Empat tanya-jawab penting pada bagian akhir Sahabeler Risalesi (Risalah Para Sahabat)
Pertanyaan:
Dikatakan: Para sahabat melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, kemudian beriman. Sedangkan kami beriman tanpa melihat. Maka iman kami lebih kuat. Bukankah ada pula riwayat yang menunjukkan kekuatan iman kami? Jawaban:
Pada zaman itu, ketika pendapat umum seluruh alam menentang dan melawan hakikat-hakikat Islam, para sahabat hanya melihat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ dalam rupa manusiawinya, kadang tanpa mukjizat, lalu memiliki iman sedemikian rupa sehingga seluruh pendapat umum alam tidak dapat mengguncangkan iman mereka. Pada sebagian mereka, bukan hanya syubhat, bahkan waswas pun tidak ditimbulkannya. Sedangkan kalian membandingkan iman kalian dengan iman para sahabat. Padahal seluruh pendapat umum Islam memberi kekuatan dan sandaran kepada iman kalian; dengan mata akal kalian melihat, bukan kemanusiaan dan bentuk jasmani Rasul Yang Paling Mulia ﷺ yang merupakan benih pohon Tuba kenabiannya, melainkan pribadi maknawinya yang bercahaya dan megah dengan seluruh cahaya Islam serta hakikat Al-Qur'an, dikelilingi seribu mukjizat; lalu di manakah iman kalian yang jatuh ke dalam waswas dan syubhat karena perkataan seorang filsuf Eropa? Dan di manakah iman para sahabat yang tidak terguncang menghadapi serangan seluruh alam kekufuran, kaum Nasrani, Yahudi, serta filsuf? Di manakah takwa mereka yang begitu kuat dan kesalehan mereka yang sempurna, yang menunjukkan kekuatan iman para sahabat dan merupakan limpahan iman mereka? Wahai orang yang mengajukan klaim! Di manakah imanmu yang redup, yang karena begitu lemahnya tidak memperlihatkan seluruh kewajiban melalui dirimu? Adapun riwayat yang terdapat dalam hadis dengan makna, "Pada akhir zaman, orang yang tidak melihatku dan beriman lebih diterima," mengenai keutamaan tertentu. Ia mengenai pribadi-pribadi khusus. Sedangkan pembahasan kita mengenai keutamaan menyeluruh dan sebagian besar orang. Pertanyaan Kedua:
Mereka berkata: Para wali dan pemilik kesempurnaan telah meninggalkan dunia. Bahkan dalam hadis terdapat keterangan, "Cinta dunia adalah pangkal seluruh kesalahan." Padahal para sahabat sangat banyak masuk ke dalam dunia; alih-alih meninggalkan dunia, sebagian sahabat bahkan melampaui orang-orang beradab pada zaman itu. Bagaimana kalian berkata bahwa sahabat yang paling rendah seperti ini bernilai sebesar wali yang paling agung? Jawaban:
Dalam Bagian Kedua dan Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua telah dibuktikan secara amat pasti bahwa mencintai wajah dunia yang menghadap kepada akhirat serta wajahnya yang berhadapan dengan Asma Ilahi bukan sebab kekurangan, melainkan dasar kesempurnaan; semakin maju seseorang dalam kedua wajah itu, semakin maju pula ia dalam ibadah serta makrifatullah. Dunia para sahabat berada pada kedua wajah ini. Mereka memandang dunia sebagai ladang akhirat, lalu menanam dan menuainya. Mereka memandang segala wujud sebagai cermin Asma Ilahi, lalu menyaksikan serta memandangnya dengan penuh kerinduan. Adapun dunia yang fana ialah wajahnya yang fana, yang menghadap kepada keinginan manusia. Pertanyaan Ketiga:
Tarekat-tarekat merupakan jalan menuju hakikat. Mengenai jalan Naqsyabandiyah, yang diklaim paling terkenal, paling tinggi, serta jalan raya terbesar di antara tarekat-tarekat, sebagian tokoh dan imam tarekat itu telah menjelaskan dasarnya seperti ini. Mereka berkata:
ﺩَﺭْ ﻃَﺮ۪ﻳﻖِ ﻧَﻘْﺸِﺒَﻨْﺪ۪ﻯ لَازِمْ ﺍٰﻣَﺪْ ﭼَﺎﺭْ ﺗَﺮْﻙْ ﺗَﺮْﻙِ ﺩُﻧْﻴَﺎ ﺗَﺮْﻙِ ﻋُﻘْﺒٰﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﻫَﺴْﺘ۪ﻰ ﺗَﺮْﻙِ ﺗَﺮْﻙْ
Yakni, dalam jalan Naqsyabandiyah perlu meninggalkan empat hal: tidak menjadikan dunia maupun akhirat demi nafsu sebagai tujuan yang sesungguhnya, melupakan wujud diri, serta tidak memikirkan tindakan meninggalkan hal-hal itu agar tidak masuk ke dalam ujub dan kebanggaan diri. Jadi, makrifatullah yang sesungguhnya serta kesempurnaan manusia dicapai dengan meninggalkan segala selain Allah سُبْحَانَهُ? Jawaban:
