Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PERTANYAAN:

Isyarat-Isyarat Kemukjizatan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

PERTANYAAN:

Bagaimana penjelasan bahwa kalimat ini merupakan penegasan atau pengganti bagi kalimat ﺍِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ?

JAWABAN:

Ya, kalimat

ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺅُﻥَ

berkenaan dengan pengkhianatan terhadap kebenaran dan hakikat, serta terhadap ahli kebenaran dan hidayah. Telah diketahui bahwa dari sini muncul penghormatan kepada kesesatan dan ahli kesesatan. Ini adalah makna kalimat ﺍِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ. Berarti, makna kedua kalimat adalah satu, atau saling menegaskan.

Adapun penjelasan bahwa ia merupakan jawaban bagi suatu pertanyaan yang diperkirakan ada:

Ya, seakan-akan dari setan-setan mereka datang pertanyaan demikian: “Hei, seandainya kalian bersama kami dan berada pada jalan kami, kalian tidak akan menyetujui orang-orang beriman. Entah kalian telah beralih kepada mazhab mereka, atau kalian tidak memiliki mazhab tertentu.” Terhadap pertanyaan ini, sebagaimana melalui

ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺅُﻥَ

mereka menyatakan secara tegas bahwa mereka bukan kaum Muslim, melalui ﺍِﻧَّﻤَﺎ yang menyatakan pembatasan mereka juga mengisyaratkan bahwa mereka bukan termasuk orang yang tidak memiliki mazhab tertentu.

Demikian pula, ucapan ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺅُﻥَ dalam bentuk isim fa'il yang menyatakan keberlangsungan mengisyaratkan bahwa ejekan mereka terhadap orang-orang beriman merupakan sifat tetap mereka, bukan sifat yang datang kemudian.

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺴْﺘَﻬْﺰِﺉُ ﺑِﻬِﻢْ

Artinya, “Allah سُبْحَانَهُ Mengejek mereka.”

Sebab-sebab kalimat ini disebutkan tanpa dihubungkan kepada kalimat-kalimat sebelumnya:

Ya, jika dihubungkan, ia akan dihubungkan kepada kalimat

ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣُﺴْﺘَﻬْﺰِﺅُﻥَ.

Ini mengharuskan kalimat ini juga menjadi penegasan bagi kalimat ﺍِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ.

Atau, ia akan dihubungkan kepada kalimat ﺍِﻧَّﺎ ﻣَﻌَﻜُﻢْ. Ini menghendaki bahwa kalimat ini merupakan salah satu ucapan mereka.

Atau, ia akan dihubungkan kepada ﻗَﺎﻟُﻮﺍ. Ketika itu, ejekan Allah سُبْحَانَهُ terhadap mereka akan dibatasi pada waktu mereka menyendiri. Padahal ejekan Allah سُبْحَانَهُ berkelanjutan.

Atau, ia akan dihubungkan kepada kalimat ﻭَﺍِﺫَﺍ ﻟَﻘُﻮﺍ. Ini mengharuskan tujuan dari kedua pihak, yakni yang dihubungkan dan yang menjadi tempat penghubungannya, satu. Padahal kalimat pertama menjelaskan perbuatan mereka, sedangkan kalimat kedua mengenai hukuman mereka. Berarti, karena tidak ditemukan tempat penghubungan yang sesuai dan bebas dari keberatan, ia dijadikan kalimat baru, yakni tidak terkait dengan bagian sebelumnya, sebagai jawaban bagi suatu pertanyaan yang diperkirakan ada.

Ya, keburukan orang-orang munafik telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga setiap ruh yang mengetahui keadaan mereka terpaksa bertanya, “Apakah hukuman orang-orang yang begitu buruk ini? Apakah hukuman mereka akan diberikan?”

Melalui kalimat

ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻳَﺴْﺘَﻬْﺰِﺉُ ﺑِﻬِﻢْ,

Al-Qur'an Al-Karîm menjawab pertanyaan yang diperkirakan ada ini.

Berarti, dimulainya kalimat ini sebagai kalimat baru lebih penting daripada dihubungkannya.

Kemudian, meskipun menurut tuntutan kedudukan pembicaraan orang-orang beriman semestinya membalas ejekan mereka, balasan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengisyaratkan pemuliaan serta kasih sayang kepada orang-orang beriman, sekaligus untuk menghardik dan melarang orang-orang munafik dari mengejek. Sebab, orang-orang yang bersandar kepada 'Allâmul-Ghuyûb tidak dapat diejek.

Kemudian, karena mengungkapkan penghukuman dan pengazaban Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dengan ejekan tidak sesuai dengan sifat Keilahian, yang dimaksud adalah perendahan yang merupakan konsekuensi ejekan.

