Sisi hubungan dengan bagian sesudahnya:
ya, ketika Al-Qur'an yang Agung memberikan contoh dari lalat dan laba-laba, serta membicarakan semut dan lebah madu, orang-orang musyrik, munafik, dan Yahudi menemukan kesempatan menentang, lalu berkata dengan bodoh:
“Bersama Keagungan-Nya, apakah Allah سُبْحَانَهُ Berkenan membicarakan hal-hal rendah serta hina seperti ini? Padahal orang-orang sempurna tidak berkenan membicarakan hal-hal tidak berharga seperti ini dan merasa malu.” Melalui ayat ini, Al-Qur'an Al-Karîm menghantam serta menutup mulut mereka.
Sisi susunan dan hubungan dengan bagian sebelumnya:
ya, sebagaimana pada permulaan surah dibuktikan bahwa sifat serta keistimewaan yang dikandung Al-Qur'an tidak terdapat dalam ucapan, kitab, atau orang mana pun, kenabian Nabi Muhammad ﷺ juga dibuktikan melalui kemukjizatan Al-Qur'an. Kemukjizatan Al-Qur'an pun dibuktikan melalui tantangan, yakni mengundang penentang kepada medan perlawanan dan pertarungan. Sebab, undangan membuat tandingan dijawab dengan diam. Tidak pergi ke medan pertarungan dan berdiam diri terhadap undangan yang dilakukan untuk memadamkan perubahan yang meliputi dunia seperti ini tentu merupakan tanda tidak berdaya. Menghadapi bukti-bukti Al-Qur'an Al-Karîm ini, sebagaimana orang-orang kafir tertegun dan tidak dapat membuka mulut, bahkan denyut mereka lumpuh. Hanya karena Al-Qur'an mencapai kesempurnaan dalam segala hal, mereka melemparkan beberapa batu keberatan kecil dari jauh.
Di antaranya, mereka berbicara kacau dengan penalaran menipu: “Perumpamaan yang dibawa Al-Qur'an dari contoh biasa dan tidak berharga seperti
ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺍﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ ﻧَﺎﺭًﺍ
dan
ﺍَﻭْ ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ
tidak sesuai dengan kesempurnaan ucapan luhur. Perumpamaan semacam ini menyerupai percakapan di antara manusia.” Melalui ayat ini, Al-Qur'an Al-Karîm menghantam kekacauan ucapan itu ke kepala mereka.
Sahabat! Jangan tergesa-gesa; perlu berhenti sejenak di sini. Mereka memiliki keraguan yang sangat rapuh dan lemah. Keraguan-keraguan ini lahir dari beberapa prasangka berantai. Prasangka itu pun muncul dari beberapa penalaran menipu.
Perbandingan mereka antara perumpamaan Al-Qur'an dan perumpamaan manusia untuk merendahkan kesempurnaan Al-Qur'an merupakan perbandingan yang mengabaikan perbedaan; terdapat perbedaan sebesar dunia-dunia di antaranya. Pokok-pokok yang membawa mereka kepada perbandingan ini melalui penalaran menipu:
1-
Mereka memandang segala sesuatu dengan pandangan yang digunakan kepada hal-hal yang akrab bagi mereka.
2-
Mereka memperhatikan bahwa benak, pikiran, lidah, dan pendengaran manusia terbatas, serta karena terbatas, tidak dapat berkaitan secara sengaja dan utama dengan dua hal sekaligus.
3-
Mereka berpikir bahwa tolok ukur yang membedakan bagian tinggi dan rendah dari perhatian serta tekad adalah kesibukan dan perhatian. Artinya, orang yang memperhatikan hal-hal tinggi memiliki tekad tinggi, dan orang yang sibuk dengan pekerjaan rendah memiliki tekad rendah.
4-
Mereka menyangka nilai dan keagungan sebanding dengan perhatian serta tekad. Bahkan, mereka tidak menisbatkan sesuatu yang kecil atau rendah kepada orang-orang tinggi dan besar. Seakan-akan manusia agung tidak berkenan menangani sesuatu yang tidak bernilai, dan sesuatu yang lemah serta kecil tidak dapat memikul perhatian besar serta keagungan itu.
Dengan bersandar pada pokok-pokok ini, orang-orang berkepala kosong itu juga membandingkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan manusia dan mengatakan, “Bersama Jalal dan Keagungan-Nya, bagaimana Allah سُبْحَانَهُ Berkenan berbicara dengan manusia seperti manusia berbicara? Bagaimana Dia Membicarakan hal-hal terbatas dan hina ini? Sesuaikah dengan Keagungan-Nya?”
