JAWABAN:
Pertama:
Kematian merupakan pendahuluan menuju kebahagiaan abadi; dari segi ini ia dapat dianggap nikmat. Sebab, pendahuluan suatu nikmat juga merupakan nikmat. Sebagaimana pendahuluan sesuatu yang wajib juga wajib, dan pendahuluan sesuatu yang haram juga haram.
Kedua:
Kematian seperti keluar dari penjara yang penuh hewan berbahaya menuju padang luas. Karena itu, apabila ruh keluar dari sangkar tubuh, ia terselamatkan.
Ketiga:
Jika kematian tidak ada, bola bumi tidak dapat menampung manusia, dan manusia akan mengalami kesengsaraan yang mengerikan.
Keempat:
Ada orang-orang yang karena usia tua mencapai keadaan tidak sanggup menanggung beban hidup dan selalu menginginkan kematian.
Karena itulah kematian merupakan nikmat.
PERSOALAN KEEMPAT
Menjelaskan simpul ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ.
Ya, kehidupan ini adalah kehidupan kedua yang terjadi setelah kematian dan sebelum kebangkitan. Jadi, kehidupan akhirat dimulai dengan kehidupan kedua ini.
Karena itu, sapaan dalam ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seluruh kainat. Sebab, kehidupan akhirat ini merupakan hasil seluruh kainat. Jika kehidupan ini tidak ada, segala yang disebut hakikat di kainat akan berubah menjadi kebalikannya. Misalnya nikmat menjadi bencana, akal menjadi musibah, kasih sayang menjadi ular.
PERSOALAN KELIMA
Mengenai simpul
ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ.
Ya, di alam yang disebut alam terjadinya sesuatu dan kerusakan ini, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menciptakan hal-hal yang berlawanan, seperti keindahan dan keburukan, manfaat dan bahaya, dalam keadaan bercampur karena banyak hikmah. Dia juga Menempatkan perantara dan sebab untuk menunjukkan Kemuliaan-Nya. Ketika kainat menjalani proses pemurnian pada kebangkitan dan kiamat, hal-hal yang berlawanan saling terpisah, dan sebab serta perantara pun lenyap. Setelah tabir dan penghalang di tengah itu terangkat, setiap orang melihat Sang Pembuatnya dan mengenal Mâlik-nya yang hakiki.
PELENGKAP
Tambahan bagi ringkasan hubungan antara kalimat-kalimat dalam ayat tersebut.
Ketika Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menolak kekufuran mereka dengan ﻛَﻴْﻒَ yang menyatakan pertanyaan, Mengajak manusia merasa heran, lalu Membuktikannya dengan empat kalimat berikut yang menunjukkan empat perubahan besar; setiap perubahan itu mencakup banyak tahap, keadaan, dan tingkatan, sekaligus menjadi pendahuluan yang menyiapkan perubahan sesudahnya.
Perubahan pertama ditunjukkan dengan kalimat
ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ.
Yakni menunjuk keadaan terakhir dari keadaan-keadaan yang dialami zarah-zarah pembentuk tubuh manusia di alam zarah. Keadaan ini menjadi pendahuluan bagi perubahan kedua yang ditunjukkan dengan kalimat ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ.
Perubahan kedua yang merupakan hakikat penciptaan paling menakjubkan ini juga mencakup banyak tingkatan dan tahap. Tahap dan keadaan terakhirnya menjadi pendahuluan bagi perubahan ketiga yang ditunjukkan dengan kalimat ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ.
Perubahan ini pun mencakup banyak tahap barzakh, dan keadaan terakhirnya disempurnakan dalam perubahan keempat yang ditunjukkan dengan kalimat ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ.
Perubahan keempat ini juga mencakup banyak keadaan kubur dan kebangkitan, dan keadaan paling akhirnya berakhir dengan kalimat
ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ.
Jadi, tubuh suatu makhluk hidup terus diperbarui dan disegarkan sejak keadaan pertama dari perubahan pertama. Yakni ia keluar dari suatu pakaian dan penampilan, lalu mengenakan pakaian dan penampilan yang lebih indah. Demikianlah hal itu terus berlangsung hingga ia memperoleh kebahagiaan abadi. Karena itu, bagaimana orang yang memperhatikan keadaan-keadaan berurutan suatu makhluk hidup ini berani mengingkari?
Sekarang kita akan membahas susunan kalimat-kalimat dalam ayat tersebut:
Kalimat Pertama:
ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ
Pertanyaan dalam kalimat ini mengarahkan pikiran dan mata orang-orang kafir itu kepada keburukan yang mereka lakukan, agar mereka melihat sendiri kesengsaraan mereka, barangkali lalu bersikap adil dan mengakuinya. Sapaan dalam ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ menunjuk kerasnya Murka Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebab, iltifat dari pembicaraan tentang pihak yang tidak disapa menuju sapaan langsung menunjukkan kerasnya amarah atau besarnya cinta. Penggunaan ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ tanpa menyebut لَا ﺗُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ sebagai gantinya menunjuk kerasnya sikap keras kepala mereka. Sebab, mereka meninggalkan iman yang kebenarannya telah diteguhkan oleh dalil dan menerima kekufuran yang kebatilannya telah diteguhkan oleh bukti.
ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ
ﻭ dalam kalimat ini adalah waw hal, yakni menunjukkan bahwa bagian sesudahnya menjadi hal bagi bagian sebelumnya. Jadi, ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ menjadi hal bagi pelaku dalam ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ. Hal harus bersamaan dengan amil dari pemilik hal. Padahal di sini terdapat empat kalimat. Karena dua di antaranya menyatakan masa lampau dan dua lainnya masa depan, semuanya tidak bersamaan waktunya dengan ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ, amil dari pemilik hal. Karena itu, fungsi hal pada ﻭ menunjuk suatu bagian yang diperkirakan tidak disebut.
Perkiraan susunan kalimat:
ﻭَﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ.
Dengan demikian, bagi pelaku dalam ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ, kalimat ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ menjadi hal. Kalimat-kalimat lainnya menjadi khabar bagi ﺍِﻥْ.
PERTANYAAN:
Walaupun mereka mengetahui kematian pertama dan satu kehidupan, mereka tidak mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah سُبْحَانَهُ, bahkan mengingkarinya. Kehidupan kedua dan kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ pun memang mereka ingkari?
JAWABAN:
Salah satu kaidah balaghah ialah tidak menyebut keadaan itu sebagai ketidaktahuan ketika dalil-dalil yang akan menghilangkannya sudah nyata. Karena itu, perhatian kepada tahap dan keadaan kematian pertama serta kehidupan pertama memaksa seseorang mengakui dan membenarkan Sang Pembuat. Pada saat yang sama, mengetahui bahwa kehidupan dan kematian sebelumnya berasal dari Allah سُبْحَانَهُ juga meyakinkan dan memaksa pikiran menerima adanya kehidupan kedua. Dalam keadaan demikian, orang-orang kafir yang engkau anggap tidak tahu itu termasuk dalam golongan orang-orang yang tahu.
Dari sapaan dalam ﻛُﻨْﺘُﻢْ dipahami bahwa di alam zarah pun mereka memiliki suatu jenis keberadaan dan penentuan. Jika tidak demikian, zarah-zarah itu tidak dapat membentuk tubuh-tubuh tertentu secara kebetulan dan sembarang.
Ungkapan ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ mengisyaratkan makna
ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﺷَﻴْﺌًﺎ ﻣَﺬْﻛُﻮﺭًﺍ.
ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ ﻑ ini menyatakan urutan langsung dan keterhubungan. Yakni tidak akan ada jarak antara bagian sebelumnya dan sesudahnya. Padahal di sini terdapat jarak panjang antara kematian dan kehidupan. Ya, tetapi ﻑ ini menunjuk sumber dalil-dalil yang membuktikan Sang Pembuat, yakni perpindahan tiba-tiba zarah-zarah itu dari keadaan tidak bernyawa menuju kehidupan hewani tanpa perantara dan sebab apa pun memaksa pikiran mengakui Sang Pembuat. Demikian pula, karena keadaan zarah-zarah itu tidak tetap ketika masih berupa benda mati, sifat dan tuntutannya ialah urutan tanpa jeda.
PERTANYAAN:
Mengapa sebagai ganti ﺍَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ tidak dikatakan ﺻِﺮْﺗُﻢْ ﺍَﺣْﻴَٓﺎﺀً?
JAWABAN:
ﺍَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ secara tegas menunjukkan bahwa kehidupan Diberikan oleh Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Petunjuk itu tidak terdapat dalam ﺻِﺮْﺗُﻢْ ﺍَﺣْﻴَٓﺎﺀً. Ia hanya menunjukkan makna “Kalian menjadi memiliki kehidupan.” ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ Tidak disebutnya ﺗَﻤُﻮﺗُﻮﻥَ sebagai gantinya menunjuk bahwa kematian merupakan pengelolaan besar Kudrat menurut penetapan takdir. Ya, sangat sedikit orang yang mati setelah menyelesaikan umur alaminya. Sebagian besar mati ketika umur alaminya masih berlangsung. Jadi, kematian bukan hasil alami, melainkan hanya terurai dan tercerainya tubuh, bukan lenyapnya ruh. Dengan kematian, tubuh tercerai, sementara ruh tetap ada.
ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ,
yang menyatakan jarak jauh antara bagian sebelumnya dan sesudahnya, menunjuk bahwa alam barzakh yang amat besar menjadi jeda antara kematian dan penghidupan kedua.
ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
Adapun ﺛُﻢَّ ini menunjuk adanya tabir dan penghalang besar antara penghidupan kedua dan kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ.
ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ. Yakni, “Dengan tersingkapnya tabir sebab dan tersingkirnya perantara, kalian akan kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ.”
PERTANYAAN:
Kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ mengharuskan datang dari Allah سُبْحَانَهُ. Karena itu, sebagian manusia membayangkan adanya keterhubungan antara Allah سُبْحَانَهُ dan manusia, dan sebagian sufi pun jatuh dalam keraguan?
