Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Bagian 3

Hakikat-Hakikat Iman · Bahasa Indonesia

CATATAN KETIGA

Wahai Said yang lalai! Ketahuilah bahwa melalui semacam kekeliruan indra, engkau melihat dunia yang sangat sementara ini seolah-olah tidak mati dan terus bertahan. Ketika melihat sekelilingmu dan dunia, engkau melihatnya sampai taraf tertentu tetap dan berlanjut. Karena itu, engkau juga menganggap nafsumu yang fana

tetap dengan pandangan itu. Engkau hanya merasa ngeri terhadap datangnya kiamat. Seolah-olah engkau akan hidup sampai kiamat terjadi, engkau hanya takut kepadanya. Sadarlah. Engkau dan duniamu yang khusus selalu terkena pukulan lenyap dan fana. Kekeliruan indra dan sesat pikir ini menyerupai contoh berikut:

Jika seseorang memegang cermin menghadap sebuah rumah, kota, atau taman, gambaran rumah, kota, atau taman terlihat di dalam cermin itu. Jika gerakan yang sangat kecil dan sedikit perubahan terjadi pada cermin, rumah, kota, dan taman dalam gambaran itu menjadi kacau dan berantakan. Tetap bertahannya rumah, kota, dan taman yang sesungguhnya di luar tidak memberikan manfaat kepadamu. Sebab, rumah dalam cermin yang engkau pegang, serta kota dan taman milikmu, hanya ada sesuai ukuran dan batas yang diberikan cermin itu kepadamu.

Hidup dan umurmu adalah cermin. Tiang, cermin, dan pusat duniamu ialah umur dan hidupmu. Karena rumah, kota, dan taman itu dapat mati dan mungkin hancur setiap menit, semuanya berada dalam keadaan yang dapat runtuh menimpamu dan membuat kiamatmu terjadi pada setiap menit.

Karena demikian, jangan membebankan kepada hidup dan duniamu beban-beban yang tidak mampu mereka tanggung dan pikul!..

CATATAN KEEMPAT

Ketahuilah, kebiasaan Sang Fâthir Yang Hakîm pada umumnya ialah mengembalikan hal-hal yang penting dan berharga sebagai diri yang sama. Yakni, sementara sebagian besar benda diperbarui dengan yang serupa pada pergantian musim dan perubahan abad, Dia mengembalikan hal-hal yang berharga dan penting itu sebagai diri yang sama. Kaidah sunatullah ini umumnya tampak berlaku secara tetap dalam seluruh kebangkitan harian, tahunan, dan setiap abad.

Berdasarkan kaidah yang tetap ini, kami mengatakan demikian karena semua cabang ilmu pengetahuan sepakat dan seluruh ilmu bersaksi bahwa manusia adalah buah paling sempurna dari pohon penciptaan. Manusia adalah yang paling penting di antara makhluk dan yang paling berharga di antara seluruh yang ada. Satu individu manusia setara dengan satu jenis hewan lainnya.

Tentu, dengan pandangan intuitif yang pasti, dapat diputuskan bahwa dalam kebangkitan dan hidup kembali yang terbesar, setiap individu manusia akan dikembalikan sebagai diri yang sama, dengan tubuhnya, namanya, dan bentuknya.

CATATAN KELIMA

Dalam catatan ini, ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa telah tertanam sampai taraf tertentu dalam pikiran Said Lama. Ketika Said Baru menempuh gerak-gerak pikiran, ilmu pengetahuan dan peradaban Eropa berubah menjadi penyakit-penyakit hati dalam perjalanan hati itu dan menyebabkan kesulitan yang lebih besar. Karena itu, ketika Said Baru terpaksa mengguncangkan pikirannya untuk membuang filsafat yang berhias kepalsuan serta peradaban yang tenggelam dalam kesenangan rendah, ia harus menjalani percakapan berikut dengan pribadi maknawi Eropa. Percakapan itu sangat singkat dari satu segi dan panjang dari segi lain. Tujuannya ialah membungkam perasaan-perasaan nafsu dalam jiwanya yang bersaksi membela Eropa.

Jangan disalahpahami: Ada dua Eropa.

Yang pertama memperoleh daya dari agama Nasrani yang sejati, mengikuti keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan sosial manusia, serta ilmu pengetahuan yang berkhidmah bagi keadilan dan kebenaran. Aku tidak menyapa Eropa pertama ini.

Aku menyapa Eropa kedua yang telah rusak. Dalam gelap filsafat naturalisme, ia menganggap keburukan-keburukan peradaban sebagai kebaikan, lalu menggiring manusia kepada kesenangan rendah dan kesesatan. Demikianlah:

Saat itu, dalam perjalanan rohani tersebut, aku pernah berkata kepada pribadi maknawi Eropa yang memegang filsafat sia-sia dan berbahaya serta peradaban berbahaya yang tenggelam dalam kesenangan rendah. Yang kumaksud ialah hal-hal di luar kebaikan-kebaikan peradaban dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat:

Ketahuilah, wahai Eropa kedua! Dengan tangan kananmu engkau memegang filsafat yang sakit dan sesat, sedangkan dengan tangan kirimu engkau memegang peradaban yang tenggelam dalam kesenangan rendah dan berbahaya. Lalu engkau mengaku bahwa kebahagiaan manusia terletak pada keduanya. Biarlah kedua tanganmu ini patah, dan kedua hadiah kotormu ini membinasakan dirimu; memang keduanya akan membinasakanmu.

Wahai jiwa malang yang menyebarluaskan kekufuran dan ingkar nikmat! Mungkinkah seseorang berbahagia ketika jiwa, nurani, akal, dan hatinya terkena musibah-musibah mengerikan dan terjerumus ke dalam azab, hanya karena tubuhnya secara lahir berada di tengah hiasan dan kekayaan yang menipu? Dapatkah ia disebut bahagia?

Tidakkah engkau melihat bahwa karena seseorang putus asa akibat perkara kecil, kehilangan harapan terhadap cita-cita yang khayal, dan kecewa akibat urusan yang tidak penting, khayalan manis menjadi pahit baginya, keadaan yang menyenangkan menyiksanya, dan dunia terasa sempit lalu menjadi penjara baginya?

Lalu, kebahagiaan apakah yang engkau sediakan bagi manusia malang yang, karena keburukanmu, terkena pukulan kesesatan di sudut terdalam hatinya dan di dasar jiwanya? Akibat kesesatan itu, seluruh harapannya terputus dan seluruh kepedihannya timbul darinya. Dapatkah seseorang disebut bahagia jika tubuhnya berada dalam surga palsu yang akan lenyap, sedangkan hati dan jiwanya menderita azab di neraka? Begitulah engkau menyesatkan manusia yang malang dan membuatnya menderita azab seperti di neraka dalam sebuah surga palsu.

Wahai nafsu ammarah manusia! Lihatlah perumpamaan ini dan ketahuilah ke mana engkau menggiring manusia. Misalnya, di hadapan kami terdapat dua jalan. Kami menempuh salah satunya. Kami melihat bahwa pada setiap langkah terdapat seorang manusia malang yang tak berdaya. Orang-orang zalim menyerangnya, merampas harta dan barang-barangnya, menghancurkan gubuk kecilnya, dan terkadang melukainya. Keadaannya begitu memilukan sehingga langit menangis. Ke mana pun kami memandang, keadaan berlangsung demikian. Suara yang terdengar di jalan itu ialah kegaduhan orang zalim dan tangisan orang yang dizalimi, sehingga duka bersama meliputi jalan itu. Karena melalui kemanusiaannya seseorang ikut merasakan kepedihan orang lain, ia terjerat dalam kepedihan yang tidak terbatas. Namun, karena nurani tidak mampu menanggung kepedihan sebesar itu, orang yang menempuh jalan itu terpaksa memilih satu dari dua hal. Ia harus melepaskan kemanusiaannya dan menerima kebengisan tanpa batas, lalu memiliki hati yang tidak terganggu oleh binasanya semua orang selama dirinya selamat; atau ia harus meniadakan tuntutan hati dan akalnya.

Wahai Eropa yang rusak karena kesenangan rendah dan kesesatan serta menjauh dari agama Nasrani! Dengan kecerdasanmu yang buta dan bermata satu seperti Dajjal, engkau menghadiahkan keadaan seperti neraka ini kepada jiwa manusia! Kemudian engkau memahami bahwa ini merupakan penyakit yang tidak memiliki obat, yang melemparkan manusia dari tingkat paling tinggi ke tingkat paling rendah. Ia menurunkannya ke tingkat hewan yang paling malang.

Obat yang engkau temukan untuk penyakit ini ialah mainan-mainan yang memikat, keinginan, dan fantasi yang membius, yang hanya berkhidmah untuk mematikan perasaan sementara. Biarlah obatmu ini membinasakan dirimu; memang ia akan membinasakanmu! Demikianlah jalan yang engkau bukakan bagi manusia dan kebahagiaan yang engkau berikan menyerupai perumpamaan ini.

Jalan kedua, yang dihadiahkan oleh Al-Qur'an Al-Hakîm kepada manusia dengan petunjuknya, adalah sebagai berikut: Kami melihat bahwa pada setiap tempat singgah, setiap tempat, dan setiap kota di jalan itu terdapat prajurit-prajurit lurus dari seorang sultan yang adil. Mereka berada dan berkeliling di segala penjuru. Dari waktu ke waktu, atas perintah sultan itu, sebagian prajurit dibebastugaskan. Senjata, kuda, dan perlengkapan milik negara diambil dari mereka, lalu mereka diberi surat izin. Prajurit-prajurit yang dibebastugaskan itu,

meskipun secara lahir bersedih karena kuda dan senjata yang telah akrab dengan mereka diambil, sesungguhnya merasa lega karena dibebastugaskan. Mereka sangat senang karena akan mengunjungi sultan, kembali ke ibu kota kerajaan, dan menemui raja.