Tidakkah kelompok orang tolol itu mengetahui bahwa Sifat-Sifat Allah سُبْحَانَهُ lainnya pun, seperti Kehendak, Ilmu, dan Kudrat-Nya, bersifat menyeluruh, umum, mencakup, serta meliputi? Tidakkah mereka juga mengetahui bahwa tolok ukur Keagungan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq hanyalah keseluruhan jejak-Nya; satu jejak saja tidak dapat menjadi tolok ukur! Tidakkah mereka juga mengetahui bahwa yang menjadi neraca bagi tajalli Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah seluruh kalimat-Nya, yang jika pohon menjadi pena dan laut menjadi tinta, mereka tidak dapat menulisnya sampai habis. {(Catatan kaki (Hâsyiyah)): Pada ayat dengan makna ini tampak suatu hiperbola dan penambahan. Namun, jika hakikat serta kenyataan dipandang, tidak terdapat tambahan. Sebab, “kalimat” disebut bagi sesuatu yang menyatakan makna. Pembatasan serta pengkhususan ahli nahwu kepada lafaz adalah istilah khusus bagi mereka. Ya, terdapat dua bahasa, yang satu ucapan dan yang lain keadaan. Jika kalimat bahasa ucapan adalah lafaz, kalimat bahasa keadaan pun adalah keadaan. Karena itu, sebagaimana penyair suci mengatakan
ﻭَﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ,
sesuatu apa pun yang diciptakan dalam kitab besar kainat merupakan kalimat keadaan yang menunjukkan Keagungan Sang Khâliq.
Jika pohon dan laut mencukupi untuk menulis kalimat-kalimat keadaan dalam kitab kainat, karena tetes-tetes laut dan zarah-zarah pohon itu masing-masing kalimat keadaan, diperlukan tinta serta pena untuk menulisnya pula. Maka, bagi semuanya diperlukan pohon serta laut lain sebanyak itu. Demikian seterusnya: setelah tetes dan kalimat setiap bagian pertama ditulis, diperlukan pula kelompok kedua pohon serta laut sebanyak itu. Keadaan ini berantai terus tanpa akhir. Kalimat-kalimat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, yakni kalimat keadaan yang menunjukkan Keagungan-Nya, tidak berakhir. Berarti, pada hakikatnya, dalam makna yang dinyatakan ayat
ﺍَﻥْ ﺗَﻨْﻔَﺪَ ﻛَﻠِﻤَﺎﺕُ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻭَﻟَﻮْ ﺟِﺌْﻨَﺎ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﻣَﺪَﺩًﺍ
tidak ada hiperbola atau penambahan dari sisi mana pun; bahkan terdapat pengurangan.
Penerjemah Abdülmecid} Misalnya, jika matahari diandaikan berakal serta memiliki pilihan dan kehendak, ketika ia menyebarkan cahaya kepada seluruh alam dan suatu zarah kotor serta ternoda juga memanfaatkan cahayanya, dapatkah diajukan keberatan kepada matahari, “Mengapa ia sibuk dengan zarah kotor dan ternoda ini serta memberikan cahaya kepadanya?” Hâşâ! Apakah keagungan matahari mengalami kekurangan? Tidak.
Karena itu, sebagaimana Dia Menciptakan alam yang sangat besar ini dengan seni besar dan perhatian besar, zarah yang disebut unsur tunggal pun merupakan karya seni yang keluar dari bengkel Kudrat-Nya. Sebab, dalam pandangan Kudrat besar itu, unsur-unsur tunggal, yakni zarah, dan bintang-bintang berkelana adalah sama. Sebab, Kudrat, Ilmu, Kehendak, dan Kalam Allah سُبْحَانَهُ Yang Mahaagung adalah Sifat-Sifat Zatiah-Nya. Semuanya melekat pada Zat Yang Mahasuci. Tidak ada pembaruan, kemungkinan bertambah atau berkurang, atau perubahan pada semuanya sehingga memiliki tingkat-tingkat. Selain itu, karena tidak berdaya adalah lawan sifat-sifat tersebut, ia tidak dapat masuk dan menetap di dalamnya.
Karena itu, dalam Kudrat Ilahi tidak ada perbedaan antara zarah dan matahari. Misalnya, jika diandaikan terdapat dua matahari atau dua zarah pada kedua sisi timbangan, karena terdapat kesamaan dan keseimbangan, apabila kekuatan dari luar menekan satu sisi, sisi lainnya terangkat. Baik di sisi itu terdapat zarah maupun matahari, menurut kekuatan tersebut tidak ada perbedaan; keduanya satu. Demikian pula, karena di antara kedua sisi sesuatu yang mungkin ada, yakni ada dan tidak ada, terdapat kesamaan seperti kedua sisi timbangan, pada sisi mana pun Kudrat Azali menekan, sisi lainnya terangkat seperti debu. Matahari, lalat, dan zarah seluruhnya satu dalam hal ini.
