Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kedua:

Isyarat-Isyarat Kemukjizatan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kedua:

Meskipun mungkin bagi mereka untuk menerima jawaban keselamatan dengan menundukkan kepala, bermusyawarah dengan nurani, serta menanyakan jalan yang benar dan kebenaran, sikap keras kepala dalam kalbu mereka menarik lidah mereka ke dalam seperti ayam yang disembelih, menghalangi mereka berbicara, menyesal, dan bertobat. Untuk mengisyaratkan tertutupnya pintu ini, Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan ﺑُﻜْﻢٌ. Dari isyarat ini terdapat petunjuk tersirat bahwa lidah mereka dicabut dan dibuang, serta mulut mereka tersisa pada wajahnya seperti lubang buruk yang berbau, seperti sarang lalat.

Ketiga:

Meskipun mungkin bagi mereka kembali kepada kebenaran dengan melihat dalil-dalil dari dalam dan luar melalui pandangan yang mengambil pelajaran, kelalaian mereka meletakkan tangan pada mata dan kebutaan menutup kelopak, sehingga mereka kembali tidak memperoleh keselamatan. Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan ini dengan mengatakan ﻋُﻤْﻰٌ. Artinya, mereka menghadapkan kepada khayal dua gua buruk dan menakutkan pada kepala mereka, yang menyerupai kepala setan yang matanya dicungkil untuk membangun sarang bagi setan-setan.

Keempat:

Meskipun mungkin bagi mereka menyesal dan bertobat dengan memandang keadaan mereka yang kotor serta buruk, karena keadaan-keadaan buruk yang mereka lakukan tampak indah di mata mereka melalui bujukan setan yang bergabung dengan hawa nafsu serta tuntutan fitrah mereka yang rusak, mereka tidak dapat meninggalkannya. Dengan mengatakan

ﻓَﻬُﻢْ لَا ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ,

Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan ini pula: harapan terakhir mereka juga kandas, dan mereka adalah manusia-manusia malang yang masuk ke lautan pasir melalui pilihan sendiri, lalu tidak dapat keluar lagi melalui pilihan sendiri.

Perumpamaan kedua:

ﺍَﻭْ ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ ﻭَ ﺭَﻋْﺪٌ ﻭَ ﺑَﺮْﻕٌ ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ ﻓ۪ٓﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﻋِﻖِ ﺣَﺬَﺭَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ ﺑِﺎﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ٭ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕُ ﻳَﺨْﻄَﻒُ ﺍَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻛُﻠَّﻤَٓﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺸَﻮْﺍ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻇْﻠَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﺬَﻫَﺐَ ﺑِﺴَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﻭَﺍَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

“Atau keadaan orang-orang munafik seperti keadaan orang-orang yang sedang bepergian yang terkena hujan deras dan berbadai dari langit. Di dalam hujan itu terdapat gelap, gemuruh, dan kilat yang menambah derasnya. Dengan menyambarnya kilat, karena takut mati mereka memasukkan jari ke telinga. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah meliputi orang-orang kafir dengan Kudrat⁠-⁠Nya. Tidak ada yang terbebas dari hukuman kekufuran. Kilat yang menyambar begitu kuat sehingga hampir membutakan mata. Ketika sekeliling diterangi sambaran kilat, mereka berjalan. Ketika gelap turun, mereka berhenti. Jika demikian Masyîah Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Dia akan Mengambil telinga dan mata mereka. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Dalam ayat ini terdapat tiga pokok yang akan dijelaskan:

Pertama:

Sisi keterkaitan ayat ini dengan bagian sebelumnya.

Kedua:

Sisi keteraturan di antara kalimat-kalimatnya.

Ketiga:

Tatanan dalam bentuk, bagian, dan kata-kata kalimat.

Ya, tatanan dan keterkaitan di antara kalimat-kalimat ayat ini persis seperti keterkaitan di antara jarum-jarum yang menghitung detik, menit, dan jam.

Pertama-tama, sisi yang mengaitkan ayat ini dengan ayat sebelumnya:

Untuk menggambarkan keadaan orang-orang munafik, Al-Qur'an Al-Karîm mengulang contoh-contoh dan perumpamaan-perumpamaan dengan pemanjangan, yakni ungkapan-ungkapan panjang. Ini muncul karena kengerian dan kebingungan yang mengikuti keadaan orang-orang munafik terbagi dua. Sebab,

Menurut ringkasan perumpamaan pertama,

sebagaimana orang munafik mengetahui dirinya terpisah dari sahabat-sahabatnya dan tinggal sendirian di padang keberadaan, serta terbuang dari masyarakat kainat dan tanpa penjaga, ia juga menganggap segala sesuatu tidak ada. Dalam kesunyian dan ketenangan yang dikepung rasa asing, ia memandang seluruh makhluk sebagai orang asing.

Di antara pandangan orang munafik ini dan pandangan orang beriman terdapat gunung-gunung. Sebab, melalui cahaya iman orang beriman mengetahui seluruh makhluk yang ada sebagai sahabat dan kenalannya. Ia tidak merasa asing terhadap kainat, melainkan memiliki keakraban dan pengenalan yang sempurna dengannya.

Menurut ringkasan perumpamaan kedua,

orang munafik melihat alam dalam bentuk yang membunuh melalui musibahnya, mengancam melalui bencananya, berteriak melalui peristiwanya, dan mengepung melalui kesulitannya, sehingga ia menyangka bahwa seluruh dunia beserta jenis-jenisnya telah bersepakat untuk memusuhinya. Menurut sangkaannya ini, tidak ada sesuatu pun dalam alam yang akan memberinya manfaat. Seluruh benda menentangnya.

Padahal, menurut tuntutan iman, orang beriman bahkan mendengar tasbih dan kabar gembira yang disampaikan kainat.

Demikian pula, pengulangan yang dilakukan Al-Qur'an Al-Karîm dalam perumpamaan mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik terbagi menjadi dua kelompok:

Yang satu: lapisan rendah dan awam. Perumpamaan pertama sesuai dengan keadaan lapisan ini.

Yang kedua: lapisan yang sombong, angkuh, dan seakan-akan tinggi. Perumpamaan kedua sesuai dengannya. Berarti, pengulangan perumpamaan mengisyaratkan banyaknya bagian.

Kemudian, apa hubungan perumpamaan kedua ini dengan kedudukan pembicaraan menurut pandangan orang-orang munafik?

Ya, orang-orang pada lapisan pertama atau barisan pertama penerima sapaan Al-Qur'an Al-Karîm adalah orang-orang padang pasir yang senantiasa berkelana di padang-padang. Mereka seluruhnya telah melihat kejadian ini atau mendengarnya dari sesama jenisnya. Bahkan, persoalan menyalakan api seperti ini berkaitan dengan pikiran masyarakat umum. Kejadian ini berpengaruh kepada mereka sebesar sebuah peribahasa.

Kemudian, hubungan perumpamaan kedua dengan perumpamaan pertama sangat jelas. Sebab, ia merupakan tambahan yang menyempurnakannya. Bahkan, pada banyak pokok keduanya bersatu.

