PERTANYAAN:
لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ Karena malu hanya berupa merah yang muncul pada wajah akibat jiwa merasa tertekan, penggunaan kata ini bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mustahil, dan meniadakan yang mustahil tidak bermanfaat. Karena itu, jika sebagai pengganti لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ dikatakan لَايَتْرُكُ, tidak tersisa sesuatu yang mustahil?
JAWABAN:
Menghadapi sebab-sebab seperti hikmah dan balagah yang menghendaki serta menghargai indahnya perumpamaan melalui ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً, tidak ada satu sebab pun yang menghendaki ditinggalkannya perumpamaan selain malu. Malu pun mustahil bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Maka, untuk mengisyaratkan bahwa sama sekali tidak ada sebab meninggalkan perumpamaan itu, kata لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ dipilih daripada kata لَايَتْرُكُ. Sebab, kata لَايَتْرُكُ tidak dapat menyatakan makna ini.
Atau, penyebutan ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ dimaksudkan untuk kesesuaian serta kemiripan dengan ucapan bodoh mereka
ﺍَﻣَﺎ ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ ﺭَﺏُّ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍَﻥْ ﻳُﻤَﺜِّﻞَ ﺑِﻬٰﺬِﻩِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﺮَﺍﺕِ,
yakni “Tidakkah Rabb Muhammad ﷺ Malu Memberikan perumpamaan dari hal-hal rendah ini?”, khususnya kata ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ dalam ucapan itu.
Berdasarkan gaya
ﻣُﺸَﺎﻛَﻠَﺔً ﻓِﻰ ﺍﻟﺼُّﺤْﺒَﺔِ
yang berharga dalam balagah, Al-Qur'an Al-Karîm menggunakan persis kata ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ yang mereka gunakan.
Dari sudut kesesuaian serta kemiripan dengan ucapan mereka ini, sebagai pengganti ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ dikatakannya
ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟْﺤَﻘ۪ﻴﺮِ
akan lebih sesuai untuk menjaga kemiripan. Namun, tidak diperhatikannya hubungan ini mengisyaratkan suatu gaya halus: perumpamaan dimaksudkan untuk mengesahkan dan membuktikan seperti meterai atau tanda tangan. Sebagaimana suatu tulisan disahkan dengan diberi meterai, demikian pula ucapan disahkan serta dibuktikan melalui suatu contoh.
Atau, melalui ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ disiratkan pencetakan uang. Artinya, pemberian perumpamaan dan peribahasa memberikan nilai kepada ucapan sebesar pencetakan koin. Sebagaimana cap koin memberikan nilai kepada perak dan emas, peribahasa pun memberikan nilai serta penghargaan kepada ucapan sebesar itu.
Melalui isyarat ini disiratkan bahwa perumpamaan merupakan sarana indah untuk menolak prasangka, serta bukan hal baru tanpa dasar, melainkan jalan raya indah yang ramai dilalui dalam bidang balagah. Ya, peribahasa termasuk kaidah-kaidah yang diketahui.
Sebagai pilihan atas masdar ﺿَﺮْﺏٌ yang lebih pendek dan ringkas, disebutkannya ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ dalam bentuk kata kerja mengisyaratkan bahwa sumber keberatan mereka bukan perumpamaan itu sendiri, melainkan rendahnya ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً. Sebab, perumpamaan pada dirinya berharga dan bukan tempat keberatan. Sebab, ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ adalah kata kerja. Karena kata kerja tidak mandiri dan tetap, seakan-akan ia halus; maksud pembicara tidak berhenti padanya, tetapi beralih kepada objek. Adapun ﺿَﺮْﺏٌ yang merupakan masdar adalah kata benda. Karena kata benda mandiri dan tetap, seakan-akan ia padat. Terdapat kemungkinan ia menarik maksud pembicara dan tidak memberikannya kepada objek.
Karena itu, seandainya dikatakan
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ﻰ ﺿَﺮْﺏَ ﺍﻟْﺒَﻌُﻮﺿَﺔِ مَثَلًا,
tempat ﺍﺳﺘﺤﻴﺎ akan menjadi ﺿَﺮْﺏٌ. Padahal tempat malu adalah ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً.