Pertanyaan:

Apa hikmah bahwa, meskipun ejekan orang-orang munafik dalam bentuk isim fa'il yang menyatakan keberlangsungan, ejekan balasan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dilakukan dalam bentuk mudhari yang menyatakan pembaruan?

Jawaban:

Pengaruh pengazaban dan perendahan bertambah melalui pergantian serta pembaruan. Sebab, pengaruh penderitaan yang terus berlangsung dalam satu bentuk perlahan-lahan berkurang. Ketika diperbarui, pengaruhnya besar. Hanya kata kerja mudhari yang menyatakan makna ini. Adapun isim fa'il hanya menyatakan keberlangsungan.

ﻭَﻳَﻤُﺪُّﻫُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﻃُﻐْﻴَﺎﻧِﻬِﻢْ ﻳَﻌْﻤَﻬُﻮﻥَ

Artinya, “Dengan menggunakan sebab-sebab kesesatan, mereka meminta kesesatan. Allah سُبْحَانَهُ pun Memberikan kesesatan kepada mereka.”

Kata ﻳَﻤُﺪُّ yang menyatakan dilakukannya pertolongan oleh Allah سُبْحَانَهُ mengisyaratkan penolakan terhadap mazhab Muktazilah, yang mengklaim bahwa hamba adalah pencipta perbuatan. Adapun dalam ﻳَﻤُﺪُّ, yang menunjukkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Membantu mereka menurut permintaan melalui bahasa keadaan, terkandung kalimat ﻳَﺴْﺘَﻤِﺪُّ yang mengisyaratkan penolakan terhadap mazhab Jabariyah, yang mengklaim bahwa tidak ada sesuatu pun di tangan hamba dan semuanya berasal dari Allah سُبْحَانَهُ. Sebab, melalui buruknya pilihan serta keinginan mereka, mereka meminta, dan Allah سُبْحَانَهُ pun Memberikan apa yang mereka minta.

Penyandaran kata ﻃُﻐْﻴَﺎﻥٌ kepada kata ganti ﻫُﻢْ mengisyaratkan penolakan alasan mereka, “Kami melakukan pelampauan batas ini melalui paksaan Allah” سُبْحَانَهُ, karena kejahatan pelampauan batas muncul melalui pilihan mereka dan tidak berkaitan dengan paksaan. Adapun nama ﻃُﻐْﻴَﺎﻥٌ menyiratkan bahwa bahaya mereka menghancurkan seluruh keindahan dan kesempurnaan seperti banjir besar.

ﻳَﻌْﻤَﻬُﻮﻥَ Artinya, “Mereka adalah orang-orang yang bingung dan ragu dalam pelampauan batas serta kesesatan mereka. Mereka tidak memiliki jalan atau tujuan tertentu.”

ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍﺷْﺘَﺮَﻭُﺍ الضَّلَالَةَ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻓَﻤَﺎ ﺭَﺑِﺤَﺖْ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗُﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﻬْﺘَﺪ۪ﻳﻦَ

Artinya, “Mereka adalah kelompok orang yang tidak berpikir, yang menyerahkan hidayah dan membeli kesesatan. Sebagaimana tidak melihat manfaat dari perdagangan mereka, mereka juga tidak dapat menemukan jalan untuk terbebas dari kerugian itu.”

Sisi keterkaitan ayat ini dengan bagian sebelumnya:

Ya, ayat ini merupakan penutup dan ringkasan bagi rincian-rincian yang telah berlalu. Ia menggambarkan rincian tersebut dengan gaya yang luhur dan berpengaruh. Namun, karena penerima sapaannya pada barisan pertama dan lapisan pertama pergi ke arah Yaman pada musim dingin serta ke arah Syam pada musim panas, dan melihat laba serta rugi, kenikmatan serta penderitaan dalam perdagangan mereka, gaya perdagangan dipilih untuk menggambarkannya. Demikianlah:

Pengiriman umat manusia ke dunia bukan untuk menetap selamanya. Ia hanya datang untuk berdagang, demi menumbuhkan dan mengembangkan potensi serta kemampuannya yang merupakan modal. Namun, dalam perdagangan ini orang-orang munafik menenggelamkan modal mereka dan menjadi hina di hadapan dunia.

Kemudian, sisi susunan dan keteraturan di antara kalimat-kalimat ayat ini:

Ya, di antara kalimat-kalimat ayat ini terdapat susunan yang sangat fitri, lancar, dan teratur, seperti urutan dalam gaya perdagangan. Demikianlah:

Seorang pedagang diberi modal besar. Jika dengan modal itu ia membeli dan menjual barang-barang berbahaya serta beracun, pada akhirnya ia tidak melihat manfaat ataupun laba dari jual belinya. Sebaliknya, dengan tenggelam dalam kerugian, ia juga kehilangan jalan untuk melarikan diri. Tindakan orang-orang munafik pun persis menyerupai ini.