Kemudian, perumpamaan kedua ini memiliki hubungan dengan keadaan orang-orang munafik melalui lima sisi:

1-

Kedua pihak telah jatuh ke dalam kebingungan sedemikian rupa sehingga jalan-jalan keselamatan tertutup sepenuhnya bagi mereka dan sarana-sarana keselamatan hilang.

2-

Karena kuatnya rasa takut, kedua pihak menyangka seluruh makhluk yang ada sebagai musuh. Bahkan satu menit pun mereka tidak merasa aman dari bahaya kematian.

3- Karena kuatnya kengerian, kedua pihak menjadi seperti orang gila yang kehilangan akal. Bahkan, mereka memperlihatkan keadaan seperti orang-orang bodoh yang ingin menjaga diri dari kematian dengan memejamkan mata ketika melihat kilauan pedang atau menutup telinga ketika mendengar suara senapan, atau yang memperpendek pegas jamnya karena tidak menginginkan terbenamnya matahari. Padahal, dengan menutup telinga atau memejamkan mata mereka tidak dapat terbebas dari gemuruh atau sambaran kilat.

4- Jika matahari, hujan, air, dan cahaya mengenai bunga, semua itu memberikan kehidupan. Jika mengenai tumbuhan, semua itu mendidik dan menumbuhkannya. Jika mengenai sesuatu yang kotor, semua itu menimbulkan bau-bau buruk. Jika menghadap sesuatu yang mati, semua itu menghasilkan bau busuk. Demikian pula, apabila rahmat dan nikmat mengenai tempat-tempat yang layak dan menantikannya, tetapi tidak mengetahui nilainya, keduanya berubah menjadi kesulitan dan petaka.

5- Sebagaimana terdapat hubungan antara makna perumpamaan kedua dan makna kisah orang-orang munafik tanpa memandang bagian-bagiannya, terdapat pula hubungan-hubungan di antara bagian-bagian kedua sisi. Di antaranya: sebagaimana ﺻَﻴِّﺐٍ memberikan kehidupan kepada tumbuhan, Islam pun memberikan kehidupan kepada ruh. Kilat dan gemuruh, yakni janji dan ancaman yang membawa kebaikan dan bahaya, mengisyaratkan Perintah-Perintah Allah سُبْحَانَهُ; gelap mengisyaratkan keraguan kekufuran dan syak kemunafikan.

Kemudian, hubungan-hubungan di antara kalimat-kalimat perumpamaan ini:

Ya, ketika melalui kalimat

ﺍَﻭْ ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ

Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan, “Orang-orang munafik seperti para pelancong di suatu padang sepi, menakutkan, dan asing, pada malam gelap, yang terkena hujan deras, setiap tetesnya bagaikan peluru”, pendengar segera terbangun dan bertanya, “Hei, padahal hujan adalah rahmat yang disukai dan diinginkan, mengapa bagi mereka ia berubah menjadi musibah menakutkan?”

Terhadap pertanyaan itu, dengan menggambarkan kengerian hujan tersebut, Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan ﻓ۪ﻴﻪِ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ. Melalui bentuk jamak ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ, ia memberitahukan bahwa hujan menjadi wadah bagi gelapnya awan, keadaan gelap yang lahir dari lebatnya hujan, dan gelapnya tetes-tetes hitam yang dicurahkan awan, seakan-akan malam pun seperti awan, karena hujan itu meliputi serta turun dalam jumlah banyak.

Kemudian, malam-malam gelap dan berhujan pada umumnya bergemuruh. Pendengar kembali bertanya, “Apakah pada malam mereka ini juga terdapat gemuruh?”

Sebagai jawaban, melalui ﻭَﺭَﻋْﺪٌ Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan bahwa keadaan itu mengerikan dan menakutkan. Seakan-akan langit, yang merupakan raja lahiriah makhluk-makhluk yang ada, memanggil dan berteriak untuk menggiring mereka menuju bencana serta kehancuran. Sebab, seseorang yang mengalami musibah mengerikan membayangkan gerakan-gerakan berbahaya dari seluruh sisi kainat dalam diamnya, dan seruan-seruan menakutkan dari segala sisi dalam kesunyiannya. Selain itu, ketika mendengar gemuruh, ia menyangka teriakannya sebagai seruan yang menentangnya. Sebab, orang yang takut dan berkhianat menyangka setiap seruan menentangnya.

Kemudian, karena terdapat kebersamaan penyebutan antara gemuruh dan kilat, ketika yang satu dibicarakan, yang lainnya pun datang ke pikiran, meskipun sebagai penumpang tanpa undangan, lalu juga dibicarakan.

Melalui hubungan ini, setelah ﺭَﻋْﺪٌ Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan ﻭَﺑَﺮْﻕٌ dan mengisyaratkan melalui ketidaktentuannya bahwa kilat sangat aneh dan menakjubkan. Ya, dengan menyambarnya kilat, alam gelap mati, disingkirkan, dan dilemparkan ke lautan tiada. Dengan matinya kilat secara tiba-tiba, alam gelap kembali hidup dan datang ke medan kebangkitan. Seakan-akan kilat adalah api yang hakikatnya tidak diketahui, yang ketika padam memenuhi seluruh alam dengan asapnya. Orang yang melihatnya perlu memperhatikan dengan mendalam, bukan dengan pandangan dangkal, agar melihat jejak-jejak Keagungan Kudrat.

Kemudian, ketika pendengar mulai berpikir sendiri, “Tindakan apa yang dilakukan orang-orang munafik ketika memasuki jalan buntu musibah ini?”, Al-Qur'an Al-Karîm tidak membiarkannya perlu berpikir, tetapi melalui

ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﻋِﻖِ ﺣَﺬَﺭَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

mengisyaratkan bahwa tidak tersisa perlindungan atau jalan keselamatan bagi mereka.

Bahkan, seperti orang tenggelam yang berlindung kepada sepotong rumput di tengah laut, karena bingung mereka memasukkan seluruh jari, bukan ujung-ujung jari, ke telinga. Seakan-akan musibah mereka memukul tangan mereka dengan cambuk kengerian. Karena sakitnya, mereka pun memasukkan jari bukan ke saku, melainkan karena bingung ke telinga.

Kesimpulannya: Dari gerakan-gerakan bodoh yang mereka lakukan dengan sangkaan akan terbebas dari sambaran petir ini, dapat dipahami siapa mereka.

Kemudian, terlintas dalam pikiran pendengar, “Apakah musibah ini umum atau khusus bagi mereka?” Terhadap ini, Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan

ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ ﺑِﺎﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ.

Artinya, musibah ini merupakan hukuman atas tidak bersyukurnya mereka atas nikmat. Dia Menghukum mereka dengan musibah ini. Sebab, mereka telah keluar dari hukum Ilahi yang ditetapkan bagi masyarakat luas.

Kemudian, ketika pendengar berbicara dengan dirinya, “Tidakkah kilat memberi mereka manfaat untuk mengimbangi kerasnya gemuruh?”, melalui kalimat

ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕُ ﻳَﺨْﻄَﻒُ ﺍَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ

Al-Qur'an Al-Karîm menjawab bahwa kilat tidak memberi mereka manfaat, tetapi justru memperlihatkan kekuatan yang hampir membutakan mata mereka dengan cahayanya. Seakan-akan gemuruh telah menyatakan permusuhan kepada telinga mereka dan kilat kepada mata mereka.

