Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Pembahasan Pertama:

Isyarat-Isyarat Kemukjizatan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Pembahasan Pertama:

Manusia yang melihat bumi, walaupun sangat kecil dan rendah dibandingkan benda-benda langit, penuh dengan makhluk hidup, serta memperhatikan susunan dan keteraturan alam, pasti memutuskan bahwa di menara-menara tinggi benda-benda langit itu juga terdapat penghuni hidup.

Ya, perumpamaan orang yang tidak menerima adanya malaikat di menara-menara itu seperti orang berikut: Ketika pergi ke kota besar, ia menemukan bangunan sangat kecil di suatu pinggir kota. Ia melihat bangunan itu penuh manusia. Ia melihat tanah-tanahnya penuh makhluk hidup. Ia melihat makanannya, berupa tumbuhan, ikan, dan sebagainya, serta syarat-syarat kehidupan terpenuhi. Kemudian ia melihat jutaan gedung dan istana sangat jauh, dengan lapangan-lapangan luas dan tempat berjalan-jalan di antaranya. Namun, karena syarat kehidupan manusia dalam bangunan kecil itu tidak terdapat di bangunan-bangunan besar tersebut, ia meyakini istana-istana tinggi dan berhias itu kosong tanpa penghuni.

Adapun perumpamaan orang yang membenarkan adanya malaikat seperti orang berikut: Begitu melihat rumah kecil itu penuh manusia, tanpa ragu ia memutuskan bahwa istana-istana tinggi itu juga merupakan tempat kehidupan dan memiliki penghuni yang sesuai dengannya. Ada syarat-syarat kehidupan yang khusus dan sesuai bagi istana-istana tinggi itu. Tidak terlihatnya para penghuni karena sangat jauh tidak menunjukkan bahwa mereka tidak ada.

Karena itu, penuhnya bumi dengan makhluk hidup memastikan bahwa di langit, bintang, menara, dan langit-langit yang memuat banyak bagian di ruang luas ini terdapat makhluk hidup yang disebut “malaikat” oleh syariat.

Pembahasan Kedua:

Sebagaimana telah dibuktikan dan dijelaskan sebelumnya, kehidupan menyingkap segala yang ada, bahkan merupakan hasil segala yang ada. Karena itu, mungkinkah angkasa luas ini tanpa penghuni dan langit-langit tinggi ini tanpa kehidupan yang meramaikannya? Ya, semua orang berakal yang bersandar pada akal dan riwayat telah memutuskan makna dan hakikat malaikat melalui ijmak serta kesepakatan maknawi, tetapi ungkapan mereka beragam.

Misalnya, kaum peripatetik menyebutnya “hakikat ruhani yang bebas dari materi dan mengatur jenis-jenis segala yang ada”; kaum iluminasi menyebutnya “akal-akal dan penguasa jenis-jenis”; agama-agama menyebutnya dengan ungkapan seperti “melekü'l-cibal, melekü'l-bihar, melekü'l-emtar”. Bahkan kaum materialis, yang akalnya berada pada mata mereka yang buta, tidak menemukan jalan mengingkari makna malaikat, sehingga menyebutnya daya-daya yang meresap ke dalam hukum-hukum fitrah.

PERTANYAAN:

Tidakkah kaidah dan hukum yang berjalan dalam penciptaan cukup untuk menjamin hubungan serta kehidupan kainat?

JAWABAN:

Hukum dan kaidah yang meresap itu, yang engkau sebutkan, merupakan perkara yang hanya dipandang ada dan dibayangkan. Keberadaan tertentu dan identitas konkretnya hanya menjadi nyata melalui malaikat yang mewakilinya, menjadi tempat tercerminnya, dan memegang kendalinya.

Demikian pula, akal dan riwayat sepakat memutuskan bahwa keberadaan tidak terbatas pada alam nyata yang tidak bernyawa ini, yang tidak sesuai bagi terbentuknya ruh. Karena itu, alam gaib yang memuat banyak alam sesuai bagi ruh penuh dengan malaikat dan menerima kehidupan alam nyata.

Ringkasan:

Makna hakiki malaikat menjadi jelas dari perkara-perkara yang dijelaskan ini. Karena itu, di antara gambaran dan bentuk malaikat, yang diterima akal sehat ialah bentuk yang dijelaskan syariat: Malaikat adalah hamba-hamba yang dimuliakan, tidak menentang perintah, terbagi menjadi berbagai kelompok, serta merupakan tubuh-tubuh halus dan bercahaya.

Pembahasan Ketiga:

Kawan! Persoalan malaikat termasuk persoalan yang keseluruhannya terbukti dengan terbuktinya satu bagian, dan jenisnya menjadi nyata dengan adanya satu individu. Sebab, orang yang mengingkari mengingkari semuanya.

Karena itu, sejak zaman Adam hingga sekarang, para ahli agama pada setiap masa melalui ijmak dan kesepakatan telah menetapkan adanya malaikat, berlangsungnya percakapan dengan mereka, bahwa mereka benar-benar telah dilihat, serta menyampaikan riwayat dari mereka. Dalam keadaan demikian, tentu mustahil bahwa tidak satu pun malaikat pernah terlihat oleh manusia atau keberadaannya tidak pernah dirasakan.