Kemudian, bentuk-bentuk kalimat dalam ayat tersebut:

Kata ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ merupakan alat isyarat yang digunakan untuk menghadirkan hal-hal yang berada jauh serta memperlihatkannya sebagai terindra dan tersaksikan.

PERTANYAAN:

Apa manfaat menghadirkan orang-orang munafik melalui ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ?

JAWABAN:

Kebencian dan permusuhan yang lahir dalam kalbu pendengar yang mendengar kejahatan-kejahatan mereka telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga ia ingin melihat mereka dengan mata dan meludahi wajah mereka, agar dengan meludahi wajah mereka kalbunya merasa lega. Karena itulah mereka dihadirkan melalui teropong ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ, agar pendengar meludahi wajah mereka.

PERTANYAAN:

Bagaimana orang-orang munafik diperlihatkan sebagai terindra melalui ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ, padahal mereka tidak terindra dan tidak tersaksikan? Apa manfaatnya?

JAWABAN:

Disifatinya orang-orang munafik dengan kejahatan dan sifat-sifat menakjubkan yang disebutkan begitu mewujudkan mereka sehingga dalam khayal mereka tampak terindra, tersaksikan, dan hadir. Dari keadaan terindra ini, dasar ketetapan yang dinisbatkan kepada mereka juga dipahami. Ya, suatu ketetapan seperti memberikan hidayah lalu mengambil kesesatan tentu memerlukan dasar dan sebab. Dasar itu adalah kejahatan serta sifat mereka yang telah berlalu. Al-Qur'an Al-Karîm menghadirkan mereka melalui ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ dengan disifati sifat-sifat tersebut, agar dasar dan sebab ketetapan yang dibebankan kepada mereka dalam ayat ini diketahui pendengar.

PERTANYAAN:

Apa maksud memperlihatkan orang-orang munafik sebagai jauh melalui ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ, yang juga menyatakan sisi jarak jauh?

JAWABAN:

Ia mengisyaratkan bahwa mereka telah menjauh dari jalan kebenaran dan tidak mungkin kembali lagi ke jalan yang benar. Sebab, meskipun pergi berada di tangan mereka, datang kembali tidak berada di tangan mereka.

Nama ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ, yang digunakan tentang hakikat-hakikat yang baru mulai terbentuk, mengisyaratkan bahwa tindakan kotor berupa menjual hidayah dan mengambil kesesatan ini—sebagai suatu bentuk perdagangan—mulai menjadi suatu jalan pokok bagi manusia pada masa itu.

Adapun nama ﺍِﺷْﺘَﺮَﻭُﺍ mengisyaratkan penolakan alasan yang akan disampaikan orang-orang munafik: “Kami meninggalkan hidayah dan mengambil kesesatan menurut tuntutan fitrah kami, bukan melalui pilihan kami.” Ya, seakan-akan Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan kepada mereka:

“Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq telah Memberikan umur panjang kepada kalian sebagai modal utama. Dia juga Meletakkan potensi kesempurnaan dalam ruh kalian. Benih hidayah fitri pun ditanam dalam nurani kalian agar kalian memperoleh kebahagiaan. Namun, sebagai pengganti kebahagiaan, kalian mengambil kenikmatan fana dan manfaat duniawi. Berarti, dengan memilih serta mengutamakan jalan kesesatan daripada jalan hidayah melalui buruknya pilihan kalian, kalian telah merusak hidayah fitri dan menyia-nyiakan modal utama kalian.”

اَلضَّلَالَةَ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ

Ia mengisyaratkan bahwa orang-orang munafik mengalami dua kerugian. Yang satu, kerugian kesesatan. Yang kedua, hilangnya nikmat besar seperti hidayah.

ﻓَﻤَﺎ ﺭَﺑِﺤَﺖْ ﺗِﺠَﺎﺭَﺗُﻬُﻢْ

Artinya, “Perdagangan mereka tidak memperoleh laba.”

PERTANYAAN:

Padahal dalam perdagangan orang-orang munafik ini modal utama pun hilang, apa yang diisyaratkan oleh pembicaraan tentang hanya tidak adanya laba?

JAWABAN:

Ia mengisyaratkan bahwa seorang pedagang berakal tidak semestinya memasuki jual beli yang tidak memiliki laba; lebih perlu dan lebih utama baginya untuk tidak memasuki perdagangan yang, selain tidak memiliki laba, juga memungkinkan hilangnya modal utama.

PERTANYAAN:

Padahal perbuatan memperoleh laba sesungguhnya merupakan perbuatan orang-orang munafik, apa yang diisyaratkan oleh dinisbatkannya kepada perdagangan dalam kalimat ini?