Jika manusia hanya terdiri atas satu hati, ia perlu meninggalkan segala selain Allah سُبْحَانَهُ, bahkan Asma dan Sifat sekalipun, dan hanya mengikatkan hati kepada Zat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Namun, manusia memiliki banyak latifah dan indra yang bertugas, seperti akal, ruh, sir, dan nafsu. Manusia sempurna ialah orang yang mengarahkan seluruh latifah itu kepada hakikat, masing-masing dalam jalan ubudiyah yang khusus baginya, sehingga hati berjalan dengan gagah menuju tujuan seperti seorang panglima bersama pasukan latifahnya, dalam lingkup yang luas dan cara yang kaya seperti para sahabat. Jika hati meninggalkan pasukannya dan pergi sendirian hanya untuk menyelamatkan dirinya, hal itu bukan dasar kebanggaan, melainkan hasil keadaan terpaksa. Pertanyaan Keempat:
Dari mana timbul klaim lebih unggul daripada sahabat? Siapa yang menimbulkannya? Mengapa persoalan ini dibicarakan pada zaman ini? Dari mana pula timbul klaim setara dengan para mujtahid agung? Jawaban:
Orang yang membicarakan persoalan ini ada dua golongan: Sebagiannya ialah orang-orang beragama dan ahli ilmu yang tulus; mereka melihat beberapa hadis dan membuka pembahasan semacam itu untuk mendorong serta membangkitkan semangat orang-orang yang bertakwa dan saleh pada zaman ini. Kami tidak memiliki keberatan terhadap golongan ini. Mereka memang sedikit dan segera sadar. Adapun golongan lainnya ialah orang-orang sombong yang sangat mengerikan; mereka ingin menyebarkan sikap tidak bermazhab mereka di bawah klaim setara dengan para mujtahid agung, dan melaksanakan sikap tidak beragama mereka di bawah klaim setara dengan sahabat. Sebab: Pertama: Orang-orang yang sesat itu telah masuk ke dalam hidup mengumbar hawa nafsu dan menjadi kecanduan; mereka tidak dapat menjalankan kewajiban syariat yang menghalanginya. Untuk mencari alasan bagi dirinya, mereka berkata, "Persoalan-persoalan ini menyangkut ijtihad. Dalam persoalan itu, mazhab-mazhab saling berbeda. Mereka pun manusia seperti kita dan dapat salah. Maka kita juga berijtihad seperti mereka dan beribadah menurut keinginan kita. Apa yang mengharuskan kita mengikuti mereka?" Dengan tipu daya setan ini, orang-orang malang tersebut melepaskan kepala mereka dari rantai mazhab. Karena betapa rapuh dan tanpa dasarnya klaim mereka telah ditunjukkan secara pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh, kami menyerahkan penjelasannya ke sana. Kedua: Golongan orang sesat itu melihat bahwa urusan tidak selesai pada para mujtahid. Yang berada di bahu mereka hanyalah perkara-perkara agama yang memerlukan penalaran. Padahal golongan orang sesat ini ingin meninggalkan dan mengubah perkara-perkara pokok agama yang pasti. Jika berkata, "Kita lebih baik daripada mereka," urusan mereka belum selesai. Sebab para mujtahid dapat menangani perkara-perkara yang memerlukan penalaran serta rincian yang belum pasti. Namun, karena orang-orang sesat yang tidak bermazhab ini ingin mencampurkan pikiran mereka bahkan ke dalam perkara-perkara pokok agama, mengubah persoalan-persoalan yang tidak dapat diubah, dan menentang rukun-rukun Islam yang pasti, tentu mereka akan menyerang para sahabat, pemikul serta tiang perkara-perkara pokok agama. Sungguh mustahil! Bukan hanya binatang berwujud manusia seperti mereka; bahkan manusia sejati dan para wali agung, manusia sejati yang paling sempurna, tidak dapat memenangkan klaim setara dengan sahabat yang kecil; hal itu telah dibuktikan secara amat pasti dalam Kalimat Kedua Puluh Tujuh.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﺭَﺳُﻮﻟِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻗَﺎﻝَ لَاتَسُبُّٓوا ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﻟَﻮْ ﺍَﻧْﻔَﻖَ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻣِﺜْﻞَ ﺍُﺣُﺪٍ ﺫَﻫَﺒًﺎ ﻣَﺎ ﺑَﻠَﻎَ ﻧِﺼْﻒَ ﻣُﺪٍّ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺑ۪ﻰ ﺻَﺪَﻕَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