Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian 4

Bunga Cahaya · Bahasa Indonesia

Aku melihat bahwa cinta yang sangat kuat untuk kekal, cinta yang kuat terhadap wujud, kerinduan besar terhadap kehidupan, keadaan tak berdaya yang tak terbatas, serta keadaan serba membutuhkan tanpa batas menguasaiku. Padahal, kebinasaan yang mengerikan memadamkan kekalnya diriku itu. Dalam keadaan tersebut, seperti perkataan seorang penyair yang terbakar, aku berkata:

Hatiku menghendaki kekal; Al-Haqq menghendaki lenyapnya kerajaan tubuhku.

Aku jatuh dalam penyakit tanpa obat; âh, Luqman pun tidak tahu.

Aku menundukkan kepala dengan putus asa. Tiba-tiba,

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

datang menolong dan berkata, “Bacalah aku dengan teliti!” Aku pun membacanya lima ratus kali sehari. Ketika membaca, bukan hanya dengan ilmulyaqin, melainkan dengan ainulyaqin, sembilan tingkatan Hasbiye dari cahaya-cahayanya yang sangat berharga terbuka bagiku.

Tingkatan Pertama Cahaya Hasbiye: Cintaku untuk kekal tidak tertuju pada kekalnya diriku sendiri. Sebaliknya, dalam hakikatku terdapat bayangan satu manifestasi dari suatu Nama Zat Dzul-Kamâl dan Dzul-Jalâl, Pemilik Kesempurnaan Yang Mutlak, Yang dicintai pada Diri-Nya sendiri tanpa sebab. Karena itu, cinta fitrah dalam diriku, yang menghadap kepada Wujud, Kesempurnaan, dan Sifat Kekal Sang Kâmil Mutlak itu, akibat kelalaian tersesat jalannya, melekat pada bayangan, dan jatuh cinta kepada kekalnya cermin.

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

datang dan mengangkat tabir.

Aku melihat, merasakan, dan menikmati dengan haqqulyaqin bahwa kenikmatan serta kebahagiaan dari kekalnya diriku terdapat persis, bahkan lebih sempurna, dalam sikapku membenarkan, mengimani, dan meyakini bahwa Sang Bâqî Dzul-Kamâl Kekal dan merupakan Rabb-ku serta Ilah-ku. Dalil-dalil hal ini telah dijelaskan dalam Risale-i Hasbiye melalui dua belas bisikan batin serta kesadaran iman yang sangat dalam dan halus, yang membuat orang-orang dengan daya rasa menjadi heran.

Tingkatan Kedua Cahaya Hasbiye: Bersamaan dengan keadaan tak berdaya yang tak terbatas dalam fitrahku, di tengah masa tua, keadaan terasing, kesendirian, serta pengucilanku,

ketika orang-orang yang mencintai dunia menyerangku melalui tipu daya dan mata-mata mereka, aku berkata kepada hatiku, “Pasukan-pasukan menyerang seorang laki-laki lemah dan sakit yang tangannya terikat. Apakah tidak ada titik sandaran bagiku?” Aku pun mendatangi ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

. Ayat itu memberitahukan kepadaku:

Melalui dokumen hubungan iman, engkau terhubung kepada Sang Qadîr Mutlak, Sultan Yang setiap musim semi memberikan seluruh perlengkapan pasukan tumbuhan serta hewan yang terdiri atas empat ratus ribu bangsa di muka bumi dengan keteraturan sempurna. Bersamaan dengan itu, Dia menempatkan seluruh perbekalan pasukan hewan yang besar, terutama manusia, dalam sari-sari Ar-Rahmân yang disebut benih dan biji dari setiap jenis makanan. Sari-sari itu bukan seperti sari daging, gula, serta makanan lain yang baru ditemukan manusia beradab, melainkan seratus kali lebih sempurna daripada sari-sari peradaban tersebut. Dia membungkus sari-sari itu dalam petunjuk Takdir tentang memasak serta mengembangkannya, lalu menaruh dan menitipkannya dalam peti-peti kecil agar terjaga. Penciptaan peti-peti tersebut berlangsung melalui Perintah “Kün”, dari pabrik “kâf-nun” di dalamnya, dengan demikian cepat, mudah, dan banyak sehingga Al-Qur'an berkata, “Sang Khâliq memerintahkan, lalu terwujud.” Karena melalui surat hubungan iman engkau dapat menemukan titik sandaran seperti ini, engkau dapat bersandar kepada Kekuatan dan Kudrat Yang Tak Terbatas.

Ketika menerima pelajaran ini dari ayat, aku menemukan kekuatan batin demikian besar sehingga merasa memiliki daya iman yang dapat menantang bukan hanya musuh-musuhku sekarang, melainkan dunia. Bersama seluruh ruhku, aku berkata

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

.

Tingkatan Ketiga Cahaya Hasbiye: Ketika iman mengajarkan bahwa melalui tekanan keadaan terasing, penyakit, dan penindasan, aku mendapati hubunganku dengan dunia telah terputus dan menjadi calon penerima kebahagiaan yang terus berlangsung di dunia yang kekal serta negeri yang tetap ada, aku meninggalkan “Of, of!” yang mengalirkan sesal dan berkata “Oh, oh!” yang menunjukkan kegembiraan.

Namun, aku berpikir bahwa terwujudnya tujuan bayangan, sasaran ruh, dan hasil fitrah ini hanya mungkin melalui Kudrat Sang Qadîr Mutlak Yang Tak Terbatas. Dia mengetahui dan mencatat seluruh gerak, diam, keadaan, serta perbuatan seluruh makhluk-Nya melalui ucapan dan tindakan; menjadikan umat manusia yang sangat kecil dan sama sekali tak berdaya sebagai sahabat serta pihak yang Dia ajak bicara; memberikan kedudukan di atas seluruh makhluk; serta memberikan kepada manusia Pertolongan dan

Perhatian Yang Tak Terbatas. Ketika memikirkan hal ini, aku menginginkan penjelasan yang mengembangkan iman dan memberikan ketenteraman kepada hati tentang kedua pokok tersebut, yaitu bekerjanya Kudrat seperti itu dan arti penting yang sejati dari manusia yang dari luar tampak tidak berarti. Aku kembali mendatangi ayat itu. Ayat tersebut memerintahkan, “Di dalam ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ, perhatikanlah ﻧَﺎ dan dengarkan siapa yang bersama engkau mengatakan ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ melalui bahasa keadaan serta bahasa ucapan!”

Tiba-tiba, aku melihat bahwa burung-burung yang tak terbatas, lalat-lalat seperti burung kecil, hewan-hewan yang tak terhitung, tumbuhan-tumbuhan yang tiada akhir, serta pohon-pohon yang tak terbatas juga, sepertiku, mengingat makna

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

melalui bahasa keadaan dan mengingatkannya kepada semua orang. Mereka memiliki Wakil Yang menjamin seluruh syarat kehidupan mereka. Dari telur-telur yang serupa serta berbahan sama, tetesan-tetesan yang seperti sama, butir-butir yang seperti identik, dan biji-biji yang mirip, Dia menciptakan serta membuat seratus ribu jenis burung, seratus ribu ragam hewan, seratus ribu jenis tumbuhan, dan seratus ribu golongan pohon. Semuanya tanpa salah, tanpa kurang, tanpa tertukar, indah, seimbang, teratur, berbeda satu sama lain, serta memiliki ciri pembeda di depan mata kita, terutama setiap musim semi, dengan jumlah sangat banyak, sangat mudah, dan dalam lingkup sangat luas. Dalam Keagungan serta Kemegahan Kudrat yang demikian, melalui kebersamaan, kemiripan, berada di dalam satu sama lain, dan dibuat dengan satu cara, Dia menunjukkan Keesaan-Nya serta Ahadiyah-Nya kepada kita. Aku memahami bahwa Dia memberitahukan tidak mungkinnya campur tangan dan ikut serta dalam Perbuatan Rububiyah serta Pengaturan Penciptaan yang menampilkan mukjizat-mukjizat tak terbatas seperti itu.

Mereka yang ingin memahami siapa diriku secara pribadi serta hakikatku sebagai manusia, seperti setiap mukmin, dan ingin menjadi sepertiku, hendaknya memandang penjelasan tentang “aku”, yaitu nafsuku, yang terdapat dalam ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ pada kelompok ﻧَﺎ. Apakah tubuhku yang tampak tidak berarti, hina, dan serba membutuhkan—seperti tubuh setiap mukmin—sebenarnya? Apakah kehidupan, sifat manusia, Islam, iman yang bertumpu pada bukti, makrifatullah, dan bagaimana cinta seharusnya? Hendaknya mereka memahami dan mengambil pelajaran!

Tingkatan Keempat Cahaya Hasbiye: Pada suatu waktu, gangguan-gangguan yang mengguncangkan tubuhku, seperti masa tua, keadaan terasing, penyakit, dan kekalahan, bertepatan dengan suatu

waktu kelalaian dan memberikan kecemasan yang menyakitkan dengan berkata, “Menuju tidak ada,” tentang tubuhku yang sangat mengikat dan membuatku terpikat, bahkan tubuh makhluk-makhluk. Aku kembali mendatangi Ayat Hasbiye ini. Ayat itu berkata, “Perhatikan maknaku dan pandanglah dengan teropong iman!”

Aku pun memandang dan melihat dengan mata iman. Dengan ilmulyaqin aku mengetahui bahwa tubuhku yang sangat kecil ini, seperti tubuh setiap mukmin, merupakan cermin bagi Wujud Yang Tak Terbatas dan sarana untuk memperoleh wujud-wujud tak terbatas melalui bentangan yang tiada akhir. Tubuh ini merupakan suatu kalimat hikmah yang menghasilkan banyak wujud yang tetap ada, yang lebih berharga daripada dirinya. Dari segi hubungannya, hidup selama satu saat bernilai sebesar wujud yang kekal.