JAWABAN:

Ia mengisyaratkan bahwa dalam perdagangan mereka ini, baik pada bagian-bagiannya, keadaan-keadaannya, maupun sarana-sarananya, tidak terdapat manfaat terbatas atau menyeluruh. Ya, dalam sebagian perdagangan, meskipun laba yang dicari tidak ada, mungkin terdapat sedikit banyak manfaat pada keadaan atau sarananya. Adapun perdagangan ini adalah keburukan murni, suatu kerugian tanpa manfaat.

ﻭَﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻣُﻬْﺘَﺪ۪ﻳﻦَ

Artinya, “Sebagaimana mereka mengalami kerugian dengan menyia-nyiakan modal utama, mereka juga kehilangan jalan.” Dalam kalimat ini terdapat suatu petunjuk tersirat yang tersembunyi kepada kalimat

ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ

pada awal surah: bukan berarti Al-Qur'an Al-Karîm tidak memberikan hidayah. Ia telah memberikan hidayah, tetapi mereka tidak menerimanya.

ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺍﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ ﻧَﺎﺭًﺍ ﻓَﻠَﻤَّٓﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَﺕْ ﻣَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻨُﻮﺭِﻫِﻢْ ﻭَ ﺗَﺮَﻛَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ ٭ ﺻُﻢٌّ ﺑُﻜْﻢٌ ﻋُﻤْﻰٌ ﻓَﻬُﻢْ لَا ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻭْ ﻛَﺼَﻴِّﺐٍ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٌ ﻭَ ﺭَﻋْﺪٌ ﻭَ ﺑَﺮْﻕٌ ﻳَﺠْﻌَﻠُﻮﻥَ ﺍَﺻَﺎﺑِﻌَﻬُﻢْ ﻓ۪ٓﻰ ﺍٰﺫَﺍﻧِﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺼَّﻮَﺍﻋِﻖِ ﺣَﺬَﺭَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣُﺤ۪ﻴﻂٌ ﺑِﺎﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ٭ ﻳَﻜَﺎﺩُ ﺍﻟْﺒَﺮْﻕُ ﻳَﺨْﻄَﻒُ ﺍَﺑْﺼَﺎﺭَﻫُﻢْ ﻛُﻠَّﻤَٓﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺸَﻮْﺍ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻭَﺍِﺫَٓﺍ ﺍَﻇْﻠَﻢَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻗَﺎﻣُﻮﺍ ﻭَﻟَﻮْ ﺷَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﺬَﻫَﺐَ ﺑِﺴَﻤْﻌِﻬِﻢْ ﻭَﺍَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ

Sisi keterkaitan dan keteraturan antara ayat panjang ini dengan bagian sebelumnya, di antara kalimat-kalimatnya, serta dalam keadaan kalimat-kalimatnya:

Ya, sebagaimana Al-Qur'an Al-Karîm mencatat secara tegas pertama-tama keadaan orang-orang munafik, kemudian kejahatan-kejahatan mereka, setelah membuat akal menerima buruknya tindakan mereka, melalui perumpamaan ini ia menjamin diperlihatkan dan diterimanya hal tersebut juga oleh khayal, prasangka, dan perasaan.

Ya, khayal lebih dekat untuk menerima hal-hal khayali melalui perumpamaan daripada hal-hal akali.

Demikian pula, sesuatu yang bertentangan dengan akal dan tidak dikenal cepat diterimanya apabila diperlihatkan dalam bentuk yang akrab.

Demikian pula, dengan memperlihatkan sesuatu yang tidak hadir sebagai hadir, terwujud kesesuaian antara akal dan perasaan. Perasaan pun menerima.

Kesimpulannya:

Sebagaimana melalui perumpamaan ini akal dibuat membenarkan keburukan orang-orang munafik, penerimaannya oleh khayal, prasangka, dan perasaan juga dijamin.

Selain itu, melalui perumpamaan ini diperlihatkan adanya hubungan hakiki di antara kejahatan-kejahatan terpisah dan sifat-sifat beragam orang-orang munafik.

Selain itu, maksud menghadirkan tindakan orang-orang munafik di hadapan mata khayal melalui perumpamaan ini ialah agar khayal sendiri memandang, melihat, dan mengambil sisi-sisi halus yang tidak dapat diucapkan lidah, sehingga tidak tersisa keberatannya.

Kemudian, sebagaimana makna kalimat-kalimat perumpamaan ini secara keseluruhan sesuai dengan makna kisah orang-orang munafik, masing-masing juga sesuai dengan kalimat-kalimat kisah mereka.

Ya, kisah orang-orang munafik demikian: secara lahir mereka beriman, kemudian secara kalbu mereka kufur dan mengingkari. Kemudian mereka tetap bingung serta ragu. Kemudian mereka tidak mencari kebenaran. Kemudian mereka tidak mampu kembali dari kesesatan itu agar dapat mencari kebenaran.