Kesimpulannya:
Karena hal-hal kecil seperti zarah dan perbuatan biasa hadir melalui penciptaan Sang Khâliq, jelas bahwa semuanya termasuk dalam lingkup Ilmu-Nya. Dari sisi ini, jelas tidak ada hal yang patut diperdebatkan dalam membicarakannya. Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan rahasia ini melalui ayat
اَلَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟﻠَّﻄ۪ﻴﻒُ ﺍﻟْﺨَﺒ۪ﻴﺮُ.
Artinya, tidakkah Sang Khâliq Yang Menciptakan Mengetahui makhluk-Nya; mungkinkah Dia tidak Mengetahui? Maka, mengapa Dia tidak Membicarakan makhluk-Nya atau Berbicara dengannya?
Penalaran Menipu Kedua:
Mereka berkata, “Di bawah gaya dan corak bahasa Al-Qur'an tampak suatu gambaran manusia.” Sebab, pekerjaan biasa dan hal rendah yang dibicarakan dalam Al-Qur'an seperti percakapan yang dilakukan di antara manusia.
Tidakkah orang-orang tidak tahu ini mengetahui bahwa jika suatu ucapan memandang pembicaranya dari satu sisi, ia juga memandang penerima sapaannya dari beberapa sisi? Sebab, perlu memperhatikan keadaan penerima sapaan agar ucapan disampaikan menurut tuntutan keadaan itu. Karena itu, penerima sapaan Al-Qur'an adalah manusia. Tujuan Al-Qur'an pun membuat mereka memahami, yakni memberitahukan yang belum diketahui manusia. Atas dasar inilah, menurut tuntutan balagah, Al-Qur'an mengenakan gaya yang bercampur dengan perasaan manusia dan berbicara dengan corak bahasanya, agar pemahaman manusia tidak merasa asing serta gentar terhadap ucapan yang disampaikan.
Ya, ketika seorang luhur berbicara dengan anak melalui corak bahasa anak, ia membelai pikiran anak. Pemahaman anak menjadi akrab dengan ucapan terputus-putusnya, lalu mendengar dan memahami perkataannya. Jika tidak, tidak dapat terjadi pertukaran pengetahuan antara manusia itu dan anak tersebut. Pertukaran antara Allah سُبْحَانَهُ dan manusia juga demikian. Jika Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak Menimbang serta Memberikan pengetahuan yang akan diberikan kepada manusia melalui timbangan manusia, manusia pasti tidak memandang atau mengambilnya. Sebab, manusia hanya memahami bahasa timbangan yang dibiasakannya, bukan bahasa timbangan ilmiah ini.
PERTANYAAN:
Apakah rendah dan hinanya benda-benda sungguh bertentangan dengan Keagungan Kudrat serta Kesucian dan Kelembutan Kalam?
JAWABAN:
Kehinaan dan keburukan yang tampak pada sebagian benda atau pekerjaan berkenaan dengan sisi mulk, yakni menghadap sisi luarnya dan terlihat demikian dalam pandangan kita. Karena itu, sebab-sebab lahiriah diletakkan sebagai tirai di antara benda-benda dan Tangan Kudrat, agar dalam pandangan dangkal kita tidak tampak keterlibatan Tangan Kudrat secara langsung dengan benda-benda semacam itu. Namun, sisi malakut, yakni sisi dalam, bening dan luhur. Pada sisi yang berkaitan dengan Kudrat ini, tidak ada sesuatu pun di luar keterkaitan Kudrat.
Ya, sebagaimana Keagungan Ilahi menuntut ditempatkannya sebab-sebab lahiriah, keesaan serta Kemuliaan Ilahi pun menuntut Kudrat Mencakup seluruh benda dan Kalam Meliputi segala sesuatu. Selain itu, Al-Qur'an yang ditulis dengan zarah-zarah di atas satu zarah tidak lebih rendah dalam keindahan daripada Al-Qur'an yang akan ditulis dengan bintang-bintang pada halaman langit. Demikian pula, {(Catatan kaki (Hâsyiyah)): Pada kepala nyamuk terdapat belalai seperti tombak. Ia hinggap pada kepala gajah, menusukkan belalainya ke belalai gajah, dan gajah mulai melarikan diri; ia sama sekali tidak dapat terbebas darinya. Berarti Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Membuat nyamuk mengungguli dan menguasai gajah. Karena itu, meskipun lebih rendah dalam penciptaan, ia lebih tinggi dalam keberanian. Penerjemah Abdülmecid} penciptaan nyamuk dari sisi seni tidak lebih rendah daripada penciptaan gajah.
Sifat Kalam juga persis seperti Sifat Kudrat. Berbicara dengan anak dan membuatnya memahami ucapan tidak lebih rendah daripada berbicara dengan filsuf.
PERTANYAAN:
Kepada siapa kehinaan lahir yang tampak dalam perumpamaan-perumpamaan ini berkenaan?