Demikian pula, mustahil keyakinan tentang malaikat, yang masuk ke dalam akidah manusia dan terus berlangsung tanpa menghadapi penolakan pada masa atau perubahan mana pun, tidak bersandar pada suatu hakikat dan asal serta tidak lahir dari dasar-dasar yang niscaya. Bagaimanapun, keyakinan umum manusia ini merupakan hasil keputusan intuitif yang bersumber dari dasar-dasar niscaya, muncul dari peristiwa nyata ketika mereka melihat malaikat, dan lahir dari berbagai petunjuk. Ya, sebab keyakinan umum ini ialah dalil dan petunjuk yang niscaya serta pasti, yang muncul ketika malaikat dilihat berkali-kali dan pasti memberikan kekuatan tawatur maknawi. Sebab, persoalan malaikat termasuk pengetahuan pasti manusia. Jika ini diragukan, tidak tersisa kepercayaan terhadap kepastian-kepastian manusia.

Ringkasan:

Jika keberadaan satu individu makhluk ruhani pada suatu waktu menjadi nyata, keberadaan jenis ini menjadi nyata. Jika keberadaan jenisnya menjadi nyata, tentu ia akan sebagaimana yang dijelaskan syariat.

Ayat ini memiliki hubungan dengan ayat sebelumnya melalui empat segi:

Segi Pertama:

Ayat-ayat ini menghitung nikmat-nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Ayat pertama menunjuk nikmat terbesar: manusia merupakan hasil penciptaan, dan isi bumi ditundukkan kepadanya sehingga ia mengaturnya sebagaimana dikehendakinya. Ayat ini pun menunjuk bahwa manusia dijadikan penguasa dan khalifah di bumi.

Segi Kedua:

...

Segi Ketiga:

Ayat sebelumnya menunjuk bumi dan langit-langit sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Ayat ini menunjuk manusia dan malaikat sebagai penghuni tempat-tempat tersebut.

Demikian pula, ayat itu menunjuk rangkaian penciptaan, sedangkan ayat ini menunjuk rangkaian makhluk ber-ruh.

Segi Keempat:

Ketika ayat sebelumnya menegaskan bahwa tujuan penciptaan ialah manusia dan bahwa manusia memiliki kedudukan di sisi Khâliq, timbul dalam pikiran pendengar, “Mengapa manusia yang melakukan begitu banyak kerusakan, kejahatan, dan keburukan diberi nilai sebesar ini? Apakah hikmah menuntut dan menerima keberadaan manusia perusak ini demi beribadah dan menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahasuci?”

Untuk menghilangkan bisikan keraguan pendengar ini, diberikan isyarat berikut:

Kejahatan dan kerusakan manusia itu tidak dapat menandingi rahasia yang dititipkan dalam dirinya; semuanya dimaafkan. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq pun tidak Membutuhkan ibadahnya. Ini hanya demi suatu hikmah dalam Ilmu Allâm Al-Ghuyûb.

Kita sampai pada hubungan antara kalimat-kalimat: ﻭَﺍِﺫْ Kata ini dihubungkan dengan kalimat

ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ.

Padahal tidak terdapat kaitan di antaranya, dan ﺍِﺫْ menuntut suatu ﺍِﺫْ lain. Karena itu, diperlukan perkiraan susunan berikut:

ﺍِﺫْ ﺧَﻠَﻖَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﻣُﻨْﺘَﻈَﻤًﺎ ﻭَﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍﻟﺦ.

Dalam perkiraan ini, ﺍِﺫْ kedua dihubungkan dengan yang pertama, dan terdapat kaitan antara kedua kalimat.

ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺟَﺎﻋِﻞٌ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺧَﻠ۪ﻴﻔَﺔً

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengucapkan kalimat ini untuk mengajarkan jalan musyawarah sekaligus membuat para malaikat menanyakan rahasia hikmah kekhalifahan manusia. Pikiran pendengar bergerak dengan memperhatikan tiga pokok:

1-

Apa yang dikatakan para malaikat?

2-

Dengan heran mereka menanyakan hikmahnya.

3-

Selain menjadi khalifah pengganti jin, dalam manusia juga diciptakan daya amarah dan syahwat. Mereka akan membuat kerusakan lebih banyak daripada jin.

Al-Qur'an Al-Karim menunjuk ketiga pokok itu dengan kalimat

ﻗَﺎﻟُٓﻮﺍ ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﻔْﺴِﺪُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَﻳَﺴْﻔِﻚُ ﺍﻟﺪِّﻣَٓﺎﺀَ.

Setelah pertanyaan heran dan permintaan penjelasan para malaikat selesai, sementara pendengar menunggu jawaban Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Al-Qur'an Al-Karim menjawab dengan kalimat

ﻗَﺎﻝَ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻣَﺎ لَا ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ.