Terkadang para petugas pembebasan tugas bertemu dengan seorang prajurit yang belum berpengalaman. Prajurit itu tidak mengenali mereka. Mereka berkata, "Serahkan senjatamu!" Prajurit itu berkata, "Aku adalah prajurit raja. Aku berkhidmah kepadanya dan kelak akan pergi kepadanya. Siapakah kalian? Jika kalian datang dengan izin dan kerelaannya, kalian kusambut dengan sepenuh hormat; tunjukkan perintahnya. Jika tidak, pergilah dan menjauhlah dariku. Sekalipun aku tinggal seorang diri dan kalian berjumlah ribuan, aku tetap akan melawan kalian. Bukan demi diriku sendiri, sebab diriku bukan milikku, melainkan milik sultanku. Diriku yang ada padaku dan senjataku adalah amanat pemilikku. Aku tidak akan tunduk kepada kalian, demi menjaga amanat, melindungi kehormatan sultanku, dan menjaga kemuliaannya!"

Keadaan ini hanyalah satu contoh dari ribuan keadaan yang menjadi sumber kegembiraan dan kebahagiaan di jalan kedua. Bandingkan sendiri keadaan-keadaan lainnya dengannya. Sepanjang perjalanan di jalan kedua itu terdapat pengerahan dan pengiriman tentara dengan gembira dan meriah, yang disebut kelahiran, serta pembebasan tugas tentara dengan kegembiraan dan musik, yang disebut kematian. Inilah jalan yang dihadiahkan Al-Qur'an Al-Hakîm kepada manusia. Siapa pun yang menerima hadiah ini sepenuhnya menempuh jalan kedua yang menuju kebahagiaan di dua alam. Ia tidak bersedih atas hal yang telah berlalu dan tidak takut terhadap hal yang akan datang.

Wahai Eropa kedua yang rusak! Sebagian landasanmu yang rapuh dan tanpa dasar adalah sebagai berikut: Engkau mengatakan, "Dari malaikat terbesar sampai ikan terkecil, setiap makhluk hidup memiliki dirinya sendiri, bekerja demi dirinya sendiri, dan berusaha demi kenikmatannya sendiri. Ia mempunyai hak untuk hidup. Tujuan usahanya dan sasaran kehendaknya ialah hidup dan menjamin agar dirinya tetap ada." Lalu engkau menganggap sebagai pertarungan manifestasi-manifestasi penuh Rahmat dan Kemurahan dari hukum umum yang tampak pada tumbuhan yang bergegas menolong hewan serta hewan yang membantu manusia. Hukum itu bersumber dari prinsip-prinsip Kemurahan Sang Khâliq Yang Karîm dan dari prinsip saling menolong yang ditaati dengan sepenuhnya oleh unsur-unsur utama kainat. Engkau pun dengan bodoh memutuskan, "Hidup adalah pertarungan."

Bagaimana bergegasnya zarah-zarah makanan dengan penuh semangat untuk memberi makan sel-sel tubuh, yang merupakan manifestasi prinsip saling menolong, dapat disebut pertarungan? Bagaimana hal itu merupakan bentrokan? Sebaliknya, pertolongan dan gerak bergegas itu merupakan kerja sama atas Perintah Sang Rabb Yang Karîm.

Landasanmu yang rapuh lainnya ialah perkataanmu, "Segala sesuatu memiliki dirinya sendiri." Bukti pasti bahwa tidak ada sesuatu pun yang memiliki dirinya sendiri adalah sebagai berikut: Di antara sebab-sebab, manusia adalah yang paling mulia dan mempunyai kehendak paling luas dalam hal memilih. Namun, dari seratus bagian perbuatannya yang paling jelas dilakukan dengan kehendak, seperti berpikir, berbicara, dan makan, hanya satu bagian yang masih diragukan diberikan kepada kebebasan pilihannya dan masuk dalam jangkauan kemampuannya. Bagaimana sesuatu yang tidak memiliki satu bagian dari seratus bagian perbuatannya yang paling jelas dapat disebut memiliki dirinya sendiri? Jika makhluk yang paling mulia dan mempunyai kebebasan memilih paling luas ini sedemikian terhalang dari kuasa mengatur dan memiliki yang sesungguhnya, orang yang mengatakan, "Hewan-hewan lain dan benda-benda mati memiliki diri mereka sendiri," membuktikan bahwa dirinya lebih hewani daripada hewan serta lebih beku dan tidak sadar daripada benda mati.

Yang melemparkanmu ke dalam kesalahan dan menjatuhkanmu ke jurang ini ialah kecerdasanmu yang bermata satu, yakni kecerdasanmu yang luar biasa tetapi membawa keburukan. Dengan kecerdasan buta itu engkau melupakan Rabb-mu, Khâliq segala sesuatu. Engkau menisbahkan ciptaan-Nya kepada tabiat yang dibayangkan, memberikan karya-karya-Nya kepada sebab-sebab, dan membagikan milik Sang Khâliq kepada tagut-tagut yang menjadi sembahan batil. Dari segi ini dan menurut pandangan kecerdasanmu itu, setiap makhluk hidup dan setiap manusia harus seorang diri melawan musuh yang tidak terbatas dan berusaha memenuhi kebutuhan yang tiada akhir. Dengan kemampuan sebesar zarah, kebebasan memilih setipis kawat, kesadaran seperti kilau yang akan lenyap, kehidupan seperti nyala yang segera padam, dan umur seperti menit yang segera berlalu, ia terpaksa bertahan menghadapi musuh dan kebutuhan yang tidak terbatas itu. Padahal, modal makhluk hidup yang malang itu tidak cukup untuk satu pun dari ribuan keinginannya. Ketika terkena musibah, ia hanya mengharapkan obat bagi deritanya dari sebab-sebab yang tuli dan buta, lalu menjadi tempat tampaknya rahasia

ﻭَﻣَﺎ ﺩُﻋَٓﺎﺀُ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ضَلَالٍ

.

Kecerdasanmu yang gelap telah mengubah siang umat manusia menjadi malam. Hanya untuk membuat mereka terbiasa dengan malam yang penuh kesusahan, kezaliman, dan gelap itu, engkau meneranginya dengan lampu-lampu palsu yang sementara. Lampu-lampu itu tidak tersenyum gembira kepada wajah manusia. Sebaliknya, cahaya-cahaya itu tertawa mengejek dan bersenang-senang melihat tawa bodoh manusia di tengah keadaan pedih yang seharusnya ditangisi.

Dalam pandangan murid-muridmu, setiap makhluk hidup adalah korban musibah yang lemah, yang terkena serangan orang zalim. Dunia merupakan rumah duka bersama. Suara-suara di dunia ialah ratapan yang berasal dari kematian dan kepedihan.

Murid yang menerima pelajaranmu sepenuhnya menjadi seorang Firaun. Namun, ia adalah Firaun yang hina, yang menyembah hal paling rendah dan menganggap segala sesuatu yang dilihatnya memberikan manfaat sebagai rabb bagi dirinya.

Muridmu juga membangkang. Namun, ia adalah pembangkang yang lemah, yang menerima kehinaan paling dalam demi satu kenikmatan. Demi manfaat yang rendah, ia menunjukkan sikap hina sampai taraf mencium kaki setan.

Ia juga penindas. Namun, karena tidak menemukan suatu titik sandaran dalam hatinya, ia merupakan penindas yang memamerkan diri tetapi sebenarnya sangat tak berdaya.

Murid itu adalah penipu yang tujuan usahanya ialah memuaskan keinginan nafsu, mencari keuntungan bagi dirinya di balik tabir semangat membela sesama dan pengorbanan, serta berusaha meredakan ketamakan dan kesombongannya. Ia tidak sungguh-sungguh mencintai apa pun selain dirinya sendiri. Ia mengorbankan segala sesuatu demi dirinya.

Adapun murid Al-Qur'an yang tulus dan menerima pelajaran sepenuhnya ialah seorang hamba. Namun, ia adalah hamba yang mulia, yang tidak merendahkan diri untuk berubudiyah bahkan kepada makhluk terbesar dan tidak menjadikan manfaat paling besar dan paling agung, seperti surga, sebagai tujuan ubudiyah.

Ia juga lembut dan tenang. Namun, ia adalah orang lembut yang bercita-cita luhur, yang tidak merendahkan diri kepada selain Sang Fâthir Dzul-Jalâl-nya tanpa Izin dan Perintah-Nya.

Ia juga fakir. Namun, karena balasan yang disimpan oleh Sang Mâlik Yang Karîm baginya pada masa depan, ia adalah fakir yang merasa cukup.

Ia juga lemah. Namun, ia adalah orang lemah yang kuat karena bersandar pada Kekuatan Sang Pemiliknya, yang Kudrat-Nya tidak terbatas. Al-Qur'an bahkan tidak membiarkan murid sejatinya menjadikan surga yang kekal sebagai tujuan akhir. Mungkinkah ia menjadikan dunia yang fana dan segera lenyap ini sebagai tujuan akhir murid itu?

Pahamilah betapa jauh perbedaan cita-cita kedua murid itu!

Dengan ini kalian juga dapat membandingkan semangat membela sesama dan pengorbanan murid-murid filsafat yang sakit dengan murid-murid Al-Qur'an Al-Hakîm. Demikianlah:

Murid filsafat lari dari saudaranya demi dirinya sendiri dan mengajukan tuntutan melawan saudaranya.

Adapun murid Al-Qur'an menganggap seluruh hamba yang saleh di langit dan di bumi sebagai saudaranya. Ia mendoakan mereka dengan sangat tulus, merasa bahagia dengan kebahagiaan mereka, dan merasakan ikatan yang kuat terhadap mereka dalam jiwanya. Ia juga menganggap benda-benda terbesar, seperti Arasy dan matahari, sebagai petugas yang ditundukkan, serta sebagai hamba dan makhluk seperti dirinya.