JAWABAN:
Keadaan semacam itu bukan milik pemberi perumpamaan, melainkan milik yang diperumpamakan. Artinya, ia berkenaan dengan siapa dan apa yang diberi perumpamaan. Memang, keindahan dan balagah ucapan sebanding dengan kesesuaiannya kepada yang diperumpamakan. Ya, jika seorang sultan memberikan jubah khusus penggembala serta mantel kepada penggembala dan tulang kepada anjingnya, tidak seorang pun dapat menentang dengan mengatakan, “Sultan tidak berbuat baik”, sebab ia memberikan setiap sesuatu kepada yang layak. Karena itu, serendah apa yang diperumpamakan, serendah itu pula perumpamaannya; sebesar apa ia, sebesar itu pula perumpamaannya. Ya, karena berhala-berhala sangat biasa dan hina, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Membuat lalat {(Catatan kaki (Hâsyiyah)): Seorang Badui memiliki berhala yang disembah. Suatu hari ia pergi beribadah dan melihat seekor rubah telah mengencingi kepala berhala. Melihat keadaan ini, dengan mengatakan
ﺍَﺭَﺏٌّ ﻳَﺒُﻮﻝُ ﺍﻟﺜَّﻌْﻠَﺒَﺎﻥُ ﺑِﺮَﺍْﺳِﻪ۪
ia menghancurkan serta membuang berhala. Berarti, karena rendahnya berhala, bukan hanya lalat, bahkan rubah pun naik ke kepalanya dan mengotorinya. Penerjemah Abdülmecid} menguasai mereka. Ibadah mereka juga begitu buruk sehingga diungkapkan dengan
ﻧَﺴْﺞُ ﺍﻟْﻌَﻨْﻜَﺒُﻮﺕِ,
yakni jaring laba-laba.
Penalaran Menipu Ketiga:
Mereka berkata, “Apa kebutuhan kepada perumpamaan seperti ini, yang menyiratkan tidak mampu menampakkan hakikat?”
Jawaban:
Tujuan menurunkan Al-Qur'an ialah membimbing masyarakat umum. Masyarakat umum adalah awam. Masyarakat awam tidak dapat melihat hakikat telanjang; pemahaman mereka tidak dapat menerima hal-hal akali murni dan abstrak yang belum akrab. Karena itu, melalui Karunia dan Kebaikan-Nya, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memperlihatkan hakikat dengan pakaian serta corak bahasa yang akrab bagi mereka, agar tidak merasa asing dan gentar. Pembahasan ini telah berlalu pada pembahasan mutasyabihat.
Marilah beralih kepada keterkaitan di antara kalimat-kalimat ayat ini:
Ya, kalimat
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ مَثَلًا ﻣَﺎ ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ
menolak keberatan-keberatan berantai berikut yang mereka ajukan.
1-
Apa hikmah Allah سُبْحَانَهُ Berbicara dengan manusia, Menundukkan dan Menegur mereka, serta Mengeluhkan mereka? Padahal dari hal-hal semacam ini dipahami bahwa dalam alam manusia juga memiliki pengaturan dan pengaruh lain.
2-
Diberikannya perumpamaan seperti percakapan yang berlangsung di antara manusia... Sebab, ini tanda bahwa Al-Qur'an adalah ucapan manusia.
3-
Di balik kalam, di antara gaya-gaya, terlihat gambaran manusia.
4-
Hakikat digambarkan melalui perumpamaan. Ini menunjukkan tidak mampu menampakkan hakikat.
5-
Perumpamaan yang diberikan biasa. Ini tanda pikiran pembicara terbatas.
6-
Perumpamaan diberikan dari hal-hal rendah dan tidak berharga. Ini dalil lemahnya pembicara.
7-
Karena tidak ada keharusan bagi perumpamaan yang diberikan, meninggalkannya lebih utama daripada menyebutkannya.
8-
Khususnya, diberikan perumpamaan dari hal-hal yang orang mulia malu dan tidak berkenan menanganinya.
Al-Qur'an Al-Karîm mematahkan serta meruntuhkan rantai keberatan ini dalam satu pukulan melalui kalimat
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ مَثَلًا ﻣَﺎ ﺍﻟﺦ.
1-
Karena sisi dalam benda-benda luhur dan bening, membicarakan sisi-sisi ini tidak bertentangan dengan Keagungan serta Jalal. Sebagaimana itu, menurut tuntutan Keilahian, mengecualikan hal-hal yang sisi luarnya tampak buruk dari pembicaraan serta penyebutan bertentangan dengan hukum Keilahian. Sebab, seorang penguasa tidak mengeluarkan kaum Gipsi di antara rakyatnya dari hak-hak sipil.
2-
Menurut tuntutan balagah dan hikmah, tidak terdapat pertentangan dalam penyebutan perumpamaan rendah untuk menyatakan makna rendah.
3-
Tidak ada keberatan dalam perumpamaan biasa; pendidikan dan bimbingan menghendaki demikian.
4-
Menurut tuntutan Pertolongan Ilahi, hakikat digambarkan melalui perumpamaan.