Adapun makna perumpamaan: mula-mula mereka menyalakan api. Kemudian mereka tidak dapat menjaga api itu. Kemudian api mereka padam. Kemudian mereka tetap dalam gelap. Kemudian segala sesuatu tidak terlihat oleh mereka. Karena pada malam hari tidak terdapat suara, seakan-akan mereka tuli. Karena api mereka padam, mereka menjadi seperti orang buta. Karena tidak terdapat penerima sapaan atau penolong bagi mereka, seakan-akan mereka bisu. Karena mereka tidak mampu keluar dan kembali dari gelap itu, seakan-akan mereka menjadi bentuk tanpa ruh.

Dengan tampaknya kesesuaian antara kalimat-kalimat dalam perumpamaan dan kalimat-kalimat dalam kisah, menjadi jelas bahwa tidak tersisa pertentangan di antaranya.

Peringatan:

Gelap, kebingungan, dan api dalam perumpamaan mengisyaratkan kekufuran, ketidakteguhan, dan fitnah mereka dalam kisah.

PERTANYAAN:

Dalam perumpamaan dibicarakan cahaya. Di manakah cahaya orang-orang munafik?

JAWABAN:

Seseorang yang tidak memiliki cahaya pada dirinya memanfaatkan cahaya dalam lingkungannya. Jika tidak terdapat dalam lingkungannya, terdapat dalam kaumnya; jika tidak dalam kaumnya, dalam jenisnya; jika tidak dalam jenisnya, dalam fitrahnya; jika tidak mungkin dalam fitrahnya, terdapat pada lidahnya demi manfaat duniawi. Jika ini pun tidak ada, ia mengisyaratkan cahaya terdahulu orang-orang yang sebelumnya beriman lalu murtad. Jika ini pun tidak ada, ia mengisyaratkan manfaat duniawi yang mereka lihat, sebagaimana api mengisyaratkan fitnah mereka. Jika ini pun tidak ada, cahaya mereka dalam lingkup kemungkinan diturunkan kepada lingkup keberadaan, seperti hidayah dalam

ﺍِﺷْﺘَﺮَﻭُﺍ الضَّلَالَةَ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ.

Kemudian, sisi keteraturan di antara kalimat-kalimatnya:

ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺍﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ ﻧَﺎﺭًﺍ

Artinya, “Keadaan mereka seperti keadaan orang yang menyalakan api.” Hubungan kalimat ini dengan tempat serta kedudukan pembicaraan dapat digambarkan demikian:

Keadaan orang yang menyalakan api menurut bentuk yang dijelaskan dalam ayat sesuai dengan keadaan orang-orang pada lapisan pertama penerima sapaan Al-Qur'an, yang tinggal di Jazirah Arab. Sebab, orang-orang pada lapisan itu telah melihat sendiri atau mendengar keadaan orang yang menyalakan api tersebut. Mereka merasakan betapa berpengaruh dan tragisnya keadaan itu. Sebab, mereka pun sering melarikan diri dari ganasnya matahari menuju gelapnya malam, lalu ketika melanjutkan perjalanan dalam sejuknya malam, mengalami hujan deras dan banyak kesulitan. Demikian pula, sering kali mereka kehilangan jalan dan memasuki gua-gua yang dipenuhi hewan berbahaya. Mereka menyalakan api agar melihat sahabat-sahabatnya dan merasa lega bersama mereka, melihat barang-barangnya dan menjaganya, atau melihat hewan berbahaya dan menjaga diri darinya. Ketika mereka memanfaatkan cahaya api, api mereka padam karena bencana dari langit. Asa dan harapan mereka sepenuhnya berubah menjadi putus asa dan kerugian.

Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan keadaannya ini melalui kalimat

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَﺕْ ﻣَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻨُﻮﺭِﻫِﻢْ.

Artinya, “Ketika api itu menerangi sekelilingnya, tiba-tiba Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memadamkan cahaya mereka dan Mengubah terang mereka menjadi gelap.”

Dalam ﻓَﻠَﻤَّﺎ, ﻑ mengisyaratkan bahwa alur ucapan menghendaki ucapan dalam bentuk berikut: mereka menyalakan api untuk memanfaatkan cahayanya. Api menerangi mereka. Mereka pun merasa tenteram dan lega. Kemudian mereka mengalami kerugian dan jatuh tertelungkup ke tanah.

Kemudian, meskipun harus terdapat hubungan keharusan antara kedua kalimat dalam kalimat bersyarat ini, yang disebut syarat dan jawab syarat, tidak tampak hubungan keharusan antara penerangan dan lenyapnya cahaya. Karena itu, untuk mengeluarkan dan memperlihatkan hubungan keharusan yang tersembunyi ini, diperlukan beberapa kalimat yang diperkirakan ada. Demikianlah:

Ketika api menerangi, mereka pun diterangi. Namun, mereka tidak memberi perhatian kepada api dan tidak menjaganya. Mereka tidak mengetahui nilai nikmat itu dan tidak membuatnya terus berlangsung. Api itu pun padam dan lenyap. Ya, lalai menjaga cahaya menuntut tidak terus berlangsungnya cahaya. Tidak membuatnya tetap berlangsung menuntut padamnya.