مَثَلًا: Yang dimaksud ialah menggambarkan sesuatu yang akali melalui sesuatu yang indrawi; sesuatu menurut prasangka yang tidak berdasar melalui sesuatu yang pasti dan ada; serta sesuatu yang tidak hadir melalui sesuatu yang hadir, yang merupakan sifat khas perumpamaan. Dari ketidaktentuan dalam مَثَلًا dipahami bahwa pusat perhatian di sini adalah diri perumpamaan itu sendiri, bukan sifatnya. Adapun sifatnya diserahkan kepada tuntutan kedudukan pembicaraan atau keadaan yang diperumpamakan.
Karena ﻣَﺎ menyatakan cakupan umum, ia mengisyaratkan bahwa kaidah itu umum, agar jawaban tidak terbatas hanya pada hal yang mereka tentang.
ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً: Meskipun terdapat banyak benda serta hewan kecil dan rendah, dikhususkannya ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً didasarkan pada seringnya digunakan untuk perumpamaan oleh para ahli balagah.
ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ: Artinya, hal-hal yang berada di atas ba'udah (lalat) dari segi nilai dan balagah, atau di bawah ba'udah dari segi kecilnya, ataupun di bawah ba'udah dari segi nilai sekaligus kecilnya. Namun, ungkapan ﻣَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ mengisyaratkan bahwa sesuatu yang kecil lebih menakjubkan dari segi balagah dan lebih luar biasa dari segi penciptaan.
ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻓَﻴَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻣَﺎﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻬٰﺬَﺍ مَثَلًا ﻑ
yang menyatakan bahwa kalimat ini muncul serta bercabang dari kalimat sebelumnya mengisyaratkan dalil tersirat dan tersembunyi yang menghasilkan kalimat ini dengan kedua bagiannya. Gambarannya semestinya demikian:
Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak Meninggalkan perumpamaan, sebab ia perumpamaan yang dituntut balagah. Yang dituntut balagah tidak ditinggalkan. Maka, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak Meninggalkan perumpamaan ini. Karena itu, orang yang adil mengetahui bahwa perumpamaan tersebut balig, benar, dan dari Allah سُبْحَانَهُ. Adapun orang yang memandang dengan keras kepala tidak mengetahui hikmahnya, jatuh dalam keraguan, bertanya, dan pada akhirnya masuk pengingkaran melalui peremehan.
Kesimpulannya:
Karena mukmin adil, ia membenarkan bahwa perumpamaan itu dari Allah سُبْحَانَهُ. Orang kafir, karena keras kepala, berkata, “Apa manfaatnya?”
ﺍَﻣَّﺎ: ﺍَﻣَّﺎ ini partikel syarat. Ia mengaitkan kalimat kedua kepada pertama dari kedua kalimat yang dimasukinya, dengan yang pertama sebagai hal yang menuntut dan yang kedua konsekuensinya, atau yang pertama syarat dan yang lain yang disyaratkan. Ya, ﺍَﻣَّﺎ ini ditetapkan untuk membangun hubungan keharusan antara kedua kalimat.
Karena itu, di sini ia menunjukkan bahwa kalimat
ﻓَﻴَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ
merupakan konsekuensi niscaya bagi kalimat ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ. Artinya, sifat orang yang memiliki iman adalah mengetahui bahwa perumpamaan itu benar.
Sebagai pengganti kata ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ yang lebih pendek, dikatakannya ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ mengisyaratkan bahwa mengetahui kebenarannya adalah “karena iman”, dan juga bahwa mengetahui kebenarannya adalah “iman”.
Sebagai pilihan atas kalimat ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺒَﻠ۪ﻴﻎُ yang lebih sesuai dengan kedudukan pembicaraan dari sudut balagah, dikatakannya ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ mengisyaratkan hasil terakhir yang mereka maksud dari keberatan mereka. Sebab, tujuan mereka ialah meniadakan bahwa ia dari Allah سُبْحَانَهُ.
ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ Dari dibatasinya kebenaran pada perumpamaan itu, dipahami bahwa yang tidak dicela dan dipandang baik hanya perumpamaan ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً. Selain ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً dan yang lebih baik daripada ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً, meskipun bebas dari cela, tidak dapat menempati kedudukan ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً dari segi balagah. Sebab, hanya selamat dari cela tidak dapat menjadi dalil kesempurnaan.
ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ: Batasan yang menyatakan bahwa perumpamaan itu turun dari Rabb mereka mengisyaratkan bahwa yang dijadikan sasaran keberatan mereka adalah turunnya perumpamaan tersebut.
ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ:
ﺍَﻣَّﺎ ini, seperti ﺍَﻣَّﺎ sebelumnya, menyatakan kepastian dan penegasan dengan memperinci uraian ringkas pada bagian-bagian sebelumnya.
Dipilihnya penyebutan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ daripada kata ﺍَﻟْﻜَﺎﻓِﺮُﻭﻥَ mengisyaratkan bahwa pengingkaran mereka ini lahir dari kekufuran yang mengakar dalam kalbu dan karena itu kembali membawa mereka kepada kekufuran.
Untuk kesesuaian dengan ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ dalam kalimat sebelumnya, meskipun di sini sesuai dikatakan فَلَا ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ, ﻓَﻴَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ yang disebutkan sebagai gantinya merupakan kiasan bagi keadaan-keadaan yang diperkirakan ada demi keringkasan. Perkiraan ucapan: “Orang yang memiliki kekufuran tidak mengetahui hakikat, jatuh dalam keraguan, masuk pengingkaran, dan meremehkan dalam bentuk pertanyaan serta memandangnya rendah.” Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa sebagaimana mereka dalam kesesatan, dengan mulut mereka juga menyeret masyarakat kepada kesesatan.
ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﻭَﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ
Karena dalam kalimat sebelumnya ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ didahulukan, meskipun di sini semestinya ﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﺑِﻪ۪ yang sesuai dengannya didahulukan, ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ didahulukan. Sebab, tujuan ucapan ini menolak keberatan para pengingkar. Karena itu, ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ memperoleh arti penting dan berhak didahulukan.
PERTANYAAN:
Apa tujuan peralihan dari masdar kepada kata kerja, yakni ﻳُﻀِﻞُّ sebagai pengganti kesesatan dan ﻳَﻬْﺪ۪ﻯ sebagai pengganti hidayah?
JAWABAN:
Karena kata kerja mudhari menunjukkan pembaruan dan keberlangsungan, ia mengisyaratkan bahwa sebanding dengan pembaruan bagian demi bagian turunnya Al-Qur'an selama dua puluh tiga tahun, ia menyebabkan gelap berlipat-lipat ditambahkan kepada gelapnya kekufuran mereka, serta menyebabkan cahaya iman orang-orang beriman meningkat tingkat demi tingkat sebanding dengan pembaruan penurunan.
Demikian pula, karena kalimat ini menjawab pertanyaan yang diisyaratkan melalui kalimat
ﻣَﺎﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺦ,
perlu dijelaskan keadaan kedua kelompok. Berdasarkan keharusan ini, kata kerja disebutkan sebagai pilihan atas masdar. Artinya, keadaan satu kelompok kesesatan dan kelompok lain hidayah.
ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ: Dari ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ yang pertama dimaksudkan banyak dari segi kuantitas dan jumlah. Dari ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ yang kedua dimaksudkan banyak dari segi kualitas dan nilai. Pada saat yang sama, ia mengisyaratkan rahasia bahwa Al-Qur'an merupakan rahmat bagi umat manusia. Ya, memandang dan memperlihatkan keutamaan serta hidayah sebagian kecil manusia sebagai banyak memperlihatkan bahwa Al-Qur'an berbelas kasih dan penuh karunia kepada manusia. Demikian pula, satu orang yang memiliki keutamaan setara dengan seribu yang tidak memiliki keutamaan. Dari sisi ini, meskipun pembawa keutamaan sedikit, ia tampak banyak.
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ٓ اِلَّا ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘ۪ﻴﻦَ
Melalui kalimat ini, ia menolak waswas, ketakutan, dan keraguan yang lahir dari ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ yang disebutkan mutlak serta tidak tertentu dalam kalimat sebelumnya demikian: “Yang pergi kepada kesesatan adalah orang-orang fasik. Sumber kesesatan mereka pun kefasikan. Sebab kefasikan adalah usaha mereka sendiri. Kesalahan berada pada mereka, bukan pada Al-Qur'an. Diciptakannya kesesatan adalah demi hukuman perbuatan mereka.”
Perlu diketahui pula bahwa setiap kalimat ini menguraikan dan menjelaskan bagian sebelumnya, sedangkan bagian sesudahnya menafsirkannya. Berarti, setiap kalimat menjadi dalil bagi bagian sebelumnya dan hasil bagi bagian sesudahnya. Kami akan menjelaskan ini melalui dua rangkaian:
1-
Allah سُبْحَانَهُ tidak Malu terhadap perumpamaan itu, sebab Dia tidak Meninggalkannya. Perumpamaan itu juga balig, benar, dan Firman Allah سُبْحَانَهُ. Orang-orang beriman mengetahui ini.