Pendengar melihat bahwa bagian-bagian kainat seperti gemuruh dan kilat bersatu menentang mereka dan saling membantu untuk membinasakan mereka. Ia mulai memikirkan apa yang akan mereka lakukan terhadap ini. Melalui kalimat

ﻛُﻠَّﻤَٓﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺸَﻮْﺍ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻇْﻠَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ,

Al-Qur'an Al-Karîm menjawab dengan mengisyaratkan bahwa dalam lingkup kebingungan, keraguan, dan keadaan bingung, mereka menantikan kesempatan terbatas untuk melihat jalan serta melanjutkan perjalanan. Ketika jalan tampak melalui cahaya kilat, mereka bergerak dengan putus asa seperti yang disembelih, tanpa harapan keberlangsungannya, dan mengambil satu atau dua langkah. Namun, ketika gelap tiba-tiba menguasai, mereka tetap pada tempatnya seakan-akan membeku.

Ketika melihat keadaan ini, pendengar bertanya, “Hei, daripada remuk di bawah begitu banyak azab, bukankah lebih baik mereka tiba-tiba mati dan pergi, atau menjadi tuli serta buta sepenuhnya?”

Melalui kalimat

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﺬَﻫَﺐَ ﺑِﺴَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﻭَﺍَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ,

Al-Qur'an Al-Karîm menjawab kepada sang pendengar, “Mereka tidak berhak terbebas dari azab dan penderitaan melalui kematian. Karena itu, Masyîah Ilahi tidak berkaitan dengan kematian mereka. Jika berkaitan, ia akan berkaitan dengan membutakan mata dan menulikan telinga mereka. Dengan ini pun ia tidak berkaitan. Sebab, biarlah mata dan telinga orang-orang bejat seperti ini, yang keluar dari hukum Ilahi, selalu tetap hidup, agar mereka menikmati mendengar azab dan melihat hukuman.”

Kemudian, ketika Keagungan dan Kudrat Ilahi yang dikandung kisah ini, serta bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menguasai seluruh kainat, khususnya mukjizat-mukjizat gemuruh, kilat, dan awan yang merupakan jejak Kudrat⁠-⁠Nya, tampak dan menjadi pasti bagi pendengar, ia mulai bertasbih: “Betapa besar Kudrat Zat yang kainat merupakan suatu tajalli Kewibawaan⁠-⁠Nya, dan musibah-musibah ini merupakan penundukan Murka⁠-⁠Nya! ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ” Al-Qur'an Al-Karîm pun membenarkannya dengan mengatakan

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ.

Hubungan-hubungan dalam bentuk kalimat-kalimat yang dikandung ayat tersebut:

Ya, dalam ﺍَﻭْ ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ, ﺍَﻭْ mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik terbagi menjadi dua kelompok, yang rendah dan yang tidak rendah. Ia merupakan lambang bahwa kedua perumpamaan sesuai satu sama lain dan cocok dengan keadaan orang-orang munafik. Ia menyiratkan bahwa adanya kemiripan di antara keduanya diketahui dan diakui. Demikian pula, ia mengandung makna kata ﺑَﻞْ, dari antara huruf-huruf penghubung yang menyatakan peningkatan. Sebab, perumpamaan kedua lebih keras daripada yang pertama.

Dalam ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ, ﻙ dimaksudkan untuk menyerupakan orang-orang munafik dengan hujan. Padahal keduanya tidak menyerupai satu sama lain dan tidak sesuai. Maka, hal yang akan menjadi pembanding diperkirakan ada. Tidak disebutkannya dimaksudkan agar lafaz ringkas dan padat. Lafaz yang ringkas dimaksudkan untuk memperluas dan memperpanjang makna. Makna yang diperpanjang ini diserahkan kepada luasnya khayal pendengar, agar jika mampu ia menentukan kalimat-kalimat yang sesuai dengan kedudukan pembicaraan.

Misalnya, ia dapat memperkirakan kalimat panjang seperti

ﺍَﻭْﻛَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺳَﺎﻓَﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﺻَﺤْﺮَٓﺍﺀَ ﺧَﺎﻟِﻴَﺔٍ ﻭَﻟَﻴْﻠَﺔٍ ﻣُﻈْﻠِﻤَﺔٍ ﻓَﺎَﺻَﺎﺑَﺘْﻬُﻢْ ﻣُﺼ۪ﻴﺒَﺔٌ ﺑِﺼَﻴِّﺐٍ

yang sesuai menjadi pembanding bagi orang-orang munafik. Artinya, “Orang-orang munafik seperti para pelancong yang keluar di padang kosong pada malam gelap dan terkena musibah hujan.”

Peringatan: Sebagai pilihan atas kata ﻣَﻄَﺮٌ yang diketahui semua orang, penyebutan kata ﺻَﻴِّﺐٌ yang tidak akrab mengisyaratkan bahwa tetes-tetes hujan itu seakan-akan masing-masing musibah, yang sengaja dilemparkan seperti peluru kepada ruh dan nyawa mereka.

Kemudian, meskipun semua orang mengetahui bahwa hujan turun dari arah langit terbuka, dibatasinya dengan ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ dimaksudkan untuk berlakunya tanpa batasan. Artinya, pengkhususan yang dibuat melalui batasan “langit” dimaksudkan untuk cakupan umum. Ya, dari batasan langit dipahami bahwa hujan itu memenuhi seluruh ufuk langit dan turun secara umum. Tidak ada tempat yang bebas darinya. Ya, dalam kalimat-kalimat

ﻭَﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ وَلَا ﻃَٓﺎﺋِﺮٍ ﻳَﻄ۪ﻴﺮُ ﺑِﺠَﻨَﺎﺣَﻴْﻪِ

pun pembatasan ﺩَﺍﺑَّﺔٍ dengan ﻓِﻰ الْاَرْضِ, serta ﻃَٓﺎﺋِﺮٍ dengan ﻳَﻄ۪ﻴﺮُ dan seterusnya, dimaksudkan untuk berlakunya tanpa batasan serta cakupan umum.

Sebagian orang yang menyandang gelar mufasir menyangka bahwa hal-hal yang turun seperti hujan berasal dari benda langit, lalu menambahkan bahwa di langit terdapat laut besar. Yang membawa mereka kepada sangkaan ini ialah terdapatnya kata ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ pada beberapa tempat dalam Al-Qur'an Al-Karîm. Padahal, menurut orang-orang yang menelaah secara mendalam dan ahli balagah, makna paling sesuai ialah menetapkan bahwa hujan turun dari arah langit, bukan dari benda langit, dengan menyisipkan di antara ﻣِﻦْ dan ﺳَﻤَٓﺎﺀِ lafaz yang diperkirakan ada, yaitu ﺟِﻬَﺔِ.

Selain itu, karena kata langit dapat digunakan bagi segala sesuatu yang berada di atas, awan pun dapat disebut langit. Awan juga termasuk dalam cakupan kata langit.