Sebab, melalui kesadaran iman, dengan memahami bahwa tubuhku merupakan karya, seni, dan manifestasi Wâjibul Wujûd, aku terbebas dari sangkaan yang liar, perpisahan yang tak terbatas, serta penderitaan dari kepergian dan perpisahan yang tak terbatas. Aku mengetahui bahwa dalam perpisahan sementara terdapat pertemuan yang terus berlangsung dengan seluruh makhluk tercinta yang dengannya aku menjalin hubungan melalui ikatan persaudaraan sebanyak Perbuatan serta Asma Ilahi yang berkaitan dengan makhluk, terutama makhluk hidup.

Melalui iman dan hubungan dalam iman, tubuhku ini pun, seperti setiap mukmin, memperoleh cahaya-cahaya dari wujud yang tak terbatas tanpa perpisahan. Meskipun ia sendiri pergi, karena cahaya-cahaya itu tertinggal di belakang, ia merasa senang seolah-olah tetap ada.

Ringkasnya: Kematian bukan perpisahan, melainkan pertemuan, berpindah tempat, dan bertunasnya suatu buah yang kekal.

Tingkatan Kelima Cahaya Hasbiye: Pada suatu waktu, kehidupanku kembali diguncangkan oleh keadaan yang sangat berat, yang mengalihkan perhatianku kepada umur serta kehidupan. Aku melihat bahwa umurku pergi dengan berlari dan telah mendekati akhirat. Kehidupanku juga hampir padam di bawah tekanan. Padahal, dengan merasa sakit aku berpikir bahwa tugas-tugas penting, kelebihan-kelebihan besar, dan manfaat-manfaat berharga kehidupan, yang dijelaskan dalam risalah tentang Nama Hayy, layak mendapat kehidupan yang panjang, bukan padam secepat ini. Aku kembali mendatangi ayat

ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻧِﻌْﻢَ ﺍﻟْﻮَﻛ۪ﻴﻞُ

, guruku. Ayat itu berkata, “Pandanglah kehidupan menurut Sang Hayy Yang Qayyûm, Yang memberimu kehidupan!”

Aku pun memandang dan melihat bahwa jika kehidupanku menghadap kepadaku dengan satu segi, ia menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dengan seratus segi. Jika satu hasilnya milikku,

seribu hasilnya milik Sang Khâliq-ku. Maka, hidup satu saat dalam lingkup yang diridai Allah سُبْحَانَهُ mencukupi; tidak memerlukan waktu yang panjang.

Hakikat ini dijelaskan melalui empat persoalan. Mereka yang tidak mati atau ingin menjadi hidup hendaknya mencari dan menemukan inti, hakikat, serta hak-hak sejati kehidupan dalam keempat persoalan itu, lalu menjadi hidup!..

Ringkasnya: Ketika kehidupan menghadap kepada Zat Yang Hayy lagi Qayyûm dan iman menjadi kehidupan serta ruh bagi kehidupan, ia tetap ada dan menghasilkan buah-buah yang tetap ada. Ia juga menjadi begitu tinggi sehingga memperoleh manifestasi Sifat Kekal Selamanya. Panjang atau pendeknya umur tidak lagi diperhatikan.

Tingkatan Keenam Cahaya Hasbiye: Di tengah peristiwa-peristiwa akhir zaman yang memberitakan hancurnya dunia ketika perpisahan umum terjadi, masa tua mengingatkan perpisahanku secara pribadi. Pada akhir umurku, dengan kepekaan luar biasa, perasaan memuja keindahan, mencintai keelokan, serta terpikat kepada kesempurnaan dalam fitrahku berkembang. Saat itu aku melihat dengan kesadaran dan rasa sakit luar biasa bahwa lenyap serta kebinasaan yang terus menghancurkan, dan kematian serta tidak ada yang terus memisahkan, dengan cara mengerikan mengoyak dunia serta makhluk-makhluk indah ini, memecahkannya, dan merusak keindahannya. Ketika cinta majazi (cinta kepada keindahan ciptaan) dalam fitrahku sangat bergejolak serta memberontak terhadap keadaan ini, untuk menemukan sarana penghiburan aku kembali mendatangi Ayat Hasbiye tersebut. Ayat itu berkata, “Bacalah aku dan pandanglah maknaku dengan teliti!”

Aku pun memasuki tempat pengamatan ayat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ

ilâ âhir... dalam Surah An-Nur. Dengan teropong iman aku memandang lapisan-lapisan terjauh Ayat Hasbiye ini, dan dengan mikroskop kesadaran iman memandang rahasia-rahasianya yang paling halus. Aku melihat:

Sebagaimana cermin, kaca, benda-benda bening, bahkan gelembung memperlihatkan keelokan tersembunyi dan beragam dari cahaya matahari, serta berbagai keindahan tujuh warnanya yang disebut elvan-ı seb'a, melalui pembaruan, gerak, kemampuan yang berbeda, dan pembiasan cahaya pada benda-benda itu, semuanya memperbarui keelokan serta keindahan tersebut. Melalui pembiasan cahaya itu, semuanya memperlihatkan dengan indah keindahan tersembunyi matahari, cahayanya, serta tujuh warnanya.

Persis demikian, untuk menjadi cermin bagi Keelokan Suci Sang Jamîl Dzul-Jalâl, Sang Matahari Azali dan Kekal Selamanya, serta Keindahan Yang Kekal Selamanya dari Asma-Nya Yang Indah Tanpa Batas, dan untuk memperbarui manifestasi Asma tersebut, ciptaan-ciptaan indah,

makhluk-makhluk manis, serta wujud-wujud elok ini terus datang dan pergi tanpa berhenti. Keindahan serta keelokan yang terlihat pada mereka bukan milik mereka sendiri, melainkan isyarat, tanda, kilau, dan manifestasi Keelokan Yang Kekal Selamanya serta Suci, Yang ingin tampak, dan Keindahan Yang Tak Terikat Materi serta Mahasuci, Yang terus menampakkan Tajalli dan ingin terlihat. Begitu banyak dalil kuat tentang hal ini dijelaskan secara terperinci dalam Risale-i Nur. Di sini, tiga dari dalil-dalil itu disebutkan dengan singkat serta sangat masuk akal, demikian penjelasan itu dimulai.

Setiap orang dengan cita rasa yang baik yang melihat risalah ini merasa heran. Selain mengambil manfaat sendiri, mereka merasa perlu berusaha agar orang lain juga mengambil manfaat. Terutama dalam dalil kedua, lima pokok dijelaskan. Orang yang akalnya tidak rusak dan hatinya tidak buruk tentu akan menghargai, memuji, serta menyetujui dengan berkata “Mâşâallah, fetebârekellah”. Ia akan memahami dan membenarkan bahwa hal itu merupakan mukjizat luar biasa yang mengangkat tubuhnya yang dianggap serba membutuhkan serta hina.

Harapan Kelima Belas

{(Catatan kaki): Karena masa penulisan Nur telah berakhir tiga tahun sebelumnya, Harapan Kelima Belas ini ditulis sebagai sumber bagi seorang murid Nur kelak untuk melengkapi—menulis—İhtiyarlar Lem'ası.}

Pada suatu waktu, ketika ditetapkan tinggal di Emirdağı dan berada sendirian dalam suatu tempat tinggal, hampir sebagai kurungan sendirian, pengawasan serta penindasan yang sangat berat bagiku membuatku tersiksa. Aku menjadi jemu terhadap kehidupan dan menyesal telah keluar dari penjara. Dengan seluruh jiwa serta raga, aku menginginkan Penjara Denizli dan ingin masuk ke kubur. Dengan berkata, “Penjara dan kubur lebih baik daripada cara hidup ini,” ketika memutuskan akan masuk penjara atau kubur, Pertolongan Ilahi datang menolong. Pertolongan itu memberikan mesin pengganda yang baru muncul ke tangan murid-murid Medresetü'z-Zehra, yang pena-penanya merupakan mesin pengganda. Tiba-tiba, dari masing-masing kumpulan Nur yang berharga, melalui satu pena muncul lima ratus salinan. Kemenangan-kemenangan yang mulai mereka raih membuatku mencintai kehidupan yang penuh kesusahan itu dan berkata, “Syukur tanpa batas.”

Beberapa waktu kemudian, musuh-musuh tersembunyi Risale-i Nur tidak dapat menanggung kemenangan-kemenangan Nur. Mereka menggerakkan pemerintah untuk menentang kami. Kehidupan kembali menjadi berat bagiku. Tiba-tiba, Pertolongan Rabb menampakkan Tajalli. Para pegawai yang terlibat, yang paling membutuhkan Nur, karena tugas mereka membaca Risalah Nur yang disita dengan penuh minat serta perhatian,

dan menelitinya. Namun, Nur membuat hati mereka menjadi pendukungnya. Ketika mereka mulai menghargai sebagai ganti mengkritik, ruang pelajaran Nur menjadi sangat luas. Hal ini memberikan manfaat seratus kali lebih besar daripada kerugian materi kami dan membuat kecemasan yang menyusahkan menjadi tidak berarti.

Kemudian, musuh-musuh munafik yang tersembunyi mengarahkan perhatian pemerintah kepada diriku. Mereka mengingatkan kehidupan politikku dahulu. Mereka menimbulkan sangkaan keliru pada pengadilan, Dinas Pendidikan, kepolisian, serta Kementerian Dalam Negeri. Melalui arus partai-partai dan hasutan kaum anarkis di balik kedok kaum komunis, sangkaan keliru itu meluas. Mereka mulai menekan, menahan kami, dan menyita risalah-risalah yang jatuh ke tangan mereka. Kegiatan murid-murid Nur terhenti. Dengan pikiran merusak diriku, sebagian pegawai resmi melontarkan tuduhan yang tidak akan dipercayai siapa pun. Mereka berusaha menyebarkan fitnah yang sangat aneh, tetapi tidak dapat membuat siapa pun percaya.

Kemudian, melalui alasan-alasan yang sangat sepele, mereka menahanku pada hari-hari paling dingin di tengah musim dingin, dan memenjarakanku dalam pengucilan sepenuhnya di ruang tahanan yang besar, sangat dingin, serta tanpa tungku selama dua hari. Dalam kamar kecilku, meskipun menyalakan tungku beberapa kali sehari dan api selalu ada di anglo, aku masih sulit bertahan karena kelemahan serta penyakit. Kini, dalam keadaan ini, ketika aku menggigil akibat dingin dan meronta di tengah kesusahan yang mengerikan serta kemarahan, melalui Pertolongan Ilahi suatu hakikat terbuka dalam hatiku.