JAWABAN:
Sebagaimana manusia memiliki keberadaan dan kelangsungan di dunia, ia juga memiliki keberadaan dan kelangsungan di akhirat. Keberadaan di dunia keluar dari Tangan Kudrat tanpa perantara. Dalam urusan kelangsungan di dunia yang bercampur dengan penyusunan, penguraian, pengaturan, dan perubahan, sebab-sebab, perantara, dan alasan turut campur serta masuk di antaranya berdasarkan hikmah yang telah disebutkan. Adapun di akhirat, keberadaan dan kelangsungan, keduanya beserta segala keperluan dan susunannya, langsung keluar dari Tangan Kudrat, dan setiap orang mengenal Mâlik-nya yang hakiki. Orang yang memahami hal ini memahami apa artinya kembali.
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮٰٓﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬُﻦَّ ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕٍ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ
Hubungan ayat ini dengan ayat sebelumnya:
Dalam ayat sebelumnya, kekufuran dan pengingkaran nikmat ditolak dengan dalil-dalil dalam diri manusia. Ayat ini menunjuk dalil-dalil di alam luar.
Demikian pula, ayat sebelumnya menunjuk nikmat keberadaan dan kehidupan, sedangkan ayat ini menunjuk nikmat kelangsungan.
Demikian pula, ayat sebelumnya mengisyaratkan bahwa dengan menjadi dalil adanya Sang Pembuat, ia merupakan pendahuluan bagi kebangkitan; sedangkan ayat ini menunjuk peneguhan akhirat dan penghilangan keraguan.
Ya, seakan mereka berkata:
“Dari mana dan atas dasar apa manusia diberi nilai dan perhatian sebesar ini? Apa kedudukannya di sisi Allah سُبْحَانَهُ sehingga Dia Mendatangkan kiamat untuknya?”
Sebagai jawaban kepada mereka, melalui isyarat ayat ini Al-Qur'an Al-Karim berkata:
“Seandainya manusia tidak memiliki nilai yang begitu tinggi, langit dan bumi tidak akan patuh dan ditundukkan untuk manfaatnya.
Demikian pula, jika manusia tidak penting, makhluk-makhluk tidak akan diciptakan untuknya. Seandainya manusia tidak penting dan tidak bernilai, justru manusialah yang akan diciptakan untuk makhluk-makhluk.
Demikian pula, karena kedudukan manusia di sisi Khâliq-nya sangat besar, Dia Menciptakan alam dunia untuk manusia, bukan untuk diri alam itu sendiri, dan Menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.”
Ringkasan:
Manusia unggul dan istimewa, tidak seperti hewan. Karena itulah manusia menjadi cangkang bagi permata
ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ.
Kita beralih kepada butir-butir hikmah kalimat-kalimat dalam ayat ini:
Wahai kawan! Diperlukan penelitian mengenai kata ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ dalam kalimat pertama, ﺛُﻢَّ dalam kalimat kedua, dan ﺳَﺒْﻊَ dalam kalimat ketiga. Penelitian itu akan kita jelaskan dalam enam pokok:
Pokok Pertama:
Sebagaimana dijelaskan di bawah, kehidupan memiliki sifat yang menjadikan bagian seperti keseluruhan, yang juz'i seperti yang kulli, individu seperti jenis, yang terikat seperti yang mutlak, dan satu pribadi seperti sebuah alam. Karena itu, satu manusia dapat berkata, “Dunia adalah rumahku. Jenis-jenis di dunia adalah kaum dan suku keluargaku. Aku mengenal dan berhubungan dengan segala sesuatu.”
Pokok Kedua:
Engkau mengetahui bahwa di alam terdapat susunan yang tetap, hubungan yang kukuh, kaidah yang terus berlaku, dan hukum yang mendasar. Dari segi ini, alam seperti sebuah jam atau mesin yang teratur. Sebagaimana setiap roda, sekrup, dan paku memiliki bagian dalam susunan dan keteraturan mesin serta pengaruh pada hasil dan manfaatnya, semuanya juga memiliki manfaat bagi makhluk hidup, khususnya manusia.
Pokok Ketiga:
Sebagaimana akan engkau dengar di bawah, dalam mengambil manfaat tidak ada saling berdesakan dan pertengkaran. Sebagaimana Zaid dapat berkata, “Matahari adalah lampuku, dunia adalah rumahku,” Amr pun dapat berkata demikian, dan tidak terjadi pertengkaran di antara mereka. Ya, misalnya jika Zaid dianggap sendirian di dunia, manfaat yang diperolehnya tetap sama ketika ia berada di antara seluruh manusia; tidak bertambah dan tidak berkurang. Hanya bagian yang berkaitan dengan dua saluran tubuh itu yang dikecualikan. Sebab, dalam makanan, minuman, dan sebagainya terjadi pertengkaran.