Setelah kerugian yang mereka alami melalui padamnya cahaya, melalui kalimat

ﻭَﺗَﺮَﻛَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ

diisyaratkan bahwa mereka mengalami kerugian kedua, berupa jatuh dalam gelap.

Adapun kalimat لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ mengisyaratkan kerugian ketiga mereka. Sebab, ketika manusia jatuh dalam gelap dan kehilangan jalan, dengan melihat sahabat serta barang-barangnya ia memperoleh penghiburan pada suatu tingkat. Namun, sebagaimana ia tidak melihat semua itu, berdirinya dalam gelap itu merupakan musibah dan rasa asing seperti berjalannya.

ﺻُﻢٌّ ﺑُﻜْﻢٌ ﻋُﻤْﻰٌ ﻓَﻬُﻢْ لَا ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ

Artinya, “Mereka tuli, bisu, buta, dan tidak dapat kembali.”

Ketika seseorang mengalami bencana seperti ini, ia dapat berharap dan memperoleh penghiburan melalui empat sisi:

Pertama:

Ia dapat berharap bahwa suatu suara datang dari penduduk desa atau pelintas jalan, dan melalui suara itu ia melihat jalan menuju terang. Namun, karena malamnya sunyi dan tenang, tanpa suara apa pun, tidak tersisa perbedaan antara orang itu dan seorang tuli. Untuk mengisyaratkan putusnya harapannya dari sisi ini, Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan kata ﺻُﻢٌّ.

Kedua:

Ia dapat memupuk harapan bahwa jika berseru meminta pertolongan, mungkin ada yang mendengar lalu datang menyelamatkannya. Namun, karena malamnya tuli, yang memiliki lidah dan yang tidak memiliki lidah menjadi sama. Untuk memutus harapan ini pula, dikatakan ﺑُﻜْﻢٌ.

Ketiga:

Ia mencari suatu tanda, api, atau bintang untuk memperkirakan dan melihat jalan ke arah yang ditujunya, lalu merasa terhibur. Namun, malamnya begitu gelap sehingga yang memiliki mata dan yang tidak memiliki mata menjadi sama. Untuk memadamkan harapan orang itu, dikatakan ﻋُﻤْﻰٌ.

Keempat:

Begitu melihat bahwa tidak tersisa jalan selain berusaha dengan seluruh kekuatan untuk terbebas dari bencana itu dan kembali, ia percaya kepada kekuatannya dan berharap. Namun, gelap telah begitu mengepung dari segala sisi sehingga melalui kekuatan dan usahanya ia tidak dapat menemukan kemungkinan selamat. Seperti seekor keledai yang masuk ke rawa melalui buruknya pilihan sendiri lalu tidak mungkin keluar lagi, ia tetap di dalamnya. Ya, banyak hal yang dimasuki manusia melalui pilihannya, tetapi keluar darinya menjadi mustahil. Manusia meninggalkannya, tetapi ia tidak meninggalkan manusia.

Menghadapi keadaan mereka ini, dikatakan

ﻓَﻬُﻢْ لَا ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ,

yang mengisyaratkan bahwa karena tidak tersisa jalan untuk terbebas dari musibah dan kembali, serta harapan terakhir mereka pun putus, mereka tetap dalam rasa asing, putus asa, dan ketakutan.

Adapun bentuk-bentuk kalimatnya:

Ya, kalimat

ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻛَﻤَﺜَﻞِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺍﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ ﻧَﺎﺭًﺍ

berkedudukan sebagai khazanah butir-butir hikmah. Demikianlah:

Kata ﻣَﺜَﻞُ, yang beredar pada lidah manusia, digunakan di antara manusia untuk hal-hal aneh dan menakjubkan, serta disebut “hikmah masyarakat awam” dan “filsafat umum”, mengisyaratkan bahwa keadaan orang-orang munafik merupakan keanehan dan kisah mereka merupakan keajaiban. Dari isyarat ini terdapat suatu petunjuk tersirat bahwa sifat-sifat mereka akan terus beredar selamanya seperti peribahasa pada lidah kebencian dan laknat.

PERTANYAAN:

Meskipun penghapusan ﻙَ di antara kedua perumpamaan, yang menyatakan penyerupaan, lebih diterima dalam balagah, mengapa ia tidak dihapus?

JAWABAN:

Pada kedudukan ini, penyebutan partikel penyerupaan lebih balig daripada penghapusannya. Sebab, begitu pendengar melihat partikel penyerupaan, ia tertarik kepada penyerupaan dan menerapkan setiap pokok dalam pembanding kepada padanannya dalam yang dibandingkan. Namun, jika partikel penyerupaan dihapus, terdapat kemungkinan bahwa karena lalai terhadap penyerupaan, ia tidak terpikir menerapkan kedua sisi satu sama lain.