Yakni Dia Berfirman, “Segala sesuatu dan ketetapan tidak terbatas pada pengetahuan kalian. Tidak tahunya kalian tidak dapat menjadi sebab bahwa semuanya tidak akan terwujud. Aku Memiliki suatu Hikmah dalam penciptaan manusia; demi hikmah itu Aku tidak Memperhatikan kerusakan mereka.”

Kita sampai pada susunan dan butir-butir hikmah kalimat-kalimat:

ﻭَﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍﻟﺦ:

ﻭ yang menyatakan penghubungan ini, berdasarkan tuntutan kaitan penghubung, menunjuk bahwa bagi kalimat

ﻭَﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑُّﻚَ ﺍﻟﺦ

diperlukan bagian tempat penghubungannya, yakni kalimat

ﺍِﺫْ ﺧَﻠَﻖَ ﻣَﺎ ﺧَﻠَﻖَ ﻣُﻨْﺘَﻈَﻤًﺎ

yang diperkirakan tidak disebut.

Demikian pula, karena ﺍِﺫْ menyatakan masa lampau, seakan ia membawa pikiran ke rangkaian masa lalu atau menghadirkan rangkaian itu pada masa ini, agar pikiran melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa tersebut.

ﺭَﺑُّﻚَ: Ungkapan ini merupakan hujah dan dalil terhadap para malaikat. Yakni, “Allah سُبْحَانَهُ telah Mendidikmu, Membawamu mencapai kesempurnaan, dan Menjadikanmu pembimbing manusia agar engkau menghilangkan kerusakan mereka. Jadi, engkaulah kebaikan terbesar manusia yang menutupi keburukan mereka.”

ﻟِﻠْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ: Percakapan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan para malaikat dalam bentuk musyawarah menunjuk bahwa para malaikat memiliki hubungan, kaitan, dan pertalian yang erat dengan manusia. Sebab, sebagian malaikat menjaga manusia, dan sebagian menjalankan tugas pencatatan. Jadi, karena hubungan mereka dengan manusia begitu erat, mereka memperhatikan keadaan manusia.

ﺍِﻧّ۪ﻰ: Dengan menolak keraguan para malaikat yang dipahami dari pertanyaan mereka melalui ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ, ini menunjuk keagungan dan pentingnya persoalan tersebut.

ﺍِﻧّ۪ﻰ: Dari penyebutan ﻯ sebagai kata ganti orang pertama tunggal dan kata ganti orang pertama bersama yang lain dalam ﻭَﺍِﺫْ ﻗُﻠْﻨَﺎ, muncul isyarat bahwa tidak ada perantara dalam Tindakan Mencipta dan Mewujudkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, sedangkan dalam Kalam serta Sapaan⁠-⁠Nya terdapat perantara. Ada ayat-ayat lain yang menunjukkan butir hikmah ini. Di antaranya, dalam ayat mulia

ﺍِﻧَّٓﺎ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﺑِﺎﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﺘَﺤْﻜُﻢَ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺑِﻤَٓﺎ ﺍَﺭٰﻳﻚَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ,

kata ganti jamak ﻧَﺎ yang menunjukkan keagungan menunjuk adanya perantara dalam wahyu; sedangkan dalam

ﺑِﻤَٓﺎ ﺍَﺭٰﻳﻚَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ,

lafaz Jalalah yang berkedudukan tunggal menunjuk tidak adanya perantara dalam mengilhamkan makna-makna.

Disebutnya kata ﺟَﺎﻋِﻞٌ dengan mengutamakannya dibandingkan kata ﺧَﺎﻟِﻖٌ: Hal yang menimbulkan keraguan dan permintaan penjelasan para malaikat bukanlah perbuatan mencipta dan mewujudkan. Sebab, keberadaan adalah kebaikan murni, penciptaan adalah Tindakan Allah سُبْحَانَهُ, dan Tindakan Allah سُبْحَانَهُ tidak dipertanyakan. Yang mengundang keraguan malaikat dan menyebabkan permintaan penjelasan mereka hanyalah ﺟَﻌﻞ. Yakni Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengkhususkan manusia untuk memakmurkan bumi.

Dalam ﻓِﻰ الْاَرْضِ, dipilihnya ﻓ۪ﻰ dibandingkan ﻋَﻠٰﻰ: Walaupun manusia berada di atas bumi sesuai dengan makna kata ﻋَﻠٰﻰ, diutamakannya penyebutan ﻓ۪ﻰ menunjuk bahwa manusia ditiupkan dan meresap seperti ruh ke dalam tubuh bumi, dan bahwa bumi akan runtuh ketika manusia mati serta punah.

ﺧَﻠ۪ﻴﻔَﺔً: Ungkapan ini menunjuk bahwa sebelum bumi memiliki syarat yang sesuai bagi kehidupan manusia, terdapat makhluk berkesadaran di bumi, dan keadaan bumi sebelumnya sesuai serta mendukung kehidupannya. Petunjuk ungkapan ﺧَﻠ۪ﻴﻔَﺔٌ kepada makna ini merupakan tuntutan hikmah. Adapun menurut makna yang terkenal, makhluk berkesadaran itu adalah suatu jenis jin; karena kerusakan yang mereka lakukan, mereka digantikan oleh manusia.

