Nuktah Kedua yang Terlintas
Al-Maktubat · hlm. 15
Sang Pembuat Yang Mahakuasa, Sang Fâthir Yang Mahabijaksana, Sang Wâhid lagi Ahad, guna menampakkan kesempurnaan kudrat-Nya, keindahan hikmah-Nya, dan bukti keesaan-Nya, telah menjadikan sebagai kebiasaan-Nya: mengerjakan banyak perkara dengan sesuatu yang teramat sedikit, dan menjalankan tugas-tugas yang teramat besar dengan sesuatu yang teramat kecil. Dalam sebagian Kelimat telah aku katakan: Sekiranya segala sesuatu disandarkan kepada satu Zat semata, niscaya terbitlah suatu kemudahan — suatu keringanan — yang mencapai derajat kewajiban (wujûb). Sekiranya benda-benda itu disandarkan kepada pembuat yang berbilang, kepada sebab-sebab, niscaya terpampanglah suatu kesukaran — suatu kerumitan — yang mencapai derajat kemustahilan (imtinâ'). Karena satu Zat semata — laksana seorang perwira atau seorang ahli — dengan satu perbuatan, satu gerakan, dan dengan mudah, memberikan suatu keadaan kepada individu yang berbilang dan batu yang berbilang, lalu membuahkan suatu hasil; sedangkan andaikata pengambilan keadaan itu serta pemerolehan hasil itu dibebankan kepada individu-individu dalam pasukan itu dan kepada batu-batu dalam kubah tak bertiang itu, niscaya hal itu hanya dapat terlaksana dengan perbuatan yang teramat banyak, kesulitan yang teramat banyak, dan kekusutan yang teramat banyak.
Maka, perbuatan-perbuatan di alam semesta ini — seperti tarian dan perputaran, perjalanan dan pengembaraan, pertunjukan yang menaburkan tasbih, keempat musim, serta peredaran pada malam dan siang — sekiranya diserahkan kepada keesaan, niscaya satu Zat semata, dengan satu titah semata, dengan menggerakkan satu bola semata, akan memperoleh keadaan-keadaan yang luhur serta hasil-hasil yang berharga itu — sebagaimana menampakkan keajaiban seni dalam pergantian musim, keajaiban hikmah dalam peredaran malam dan siang, serta lembaran-lembaran pemandangan yang manis dalam gerakan-gerakan lahiriah bintang-bintang, Matahari, dan Bulan. Karena segenap bala tentara makhluk itu kepunyaan-Nya. Jika Ia menghendaki, Ia mengangkat seorang prajurit seumpama Bumi menjadi panglima atas segenap bintang; menjadikan Matahari yang besar sebagai sebuah lampu penghangat lagi pemberi cahaya bagi penduduknya; menjadikan keempat musim — yang merupakan lembaran-lembaran ukiran kudrat — sebagai sebuah torak; dan menjadikan malam serta siang — yang merupakan halaman-halaman tulisan hikmah — sebagai sebuah busur. Dengan menampakkan sebuah Bulan dalam bentuk yang berbeda-beda pada setiap harinya, Ia menyuruhnya menjalankan tugas penanggalan untuk perhitungan waktu; dan Ia menampakkan banyak hikmah-Nya yang bertalian dengan Bumi — seperti menganugerahkan kepada bintang-bintang itu sendiri rupa pelita-pelita yang berhias, manis, cemerlang lagi anggun, di tangan para malaikat yang menari, yang menari dalam jazbah. Sekiranya keadaan-keadaan ini tidak dipinta dari satu Zat yang hukum, nizam, kanun, dan tadbir-Nya tertuju kepada segenap makhluk, niscaya pada saat itu segenap matahari dan bintang haruslah menempuh jarak yang tak terhingga setiap hari, dengan gerakan yang hakiki dan dengan kecepatan yang tak terhingga.
Maka, justru lantaran dalam keesaan terdapat kemudahan yang tak terhingga, sedang dalam kejamakan terdapat kesukaran yang tak terhingga, para ahli industri dan perdagangan pun memberikan suatu kesatuan kepada yang jamak, agar terwujud kemudahan dan keringanan — yakni, mereka membentuk perseroan-perseroan.
Ringkasnya: di jalan kesesatan terdapat kesulitan yang tak terhingga, sedang di jalan hidayah dan keesaan terdapat kemudahan yang tak terhingga. اَلْبَاق۪ى هُوَ الْبَاق۪ى
Said Nursî