Risale-i NurAl-Maktubat

Kalimah Ketujuh

Al-Maktubat · hlm. 280

وَ يُم۪يتُ Yakni: Yang memberi kematian adalah Dia. Yakni: sebagaimana yang memberi hidup adalah Dia; yang mengambil hidup dan memberi kematian pun adalah Dia. Ya, kematian bukanlah semata kehancuran dan padam, sehingga dapat diserahkan kepada sebab dan tabiat. Melainkan sebagaimana sebutir benih secara lahir mati dan membusuk, tetapi secara batin ia beralih ke kehidupan sebuah bulir.. yakni dari kehidupan benih yang parsial ke kehidupan bulir yang menyeluruh. Demikian pula kematian, meski secara lahir tampak sebagai peruraian dan pemadaman, pada hakikatnya bagi manusia menjadi gerbang, pendahuluan, dan permulaan bagi kehidupan yang kekal. Kalau begitu, Sang Qadîr Mutlak yang memberi dan mengatur hidup, sudah pasti Ia jugalah yang mengadakan kematian. Kami mengisyaratkan sebuah bukti terbesar bagi derajat tauhid teragung pada kalimah ini demikian: sebagaimana diterangkan pada Jendela Kedua Puluh Empat Surat Ketiga Puluh Tiga: segenap wujud ini mengalir dengan kehendak Ilahi. Alam raya ini berkelana dengan perintah rabbâni. Makhluk-makhluk ini, dengan izin Ilahi, terus-menerus mengalir di sungai zaman.. dikirim dari alam gaib, dikenakan wujud lahir di alam kesaksian, lalu secara teratur turun ke alam gaib. Dan dengan perintah rabbâni, terus-menerus datang dari masa depan, singgah di masa kini lalu bernapas, dan tercurah ke masa silam.

Nah, aliran makhluk ini terjadi dalam lingkaran rahmat dan karunia yang teramat penuh hikmah; peredaran ini dalam lingkaran hikmah dan keteraturan yang teramat berilmu; dan gerak ini dalam lingkaran kasih dan timbangan yang teramat penuh rahmat, dari ujung ke ujung dengan hikmah, maslahat, hasil, dan tujuan. Berarti Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl, terus-menerus memberi hidup dan menugaskan golongan-golongan makhluk, bagian-bagian dalam setiap golongan, dan alam-alam yang tersusun dari golongan itu, dengan kudrat-Nya. Kemudian dengan hikmah-Nya Ia memurnatugaskannya, menjadikannya menerima kematian; mengirimnya ke alam gaib. Ia memutarnya dari lingkaran kudrat ke lingkaran ilmu.

Nah, mungkinkah pihak yang tak mampu memutar alam raya ini dengan keseluruhannya, yang hukumnya tak berlaku atas seluruh zaman, yang kudratnya tak cukup untuk menghidupkan dan mematikan alam-alam laksana seorang individu, dan yang tak dapat memberi hidup kepada musim-musim semi laksana sekuntum bunga lalu menyematkannya di muka bumi dan kemudian memetiknya dengan kematian; dapat mengaku memiliki kematian dan penghilangan nyawa? Ya, sudah pasti kematian makhluk hidup paling kecil pun, seperti hidupnya, terjadi dengan hukum, izin, perintah, kekuatan, dan ilmu sebuah Zat Dzul-Jalâl yang menggenggam seluruh hakikat kehidupan dan beragam kematian di tangan-Nya.