ﻗَﺎﻟُٓﻮﺍ ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣَﻦْ ﻳُﻔْﺴِﺪُ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَﻳَﺴْﻔِﻚُ ﺍﻟﺪِّﻣَٓﺎﺀَ

Kalimat ini merupakan kalimat baru. Dari pembukaan baru ini dipahami bahwa sapaan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq kepada para malaikat membuat pendengar menanyakan, “Bagaimana para malaikat akan menyambut manusia yang akan datang menjadi tetangga mereka? Apakah mereka menerima untuk bersama dan bertetangga dengan manusia? Apa pikiran mereka?”

Al-Qur'an Al-Karim menjawab pertanyaan itu dengan kalimat ﻗَﺎﻟُٓﻮﺍ ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ.

PERTANYAAN:

Karena kalimat

ﻗَﺎﻟُٓﻮﺍ ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ ﺍﻟﺦ

merupakan jawaban bagi kalimat ﺍِﺫْ ﻗَﺎﻝَ, harus ada hubungan yang niscaya di antara keduanya. Padahal hubungan itu tidak terlihat?

JAWABAN:

Karena malaikat diberi tugas atas bumi, bumi berada dalam pengaturan mereka. Dari segi ini, perlu diungkapkan pikiran malaikat mengenai dijadikannya manusia sebagai khalifah di bumi.

Ungkapan ﻗَﺎﻝَ dan ﻗَﺎﻟُﻮﺍ dimaksudkan untuk mengajarkan kepada manusia gaya musyawarah dalam bentuk percakapan dan dialog. Adapun Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahasuci dari membutuhkan musyawarah.

Tujuan pertanyaan malaikat melalui ﺍَﺗَﺠْﻌَﻞُ bukan menentang ﺟَﻌْﻞ atau mengingkari ﺟَﻌْﻞ. Sebab, keterjagaan mereka dari dosa menghalangi mereka menentang Tindakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Hanya karena sebab ﺟَﻌْﻞ tersembunyi, mereka dengan heran menanyakan sebab dan hikmahnya. Dari ungkapan ﺟَﻌْﻞ dipahami bahwa keadaan manusia bukan tuntutan tabiat dan bukan keharusan fitrah, melainkan melalui penetapan suatu Penetap.

PERTANYAAN:

ﻓ۪ﻴﻬَﺎ: Walaupun jaraknya sangat pendek, apa perlunya menyebut ﻓ۪ﻴﻬَﺎ kedua?

JAWABAN:

ﻓ۪ﻴﻬَﺎ pertama menunjuk manusia yang meresap ke dalam bumi seperti ruh dan menghidupkannya; sedangkan ﻓ۪ﻴﻬَﺎ kedua menunjuk kerusakan manusia yang, seperti Azrail, menancapkan cengkeramannya hingga ke jantung bumi dan mematikannya. Jadi, manusia dari satu sisi merupakan obat penyembuh bumi, sedangkan dari sisi lain merupakan racun yang mengakibatkan kematiannya.

ﻣَﻦْ: Kiasan bagi manusia. Alasan mengutamakan kiasan dibandingkan penyebutan langsung: Sasaran malaikat bukan pribadi manusia, melainkan menunjukkan bahwa suatu makhluk yang terasa berat bagi mereka akan durhaka kepada Allah سُبْحَانَهُ.

ﻳُﻔْﺴِﺪُ: Disebutnya kerusakan sebagai ganti “kedurhakaan” menunjuk bahwa kedurhakaan mereka akan menyebabkan rusaknya susunan alam. Disebutnya kerusakan dengan bentuk mudhari yang menyatakan kelangsungan dan pembaruan menunjuk bahwa yang sebenarnya tidak dikehendaki dan ditolak malaikat ialah kedurhakaan mereka yang akan berlangsung terus. Malaikat mengetahui kelangsungan kedurhakaan manusia itu melalui pemberitahuan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, atau dengan melihat Lauh Mahfuz dan mengambilnya dari sana, atau dengan memahaminya dari daya amarah dan syahwat manusia.

ﻓ۪ﻴﻬَﺎ: Melalui daya syahwat muncul kerusakan di bumi; melalui pelampauan daya amarah, bumi menjadi tempat pembunuhan dan pertempuran. Padahal bumi berkedudukan seperti masjid yang dibangun atas takwa.

Adapun ﻭ menghubungkan dan menghimpun dua keburukan, yaitu kerusakan dan penumpahan darah. Sebab, kerusakan menjadi sebab penumpahan darah.

Dari diutamakannya penyebutan ﻳَﺴْﻔِﻜُﻮﻥَ dibandingkan ﻳَﻘْﺘُﻠُﻮﻥَ dipahami bahwa penumpahan darah ialah pembunuhan secara zalim. Ini lebih sesuai dengan kerusakan. Sebab, makna yang dinyatakan pembunuhan juga mencakup bagian pembunuhan yang mubah, seperti dalam jihad atau untuk menyelamatkan suatu kelompok; pembunuhan ini tidak sesuai dengan kerusakan.