Pokok Keempat:
Alam tidak memiliki hanya satu wajah atau sisi, melainkan banyak wajah yang umum dan beragam. Ada banyak sisi umum yang saling masuk satu sama lain dan menjamin manfaat. Jalan memperoleh manfaat pun memiliki berbagai macam cara. Misalnya engkau memiliki kebun yang indah. Sebagaimana dari satu segi kebun itu dikhususkan untuk manfaatmu, dari segi lain ia juga memberi manfaat kepada orang banyak. Misalnya setiap orang yang melihat keelokan dan keindahannya memperoleh kenikmatan dan hati yang lega; tidak ada penghalang untuk itu. Demikian pula, manusia memiliki sepuluh indra dan daya rasa: lima lahiriah dan lima batiniah. Dengan daya-daya ini, serta dengan tubuh, ruh, dan hatinya, manusia dapat mengambil manfaat dari setiap bagian dunia; tidak ada penghalang.
Pokok Kelima:
Dari ayat ini dan beberapa ayat lain dipahami bahwa dunia yang besar ini diciptakan untuk manusia. Dalam penciptaannya, manfaat manusia diperhatikan sebagai tujuan akhir. Padahal dari Saturnus, misalnya, yang jauh lebih besar daripada bumi, hanya keindahan dan cahayanya yang lemah yang memberi manfaat kepada manusia. Bagaimana manusia menjadi tujuan akhir baginya demi manfaat kecil ini?
Jawaban:
Orang yang mengejar suatu manfaat memusatkan seluruh pikiran dan bayangannya pada manfaat itu, tidak melihat selainnya, memandang segala sesuatu untuk dirinya, dan tidak memperhatikan siapa pun; bahkan ia menganggap dirinya sebagai tujuan akhir. Karena itu, perkataan seperti itu yang disampaikan kepada orang tersebut dalam konteks menunjukkan karunia tidak mengandung pernyataan berlebihan. Ya, Saturnus diciptakan untuk ribuan hikmah, setiap hikmahnya memiliki ribuan sisi, dan setiap sisinya memiliki ribuan penerima manfaat. Jika dikatakan, “Dalam penciptaannya, manfaat orang itu dipertimbangkan sebagai satu bagian dari tujuan akhir,” apa yang menghalanginya? Sebab, tujuan akhir tidak selalu terdiri dari satu hal sederhana.
Pokok Keenam:
Sebagaimana dinyatakan Imam Ali dengan
ﻭَﺗَﺰْﻋُﻢُ ﺍَﻧَّﻚَ ﺟِﺮْﻡٌ ﺻَﻐ۪ﻴﺮٌ ٭ ﻭَﻓ۪ﻴﻚَ ﺍﻧْﻄَﻮَﻯ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢُ الْاَكْبَرُ,
walaupun manusia merupakan tubuh kecil, ia cukup besar untuk memuat alam yang besar. Jika demikian, manfaat juz'i yang diperolehnya menjadi kulli; jadi, tidak ada kesia-siaan.
PERSOALAN KEDUA
Mengenai ﺛُﻢَّ.
Wahai kawan! Ayat ini menunjukkan bahwa bumi diciptakan sebelum langit.
Ayat
وَالْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﺫٰﻟِﻚَ ﺩَﺣٰﻴﻬَﺎ
juga menunjukkan bahwa langit-langit diciptakan sebelum bumi.
Adapun ayat
ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ
menunjukkan bahwa keduanya diciptakan bersama dari satu materi, kemudian dipisahkan satu sama lain.
Menurut riwayat-riwayat syariat, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menciptakan suatu zat, suatu materi. Kemudian dengan ber-Tajalli pada materi itu, Dia Menjadikan sebagiannya uap dan sebagian lain cairan. Lalu bagian cair itu memadat dengan Tajalli-Nya dan menjadi zabd, yakni buih. Kemudian Dia Menciptakan bumi atau tujuh bola bumi dari buih itu. Dengan demikian, bagi setiap bumi terbentuk suatu langit dari udara atmosfer. Kemudian dengan membentangkan materi uap itu, Dia Menyusun tujuh lapis langit dan Menanamkan bintang-bintang di dalamnya. Langit-langit yang memuat benih-benih bintang itu pun terbentuk dan terwujud.
Adapun teori pengetahuan modern menyatakan bahwa matahari beserta kumpulan bintang yang terikat padanya, yang kita lihat dan disebut tata surya, dahulu merupakan suatu zat sederhana. Kemudian ia berubah menjadi sejenis uap. Lalu dari uap itu terbentuk cairan api. Kemudian cairan api itu mengeras karena dingin. Selanjutnya, karena gerakannya yang kuat, ia melontarkan beberapa bagian besar. Bagian-bagian itu memadat dan menjadi planet-planet. Bumi ini pun salah satunya.
Sesuai penjelasan ini, kedua jalan tersebut dapat diselaraskan. Penjelasannya:
Menurut ungkapan
ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ,
yang bermakna “Keduanya menyatu, kemudian Kami Pisahkan,” tata surya dan bumi dahulu berbentuk adonan yang diolah oleh Tangan Kudrat dari materi eter. Materi eter adalah materi yang meresap ke sela-sela segala yang ada seperti air yang mengalir.