Secara batin, ruhku diberi peringatan, “Engkau menamai penjara Medrese-i Yusufiye (Madrasah Yusufiyah). Di Denizli, hasil-hasil seperti rasa lega, keuntungan batin, manfaat Nur bagi para tahanan di sana, dan kemenangan Nur dalam lingkup besar, yang seribu kali melebihi kesusahan kalian, membuat kalian bersyukur ribuan kali sebagai ganti mengeluh. Semuanya menjadikan setiap jam penjara dan kesusahan setara dengan sepuluh jam ibadah, serta membuat jam-jam yang sementara itu tetap ada. İnşâallah, manfaat dan penghiburan yang diperoleh orang-orang tertimpa musibah dalam Madrasah Yusufiyah Ketiga ini dari Nur akan menghangatkan kesusahanmu yang dingin serta berat dan mengubahnya menjadi kegembiraan. Jika orang-orang yang membuatmu marah telah tertipu, mereka menzalimimu tanpa mengetahui. Mereka tidak layak dimarahi. Jika mereka menyakitimu dan menyiksamu dengan mengetahui, niat buruk, serta demi kesesatan, dalam waktu sangat dekat mereka akan masuk ke kurungan seorang diri dalam kubur melalui kematian yang merupakan lenyap untuk selama-lamanya, lalu menanggung azab menyusahkan yang terus berlangsung. Melalui kezaliman mereka, engkau memperoleh pahala, membuat jam-jam yang sementara tetap ada, memperoleh kenikmatan batin, dan menjalankan tugas ilmu serta agama dengan ikhlas!”

Aku pun berkata “Elhamdülillah” dengan seluruh kekuatanku. Melalui rasa kemanusiaan, aku merasa iba terhadap orang-orang zalim itu dan berdoa, “Yâ Rabbi! Perbaikilah mereka!”

Dalam peristiwa baru ini, seperti kutulis dalam pernyataanku kepada Kementerian Dalam Negeri, perlakuan mereka melanggar hukum dari sepuluh segi. Orang-orang zalim yang melanggar hukum atas nama hukum itu—merekalah sebenarnya yang bersalah—mencari alasan-alasan demikian. Melalui fitnah serta rekaan yang membuat pendengar tertawa dan pencinta kebenaran menangis, mereka menunjukkan kepada orang-orang yang berlaku adil bahwa dari segi hukum serta hak, mereka tidak menemukan peluang untuk mengganggu Risale-i Nur dan murid-muridnya, sehingga menempuh kegilaan.

Di antaranya: Karena pegawai-pegawai yang memata-matai kami selama sebulan tidak dapat menemukan alasan apa pun, mereka menulis sebuah catatan, “Orang yang berkhidmah kepada Said membeli minuman keras rakı dari sebuah toko dan membawanya kepadanya.” Karena tidak dapat menemukan siapa pun untuk menandatangani catatan itu, mereka akhirnya menangkap seorang liar dan mabuk, lalu berkata dengan mengancam, “Mari, tanda tangani ini!” Orang itu berkata, “Tobat, berkali-kali tobat! Siapa yang dapat menandatangani kebohongan aneh ini?” Ia memaksa mereka merobek catatan tersebut.

Contoh kedua: Seseorang yang tidak kukenal dan sampai sekarang pun belum kukenal menyediakan kudanya untuk membawaku berjalan-jalan. Karena sakit, pada sebagian besar hari di musim panas aku berjalan-jalan selama satu atau dua jam dengan tujuan menghirup udara. Aku berjanji memberi pemilik kuda dan kereta itu kitab senilai lima puluh lira, agar kaidahku tidak rusak dan aku tidak merasa berutang budi. Adakah kemungkinan bahaya apa pun dalam hal ini? Padahal, gubernur, petugas pengadilan, petugas keamanan, dan polisi bertanya kepada kami lima puluh kali, “Kuda itu milik siapa?” Seolah-olah ini peristiwa politik yang besar dan berkaitan dengan ketertiban. Bahkan, agar pertanyaan-pertanyaan tanpa arti ini berhenti, dua orang dengan semangat membantu berkata, yang satu, “Kuda itu milikku,” dan yang lain, “Kereta itu milikku.” Karena itu, mereka menahan keduanya bersama aku.

Seperti contoh-contoh ini, kami menyaksikan banyak permainan anak-anak, lalu menangis sambil tertawa dan memahami bahwa orang-orang yang mengganggu Risale-i Nur serta murid-muridnya akan menjadi bahan tertawaan.

Suatu percakapan halus dari contoh-contoh itu: Karena pada surat penahananku tertulis alasan tuduhan melanggar keamanan, sebelum melihat catatan tersebut aku berkata kepada jaksa, “Semalam aku melakukan gibah tentangmu.” Kepada seorang polisi yang memintaku berbicara atas nama Kepala Keamanan, aku berkata, “Jika di negeri ini aku tidak melakukan khidmah bagi keamanan

umum sebesar seribu jaksa dan seribu kepala keamanan, semoga Allah سُبْحَانَهُ membinasakanku!”—tiga kali.

Kemudian, pada saat ini, dalam dingin ini, ketika aku sangat membutuhkan istirahat, tidak kedinginan, dan tidak memikirkan dunia, muncul rasa kecewa serta marah yang luar biasa terhadap mereka yang, dengan cara yang menunjukkan niat buruk dan kesengajaan, mendorongku kepada pemindahan paksa, pengucilan, penahanan, serta tekanan yang melampaui daya tahanku. Suatu Pertolongan datang menolong. Secara batin, hati diberi peringatan:

Dalam kezaliman manusia itu sendiri terhadapmu, terdapat bagian besar dari Takdir Ilahi yang merupakan Keadilan itu sendiri. Dalam penjara ini terdapat rezeki yang akan engkau makan. Rezeki itu memanggilmu ke sini. Hendaknya engkau menanggapinya dengan rela dan berserah diri.

Hikmah serta Rahmat Rabb juga memiliki bagian besar: menerangi dan menghibur orang-orang dalam penjara ini, serta memberi kalian pahala. Terhadap bagian ini, hendaknya bersyukur ribuan kali dalam kesabaran.

Nafsumu juga memiliki bagian melalui kesalahan-kesalahannya yang tidak engkau ketahui. Terhadap bagian itu, melalui istigfar dan tobat, engkau harus berkata kepada nafsumu, “Engkau pantas mendapat tamparan ini!”

Musuh-musuh tersembunyi juga memiliki bagian melalui tipu daya yang menyesatkan beberapa pegawai yang polos serta penuh sangkaan, lalu mendorong mereka kepada kezaliman tersebut. Terhadap hal ini, tamparan-tamparan batin mengerikan yang diberikan Risale-i Nur kepada orang-orang munafik itu telah sepenuhnya membalas mereka atas kezaliman terhadapmu. Hal itu cukup bagi mereka.

Bagian terakhir ialah pegawai-pegawai resmi yang secara langsung menjadi perantara. Terhadap bagian ini, demi manfaat iman yang pasti mereka peroleh ketika, mau tidak mau, membaca Nur dengan niat mengkritik, memaafkan mereka melalui prinsip

ﻭَﺍﻟْﻜَﺎﻇِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆَ ﻭَﺍﻟْﻌَﺎﻓ۪ﻴﻦَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ

merupakan sikap berjiwa besar.

Melalui peringatan yang benar ini, dengan rasa lega dan syukur penuh, aku memutuskan tinggal dalam Madrasah Yusufiyah yang baru ini, bahkan melakukan pelanggaran yang tidak membahayakan tetapi membuatku mendapat hukuman, agar membantu orang-orang yang menentangku.

Selain itu, aku berusia tujuh puluh lima tahun dan tidak memiliki ikatan duniawi. Dari tujuh puluh sahabat yang kucintai di dunia, hanya lima yang masih hidup. Tujuh puluh ribu salinan Nur yang akan menjalankan tugas Nur tetap ada dan

beredar bebas. Aku pun memiliki saudara-saudara dan pewaris yang akan melakukan khidmah iman melalui ribuan lisan sebagai ganti satu lisan. Bagi orang sepertiku, kubur seratus kali lebih baik daripada penjara ini. Penjara ini pun seratus kali lebih nyaman dan bermanfaat daripada kebebasan di luar yang berada di bawah penindasan tanpa kebebasan. Sebab, sebagai ganti seorang diri menanggung penindasan ratusan pegawai terkait di luar, dalam penjara bersama ratusan tahanan ia hanya harus menanggung penguasaan ringan satu atau dua orang, seperti kepala dan kepala sipir, demi suatu manfaat. Sebagai gantinya, ia menerima penghargaan persaudaraan serta penghiburan dari banyak sahabat dalam penjara. Selain itu, kasih sayang Islam dan fitrah manusia memberikan belas kasih kepada orang lanjut usia dalam keadaan ini, sehingga mengubah kesulitan penjara menjadi rahmat. Dengan memahami ini, aku rela terhadap penjara.

Ketika datang ke pengadilan ketiga ini, karena lemah, lanjut usia, dan sakit, aku kesulitan berdiri, sehingga duduk di kursi di luar pintu pengadilan. Tiba-tiba, seorang hakim datang, marah, dan berkata dengan menghina, “Mengapa ia tidak menunggu sambil berdiri?” Karena masa tua, aku marah terhadap sikap tidak berbelas kasih ini. Tiba-tiba, aku melihat begitu banyak Muslim berkumpul di sekitar kami, memandang dengan kasih sayang, persaudaraan, serta belas kasih penuh dan tidak dapat dibubarkan. Tiba-tiba, “dua hakikat” diingatkan:

Yang pertama: Musuh-musuh tersembunyi yang memusuhi diriku serta Nur menipu beberapa pegawai resmi yang polos, dengan pikiran bahwa mengurangi simpati masyarakat kepadaku, padahal tidak kuminta, akan menghalangi kemenangan Nur. Dengan keinginan merusak diriku dalam pandangan bangsa, mereka mendorong pegawai itu memperlakukanku dengan penghinaan seperti ini. Sebagai tanggapan, Pertolongan Ilahi memberikan karunia atas khidmah iman Nur: Sebagai ganti penghinaan satu orang itu, lihatlah seratus orang ini! Dengan menghargai khidmah kalian, merasa iba penuh kasih sayang, serta perhatian, mereka menyambut dan mengantar kalian.