ﺍَﻟﺪِّﻣَٓﺎﺀَ: Menegaskan darah dalam penumpahan darah yang ditunjukkan kata safk.

ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﻭَﻧُﻘَﺪِّﺱُ ﻟَﻚَ

Seakan muncul keberatan berikut kepada malaikat yang menanyakan hikmah penetapan manusia, “Tidakkah ibadah manusia kepada Allah سُبْحَانَهُ dan pernyataannya bahwa Allah سُبْحَانَهُ Mahasuci cukup menjadi sebab penetapannya, sehingga kalian menanyakan hikmahnya?” Kalimat

ﻭَﻧَﺤْﻦُ ﻧُﺴَﺒِّﺢُ ﺍﻟﺦ

yang disebut dengan waw hal seakan menunjuk penolakan keberatan tersebut.

ﻧَﺤْﻦُ: Kiasan bagi kelompok-kelompok malaikat yang terjaga dari maksiat. Disebutnya kalimat dalam bentuk kalimat nominal menunjuk bahwa tasbih merupakan watak malaikat dan bahwa mereka terus melekat serta tekun dalam tasbih.

ﻧُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ:

“Kami mengumumkan kepada kainat bahwa segala ibadah khusus bagi⁠-⁠Mu, beriman bahwa Engkau Mahasuci dari segala yang tidak layak bagi Keilahian⁠-⁠Mu, dan meyakini bahwa Engkau Memiliki semua Sifat Keagungan dan Jalal.”

ﻭَﻧُﻘَﺪِّﺱُ ﻟَﻚَ: Entah ﻝ ini merupakan tambahan penghubung yang tidak menyatakan suatu makna, atau berfungsi menyatakan alasan dan sebab.

Menurut kemungkinan pertama, perkiraannya adalah ﻧُﻘَﺪِّﺳُﻚَ. Yakni bermakna, “Kami menyatakan Engkau Mahasuci dan bebas dari segala kekurangan.”

Menurut kemungkinan kedua, perkiraannya adalah

ﻧُﻘَﺪِّﺱُ لِاَجْلِكَ.

Yakni bermakna, “Di samping membersihkan diri dan perbuatan kami dari dosa, kami memalingkan hati dari selain⁠-⁠Mu.”

Adapun ﻭ ini, sebagai kebalikan dan lawan dari penghubung dalam ﻳَﺴْﻔِﻚُ, yakni ﻭ yang menghimpun serta menghubungkan dua keburukan, menghimpun dan menghubungkan dua keutamaan, yaitu takdis dan tasbih.

ﻗَﺎﻝَ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻣَﺎ لَا ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Kalimat ini merupakan jawaban ringkas bagi pertanyaan yang muncul dalam hati pendengar setelah permintaan penjelasan malaikat: “Bagaimana Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menjawab permintaan penjelasan mereka, dengan apa Dia Menghilangkan keheranan mereka, dan apa hikmah mengutamakan manusia atas mereka?” Penjelasan terperinci akan datang kemudian.

Dalam ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ, ﺍِﻥَّ menyatakan penegasan untuk menghilangkan keraguan. Ini berlaku pada ketetapan teoritis yang belum diterima. Padahal di sini, bahwa Allah سُبْحَانَهُ Mengetahui apa yang tidak diketahui makhluk merupakan ketetapan yang diterima dan jelas dengan sendirinya; hâşâ, malaikat tidak meragukannya. Karena itu, ﺍِﻥَّ di sini menunjuk beberapa kalimat yang diringkas Al-Qur'an Al-Karim demi kepadatan ungkapan:

1-

Dibandingkan dengan manfaat dan kebaikan manusia yang banyak, kerusakan mereka merupakan keburukan yang sedikit. Meninggalkan kebaikan yang banyak demi keburukan yang sedikit bertentangan dengan hikmah.

2-

Rahasia kelayakan manusia bagi kekhalifahan tidak diketahui malaikat, tetapi Diketahui Khâliq.

3-

Hikmah yang memberikan hak pengutamaan manusia atas mereka tidak diketahui malaikat.

4-

Penegasan yang dinyatakan ﺍِﻥَّ kadang tidak kembali kepada ketetapan yang dinyatakan terang, tetapi kepada ketetapan tersirat yang dipahami dari suatu batasan kalimat. Di sini, penegasan ﺍِﻥَّ kembali kepada ketetapan tersirat yang dipahami dari batasan لَا ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ. Yakni, “Kalian sungguh tidak mengetahui; demikian pula, Ilmu Allah سُبْحَانَهُ merupakan konsekuensi yang niscaya, sedangkan keberadaan manusia merupakan hal yang mengharuskan konsekuensi itu.”

Dari ﺍَﻋْﻠَﻢُ yang menunjukkan adanya Ilmu Ilahi dalam kalimat ini, menjadi jelas bahwa manusia akan terwujud. Sebab, menurut petunjuk ﺍَﻋْﻠَﻢُ, Ilmu Ilahi telah berkaitan dan menjadi nyata. Maka, keberadaan manusia tentu akan terjadi.