Bagian ini dapat ditelaah secara mendalam melalui penjelasan berikut:

Jika Keagungan Kudrat Ilahi dipandang, seluruh arah adalah satu. Dari arah mana pun dan dari sesuatu mana pun, turunnya hujan mungkin. Jika Hikmah Ilahi dipandang, turunnya hujan hanya lahir dari pemadatan uap air yang tersebar dalam atmosfer dan membentuk sepersepuluh bagian atmosfer.

Sebab, Hikmah Ilahi telah membentuk tatanan paling indah pada segala sesuatu. Tatanan ini berkhidmah untuk menjaga keseimbangan umum pada benda-benda. Terjaganya keseimbangan ini bergantung pada dipilihnya jalan yang paling dekat, mudah, dan pendek.

Jalan paling pendek tentang persoalan hujan dapat dijelaskan demikian:

Ketika Kehendak Ilahi memerintahkan zarah-zarah uap air yang tersebar dalam lapisan udara, dari segala sisi mereka mulai berkumpul dengan mengatakan “Lebbeyk”. Mereka siap dalam bentuk awan sebagai pelaksana Perintah Kehendak Ilahi. Melalui Perintah Kehendak Ilahi pula, sebagian zarah berubah menjadi tetes-tetes karena kuatnya tekanan dan pemadatan. Kemudian, melalui para malaikat yang disebut wakil hukum dan cermin tatanan, yang diciptakan sesuai dengan tetes-tetes itu, tetes-tetes tersebut turun dan jatuh ke tanah tanpa berdesakan atau bertabrakan. Namun, untuk menjaga keseimbangan dalam ruang udara, tempat-tempat yang kosong karena tetes-tetes yang turun dipenuhi uap yang naik dari laut serta tanah.

Peringatan: Sangkaan bahwa di langit terdapat laut besar muncul karena majas dianggap hakikat. Ya, ruang udara menyerupai warna laut. Dalam atmosfer tersebar air yang lebih banyak daripada samudra. Karena itu, menyerupakan ruang udara dengan laut tidak jauh. Namun, jika dipandang dengan makna hakiki, hal itu salah.

PERTANYAAN:

ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺟِﺒَﺎﻝٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﺩٍ

Menurut lahir ayat mulia, turunnya hujan berasal dari gunung-gunung di langit yang tersusun dari butiran hujan es. Bagaimana penjelasannya?

JAWABAN: Berpegang pada makna lahir suatu ucapan yang tidak sesuai dengan balagah, akal, atau logika, dan tidak beranjak dari lahirnya, merupakan sikap yang beku dan redup. Sebab, sebagaimana kalimat

ﻗَﻮَﺍﺭ۪ﻳﺮَ ﻣِﻦْ ﻓِﻀَّﺔٍ

tentang sifat wadah-wadah makanan di surga mengandung suatu metafora yang indah,

ﻣِﻦْ ﺟِﺒَﺎﻝٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﺩٍ

pun memuat suatu metafora yang indah. Demikianlah:

Karena wadah-wadah surga bukan dari kaca maupun perak, kalimat ini tidak boleh dipahami menurut makna lahirnya. Sebab, wadah-wadah itu tidak dapat disebut “kaca yang dibuat dari perak”, karena tidak ada kesesuaian antara kedua unsur. Melalui

ﻗَﻮَﺍﺭ۪ﻳﺮَ ﻣِﻦْ ﻓِﻀَّﺔٍ,

dengan makna majazi yang dimaksud hanyalah beningnya kaca dan putihnya perak. Artinya, “Wadah-wadah itu bening seperti kaca dan putih seperti perak.”

Demikian pula, kalimat

ﻣِﻦْ ﺟِﺒَﺎﻝٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﺩٍ

mengandung dua metafora. Metafora-metafora ini berdiri di atas khayal puitis pendengar. Khayal ini pun didasarkan pada pertimbangan suatu kemiripan dan keserupaan antara alam bawah dan alam atas.

Artinya, sebagaimana bumi yang disebut alam bawah masuk ke dalam bermacam-macam bentuk pada empat musim, terutama musim semi, mengenakan berbagai pakaian berhias dan bercorak, serta memperlihatkan pemandangan-pemandangan berbeda, langit-langit yang merupakan alam atas pun, terutama melalui awan-awannya, keluar dan masuk dalam keadaan, bentuk, serta warna yang amat aneh dan menakjubkan. Seakan-akan kedua alam saling bersaing.

Dipikirkannya kemiripan dan keserupaan demikian di antara kedua alam ini pun lahir dari membayangkan perlombaan serta persaingan di antaranya. Demikianlah:

Ketika bumi dan langit berhias serta mempersiapkan diri untuk memasuki perlombaan keindahan, pada musim dingin bumi mengenakan pakaian putih yang dibuat dari salju. Pada musim semi, ia membentangkan permadani hijau seperti zamrud pada padang-padangnya, mengenakan mantel bulu hijau pada gunung-gunungnya, dan mengikat serban putih pada kepala mereka. Melalui perubahan dan pemandangan indah ini, ia menghadapkan mukjizat-mukjizat Kudrat Ilahi kepada pandangan Hikmah Ilahi.

Sebagai balasan, ruang langit pun, untuk menampakkan Keagungan Ilahi, memajukan rombongan-rombongan awan yang menyerupai gunung besar, bukit, lembah, dan bentuk hal-hal aneh serta menakjubkan lainnya, juga tumpukan kapas yang diwarnai putih, hitam, dan merah, lalu menghadapkannya kepada pandangan Hikmah.

Karena kemiripan khayali antara kedua alam ini, penyerupaan dan gaya yang dibuat orang Arab bagi awan-awan, terutama pada musim panas, dengan gunung, kapal, kebun, lembah, dan kafilah unta tampak sangat indah dalam pandangan balagah.

Karena itu, berdasarkan kemiripan dan hubungan antara alam atas dan alam bawah, serta dengan demikian antara awan dan gunung, makna balig ayat mulia

ﻭَﻳُﻨَﺰِّﻝُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺟِﺒَﺎﻝٍ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺑَﺮَﺩٍ

hanyalah mengatakan, “Kami menurunkan hujan dari awan-awan di langit yang sebesar gunung dan berwarna seperti butiran hujan es.”

Padahal makna indah yang diterima dalam balagah serta sesuai dengan akal dan logika ini tersedia, berpegang pada lahir ayat lalu menyangka suatu makna cacat seperti “Menurunkan hujan dari benda langit ke bumi, pada jarak lima ratus tahun, dalam waktu dua menit” bukan pekerjaan akal. Hikmah, hemat, dan tiadanya kesia-siaan menolaknya.

Dalam ﻓ۪ﻴﻪِ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ, yang disebutkan untuk memperlihatkan malam para pelancong sebagai menakutkan, didahulukannya ﻓ۪ﻴﻪِ mengisyaratkan bahwa bagi mereka yang gentar karena kuatnya gelap malam penuh musibah itu, seakan-akan gelap banyak malam telah berkumpul dan bergabung dengan gelap malam tersebut.

PERTANYAAN: Karena kata ganti dalam ﻓ۪ﻴﻪِ merujuk kepada ﺻَﻴِّﺐٍ, dipahami bahwa hujan adalah wadah dan gelap adalah isinya. Padahal pernyataannya terbalik: hujan berada dalam gelap.