Bahkan, pada hari kedua, ketika aku menjawab pertanyaan jaksa di ruang hakim penyidik, sekitar seribu penduduk berkumpul dengan perhatian penuh di halaman pemerintah, menghadap jendela-jendela pengadilan. Melalui bahasa keadaan, mereka seolah-olah menyatakan, “Jangan menyusahkan mereka!” Polisi tidak dapat membubarkannya. Hatiku diberi peringatan:

Penduduk ini menginginkan penghiburan yang utuh, cahaya yang tidak dapat dipadamkan, iman yang kuat, dan kabar gembira yang benar tentang kebahagiaan yang kekal pada abad yang berbahaya ini,

serta mencarinya secara fitrah. Mereka mendengar bahwa yang dicari terdapat dalam Risalah Nur, sehingga memberikan penghargaan kepada diriku yang tidak berarti jauh melampaui kelayakanku, karena sedikit khidmahku kepada iman.

Hakikat kedua: Sebagai tanggapan terhadap perlakuan buruk sejumlah kecil orang yang tertipu, yang menghina kami dengan sangkaan bahwa kami melanggar keamanan dan dengan tujuan mengurangi simpati masyarakat, terdapat tepuk tangan penghargaan para ahli hakikat yang tak terhitung serta generasi mendatang, demikian peringatan itu diberikan.

Ya, ketika anarki di balik kedok komunisme berusaha secara mengerikan merusak keamanan umum, Risale-i Nur dan murid-muridnya melalui kekuatan iman yang pasti berdasarkan bukti menghentikan serta mematahkan kerusakan mengerikan itu di seluruh tanah air ini. Mereka berusaha menjamin keamanan dan ketertiban. Dalam dua puluh tahun ini, tiga atau empat pengadilan yang terkait dan petugas keamanan sepuluh provinsi tidak menemukan serta tidak mencatat satu peristiwa pelanggaran keamanan dari murid-murid Nur, yang sangat banyak serta berada di seluruh negeri. Sebagian petugas keamanan yang berlaku adil di tiga provinsi berkata:

“Murid-murid Nur merupakan petugas keamanan secara batin. Mereka membantu kami menjaga ketertiban. Dengan iman yang pasti berdasarkan bukti, mereka menempatkan penjaga larangan dalam pikiran setiap orang yang membaca Nur dan berusaha menjamin keamanan.”

Salah satu contohnya ialah Penjara Denizli. Dengan masuknya Nur dan Risalah Buah yang ditulis bagi para tahanan itu, dalam tiga atau empat bulan lebih dari dua ratus tahanan memperoleh perubahan yang demikian luar biasa, patuh, dan saleh dalam agama sehingga seorang yang telah membunuh tiga atau empat orang enggan membunuh kutu busuk. Ia mulai menjadi anggota masyarakat yang sepenuhnya berbelas kasih, tidak membahayakan, dan bermanfaat bagi tanah air. Bahkan, pegawai resmi memandang keadaan ini dengan heran serta menghargai. Sebagian pemuda yang belum menerima vonis berkata, “Jika murid-murid Nur tetap di penjara, kami akan membuat diri kami dihukum dan berusaha mendapat hukuman agar belajar dari mereka serta menjadi seperti mereka. Melalui pelajaran mereka, kami akan memperbaiki diri.”

Orang-orang yang menuduh murid Nur, yang memiliki sifat seperti ini, melanggar keamanan tentu telah tertipu atau ditipu dengan sangat buruk, atau—dengan mengetahui maupun tanpa mengetahui—menyesatkan pemerintah demi anarki dan berusaha menghancurkan kami melalui siksaan.

Terhadap mereka kami berkata: Karena kematian tidak dibunuh, kubur tidak ditutup, dan para pengembara di tempat bertamu dunia masuk ke belakang tanah serta menghilang dengan sangat cepat dan tergesa, rombongan demi rombongan, tentu dalam waktu sangat dekat kita akan berpisah. Kalian akan melihat hukuman kezaliman kalian

dengan cara mengerikan. Setidaknya, kalian akan naik ke tiang gantungan lenyap untuk selama-lamanya dari kematian, yang bagi ahli iman yang dizalimi merupakan surat pembebasan. Kenikmatan yang sementara yang kalian peroleh di dunia dengan menyangka kekal akan berubah menjadi penderitaan yang tetap ada dan menyakitkan.

Sangat disayangkan, musuh-musuh munafik yang tersembunyi terkadang memberi nama “tarekat” kepada hakikat Islam, yang diperoleh serta dijaga melalui darah dan pedang ratusan juta syahid pada kedudukan wali serta pejuang perkasa bangsa yang taat beragama ini. Mereka menunjukkan corak tarekat, yang hanya satu sinar matahari tersebut, sebagai matahari itu sendiri. Dengan menipu beberapa pegawai pemerintah yang kurang teliti dan memberi nama “penganut tarekat” serta “anggota perkumpulan politik” kepada murid-murid Nur yang bekerja dengan pengaruh kuat bagi hakikat Al-Qur'an serta hakikat-hakikat iman, mereka ingin menggerakkannya untuk menentang kami. Seperti dikatakan dalam pengadilan Denizli yang adil, kami berkata kepada mereka dan orang-orang yang mendengarkan mereka untuk menentang kami:

“Semoga kepala kami juga dikorbankan bagi suatu hakikat suci yang demi dirinya ratusan juta kepala telah berkorban. Meskipun kalian menjadikan dunia api di atas kepala kami, kepala-kepala yang dikorbankan bagi hakikat Al-Qur'an tidak akan menyerahkan senjata kepada paham zindik dan tidak akan meninggalkan tugas sucinya, inşâallah!”

Melalui penghiburan-penghiburan suci dari iman dan Al-Qur'an yang datang menolong penderitaan serta putus asa dalam perjalanan masa tuaku, aku tidak akan menukar satu tahun paling sulit dalam masa tua ini dengan sepuluh tahun paling lapang dalam masa muda. Terutama dalam penjara, setiap jam orang yang menunaikan salat fardu dan bertobat menjadi setara dengan sepuluh jam ibadah. Dalam penyakit serta keadaan dizalimi, setiap hari yang sementara juga memberikan sepuluh hari umur yang tetap ada dari segi pahala. Melalui peringatan batin itu, aku mengetahui betapa hal ini menjadi sarana syukur bagi orang sepertiku yang menantikan giliran di pintu kubur. Aku berkata, “Syukur tanpa batas kepada Rabb-ku!” Aku bergembira atas masa tua dan rela terhadap penjaraku.

Sebab, umur tidak berhenti, pergi dengan cepat. Jika berlalu dengan kenikmatan serta rasa lega, karena lenyapnya kenikmatan adalah penderitaan, umur berlalu dan pergi, meninggalkan sesal, tidak bersyukur, kelalaian, serta sebagian dosa sebagai gantinya. Jika berlalu dalam penjara serta kesulitan, karena berakhirnya penderitaan menjadi kenikmatan batin dan dianggap semacam ibadah, dari satu segi umur tetap ada dan melalui buah-buah kebaikannya memberi umur yang tetap ada. Hal itu menjadi penghapus dosa-dosa masa lalu serta kesalahan yang menyebabkan penjara, dan membersihkannya. Dari sudut pandang ini, tahanan yang menunaikan kewajiban fardu harus bersyukur dalam kesabaran.

HARAPAN KEENAM BELAS

Pada suatu waktu pada masa tua, setelah menjalani hukuman satu tahun, aku keluar dari Penjara Eskişehir. Mereka mengasingkanku ke Kastamonu dan menjadikanku tamu di kantor polisi selama dua atau tiga bulan. Dapat dipahami betapa orang sepertiku, yang menyendiri, merasa tidak nyaman bertemu sahabat-sahabat setia, dan tidak dapat menanggung perubahan pakaian, menderita di tempat-tempat seperti itu.

Ketika aku berada dalam putus asa ini, tiba-tiba Pertolongan Ilahi datang menolong masa tuaku. Komisaris di kantor itu, bersama para polisi, menjadi sahabat-sahabat setia. Mereka tidak pernah mengingatkan agar aku mengenakan topi, dan seperti orang-orang yang berkhidmah kepadaku, mereka membawaku berjalan-jalan di sekitar kota kapan pun aku menginginkannya.

Kemudian, aku memasuki Madrasah Nuriyah di Kastamonu, di seberang kantor polisi itu, dan mulai menulis Nur. Murid-murid Nur yang menjadi pahlawan, seperti Feyzi, Emin, Hilmi, Sadık, Nazif, dan Salahaddin, terus datang ke madrasah tersebut untuk menyebarkan serta memperbanyak Nur. Mereka memperlihatkan diskusi ilmu yang berharga, yang kulalui bersama murid-murid lama pada masa muda, dengan cara yang lebih terang.

Kemudian, musuh-musuh tersembunyi menimbulkan sangkaan keliru terhadap kami pada beberapa pegawai serta sebagian guru dan syekh yang penuh ananiyah. Mereka menjadi sarana berkumpulnya kami, murid-murid Nur dari lima atau enam provinsi, di Madrasah Yusufiyah dalam Penjara Denizli. Rincian Harapan Keenam Belas ini terdapat dalam surat-surat kecil yang kukirim dari Kastamonu dan masuk ke Lâhika (Lampiran), serta yang kukirim secara rahasia kepada saudara-saudara di Penjara Denizli, dan dalam Müdafaa Risalesi (Risalah Pembelaan) di pengadilannya. Semuanya memperlihatkan hakikat harapan ini dengan terang. Dengan merujuk rincian kepada Lâhika dan pembelaanku, kami hanya akan memberikan isyarat yang sangat singkat.