2-
Allah سُبْحَانَهُ tidak Malu terhadap perumpamaan itu seperti dikatakan para pengingkar. Para pengingkar mengatakan, “Perumpamaan itu harus ditinggalkan”, sebab mereka tidak mengetahui hikmahnya. Mereka juga mengatakan, “Apa manfaatnya?” Mereka mengingkari sebab memandangnya rendah. Dengan mendengarnya mereka masuk kesesatan, sebab Al-Qur'an melemparkan mereka kepada kesesatan. Mereka keluar dari cangkang melalui kefasikan, melanggar perjanjian kepada Allah سُبْحَانَهُ, memutus silaturahmi, serta merusak tatanan dan keteraturan Allah سُبْحَانَهُ di bumi.
Karena itu, yang merugi dan mengalami bahaya adalah mereka. Merekalah yang tetap dalam azab nurani, kalbu, serta ruh di dunia dan dalam azab abadi melalui Murka Allah سُبْحَانَهُ di akhirat.
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳَﻨْﻘُﻀُﻮﻥَ ﻋَﻬْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣ۪ﻴﺜَﺎﻗِﻪ۪ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻌُﻮﻥَ ﻣَٓﺎ ﺍَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﻳُﻮﺻَﻞَ ﻭَﻳُﻔْﺴِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ
Pertama-tama perlu diketahui bahwa disifatinya orang-orang fasik, yang menimbulkan syak serta keraguan pada kemukjizatan dan susunan Al-Qur'an Al-Karîm, dengan sifat-sifat yang disebutkan dalam kalimat ini, khususnya pada kedudukan ini, membawa hubungan yang sangat luhur serta halus. Ya, seakan-akan Al-Qur'an Al-Karîm berkata:
“Tidak jauh dan tidak aneh jika orang-orang fasik yang tidak melihat atau tidak ingin melihat kemukjizatan Kudrat Azali dalam tatanan kainat yang disebut Al-Qur'an terbesar ini, juga ragu pada susunan serta kemukjizatan Al-Qur'an Al-Karîm, tidak melihat kemukjizatannya dengan mata buta, dan mengingkarinya. Sebab, karena mereka menisbatkan tatanan serta keteraturan dalam kainat kepada kebetulan, dan perubahan serta pergantian aneh kepada kesia-siaan serta kebetulan, sebagaimana tatanan itu tertutup dan tidak tampak pada mata ruh yang rusak, melalui fitrah kotor mereka juga memandang susunan Al-Qur'an yang bermukjizat sebagai kacau, pendahuluannya tidak menghasilkan, dan buahnya pahit.”
ﻳَﻨْﻘُﻀُﻮﻥَ: Ungkapan ﻧَﻘﺾ yang bermakna “membuka dan mengurai pita tebal yang ditenun” mengisyaratkan suatu gaya luhur. Seakan-akan perjanjian Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah pita bercahaya yang ditenun dengan benang Masyîah, Hikmah, serta Pertolongan, yang memanjang dari azali sampai abadi. Ketika pita bercahaya ini bertajalli sebagai tatanan umum dalam kainat dan menyebarkan rangkaiannya kepada jenis-jenis kainat, ia memanjangkan rangkaian paling menakjubkan kepada umat manusia serta menanam banyak benih potensi dan kemampuan dalam ruh manusia. Namun, pendidikan serta hasil potensi itu diserahkan kepada tangan kehendak bebas manusia. Kekang kehendak bebas manusia itu pun diserahkan kepada tangan syariat serta dalil-dalil riwayat.
Karena itu, tidak melanggar dan menunaikan perjanjian Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq hanya melalui penggunaan potensi-potensi itu pada tempat yang layak serta sesuai.
Adapun pelanggaran perjanjian berupa merusak dan memecah. Misalnya, beriman dan membenarkan sebagian nabi tetapi mengingkari serta mendustakan sebagian lainnya; menerima sebagian ketentuan tetapi menolak sebagian; memandang baik sebagian ayat tetapi memandang buruk serta jelek sebagian. Sebab, pelanggaran perjanjian seperti ini mengganggu dan merusak susunan, tatanan, serta keteraturan.