JAWABAN: Menurut sangkaan para pelancong yang gentar karena banyaknya hujan, seakan-akan ruang ini merupakan kolam penuh hujan, dan zarah-zarah gelap tersebar di antara tetes-tetes hujan tersebut. Berdasarkan sangkaan seperti ini, hujan dapat menjadi wadah dan gelap menjadi isinya.

Adapun penyebutan ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ dalam bentuk jamak mengisyaratkan berbagai keadaan gelap yang lahir dari gelapnya awan, lebat dan umumnya awan, serta lebatnya tetes-tetes hujan.

Tanwin dalam ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ yang menyatakan ketidaktentuan dan ketidaktahuan mengisyaratkan berbagai keadaan gelap yang hakikatnya tidak diketahui para pelancong. Berarti, dengan menjadi tirai bagi pengetahuan mereka, tanwin itu menambahkan satu keadaan gelap lagi. Maka, tanwin ini merupakan penegasan bagi berbagai keadaan gelap yang menjadi tirai pada mata para pelancong.

ﻭَﺭَﻋْﺪٌ ﻭَﺑَﺮْﻕٌ

Artinya, gemuruh dan kilat adalah dua ayat yang sangat jelas, yang menunjukkan Keagungan dan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, yang diserahkan kepada wewenang para malaikat dari alam gaib, yang ditugaskan mengurus serta mengatur awan dan menjadi wakil serta petugas hukum-hukum tatanan dan keteraturan.

Kemudian, karena hasil-hasil secara lahir terkait dengan sebab-sebab, awan terbentuk dengan Izin Ilahi dari uap air yang tersebar di udara. Melalui Hikmah Rabbani, sebagian awan ini membawa listrik negatif dan sebagian membawa listrik positif. Ketika bagian-bagian ini mendekat dan terjadi benturan di antaranya, melalui Kehendak Khâliq lahirlah kilat. Ketika sebagian menyerang dan sebagian melarikan diri, lapisan-lapisan udara bergerak dan bergolak melalui Perintah Rabbani untuk mengisi tempat-tempat tanpa udara di antaranya, lalu lahirlah suara gemuruh, yakni guruh. Namun, berlangsungnya keadaan-keadaan ini berada di bawah suatu tatanan dan hukum, yang diwakili malaikat gemuruh dan kilat.

PERTANYAAN: Dari dihubungkannya gemuruh dan kilat kepada kata “gelap”, dipahami bahwa wadahnya adalah hujan. Padahal wadahnya adalah awan, bukan hujan?

JAWABAN: Karena menurut pendengar yang pingsan akibat kengerian hujan itu dianggap meliputi segala sesuatu, gemuruh dan kilat pun termasuk hal-hal yang dicakup hujan.

PERTANYAAN: Apa yang diisyaratkan oleh penyebutan gemuruh dan kilat dalam bentuk tunggal, berlawanan dengan berbagai keadaan gelap?

JAWABAN: Yang paling menarik pandangan takjub para pelancong ialah berteriaknya langit dan diteranginya makhluk-makhluk yang ada secara tiba-tiba. Keduanya merupakan makna masdar. Makna masdar bersifat tunggal dan diungkapkan melalui bentuk tunggal. Selain itu, baik gemuruh maupun kilat merupakan masing-masing satu jenis ayat samawi yang individunya banyak. Yang dimaksud di sini adalah jenisnya, bukan individunya. Karena itulah keduanya disebutkan dalam bentuk tunggal.

PERTANYAAN: Apa yang diisyaratkan tanwin pada gemuruh dan kilat?

JAWABAN: Entah ia menggantikan suatu sifat yang dihapus. Perkiraan ucapannya ialah

﴾ﺭَﻋْﺪٌ ﻗَﺎﺻِﻒٌ﴿ ﴾ﺑَﺮْﻕٌ ﺧَﺎﻃِﻒٌ﴿.

Atau, ia menyatakan ketidaktentuan dan ketidaktahuan tentang gemuruh serta kilat untuk menyatakan hal itu. Sebab, karena para pelancong telah memejamkan mata dan menutup telinga, mereka belum melihat ataupun mendengarnya, sehingga tidak dapat mengetahuinya.

ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﻋِﻖِ ﺣَﺬَﺭَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ

Kalimat ini merupakan kalimat baru, yakni tidak terikat dengan bagian sebelumnya, tetapi jawaban bagi suatu pertanyaan yang diperkirakan ada. Demikianlah:

Ketika pendengar mendengar kisah perumpamaan kedua ini, tentu bangkit keinginan kuatnya untuk memahami keadaan musibah. Ketika memperoleh pengetahuan dari gambaran Al-Qur'an Al-Karîm, ia juga ingin memahami keadaan para pelancong yang tertimpa musibah serta apa yang mereka lakukan menghadapinya. Dengan mengatakan

ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ ﺍﻟﺦ,

Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan bahwa tidak tersisa perlindungan yang menyelamatkan mereka dan tidak ada jalan selain menutup telinga untuk terbebas dari meriam serta ketapel langit—seperti orang-orang tenggelam yang mengulurkan tangan kepada rumput di laut dengan angan-angan selamat.

PERTANYAAN: Atas dasar apa, berlawanan dengan tuntutan kedudukan pembicaraan, sebagai pengganti ﻳُﺪْﺧِﻠُﻮﻥَ digunakan ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ?

JAWABAN: Ia mengisyaratkan bahwa setelah putus asa untuk mencari dan menemukan sebab-sebab sejati yang menghasilkan keselamatan, para pelancong terpaksa merujuk kepada hal-hal rekaan dan dugaan seperti menutup telinga.

PERTANYAAN: Apa yang diisyaratkan oleh penyebutan ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ dengan bentuk mudhari, yang digunakan untuk menghadirkan kejadian lampau kepada masa kini?

JAWABAN: Karena kengerian yang diberikan kedudukan pembicaraan yang menambah rasa heran ini kepada pendengar, kejadian lampau tersebut dibawa kepada masa kini melalui bentuk mudhari dan digambarkan kepada khayal pendengar, untuk memuaskan keinginannya melihat kejadian para pelancong, meskipun hanya dalam khayal. Demikian pula, meskipun sesekali terputus dan diperbarui, bentuk mudhari menghendaki agar terus berlangsung dan berlanjut. Dari terus berlangsungnya itu terdapat petunjuk tersirat kepada terus berlangsungnya gemuruh awan.

ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ Meskipun yang dapat dimasukkan ke telinga hanya ujung jari, digunakannya ﺍَﺻَﺎﺑِﻊَ yang bermakna jari di sini mengisyaratkan tingkat kebingungan mereka karena rasa heran dan kengerian.

ﻓ۪ﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ Ia mengisyaratkan kuatnya ketakutan yang mereka alami dari suara gemuruh, sehingga jika gemuruh masuk melalui jendela telinga, ruh mereka akan segera lari keluar melalui pintu mulut.