Bandingkan pula kemuliaan dan luasnya jiwa kedua murid itu dari hal berikut: Al-Qur'an membuat jiwa para muridnya menjadi luas dan mulia sedemikian rupa sehingga, sebagai pengganti tasbih berbutir sembilan puluh sembilan, ia memberikan zarah-zarah dari sembilan puluh sembilan alam yang memperlihatkan manifestasi sembilan puluh sembilan Asma Allah سُبْحَانَهُ sebagai butir-butir tasbih di tangan mereka. Ia berkata, "Bacalah wirid-wirid kalian dengan ini." Dengarkan dan perhatikan murid-murid Al-Qur'an seperti Syah Jailani, Rifa'i, dan Syadzili (R.A.) ketika membaca wirid! Mereka memegang rangkaian zarah, jumlah tetes air, dan jumlah napas seluruh makhluk, lalu membaca wirid dengannya. Mereka berzikir dan bertasbih kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

Perhatikan didikan bermukjizat dari Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya! Manusia kecil ini, yang menjadi pening dan bingung karena kesedihan dan kegundahan yang sangat kecil serta dikalahkan oleh mikroba kecil, betapa tinggi ia naik melalui didikan Al-Qur'an. Betapa luas latifah-latifahnya, sehingga ia menganggap seluruh yang ada di dunia besar ini masih kurang untuk dijadikan tasbih wiridnya. Meskipun ia menganggap surga terlalu sedikit untuk menjadi tujuan zikir dan wiridnya, ia tidak menganggap dirinya lebih besar daripada makhluk Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang paling rendah sekalipun. Ia memadukan kemuliaan paling tinggi dengan rendah hati yang paling dalam. Engkau dapat membandingkan betapa rendah dan kecil murid-murid filsafat jika dibandingkan dengannya.

Berhadapan dengan hakikat-hakikat yang dilihat secara salah oleh kecerdasan bermata satu dari filsafat Eropa yang sakit, petunjuk Al-Qur'an berbicara sebagai berikut. Ia memandang dua alam dengan dua mata terang yang mengenal yang gaib dan melihat dunia serta akhirat, dan dengan kedua tangannya menunjukkan dua kebahagiaan bagi manusia: Wahai manusia! Diri dan hartamu yang ada di tanganmu bukan milikmu, melainkan amanat bagimu. Pemilik amanat itu adalah Sang Rahîm Yang Karîm, Yang Qadîr Atas Segala Sesuatu dan Yang Mengetahui Segala Sesuatu. Dia ingin membeli dari engkau milik-Nya yang berada bersamamu, agar Dia menjaganya untukmu sehingga tidak hilang. Kelak Dia akan memberikan harga yang besar kepadamu. Engkau adalah prajurit yang ditugaskan dan diperintah. Bekerjalah atas Nama-Nya dan bertindaklah untuk-Nya. Dialah yang mengirimkan hal-hal yang engkau butuhkan sebagai rezeki dan melindungimu dari hal-hal yang tidak mampu engkau hadapi.

Tujuan dan hasil hidupmu ini ialah menjadi tempat tampaknya Asma dan Syuunat Sang Mâlik. Ketika suatu musibah menimpamu, katakanlah

ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ

. Yakni, aku berada dalam khidmah kepada Pemilikku. Wahai musibah! Jika engkau datang dengan Izin dan Kerelaan-Nya, selamat datang, engkau disambut dengan senang hati! Sebab, tentu suatu saat kami akan kembali kepada-Nya dan pergi ke hadirat-Nya; kami rindu kepada-Nya. Karena

bagaimanapun juga suatu saat Dia akan membebaskan kami dari beban-beban kehidupan, marilah, wahai musibah! Aku rela jika pembebasan tugas dan pembebasan itu terjadi melalui tanganmu. Namun, jika Dia memberikan Perintah dan Kehendak kepadamu untuk menguji penjagaan amanat dan ketekunanku dalam bertugas, tetapi Dia tidak mengizinkan dan tidak merelakan aku menyerah kepadamu, aku tidak akan menyerahkan amanat Pemilikku kepada yang tidak dapat dipercaya selama aku masih mampu, demikian ia berkata.

Sebagai satu contoh dari seribu, lihatlah taraf pelajaran yang diberikan kecerdasan filsafat dan petunjuk Al-Qur'an. Ya, keadaan sesungguhnya di kedua pihak berlangsung menurut cara yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, tingkatan manusia dalam petunjuk dan kesesatan berbeda-beda. Tingkatan lalai juga beragam. Tidak semua orang pada setiap tingkatan dapat merasakan hakikat ini sepenuhnya.

Sebab, lalai meniadakan perasaan. Pada masa ini, perasaan telah ditiadakan sedemikian rupa sehingga orang-orang berperadaban tidak merasakan pedihnya derita yang menyakitkan ini. Namun, dengan bertambahnya kepekaan pengetahuan dan peringatan kematian yang memperlihatkan tiga puluh ribu jenazah setiap hari, tabir lalai itu terkoyak.

Ribuan kecaman dan rasa sesal bagi orang-orang yang menuju kesesatan melalui tagut-tagut orang asing dan ilmu-ilmu alam mereka, serta bagi orang-orang yang meniru dan mengikuti mereka secara membuta!

Wahai para pemuda tanah air ini! Jangan berusaha meniru orang-orang Eropa! Setelah Eropa melakukan kezaliman dan permusuhan yang tidak terbatas terhadap kalian, dengan akal apa kalian mengikuti dan mempercayai kesenangan rendah serta pikiran batil mereka? Tidak! Tidak! Kalian yang meniru secara rendah itu bukan sekadar mengikuti mereka. Tanpa sadar kalian bergabung ke barisan mereka dan menghukum mati diri kalian sendiri serta saudara-saudara kalian. Sadarlah bahwa selama kalian mengikuti dengan cara yang tidak bermoral, kalian berdusta dalam pengakuan membela bangsa! Sebab, tindakan kalian mengikuti dengan cara ini meremehkan kebangsaan kalian dan mengejek bangsa!

ﻫَﺪٰﻳﻨَﺎ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍِﻳَّﺎﻛُﻢْ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢِ

CATATAN KEENAM

Wahai manusia malang yang gelisah dan merusak keyakinannya karena banyaknya orang kafir serta kesepakatan mereka dalam menyangkal sebagian hakikat iman! Ketahuilah bahwa nilai dan pentingnya sesuatu tidak terletak pada jumlah dan banyaknya bilangan. Sebab, jika manusia tidak menjadi manusia, ia berubah menjadi hewan yang bersifat setan. Ketika manusia maju dalam nafsu-nafsu hewani, seperti sebagian orang Eropa dan orang yang berwatak Eropa, ia memperoleh tingkat hewani yang lebih kuat. Engkau melihat bahwa jumlah dan bilangan hewan sangat banyak tanpa batas, sedangkan manusia sangat sedikit dibandingkan dengan mereka. Namun, manusia telah menjadi sultan, khalifah, dan penguasa atas seluruh jenis hewan.

Orang-orang kafir yang berbahaya serta orang-orang yang tenggelam dalam kesenangan rendah dan mengikuti jalan kaum kafir merupakan suatu jenis hewan buruk milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sang Fâthir Yang Hakîm menciptakan mereka untuk membangun dan memakmurkan dunia. Dia menjadikan mereka ukuran pembanding untuk memperlihatkan tingkat nikmat yang diberikan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin. Pada akhirnya, Dia menyerahkan mereka kepada neraka yang pantas mereka terima.

Penyangkalan dan penolakan orang kafir serta orang sesat terhadap suatu hakikat iman tidak mempunyai kekuatan. Sebab, karena rahasia penolakan, kesepakatan mereka tidak berkekuatan. Seribu orang yang menolak setara dengan satu orang. Misalnya, jika seluruh penduduk Istanbul menolak adanya bulan pada awal Ramadan karena mereka tidak melihatnya, penolakan dan kesepakatan orang sebanyak itu gugur dengan penegasan dua orang saksi. Karena hakikat kekufuran dan kesesatan ialah menolak dan menyangkal, tidak tahu dan tidak ada, banyaknya orang kafir yang bersepakat tidaklah penting. Dalam persoalan-persoalan iman yang benar, tetap, dan telah terbukti, keputusan dua mukmin dari kalangan orang yang mengikuti kebenaran, yang bersandar pada apa yang disaksikan langsung, lebih kuat dan mengalahkan kesepakatan orang sesat yang tidak terhitung itu.

Rahasia hakikat ini adalah sebagai berikut: Meskipun pernyataan orang-orang yang menolak tampak satu, sebenarnya pernyataan itu banyak. Pernyataan mereka tidak dapat menyatu sehingga menjadi kuat. Adapun pernyataan orang-orang yang menegaskan menyatu dan memperoleh kekuatan satu sama lain. Sebab, orang yang tidak melihat hilal Ramadan di langit mengatakan, "Dalam penglihatanku tidak ada bulan; ia tidak terlihat olehku." Orang lain juga mengatakan, "Dalam penglihatanku tidak ada." Orang berikutnya mengatakan hal yang sama. Masing-masing mengatakan, "Tidak ada," berdasarkan penglihatannya sendiri. Karena penglihatan masing-masing berbeda, dan sebab-sebab yang menghalangi penglihatan pun dapat berbeda, pernyataan mereka juga berbeda dan tidak dapat saling memberi kekuatan. Namun, orang-orang yang menegaskan tidak mengatakan, "Dalam penglihatan dan mataku terdapat hilal." Mereka mengatakan, "Dalam nafsul-amr (kenyataan itu sendiri), di wajah langit terdapat hilal

yang terlihat." Semua orang yang melihat menyampaikan pernyataan yang sama dan mengatakan, "Ia ada dalam nafsul-amr." Jadi, seluruh pernyataan itu satu.

Karena penglihatan orang-orang yang menolak berbeda, pernyataan mereka juga berbeda. Mereka tidak dapat memberikan keputusan tentang nafsul-amr. Sebab, penolakan tidak dapat dibuktikan dalam nafsul-amr, karena diperlukan pengetahuan yang meliputi semuanya.

ﻭَ ﺍﻟْﻌَﺪَﻡُ ﺍﻟْﻤُﻄْﻠَﻖُ لَا ﻳُﺜْﺒِﺖُ اِلَّا بِمُشْكِلَاتٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻤَﺔٍ

merupakan suatu kaidah ilmu usul. Ya, jika engkau mengatakan bahwa sesuatu ada di dunia, cukup engkau memperlihatkan sesuatu itu saja. Jika engkau menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tidak ada, engkau perlu menelusuri dan memperlihatkan seluruh dunia agar penolakan itu terbukti.