Adapun kata “perumpamaan” kedua mengisyaratkan bahwa keadaan orang yang menyalakan api itu telah menjadi seperti peribahasa dalam pikiran masyarakat umum.

PERTANYAAN:

Padahal yang menyalakan api adalah suatu jamaah, atas dasar apa digunakan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ yang menunjuk tunggal?

JAWABAN:

Apabila keikutsertaan jamaah pada pekerjaan yang akan dilakukan satu orang tidak menghasilkan tambahan atau kekurangan, individu dan jenis, bagian dan keseluruhan, menjadi satu. Selain itu, bentuk tunggal ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ mengisyaratkan bahwa setiap individu dari mereka mandiri dalam menghadirkan kengerian serta menggambarkan kesalahan. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ diringkas dari ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ.

Dalam ﺍِﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ, ﺱ mengisyaratkan bahwa penyalaan api mereka terwujud melalui kesulitan dan pencarian. Bentuk tunggal ﺍِﺳْﺘَﻮْﻗَﺪَ bersama kata ganti jamak dalam ﻧُﻮﺭِﻫِﻢْ mengisyaratkan kebiasaan satu orang menyalakan api bagi suatu jamaah.

Dipilihnya ﻧَﺎﺭٌ dari antara lampu dan alat penerangan lainnya mengisyaratkan bahwa kewajiban adalah cahaya yang sangat kuat, serta bahwa di bawah cahaya lahiriah yang mereka perlihatkan, mereka menyalakan api fitnah.

Peringatan:

Penyebutan kata ﻧَﺎﺭٌ sebagai nakirah mengisyaratkan bahwa karena sangat memerlukannya, mereka membutuhkan penyalaan segera, api apa pun dan bagaimanapun bentuknya.

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﺍَﺿَٓﺎﺀَﺕْ ﻣَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻨُﻮﺭِﻫِﻢْ

Dalam ﻓَﻠَﻤَّﺎ, ﻑ yang menyatakan mengikuti segera mengisyaratkan bahwa setelah putus asa, masa harapan dan asa mereka telah datang. Adapun ﻟَﻤَّﺎ, dengan menunjukkan bahwa kalimat pertama dari kalimat-kalimat yang dimasukinya, yang disebut silogisme bersyarat, telah terwujud dan ada, mengisyaratkan bahwa ia menghasilkan terwujudnya kalimat kedua juga serta bahwa penghiburan dan harapan mereka telah terputus sepenuhnya.

Kata ﺍَﺿَٓﺎﺀَﺕْ mengisyaratkan bahwa mereka memerlukan terang, bukan kehangatan, agar melihat hal-hal berbahaya di sekeliling mereka dan menjaga diri darinya.

ﻣَﺎ ﺣَﻮْﻟَﻪُ mengisyaratkan bahwa kengerian mengepung dari keempat sisi dan bahwa melalui cahaya perlu dijaga diri dari bahaya yang menyerang dari keenam arah.

ﺫَﻫَﺐَ Persoalan hubungan keharusan antara ini dan ﺍَﺿَٓﺎﺀَﺕْ telah berlalu. Hendaklah dilihat di sana.

ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ Dinisbatkannya lenyapnya cahaya kepada Allah سُبْحَانَهُ mengisyaratkan putusnya asa dan harapan mereka melalui dua sisi. Pertama: karena bencana berasal dari langit, ia tidak mungkin ditolak. Kedua: karena bencana itu merupakan hukuman atas kesalahan mereka, belas kasih pun tidak dapat dimohon dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Sebab, orang yang berusaha membatalkan kebenaran tidak dapat meminta pertolongan dan belas kasih dari Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.

Dalam ﺑِﻨُﻮﺭِﻫِﻢْ, ﺏ yang merupakan huruf jar mengisyaratkan bahwa cahaya dan terang tidak kembali lagi. Sebab, makna

ﺫَﻫَﺐَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑِﻨُﻮﺭِﻫِﻢْ

adalah “Allah سُبْحَانَهُ telah Membawa pergi cahaya mereka.” Telah diketahui bahwa tidak seorang pun dapat mengembalikan sesuatu yang Diambil Allah سُبْحَانَهُ.

Adapun nama ﻧُﻮﺭٌ mengingatkan keadaan mereka di atas sirat. Penyandaran ﻧُﻮﺭٌ, yang menyatakan pengkhususan dan pembatasan, kepada kata ganti ﻫُﻢْ mengisyaratkan sangat besarnya kesedihan mereka. Sebab, jika api seseorang padam sementara api orang lain menyala, ia sangat bersedih.