Untuk meneguhkan jawaban ringkas yang diberikan kepada malaikat itu, dari ayat

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ ﺣَﻜ۪ﻴﻢٌ

dapat diperoleh penjelasan berikut: Tindakan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq tidak kosong dari Hikmah dan manfaat. Maka, segala yang ada tidak terbatas pada pengetahuan makhluk. Maka, ketidaktahuan malaikat tidak dapat menjadi dalil bahwa manusia tidak akan ada.

Demikian pula, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menciptakan malaikat sebagai kebaikan murni, setan sebagai keburukan murni, dan binatang tanpa kebaikan serta keburukan. Menurut tuntutan hikmah, manusia sebagai kelompok keempat, yang mampu dan memuat kebaikan serta keburukan, juga perlu diciptakan. Jika daya syahwat dan amarah manusia tunduk serta dikalahkan oleh daya akalnya, manusia mengungguli malaikat karena perjuangannya. Jika sebaliknya, ia menjadi lebih rendah daripada hewan, sebab ia tidak memiliki alasan pembenar.

ﻭَﻋَﻠَّﻢَ ﺍٰﺩَﻡَ الْاَسْمَٓاءَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ ﺛُﻢَّ ﻋَﺮَﺿَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍَﻧْﺒِﺌُﻮﻧ۪ﻰ ﺑِﺎَﺳْﻤَٓﺎﺀِ هٰٓؤُلَٓاءِ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ ٭ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ٭ ﻗَﺎﻝَ ﻳَٓﺎ ﺍٰﺩَﻡُ ﺍَﻧْﺒِﺌْﻬُﻢْ ﺑِﺎَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻬِﻢْ ﻓَﻠَﻤَّٓﺎ ﺍَﻧْﺒَﺎَﻫُﻢْ ﺑِﺎَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻬِﻢْ ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟَﻢْ ﺍَﻗُﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻏَﻴْﺐَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗُﺒْﺪُﻭﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﻥَ

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengajarkan nama-nama segala sesuatu kepada Adam (as). Kemudian Dia Memperlihatkan benda-benda itu kepada malaikat dan Berkata, “Jika kalian benar dalam pengakuan kalian, sebutkan nama-namanya kepada⁠-⁠Ku.”

Para malaikat berkata, “Kami menyatakan Engkau Mahasuci dari segala kekurangan dan mengakui bahwa Engkau Memiliki semua Sifat Kesempurnaan. Kami tidak memiliki ilmu selain yang Engkau Ajarkan kepada kami. Engkaulah Yang Mengetahui segala sesuatu dan Menganugerahkan ilmu serta pengenalan kepada setiap orang menurut kelayakannya.”

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Berkata, “Wahai Adam! Sebutkan nama-namanya kepada mereka.” Ketika Adam menyebutkan nama-namanya kepada mereka,

Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Berkata, “Tidakkah Aku Mengatakan kepada kalian bahwa Aku Mengetahui yang gaib di langit-langit dan bumi, serta Mengetahui apa yang kalian nyatakan dengan lisan dan sembunyikan dalam hati mengenai Adam?”

PENDAHULUAN

Persoalan pengajaran nama-nama ini entah merupakan mukjizat Nabi Adam aleyhisselâm terhadap pengingkaran malaikat yang memaksa mereka beralih dari pengingkaran kepada pengakuan; atau merupakan mukjizat yang dia tampilkan untuk membuat malaikat menerima kelayakan manusia bagi kekhalifahan yang mereka pertanyakan.

Wahai kawan! Menurut ketetapan ayat mulia

وَلَا ﺭَﻃْﺐٍ وَلَا ﻳَﺎﺑِﺲٍ اِلَّا ﻓ۪ﻰ ﻛِﺘَﺎﺏٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ,

yang menegaskan bahwa segala sesuatu terdapat dalam Kitâb Mubîn, Al-Qur'an Al-Karim menyatakan segala sesuatu yang telah atau akan terwujud pada setiap masa, secara lahir dan batin, melalui nas dan petunjuk makna, melalui lambang dan isyarat. Berdasarkan ini, menurut pemahamanku dari isyarat Al-Qur'an Al-Karim mengenai kisah-kisah maupun mukjizat para nabi, {(Catatan): Jika engkau meragukan makna-makna halus yang ditarik penulis dari susunan wahyu, aku berkata: Ketika mencari petunjuk dari kitab Ibn Al-Farid, bait berikut muncul:

ﻛَﺎَﻥَّ ﻛِﺮَﺍﻡَ ﺍﻟْﻜَﺎﺗِﺒ۪ﻴﻦَ ﺗَﻨَﺰَّﻟُﻮﺍ ﻋَﻠٰﻰ ﻗَﻠْﺒِﻪ۪ ﻭَﺣْﻴًﺎ ﺑِﻤَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺻَﺤ۪ﻴﻔَﺔٍ

Habib} dua tujuan dan hikmah dikejar melalui mukjizat para nabi:

Pertama:

Membuat masyarakat membenarkan dan menerima kenabian mereka.