Berdasarkan rahasia ini, penolakan orang kafir terhadap suatu hakikat menyerupai menyelesaikan suatu soal, melewati lubang yang sempit, atau melompati parit. Seribu orang sama dengan satu orang, sebab mereka tidak dapat saling membantu. Namun, karena orang-orang yang menegaskan memandang keadaan sesungguhnya dalam nafsul-amr, pernyataan mereka menyatu. Kekuatan mereka saling membantu. Hal ini menyerupai mengangkat batu besar: Semakin banyak tangan memegangnya, semakin mudah batu itu diangkat dan masing-masing memperoleh kekuatan dari yang lain.

CATATAN KETUJUH

Wahai orang malang yang memamerkan semangat membela bangsa, yang sangat mendorong kaum Muslim kepada dunia serta memaksa mereka menuju keterampilan dan kemajuan orang asing! Perhatikan agar ikatan sebagian orang dari bangsa ini dengan agama tidak terputus! Jika karena pukulan gada yang bodoh dan membuta semacam ini ikatan sebagian orang dengan agama terputus, orang-orang tanpa agama itu akan membahayakan kehidupan sosial seperti racun yang mematikan. Sebab, nurani orang murtad telah rusak sepenuhnya sehingga menjadi racun bagi kehidupan sosial. Karena itulah, dalam ilmu usul, "Orang murtad tidak mempunyai hak hidup. Orang kafir mempunyai hak hidup jika menjadi zimi atau mengadakan perdamaian," merupakan salah satu prinsip dasar syariat. Dalam mazhab Hanafi, kesaksian orang kafir yang termasuk kaum zimi juga diterima. Namun, orang fasik ditolak kesaksiannya, sebab ia berkhianat.

Wahai orang fasik yang malang! Jangan tertipu dengan melihat banyaknya orang fasik dan jangan mengatakan, "Pikiran mayoritas bersamaku." Sebab, orang fasik tidak memasuki kefasikan dengan menginginkan dan mencarinya sendiri; ia justru terjatuh ke dalamnya dan tidak dapat keluar. Setiap orang fasik berharap menjadi saleh dan

ingin melihat atasannya serta pemimpinnya sebagai orang yang taat beragama. Kecuali jika, el-iyazü billah, nuraninya membusuk karena murtad sehingga ia menikmati meracuni seperti ular.

Wahai kepala yang gila dan hati yang rusak! Apakah engkau mengira, "Kaum Muslim tidak mencintai atau tidak memikirkan dunia, sehingga mereka jatuh miskin dan perlu diingatkan agar tidak melupakan bagiannya dari dunia"? Sangkamu salah dan perkiraanmu keliru. Justru ketamakan telah menjadi kuat, sehingga mereka jatuh miskin. Sebab, pada seorang mukmin, ketamakan merupakan sebab kerugian dan kemelaratan.

ﺍَﻟْﺤَﺮ۪ﻳﺺُ ﺧَٓﺎﺋِﺐٌ ﺧَﺎﺳِﺮٌ

telah menjadi semacam peribahasa.

Ya, banyak sebab yang mengajak dan menggiring manusia kepada dunia. Terutama, nafsu, keinginan, kebutuhan, indra, perasaan, setan yang menggodanya, manisnya dunia secara lahir, serta kawan-kawan buruk seperti engkau menjadi berbagai pengajaknya. Namun, yang mengajak kepada akhirat yang kekal dan kehidupan panjang yang kekal selamanya sedikit. Jika engkau mempunyai semangat membela bangsa yang malang ini sebesar zarah dan pengakuanmu tentang cita-cita luhur bukanlah dusta, engkau perlu membantu sedikit pengajak yang menolong manusia menuju kehidupan yang kekal. Jika engkau malah membungkam pengajak yang sedikit itu dan membantu yang banyak, engkau menjadi kawan setan.

Apakah engkau mengira kemiskinan bangsa ini timbul dari sikap zuhud yang datang dari agama dan kemalasan yang datang dari meninggalkan dunia? Engkau keliru dalam sangkaan ini. Tidakkah engkau melihat bahwa bangsa-bangsa yang berada di bawah kekuasaan Eropa, seperti kaum Majusi dan Brahmana di Cina dan India, serta orang-orang kulit hitam di Afrika, lebih miskin daripada kami?

Tidakkah engkau juga melihat bahwa kaum Muslim hanya dibiarkan memiliki makanan pokok yang diperlukan? Orang-orang kafir yang zalim dari Eropa atau orang-orang munafik dari Asia mencuri atau merampasnya melalui tipu daya mereka.

Jika tujuan kalian memaksa orang-orang beriman menuju peradaban yang hina—medeniyet tanpa mim—semacam ini ialah menciptakan ketertiban dan keamanan di negeri serta memudahkan pemerintahan, ketahuilah dengan pasti bahwa kalian keliru dan menggiring mereka ke jalan yang salah. Sebab, memerintah seratus orang fasik yang keyakinannya terguncang dan akhlaknya rusak, serta menciptakan ketertiban di antara mereka, lebih sulit daripada memerintah ribuan orang saleh.

Berdasarkan landasan-landasan ini, umat Islam tidak perlu digiring dan didorong menuju dunia serta ketamakan. Kemajuan dan ketertiban tidak dapat dijamin dengan cara ini. Mereka justru memerlukan usaha yang teratur, rasa saling percaya yang terbangun di antara mereka, serta kemudahan untuk menjalankan prinsip saling menolong.

Kebutuhan ini dipenuhi melalui perintah-perintah suci agama, takwa, dan keteguhan dalam beragama.

CATATAN KEDELAPAN

Wahai manusia malas yang tidak mengetahui kenikmatan dan kebahagiaan dalam usaha serta amal! Ketahuilah bahwa karena Kemurahan-Nya yang sempurna, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah menempatkan balasan kerja di dalam kerja itu sendiri. Dia menempatkan upah amal di dalam amal itu sendiri. Karena rahasia inilah, seluruh yang ada, bahkan benda-benda mati dari suatu sudut pandang, menaati Perintah Rabb dalam tugas-tugas khususnya yang disebut perintah-perintah penciptaan, dengan semangat yang sempurna dan suatu jenis kenikmatan. Dari lebah, lalat, dan ayam sampai matahari dan bulan, segala sesuatu berusaha menjalankan tugasnya dengan penuh kenikmatan. Jadi, ada kenikmatan dalam kerja mereka. Karena tidak mempunyai akal, mereka menjalankan tugas dengan sempurna tanpa memikirkan akibat dan hasilnya.

Jika engkau berkata:

Kenikmatan mungkin terdapat pada makhluk hidup. Bagaimana semangat dan kenikmatan dapat terdapat pada benda-benda mati?

Jawaban:

Benda-benda mati menginginkan dan mencari kehormatan, kedudukan, kesempurnaan, keindahan, dan keteraturan, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi Asma Allah سُبْحَانَهُ yang ber-Tajalli (tampak nyata) padanya. Ketika menaati tugas fitrahnya, mereka menjadi tempat memantul dan cermin bagi Nama-nama Nurul Anwar (Cahaya segala cahaya), sehingga mereka bercahaya dan maju. Misalnya, setetes air dan pecahan kaca yang sangat kecil pada dirinya sendiri tidak bercahaya dan tidak berarti. Namun, jika dengan hati yang jernih mereka menghadapkan wajah kepada matahari, tetes dan pecahan kaca yang semula tidak berarti dan tidak bercahaya itu menjadi semacam singgasana matahari, bahkan tersenyum kepadamu.

Seperti dalam contoh ini, zarah-zarah dan seluruh yang ada menjadi cermin bagi Nama-nama Zat Dzul-Jalâl, Pemilik Keindahan Mutlak dan Kesempurnaan Mutlak, melalui ketekunannya menjalankan tugas. Dengan demikian, seperti tetes air dan serpihan kaca kecil itu, mereka naik dari tingkat yang sangat rendah ke tingkat tampak dan bercahaya yang sangat tinggi. Karena melalui tugas mereka memperoleh kedudukan yang sangat bercahaya dan tinggi, dapat dikatakan bahwa mereka menjalankan tugas itu dengan penuh kenikmatan jika kenikmatan mungkin dan dapat ada pada mereka, yakni jika mereka mendapat bagian dari kehidupan umum.

Bukti paling jelas bahwa terdapat kenikmatan dalam tugas ialah kerja organ-organ dan perasaanmu sendiri. Perhatikanlah. Masing-masing mempunyai kenikmatan tersendiri dalam kerjanya untuk menjaga agar individu dan jenis tetap bertahan. Kerja itu sendiri

menjadi suatu kenikmatan bagi mereka. Bahkan, meninggalkan kerja merupakan sejenis azab bagi organ itu.

Bukti yang paling jelas lainnya ialah sikap rela berkorban dan berani yang diperlihatkan hewan, seperti ayam jantan atau induk ayam yang mempunyai anak, dalam menjalankan tugasnya. Meskipun lapar, ayam jantan mendahulukan ayam-ayam betina daripada dirinya sendiri. Ia memanggil mereka kepada rezeki yang ditemukannya, tidak memakannya, dan membiarkan mereka makan. Tampak bahwa ia menjalankan tugas itu dengan semangat, rasa bangga, dan kenikmatan. Jadi, dalam kerja tersebut ia memperoleh kenikmatan yang lebih besar daripada makan.

Induk ayam yang menggembalakan anak-anaknya yang kecil juga mengorbankan nyawa demi mereka dan menerjang anjing. Ia membiarkan dirinya lapar dan mengenyangkan mereka. Jadi, dalam kerja itu ia memperoleh kenikmatan yang mengungguli dan melebihi pedihnya lapar serta derita kematian. Induk-induk hewan berusaha melindungi anaknya dengan nikmat ketika mereka masih kecil, karena saat itu tugasnya masih ada. Setelah anaknya besar, tugas tersebut berakhir dan kenikmatan pun hilang. Ia memukul anaknya dan mengambil biji dari anak itu. Hanya tugas para ibu pada jenis manusia yang berlanjut sampai taraf tertentu. Sebab, karena lemah dan tak berdaya, manusia selalu mempunyai sejenis sifat kanak-kanak dan setiap saat membutuhkan kasih sayang.