Demikian pula, dalam batasan ini terdapat petunjuk tersirat yang sangat indah dan halus: ketika mereka tidak membuka telinga dan menerima nasihat serta seruan kebenaran yang disampaikan, garis depan telinga dari arah langit dihujani meriam serta ketapel gemuruh dan kilat. Telinga yang dahulu mereka tutup bagi kebaikan kini terpaksa mereka tutup pula bagi keburukan dan azab.

ﺍَﻟْﺠَﺰَﺍﺀُ ﻣِﻦْ ﺟِﻨْﺲِ ﺍﻟْﻌَﻤَﻞِ

Ya, karena pencurian dilakukan dengan tangan, tangan dipotong. Karena ucapan buruk disampaikan dengan mulut, mulut dipukul. Ia pun meletakkan tangan kanan pada mulut karena menyesal dan tangan kiri pada mata karena malu.

ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﻋِﻖِ Untuk mengisyaratkan bahwa gemuruh dan kilat bersatu membahayakan para pelancong, cukup disebutkan petir, yang hanya merupakan sifat kilat, dan sifat gemuruh ditinggalkan. Selain itu, karena petir berupa suara keras dan api yang membakar, ia juga mengandung bunyi gemuruh. Dari sisi ini, berarti sifat gemuruh pun disebutkan.

ﺣَﺬَﺭَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ Artinya, pertahanan menggelikan yang dilakukan para pelancong dengan jari terhadap petir bukan karena takut mengenai harta, anak, dan barang lainnya. Ia hanya karena takut kematian yang akan menyerahkan nyawa mereka kepada neraka. Sebab, pisau musibah telah mencapai tulang. Mereka tidak dapat bersedih dan memikirkan hal-hal lain, tetapi hanya memikirkan kematian serta menjaga kehidupan.

ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ ﺑِﺎﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ

Hubungan kata-kata dalam kalimat ini satu sama lain dan butir-butir hikmah yang dinyatakannya:

Ya, ﻭ merupakan alat yang menghubungkan dua hal yang memiliki hubungan. Di sini tidak tampak hubungan antara bagian sebelumnya dan sesudahnya. Hanya dengan memandang hubungan di antara perumpamaan pertama dan kedua, ia mengingatkan beberapa kalimat berantai demikian:

Sebagaimana mereka melarikan diri dari tempat-tempat ramai, membenci kehidupan kota, dan menentang hukum bahwa malam merupakan waktu istirahat, dengan tidak mematuhi nasihat mereka terdampar di padang-padang seakan-akan keselamatan mereka berada di gurun. Pada akhirnya, dengan mengalami kekecewaan dan kerugian, mereka dikepung serta mengalami bencana dari Allah سُبْحَانَهُ.

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ Kata yang diberkahi ini mengisyaratkan terputusnya harapan serta permohonan terakhir mereka. Sebab, orang yang tertimpa musibah memperoleh penghiburan dengan berlindung kepada Belas Kasih Allah سُبْحَانَهُ pada awal dan akhir. Karena itu, orang yang berhak menerima Penundukan serta Murka Allah سُبْحَانَهُ tentu dan pasti terputus harapan serta permohonannya akan keselamatan.

Kata ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ mengisyaratkan bahwa musibah-musibah yang mengepung mereka merupakan jejak Keagungan Allah سُبْحَانَهُ. Artinya, sebagaimana langit, awan, hujan, dan malam menyerang mereka dari keenam arah, Murka serta bencana-bencana Allah سُبْحَانَهُ juga meliputi mereka dari segala sisi. Demikian pula, jika Ilmu dan Kudrat Allah سُبْحَانَهُ yang meliputi seluruh kainat serta Perintah-Perintah⁠-⁠Nya yang mencakup seluruh zarah dihadirkan di depan mata, dari kata ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ mulai memancar peringatan berikut:

“Wahai orang-orang kafir! Kalian tidak dapat keluar dari langit dan bumi. Di dalamnya, ke mana pun kalian melarikan diri, di sana Allah سُبْحَانَهُ Hadir dan Melihat dengan Ilmu serta Kudrat⁠-⁠Nya.”

ﺑِﺎﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ Kata ini dikaitkan kepada lafaz ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ melalui huruf jar ﺏ, mengisyaratkan bahwa orang-orang kafir yang melarikan diri dari Murka Allah سُبْحَانَهُ kembali bertemu Murka Allah سُبْحَانَهُ dan menjadi sasaran panah-panah musibah.

Adapun sebutan ﻛَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ membawa tiga isyarat:

1- Untuk menjamin bahwa pendengar tidak lalai dari yang diperumpamakan dan dari tujuan karena sibuk dengan perumpamaan, dengan memperlihatkan yang diperumpamakan, yakni orang-orang munafik, di dalam perumpamaan.

2- Ia mengisyaratkan bahwa karena kuatnya kemiripan pada tingkat paling akhir antara perumpamaan dan yang diperumpamakan, yakni keadaan pelancong dan orang munafik, masing-masing dapat menyandang sifat, gelar, dan nama keluarga pihak lainnya.

3- Ia mengisyaratkan bahwa, seperti kalbu orang-orang kafir, kalbu mereka pun berada dalam gelap dan azab. Sebab, karena kejahatan serta kesalahan yang mereka lakukan, nurani mereka pun tidak berhenti mengazab mereka. Ya, nurani seseorang yang melihat hukuman kejahatan yang dilakukannya sendiri tidak dapat tenteram.

ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕُ ﻳَﺨْﻄَﻒُ ﺍَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ

Hubungan kata-kata dalam kalimat ini dengan tempat yang ditempatinya, serta isyarat-isyarat yang dibawa masing-masing:

Ya, pertama-tama kalimat ini merupakan kalimat baru, yakni tidak terikat dengan bagian sebelumnya. Dimulainya sebagai kalimat baru merupakan jawaban bagi suatu pertanyaan yang diperkirakan ada.

PERTANYAAN: Kilat adalah api bercahaya yang menyingkirkan gelap. Tidakkah mereka memanfaatkan cahayanya?

JAWABAN: Melalui kalimat ini, Al-Qur'an Al-Karîm menjawab pertanyaan yang diperkirakan ada itu: jangankan memperoleh kegunaan serta manfaat, mereka justru takut terhadap bahaya dan bencana kilat.

Makna yang ditunjukkan kata ﻳَﻜَﺎﺩُ, yang menyatakan kedekatan, dalam kalimat ini ialah: meskipun sebab-sebab yang akan merenggut dan membutakan mata mereka ada, entah bagaimana, karena suatu penghalang, mereka belum menjadi buta.

Dalam kata ﻳَﺨْﻄَﻒُ, yang menyatakan makna merenggut, terdapat balagah yang sangat indah dan halus. Demikianlah:

Cahaya yang dikirim mata untuk mengambil dan membawa bentuk-bentuk benda, sebelum mencapai benda dalam perjalanan, tiba-tiba terkena sambaran kilat. Seperti burung perenggut, kilat mengambil cahaya itu dan membawanya pergi. Atau, ketika sinar mata mengambil dan membawa bentuk benda, kilat yang berkedudukan sebagai mata malam menyerang dengan kecepatan sempurna, mengambil bentuk-bentuk itu dari tangannya, dan membawanya pergi. Seakan-akan kilat yang memperlihatkan benda dengan menyingkirkan gelap tidak rela orang-orang bejat itu melihat benda, sehingga merenggut bentuk-bentuk tersebut dari sinar mata.