Ayat
ﻭَﻛَﺎﻥَ ﻋَﺮْﺷُﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀِ
menunjuk materi eter ini: Arasy Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dahulu berada di atas materi eter yang berkedudukan seperti air. Setelah diciptakan, materi eter menjadi pusat Tajalli penciptaan-penciptaan pertama Sang Pembuat. Yakni setelah Menciptakan eter, Dia Mengubahnya menjadi zarah-zarah tunggal. Kemudian Dia Menjadikan sebagiannya padat, dan dari bagian padat ini Menciptakan tujuh bola untuk dihuni. Bumi termasuk di antaranya.
Jadi, penciptaan dan terbentuknya bumi mendahului langit-langit, karena bumi memadat dan mengeras lebih dahulu daripada semuanya, segera membentuk kerak, dan sejak masa yang panjang menjadi sumber kehidupan.
Namun, karena bumi menjadi keadaan yang sesuai bagi kehidupan manusia melalui pembentangannya setelah langit-langit disusun dan ditata, dari segi ini penciptaannya dimulai sesudah langit-langit. Akan tetapi, pada awal dan asalnya keduanya bersama.
Dengan demikian, pertentangan lahiriah di antara ketiga ayat itu menjadi sesuai melalui ketiga segi ini.
JAWABAN KEDUA:
Wahai kawan! Al-Qur'an Al-Karim bukan guru sejarah dan geografi. Ia adalah kitab pembimbing yang, dengan membahas susunan dan keteraturan alam, mengajarkan pengenalan dan Keagungan Sang Pembuat kepada masyarakat umum. Karena itu, di sini terdapat dua konteks:
Konteks Pertama:
Menjelaskan dalil-dalil lahiriah dengan menunjukkan nikmat, karunia, dan kasih sayang. Dari segi ini, bumi mendahului langit-langit.
Konteks Kedua:
Menunjukkan dalil-dalil Keagungan, Kemuliaan, dan Kudrat. Dari segi ini, langit-langit mendahului bumi.
ﺛُﻢَّ menunjukkan bahwa bagian sesudahnya terwujud beberapa waktu setelah bagian sebelumnya; ini disebut “tarakhi”. Jadi, di sini terdapat jarak antara bumi dan langit-langit. Jika bumi diciptakan sebelum langit-langit, jarak ini menyangkut zatnya. Jika sebaliknya, jarak itu menyangkut tingkatan dan perenungan. Yakni walaupun penciptaan langit-langit pertama, tingkatannya dalam perenungan kedua; walaupun penciptaan bumi kedua, perenungannya pertama. Jadi, bumi perlu direnungkan terlebih dahulu, kemudian langit-langit.
Menurut ini, di antara ﺛُﻢَّ dan ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ diperkirakan terdapat
ﺍِﻋْﻠَﻤُٓﻮﺍ ﻭَ ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭﺍ.
Perkiraan susunan kalimat:
ﺛُﻢَّ ﺍِﻋْﻠَﻤُٓﻮﺍ ﻭَ ﺗَﻔَﻜَّﺮُﻭﺍ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﺳْﺘَﻮٰﻯ,
dan seterusnya.
PERSOALAN KETIGA
Mengenai kata ﺳَﺒْﻊَ.
Wahai kawan! Anggapan bahwa langit-langit terdiri dari sembilan lapisan merupakan salah satu takhayul pengetahuan lama. Pikiran mereka yang menyerupai takhayul itu telah menguasai pikiran umum. Bahkan sebagian mufasir mengarahkan makna lahiriah beberapa ayat kepada pendirian mereka.
Adapun pengetahuan modern menyatakan bahwa di ruang kosong yang disebut angkasa ini hanya terdapat bintang-bintang yang tergantung. Dari pendirian mereka ini muncul pengingkaran terhadap langit-langit. Jika salah satu dari kedua pengetahuan itu berlebihan, yang lain justru terlalu mengurangi.
Syariat menetapkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menciptakan langit-langit yang terdiri dari tujuh lapisan, serta menyatakan bahwa bintang-bintang berenang seperti ikan di lautan langit tersebut.
Adapun hadis menyatakan bahwa langit terdiri dari ﻣَﻮْﺝٌ ﻣَﻜْﻔُﻮﻑٌ.
Kita akan meneliti pendirian yang benar ini melalui enam pendahuluan.
Pendahuluan Pertama:
Bahwa ruang kosong yang luas ini penuh dengan eter telah diteguhkan oleh sains dan pengetahuan.
Pendahuluan Kedua:
Ada suatu materi yang memenuhi angkasa, menghubungkan hukum-hukum benda langit, serta menyebarkan dan membawa cahaya, panas, dan yang serupa dengannya.
Pendahuluan Ketiga:
Dengan syarat tetap menjadi eter, materi eter memiliki beragam bentuk dan jenis yang berbeda seperti materi lainnya; sebagaimana bentuk uap, air, dan es.
Pendahuluan Keempat:
Jika benda-benda langit diperhatikan, terlihat perbedaan antara lapisan-lapisannya. Ya, lapisan eter yang disebut Bima Sakti, terdiri dari miliaran bintang yang baru mulai terbentuk dan memadat, berbeda dari lapisan bintang-bintang tetap. Lapisan ini pun berbeda dari lapisan tata surya, dan demikian seterusnya terdapat lapisan-lapisan yang berbeda satu sama lain hingga tujuh lapisan.