ﻭَﻳَﻘْﻄَﻌُﻮﻥَ ﻣَٓﺎ ﺍَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﻳُﻮﺻَﻞَ:
Perintah dalam kalimat ini terbagi dua:
Yang satu
bersifat syariat, yakni jalur hubungan yang diperintahkan syariat di antara kerabat dan orang-orang beriman, yang disebut silaturahmi.
Yang lain
adalah perintah penciptaan, yakni perintah-perintah yang dikandung hukum fitri serta adatullah. Misalnya, pemberian ilmu secara maknawi memerintahkan amal; pemberian kecerdasan memerintahkan ilmu; adanya potensi memerintahkan kecerdasan; pemberian akal memerintahkan makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ; pemberian kemampuan memerintahkan bekerja; dan pemberian keberanian secara maknawi serta penciptaan memerintahkan jihad.
Orang-orang fasik itu memutus jalur hubungan yang dibangun secara syariat dan penciptaan di antara hal-hal semacam ini. Misalnya, sebagaimana akal mereka berseteru dengan makrifat kepada Allah سُبْحَانَهُ dan kecerdasan mereka dengan ilmu, mereka juga berseteru dengan kerabat serta orang-orang beriman dan tidak saling mengunjungi.
ﻭَﻳُﻔْﺴِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ:
Ya, orang yang rusak melalui kefasikan menginginkan banyak orang juga jatuh ke rawa itu, seperti seseorang yang jatuh ke rawa dan tidak dapat keluar, agar keadaan mengerikan yang dialaminya sedikit ringan. Sebab, jika musibah umum, ia ringan.
Demikian pula, jika dalam kalbu seseorang bangkit perasaan kekacauan dan keburukan, perasaan tinggi serta kesempurnaannya mulai jatuh; dalam kalbunya muncul kecenderungan dan kenikmatan terhadap kehancuran serta keburukan. Perlahan-lahan kecenderungan itu tumbuh dalam kalbu. Kemudian orang tersebut menemukan seluruh kenikmatan serta kesenangannya dalam penghancuran dan keburukan. Ketika itulah orang itu menjadi hewan buas di bumi dalam makna penuh, bencana yang menimbulkan serta memperbesar kekacauan, dan musibah yang terus mengaduk kerusakan.
PERTANYAAN:
Terpengaruhnya bumi melalui kefasikan seorang fasik jauh dari akal?
JAWABAN:
Karena di bumi terdapat tatanan, harus pula terdapat keseimbangan. Bahkan tatanan mengikuti keseimbangan. Karena itu, jika suatu benda kecil jatuh di antara gigi mesin, mesin terpengaruh, bahkan kegiatannya dapat berhenti. Atau, jika diandaikan dua gunung ditimbang, ketika timbangan seimbang, ditambahkan satu kenari pada satu sisinya, keseimbangannya rusak. Mesin tatanan maknawi dunia pun demikian. Kefasikan orang fasik yang membangkang dapat menjadi sarana rusaknya keseimbangan maknawi bumi.
ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ
menyatakan tiga hal: pertama menghadirkan, kedua keadaan terindra, ketiga jarak jauh. Berarti, ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ini menghadirkan orang-orang fasik yang tidak hadir dan memperlihatkannya secara terindra.
PERTANYAAN:
Apa sebab yang mengharuskan dihadirkannya mereka?
JAWABAN:
Permintaan dan keinginan pendengar. Ya, untuk menghilangkan amarah serta kebencian yang dirasakannya kepada mereka, pendengar yang mendengar keadaan kotor mereka seakan-akan ingin melihat mereka hadir di hadapannya ketika dihukum dan disifati dengan kerugian, agar dengan mengatakan “Oh, oh!” kalbunya lega.
Meskipun mereka tidak dapat disaksikan, diperlihatkannya secara terindra melalui ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ seakan-akan karena keadaan kotor, sifat jahat, kemasyhuran, serta banyaknya mereka telah mencapai tingkat yang mewujudkan keadaan mereka di hadapan pandangan benci setiap orang dan memperlihatkannya secara terindra. Dari isyarat ini, sebab dihukumnya mereka dengan kerugian juga dipahami.
Jarak jauh yang dinyatakan ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ yang merujuk kepada orang-orang fasik mengisyaratkan bahwa jauhnya mereka dari jalan kebenaran telah mencapai tingkat sehingga tidak mungkin kembali lagi, dan karena itu mereka berhak menerima celaan serta perendahan.