Sebagai pilihan atas kata ﻋُﻴُﻮﻥٌ, nama ﺍَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ disebutkan untuk menyingkap niat serta perbuatan buruk dalam pandangan batin dan kalbu orang-orang munafik dengan mengingatkan perbuatan mereka yang menunjukkan kebutaan terhadap bukti-bukti pasti yang dijelaskan Al-Qur'an. Sebab, mata adalah cermin kalbu. Apa yang tersimpan dalam kalbu tampak pada mata.

ﻛُﻠَّﻤَٓﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺸَﻮْﺍ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻇْﻠَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ

Isyarat-isyarat kata yang membentuk ayat ini:

Ya, pertama-tama kalimat ini kembali merupakan kalimat baru dan tidak berkaitan dengan bagian sebelumnya. Ia hanya menjawab pertanyaan berikut yang terlintas dalam pikiran pendengar:

PERTANYAAN: Musibah mereka berubah dan beragam. Bagaimana keadaan mereka dalam kedua kondisi itu?

JAWABAN: Melalui kalimat ini, Al-Qur'an Al-Karîm menghilangkan keraguan pendengar tersebut dengan mengatakan, “Ketika jalan mereka tampak melalui cahaya kilat, mereka berjalan. Ketika gelap turun, mereka berhenti.”

PERTANYAAN: ﻛُﻠَّﻤَﺎ merupakan partikel yang menyatakan cakupan menyeluruh dan keberlangsungan, yakni sifat umum dan kelanjutan. Adapun ﺍِﺫَﺍ tidak menyatakan sifat umum atau kelanjutan. Dari sisi ini, atas dasar apa ﻛُﻠَّﻤَﺎ digunakan pada penerangan kilat, sedangkan ﺍِﺫَﺍ digunakan ketika gelap turun?

JAWABAN: Untuk mengisyaratkan bahwa karena mereka sangat menginginkan dan memerlukan cahaya, mereka menganggap cahaya paling sedikit pun sebagai kesempatan dan tidak ingin melewatkannya, pada cahaya digunakan ﻛُﻠَّﻤَﺎ.

Dalam ﺍَﺿَٓﺎﺀَ ﻟَﻬُﻢْ, dari huruf ﻝ yang menunjukkan sebab dan manfaat, dipahami bahwa orang yang tertimpa musibah sampai hampir pingsan tidak memikirkan sesuatu selain hal-hal yang berkenaan dengan dirinya. Bahkan, ia menyangka bahwa manfaat cahaya yang disebarkan Kudrat Ilahi kepada kainat demi ribuan Hikmah sepenuhnya miliknya dan dikirim untuk dirinya.

Meskipun menurut tuntutan keadaan dan kedudukan pembicaraan, karena cahaya tidak berkelanjutan mereka semestinya melanjutkan jalan dengan berjalan cepat, ungkapan ﻣَﺸَﻮْﺍ yang menyatakan berjalan biasa tanpa kecepatan mengisyaratkan bahwa mereka tidak mampu berjalan cepat karena kelemahan yang lahir dari kuatnya musibah.

PERTANYAAN: Sebagaimana manusia berjalan di tanah, mereka pun seharusnya berjalan di tanah. Namun, karena kata ganti dalam ﻓ۪ﻴﻪِ merujuk kepada cahaya, dipahami bahwa mereka berjalan dalam cahaya?

JAWABAN: Karena mereka tidak mungkin berjalan di luar cahaya, seakan-akan jarak serta ruang gerak mereka terbatas hanya pada cahaya.

Dalam ﻭَﺍِﺫَﺍ, ﻭ mengisyaratkan bahwa gelap kedua dihubungkan dan ditambahkan untuk memperbarui musibah gelap yang sebelumnya dialami para pelancong.

Adapun sifat terbatas dan sedikit yang dinyatakan ﺍِﺫَﺍ mengisyaratkan bahwa karena kuatnya kebencian serta kebutaan para pelancong terhadap gelap, mereka tidak menghadirkan gelap dalam pikiran. Namun, ketika terus menantikan kesempatan bagi cahaya, tiba-tiba mereka mengalami serangan gelap.

Dinisbatkannya ﺍَﻇْﻠَﻢَ kepada kilat mengisyaratkan bahwa gelap yang menyerang setelah cahaya kilat lebih keras daripada berbagai keadaan gelap lain.

Demikian pula, menurut bayangan para pelancong yang tertimpa musibah, terdapat petunjuk khayali bahwa seluruh gelap yang memenuhi ruang ini setelah cahaya kilat seakan-akan asap yang timbul dari padamnya api kilat.

Dalam ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ, kata ﻋَﻠٰﻰ yang digunakan untuk bahaya mengisyaratkan bahwa musibah gelap bukan kebetulan, melainkan hukuman amal mereka. Ia merupakan lambang bahwa para pelancong yang tertimpa musibah membayangkan berbagai keadaan gelap yang memenuhi ruang ini dikirim untuk menyasar dan membahayakan mereka dari antara seluruh manusia.

Meskipun ketika gelap turun mereka semestinya berhenti tenang dan tidak bergerak, ungkapan ﻗَﺎﻣُﻮﺍ yang bermakna “mereka berdiri” mengisyaratkan bahwa karena kuatnya musibah dan banyak bergulat dengannya, pada pinggang mereka muncul lengkungan yang menyerupai posisi rukuk, lalu karena gentar menghadapi serangan gelap yang tiba-tiba, mereka meluruskan pinggang seperti orang yang berdiri dan melarikan diri.

ﻭَﻟَﻮْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﺬَﻫَﺐَ ﺑِﺴَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﻭَﺍَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ

Isyarat-isyarat kata dalam kalimat ini:

Ya, setelah pada kalimat-kalimat sebelumnya disebutkan sebab-sebab yang sifatnya membutakan mata dan menulikan telinga, dalam kalimat ini hasil-hasil dikaitkan kepada Masyîah Ilahi. Huruf ﻭ yang menghubungkannya kepada kalimat-kalimat sebelumnya mengisyaratkan bahwa yang bertindak di balik tirai sebab-sebab hanyalah tangan Kudrat, dan yang mengawasi seluruh sebab serta dasar hanyalah pandangan Hikmah.

ﻟَﻮْ Silogisme bersyarat yang dikandung kata ini dapat digambarkan demikian: tidak adanya Masyîah Ilahi merupakan sebab tidak lenyapnya pendengaran dan penglihatan. Tidak lenyapnya pendengaran dan penglihatan pun merupakan dalil dan sebab untuk memberitahukan tidak adanya Masyîah itu.

Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa seluruh sebab selain Masyîah Ilahi telah lengkap, dan hanya dengan berkaitannya Masyîah Ilahi pekerjaan mata serta telinga mereka akan berakhir.

Ungkapan ﺷَٓﺎﺀَ menunjukkan bahwa yang mengaitkan hasil-hasil kepada sebab-sebab adalah Masyîah serta Kehendak Ilahi. Maka, daya pengaruh adalah milik Kudrat. Adapun sebab-sebab adalah tirai-tirai yang diletakkan agar dalam pandangan lahir tidak tampak keterlibatan tangan Kudrat secara langsung dengan urusan-urusan rendah.