Pendahuluan Kelima:
Hasil penelitian telah meneguhkan bahwa jika suatu materi dibentuk, diatur, dan disusun, timbul lapisan-lapisan yang berbeda satu sama lain. Dari satu bahan mineral muncul abu, arang, dan berlian; dari api muncul nyala dan asap. Dari percampuran hidrogen dan oksigen lahir air, es, dan uap.
Pendahuluan Keenam:
Dari berbagai petunjuk ini dipahami bahwa langit-langit berjumlah banyak; pembawa syariat pun mengatakan tujuh, maka jumlahnya tujuh. Selain itu, angka tujuh, tujuh puluh, dan tujuh ratus digunakan untuk menyatakan jumlah banyak dalam gaya bahasa Arab.
Kawan! Jika sapaan, makna, dan isyarat Al-Qur'an Al-Karim yang sangat luas diperhatikan, perhatian dan sentuhannya kepada semua lapisan manusia, dari orang awam hingga seorang wali, serta kepada seluruh pikiran umum, menimbulkan kekaguman dan keheranan yang luar biasa.
Misalnya, dari kata ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕٍ sebagian orang memahami lapisan-lapisan udara atmosfer.
Sebagian lainnya memahami bola-bola atmosfer yang meliputi bumi kita dan bola-bola berkehidupan yang menjadi kawan-kawannya.
Sebagian memahami tujuh planet.
Sebagian memahami tujuh lapisan eter di dalam tata surya.
Sebagian memahami enam tata surya lain bersama tata surya yang kita kenal ini.
Sebagian memahami bahwa bentuk-bentuk eter terbagi menjadi tujuh lapisan.
Ringkasan:
Setiap kelompok manusia memperoleh bagiannya dari limpahan Al-Qur'an menurut kesiapan masing-masing. Ya, kita dapat mengatakan bahwa Al-Qur'an Al-Karim mencakup semua pengertian ini.
Kalimat Pertama:
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻖَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ.
Kalimat ini memiliki hubungan dengan bagian sebelumnya melalui lima segi:
Segi Pertama:
Ayat sebelumnya menunjuk nikmat keberadaan dan kehidupan. Ayat ini menunjuk kelangsungan serta sebab dan keperluan kelangsungan itu.
Segi Kedua:
Ketika melalui ayat sebelumnya Al-Qur'an Al-Karim membuktikan kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ, tingkatan tertinggi bagi manusia, timbul pertanyaan dalam pikiran pendengar: “Dari mana manusia-manusia yang rendah ini memperoleh kelayakan bagi tingkatan tinggi itu?” Dengan kalimat ini Al-Qur'an Al-Karim menjawab, “Manusia yang kepadanya seluruh dunia diberikan dalam kepatuhan dan ketundukan tentu memiliki kedudukan besar di sisi Khâliq-nya.”
Segi Ketiga:
Ketika ayat sebelumnya menunjuk adanya kebangkitan dan kiamat untuk manusia, seakan timbul pertanyaan bagi pendengar, “Apa nilai manusia sehingga kiamat akan terjadi demi kebahagiaannya?” Ayat ini menjawab, “Manusia, yang untuk manfaatnya bumi beserta seluruh isinya diciptakan dan yang kepatuhan serta perintahnya diberikan atas semua jenis makhluk, adalah hasil penciptaan. Tentu, sungguh tentu, kiamat akan terjadi demi kebahagiaannya.”
Segi Keempat:
Ayat sebelumnya menunjuk bahwa pada kiamat, dengan lenyapnya sebab dan perantara, tempat kembali manusia hanya terbatas pada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Ayat ini menyatakan bahwa di dunia pun tempat kembali manusia yang hakiki hanya terbatas pada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebab, di balik sebab dan perantara terlihat pancaran Kudrat; pengaruh adalah milik Kudrat itu, sedangkan sebab merupakan tabir.
Segi Kelima:
Ayat sebelumnya menunjuk kebahagiaan abadi. Ayat ini menunjuk Karunia dan Pemberian terdahulu dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang menuntut serta menjadi sebab pemberian kebahagiaan abadi kepada manusia. Manusia yang dianugerahi isi bumi tentu layak memperoleh kebahagiaan abadi.
ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮٰٓﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ
Hubungannya dengan bagian sebelumnya memiliki empat segi:
Segi Pertama:
Bumi dan langit adalah “tau'am”, yakni kembar; keduanya tidak terpisah dan selalu berjalan bersama dalam penyebutan serta pikiran. Sebagaimana bumi disebut dalam kalimat sebelumnya, langit pun disebut dalam kalimat ini.
Segi Kedua:
Hanya pengaturan langit-langit yang menyempurnakan dan melengkapi manfaat manusia dari bumi.
Segi Ketiga:
Ayat sebelumnya menunjuk dalil-dalil Karunia dan Kemurahan. Ayat ini menunjuk Kudrat dan Keagungan.
