Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Pertanyaan:

Cahaya-Cahaya Hakikat · Bahasa Indonesia

Pertanyaan:

Para pencinta dunia berkata kepadaku, "Dengan apa engkau hidup? Bagaimana engkau menghidupi diri tanpa bekerja? Di negeri kami, kami tidak menginginkan orang yang duduk malas dan hidup dari usaha orang lain."

Jawaban:

Aku hidup dengan hemat dan berkah. Aku tidak mau berutang budi kepada siapa pun selain Ar-Razzâq-ku, dan telah bertekad untuk tidak melakukannya. Ya, orang yang hidup dengan seratus para sehari, bahkan empat puluh para, tidak mau berutang budi kepada orang lain. Aku sama sekali tidak ingin menjelaskan persoalan ini. Karena penjelasannya mungkin memberi kesan sombong dan ananiyah (keakuan), menyampaikannya sangat tidak menyenangkan bagiku. Namun, karena para pencinta dunia bertanya dengan penuh prasangka, aku pun berkata:

Sejak kecil, tidak menerima harta orang, sekalipun berupa zakat; tidak menerima gaji—hanya selama satu atau dua tahun di Darulhikmah Al-Islamiyah aku terpaksa menerimanya karena desakan sahabat-sahabatku, dan uang itu pun kami kembalikan secara maknawi kepada bangsa—serta tidak berutang budi demi penghidupan dunia merupakan kaidah hidupku sepanjang umur. Orang-orang negeriku dan orang-orang yang mengenalku di tempat lain mengetahui hal ini. Selama pengasinganku lima tahun ini, banyak sahabat berusaha keras agar aku menerima hadiah mereka, tetapi aku tidak menerimanya.

Jika dikatakan, "Kalau demikian, bagaimana engkau menghidupi diri?" aku berkata:

Aku hidup dengan berkah dan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ. Meskipun nafsuku layak mendapat setiap penghinaan dan pengkhianatan, sebagai karamah khidmah Al-Qur'an aku memperoleh berkah dalam urusan bekal, yang merupakan ikram dari Allah سُبْحَانَهُ. Menurut rahasia

ﻭَ ﺍَﻣَّﺎ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺔِ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﺤَﺪِّﺙْ

, dengan mengingat anugerah-anugerah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepadaku, aku akan menyampaikan beberapa contohnya sebagai suatu jenis syukur maknawi. Meskipun merupakan syukur maknawi, aku takut membuat orang merasakan riya dan kesombongan, sehingga berkah yang diberkahi itu terputus. Sebab, memperlihatkan berkah tersembunyi dengan berbangga menyebabkan berkah itu terputus. Namun, apa daya, aku terpaksa menyampaikannya.

Salah satunya: Selama enam bulan ini, satu kile gandum yang setara dengan tiga puluh enam roti telah mencukupiku. Masih ada dan belum habis. Berapa lama ia akan mencukupi {(Catatan kaki):

Bertahan selama satu tahun.} aku tidak tahu.

Kedua: Pada Ramadan yang diberkahi ini, hanya dua rumah mengirim makanan kepadaku, dan keduanya membuatku sakit. Aku memahami bahwa aku dilarang memakan makanan orang lain. Adapun selebihnya, selama seluruh Ramadan, menurut berita dan kesaksian keluarga yang diberkahi yang mengurus penghidupanku serta pemilik rumah itu, Abdullah Çavuş, seorang sahabatku yang setia, tiga roti dan satu kıyye (satuan berat lama) beras telah mencukupiku. Bahkan, beras itu baru habis lima belas hari setelah Ramadan.

Ketiga: Di gunung, selama tiga bulan satu kiyye mentega mencukupi diriku dan tamu-tamuku, dengan syarat dimakan bersama roti setiap hari. Bahkan, ada seorang tamuku yang diberkahi bernama Süleyman. Rotiku maupun rotinya hampir habis. Saat itu hari Rabu; aku berkata kepadanya, "Pergilah mengambil roti untuk dibawa kemari." Dalam jarak dua jam di sekeliling kami tidak ada orang yang darinya roti dapat diperoleh. Ia berkata, "Aku ingin berdoa bersamamu di gunung ini pada malam Jumat." Aku pun berkata, "Tevekkelnâ alallah, tinggallah."

