Risale-i NurAl-Maktubat

Nuktah Kelima

Al-Maktubat · hlm. 463

Puasa Ramadan yang mulia, dari segi memandang penyucian akhlak nafsu dan berhentinya dari perlakuan pembangkang, salah satu dari banyak hikmahnya adalah ini: nafsu manusia dengan kelalaian melupakan dirinya. Ia tak dapat dan tak ingin melihat kelemahannya yang tak terhingga, kefakirannya yang tak berkesudahan, dan kekurangannya yang amat dalam pada mahiyahnya. Lagi pula ia tak memikirkan betapa lemah, terpapar kesirnaan, dan sasaran musibah dirinya, serta bahwa ia terdiri atas daging dan tulang yang cepat rusak dan tercerai. Seakan ia memiliki tubuh dari baja, seakan membayangkan dirinya kekal dan tak mati, ia menyerbu dunia. Dengan ketamakan yang sengit dan keterikatan serta kecintaan yang kuat ia melemparkan diri ke dunia. Ia terikat pada setiap hal yang lezat dan bermanfaat. Lagi pula ia melupakan Khâliq-nya yang mentarbiahnya dengan kasih sayang sempurna. Lagi pula ia tak memikirkan hasil hidupnya dan kehidupan ukhrawinya; ia berguling dalam akhlak buruk.

Maka puasa di Ramadan yang mulia membuat orang paling lalai dan membangkang merasakan kelemahan, ketakberdayaan, dan kefakirannya. Dengan perantaraan lapar ia memikirkan lambungnya. Ia memahami kebutuhan di lambungnya. Ia mengingat betapa rapuh tubuhnya yang lemah. Ia memahami betapa ia membutuhkan belas dan kasih sayang. Ia meninggalkan kefiraunan nafsu, dan merasakan suatu hasrat untuk berlindung ke hadirat Ilahi dengan kelemahan dan kefakiran sempurna, serta bersiap mengetuk pintu rahmat dengan tangan syukur maknawi. Jika kelalaian belum merusak kalbunya...