ﻫُﻢْ yang menyatakan pembatasan menunjukkan bahwa kerugian terbatas kepada mereka. Bahkan kerugian mukmin dalam sebagian kenikmatan dunia tidak dianggap kerugian, dan kerugian yang terjadi dalam perdagangan mukmin pedagang pun bukan kerugian tersebut.
Partikel penentu dalam ﺍَﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ menyatakan jenis dan hakikat. Artinya, “Jika ada yang ingin melihat hakikat serta jenis orang-orang yang merugi, pandanglah mereka.”
Demikian pula, jalan mereka adalah kerugian murni, tidak menyerupai kerugian lainnya.
ﺍَﻟْﺨَﺎﺳِﺮ۪ﻳﻦ: Dibiarkannya kerugian mutlak, yakni tidak dibatasi dengan sesuatu, mengisyaratkan bahwa ia mencakup seluruh jenis kerugian. Misalnya, kerugian yang mereka lakukan dalam kesetiaan pada perjanjian melalui pelanggaran; dalam silaturahmi melalui pemutusan; dalam perbaikan melalui perusakan; dalam iman melalui kekufuran; dan dalam kebahagiaan abadi melalui kemalangan.
ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
Artinya, “Bagaimana kalian mengingkari Allah سُبْحَانَهُ? Padahal kalian tidak memiliki kehidupan dan Dia Memberi kalian kehidupan; kemudian Dia akan Mematikan kalian; kemudian kembali Memberi kehidupan; kemudian kalian kembali dan pergi kepada-Nya.”
Ketiga sisi mengenai susunan ayat berlaku pula pada ayat ini:
Hubungan ayat ini dengan bagian sebelumnya:
Ya, ketika Al-Qur'an Al-Karim mengajak manusia beribadah dan beriman kepada Allah سُبْحَانَهُ, ia menyebut secara ringkas dasar-dasar iman yang harus diyakini serta hukum-hukum yang harus dilaksanakan, sambil menunjuk dalil-dalilnya. Dalam ayat ini ia kembali menyebutnya dengan menghitung nikmat-nikmat yang memuat dalil-dalil yang sebelumnya ditunjukkan secara ringkas.
Ya, ayat ini menunjuk kehidupan, nikmat yang paling besar.
Ayat kedua menunjuk nikmat kelangsungan hidup. Ya, pengaturan langit dan bumi menjamin kesempurnaan dan kebahagiaan hidup.
Ayat ketiga menunjuk keutamaan dan penghormatan manusia di atas kainat.
Ayat keempat menunjuk nikmat pengajaran ilmu kepada manusia.
Jika bentuk nikmat-nikmat ini, yakni segi yang menjadikannya nikmat, diperhatikan, semuanya menjadi dalil Pertolongan Ilahi sekaligus dalil untuk beribadah. Sebab, bersyukur kepada Pemberi nikmat itu wajib; mengingkari nikmat juga haram menurut akal. Jika hakikat nikmat-nikmat itu diperhatikan, semuanya merupakan dalil yang membuktikan asal penciptaan dan tempat kembali.
Demikian pula, ayat ini berkaitan dengan pembahasan terdahulu mengenai orang-orang kafir dan munafik. Karena itu, pertanyaan dengan ﻛَﻴْﻒَ, yang menyatakan keheranan sekaligus penolakan, menunjuk ancaman terhadap mereka.
Sekarang kita akan membahas hubungan dan kaitan antara kalimat-kalimat ini:
Ya, setelah sebelumnya Al-Qur'an Al-Karim menceritakan mereka sebagai pihak yang tidak sedang disapa, di sini ia mulai menyapa mereka secara langsung. Ini karena suatu butir hikmah yang dikenal dalam balaghah. Penjelasannya:
Ketika seseorang membicarakan keburukan dan aib orang lain, kemarahan dan murkanya begitu menguasai dirinya sehingga ia membayangkan orang itu hadir, lalu mulai mengarahkan perkataan kepadanya dalam bentuk sapaan. Atau ketika membicarakan kebaikannya, semangat dan cintanya meluap; ia segera menghadirkannya dalam bayangan, lalu mulai berbicara dengan menyapanya. Inilah kaidah yang disebut “iltifat”. Kaidah ini memiliki kedudukan besar dalam bahasa Arab. Dengan mengikuti kaidah ini, Al-Qur'an Al-Karim mengatakan ﻛَﻴْﻒَ ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥَ dan mengarahkan perkataan kepada mereka dengan bentuk sapaan.