Aku menyembunyikan kumpulan-kumpulan rahasia dan penting, terutama risalah-risalah tentang Sufyan serta karamah Nur, di bawah arang dan kayu bakar. Dengan pikiran agar diterbitkan setelah aku wafat atau setelah para pemimpin di atas mendengar hakikat dan kembali berakal sehat, aku merasa tenang. Tiba-tiba, pegawai penggeledah serta wakil jaksa menyerbu tempat tinggalku. Mereka mengeluarkan risalah-risalah rahasia dan penting itu dari bawah kayu bakar. Mereka juga menahanku dan mengirimkanku ke Penjara Isparta dalam keadaan kesehatan yang terganggu.

Ketika aku sangat menderita dan merasa sakit yang mengerikan akibat kerugian yang menimpa Nur, Pertolongan Ilahi datang menolong kami. Risalah-risalah penting yang disembunyikan itu, yang sangat perlu dibaca oleh orang-orang dalam pemerintahan,

mulai mereka baca dengan penuh minat serta perhatian, sehingga kantor-kantor resmi yang besar hampir menjadi ruang pelajaran Nur. Dengan pikiran mengkritik, mereka mulai menghargai. Bahkan, tanpa kami ketahui, di Denizli banyak orang resmi dan tidak resmi, dengan cara yang luar biasa tersembunyi, membaca Âyetü'l-Kübra (Tanda Terbesar) yang telah dicetak dan memperkuat iman. Mereka membuat musibah penjara kami menjadi tidak berarti.

Kemudian, mereka memasukkan kami ke Penjara Denizli. Mereka menempatkanku dalam pengucilan sepenuhnya di ruang tahanan yang berbau busuk, lembap, dan dingin. Ketika aku meronta dalam masa tua, penyakit, penderitaan besar akibat kesulitan sahabat-sahabat tidak berdosa karena diriku, serta sesal dan kesusahan besar akibat terhentinya Nur serta penyitaannya, tiba-tiba Pertolongan Rabb datang menolong. Tiba-tiba, penjara besar itu berubah menjadi ruang pelajaran Nur dan terbukti merupakan Madrasah Yusufiyah (A.S.). Nur pun mulai tersebar melalui pena-pena berlian para pahlawan Medresetü'z-Zehra. Bahkan, dalam keadaan yang berat itu, seorang pahlawan Nur menulis lebih dari dua puluh salinan Risalah Buah dan Müdafaat Risalesi dalam tiga atau empat bulan. Mereka mulai meraih kemenangan dalam penjara maupun di luar. Pertolongan itu mengubah kerugian dalam musibah kami menjadi manfaat besar dan kesusahan kami menjadi kegembiraan, serta kembali menunjukkan rahasia

ﻋَﺴٰٓﻰ ﺍَﻥْ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ

.

Kemudian, melalui kritik keras tim ahli pertama terhadap kami berdasarkan catatan yang salah serta dangkal, bersama serangan mengerikan Menteri Pendidikan dan terbitnya pernyataan yang menentang kami, bahkan ketika menurut sebagian berita dilakukan usaha untuk menghukum mati sebagian dari kami, Pertolongan Rabb datang menolong.

Terutama ketika kami menantikan kritik keras para ahli Ankara, datang laporan-laporan mereka yang menghargai. Meskipun mereka menemukan lima atau sepuluh kekeliruan dalam lima peti Risalah Nur, di pengadilan kami membuktikan bahwa pokok-pokok yang mereka tunjukkan sebagai kekeliruan serta kesalahan merupakan hakikat sepenuhnya, dan mereka sendiri keliru tentang persoalan-persoalan yang disebut salah itu. Kami juga menunjukkan lima atau sepuluh kekeliruan serta kesalahan dalam laporan mereka yang terdiri atas lima lembar. Setelah Risalah Buah serta Müdafaaname Risaleleri (Risalah-risalah Pembelaan) dikirim ke tujuh pihak berwenang, dan seluruh Risalah Nur dikirim ke Kementerian Kehakiman, terutama ketika kami menantikan perintah-perintah keras yang mengancam sebagai tanggapan terhadap tamparan-tamparan menyentuh serta keras dari risalah-risalah rahasia, dengan sangat lembut, bahkan penuh penghiburan,

dan sikap mereka yang membiarkan kami dengan cara berdamai, seperti surat yang dikirim Perdana Menteri kepada kami, membuktikan dengan pasti bahwa:

Hakikat-hakikat Risale-i Nur, melalui karamah Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ, mengalahkan mereka dan membuat mereka membaca risalah-risalah itu sebagai bimbingan. Hakikat-hakikat itu menjadikan lingkungan luas tersebut semacam ruang belajar, menyelamatkan iman banyak orang yang ragu dan bingung, serta memberi kebahagiaan rohani dan manfaat seratus kali lebih besar daripada kesusahan kami.

Kemudian musuh-musuh tersembunyi meracuniku. Pahlawan Nur yang syahid, almarhum Hafiz Ali, masuk rumah sakit sebagai gantiku dan pergi ke alam barzakh sebagai penggantiku. Ia membuat kami menangis dengan putus asa. Sebelum musibah ini, di sebuah gunung di Kastamonu aku berkali-kali berseru, “Saudara-saudaraku! Jangan berikan daging kepada kuda dan rumput kepada singa.” Artinya, jangan berikan setiap risalah kepada setiap orang, supaya kami tidak diserang. Hafiz Ali rahmetullahi aleyh, yang berada sejauh tujuh hari perjalanan kaki, seakan-akan mendengar melalui telepon rohaninya. Pada waktu yang sama ia menulis kepadaku, “Ya, Ustadku, salah satu karamah Risale-i Nur ialah ia tidak memberikan daging kepada kuda dan rumput kepada singa. Justru ia memberikan rumput kepada kuda dan daging kepada singa; ia memberikan İhlas Risalesi (Risalah Ikhlas) kepada guru yang seperti singa itu.” Tujuh hari kemudian kami menerima suratnya. Kami menghitung waktunya: tepat ketika aku berseru di gunung, ia menuliskan kata-kata yang tidak biasa itu dalam suratnya.

Wafatnya pahlawan rohani Nur seperti itu, usaha kaum munafik tersembunyi untuk menghukum kami melalui tipu daya terhadap kami, serta kecemasan bahwa penyakitku akibat racun akan membuatku juga dipaksa masuk rumah sakit dengan perintah resmi, semuanya menekan kami. Tiba-tiba Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ datang membantu.

Berkat doa-doa tulus saudara-saudaraku yang diberkahi, bahaya racun itu berlalu. Tanda-tanda kuat menunjukkan bahwa almarhum yang syahid itu sibuk dengan risalah-risalah Nur di kuburnya dan menjawab malaikat yang bertanya kepadanya dengan risalah-risalah Nur. Pahlawan Denizli, Hasan Feyzi rahmetullahi aleyh, beserta sahabat-sahabatnya, yang akan bekerja untuk Nur sebagai penggantinya dan dengan cara kerjanya, memberikan khidmah yang berpengaruh secara tersembunyi. Bahkan musuh-musuh kami mendukung agar kami keluar dari penjara karena para tahanan mendadak menjadi baik berkat Nur. Murid-murid Nur, seperti Ashabulkahfi, mengubah tempat menjalani kesulitan itu menjadi gua-gua Ashabulkahfi dan para pelaku latihan rohani pada zaman dahulu. Dengan hati tenang mereka berusaha menerbitkan dan menyalin risalah-risalah Nur. Semua itu membuktikan bahwa Pertolongan Rabb datang membantu kami.

Terpikir pula dalam hatiku: karena para mujtahid besar seperti Imam A'zam telah menjalani penjara, dan seorang pejuang

yang sangat besar seperti Imam Ahmad bin Hanbal telah mendapat banyak siksaan di penjara hanya karena satu persoalan Al-Qur'an; ia tetap teguh dengan sabar sepenuhnya tanpa mengeluh dan tidak berdiam diri mengenai persoalan-persoalan itu. Banyak imam dan ulama yang sangat luas ilmunya, meskipun disiksa jauh lebih berat daripada kalian, tetap bersyukur dengan sabar sepenuhnya dan tidak terguncang. Tentu kalian wajib mengucapkan ribuan terima kasih karena hanya sedikit mengalami kesulitan, sedangkan kalian memperoleh pahala dan keuntungan yang sangat besar demi banyak hakikat Al-Qur'an.

Ya, aku akan menjelaskan secara singkat suatu manifestasi Pertolongan Rabb di tengah kezaliman manusia:

Ketika berusia dua puluh tahun, aku berulang kali berkata, “Seperti orang-orang yang meninggalkan dunia dan mengasingkan diri di gua-gua pada zaman dahulu, pada akhir hidupku aku pun akan mengasingkan diri ke sebuah gua atau gunung dan meninggalkan kehidupan sosial manusia.” Ketika menjadi tawanan di wilayah timur laut pada Perang Dunia terdahulu, aku juga telah memutuskan, “Mulai sekarang aku akan menghabiskan hidupku di gua-gua. Aku akan melepaskan diri dari kehidupan politik dan sosial. Cukuplah sudah ikut campur.” Ketika aku berkata demikian, Pertolongan Rabb dan Keadilan Takdir menampakkan Tajalli. Karena menyayangi masa tuaku, dengan cara yang jauh lebih baik daripada keputusan dan keinginanku, gua-gua yang kubayangkan itu diubah menjadi penjara, tempat mengasingkan diri, tempat menjalani kesulitan dalam kesendirian, dan tempat pemisahan sepenuhnya dari orang lain. Aku diberi “Madrasah-Madrasah Yusufiyah”, yang jauh lebih tinggi daripada gua-gua di gunung milik para pelaku latihan rohani dan orang-orang yang mengasingkan diri, serta tempat-tempat pemisahan agar kami tidak menyia-nyiakan waktu. Aku diberi manfaat gua untuk akhirat sekaligus khidmah penuh perjuangan bagi hakikat-hakikat iman dan Al-Qur'an.