Kemudian, meskipun sama sekali tidak ada hubungan dan alasan, kami berdua berjalan naik ke puncak suatu gunung. Ada sedikit air dalam kendi. Kami memiliki sedikit gula dan teh. Aku berkata, "Saudaraku, buatlah sedikit teh." Ia mulai melakukannya, sedangkan aku duduk di bawah pohon aras yang menghadap lembah dalam. Dengan sedih aku berpikir: Kami memiliki sepotong roti berjamur; malam ini hanya cukup bagi kami berdua. Bagaimana kami akan menjalani dua hari, dan apa yang akan kukatakan kepada orang berhati bersih ini? Ketika sedang berpikir, tiba-tiba aku menoleh seakan-akan kepalaku dipalingkan; aku melihat sebuah roti besar pada pohon aras, di antara dahan-dahannya, memandang kami. Aku berkata, "Süleyman, kabar gembira! Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq memberi kita rezeki." Kami mengambil roti itu dan melihat bahwa tidak ada burung atau hewan liar yang menyentuhnya. Selama dua puluh atau tiga puluh hari tidak ada manusia yang naik ke puncak itu. Roti tersebut mencukupi kami berdua selama dua hari. Ketika kami memakannya dan hampir habis, Süleyman yang lurus, seorang sahabat setiaku selama empat tahun, datang naik dari bawah membawa roti.

Keempat: Jas yang kukenakan ini kubeli dalam keadaan bekas tujuh tahun lalu. Selama lima tahun aku mencukupi kebutuhan pakaian, pakaian dalam, sepatu, dan kaus kaki dengan empat setengah lira. Berkah hidup hemat dan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ telah mencukupiku.

Ada banyak hal seperti contoh-contoh ini, dan banyak segi Berkah Allah سُبْحَانَهُ. Penduduk desa ini mengetahui sebagian besarnya. Namun, jangan sekali-kali mengira aku menyebutkannya untuk berbangga; justru aku terpaksa. Jangan pula menganggap semua itu dasar bagi kebaikan diriku. Berkah-berkah ini adalah

anugerah kepada sahabat-sahabat tulus yang mendatangiku, atau ikram bagi khidmah Al-Qur'an, atau manfaat penuh berkah dari hidup hemat, atau rezeki keempat kucing yang berada di sisiku dan berzikir "Yâ Rahîm, Yâ Rahîm"; rezeki mereka datang dalam bentuk berkah dan aku pun memperoleh manfaat darinya. Ya, jika engkau mendengarkan gumaman sedih mereka dengan teliti, engkau memahami bahwa mereka mengucapkan "Yâ Rahîm, Yâ Rahîm".

Pembahasan kucing mengingatkan kepada ayam. Aku memiliki seekor ayam. Pada musim dingin ini, seperti mesin telur, hampir tanpa jeda setiap hari ia membawa sebutir telur kepadaku dari khazanah Rahmat. Bahkan, suatu hari ia membawa dua butir telur dan aku merasa takjub. Aku bertanya kepada sahabat-sahabatku, "Apakah dapat terjadi seperti ini?" Mereka berkata, "Mungkin suatu anugerah dari Allah سُبْحَانَهُ." Ayam ini juga memiliki anak kecil yang menetas pada musim panas. Pada awal Ramadan yang mulia, anak ayam itu mulai bertelur dan terus berlangsung selama empat puluh hari. Anak ayam itu kecil, dan hal ini terjadi pada musim dingin serta pada Ramadan; keadaan yang diberkahi ini tidak lagi meninggalkan keraguan pada diriku maupun orang-orang yang melayaniku bahwa hal itu merupakan ikram dari Rabb. Selain itu, ketika induknya berhenti, ia segera mulai, sehingga tidak membiarkanku tanpa telur.

=