5-
Berdasarkan tuntutan Rububiyah dan pendidikan, manusia harus dibimbing melalui percakapan, gaya, dan corak bahasa yang berlangsung di antara mereka sendiri.
6-
Menurut tuntutan hikmah dan tatanan, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq harus Berbicara dengan manusia.
Kesimpulannya:
Dengan Memberikan kehendak bebas manusia kepada manusia, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menjadikannya sumber bagi alam perbuatan. Untuk menempatkan alam perbuatan itu di bawah tatanan, Dia Mengirim Kalam-Nya, yakni Al-Qur'an-Nya, kepada alam perbuatan tersebut. Karena itu, suatu program Ilahi yang dibuat untuk membersihkan serta mengatur tidak dapat menjadi tempat keberatan.
ﻓَﺎَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻓَﻴَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﻣِﻦْ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ
Adapun hubungan yang mengaitkan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya:
Untuk membuktikan ketetapan pada kalimat sebelumnya, kalimat ini memperlihatkan jalan suatu dalil dan menolak prasangka yang datang kepada pikiran. Demikianlah:
Siapa pun yang menghadirkan Pertolongan Azali serta Rububiyah Ilahi di depan mata dan memandang dari sisi Allah سُبْحَانَهُ, di bawah Keagungan Kudrat, membenarkan bahwa perumpamaan yang dibawa melalui ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً dan yang serupa dengannya sesuai dengan hukum balagah serta benar dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Namun, siapa pun yang memandang makhluk-makhluk mungkin di bawah perintah nafsunya, pasti prasangka akan menerbangkannya dan melemparkannya ke rawa kesesatan.
Perumpamaan kedua kelompok manusia ini menyerupai dua orang berikut: yang satu pergi ke atas dan yang lain ke bawah. Keduanya melihat banyak saluran air. Orang yang pergi ke atas langsung menuju sumber dan menemukan asal air; ia memahami bahwa air itu manis serta bersih. Kemudian ia menetapkan bahwa seluruh saluran yang bercabang serta tersebar dari sumber itu bersih dan manis; saluran mana pun yang ditemuinya, ia tidak ragu bahwa airnya manis serta bersih. Dari sisi ini, prasangka tidak menguasainya. Adapun orang lain yang pergi ke bawah memandang saluran-saluran. Karena tidak melihat asal air, ia terpaksa mencari dalil serta tanda untuk memahami apakah air setiap saluran yang ditemuinya manis. Karena itu, ia mengalami prasangka. Prasangka paling kecil menyimpangkan orang yang tidak berpikir itu dari jalan.
Atau, contoh kedua kelompok itu menyerupai dua orang yang memegang cermin: yang satu memandang sisi bening cermin dan, sebagaimana melihat dirinya di dalamnya, dapat melihat banyak hal. Orang yang lain memandang sisi berwarna cermin dan tidak memahami sesuatu pun.
Kesimpulannya:
Seni, Tindakan, Kalam, Perumpamaan, dan Gaya Allah سُبْحَانَهُ harus dipandang dengan mempertimbangkan Pertolongan serta Rububiyah-Nya, dari sisi Allah سُبْحَانَهُ. Pandangan ini hanya melalui cahaya iman. Dari sisi ini, meskipun ada prasangka, nilainya serta kekuatannya hanya seperti jaring laba-laba. Jika ia memandang dari sisi makhluk-makhluk mungkin dengan pikirannya yang terbatas dan pandangan pembeli, bahkan prasangka lemah menjadi seperti gunung dalam pandangannya. Seperti sayap lalat yang menghalangi mata melihat Gunung Cûdi, prasangka kecil serta lemah juga menutupi hakikat dari pandangan matanya.
ﻭَﺍَﻣَّﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ
Sisi keterkaitan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya:
Ya, melalui kalimat sebelumnya diisyaratkan bahwa untuk memahami hikmah perumpamaan Al-Qur'an perlu memandang dari sisi Allah سُبْحَانَهُ melalui cahaya iman. Dalam kalimat ini diperlihatkan jalan yang menghasilkan tidak dipahaminya hikmah dalam perumpamaan tersebut dan pada saat yang sama membawa kepada sarang prasangka serta dalih. Demikianlah:
Jika seseorang memandang perumpamaan Al-Qur'an dari sisi nafsu rendah melalui gelapnya kekufuran yang memperlihatkan segala sesuatu sebagai gelap, tentu ia tidak memahami hikmahnya dan dikuasai prasangka. Dengan bantuan penyakit dalam kalbunya, setiap prasangka menjadi raksasa dalam pandangannya; ia kehilangan jalan kebenaran dan mengalami keraguan. Kemudian ia mulai bertanya, tidak dapat keluar, dan pada akhirnya perkara berujung pada pengingkaran; ia tetap di dalamnya. Melalui keringkasan dan kiasan, Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan pertanyaan mereka yang mengandung pengingkaran dengan kalimat
ﻣَﺎﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻬٰﺬَﺍ مَثَلًا.