Perhatikan hewan-hewan jantan yang menggembalakan, seperti ayam jantan, serta induk-induk seperti ayam betina. Pahamilah bahwa mereka tidak menjalankan tugas itu untuk dirinya sendiri, atas nama dirinya sendiri, atau demi kesempurnaan dirinya. Sebab, jika diperlukan dalam tugas, mereka mengorbankan hidupnya. Sebaliknya, mereka menjalankan tugas demi Sang Pemberi Nikmat Yang Karîm, yang menugaskan mereka dan menempatkan suatu kenikmatan di dalam tugas itu dengan Rahmat-Nya, serta atas Nama Sang Fâthir Dzul-Jalâl.

Bukti lain bahwa upah terdapat dalam kerja itu sendiri ialah bahwa tumbuhan dan pepohonan menaati Perintah Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan sikap yang memberi kesan semangat dan kenikmatan. Sebab, aroma harum yang mereka sebarkan, hiasan yang memperindah diri mereka untuk menarik perhatian para pembeli, dan pengorbanan diri sampai membusuk demi bulir dan buahnya memperlihatkan kepada orang yang memperhatikan bahwa mereka memperoleh kenikmatan dalam menaati Perintah Allah سُبْحَانَهُ sedemikian rupa sehingga mereka melenyapkan dan membusukkan dirinya sendiri.

Perhatikan pohon-pohon berbuah seperti kelapa dan ara yang membawa banyak kaleng susu di atas kepalanya. Dengan bahasa keadaan, mereka meminta makanan terbaik seperti susu dari khazanah Rahmat, menerimanya, lalu memberikannya sebagai makanan kepada buah-buahnya; mereka sendiri memakan lumpur. Pohon delima menerima minuman jernih dari khazanah Rahmat dan memberikannya kepada buahnya, sedangkan dirinya sendiri berkanaah dengan air yang berlumpur dan keruh.

Bahkan, pada biji-bijian tampak kerinduan yang jelas dalam tugas menghasilkan bulir. Sebagaimana seseorang yang terkurung di tempat sempit ingin dengan penuh rindu keluar ke kebun dan tempat yang luas, demikian pula pada biji-bijian tampak keadaan yang begitu gembira dan penuh rindu dalam tugas menghasilkan bulir.

Dari prinsip panjang yang penuh rahasia dan berlaku di kainat, yang disebut "sunatullah" ini, orang-orang yang menganggur, malas, hidup dengan istirahat, dan berbaring di ranjang yang nyaman umumnya mengalami kesusahan dan kesulitan lebih banyak daripada orang-orang yang berusaha dan bekerja. Sebab, orang yang menganggur selalu mengeluhkan umurnya dan ingin agar umur itu cepat berlalu melalui hiburan. Adapun orang yang berusaha dan bekerja bersyukur dan memuji Allah سُبْحَانَهُ; ia tidak ingin umurnya berlalu.

ﺍَﻟْﻤُﺴْﺘَﺮ۪ﻳﺢُ ﺍﻟْﻌَﺎﻃِﻞُ ﺷَﺎﻙٍ ﻣِﻦْ ﻋُﻤْﺮِﻩ۪ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﺎﻋِﻰُ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻞُ ﺷَﺎﻛِﺮٌ

merupakan prinsip yang menyeluruh. Karena rahasia ini pula, kalimat "Kenyamanan ada dalam kesusahan; kesusahan ada dalam kenyamanan" telah menjadi peribahasa.

Ya, jika benda-benda mati diperhatikan dengan saksama, tampak suatu sikap yang sesuai dengan prinsip sunatullah tersebut ketika hal-hal yang belum berkembang dan hanya tinggal sebagai potensi serta kemampuan yang belum sempurna berkembang dengan usaha dan kerja yang sungguh-sungguh, lalu beralih dari potensi menjadi kenyataan. Sikap itu mengisyaratkan bahwa dalam tugas fitrahnya terdapat semangat dan dalam perkara itu terdapat kenikmatan. Jika benda mati tersebut mempunyai bagian dari kehidupan umum, semangat itu menjadi miliknya sendiri. Jika tidak, semangat itu milik sesuatu yang mewakili dan mengawasinya.

Bahkan, berdasarkan rahasia ini dapat dikatakan: Ketika air yang halus dan lembut menerima perintah untuk membeku, ia menaati perintah itu dengan semangat begitu kuat sehingga membelah dan memecahkan besi. Jadi, ketika Perintah Rabb, "Mengembanglah!" disampaikan melalui bahasa dingin dan suhu di bawah nol kepada air dalam wadah besi yang tertutup, air itu memecahkan wadahnya dan merusak besinya dengan semangat yang kuat, lalu menjadi es. Demikian seterusnya...

Bandingkan segala sesuatu dengan ini. Dari perputaran matahari-matahari serta gerak dan perjalanannya sampai berputar, berkeliling, dan bergetarnya zarah-zarah seperti seorang darwis Mevlevi, seluruh usaha dan gerak di kainat berlangsung menurut Hukum Takdir Allah سُبْحَانَهُ. Semuanya tampak melalui Perintah Penciptaan yang datang dari Kudrat Allah سُبْحَانَهُ dan mengandung Iradah, Perintah, serta Ilmu-Nya.

Bahkan, setiap zarah, setiap yang ada, dan setiap makhluk hidup menyerupai seorang prajurit. Sebagaimana prajurit itu mempunyai hubungan dan tugas yang berbeda dalam berbagai lingkup tentara, demikian pula setiap zarah dan setiap makhluk hidup. Misalnya, sebuah zarah dalam matamu mempunyai hubungan tertentu di sel mata, di saraf-saraf wajah mata, dan di pembuluh darah tubuh yang disebut arteri. Sesuai setiap hubungan itu, ia mempunyai tugas, dan sesuai tugas tersebut, ia mempunyai manfaat. Demikian seterusnya, bandingkan segala sesuatu dengannya.

Berdasarkan hal ini, segala sesuatu bersaksi dari dua segi bahwa Sang Qadîr Yang Azali adalah Wâjibul Wujûd:

Yang pertama: Melalui bahasa kelemahan mutlaknya dalam menjalankan tugas-tugas yang ribuan tingkat melampaui kemampuannya, ia bersaksi tentang Wujud Sang Qadîr.

Yang kedua: Dengan menyesuaikan geraknya pada prinsip-prinsip yang membentuk tatanan alam dan hukum-hukum yang mempertahankan keseimbangan seluruh yang ada, segala sesuatu bersaksi tentang Sang 'Alîm Yang Qadîr.

Sebab, benda mati seperti zarah dan hewan kecil seperti lebah tidak mengetahui tatanan serta keseimbangan, yang merupakan persoalan-persoalan penting dan halus dalam Kitâb Mubîn. Betapa jauh jarak antara zarah yang mati atau hewan kecil seperti lebah dengan kemampuan membaca persoalan-persoalan penting dan halus dalam Kitâb Mubîn dalam Kekuasaan Zat Dzul-Jalâl, Yang membuka lapisan-lapisan langit seperti lembaran buku, menutupnya, dan melipatnya! Jika engkau berbuat gila dan membayangkan bahwa zarah mempunyai mata yang mampu membaca huruf-huruf halus kitab itu, barulah engkau dapat berusaha menolak kesaksian zarah tersebut.

Ya, Sang Fâthir Yang Hakîm merangkum dan menempatkan prinsip-prinsip Kitâb Mubîn dengan cara yang sangat indah dan singkat di dalam suatu kenikmatan khusus dan kebutuhan tertentu. Jika segala sesuatu bertindak dengan kenikmatan khusus dan kebutuhan tertentu itu, ia menaati prinsip-prinsip Kitâb Mubîn tanpa mengetahuinya.

Misalnya, begitu lahir ke dunia, nyamuk yang berbelalai keluar dari rumahnya. Tanpa berhenti, ia menyerang wajah manusia, memukul dengan tongkat panjangnya, membuat air kehidupan memancar, lalu meminumnya. Dalam menghindari serangan, ia menunjukkan keterampilan seperti seorang ahli strategi perang. Siapakah yang mengajarkan keterampilan ini, ilmu perang ini, dan keterampilan mengeluarkan air kepada makhluk kecil yang belum berpengalaman dan baru lahir ke dunia ini? Di manakah ia mempelajarinya? Aku, yakni Said yang malang ini, mengakui bahwa seandainya aku berada di tempat nyamuk yang berbelalai itu, aku hanya dapat mempelajari keterampilan tersebut, perang dengan serangan dan mundur itu, serta kerja mengeluarkan air melalui pelajaran yang sangat panjang dan pengalaman yang sangat banyak.

Bandingkan hewan-hewan yang menerima ilham, seperti lebah, laba-laba, dan burung bulbul yang membuat sarangnya seperti kaus kaki, dengan nyamuk ini. Bahkan, engkau dapat membandingkan tumbuhan dengan hewan dengan cara yang sama.

Ya, Sang Jawwâd Mutlak (Celle Celalühü) memberikan kepada setiap individu makhluk hidup sebuah surat keterangan yang ditulis dengan tinta kenikmatan dan tinta kebutuhan. Melaluinya, Dia menyerahkan program perintah-perintah penciptaan dan daftar kerja mereka. Perhatikan Sang Hakîm Dzul-Jalâl: Betapa Dia menulis bagian dari prinsip-prinsip Kitâb Mubîn yang berkaitan dengan tugas lebah pada suatu surat keterangan, lalu meletakkannya dalam kotak kecil di kepala lebah. Kunci kotak kecil itu ialah suatu kenikmatan yang khusus bagi lebah yang tekun menjalankan tugas. Dengan kunci itu, lebah membuka kotaknya, membaca programnya, memahami perintah, dan bergerak. Ia menampakkan rahasia ayat

ﻭَ ﺍَﻭْﺣٰﻰ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨَّﺤْﻞِ

.

