Risalah Nur — Bahasa Indonesia

SEBUAH PRINSIP

Cahaya-Cahaya Hakikat · Bahasa Indonesia

SEBUAH PRINSIP

Murid-murid Risale-i Nur tidak boleh mencari cahaya di luar lingkaran Risale-i Nur, dan mereka memang tidak mencarinya. Jika mencarinya, sebagai ganti matahari rohani yang memberi cahaya melalui jendela Risale-i Nur, ia akan menemukan sebuah lampu; bahkan, mungkin ia kehilangan matahari itu.

Jalan keakraban serta persaudaraan dalam lingkaran Risale-i Nur, yang tulus dan amat kuat, yang memberi setiap anggotanya banyak ruh serta memperlihatkan jalan persaudaraan para sahabat melalui rahasia pewarisan kenabian, tidak menyisakan kebutuhan untuk mencari seorang ayah di lingkaran luar; ayah serta pembimbing itu menimbulkan kerugian dari tiga segi. Sebagai ganti seorang ayah, ia membuat seseorang menemukan banyak saudara yang lebih tua. Tentu, kasih sayang berlipat dari saudara-saudara yang lebih tua menjadikan kasih sayang seorang ayah seakan tiada. Setiap orang boleh tetap mempertahankan pembimbing yang telah ditemukannya sebelum memasuki lingkaran ini. Namun, orang yang belum mempunyai pembimbing, setelah memasuki lingkaran ini hanya dapat mencari pembimbing di dalamnya.

Ilmu hakikat dalam lingkaran pelajaran hakikat-hakikat Risale-i Nur, yang memberi limpahan rahasia pewarisan kenabian dari kewalian besar, juga tidak menyisakan kebutuhan akan tarekat-tarekat di luar lingkaran. Kecuali orang-orang yang memuja nafsu: mereka salah memahami tarekat, terpikat oleh mimpi-mimpi indah, khayalan, cahaya serta kenikmatan; mendambakan kenikmatan duniawi serta kenikmatan hawa nafsu yang terpisah dari keutamaan akhirat, dan menginginkan kedudukan sebagai rujukan.

Dunia ini tempat mengabdi. Upah diukur dengan beban serta kesulitan. Ia bukan tempat menerima balasan. Karena itulah, para ahli hakikat tidak memberi arti penting pada kenikmatan serta cahaya dalam kasyaf dan karamah. Terkadang mereka menjauhinya dan ingin agar hal itu tersembunyi.

Lingkaran Risale-i Nur luas, murid-muridnya sangat banyak. Ia tidak mencari orang-orang yang melarikan diri ke luar dan tidak memberi arti penting kepada mereka; bahkan, tidak lagi menerima mereka ke dalamnya. Setiap manusia mempunyai satu hati. Satu hati tidak dapat berada sekaligus di dalam serta di luar lingkaran.

Orang-orang di luar yang ingin memberi bimbingan juga tidak boleh menyibukkan diri dengan murid-murid Risale-i Nur. Sebab, mereka mungkin mendapat kerugian dari tiga segi. Sebagaimana para murid dalam lingkaran takwa tidak membutuhkan bimbingan itu, di luar terdapat banyak orang yang tidak salat; meninggalkan mereka lalu menyibukkan diri dengan para murid ini bukanlah bimbingan. Jika ia mencintai para murid ini, hendaknya lebih dahulu memasuki lingkaran; menjadi saudara mereka, bukan ayah mereka. Jika keutamaannya lebih besar, hendaknya ia menjadi saudara mereka yang lebih tua.

Sebagaimana terlihat dalam peristiwa ini, ikatan dengan Risale-i Nur mempunyai arti yang amat besar dan menuntut harga yang sangat mahal. Orang yang berakal sehat, yang telah membayar harga ini, serta di jalan itu mengambil kedudukan pejuang melawan sikap tanpa agama atas nama seluruh alam Islam, tidak akan meninggalkan jalan yang seperti berlian itu lalu memasuki jalan-jalan lain.

(Sebuah bagian dari sepucuk surat dalam Tasdik-i Gaybî Mecmuası)

Saudara kita Küçük Ali yang berjiwa besar, pahlawan para saudara yang diberkahi, yang membawa makna Abdurrahman, Lütfü serta Büyük Hâfız Ali sekaligus, mengajukan suatu pertanyaan. Padahal, jawaban pertanyaan itu terdapat di seratus tempat dalam Risale-i Nur. Ia berkata, “Untuk apa penegasan-penegasan Risale-i Nur tentang rukun-rukun iman sedemikian banyak? Guru-guru dahulu mengajarkan kepada kita bahwa iman seorang mukmin yang ummi (tidak dapat membaca dan menulis) sama seperti iman seorang wali besar?”