Karena tujuan yang dikejar di sini ialah menyebut dalil-dalil yang diperlukan untuk membuktikan dasar-dasar terdahulu, seperti beriman, beribadah, tidak mengingkari nikmat, dan menolak kekufuran; sedangkan dalil yang paling jelas ialah yang diperoleh dari rangkaian keadaan manusia, dan nikmat terbesar terdapat pada simpul-simpul rangkaian itu; Al-Qur'an Al-Karim, melalui ayat mulia
ﻭَﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ,
menunjuk rangkaian menakjubkan yang tersusun dengan lima simpul itu. Kita pun akan menguraikan dan menjelaskan kelima simpul tersebut dalam lima persoalan.
PERSOALAN PERTAMA
Menguraikan simpul ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺍَﻣْﻮَﺍﺗًﺎ. Penjelasannya:
Ketika zarah-zarah yang membentuk tubuh manusia masih tidak bernyawa dan tersebar di antara zarah-zarah alam, engkau melihat bahwa semuanya ditata dengan suatu hukum khusus dan susunan tertentu, lalu dikirim ke alam unsur. Saat berada di alam unsur dalam keadaan diam, tenang, dan tersembunyi, tiba-tiba semuanya berpindah berombongan ke alam benda-benda yang terbentuk, menurut kaidah tertentu dan keteraturan harian, di bawah suatu maksud dan hikmah. Ketika berada di alam benda-benda yang terbentuk dalam keadaan diam, tiba-tiba semuanya berubah menjadi nutfah dengan cara yang aneh dan menakjubkan. Lalu, melalui perubahan berurutan, menjadi alaqah; kemudian menjadi mudghah, kemudian menjadi daging dan tulang. Walaupun setiap perubahan ini lebih sempurna daripada yang sebelumnya, dibandingkan dengan yang sesudahnya ia merupakan benda mati, yakni tanpa kehidupan.
PERTANYAAN:
Kematian ialah hilangnya kehidupan. Padahal zarah-zarah itu tidak memiliki kehidupan yang hilangnya dapat disebut kematian?
JAWABAN:
Menyebut zarah-zarah itu mati merupakan majas. Alasannya ialah menyiapkan pikiran agar menerima simpul ketiga dan keempat.
PERSOALAN KEDUA
Menguraikan simpul ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ.
Ya, kehidupan adalah mukjizat Kudrat Azali yang paling besar, paling halus, dan paling menakjubkan. Ia mengungguli semua nikmat dan merupakan bukti paling nyata di antara bukti-bukti asal penciptaan dan tempat kembali.
Ya, jenis kehidupan yang paling rendah ialah kehidupan tumbuhan. Awal kehidupan tumbuhan ialah bangun dan terbukanya simpul kehidupan dalam biji atau benih. Walaupun proses ini begitu nyata, begitu umum, dan begitu akrab, sejak zaman Adam hingga sekarang ia tetap tersembunyi dari pengetahuan dan filsafat manusia.
Dari sini dipahami betapa halusnya kehidupan.
Demikian pula, benda tanpa kehidupan, sekalipun merupakan gunung terbesar, tetap sendirian dan yatim; ia tidak berhubungan dengan apa pun selain tempatnya. Namun, ketika benda kecil seperti lebah memperoleh kehidupan, ia berhubungan dengan seluruh kainat dan berinteraksi dengan segala sesuatu. Bahkan ia dapat berkata, “Kainat adalah milikku, adalah tempatku.” Ia pergi ke seluruh bagian kainat, bertindak melalui indra-indranya, dan berkenalan dengan segala sesuatu. Khususnya kehidupan yang mencapai tingkat kehidupan manusia dapat menjelajahi alam-alam dengan cahaya akal. Sebagaimana ia bertindak di alam jasmani, ia juga menjelajahi alam ruhani dan bepergian ke alam mitsal. Sebagaimana ia pergi mengunjungi alam-alam itu, alam-alam itu pun seakan membalas kunjungannya dengan tergambar dalam cermin ruhnya. Bahkan manusia dapat berkata, “Dengan Karunia Allah سُبْحَانَهُ, alam diciptakan untukku.” Kehidupan manusia terbagi dan berkembang menjadi jenis-jenis seperti kehidupan materi, kehidupan ruhani, kehidupan maknawi, dan kehidupan jasmani, yang masing-masing mencakup banyak lapisan.