Karena isyarat ini, meskipun agar sesuai dengan ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ yang disebutkan pada kalimat sebelumnya, di sini diperlukan penyebutan لَا ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ, dikatakan
ﻣَﺎﺫَٓﺍ ﺍَﺭَﺍﺩَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻬٰﺬَﺍ مَثَلَا.
ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﻭَﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ
Kalimat ini merupakan jawaban kepada pertanyaan mereka melalui ﻣَﺎﺫَﺍ untuk memahami sebab dan tujuan perumpamaan. Namun, berdasarkan keringkasan yang dijadikan cara, Al-Qur'an Al-Karîm memperlihatkan akibat perumpamaan, yakni kesesatan serta hidayah yang mengikutinya, sebagai sebab tujuan. Ya, kesesatan dan hidayah tidak dapat menjadi dasar perumpamaan. Jika menjadi dasar, terjadi paksaan. Sebab dan tujuan perumpamaan hanyalah memperingatkan serta membimbing masyarakat awam. Seakan-akan mereka mengajukan banyak pertanyaan, “Mengapa terjadi demikian? Mengapa kemukjizatan tidak jelas? Mengapa bahwa ia firman Allah سُبْحَانَهُ tidak niscaya? Mengapa melalui perumpamaan ini diberi ruang bagi prasangka?” Melalui kalimat
ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﻭَﻳَﻬْﺪ۪ﻯ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ,
Al-Qur'an Al-Karîm membubarkan kelompok pertanyaan itu. Demikianlah:
Cahaya iman orang yang merenungkan perumpamaan itu melalui cahaya iman berkembang dan memperoleh kekuatan. Gelap pada orang yang memandang melalui gelapnya kekufuran dan keinginan mengkritik pun bertambah, dan matanya menjadi buta. Sebab, ia memerlukan penelaahan, tidak langsung jelas. Ya, perumpamaan ini dimaksudkan untuk memisahkan ruh bersih serta tinggi dari ruh ternoda serta rendah. Ini untuk membedakan potensi tinggi dari potensi kotor dengan menumbuhkannya. Ini pun untuk memisahkan fitrah sehat dari fitrah rusak serta sakit melalui perjuangan. Ujian manusia menuntut ini. Rahasia kewajiban juga menghendakinya. Adapun kewajiban demi kebahagiaan manusia. Kebahagiaan sesudah mencapai kesempurnaan.
PERTANYAAN:
Engkau berkata, “Kewajiban demi kebahagiaan.” Padahal sebab kemalangan kebanyakan manusia adalah kewajiban. Jika tidak ada kewajiban, tidak ada begitu banyak perbedaan kemalangan?
JAWABAN:
Sebagaimana melalui kehendak bebas manusia yang Diberikan-Nya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Membebani manusia untuk membentuk alam perbuatan dengan pilihan melalui usahanya, Dia juga Membebaninya dengan kewajiban untuk menyirami dan menumbuhkan benih-benih yang tidak berujung yang ditanam sebagai titipan dalam ruh manusia. Jika tidak ada kewajiban, benih-benih dalam ruh itu tidak dapat tumbuh berkembang.
Ya, jika keadaan umat manusia dipandang dengan saksama, terlihat bahwa yang mencangkokkan kemajuan maknawi ruh, penyempurnaan nurani, dan perkembangan serta kemajuan akal dan pikiran adalah syariat; yang memberi keberadaan adalah kewajiban; yang memberi kehidupan adalah pengutusan para nabi; yang mengilhami adalah agama-agama. Jika pokok-pokok ini tidak ada, manusia akan tetap sebagai hewan, dan begitu banyak kesempurnaan nurani serta akhlak baik dalam manusia sepenuhnya hilang. Namun, sebagian manusia menerima kewajiban dengan keinginan serta pilihannya. Sebagaimana bagian ini memperoleh kebahagiaan pribadi, ia juga menjadi sebab kebahagiaan jenis manusia.
Adapun meskipun bagian besar manusia menerima kekufuran melalui pilihan sendiri dan menolak kewajiban-kewajiban Ilahi, karena mengambil hal-hal indah seperti pendidikan dan akhlak yang tersaring dari sebagian jenis kewajiban, mereka telah menerima jenis-jenis kewajiban itu secara tersirat dan terpaksa. Dari sisi inilah tidak setiap sifat serta setiap keadaan seorang kafir bersifat kafir.
PERTANYAAN:
Padahal kemalangan sebagian besar manusia nyata, bagaimana kebahagiaan bagian kecil saja menjadi sebab kebahagiaan jenis, sehingga kalian mengatakan “Syariat adalah rahmat”? Padahal kebahagiaan jenis hanya melalui kebahagiaan seluruh individu atau kebanyakannya?
