Risale-i NurAl-Maktubat

Kata Kelima

Al-Maktubat · hlm. 262

وَ لَهُ الْحَمْدُ Yakni: Segala puji dan sanjung, pujian dan syukur, adalah khusus bagi-Nya lagi layak bagi-Nya. Berarti segala nikmat adalah milik-Nya dan keluar dari perbendaharaan-Nya. Sedangkan perbendaharaan itu kekal abadi. Nah, kata ini memberi kabar gembira demikian, katanya: Wahai manusia! Janganlah engkau berduka atas lenyapnya suatu nikmat. Sebab perbendaharaan rahmat tiada akan pernah habis. Dan janganlah, dengan memikirkan lenyapnya suatu kelezatan, engkau meratap karena derita itu. Sebab buah nikmat itu adalah hasil dari suatu rahmat yang tak berhingga. Jika pohonnya kekal, sekalipun buahnya pergi, ada gantinya yang datang. Di dalam kelezatan suatu nikmat, dengan memikirkan — seraya memuji (hamd) — suatu limpahan kasih rahmat yang seratus kali lipat lebih lezat daripada kelezatan itu, engkau dapat menjadikan kelezatan itu seratus kali lipat seketika. Sebagaimana di dalam kelezatan sebuah apel yang dihadiahkan kepadamu oleh seorang raja yang mulia, ia membuatmu merasakan dan menganugerahkan kepadamu suatu kelezatan limpahan kasih raja yang berada di atas kelezatan seratus bahkan seribu apel. Demikian pula: dengan kata لَهُ الْحَمْدُ — yakni dengan hamd dan syukur, yakni dengan merasakan pemberian nikmat dari suatu nikmat, yakni dengan mengenal Sang Pemberi Nikmat dan memikirkan pemberian nikmat-Nya, yakni dengan memikirkan limpahan kasih rahmat-Nya, curahan kasih sayang-Nya, dan kelanggengan pemberian nikmat-Nya — Dia membukakan bagimu pintu suatu kelezatan maknawi yang seribu kali lipat lebih lezat daripada nikmat itu.