Bahkan aku telah bertekad: setelah teman-temanku dibebaskan, aku akan menunjukkan suatu pelanggaran agar tetap berada di penjara. Orang-orang yang tidak menikah seperti Hüsrev dan Feyzi hendaknya tinggal bersamaku. Dengan suatu alasan aku akan berada di bangsal pemisahan agar tidak bertemu orang-orang dan tidak menghabiskan waktu dengan percakapan yang tidak perlu, sikap dibuat-buat, dan memamerkan diri.

Namun, Takdir Allah سُبْحَانَهُ dan bagian yang ditetapkan bagi kami membawa kami ke tempat lain untuk menjalani kesulitan. Dengan rahasia

ﺍَﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻓ۪ﻰ ﻣَﺎ ﺍﺧْﺘَﺎﺭَﻩُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ٭ ﻋَﺴٰٓﻰ ﺍَﻥْ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮﺍ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَﻜُﻢْ

, karena menyayangi masa tuaku dan agar aku lebih banyak bekerja dalam khidmah iman, kami diberi tugas di Madrasah Yusufiyah ketiga ini, di luar pilihan dan rencana kami.

Ya, Pertolongan Allah سُبْحَانَهُ, karena menyayangi masa tuaku, mengubah gua-gua yang sebetulnya cocok untuk masa mudaku—ketika aku tidak mempunyai musuh yang kuat dan tersembunyi—menjadi tempat-tempat pemisahan seorang diri di penjara. Dalam hal ini terdapat tiga hikmah dan tiga manfaat penting bagi khidmah Nur:

Hikmah dan manfaat pertama: Pada masa ini, murid-murid Nur dapat berkumpul tanpa menimbulkan bahaya di Madrasah Yusufiyah. Di luar, pertemuan dan percakapan satu sama lain memerlukan biaya dan mengundang kecurigaan. Bahkan sebagian orang datang dengan menghabiskan empat puluh atau lima puluh lira untuk menemuiku, lalu pulang setelah bertemu dua puluh menit atau tanpa bertemu sama sekali. Agar dapat melihat sebagian saudaraku dari dekat, aku dengan senang hati menerima kesulitan penjara. Jadi, penjara merupakan nikmat dan rahmat bagi kami.

Hikmah dan manfaat kedua: Pada masa ini, khidmah iman melalui risalah-risalah Nur berlangsung dengan mengumumkannya di mana-mana dan menarik perhatian orang-orang yang membutuhkannya. Penahanan kami menarik perhatian kepada Nur dan menjadi semacam pengumuman. Orang-orang yang paling keras kepala atau paling membutuhkan menemukannya, menyelamatkan imannya, keras kepalanya patah, dan terbebas dari bahaya. Ruang belajar Nur pun meluas.

Hikmah dan manfaat ketiga: Selain belajar dari keadaan, watak, ikhlas, dan pengorbanan satu sama lain, murid-murid Nur yang masuk penjara tidak lagi mencari keuntungan duniawi dalam khidmah Nur. Ya, melalui banyak tanda di Madrasah Yusufiyah, mereka melihat dengan mata sendiri bahwa setiap kesusahan dan kesulitan menghasilkan manfaat jasmani dan rohani, hasil-hasil yang baik, serta khidmah iman yang luas dan tulus, sepuluh bahkan seratus kali lipat. Karena itu, mereka berhasil mencapai ikhlas sepenuhnya dan tidak lagi merendahkan diri untuk mencari keuntungan kecil dan pribadi.

Tempat-tempat menjalani kesulitan ini mempunyai suatu keindahan yang khusus bagiku, serta keadaan yang sedih tetapi manis. Demikianlah:

Aku melihat keadaan yang sama dengan madrasah lama yang kulihat di daerah kami pada masa muda. Sebab, menurut kebiasaan lama di provinsi-provinsi timur, persediaan makanan sebagian murid madrasah datang dari luar. Sebagian madrasah memasak di dalam. Dalam beberapa segi lain pun madrasah-madrasah itu menyerupai tempat menjalani kesulitan ini. Setiap kali memandang tempat ini dengan rindu yang nikmat, dalam khayal aku kembali ke masa muda yang dahulu dan masa yang manis itu. Aku pun melupakan keadaan masa tua...

--

Surat Kedua Puluh Satu

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪ ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍِﻣَّﺎ ﻳَﺒْﻠُﻐَﻦَّ ﻋِﻨْﺪَﻙَ ﺍﻟْﻜِﺒَﺮَ ﺍَﺣَﺪُﻫُﻤَﺎ ﺍَﻭْ كِلَاهُمَا فَلَا ﺗَﻘُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺍُﻑٍّ وَلَا ﺗَﻨْﻬَﺮْﻫُﻤَﺎ ﻭَﻗُﻞْ ﻟَﻬُﻤَﺎ قَوْلًا ﻛَﺮ۪ﻳﻤًﺎ ﻭَﺍﺧْﻔِﺾْ ﻟَﻬُﻤَﺎ ﺟَﻨَﺎﺡَ ﺍﻟﺬُّﻝِّ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻭَﻗُﻞْ ﺭَﺏِّ ﺍﺭْﺣَﻤْﻬُﻤَﺎ ﻛَﻤَﺎ ﺭَﺑَّﻴَﺎﻧ۪ﻰ ﺻَﻐ۪ﻴﺮًﺍ ﺭَﺑُّﻜُﻢْ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻓ۪ﻰ ﻧُﻔُﻮﺳِﻜُﻢْ ﺍِﻥْ ﺗَﻜُﻮﻧُﻮﺍ ﺻَﺎﻟِﺤ۪ﻴﻦَ ﻓَﺎِﻧَّﻪُ ﻛَﺎﻥَ لِـلْاَوَّاب۪ينَ ﻏَﻔُﻮﺭًﺍ

Wahai orang lalai yang di rumahnya terdapat ibu atau ayah lanjut usia, atau seseorang yang tidak mampu bekerja, tidak berdaya, ataupun sakit dari kerabat atau saudara seimannya! Perhatikan ayat mulia ini dan lihatlah: Bagaimana dalam satu ayat, melalui lima tingkatan dengan cara yang berbeda-beda, ia membangkitkan kasih kepada orang tua lanjut usia.

Ya, hakikat tertinggi di dunia ialah kasih ayah serta ibu kepada anak-anak mereka. Hak paling luhur juga ialah hak mereka dihormati sebagai balasan bagi kasih itu. Sebab, mereka mengorbankan serta menghabiskan kehidupan mereka dengan senang sepenuhnya demi kehidupan anak-anak mereka. Karena itu, setiap anak yang kemanusiaannya belum jatuh serta belum berubah menjadi binatang buas harus menghormati dengan tulus, melayani dengan sungguh-sungguh, memperoleh rida, serta menyenangkan hati sahabat-sahabat yang terhormat, setia, dan rela berkorban itu. Paman serta bibi dari pihak ayah berkedudukan seperti ayah; bibi serta paman dari pihak ibu berkedudukan seperti ibu.

Ketahuilah dan sadarlah, betapa tidak berhati nurani serta rendahnya sikap menganggap berat hadirnya orang-orang lanjut usia yang diberkahi itu dan menginginkan kematian mereka!

Ya, pahamilah betapa buruknya kezaliman serta sikap tanpa hati nurani jika engkau menginginkan kehidupan orang yang mengorbankan hidupnya demi hidupmu berakhir!

Wahai manusia yang tertimpa kesulitan mencari nafkah! Ketahuilah bahwa tiang berkah, sarana Rahmat, serta penolak musibah dalam rumahmu ialah kerabat lanjut usia atau buta yang engkau anggap sebagai beban itu. Jangan sekali-kali berkata, "Nafkahku sempit; aku tidak mampu mengurus." Sebab, seandainya tidak ada berkah yang datang melalui mereka, tentu kesempitan nafkahmu akan lebih besar. Percayalah kepadaku mengenai hakikat ini. Aku mengetahui banyak dalilnya yang amat pasti dan juga dapat meyakinkanmu. Namun, agar tidak panjang, aku mencukupkan dengan uraian singkat. Puaslah dengan perkataanku ini. Aku bersumpah bahwa hakikat ini amat pasti; bahkan nafsu serta setanku pun telah tunduk kepadanya. Hakikat yang mematahkan sikap keras kepala nafsuku serta membungkam setanku harus membuatmu yakin.

Ya, menurut kesaksian kainat, Sang Khâliq Dzul-Jalâl wal-Ikrâm yang amat Rahmân, Rahîm, Lathîf, serta Karîm, ketika mengirim anak-anak ke dunia, mengirim rezeki mereka di belakang mereka dengan cara yang amat lembut serta mengalirkannya ke mulut melalui keran payudara. Demikian pula, Dia mengirim dalam bentuk berkah rezeki orang-orang lanjut usia yang menjadi seperti anak-anak, yang lebih layak dikasihani serta lebih membutuhkan kasih daripada anak-anak. Dia tidak membebankan nafkah mereka kepada manusia yang rakus serta kikir. Beragam jenis makhluk hidup berseru melalui bahasa keadaan serta mengucapkan hakikat yang penuh kemurahan itu, yang diungkapkan oleh ayat-ayat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻫُﻮَ ﺍﻟﺮَّﺯَّﺍﻕُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻘُﻮَّﺓِ ﺍﻟْﻤَﺘ۪ﻴﻦُ ٭ ﻭَﻛَﺎَﻳِّﻦْ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ لَا ﺗَﺤْﻤِﻞُ ﺭِﺯْﻗَﻬَﺎ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺮْﺯُﻗُﻬَﺎ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ

.

Bahkan, bukan hanya kerabat lanjut usia; rezeki sebagian makhluk seperti kucing, yang diberikan sebagai teman bagi manusia dan rezekinya dikirim bersama rezeki manusia, juga datang dalam bentuk berkah. Satu contoh yang mendukung hal ini dan kulihat sendiri:

Kawan-kawan dekatku mengetahui bahwa dua-tiga tahun lalu aku mempunyai jatah tertentu, setengah roti setiap hari—roti desa itu kecil—yang sering tidak mencukupi bagiku. Kemudian empat kucing datang sebagai tamu kepadaku. Jatah yang sama itu mencukupi bagiku serta bagi mereka. Bahkan, sering masih tersisa.