JAWABAN:
Jika ayam yang diletakkan seratus telur di bawahnya mengeluarkan dua puluh anak ayam dan merusak delapan puluh telur, ayam itu telah melayani jenis telur. Sebab, satu anak ayam dapat menjadi ibu bagi seribu telur. Atau, jika seratus benih ditanam dalam tanah dan disiram air, kemudian dua puluh tumbuh menjadi pohon kurma dan delapan puluh membusuk serta hancur, air yang menyebabkan dua puluh benih bertunas menjadi pohon tentu telah melayani jenis benih. Atau, jika suatu bijih dilebur dalam api dan seperlimanya keluar sebagai emas, sisanya tanah, tentu api menjadi sebab kesempurnaan serta kebahagiaan bijih tersebut. Karena itu, jika kewajiban menyelamatkan seperlima manusia, dapat ditetapkan dengan pasti bahwa kebahagiaan seperlima itu menjadi sebab serta faktor kebahagiaan jenis manusia.
Selain itu, tumbuhnya perasaan tinggi dan akhlak indah hanya melalui perjuangan serta usaha sungguh-sungguh. Ya, karena selalu bekerja, tangan kanan lebih kuat daripada tangan kiri. Suatu pemerintahan semakin berjuang, semakin bertambah keberaniannya; ketika ditinggalkan, keberaniannya berkurang, dan pada akhirnya keberanian serta pemerintahan pun padam dan hancur. Demikian pula, perkembangan setiap sesuatu dan pekerjaan terwujud melalui perlawanan serta persaingan lawan-lawannya. Misalnya, sebagaimana kesesatan membantu perkembangan hidayah, kekufuran pun membantu perkembangan iman. Sebab, ketika mukmin melihat betapa kotor dan berbahayanya kekufuran serta kesesatan, iman dan hidayahnya naik dari satu menjadi seribu.
Kedua sisi ini merupakan hasil dan buah kewajiban. Dari kedua sisi ini, kewajiban merupakan satu-satunya faktor kebahagiaan jenis manusia.
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ٓ اِلَّا ﺍﻟْﻔَﺎﺳِﻘ۪ﻴﻦَ
Hubungan kalimat ini dengan bagian sebelumnya:
Ya, karena dalam kalimat
ﻳُﻀِﻞُّ ﺑِﻪ۪ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ
Al-Qur'an Al-Karîm tidak menjelaskan siapa yang dilemparkan kepada kesesatan dan membiarkannya tidak tertentu, pendengar takut. Tiga pertanyaan yang diajukannya, “Siapakah yang dilemparkan kepada kesesatan itu? Apa sebabnya?
Bagaimana gelap datang dari cahaya Al-Qur'an?”, dijawab melalui kalimat ini: “Mereka adalah orang-orang fasik. Dilemparkannya mereka kepada kesesatan merupakan hukuman kefasikan. Karena kefasikan, bagi orang-orang fasik cahaya berubah menjadi api dan terang menjadi gelap.” Ya, melalui cahaya matahari bahan-bahan kotor membusuk, berbau, dan rusak.
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳَﻨْﻘُﻀُﻮﻥَ ﻋَﻬْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﻣ۪ﻴﺜَﺎﻗِﻪ۪ ﻭَﻳَﻘْﻄَﻌُﻮﻥَ ﻣَٓﺎ ﺍَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﻳُﻮﺻَﻞَ ﻭَﻳُﻔْﺴِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ
Sisi susunan kalimat ini bersama kalimat sebelumnya:
Ya, melalui kalimat ini kefasikan diuraikan dan dijelaskan. Demikianlah:
Kefasikan adalah menyimpang dan berpisah dari kebenaran, melampaui batas, serta keluar dan meninggalkan kehidupan abadi.
Sumber kefasikan lahir dari sikap berlebihan dan kekurangan pada tiga daya yang disebut daya akal, daya amarah, dan daya syahwat.
Ya, sikap berlebihan atau kekurangan adalah kedurhakaan terhadap dalil-dalil. Artinya, dalil-dalil yang diciptakan pada halaman alam berkedudukan sebagai perjanjian-perjanjian Ilahi. Orang yang menentang dalil itu melanggar perjanjian yang dibuatnya secara fitri dengan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
Demikian pula, sikap berlebihan dan kekurangan termasuk sebab-sebab yang menghasilkan penyakit kehidupan jiwa serta ruhani. Ini diisyaratkan melalui kalimat
ﻳَﻨْﻘُﻀُﻮﻥَ ﻋَﻬْﺪَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ,
yang merupakan sifat pertama kefasikan.