Jika engkau telah mendengar Catatan Kedelapan ini sepenuhnya dan memahaminya dengan utuh, melalui pandangan intuitif iman engkau akan memahami satu rahasia

ﻭَﺳِﻌَﺖْ ﺭَﺣْﻤَﺘُﻪُ ﻛُﻞَّ ﺷَﻲْﺀٍ

, satu hakikat

ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪

, satu prinsip

ﺍِﻧَّﻤَٓﺎ ﺍَﻣْﺮُﻩُٓ ﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﺍَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻝَ ﻟَﻪُ ﻛُﻦْ ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ

, dan satu butir hikmah

ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ

.

CATATAN KESEMBILAN

Ketahuilah bahwa kenabian pada umat manusia merupakan rangkuman dan dasar kebaikan serta kesempurnaan manusia. Agama yang benar merupakan daftar kebahagiaan. Iman adalah keindahan yang suci dan murni. Karena di alam ini tampak keindahan yang terang, limpahan yang luas dan tinggi, kebenaran yang nyata, serta kesempurnaan yang unggul, tentu dengan jelas kebenaran dan hakikat berada dalam kenabian dan di tangan para nabi. Kesesatan, keburukan, dan kerugian berada pada pihak yang melawannya.

Dari ribuan keindahan ubudiyah, perhatikan hal ini saja: Melalui ubudiyah, Nabi ﷺ menyatukan hati orang-orang yang bertauhid dalam salat Id, salat Jumat, dan salat berjemaah, serta menghimpun lidah mereka dalam satu ucapan. Dengan demikian, manusia ini menyambut Keagungan Seruan Sang Ma'bûd Yang Azali dengan suara, doa, dan zikir yang keluar dari hati serta lidah yang tak terhitung. Suara, doa, dan zikir itu saling menopang, membantu, dan bersatu, lalu dengan cara yang begitu luas

memperlihatkan ubudiyah kepada Keilahian Sang Ma'bûd Yang Azali. Seolah-olah bumi sendiri mengucapkan zikir itu, memanjatkan doa itu, dan melaksanakan salat dengan seluruh penjurunya. Dengan seluruh sisinya, bumi menaati Perintah

ﺍَﻗ۪ﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠٰﻮﺓَ

yang turun dengan Kemuliaan dan Keagungan dari atas langit. Melalui rahasia persatuan ini, manusia yang merupakan makhluk lemah dan kecil seperti zarah di kainat menjadi hamba yang dicintai Khâliq bumi dan langit, khalifah dan sultan bumi, pemimpin hewan, serta hasil dan tujuan penciptaan kainat, dari segi keagungan ubudiyah.

Ya, seandainya suara ratusan juta manusia yang pada saat yang sama mengatakan Allahu ekber setelah salat, terutama salat Id, menyatu dan berkumpul di alam yang dapat disaksikan sebagaimana menyatu di alam gaib, suara itu akan setara dengan Allahu ekber yang diucapkan bumi jika seluruh bumi menjadi manusia besar dan mengucapkannya dengan suara besar sesuai keagungannya. Karena itu, bersatunya orang-orang yang bertauhid dalam mengucapkan Allahu ekber pada saat yang sama menjadi seperti Allahu ekber besar dari bumi. Seolah-olah, melalui zikir dan tasbih dunia Islam pada salat Id, bumi mengalami guncangan besar, mengatakan Allahu ekber dengan seluruh penjuru dan sisinya, berniat dengan hati tulusnya berupa Ka'bah Yang Mulia yang menjadi kiblatnya, lalu mengucapkan Allahu ekber dengan mulutnya berupa Makkah dan lidahnya berupa Gunung Arafah. Ucapan tunggal itu terwujud dalam udara pada mulut-mulut seperti gua milik seluruh mukmin di sekeliling bumi. Sebagaimana gema satu ucapan Allahu ekber menghasilkan Allahu ekber yang tidak terhitung, zikir dan takbir yang diterima itu juga menggema di langit serta bergelombang dan bersuara di alam-alam barzakh.

Kepada Zat Dzul-Jalâl, Yang menjadikan bumi bersujud dan beribadah kepada-Nya, menjadi masjid bagi hamba-hamba-Nya, menjadi buaian bagi makhluk-makhluk-Nya, serta bertasbih dan bertakbir kepada-Nya, kami memanjatkan pujian, tasbih, dan takbir sebanyak zarah-zarah bumi. Kami juga memuji-Nya sebanyak seluruh yang ada, karena Dia menjadikan kami umat Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, yang mengajarkan ubudiyah semacam ini kepada kami.

CATATAN KESEPULUH

Ketahuilah, wahai Said yang lalai dan kacau! Untuk mencapai dan memandang nur makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, melihat manifestasi-manifestasi-Nya dalam cermin ayat-ayat dan saksi-saksi, serta memandang manifestasi-manifestasi itu melalui celah-celah hujah dan bukti, jangan meraba setiap nur yang melintas di atasmu, datang ke hatimu, dan terlihat oleh akalmu dengan jari-jari kritik, serta jangan mengkritiknya dengan tangan keraguan.

Jangan ulurkan tangan untuk menangkap nur yang bersinar kepadamu. Sebaliknya, lepaskan diri dari sebab-sebab lalai, hadapkan dirimu kepada nur-nur itu, dan diamlah. Sebab, aku telah menyaksikan bahwa:

Saksi-saksi dan bukti-bukti makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ terdiri atas tiga jenis.

Sebagiannya: Seperti air, terlihat dan terasa, tetapi tidak dapat dipegang dengan jari. Dalam jenis ini, orang perlu melepaskan khayalan dan menyelam sepenuhnya ke dalamnya. Ia tidak dapat diteliti dengan jari-jari kritik. Jika dilakukan, ia mengalir dan pergi. Air kehidupan itu tidak menjadikan jari sebagai tempat tinggalnya.

Jenis kedua seperti udara: Terasa, tetapi tidak terlihat dan tidak dapat dipegang. Hadapkan wajah, mulut, dan jiwamu kepada angin Rahmat itu; tempatkan dirimu menghadapnya. Jangan ulurkan tangan kritik, sebab engkau tidak dapat memegangnya. Hirup dengan jiwamu. Jika engkau mencarinya dengan tangan keraguan dan mengulurkan tangan kritik, ia bergerak dan pergi. Ia tidak menjadikan tanganmu tempat tinggal dan tidak rela terhadapnya.

Adapun jenis ketiga: Seperti nur, terlihat, tetapi tidak terasa dan tidak dapat dipegang. Maka, dengan mata hati dan pandangan jiwamu, tempatkan dirimu menghadapnya, arahkan matamu kepadanya, dan tunggulah; mungkin ia akan datang dengan sendirinya. Sebab, nur tidak dipegang dengan tangan dan tidak ditangkap dengan jari. Nur itu hanya ditangkap dengan nur mata batin. Jika engkau mengulurkan tangan yang tamak dan bersifat materi, lalu menimbangnya dengan timbangan materi, sekalipun tidak padam ia akan tersembunyi. Sebab, nur semacam itu tidak rela dipenjara dalam materi dan tidak dapat masuk ke dalam batasan. Ia tidak menerima sesuatu yang padat sebagai pemilik dan penguasanya.

CATATAN KESEBELAS

Ketahuilah bahwa ungkapan Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengandung kasih sayang dan belas kasih yang banyak. Sebab, sebagian besar orang yang disapanya ialah masyarakat awam. Pikiran mereka sederhana dan pandangan mereka tidak melihat hal-hal yang halus. Karena itu, untuk menyentuh kesederhanaan pikiran mereka dengan lembut, Al-Qur'an berulang kali mengulang ayat-ayat yang tertulis pada wajah langit dan bumi. Ia membuat mereka mudah membaca huruf-huruf besar itu.

Misalnya, ia mengajarkan ayat-ayat yang jelas terbaca dan terlihat, seperti penciptaan langit dan bumi, diturunkannya hujan dari langit, serta dihidupkannya bumi. Ia jarang mengarahkan pandangan kepada ayat-ayat halus yang ditulis dengan huruf kecil di dalam huruf-huruf besar itu, agar mereka tidak mengalami kesulitan.

Dalam gaya bahasa Al-Qur'an terdapat kekuatan ungkapan, kelancaran, dan sifat alami sedemikian rupa sehingga seolah-olah Al-Qur'an adalah seorang hafiz yang membaca ayat-ayat yang ditulis dengan pena Kudrat pada lembaran-lembaran kainat. Seolah-olah Al-Qur'an merupakan bacaan kitab kainat dan

lantunan tatanan-tatanannya. Ia membaca Syuunat Sang Pengukir Yang Azali dan menuliskan Perbuatan-perbuatan-Nya. Jika engkau ingin melihat kekuatan ungkapan ini, dengarkanlah dengan hati yang sadar dan cermat Firman-firman seperti Surah 'Amma dan ayat-ayat

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ

!

CATATAN KEDUA BELAS

Wahai kawan-kawanku yang mendengarkan catatan-catatan ini! Ketahuilah bahwa terkadang, berbeda dari kebiasaan, aku menulis permohonan rendah hati, doa, dan munajat hatiku kepada Rabb-ku, meskipun semua itu semestinya disembunyikan. Sebabnya ialah aku memohon kepada Rahmat Allah سُبْحَانَهُ agar, ketika kematian membungkam lidahku, kitabku diterima sebagai yang berbicara menggantikan lidahku. Ya, tobat dan penyesalan lidahku yang sementara dalam umur yang pendek tidak cukup untuk menjadi penebus dosa-dosaku yang tidak terbatas. Lidah kitab yang tetap dan bertahan sampai taraf tertentu lebih berguna untuk tugas itu.

