Risale-i NurAl-Maktubat

Yang Ketujuh

Al-Maktubat · hlm. 405

Tabir mimpimu yang penuh kabar gembira, diberkahi, dan indah, amat indah bagi Al-Qur'an dan bagi kita. Lagi pula waktu telah menabirnya dan sedang menabirnya, tak menyisakan kebutuhan akan tabir kami. Lagi pula sebagian tabirnya telah keluar dengan indah. Jika engkau memperhatikan, engkau akan memahaminya. Kami hanya mengisyaratkan satu-dua titiknya. Yakni kami menerangkan suatu hakikat. Kejadian yang termasuk jenis hakikat mimpimu adalah perwujudan (temessül) hakikat itu. Yaitu:

Tanah lapang yang luas itu adalah Alam Islam. Masjid di ujung tanah lapang itu adalah provinsi Isparta. Air keruh berlumpur di sekelilingnya adalah rawa kefasikan, kemalasan, dan bidah zaman dan keadaan. Bahwa engkau sampai ke masjid dengan selamat, tanpa terkotori, dengan cepat; mengisyaratkan bahwa engkau lebih dahulu dari siapa pun memiliki cahaya Qur'ani, dan tetap utuh tanpa merusak kalbumu. Adapun jamaah kecil di masjid adalah para pengemban Kalimat, seperti Hakkı, Hulusi, Sabri, Süleyman, Rüşdü, Bekir, Mustafa, Ali, Zühdü, Lütfü, Hüsrev, dan Re'fet. Adapun mimbar kecil adalah sebuah desa kecil seperti Barla. Adapun suara yang tinggi mengisyaratkan kekuatan dan kecepatan penyebaran Kalimat. Adapun maqam yang dikhususkan bagimu di saf pertama adalah tempat yang kosong bagimu dari Abdurrahman. Adapun jamaah itu, mengisyaratkan keinginan untuk memperdengarkan pelajaran ke seluruh dunia bagai penerima alat nirkabel; dan hakikatnya insya Allah akan keluar sepenuhnya kemudian. Kini meski individunya masing-masing benih kecil, kelak dengan taufik Ilahi mereka berkedudukan sebagai pohon luhur masing-masing. Dan mereka menjadi pusat telegraf nirkabel masing-masing. Adapun tokoh muda kecil bersorban itu, adalah calon untuk masuk ke kalangan penyebar dan murid — seseorang yang akan berbahu-bahu dengan Hulusi, bahkan mungkin melampauinya. Sebagian orang kuduga, tetapi tak dapat kupastikan. Pemuda itu adalah tokoh yang akan tampil dengan kekuatan wilayah. Titik-titik lain, tabirlah engkau sebagai gantiku.

Karena berbincang panjang dengan sahabat sepertimu terasa manis sekaligus diterima; maka pada persoalan pendek ini aku berbincang panjang, mungkin aku berlebihan. Namun karena aku memulainya dengan niat mengisyaratkan semacam tafsir ayat-ayat Al-Qur'an tentang tidur, insya Allah pemborosan itu diampuni, atau itu bukan pemborosan.