Jawaban: Sebagaimana pembahasan tentang tingkatan-tingkatan iman dalam Âyetü'l-Kübra (Tanda Terbesar), terutama keterangan serta putusan Imam Rabbani, pembaru milenium kedua, yang terdapat mendekati akhirnya—“Tujuan terakhir serta maksud terbesar seluruh tarekat ialah makin jelasnya hakikat-hakikat iman. Menjadi jelasnya satu persoalan iman dengan pasti lebih baik daripada seribu karamah serta kasyaf”—dan keterangan dari bagian maupun keseluruhan sepucuk surat yang diambil dari Lahika pada bagian paling akhir Âyetü'l-Kübra merupakan jawabannya, demikian pula Persoalan Kesepuluh Meyve Risalesi (Risalah Buah), mengenai pengulangan dalam Al-Qur'an, merupakan jawabannya: hikmah penegasan-penegasan Al-Qur'an yang berulang serta banyak tentang tauhid dan rukun-rukun iman berlaku persis serta sepenuhnya dalam Risale-i Nur, yang merupakan tafsir sejatinya.

Penjelasan bagian-bagian Risale-i Nur mengenai adanya iman yang diteguhkan dengan bukti dan yang mengikuti orang lain, iman secara umum dan secara terperinci, serta bahwa iman dapat bertahan dan tidak terguncang oleh segala serangan, waswas serta keraguan, juga merupakan jawaban demikian bagi surat Küçük Ali yang berjiwa besar, sehingga sama sekali tidak menyisakan kebutuhan kepada kita.

Segi Kedua: Iman tidak terbatas pada pembenaran secara umum serta mengikuti orang lain. Sebagaimana terdapat tingkatan serta perkembangan dari sebutir benih sampai pohon kurma besar, dan dari gambaran matahari yang terlihat dalam cermin di tangan sampai pantulannya pada permukaan laut, lalu sampai matahari itu sendiri, terdapat begitu banyak hakikat iman. Ada pula banyak hakikat tentang seribu satu Asma Ilahi serta rukun-rukun iman lainnya yang berkaitan dengan hakikat-hakikat kainat. Para ahli hakikat sepakat bahwa “Yang paling besar di antara seluruh ilmu, makrifat serta kesempurnaan manusia ialah iman, serta makrifat suci yang terperinci dan berdalil, yang lahir dari iman yang diteguhkan dengan bukti.”

Ya, iman yang mengikuti orang lain cepat dikalahkan keraguan. Dalam iman yang diteguhkan dengan bukti, yang jauh lebih kuat serta lebih luas daripadanya, terdapat banyak tingkatan. Di antara tingkatan itu, tingkat ilmulyaqin (yakin melalui ilmu) bertahan terhadap ribuan keraguan dengan kekuatan begitu banyak dalilnya. Adapun iman yang mengikuti orang lain terkadang dikalahkan oleh satu keraguan.

Salah satu tingkatan iman yang diteguhkan dengan bukti juga ialah ainulyaqin, yang mempunyai banyak tingkatan; bahkan, terdapat tingkatan kemunculannya sebanyak Asma Ilahi. Ia mencapai tingkat dapat membaca seluruh kainat seperti sebuah Al-Qur'an.

Ada pula tingkat haqqulyaqin. Tingkat ini juga mempunyai banyak tingkatan. Sekalipun pasukan keraguan menyerang orang-orang yang beriman seperti ini, mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Ribuan jilid kitab para ulama ilmu kalam, yang ditulis berdasarkan akal serta logika, hanya memperlihatkan satu jalan yang berdalil serta masuk akal menuju makrifat iman itu. Ratusan kitab para ahli hakikat, berdasarkan kasyaf serta kenikmatan batin, memperlihatkan makrifat iman itu dari segi lain. Namun, jalan agung Al-Qur'an yang penuh mukjizat, hakikat-hakikat iman serta makrifat suci yang diperlihatkannya, mempunyai kekuatan serta ketinggian yang jauh melampaui para ulama serta wali itu.

Risale-i Nur menafsirkan jalan makrifat yang menyeluruh, luas serta tinggi ini, lalu atas nama Al-Qur'an serta iman menghadapi dan membela terhadap arus-arus perusak yang menyeluruh, yang selama seribu tahun melawan Al-Qur'an, merugikan Islam serta kemanusiaan, demi alam-alam yang serba tiada. Tentu ia memerlukan penegasan yang tiada batas, agar dapat bertahan terhadap musuh-musuh yang tiada batas itu dan menjadi sarana menjaga iman orang-orang beriman melalui cahaya Al-Qur'an.

