Pertanyaan Pertama Anda
Al-Maktubat · hlm. 326
Bagaimana seharusnya doa terbaik seorang mukmin bagi mukmin lain? Jawaban: Ia mesti berada dalam lingkup sebab-sebab keterkabulan. Karena dalam syarat-syarat tertentu doa menjadi terkabul. Sebanding dengan berhimpunnya syarat-syarat keterkabulan, bertambahlah keterkabulannya. Antara lain: ketika hendak berdoa, hendaklah bersuci secara maknawi dengan istigfar, lalu menyebut salawat mulia — yang merupakan doa terkabul — sebagai pemberi syafaat, dan di akhir kembali membaca salawat. Karena doa di antara dua doa terkabul menjadi terkabul. Juga بِظَهْرِ الْغَيْبِ, yakni "berdoa untuknya tanpa kehadirannya"; juga berdoa dengan doa-doa ma'tsur yang datang dalam hadis dan Al-Qur'an. Misalnya:
Berdoa dengan doa-doa yang mencakup seperti اَللّٰهُمَّ اِنِّى اَسْئَلُكَ الْعَفْوَ وَ الْعَافِيَةَ ل۪ى وَ لَهُ فِى الدّ۪ينِ وَ الدُّنْيَا وَ اْلاٰخِرَةِرَبَّنَٓا اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ; juga berdoa dengan ketulusan, kekhusyukan, dan kehadiran kalbu; juga di akhir salat, terutama sesudah salat Subuh; juga di tempat-tempat yang diberkahi, khususnya di masjid-masjid; juga pada hari Jumat, khususnya pada saat ijabah; juga pada tiga bulan mulia, khususnya pada malam-malam masyhur; juga pada Ramadan, khususnya pada Lailatul Qadar — bahwa doa demikian dekat dengan keterkabulan, sangat diharapkan dari rahmat Ilahi. Doa terkabul itu, entah pengaruhnya tampak langsung di dunia, atau menjadi terkabul bagi akhirat dan kehidupan abadi orang yang didoakan. Artinya, jika maksud yang sama tak tercapai, tak boleh dikatakan doa tak terkabul; melainkan dikatakan ia terkabul dengan cara yang lebih baik.