Tiga belas tahun {(Catatan kaki): Kini telah empat puluh tahun.} yang lalu, akibat badai rohani yang riuh, ketika tawa Said Lama akan berubah menjadi tangisan Said Baru, pada suatu saat aku terbangun dari tidur lalai masa muda oleh pagi masa tua. Munajat dan doa berikut ditulis dalam bahasa Arab. Makna sebagian darinya dalam bahasa Turki adalah sebagai berikut:

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Karena pilihan burukku, umur dan masa mudaku telah terbuang dan berlalu. Dari buah umur dan masa muda itu, yang tersisa di tanganku ialah dosa-dosa yang menyakitkan, kepedihan yang menghinakan, serta bisikan yang menyesatkan. Dengan beban berat, hati yang sakit, dan wajah yang malu ini, aku mendekati kubur. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa, dengan sangat cepat, tanpa melenceng ke kanan atau kiri dan tanpa dapat memilih, aku mendekati pintu kubur seperti kawan-kawan, teman sebaya, dan kerabatku yang telah wafat. Kubur itu merupakan tempat singgah awal dan pintu pertama yang telah didirikan dan dibuka di jalan menuju hidup yang kekal selama-lamanya, dengan perpisahan untuk selamanya dari negeri yang fana ini. Aku telah memahami dengan keyakinan yang pasti bahwa dunia tempat aku terikat dan terpikat ini akan binasa dan berlalu, fana dan mati. Aku juga menyaksikan bahwa segala yang ada di dalamnya berpindah dan pergi satu demi satu, rombongan demi rombongan, lalu hilang. Terutama bagi orang-orang seperti aku yang membawa nafsu

ammarah, dunia ini sangat kejam dan penuh tipu daya. Jika memberikan satu kenikmatan, ia menimpakan seribu kepedihan dan membuat orang menanggungnya. Jika memberikan satu buah anggur untuk dimakan, ia memukul dengan seratus tamparan.

Wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm dan wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm!

Melalui rahasia ﻛُﻞُّ ﺍٰﺕٍ ﻗَﺮ۪ﻳﺐٌ, sejak sekarang aku melihat bahwa dalam waktu dekat aku telah mengenakan kafanku, naik ke kerandaku, dan berpamitan kepada kawan-kawanku. Ketika berjalan menuju kuburku, di hadirat Rahmat-Mu aku berseru dengan bahasa keadaan jenazahku dan bahasa lisan jiwaku: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Selamatkanlah aku dari rasa malu karena dosa-dosaku!

Kini aku telah sampai di tepi kuburku, memasang kafanku pada leherku, dan berdiri di atas tubuhku yang terbaring di tepi kubur. Aku mengangkat kepala ke hadirat Rahmat-Mu, lalu dengan seluruh kekuatanku menjerit dan berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Bebaskanlah aku dari beban berat dosa-dosaku!

Kini aku telah masuk ke kuburku dan terbungkus kafanku. Orang-orang yang mengantarkanku meninggalkan aku dan pergi. Aku menantikan Ampunan dan Rahmat-Mu. Aku telah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa selain Engkau tidak ada tempat berlindung dan jalan selamat. Karena wajah dosa yang buruk, bentuk maksiat yang liar, dan sempitnya tempat itu, dengan seluruh kekuatanku aku berseru: El-Aman! El-Aman! Yâ Rahman! Yâ Hannan! Yâ Mennan! Yâ Deyyan! Selamatkanlah aku dari kebersamaan dengan dosa-dosaku yang buruk, dan lapangkanlah tempatku.

İlahî! Rahmat-Mu adalah tempat perlindunganku, dan Kekasih-Mu yang merupakan Rahmeten lil-Âlemîn ﷺ adalah saranaku untuk mencapai Rahmat-Mu. Aku tidak mengeluhkan Engkau; aku mengeluhkan nafsu dan keadaanku kepada-Mu.

Wahai Sang Khâliq-ku Yang Karîm dan wahai Sang Rabb-ku Yang Rahîm!

Makhluk, ciptaan, dan hamba-Mu yang bernama Said ini durhaka, tak berdaya, lalai, tidak tahu, sakit, hina, berbuat buruk, tua, celaka, dan merupakan budak yang melarikan diri dari Sang Pemiliknya. Namun, setelah empat puluh tahun, ia menyesal dan ingin kembali ke hadirat-Mu. Ia berlindung kepada Rahmat-Mu dan mengakui dosa serta kesalahannya yang tidak terbatas. Ia terkena berbagai kekhawatiran yang tidak berdasar dan penyakit, lalu memohon dengan rendah hati dan berdoa kepada-Mu.

Jika dengan Rahmat-Mu yang sempurna Engkau menerimanya, mengampuni, dan merahmatinya, memang itulah yang sesuai dengan Kemuliaan-Mu. Sebab, Engkau adalah Sang Arhamur Râhimîn. Jika Engkau tidak menerimanya, ke pintu mana aku dapat pergi selain Pintu-Mu?

Pintu manakah yang ada? Selain Engkau tidak ada Rabb yang dapat didatangi hadirat-Nya. Selain Engkau tidak ada Sang Ma'bûd Yang Benar untuk dijadikan tempat berlindung!

لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ ﺍٰﺧِﺮُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَ ﺍَﻭَّﻝُ الْكَلَامِ ﻓِﻰ الْاٰخِرَةِ ﻭَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮِ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَ ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻣُﺤَﻤَّﺪًﺍ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺗَﻌَﺎﻟٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﺳَﻠَّﻢَ

CATATAN KETIGA BELAS

Terdiri atas lima persoalan yang telah menimbulkan kekeliruan.

Pertama: Orang-orang yang bekerja dan berjuang di jalan kebenaran seharusnya hanya memikirkan tugas mereka sendiri. Namun, mereka memikirkan Tugas yang menjadi milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan menjadikannya landasan bagi tindakan mereka, sehingga terjatuh dalam kesalahan.

Dalam Risalah Edebü'd-Din Ve'd-Dünya (Adab Agama dan Dunia) disebutkan: Pada suatu saat setan mengajukan keberatan kepada Nabi Isa aleyhisselâm dan berkata, "Karena ajal dan segala sesuatu terjadi menurut Takdir Allah سُبْحَانَهُ, lemparkanlah dirimu dari tempat tinggi ini; lihatlah bagaimana engkau akan mati."

Nabi Isa aleyhisselâm berkata,

ﺍِﻥَّ ﻟِﻠّٰﻪَ ﺍَﻥْ ﻳَﺨْﺘَﺒِﺮَ ﻋَﺒْﺪَﻩُ ﻭَ ﻟَﻴْﺲَ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﺍَﻥْ ﻳَﺨْﺘَﺒِﺮَ ﺭَﺑَّﻪُ

. Yakni, "Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menguji hamba-Nya dengan mengatakan, ‘Jika engkau melakukan demikian, Aku akan melakukan demikian kepadamu. Aku hendak melihat apakah engkau dapat melakukannya.’ Dia mengujinya demikian. Namun, hamba tidak mempunyai hak dan tidak berada pada kedudukan untuk menguji Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, lalu mengatakan, ‘Jika aku melakukan demikian, apakah Engkau akan melakukan demikian?’ Bersikap menguji Rububiyah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan cara percobaan seperti itu merupakan adab yang buruk dan bertentangan dengan ubudiyah."

Karena demikianlah hakikatnya, manusia harus menjalankan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

Sudah terkenal bahwa pada suatu saat, ketika Celaleddin-i Harzemşah, salah seorang pahlawan Islam yang berkali-kali mengalahkan tentara Jenghis, pergi berperang, para menteri dan pengikutnya berkata kepadanya, "Engkau akan menang; Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq akan membuatmu menang." Ia berkata, "Atas Perintah Allah سُبْحَانَهُ, aku bertugas bergerak di jalan jihad. Aku tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq;

membuat menang atau kalah adalah Tugas-Nya." Karena memahami rahasia penyerahan diri ini, orang tersebut telah menang berkali-kali dengan cara yang luar biasa.

Ya, dalam perbuatan yang dilakukan melalui kehendak bebas manusia yang ada di tangannya, manusia seharusnya tidak memikirkan hasil-hasil yang menjadi urusan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Misalnya, ketika masyarakat bergabung dengan Risale-i Nur, sebagian saudara kami menjadi lebih bersemangat dan giat. Ketika masyarakat tidak mendengarkan, kekuatan rohani orang-orang yang lemah patah dan semangat mereka meredup sampai taraf tertentu. Padahal, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, Guru Mutlak ﷺ, Teladan Bagi Semua ﷺ, dan Pembimbing Yang Paling Sempurna ﷺ, menjadikan Firman Allah 

سُبْحَانَهُ ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ اِلَّا الْبَلَاغُ

sebagai petunjuk mutlak bagi dirinya. Ketika manusia menjauh dan tidak mendengarkan, beliau justru menyampaikan dengan usaha, kegigihan, dan kesungguhan yang lebih besar. Sebab, melalui rahasia

ﺍِﻧَّﻚَ لَا ﺗَﻬْﺪ۪ﻯ ﻣَﻦْ ﺍَﺣْﺒَﺒْﺖَ ﻭَﻟٰﻜِﻦَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﻣَﻦْ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ

, beliau memahami bahwa membuat manusia mendengarkan dan memberikan petunjuk adalah Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Beliau tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

Maka, wahai saudara-saudaraku! Jangan pula kalian mencampuri tugas yang bukan milik kalian dengan menjadikannya landasan tindakan, dan jangan mengambil sikap menguji Khâliq kalian!

Persoalan Kedua: Ubudiyah berhubungan dengan Perintah dan Rida Allah سُبْحَانَهُ. Pendorong ubudiyah ialah Perintah Allah سُبْحَانَهُ, sedangkan hasilnya ialah Rida Al-Haqq. Buah dan manfaatnya bersifat akhirat. Namun, dengan syarat tidak menjadi tujuan ibadah dan tidak sengaja diminta, manfaat duniawi serta buah yang timbul dengan sendirinya dan diberikan tanpa diminta tidak bertentangan dengan ubudiyah. Bahkan, bagi orang yang lemah, hal itu menjadi pendorong dan alasan untuk memilihnya. Jika manfaat dan keuntungan duniawi itu menjadi sebab atau bagian dari sebab untuk melakukan ubudiyah, wirid, atau zikir tersebut, hal itu membatalkan ubudiyah sampai taraf tertentu. Bahkan, ia membuat wirid yang berkhasiat itu mandul dan tidak memberikan hasil.