Segi Keempat:
Kalimat ini menunjuk bahwa manfaat manusia tidak hanya terbatas pada bumi; langit pun ditundukkan bagi manfaatnya.
ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬُﻦَّ ﺳَﺒْﻊَ ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕٍ
Hubungan kalimat ini dengan bagian sebelumnya terdiri dari tiga jenis:
1-
Seperti hubungan antara ﻛُﻦْ dan ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ. Sebagaimana terwujudnya sesuatu yang diperintahkan bergantung pada perintah ﻛُﻦْ, penyusunan langit-langit pun bergantung pada ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ.
2-
Seperti hubungan antara keterkaitan Kudrat dan keterkaitan Kehendak. Yakni ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ menyerupai keterkaitan Kehendak, sedangkan “penyusunan” menyerupai keterkaitan Kudrat dalam hubungan ini.
3-
Seperti hubungan antara hasil dan pendahuluan. Sebab, penyusunan langit-langit mengikuti ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ yang menjadi pendahuluannya.
ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ
Kalimat ini terhubung dengan bagian sebelumnya melalui dua segi:
Segi Pertama:
Ilmu menyeluruh dalam kalimat ini menjadi dalil pengaturan dan penyusunan langit-langit; demikian pula adanya pengaturan dan penyusunan menjadi dalil adanya Ilmu menyeluruh.
Segi Kedua:
Kalimat sebelumnya menunjukkan Kudrat Yang Sempurna, sedangkan kalimat ini menunjukkan Ilmu yang menyeluruh dan meliputi semuanya.
Kita akan menjelaskan butir-butir hikmah kalimat-kalimat itu:
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺍﻟﺦ. Kalimat ini tidak terhubung secara gramatikal dengan bagian sebelumnya. Ia merupakan kalimat baru yang menunjuk lima pertanyaan dan jawabannya; karena telah dijelaskan sebelumnya, tidak perlu diulang.
Dalam ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ, ﻫُﻮَ adalah mubtada, sedangkan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ bersama silahnya adalah khabar.
Dalam kalimat ini, bentuk marifah mubtada dan khabar menunjuk tauhid sekaligus pembatasan. Yakni sebagaimana penciptaan isi bumi hanya milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Khâliq-nya pun hanya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Pembatasan ini menjadi dalil bagi pembatasan dalam kalimat
ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
yang timbul dengan mendahulukan ﺍِﻟَﻴْﻪِ. Yakni karena penciptaan isi bumi hanya milik Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, tempat kembali pada kiamat pun hanya kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ bersama silahnya adalah khabar. Bentuk asli dan yang semestinya bagi khabar ialah nakirah. Kedatangannya di sini sebagai marifah menunjuk bahwa ketetapan itu nyata dan diketahui. Yakni, “Bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Khâliq isi bumi telah diketahui dan nyata.”
Dalam ﻟَﻜُﻢْ, huruf ﻝ yang digunakan untuk manfaat menunjuk bahwa segala sesuatu pada asal penciptaannya diciptakan mubah, halal, dan bermanfaat, lalu menjadi haram karena beberapa keadaan yang menyertainya. Misalnya harta orang lain menjadi haram karena perlindungan syariat. Daging manusia menjadi haram karena kehormatan dan kemuliaannya; racun karena bahayanya; daging bangkai karena najisnya.
Demikian pula, ini mengisyaratkan adanya faedah dan manfaat dalam setiap sesuatu.
Demikian pula, ini mengisyaratkan adanya manfaat bagi manusia dalam segala sesuatu. Ya, apa pun sesuatu itu, ia memberi manfaat kepada manusia dari suatu segi, sekalipun hanya untuk mengambil pelajaran.
Demikian pula, ini mengisyaratkan adanya banyak khazanah dan harta terpendam rahmat di perut bumi yang menunggu manusia masa depan.
Didahulukannya jar dan majrur ﻟَﻜُﻢْ atas ﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ menunjuk bahwa manfaat bagi manusia mendahului dan lebih utama daripada setiap tujuan lain.
ﻣَﺎ, yang menyatakan keumuman, dimaksudkan untuk mendorong dan menyemangati manusia mencari manfaat dalam segala sesuatu.
Dalam ﻓِﻰ الْاَرْضِ, dipilihnya ﻓ۪ﻰ dibandingkan ﻋَﻠٰﻰ menunjuk bahwa manfaat paling banyak berada di perut bumi dan mendorong manusia meneliti benda-benda di dalamnya. Demikian pula, diciptakannya mineral dan materi di dalam bumi untuk manfaat manusia menunjukkan kemungkinan adanya beberapa bahan pangan dan bahan lain di antara unsur serta materi dalam bumi yang belum ditemukan, yang akan menyelamatkan manusia masa depan dari kesulitan beban hidup.
ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ: Untuk menghilangkan anggapan bahwa sebagian benda di bumi sia-sia dan tidak bermanfaat.
Dalam ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮٰﻯ, ﺛُﻢَّ menunjuk rangkaian Tindakan dan Syuunat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq antara penciptaan bumi dan penyusunan langit-langit.