Jadi, sebagaimana cahaya menyebabkan warna dan benda terlihat, kehidupan pun menyingkap segala yang ada dan menyebabkan semuanya tampak. Ya, kehidupan menjadikan satu zarah seperti sebuah bola dunia; setiap makhluk hidup dapat berkata, “Alam adalah milikku.” Di antara mereka tidak terjadi saling berdesakan atau pertengkaran; saling berdesakan dan pertengkaran hanya terjadi pada manusia.
Dari sini dipahami betapa besarnya nikmat kehidupan.
Demikian pula, perpindahan tiba-tiba beberapa zarah yang tidak bernyawa dan tersebar dari suatu keadaan ke keadaan lain tanpa sebab yang dapat menjelaskannya merupakan dalil nyata adanya Sang Pembuat. Bahkan kehidupan adalah hakikat yang paling mulia dan paling bersih; tidak ada kerendahan padanya dari segi mana pun, tidak ada noda buruk. Luar dan dalam kehidupan, kedua sisinya, sama-sama halus dan indah. Bahkan kehidupan hewan yang paling kecil dan rendah pun luhur. Karena itulah tidak ada sebab lahiriah yang menjadi perantara antara kehidupan dan Kudrat. Kudrat Yang langsung menangani kehidupan tidak bertentangan dengan Kemuliaan. Adapun sebab-sebab lahiriah ditempatkan agar Kudrat tidak tampak langsung menangani urusan-urusan rendah. Jadi, tidak ada kerendahan dalam kehidupan.
Dari sini dipahami bahwa kehidupan merupakan dalil paling nyata adanya Sang Pembuat.
Demikian pula, jika perubahan dan pergantian yang dialami benda paling sederhana diperhatikan dengan saksama, terlihat bahwa zarah-zarah di alam zarah mengambil bentuk lain ketika berpindah ke alam unsur, berubah menjadi bentuk lain di alam benda-benda yang terbentuk, mengambil keadaan lain dalam nutfah, kemudian menjadi alaqah, lalu mudghah, kemudian mengenakan bentuk manusia dan tampil. Di tengah begitu banyak perubahan menakjubkan, zarah-zarah bergerak begitu teratur menurut kaidah-kaidah tertentu, seolah suatu zarah, misalnya ketika masih di alam zarah, telah diberi tugas dan diberangkatkan untuk menempati mata Abdülmecid serta menjalankan tugas di sana. Pikiran yang melihat keadaan dan keteraturan ini tanpa ragu memutuskan bahwa zarah-zarah itu dikirim dengan suatu maksud dan di bawah suatu hikmah. Segala keadaan aneh dan menakjubkan yang dilalui zarah-zarah untuk memperoleh kehidupan ini juga membuat manusia yakin bahwa kehidupan kedua lebih mudah dan lebih ringan daripada kehidupan ini.
Dari hakikat-hakikat ini dipahami bahwa kehidupan merupakan dalil asal penciptaan dan tempat kembali.
Kalimat ﻓَﺎَﺣْﻴَﺎﻛُﻢْ seperti dalil bagi kalimat ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ. Semuanya bersama-sama menjadi dalil bagi penolakan yang dipahami dari ﻛَﻴْﻒَ.
PERSOALAN KETIGA
Menguraikan simpul ﺛُﻢَّ ﻳُﻤ۪ﻴﺘُﻜُﻢْ.
Ya, ini menunjukkan bahwa kematian juga diciptakan seperti kehidupan, bahwa kematian bukan pemusnahan dan tidak ada murni. Kematian hanyalah ruh keluar dari sangkar tubuh dan berpindah tempat.
Demikian pula, banyak tanda dan petunjuk yang terdapat pada manusia memastikan bahwa:
Setelah manusia mati, sesuatu darinya tetap ada, dan sesuatu itu hanyalah ruh. Jadi, kelangsungan ruh merupakan sifat yang melekat pada zatnya. Adanya sifat zat ini pada satu individu mengharuskan adanya pada seluruh jenis, sehingga menjadi contoh bahwa pernyataan mengiyakan yang juz'i memiliki hukum pernyataan mengiyakan yang kulli.
Karena itu, kematian merupakan mukjizat Kudrat seperti kehidupan. Tidak adanya syarat-syarat kehidupan bukan berarti ia masuk ke dalam lingkup tidak ada.
PERTANYAAN:
Bagaimana kematian menjadi nikmat, dan dengan cara apa ia dimasukkan ke dalam deretan nikmat?