Kedua:

Dengan memperlihatkan contoh-contoh yang diperlukan bagi kemajuan materi kepada manusia, mendorong dan menyemangati mereka mewujudkan hal-hal serupa dengan mukjizat tersebut. Seakan melalui kisah-kisah para nabi, Al-Qur'an Al-Karim menunjuk dasar dan fondasi kemajuan dengan jarinya serta mengingatkan, “Wahai manusia! Mukjizat-mukjizat yang kalian lihat ini merupakan contoh dan teladan. Melalui pertemuan pemikiran dan usaha kalian, kalian akan membuat hal-hal serupa dengan contoh-contoh ini.”

Ya, masa lalu adalah cermin masa depan; penemuan-penemuan yang akan terwujud pada masa depan dibangun di atas dasar dan fondasi yang diletakkan pada masa lalu. Ya, kemajuan masa kini sepenuhnya terwujud di atas ilham yang muncul dari isyarat dan ungkapan ringkas yang diambil dari agama-agama. Ya:

1-

Jam dan kapal pertama diberikan kepada manusia melalui tangan mukjizat.

2-

Dalam menjelaskan nama, sifat, dan ciri seluruh jenis yang dimuat kainat, melalui ribuan cabang ilmu yang muncul dari pertemuan pemikiran manusia, manusia memperoleh mukjizat Nabi Adam yang ditunjukkan ayat

ﻭَﻋَﻠَّﻢَ ﺍٰﺩَﻡَ الْاَسْمَٓاءَ ﻛُﻠَّﻬَﺎ.

3-

Melalui begitu banyak kemajuan yang ditemukan berkat pelunakan dan penggunaan besi, dasar segala keterampilan, manusia memperoleh mukjizat Nabi Dawud yang ditunjukkan ayat

ﻭَﺍَﻟَﻨَّﺎ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﺪ۪ﻳﺪَ.

4-

Melalui kemajuan udara seperti pesawat yang ditemukan dengan pertemuan pemikiran, manusia mendekati mukjizat Nabi Sulaiman yang kecepatannya dijelaskan ayat

ﻏُﺪُﻭُّﻫَﺎ ﺷَﻬْﺮٌ ﻭَﺭَﻭَﺍﺣُﻬَﺎ ﺷَﻬْﺮٌ.

5-

Alat sentrifugal yang mengeluarkan air dari tanah tandus dan berpasir mengambil pelajaran dari tongkat Nabi Musa (as) yang ditunjukkan ayat

ﺍَﻥِ ﺍﺿْﺮِﺏْ ﺑِﻌَﺼَﺎﻙَ ﺍﻟْﺤَﺠَﺮَ.

6-

Kemajuan kedokteran yang muncul berkat percobaan dan pertemuan pemikiran merupakan ilham mukjizat Nabi Isa (as). Sungguh, ada kaitan dan kesesuaian yang sangat besar antara mukjizat-mukjizat itu dan kemajuan ini. Ya, orang yang memperhatikan tanpa ragu memutuskan bahwa mukjizat-mukjizat itu merupakan ukuran dan contoh bagi kemajuan tersebut.

Demikian pula, menurut petunjuk ayat mulia

ﻳَﺎ ﻧَﺎﺭُ ﻛُﻮﻧ۪ﻰ ﺑَﺮْﺩًﺍ وَسَلَامًا,

ketika Nabi Ibrahim dilemparkan ke dalam api, panas api berubah menjadi dingin. Ini merupakan contoh dan sumber bagi tingkat api yang tidak membakar yang ditemukan manusia.

7-

Sebagaimana ditunjukkan ayat

لَوْلَٓا ﺍَﻥْ ﺭَﺍٰ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥَ ﺭَﺑِّﻪ۪

menurut suatu pendapat, Nabi Yusuf (as) segera menjauh dari Zeliha ketika melihat gambaran ayahnya yang berada di Kanaan; dan ketika kafilah kembali dari Mesir, Nabi Yaqub berkata

ﺍِﻧّ۪ﻰ لَاَجِدُ ﺭ۪ﻳﺢَ ﻳُﻮﺳُﻒَ,

yakni “Aku mencium aroma Yusuf”; serta ayat mulia

ﺍَﻧَﺎ ﺍٰﺗ۪ﻴﻚَ ﺑِﻪ۪ ﻗَﺒْﻞَ ﺍَﻥْ ﻳَﺮْﺗَﺪَّ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻃَﺮْﻓُﻚَ

menunjuk perkataan seorang ifrit kepada Nabi Sulaiman, “Aku akan membawa takhta Bilqis sebelum engkau mengedipkan mata.” Semuanya merupakan contoh dan sumber bagi penemuan manusia yang telah atau akan dibuat, seperti mendatangkan suara, gambar, dan sebagainya dari jarak sangat jauh.

8-

Ayat mulia

ﻋُﻠِّﻤْﻨَﺎ ﻣَﻨْﻄِﻖَ ﺍﻟﻄَّﻴْﺮِ

yang bermakna “Kami Mengajarkan bahasa burung kepada Nabi Sulaiman” merupakan sumber bagi berbicaranya alat dan hewan dari penemuan manusia, seperti radio, burung beo, dan merpati, serta penggunaannya dalam pekerjaan penting.