ﻭَﺗَﺮَﻛَﻬُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ

Waw yang merupakan huruf penghubung menyatakan bahwa mereka telah menggabungkan dua kerugian. Yang satu: dirampas dan dipadamkannya cahaya mereka. Yang kedua: diselubungkan dan dikenakannya gelap kepada mereka.

Nama ﺗَﺮَﻙَ menunjukkan bahwa karena mereka berkedudukan sebagai jasad tanpa ruh dan cangkang tanpa isi, yang patut bagi orang-orang seperti ini adalah memutus hubungan dan meninggalkan mereka sepenuhnya.

Dari keberadaan di dalam yang dinyatakan partikel ﻓ۪ﻰ, dipahami bahwa karena kuatnya gelap, dalam pandangan mereka segala sesuatu pergi menuju tiada dan hanya gelap tersisa. Karena kengerian mereka, mereka pun menjadikan gelap itu kubur bagi diri mereka, masuk ke dalamnya dan bersembunyi.

Adapun bentuk jamak ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ menyatakan bahwa dari gelapnya malam dan gelap awan lahir berbagai bentuk gelap: gelap putus asa dan takut dalam ruh mereka, rasa asing serta gentar pada tempat mereka, dan kesunyian serta ketenangan pada masa mereka.

Adapun ketidaktentuan dalam kata ﻇُﻠُﻤَﺎﺕٍ mengisyaratkan bahwa karena belum melihat yang serupa dengan berbagai bentuk gelap tersebut, bagi mereka semua itu merupakan gelap yang tidak diketahui dan tidak akrab.

Kalimat لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ memperlihatkan musibah terbesar. Sebab, orang yang matanya tidak melihat justru melihat lebih banyak bencana. Mereka yang matanya tidak ada melihat musibah-musibah yang paling tersembunyi.

Penyebutan لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ dengan bentuk mudhari menggambarkan dan menghadirkan keadaan mereka di hadapan mata khayal, agar pendengar melihat kengerian mereka melalui khayalnya dan mengambil pelajaran melalui nuraninya.

Dibiarkannya لَا ﻳُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ tanpa objek dimaksudkan untuk cakupan umum. Demikianlah: mereka tidak melihat manfaat mereka, sehingga tidak dapat menarik dan menjaganya. Mereka tidak melihat bahaya, sehingga tidak dapat menjauhinya. Mereka tidak melihat sahabat-sahabatnya, sehingga tidak memperoleh sedikit kelegaan. Seakan-akan masing-masing tetap sendirian dalam gelap itu.

ﺻُﻢٌّ ﺑُﻜْﻢٌ ﻋُﻤْﻰٌ ﻓَﻬُﻢْ لَا ﻳَﺮْﺟِﻌُﻮﻥَ

Artinya, “Seperti orang-orang tuli, bisu, dan buta, mereka tidak dapat keluar dan selamat dari gelap itu.”

Keempat sifat dalam kalimat ini dimiliki bersama oleh orang-orang munafik dan orang-orang yang menyalakan api. Ia memberitakan kedua sisi, menyatakan keadaan mereka, dan memperlihatkannya seperti cermin.

Ya, isyarat-isyaratnya kepada orang-orang yang menyalakan api demikian:

Seseorang yang mengalami musibah gelap seperti ini mula-mula mendengarkan sekelilingnya untuk mendengar suara yang menyelamatkan. Namun, malam yang sunyi dan bisu menghasilkan ketuliannya.

Kemudian ia ingin memanggil seseorang yang akan datang menolong. Namun, malam yang diam dan tuli menyebabkan kebisuannya.

Kemudian, dengan harapan menemukan jalan, ia mencari suatu tanda. Namun, malam yang tidak bercahaya dan buta menyebabkan kebutaannya.

Kemudian ia ingin kembali ke tempat sebelumnya. Namun, pintu-pintu tertutup dan tidak ada kemungkinan kembali. Seperti orang yang jatuh dalam rawa, semakin bergerak semakin tenggelam.

Adapun sisi yang menghadap orang-orang munafik:

Ya, ketika orang-orang munafik jatuh ke dalam gelap kekufuran dan kemunafikan, keselamatan mereka mungkin melalui empat sisi.

Sebab, keselamatan mereka mungkin dengan mengangkat kepala dari kemunafikan itu, mendengarkan kebenaran, dan menyimak bimbingan Al-Qur'an. Namun, hawa nafsu mereka yang bersifat setani menghalanginya dengan mengacaukan udara yang akan membawa suara Al-Qur'an kepada telinga mereka. Untuk mengisyaratkan bahwa harapan mereka terputus dari sisi ini, Al-Qur'an Al-Karîm mengatakan ﺻُﻢٌّ. Dari isyarat ini terdapat petunjuk tersirat bahwa seakan-akan telinga mereka dipotong dan tersisa lubang-lubang sangat buruk yang menyerupai telinga anjing yang dipotong.