Dalam hadis mulia terdapat keterangan: “Berimannya seseorang melalui dirimu lebih baik bagimu daripada domba-domba merah sepenuh padang pasir.” “Terkadang satu jam tafakur lebih baik daripada setahun ibadah.” Bahkan, arti penting yang amat besar yang diberikan kaum Naqsyabandi kepada zikir tersembunyi dimaksudkan untuk mencapai tafakur seperti ini.

Kami menyampaikan salam serta doa kepada seluruh saudara kita, satu demi satu.

ﺍَﻟْﺒَﺎﻗِﻰ ﻫُﻮَ ﺍﻟْﺒَﺎﻗِﻰ

Said Nursî

Saudara-saudaraku! Hatiku diberi peringatan: Sebagaimana Mesnevî-i Şerif (Mesnevî Yang Mulia) telah menjadi cermin salah satu dari tujuh hakikat yang tampak dari matahari Al-Qur'an, sehingga memperoleh kehormatan yang suci dan menjadi pembimbing yang tidak mati bagi banyak ahli hati selain kaum Mevlevi, demikian pula Risale-i Nur menampilkan sekaligus tujuh warna dalam cahaya matahari Al-Qur'an serta tujuh cahaya yang berwarna-warni dan beragam dalam matahari itu pada cerminnya. Karena itu, inşâallah, dari tujuh segi ia akan mulia serta suci, dan bagi para ahli hakikat menjadi panduan serta pembimbing yang tetap ada, setara dengan tujuh Mesnevî.

Aku menyampaikan suatu bagian yang kutulis sebagai jawaban atas pertanyaan, dengan kemungkinan bahwa hal itu juga berguna bagi kalian. Demikianlah:

Sebagian orang yang banyak menelaah kumpulan puisi para wali serta kitab-kitab ulama bertanya, “Mengapa kenikmatan, semangat, iman serta keyakinan yang diberikan Risale-i Nur jauh lebih kuat daripada karya-karya itu?”

Jawaban: Sebagian besar kumpulan puisi pribadi-pribadi yang diberkahi pada masa dahulu serta sebagian risalah ulama membahas hasil-hasil, buah-buah serta limpahan iman dan makrifat. Pada zaman mereka, dasar serta akar iman tidak diserang dan rukun-rukun iman tidak diguncang. Namun kini, akar serta rukun-rukunnya diserang dengan keras dan secara berkelompok. Kebanyakan kumpulan puisi serta risalah itu berbicara kepada mukmin-mukmin khusus serta pribadi-pribadi; mereka tidak dapat menolak serangan keras zaman ini.

Adapun Risale-i Nur, sebagai mukjizat rohani Al-Qur'an, menyelamatkan dasar-dasar iman. Ia mengabdi melalui banyak dalil serta bukti yang terang demi membuktikan, meneguhkan, menjaga iman, dan menyelamatkannya dari keraguan, alih-alih mengambil manfaat dari iman yang telah ada serta kukuh. Karena itu, orang-orang yang memperhatikan dengan saksama memutuskan bahwa pada zaman ini setiap orang membutuhkannya seperti roti serta obat.

Kumpulan-kumpulan puisi itu berkata, “Jadilah wali, lihatlah; naiklah ke tingkatan-tingkatan, pandanglah; ambillah cahaya serta limpahan.”

Risale-i Nur berkata, “Siapa pun dirimu, pandanglah, lihatlah, cukup bukalah matamu, saksikan hakikat, selamatkan imanmu yang merupakan kunci kebahagiaan kekal.”

Risale-i Nur juga lebih dahulu berusaha meyakinkan nafsu penerjemahnya, baru kemudian memandang kepada orang lain. Tentu, pelajaran yang sepenuhnya meyakinkan nafsu ammarahnya serta menghilangkan seluruh waswasnya sangat kuat dan tulus, sehingga sendirian ia dapat menghadapi dengan unggul pribadi maknawi kesesatan (sosok kolektif kesesatan) yang mengerikan, yang pada zaman ini telah mengambil bentuk suatu kelompok.

Risaletü'n-Nur juga tidak memberi pelajaran hanya melalui langkah serta pandangan akal seperti karya-karya ulama lain, dan tidak bergerak hanya melalui kasyaf serta kenikmatan hati seperti para wali. Ia melangkah melalui persatuan serta perpaduan akal dan hati, dengan bantuan ruh serta latifah lainnya, lalu terbang ke puncak tertinggi; naik ke tempat-tempat yang bukan hanya tidak terjangkau langkah filsafat yang menyerang, bahkan juga pandangannya. Ia memperlihatkan hakikat-hakikat iman bahkan kepada matanya yang buta.

(Pertanyaan para pencinta dunia tentang nafkah serta penghidupan Bedîüzzaman)