Tipu Daya Setan Kelima
Al-Maktubat · hlm. 495
Para pendukung ahli kesesatan, dengan memanfaatkan egoisme, ingin menarik saudara-saudaraku dariku. Sesungguhnya urat paling berbahaya pada manusia adalah egoisme (enaniyah), dan urat paling lemahnya pun ia. Dengan membelainya, mereka dapat membuat orang melakukan hal-hal yang amat buruk. Wahai saudara-saudaraku! Berhati-hatilah; jangan sampai mereka memukul kalian pada egoisme, jangan sampai mereka memburu kalian dengannya. Dan ketahuilah bahwa: pada abad ini ahli kesesatan menunggangi ene (ego/keakuan), berlari di lembah-lembah kesesatan. Ahli hak, karena terpaksa, dapat berkhidmat pada kebenaran dengan meninggalkan ene. Sekalipun ia benar dalam menggunakan ene; selama ia menyerupai yang lain dan mereka pun menyangka ahli hak sebagai pemuja nafsu seperti diri mereka, maka itu adalah suatu kezaliman terhadap khidmat kebenaran. Lagi pula, khidmat Al-Qur'an yang kami berkumpul di sekelilingnya tak menerima ene. Ia menginginkan "Nahnu (kami)". Ia berkata: "Jangan berkata 'aku', berkatalah 'kami'."
Tentu kalian telah yakin bahwa saudara kalian yang fakir ini tak tampil dengan ene. Ia tak menjadikan kalian pelayan bagi egonya. Melainkan ia menampakkan dirinya kepada kalian sebagai seorang pelayan Al-Qur'an tanpa ene. Dan ia menjadikan sikap tak mengagumi diri dan tak berpihak pada egonya sebagai jalan hidup. Lagi pula, dengan dalil-dalil pasti ia telah membuktikan kepada kalian bahwa: karya-karya yang diletakkan di medan pemanfaatan adalah harta milik umum (mîrî); yakni ia adalah tetesan Al-Qur'an al-Hakîm. Tak seorang pun dapat memilikinya dengan egonya! Baiklah, andaikan — sebagai pengandaian mustahil — aku mengklaim karya-karya itu dengan egoku, sebagaimana dikatakan salah seorang saudaraku: selama pintu hakikat Qur'ani ini telah terbuka, dengan tak memandang kekuranganku dan ketiadaan artiku, para ahli ilmu dan kesempurnaan hendaknya tak enggan berada di belakangku dan tak merasa tak membutuhkannya.
Karya-karya salaf saleh dan para ulama muhaqqiq, memang merupakan perbendaharaan agung yang cukup dan memadai bagi setiap derita; tetapi ada suatu masa ketika sebuah kunci menjadi lebih penting daripada sebuah perbendaharaan. Karena perbendaharaan itu tertutup; sedangkan sebuah kunci dapat membuka banyak perbendaharaan. Aku menyangka bahwa tokoh-tokoh yang membawa egoisme ilmiah berlebih itu pun telah memahami bahwa: Kelimat-kelimat yang disebarkan adalah kunci-kunci hakikat Al-Qur'an dan pedang intan yang turun ke kepala mereka yang berupaya mengingkari hakikat itu. Hendaklah tokoh-tokoh ahli keutamaan dan kesempurnaan yang membawa egoisme ilmiah kuat itu mengetahui bahwa; mereka menjadi murid dan pelajar bukan bagiku, melainkan bagi Al-Qur'an al-Hakîm. Aku pun hanyalah seorang kawan belajar mereka.