Demikian pula, sikap berlebihan dan kekurangan adalah dua faktor yang menyalakan api kedurhakaan terhadap kehidupan sosial. Ya, kedua faktor ini memotong serta membuang ikatan dan hukum yang menempatkan kehidupan sosial di bawah tatanan serta keteraturan. Ya, jika syahwat atau amarah melampaui batas, kehormatan serta kesucian diri terinjak-injak dan orang-orang tak bersalah hancur. Ini juga diisyaratkan melalui kalimat
ﻭَﻳَﻘْﻄَﻌُﻮﻥَ ﻣَٓﺎ ﺍَﻣَﺮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻪ۪ٓ ﺍَﻥْ ﻳُﻮﺻَﻞَ,
yang merupakan sifat kedua kefasikan.
Demikian pula, keduanya merupakan dua pembuat kekacauan yang menghasilkan rusaknya tatanan dunia serta menyebabkan kerusakan dan kekacauan. Ini pun diisyaratkan melalui kalimat
ﻭَﻳُﻔْﺴِﺪُﻭﻥَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ,
yang merupakan sifat ketiga kefasikan.
Ya, jika daya akal dan pemikiran orang fasik kehilangan keseimbangan serta jatuh dalam penalaran sesat, dengan memutus ikatan-ikatan akidah ia merobek serta membuang kehidupan abadinya.
Demikian pula, jika daya amarahnya melampaui batas pertengahan, ia merobek wajah sekaligus lapisan dalam kehidupan sosial dan menjungkirbalikkannya.
Demikian pula, jika daya syahwatnya melampaui batas, ia mengikuti hawa nafsu dan kasih sayang kepada sesama jenis hilang dari kalbunya. Sebagaimana dirinya rusak, ia juga akan merusak orang lain. Dari sisi ini, orang-orang fasik berbuat demi bahaya jenisnya sekaligus kerusakan bumi.
ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮُﻭﻥَ
Kalimat ini merupakan hasil kalimat sebelumnya sekaligus penegasannya. Demikianlah:
Setelah dalam kalimat sebelumnya menyampaikan kejahatan orang fasik seperti melanggar perjanjian, memutus silaturahmi, dan membuat kerusakan di bumi secara menakutkan, dalam kalimat ini, untuk menegaskan ancaman serta rasa takut sebelumnya, ia menjelaskan hasil dan hukuman kejahatan orang fasik demikian: “Orang-orang fasik itu adalah orang yang tidak berpikir, yang sebagaimana menyerahkan akhirat dan mengambil dunia, juga mengganti hidayah dengan kesesatan.”
Kini kami tiba pada tugas ketiga, yakni membicarakan bentuk-bentuk kalimat yang dikandung ayat ini:
Pertama-tama perlu diketahui bahwa ayat Al-Qur'an Al-Karîm, kalimat ayat, dan bentuk kalimat seperti jarum jam yang menghitung detik, menit, serta jam. Sebagaimana setiap jarum kedua membantu yang pertama, ketika suatu ayat mengejar satu tujuan, kalimat-kalimatnya pun beredar di sekitar tujuan itu; bentuk kalimat juga mengikuti jejak kalimat. Keadaannya mencapai suatu pokok sehingga melalui bahasa keadaan ia membaca bait berikut:
ﻋِﺒَﺎﺭَﺍﺗُﻨَﺎ ﺷَﺘّٰﻰ ﻭَﺣُﺴْﻨُﻚَ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻭَﻛُﻞٌّ ﺍِﻟٰﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﻳُﺸ۪ﻴﺮُ
Artinya, “Meskipun ucapan kami berbeda-beda, keindahanmu satu. Seluruh ucapan kami mengisyaratkan keindahan itu.” Karena itulah kelancaran, balagah luhur, dan kehalusan corak Al-Qur'an Al-Karîm mencapai lapisan kemukjizatan.
ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳَﺴْﺘَﺤْﻴ۪ٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﻀْﺮِﺏَ مَثَلًا ﻣَﺎ ﺑَﻌُﻮﺿَﺔً ﻓَﻤَﺎ ﻓَﻮْﻗَﻬَﺎ
Kami akan membicarakan butir-butir hikmah kata dalam kalimat ini:
Kata ﺍِﻥَّ menunjukkan baik bahwa ketetapan terikat dengan hakikat maupun disingkirkannya keraguan dan pengingkaran dalam ketetapan. Maka, ﺍِﻥَّ ini mengisyaratkan keraguan-keraguan berantai yang disebutkan pada permulaan pembahasan ayat.
Kata ﺍَﻟﻠّٰﻪَ menghadapkan kesalahan perbandingan mereka antara Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dan makhluk-makhluk mungkin, yang disebutkan sebelumnya, kepada mata pikiran. Artinya, “Bagaimana kalian mengatakan Allah سُبْحَانَهُ, lalu membandingkan Allah سُبْحَانَهُ dengan makhluk-makhluk mungkin? Dapatkah Zat yang menyandang nama Allah سُبْحَانَهُ dibandingkan dengan makhluk-makhluk mungkin?”