Demikian pula, ini menunjukkan bahwa dalam hal manfaat bagi manusia, penyusunan langit-langit jauh tingkatannya dari penciptaan bumi.
Demi kepadatan dan keringkasan, sebagai ganti
ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍَﻥْ ﻳُﺴَﻮّ۪ﻯ
dikatakan ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ.
Penggunaan kata ﺍِﺳْﺘَﻮٰﻯ di sini adalah majas. Yakni Dia Menghendaki penyusunan langit-langit seperti orang yang memusatkan maksud pada tujuan dan tidak menoleh ke kanan atau kiri.
ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ: Langit yang dimaksud di sini adalah uap, materi pembentuk langit-langit.
Dalam ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬُﻦَّ, karena ﻑ menyatakan percabangan hasil, dihubungkannya penyusunan dengan istiwa menyerupai bergantungnya ﻓَﻴَﻜُﻮﻥُ pada perintah ﻛُﻦْ, atau keterkaitan Kudrat pada keterkaitan Kehendak, atau qadha pada qadar. Karena ia juga menyatakan urutan langsung, ia mengisyaratkan beberapa kata kerja yang diperkirakan tidak disebut.
Perkiraan susunan kalimat ialah
ﻧَﻮَّﻋَﻬَﺎ ﻭَﻧَﻈَّﻤَﻬَﺎ ﻭَﺩَﺑَّﺮَ الْاَمْرَ ﺑَﻴْﻨَﻬَﺎ ﻓَﺴَﻮّٰﻳﻬُﻦَّ ﺍﻟﺦ.
Yakni, “Dia Membaginya menjadi jenis-jenis, Mengaturnya, Melaksanakan perintah dan pengaturan yang diperlukan di antaranya; kemudian Menyusunnya menjadi tujuh lapisan.”
ﺳَﻮّٰﻯ: Yakni, “Dia Menciptakannya teratur dan seimbang, dengan jenis serta bagian-bagiannya setara.”
ﻫُﻦَّ: Bentuk jamak kata ganti ini menunjuk bahwa materi yang akan menjadi langit-langit terbagi menjadi jenis-jenis.
Ungkapan ﺳَﺒْﻊَ menunjuk banyaknya lapisan langit dan mengisyaratkan hubungan lapisan-lapisan itu dengan tujuh masa terbentuknya bumi serta tujuh sifat.
ﺳَﻤٰﻮَﺍﺕٍ: Sebagian langit ini merupakan lautan bagi ikan-ikan planet; sebagian merupakan ladang bagi bintang-bintang tetap; sebagian merupakan kebun dan taman bagi bintang-bintang “darari” yang seperti bunga-bunga langit.
ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ:
ﻭ ini berfungsi sebagai penghubung. Padahal di sini tidak ada kaitan antara kedua bagian yang dihubungkan. Maka, untuk menemukan kaitan itu diperlukan perkiraan bagian yang tidak disebut. Penjelasannya:
ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ.
“Maka, Dialah Khâliq benda-benda besar ini.”
ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ.
“Maka, Dialah Yang Mengatur dan Mengukuhkan seni pada benda-benda itu.”
Dalam kata ﺑِﻜُﻞِّ, ﺏ yang menyatakan keterlekatan menunjuk bahwa Ilmu tidak mungkin terpisah dan terputus dari sesuatu yang diketahui.
ﻛُﻞِّ adalah partikel yang menyatakan keumuman. Tidak ada sesuatu atau individu pun yang dikhususkan dan dikeluarkan dari lingkup keumuman yang dinyatakannya di sini. Dari segi ini, ia menjadi pengecualian bagi kaidah universal
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﻡٍ اِلَّا ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﺺَّ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟْﺒَﻌْﺾُ,
sebab ia sendiri berada di luar cakupan kaidah tersebut.
ﺷَﻰْﺀٍ: Kata ini mencakup yang wajib, yang mungkin, dan yang mustahil.
ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ: Yakni ada hubungan yang pasti dan niscaya antara Zat-Nya dan Ilmu.
ﻭَ ﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻚَ ﻟِﻠْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺟَﺎﻋِﻞٌ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺧَﻠ۪ﻴﻔَﺔً ﻗَﺎﻟُٓﻮﺍ ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﻔْﺴِﺪُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﻳَﺴْﻔِﻚُ ﺍﻟﺪِّﻣَٓﺎﺀَ ﻭَ ﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﻭَ ﻧُﻘَﺪِّﺱُ ﻟَﻚَ ﻗَﺎﻝَ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ مَالَا ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Yakni: “Renungkanlah waktu ketika Rabbmu Berkata kepada para malaikat, ‘Aku akan Menciptakan seorang khalifah di bumi.’ Para malaikat berkata, ‘Apakah Engkau akan Menciptakan orang-orang yang akan membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah? Padahal kami bertasbih dan menyatakan Engkau Mahasuci dengan pujian kepada-Mu.’ Rabbmu Menjawab mereka, ‘Aku Mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.’”
Kawan! Membenarkan dan menerima adanya malaikat merupakan salah satu rukun iman. Kita akan membuktikan dan menjelaskan rukun ini dalam beberapa pembahasan.