Baiklah, andaikan — sebagai pengandaian mustahil — aku mendakwa kedudukan ustaz, selama kini kami telah menemukan cara menyelamatkan tingkatan-tingkatan ahli iman, dari awam hingga khawas, dari waswas dan syubhat yang menimpa mereka; hendaklah para ulama itu menemukan cara yang lebih mudah, atau menerima cara ini lalu mengajarkannya dan menjadi pendukungnya. Ada ancaman besar tentang ulama su'. Pada masa ini ahli ilmu harus lebih berhati-hati. Baiklah, andaikan kalian mengira — sebagaimana sangkaan musuh-musuh kami — bahwa aku melakukan khidmat semacam ini atas nama keakuan. Gerangan, demi suatu maksud duniawi dan kebangsaan, banyak tokoh meninggalkan egoisme dan berkumpul di sekeliling seorang bermental firaun dengan kesetiaan sempurna serta bekerja dengan solidaritas yang kuat; gerangan, tak berhakkah saudara kalian ini — yang menutupi egoismenya sendiri dan, seperti para kopral komite duniawi itu, dengan meninggalkan egoisme — meminta dari kalian suatu solidaritas di sekeliling hakikat Al-Qur'an dan hakikat imani? Bukankah ulama terbesar kalian pun tak benar bila tak mengatakan "Labbaik" kepadanya?
Saudara-saudaraku, sisi egoisme yang paling berbahaya dalam pekerjaan kita adalah kedengkian. Jika bukan semata karena Allah, kedengkian ikut campur dan merusak. Sebagaimana satu tangan seseorang tak mendengki tangannya yang lain, dan matanya tak iri pada telinganya, dan kalbunya tak bersaing dengan akalnya. Demikian pula: dalam pribadi maknawi kesatuan kita ini, masing-masing kalian berkedudukan bagai satu indra, satu anggota tubuh. Bukan persaingan terhadap satu sama lain, melainkan berbangga dengan keistimewaan satu sama lain dan bersukacita karenanya adalah suatu tugas hati nurani kalian.
Tinggal satu hal lagi, yang paling berbahaya adalah: adanya urat kedengkian terhadap saudara kalian yang fakir ini di dalam diri kalian dan sahabat-sahabat kalian, itulah yang paling berbahaya. Di antara kalian ada ahli ilmu penting pula. Pada sebagian ahli ilmu terdapat egoisme ilmiah. Sekalipun ia sendiri rendah hati, dari sisi itu ia beregoisme. Ia tak cepat meninggalkan egoismenya. Betapa pun kalbu dan akalnya merekat; nafsunya, dari sisi egoisme ilmiah itu, menginginkan keistimewaan, ingin menjual dirinya, bahkan ingin menandingi risalah-risalah yang ditulis. Padahal saat kalbunya mencintai risalah-risalah itu, akalnya memandangnya baik dan tinggi; nafsunya justru, dari sisi kedengkian yang datang dari egoisme ilmiah, seakan memelihara permusuhan terselubung, menghasratkan turunnya nilai Kelimat-kelimat agar hasil pemikirannya sendiri dapat menyusul mereka, dapat laku seperti mereka. Padahal karena terpaksa aku mengabarkan ini bahwa:
"Mereka yang berada di dalam lingkaran pelajaran Qur'ani ini, sekalipun mereka allâmah dan mujtahid; tugas mereka — dari sisi ilmu-ilmu imani — hanyalah menyusun syarah, penjelasan, atau penataan bagi Kelimat-kelimat yang ditulis ini. Karena dengan banyak tanda kami telah memahami bahwa: kami telah ditugasi dengan tugas fatwa dalam ilmu-ilmu imani ini. Jika seseorang, di dalam lingkaran kami, dengan suatu perasaan yang diambil nafsu dari egoisme ilmiah, menulis sesuatu di luar syarah dan penjelasan; ia berubah menjadi suatu pertentangan yang dingin atau suatu taklid yang cacat. Karena dengan banyak dalil dan tanda telah nyata bahwa: bagian-bagian Risalah Nur adalah tetesan Al-Qur'an; kami, dengan kaidah pembagian kerja, masing-masing memikul suatu tugas, dan menyampaikan tetesan air kehidupan itu kepada yang membutuhkannya!.."