Orang-orang yang tidak memahami rahasia ini, misalnya, membaca Evrad-ı Kudsiye-i Şah-ı Nakşibendî (Wirid-wirid Suci Syah Naqsyaband), yang mempunyai seratus khasiat dan manfaat, atau Cevşenü'l-Kebir (Zirah Besar), yang mempunyai seribu khasiat, dengan sengaja menjadikan sebagian manfaat tersebut sebagai tujuan itu sendiri. Mereka tidak melihat manfaat itu, tidak akan melihatnya, dan tidak berhak melihatnya. Sebab, manfaat-manfaat itu tidak dapat menjadi sebab dibacanya wirid-wirid tersebut dan tidak boleh sengaja diminta sebagai tujuan itu sendiri darinya. Sebab,

manfaat-manfaat itu datang sebagai karunia kepada wirid yang tulus itu tanpa diminta. Jika orang meniatkannya, ikhlasnya rusak sampai taraf tertentu. Bahkan, ia keluar dari ubudiyah dan kehilangan nilainya.

Hanya saja, orang-orang yang lemah membutuhkan pendorong dan alasan untuk memilih membaca wirid yang berkhasiat semacam ini. Jika dengan memikirkan manfaat itu mereka menjadi bersemangat, lalu membaca wirid semata-mata demi Rida Allah سُبْحَانَهُ dan demi akhirat, hal itu tidak merugikan. Bahkan, hal itu diterima.

Karena hikmah ini tidak dipahami, banyak orang menjadi ragu karena tidak dapat melihat manfaat-manfaat yang diriwayatkan dari para kutub dan generasi terdahulu yang saleh. Bahkan, mereka menyangkalnya.

Persoalan Ketiga:

ﻃُﻮﺑٰﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﻋَﺮَﻑَ ﺣَﺪَّﻩُ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺘَﺠَﺎﻭَﺯْ ﻃَﻮْﺭَﻩُ

. Yakni, "Betapa beruntung orang yang mengenal dirinya dan tidak melampaui batasnya." Sebagaimana dari serpihan kaca, tetes air, kolam, laut, dan bulan sampai planet-planet terdapat pantulan matahari, masing-masing menangkap pantulan dan gambaran matahari sesuai kemampuannya, serta mengetahui batasnya. Setetes air, sesuai kemampuannya, mengatakan, "Dalam diriku terdapat suatu pantulan matahari." Namun, ia tidak dapat mengatakan, "Aku juga merupakan cermin seperti laut."

Demikian pula, sesuai beragamnya manifestasi Asma Allah سُبْحَانَهُ, terdapat tingkatan-tingkatan dalam kedudukan para wali. Setiap Asma Allah سُبْحَانَهُ mempunyai manifestasi seperti matahari dari hati sampai Arasy. Hati juga merupakan suatu arasy, tetapi tidak dapat mengatakan, "Aku juga seperti Arasy."

Dasar ubudiyah ialah menyadari bahwa diri ini tak berdaya, serba membutuhkan, memiliki kekurangan, dan tidak sempurna, lalu bersujud dengan doa kepada hadirat Keilahian Allah سُبْحَانَهُ. Namun, orang-orang yang menempuh sikap manja dan membanggakan diri sebagai gantinya menganggap hati kecilnya setara dengan Arasy. Mereka mencampuradukkan kedudukannya yang seperti tetes air dengan kedudukan para wali yang seperti laut. Untuk mencocokkan dirinya dengan kedudukan besar itu dan mempertahankan diri di sana, mereka terjatuh dalam sikap dibuat-buat, memaksakan diri, pamer yang tidak bermakna, dan banyak kesulitan.

Kesimpulannya:

Disebutkan dalam hadis bahwa

ﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻤُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ ﻭَﻫَﻠَﻚَ ﺍﻟْﻌَﺎﻣِﻠُﻮﻥَ اِلَّا ﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺨْﻠِﺼُﻮﻥَ ﻋَﻠٰﻰ ﺧَﻄَﺮٍ ﻋَﻈ۪ﻴﻢٍ

.

Yakni, sarana keselamatan dan pembebasan hanyalah ikhlas. Memperoleh ikhlas sangat penting. Amal ikhlas sebesar zarah lebih utama daripada berbatman-batman amal yang tidak tulus. Untuk memperoleh ikhlas, orang perlu memikirkan bahwa sebab tindakannya semata-mata Perintah Allah سُبْحَانَهُ dan hasilnya ialah Rida Allah سُبْحَانَهُ, serta tidak mencampuri Tugas Allah سُبْحَانَهُ.

Dalam segala sesuatu terdapat ikhlas. Bahkan, cinta yang ikhlas sebesar zarah lebih utama daripada berbatman-batman cinta formal dan berupah. Seseorang mengungkapkan cinta ikhlas ini sebagai berikut:

ﻭَ ﻣَﺎ ﺍَﻧَﺎ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻏ۪ﻰ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺤُﺐِّ ﺭِﺷْﻮَﺓً ﺿَﻌ۪ﻴﻒٌ ﻫَﻮًﻯ ﻳُﺒْﻐٰﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛَﻮَﺍﺏٌ

Yakni, "Atas cinta, aku tidak menginginkan suap, upah, imbalan, atau balasan. Sebab, cinta yang menginginkan balasan atau pahala sebagai imbalannya lemah dan tidak bertahan."

Bahkan, cinta yang tulus telah ditempatkan dalam fitrah manusia dan seluruh ibu. Kasih sayang para ibu merupakan tempat tampaknya cinta tulus ini dalam arti sepenuhnya. Bukti bahwa melalui rahasia kasih sayang itu para ibu tidak menginginkan dan tidak meminta balasan atau suap atas cinta mereka kepada anak-anaknya ialah bahwa mereka mengorbankan nyawa, bahkan kebahagiaan akhiratnya, demi anak-anak tersebut. Seluruh modal induk ayam ialah hidupnya sendiri. Namun, untuk menyelamatkan anaknya dari mulut anjing—sebagaimana disaksikan Hüsrev—ia membiarkan kepalanya ditangkap anjing.

Persoalan Keempat: Nikmat yang datang melalui tangan sebab-sebab lahiriah tidak boleh diterima dengan menganggapnya berasal dari sebab-sebab itu sendiri. Jika sebab tersebut tidak mempunyai kemampuan memilih, seperti hewan dan pohon, ia memberi langsung atas Nama Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Karena dengan bahasa keadaan ia mengatakan Bismillah dan memberikannya kepadamu, engkau pun katakan Bismillah, lalu terimalah atas Nama Allah سُبْحَانَهُ. Jika sebab itu mempunyai kemampuan memilih, ia harus mengatakan Bismillah; kemudian ambillah darinya. Jika tidak, jangan ambil. Sebab, selain makna jelas ayat

وَلَا ﺗَﺎْﻛُﻠُﻮﺍ ﻣِﻤَّﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺬْﻛَﺮِ ﺍﺳْﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ

, salah satu makna tersiratnya adalah: "Jangan memakan nikmat yang tidak mengingatkan kepada Sang Pemberi Nikmat Yang Hakiki dan tidak diberikan atas Nama-Nya!"

Maka, pemberi harus mengatakan Bismillah dan penerima juga harus mengatakan Bismillah. Jika ia tidak mengatakan Bismillah, tetapi engkau perlu menerimanya, katakanlah Bismillah. Lihatlah Tangan Rahmat Allah سُبْحَانَهُ di atas kepalanya, ciumlah dengan syukur, dan terimalah darinya. Yakni, dari nikmat pandanglah Pemberian Nikmat, lalu dari Pemberian Nikmat pikirkanlah Sang Pemberi Nikmat

Yang Hakiki. Memikirkan hal ini merupakan syukur. Setelah itu, jika engkau mau, doakanlah perantara lahiriah tersebut. Sebab, nikmat itu dikirim kepada kalian melalui tangannya.

Yang menipu para pemuja sebab-sebab lahiriah ialah datang atau adanya dua hal secara bersamaan, yang disebut iktiran. Mereka menyangka keduanya menjadi sebab bagi satu sama lain. Karena tidak adanya sesuatu menjadi sebab tidak adanya suatu nikmat, mereka juga membayangkan bahwa adanya sesuatu itu menjadi sebab adanya nikmat tersebut. Mereka memberikan syukur dan rasa terima kasihnya kepada sesuatu itu, lalu terjatuh dalam kesalahan. Sebab, adanya suatu nikmat bergantung pada seluruh pendahuluan dan syaratnya. Namun, tidak adanya nikmat tersebut terjadi karena tidak adanya satu syarat saja.

Misalnya, orang yang tidak membuka lubang saluran pengairan kebun menjadi sebab dan penyebab keringnya kebun serta tidak adanya nikmat-nikmat itu. Namun, adanya nikmat-nikmat kebun bergantung pada ratusan syarat selain khidmah orang itu, dan terwujud melalui Kudrat serta Iradah Rabb yang merupakan Sebab Sejati. Pahamilah betapa jelas kesalahan sesat pikir ini dan ketahuilah betapa kelirunya para pemuja sebab!

Ya, iktiran berbeda dari sebab yang sesungguhnya. Suatu nikmat datang kepadamu, sementara niat seseorang untuk berbuat baik kepadamu menyertainya. Namun, niat itu tidak menjadi penyebabnya. Sebabnya ialah Rahmat Allah سُبْحَانَهُ. Ya, jika orang itu tidak berniat memberi, nikmat tersebut tidak akan datang kepadamu. Ia menjadi sebab tidak adanya nikmat itu. Namun, berdasarkan kaidah tadi, kecenderungan untuk memberi tersebut tidak dapat menjadi sebab nikmat itu sendiri. Ia hanya dapat menjadi satu syarat dari ratusan syarat.