu, cermatilah! Ketahui dan bangunlah, betapa sebuah Zat mengenalmu dan memandangmu!..

Jika dikatakan:

Ilmu saja tak cukup, kehendak pun diperlukan. Jika tak ada kehendak, ilmu tak mencukupi?