Demikianlah, terdapat banyak mukjizat yang belum dapat ditemukan manusia; pada masa depan mereka akan berhasil menemukannya sedikit demi sedikit.

Susunan ayat ini pun, seperti ayat-ayat serupa, memiliki tiga segi:

Segi Pertama:

Hubungannya dengan ayat sebelumnya. Penjelasannya:

1-

Terhadap keberatan malaikat mengenai penciptaan manusia, ayat sebelumnya memberikan jawaban umum yang mudah dipahami dan meyakinkan. Ayat ini memberikan jawaban terperinci yang meyakinkan orang awam maupun orang khusus.

2-

Ayat sebelumnya menegaskan persoalan kekhalifahan manusia; ayat ini membuktikan pengakuan kekhalifahan melalui mukjizat yang ditampilkan manusia di hadapan malaikat.

3-

Ayat sebelumnya menunjuk pengutamaan manusia atas malaikat; ayat ini menunjuk alasan pengutamaan tersebut.

4-

Ayat sebelumnya menunjukkan bahwa manusia menerima kekhalifahan agung di bumi; di sini ia ditampilkan sebagai salinan menyeluruh yang menerima semua Tajalli. Sebab, ia memiliki beragam kesiapan serta banyak jalan ilmu dan manfaat. Ya, melalui indra dan perasaan lahir serta batinnya, khususnya nuraninya yang kedalamannya tidak berakhir, manusia memiliki kemampuan yang meliputi kainat.

Segi Kedua:

Hubungan kalimat-kalimat satu sama lain.

Penjelasannya: Kalimat

ﻭَﻋَﻠَّﻢَ ﺍٰﺩَﻡَ الْاَسْمَٓاءَ

meneguhkan kandungan kalimat

ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻣَﺎ لَا ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ,

merinci keringkasannya, dan menjelaskan maknanya yang belum jelas.

Demikian pula, manusia menjadi khalifah di bumi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq untuk menjalankan hukum Allah سُبْحَانَهُ dan menerapkan kaidah⁠-⁠Nya. Ini bergantung pada ilmu yang lengkap.

Demikian pula, dalam ayat pertama, menurut tuntutan arah pembicaraan, diperkirakan susunan berikut: Dia Menciptakan Adam, Menyempurnakan bentuknya, Meniupkan ruh ke tubuhnya, Mendidiknya, kemudian Mengajarkan nama-nama dan Menjadikannya calon khalifah. Ketika Dia Mengutamakan Adam atas malaikat dan Mengistimewakannya dengan ilmu nama-nama dalam hal keunggulan serta kelayakan bagi kekhalifahan, menurut tuntutan konteks Dia Memperlihatkan benda-benda itu kepada malaikat dan Meminta mereka menandinginya. Kemudian malaikat merasakan bahwa mereka tidak berdaya dan mengakui Hikmah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Menunjuk ini, setelah Al-Qur'an Al-Karim mengatakan

ﺛُﻢَّ ﻋَﺮَﺿَﻬُﻢْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻤَﻠٰٓﺌِﻜَﺔِ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺍَﻧْﺒِﺆُﻧ۪ﻰ ﺑِﺎَﺳْﻤَٓﺎﺀِ هٰٓؤُلَٓاءِ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ,

kemudian ﻗَﺎﻟُﻮﺍ, mereka menyesali permintaan penjelasan terdahulu yang dilakukan karena terpengaruh keakuan dan kesombongan iblis, lalu berkata

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ.

Ketika nyata bahwa malaikat tidak berdaya karena kesiapan mereka tidak mencakup semuanya, tuntutan konteks mengharuskan kemampuan Adam dijelaskan agar penandingan itu lengkap. Karena itu, Dia Berfirman kepada Adam dengan sapaan

ﻗَﺎﻝَ ﻳَٓﺎ ﺍٰﺩَﻡُ ﺍَﻧْﺒِﺌْﻬُﻢْ ﺑِﺎَﺳْﻤَٓﺎﺋِﻬِﻢْ.

Ketika persoalan menjadi jelas dan rahasia hikmah tampak, tuntutan konteks mengharuskan jawaban ringkas terdahulu dijadikan hasil penjelasan terperinci ini. Karena itu,

ﻗَﺎﻝَ ﺍَﻟَﻢْ ﺍَﻗُﻞْ ﻟَﻜُﻢْ ﺍِﻧّ۪ٓﻰ ﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻏَﻴْﺐَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﺍَﻋْﻠَﻢُ ﻣَﺎ ﺗُﺒْﺪُﻭﻥَ ﻭَﻣَﺎ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﻥَ,

yakni “Aku Mengetahui apa yang kalian sembunyikan.”

Dari percakapan dan dialog ini dipahami bahwa keakuan dan kesombongan iblis menjalar kepada malaikat, dan keberatan suatu kelompok ikut bercampur dalam permintaan penjelasan mereka.