Keadaan ini berulang sedemikian rupa sehingga membuatku yakin bahwa aku mengambil manfaat dari berkah kucing-kucing itu. Aku mengumumkan dengan pasti: Mereka bukan beban bagiku; mereka tidak berutang budi kepadaku, justru aku berutang budi kepada mereka.

Wahai manusia! Karena seekor hewan yang berbentuk binatang buas, ketika datang sebagai tamu ke rumah manusia, menjadi sarana berkah, perkirakanlah betapa besarnya berkah serta Rahmat jika di sebuah rumah terdapat manusia, makhluk paling mulia; di antara manusia, ahli iman yang paling sempurna; di antara ahli iman, orang-orang lanjut usia yang tidak berdaya serta sakit, yang paling layak dihormati serta dikasihani; di antara orang lanjut usia yang sakit, kerabat yang paling layak serta berhak memperoleh kasih, khidmah, dan cinta; bahkan di antara kerabat, ayah serta ibu yang merupakan sahabat paling sejati dan pencinta paling setia, dalam usia lanjut. Perkirakan pula betapa mereka menjadi sebab tertolaknya musibah menurut rahasia

لَوْلَا ﺍﻟﺸُّﻴُﻮﺥُ ﺍﻟﺮُّﻛَّﻊُ ﻟَﺼُﺐَّ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ الْبَلَٓاءُ ﺻَﺒًّﺎ

, yakni, "Seandainya tidak ada orang-orang lanjut usia kalian yang punggungnya membungkuk, bencana akan tercurah di atas kalian seperti banjir."

Wahai manusia! Gunakan akalmu. Jika engkau tidak meninggal, engkau akan menjadi lanjut usia. Menurut rahasia

ﺍَﻟْﺠَﺰَٓﺍﺀُ ﻣِﻦْ ﺟِﻨْﺲِ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ

, jika engkau tidak menghormati orang tuamu, anakmu juga tidak akan melayanimu. Jika engkau mencintai akhiratmu, inilah harta berharga bagimu: Layani mereka, raihlah rida mereka. Jika engkau mencintai dunia, tetap senangkan mereka agar melalui mereka hidupmu tenteram dan rezekimu penuh berkah. Kalau tidak, dengan menganggap mereka sebagai beban, mengharapkan kematian mereka, serta menyakiti hati mereka yang halus dan mudah terluka, engkau akan mengalami rahasia

ﺧَﺴِﺮَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ الْاٰخِرَةَ

. Jika engkau menginginkan Rahmat Ar-Rahmân, kasihilah titipan Ar-Rahmân serta amanah-Nya dalam rumahmu.

Di antara saudara-saudara akhiratku ada seorang bernama Mustafa Çavuş. Aku melihatnya berhasil dalam agama serta dunianya. Aku tidak mengetahui rahasianya. Kemudian aku memahami sebab keberhasilan itu: Tokoh tersebut telah memahami hak ayah serta ibunya yang lanjut usia, memperhatikan hak-hak itu sepenuhnya, serta melalui mereka menemukan ketenteraman dan Rahmat. İnşâallah, ia juga telah memperbaiki akhiratnya. Siapa yang ingin berbahagia harus meneladaninya.

ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟْﺠَﻨَّﺔُ ﺗَﺤْﺖَ ﺍَﻗْﺪَﺍﻡِ الْاُمَّهَاتِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ

--

Surat Ketujuh Belas

(Tambahan bagi Lem'a Kedua Puluh Lima)

(Surat Takziah atas Kematian Anak)

ﺑِﺎﺳْﻤِﻪِ ﻭَﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

Saudara akhiratku yang mulia, Hâfız Hâlid Efendi!

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻭَﺑَﺸِّﺮِ ﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺮ۪ﻳﻦَ ٭ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺻَﺎﺑَﺘْﻬُﻢْ ﻣُﺼ۪ﻴﺒَﺔٌ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ

Saudaraku, wafatnya anakmu membuatku sedih. Namun, ﺍَﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ, rida terhadap ketetapan dan berserah kepada takdir merupakan syiar Islam. Semoga Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memberi kalian kesabaran yang indah, serta menjadikan almarhum bekal akhirat dan pemberi syafaat bagi kalian. Kami akan menjelaskan lima pokok yang memperlihatkan kabar gembira besar dan penghiburan sejati bagi kalian serta mukmin bertakwa seperti kalian.

Pokok Pertama:

Rahasia dan makna

ﻭِﻟْﺪَﺍﻥٌ ﻣُﺨَﻠَّﺪُﻭﻥَ

dalam Al-Qur'an Al-Hakîm ialah: Anak-anak orang beriman yang wafat sebelum balig akan selamanya tetap menjadi anak-anak di surga, dalam rupa yang menyenangkan dan layak bagi surga;

mereka akan menjadi sumber kegembiraan abadi dalam pangkuan ayah serta ibu yang masuk surga, dan menjadi sarana memberi orang tua kenikmatan yang paling lembut, seperti mencintai anak serta membelainya. Segala sesuatu yang nikmat terdapat dalam surga; keputusan orang yang mengatakan "Karena surga bukan tempat berkembang biak, tidak ada kecintaan dan belaian terhadap anak" bukanlah hakikat. Sebagai ganti mencintai serta membelai anak selama sepuluh tahun singkat di dunia dengan campuran kepedihan, memperoleh kecintaan dan belaian terhadap anak selama jutaan tahun yang kekal, murni, dan tanpa kepedihan merupakan sumber kebahagiaan terbesar bagi ahli iman. Ayat mulia ini mengisyaratkan dan memberikan kabar gembira akan semua itu melalui kalimat

ﻭِﻟْﺪَﺍﻥٌ ﻣُﺨَﻠَّﺪُﻭﻥَ

.

Pokok Kedua:

Suatu waktu seseorang berada dalam penjara. Anaknya yang menyenangkan dikirim ke sisinya. Tawanan malang itu menanggung kepedihannya sendiri, sekaligus menderita karena kesusahan anaknya, sebab ia tidak dapat menjamin kenyamanannya. Kemudian penguasa yang berbelas kasih mengirim seseorang kepadanya dan berkata, "Meskipun anak ini anakmu, ia rakyat dan anggota bangsaku. Aku akan mengambilnya dan mengatur agar ia diasuh dalam istana yang indah." Orang itu menangis dan meratap, "Aku tidak akan memberikan anakku yang menjadi penghiburku." Sahabat-sahabatnya berkata, "Kesedihanmu tidak berarti. Jika engkau mengasihani anakmu, anak itu akan pergi ke istana yang lapang dan penuh kebahagiaan, sebagai ganti penjara yang kotor, busuk, serta menyesakkan ini. Jika engkau bersedih demi dirimu dan mencari manfaatmu, apabila anak itu tetap di sini, bersama manfaatmu yang sementara dan belum pasti, engkau akan mengalami banyak kesempitan serta kepedihan karena kesusahan anak. Jika ia pergi ke sana, ada seribu manfaat bagimu.

Sebab, ia menjadi sarana menarik belas kasih raja dan berkedudukan sebagai pemberi syafaat bagimu. Raja akan ingin mempertemukannya denganmu. Tentu untuk pertemuan itu ia tidak akan mengirim anak ke penjara; sebaliknya, ia akan mengeluarkanmu dari penjara, menarikmu ke istana itu, dan mempertemukanmu dengan anakmu. Dengan syarat engkau percaya serta taat kepada raja..."

Seperti perumpamaan ini, saudaraku yang mulia, ketika anak orang beriman sepertimu wafat, hendaknya berpikir demikian: Anak ini tidak berdosa; Khâliq-nya pun Rahîm dan Karîm. Sebagai ganti asuhan dan kasih sayangku yang kurang, Dia mengambilnya ke dalam Pertolongan dan Rahmat-Nya yang amat sempurna. Dia mengeluarkannya dari penjara dunia yang pedih, penuh musibah, dan susah, lalu mengirimnya ke surga Firdaus-Nya. Betapa bahagia anak itu! Jika tetap di dunia, siapa tahu ia akan menjadi bagaimana? Karena itu, aku tidak mengasihaninya, tetapi menganggapnya bahagia. Mengenai manfaat bagi diriku sendiri, aku juga tidak mengasihani diriku atau merasakan kesedihan yang pedih.

Sebab, jika tetap di dunia, ia akan memberi kecintaan terhadap anak selama sepuluh tahun yang sementara dan bercampur kepedihan. Jika saleh dan mampu dalam urusan dunia, mungkin ia akan membantuku. Namun, dengan wafatnya, dalam surga yang kekal ia menjadi sumber kecintaan terhadap anak bagiku selama sepuluh juta tahun, serta berkedudukan sebagai pemberi syafaat yang menjadi sarana kebahagiaan abadi. Tentu, tentu, orang yang kehilangan manfaat segera yang belum pasti, tetapi memperoleh seribu manfaat kemudian yang pasti, tidak menunjukkan kesedihan pedih dan tidak menjerit putus asa.

Pokok Ketiga:

Anak yang wafat adalah makhluk, milik, hamba, serta seluruh dirinya merupakan ciptaan Sang Khâliq Yang Rahîm; sebagai milik-Nya, ia menjadi sahabat bagi orang tuanya dan sementara dipercayakan kepada pengawasan mereka. Dia menjadikan ayah dan ibu pelayannya. Sebagai balasan pelayanan orang tua itu, Dia memberi kasih sayang yang nikmat sebagai upah segera. Sekarang, jika Sang Khâliq Yang Rahîm, Pemilik sembilan ratus sembilan puluh sembilan bagian dari seribu, mengambil anak itu dari tanganmu menurut tuntutan Rahmat serta Hikmah-Nya dan mengakhiri pelayananmu, tidaklah layak bagi ahli iman untuk dengan satu bagian lahiriah bersedih serta menjerit putus asa dengan cara yang menyerupai keluhan terhadap Sang Pemilik Hakiki seribu bagian. Sebaliknya, hal itu sesuai bagi orang-orang yang lalai dan sesat.