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ Penyebutan lafaz jalalah secara tegas, dengan menghardik dan melarang masyarakat memberi perhatian berlebihan kepada sebab-sebab, mengajak pikiran untuk melihat tangan Kudrat yang bertindak di balik tirai sebab-sebab.

Dibiarkannya kata kerja ﺷَٓﺎﺀَ mutlak tanpa dibatasi suatu objek mengisyaratkan bahwa Masyîah serta Kehendak Ilahi tidak terpengaruh oleh keadaan kainat dan bahwa makhluk-makhluk yang ada tidak memiliki pengaruh terhadap Sifat-Sifat Ilahi. Artinya, sebagaimana kehendak manusia dan sifat-sifat lainnya terpengaruh oleh keadaan makhluk yang ada, seperti indah dan buruk, besar dan kecil, Sifat-Sifat Ilahi tidak dapat terpengaruh. Menurut Sifat-Sifat Ilahi, semuanya sama.

Dari ﺫَﻫَﺐَ yang menyatakan membawa pergi, dipahami bahwa sebab-sebab tidak menguasai dan mendominasi hasil-hasil. Artinya, ketika sebab-sebab disingkirkan, tidak ada kemungkinan hasil-hasil yang berdiri dan terkait dengannya jatuh ke lautan tiada. Tangan Kudrat yang hadir di balik sebab-sebab menjaga hasil-hasil itu. Hikmah Ilahi, menurut hukum keseimbangan dan tatanan, mengirimkannya ke tempat-tempat lain dan tidak mengabaikannya. Ya, ketika panas merusak susunan air dengan mendidihkannya, uap di dalamnya tidak pergi menuju tiada, tetapi menurut tatanan udara digiring melalui jalur tertentu menuju tempat tertentu.

Demikian pula, dari ungkapan ﺫَﻫَﺐَ dipahami bahwa indra-indra yang disebut “lima indra” tidak lahir dari alam dan tidak pula harus melekat pada organ telinga serta mata. Indra-indra itu hanyalah hadiah yang Dianugerahkan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Adapun daging telinga dan mata ini hanyalah syarat-syarat biasa.

Demikian pula, dari datangnya ﺫَﻫَﺐَ bersama huruf jar ﺏ dipahami bahwa ketika hasil-hasil terpisah dari sebab-sebab, mereka tidak dibiarkan tanpa kendali, tetapi kembali ditempatkan di bawah suatu tatanan. Sebab, ﺫَﻫَﺐَ ﺑِﻪ۪ menyatakan makna “membawa pergi bersama”. Telah diketahui bahwa sesuatu yang dibawa pergi bersama tidak dapat dibiarkan tanpa pemilik dan tanpa kendali.

Peringatan: Penyebutan pendengaran sebagai tunggal dan penglihatan sebagai jamak mengisyaratkan bahwa yang didengar satu, sedangkan yang dilihat banyak. Ya, ucapan-ucapan masuk ke telinga dan didengar satu per satu. Namun, banyak hal dapat tampak pada mata sekaligus.

ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

Butir-butir hikmah dan isyarat dalam kalimat ini:

Ya, pertama-tama kalimat ini merupakan penutup dan ringkasan untuk menegaskan kengerian yang menguasai orang-orang munafik serta para pelancong. Dari ringkasan ini dipahami bahwa, sebagaimana keadaan para pelancong sepenuhnya menggambarkan keadaan orang-orang munafik dan setiap keadaan mereka tampak dalam keadaan para pelancong, tindakan Kudrat Ilahi pun terlihat pada setiap zarah serta setiap keadaan.

Sebagaimana ﺍِﻥَّ yang menyatakan penegasan menunjukkan bahwa ketetapan yang dimasukinya termasuk hakikat yang tetap dan tidak terguncang, ia juga melalui lambang memperlihatkan keagungan, keluasan, dan kehalusan persoalan serta bahwa umat manusia lemah, tidak mampu, dan terbatas dalam persoalan-persoalan semacam ini. Sebab, prasangka-prasangkalah yang menghasilkan keraguan dalam persoalan-persoalan yang pasti seperti ini. Yang melahirkan prasangka adalah kelemahan, ketidakmampuan, dan kekurangan. Semua ini adalah sifat-sifat yang diaduk bersama tabiat manusia.

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ Penyebutan lafaz jalalah secara tegas di sini mengisyaratkan dalil yang membuktikan ketetapan dalam kalimat ini. Sebab, Kudrat yang seluruh makhluk berada di bawah pengaturannya dan dalam lingkup cakupannya merupakan konsekuensi Keilahian, seperti sifat-sifat lainnya.

Dari kata ﻋَﻠٰﻰ dipahami bahwa Kudrat yang mengeluarkan benda-benda dari tiada tidak membiarkannya terabaikan dan tanpa kendali, tetapi mendidiknya di bawah pengawasan serta pemeliharaan Hikmah.

Dari partikel ﻛُﻞِّ dipahami bahwa seluruh hasil sebab-sebab dan hasil-hasil yang mengikuti perbuatan dengan pilihan, yang disebut hasil dari masdar, sepenuhnya terkait dengan Kudrat.

Karena penyebutan sesuatu yang ada sebagai “sesuatu” dan makhluk-makhluk yang ada sebagai “benda-benda” lahir dari keterkaitan Masyîah Ilahi, dari ungkapan ﺷَﻰْﺀٍ dipahami bahwa bahkan setelah benda-benda terwujud, hubungan mereka dengan Sang Pembuat tidak terputus. Untuk tetap berlangsung, yang berupa berulangnya wujud, mereka selalu memerlukan Sang Pembuat.

Sebagai pengganti kata ﻗَﺎﺩِﺭٌ, dari bentuk ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ yang menyatakan keteguhan dan keberlangsungan dipahami bahwa Kudrat tidak terbatas menurut ukuran hal-hal yang berada dalam Kuasa⁠-⁠Nya; lingkup pengaturannya sangat luas. Kudrat bersifat zatiah dan tidak menerima perubahan. Kudrat merupakan sifat yang melekat, tidak memiliki kemungkinan bertambah atau berkurang. Kudrat menjadi rujukan dan neraca sifat-sifat perbuatan seperti “Razzâq, Ghaffâr, Muhyî, Mumît”.

ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻭَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ الْاَرْضَ ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺑِﻨَٓﺎﺀً ﻭَﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ ﺑِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟَﻜُﻢْ فَلَا ﺗَﺠْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻭَ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Artinya, “Wahai manusia! Beribadahlah kepada Rabb kalian, Yang Menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar mencapai tingkat takwa. Beribadahlah pula kepada Rabb kalian, Yang Menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap bangunan kalian, serta Menurunkan air dari langit agar Mengeluarkan buah dan makanan lainnya dari bumi sebagai rezeki bagi kalian. Maka, jangan menjadikan yang serupa dan sekutu bagi Allah سُبْحَانَهُ. Kalian mengetahui bahwa tidak ada sesembahan dan pencipta kalian selain Allah سُبْحَانَهُ.”