Pokok Keempat:

Jika dunia kekal, manusia tinggal kekal di dalamnya, dan perpisahan pun kekal, kesedihan pedih serta penderitaan putus asa akan memiliki makna. Namun, karena dunia merupakan rumah singgah, ke mana pun anak yang wafat itu pergi, kalian dan kami pun akan pergi ke sana. Wafat ini pun tidak khusus baginya, melainkan jalan umum. Karena perpisahan tidak kekal, kelak akan bertemu baik di barzakh maupun di surga. Hendaknya berkata ﺍَﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ. Dia memberi, Dia mengambil. "Elhamdülillahi alâküllihal" Hendaknya bersyukur dengan sabar.

Pokok Kelima:

Kasih sayang, salah satu manifestasi Rahmat Allah سُبْحَانَهُ yang paling lembut, paling indah, paling nikmat, dan paling manis, merupakan ramuan mujarab yang bercahaya. Ia jauh lebih tajam daripada cinta dan segera menjadi sarana mencapai Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebagaimana cinta majasi dan cinta dunia, melalui banyak kesulitan, berubah menjadi cinta hakiki dan menemukan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, demikian pula kasih sayang, tetapi tanpa kesulitan, mengikat hati kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan cara yang lebih singkat dan lebih murni.

Baik ayah maupun ibu mencintai anaknya seperti seluruh dunia. Ketika anaknya diambil dari tangannya, jika ia bahagia dan benar-benar ahli iman,

ia memalingkan wajah dari dunia dan menemukan Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki. Ia berkata, "Karena dunia fana, tidak layak mengikatkan hati kepadanya." Ia menjadi terikat kepada tempat anaknya pergi dan mencapai keadaan ruhani yang besar.

Orang-orang yang lalai dan sesat kehilangan kebahagiaan serta kabar gembira dalam kelima hakikat ini. Ukurlah betapa pedih keadaan mereka dengan contoh berikut: Seorang perempuan lanjut usia melihat satu-satunya anak yang menyenangkan dan amat ia cintai berada dalam sakaratulmaut. Karena anggapan akan hidup yang kekal di dunia akibat lalai atau sesat, ia membayangkan kematian sebagai lenyap dan perpisahan yang kekal; sebagai ganti kasur lembut anaknya, ia memikirkan tanah kubur. Karena lalai atau sesat, ia tidak memikirkan surga Rahmat dan Firdaus Nikmat Sang Arhamur Râhimîn; engkau dapat membayangkan betapa ia menanggung kesedihan serta kepedihan yang putus asa.

Namun, iman dan Islam, sarana kebahagiaan di kedua negeri, berkata kepada mukmin: Sang Khâliq Yang Rahîm dari anak yang berada dalam sakaratulmaut ini akan mengeluarkannya dari dunia yang tidak kekal dan membawanya ke surga-Nya. Dia akan menjadikannya pemberi syafaat dan anak yang kekal bagimu. Perpisahan sementara; jangan khawatir, katakan

ﺍَﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻟِﻠّٰﻪِ ٭ ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ

dan bersabarlah.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ

Said Nursî

--

CATATAN KEDUA BELAS DARI LEM’A KETUJUH BELAS

Wahai kawan-kawanku yang mendengarkan catatan-catatan ini! Ketahuilah bahwa terkadang, berbeda dari kebiasaan, aku menulis permohonan rendah hati, doa, dan munajat hatiku kepada Rabb-ku, meskipun semua itu semestinya disembunyikan. Sebabnya ialah aku memohon kepada Rahmat Allah سُبْحَانَهُ agar, ketika kematian membungkam lidahku, kitabku diterima sebagai yang berbicara menggantikan lidahku. Ya, tobat dan penyesalan lidahku yang sementara dalam umur yang pendek tidak cukup untuk menjadi penebus dosa-dosaku yang tidak terbatas. Lidah kitab yang tetap dan bertahan sampai taraf tertentu lebih berguna untuk tugas itu.

Tiga belas tahun {(Catatan kaki): Menurut tanggal penulisan risalah ini.} yang lalu, akibat badai rohani yang riuh, ketika tawa Said Lama akan berubah menjadi tangisan Said Baru, pada suatu saat aku terbangun dari tidur lalai masa muda oleh pagi masa tua. Munajat dan doa berikut ditulis dalam bahasa Arab. Makna sebagian darinya dalam bahasa Turki adalah sebagai berikut:

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Karena pilihan burukku, umur dan masa mudaku telah terbuang dan berlalu. Dari buah umur dan masa muda itu, yang tersisa di tanganku ialah dosa-dosa yang menyakitkan, kepedihan yang menghinakan, serta bisikan yang menyesatkan. Dengan beban berat, hati yang sakit, dan wajah yang malu ini, aku mendekati kubur. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa, dengan sangat cepat, tanpa melenceng ke kanan atau kiri dan tanpa dapat memilih, aku mendekati pintu kubur seperti kawan-kawan, teman sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu merupakan tempat singgah awal dan pintu pertama yang telah didirikan dan dibuka di jalan menuju hidup yang kekal selama-lamanya, dengan perpisahan untuk selamanya dari negeri yang fana ini. Aku telah memahami dengan keyakinan yang pasti bahwa dunia tempat aku terikat dan terpikat ini akan binasa dan berlalu, fana dan mati. Aku juga menyaksikan bahwa segala yang ada di dalamnya berpindah dan pergi satu demi satu, rombongan demi rombongan, lalu hilang. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang membawa nafsu

ammarah, dunia ini sangat kejam dan penuh tipu daya. Jika memberikan satu kenikmatan, ia menimpakan seribu kepedihan dan membuat orang menanggungnya. Jika memberikan satu buah anggur untuk dimakan, ia memukul dengan seratus tamparan.

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Melalui rahasia ﻛُﻞُّ ﺍٰﺕٍ ﻗَﺮ۪ﻳﺐٌ, sejak sekarang aku melihat bahwa dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafanku, naik ke kerandaku, dan berpamitan kepada kawan-kawanku. Ketika berjalan menuju kuburku, di hadirat Rahmat-Mu aku berseru dengan bahasa keadaan jenazahku dan bahasa lisan jiwaku: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Selamatkanlah aku dari rasa malu karena dosa-dosaku!

Kini aku telah sampai di tepi kuburku, memasang kafanku pada leherku, dan berdiri di atas tubuhku yang terbaring di tepi kubur. Aku mengangkat kepala ke hadirat Rahmat-Mu, lalu dengan seluruh kekuatanku menjerit dan berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Bebaskanlah aku dari beban berat dosa-dosaku!

Kini aku telah masuk ke kuburku dan terbungkus kafanku. Orang-orang yang mengantarkanku meninggalkan aku dan pergi. Aku menantikan Ampunan dan Rahmat-Mu. Aku telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa selain Engkau tidak ada tempat berlindung dan jalan selamat. Karena wajah dosa yang buruk, bentuk maksiat yang liar, dan sempitnya tempat itu, dengan seluruh kekuatanku aku berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Yâ Deyyan! Selamatkanlah aku dari kebersamaan dengan dosa-dosaku yang buruk, dan lapangkanlah tempatku.

İlahî! Rahmat-Mu adalah tempat perlindunganku, dan Kekasih-Mu yang merupakan Rahmeten lil-Âlemîn ﷺ adalah saranaku untuk mencapai Rahmat-Mu. Aku tidak mengeluhkan Engkau; aku mengeluhkan nafsu dan keadaanku kepada-Mu.

Wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm dan wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm!

Makhluk, ciptaan, dan hamba-Mu yang bernama Said ini durhaka, tak berdaya, lalai, tidak tahu, sakit, hina, berbuat buruk, tua, celaka, dan merupakan budak yang melarikan diri dari Sang Pemiliknya. Namun, setelah empat puluh tahun, ia menyesal dan ingin kembali ke hadirat-Mu. Ia berlindung kepada Rahmat-Mu dan mengakui dosa serta kesalahannya yang tidak terbatas. Ia terkena berbagai kekhawatiran yang tidak berdasar dan penyakit, lalu memohon dengan rendah hati dan berdoa kepada-Mu.

Jika dengan Rahmat-Mu yang sempurna Engkau menerimanya, mengampuni, dan merahmatinya, memang itulah yang sesuai dengan Kemuliaan-Mu. Sebab, Engkau adalah Sang Arhamur Râhimîn. Jika Engkau tidak menerimanya, ke pintu mana aku dapat pergi selain Pintu-Mu?

Pintu manakah yang ada? Selain Engkau tidak ada Rabb yang dapat didatangi hadirat-Nya. Selain Engkau tidak ada Sang Ma'bûd Yang Benar untuk dijadikan tempat berlindung!

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﺍٰﺧِﺮُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍَﻭَّﻝُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ

--

KEPADA KETUA PENGADILAN PIDANA BERAT

ANKARA

Dalam surat dakwaan yang disusunnya terhadap kami, pihak penuntut meminta agar aku dihukum dengan mengajukan tuduhan memperoleh pengaruh pribadi. Tulisan yang dijadikan dasar tindak pidana sesungguhnya sangat jauh dari tuduhan seperti itu. Sebab, tulisan ini hanya merupakan jawaban terhadap berita rekaan beberapa surat kabar yang menyebarkan kebohongan tentang Said Nursî, karya-karyanya, dan murid-muridnya, yang sama sekali tidak berhubungan dengan hakikat. Dengan menyebut putusan pengadilan dan laporan para ahli, tuduhan-tuduhan keliru itu dibantah secara masuk akal. Terhadap mereka yang menyalahgunakan pemahaman tentang sekularisme dan bertindak dengan sikap paling penuh permusuhan terhadap Bedîüzzaman, murid-muridnya, dan Risale-i Nur, penulisan jawaban ini dengan memanfaatkan prinsip sekularisme semestinya tidak dianggap sebagai tindak pidana dari segi hukum dan keadilan.