PENDAHULUAN
Hanya ibadah yang membuat ketetapan-ketetapan akidah dan iman kuat serta teguh, lalu menjadi kecakapan yang menetap. Ya, jika ketetapan iman dalam nurani dan akal tidak dididik serta dikuatkan melalui ibadah, yang berupa menjalankan Perintah-Perintah Allah سُبْحَانَهُ dan menjauhi Larangan-Larangan-Nya, jejak serta pengaruhnya tetap lemah. Keadaan dunia Islam pada masa kini menjadi saksi keadaan ini.
Demikian pula, sebagaimana ibadah menjadi sarana kebahagiaan dunia dan akhirat, ia menjadi sebab pengaturan urusan dunia serta akhirat, sarana kesempurnaan pribadi dan umat manusia, serta ikatan sangat tinggi dan hubungan mulia antara Sang Khâliq dan hamba.
Sisi-sisi yang menjelaskan bahwa ibadah menjadi sarana kebahagiaan dunia:
Yang satu: Berbeda dan istimewa dari seluruh hewan, manusia diciptakan dengan watak yang menakjubkan dan halus. Melalui watak itu, dalam manusia muncul berbagai kecenderungan dan keinginan. Misalnya, manusia menghendaki hal-hal paling terpilih, cenderung kepada yang paling indah, menginginkan yang berhias, serta ingin hidup dengan penghidupan dan kehormatan yang layak bagi manusia.
Menurut tuntutan kecenderungan-kecenderungan ini, untuk memperoleh makanan, pakaian, dan kebutuhan lain dalam bentuk indah yang diinginkannya, ia memerlukan banyak keterampilan. Karena tidak menguasai keterampilan-keterampilan tersebut, ia terpaksa bekerja sama dengan sesama jenisnya, agar masing-masing membantu sahabatnya melalui pertukaran hasil usaha dan dengan demikian mereka dapat memenuhi kebutuhan.
Namun, karena daya syahwat, daya amarah, dan daya akal dalam manusia tidak dibatasi oleh Sang Pembuat, serta daya-daya itu dibiarkan tanpa batas untuk menjamin kemajuan manusia melalui kehendak bebas manusia, dalam hubungan-hubungan terjadi kezaliman dan pelampauan batas. Untuk mencegah pelampauan batas ini, masyarakat manusia memerlukan keadilan dalam mempertukarkan hasil pekerjaan mereka. Namun, karena akal setiap individu tidak mampu memahami keadilan, diperlukan akal menyeluruh agar individu-individu memanfaatkannya. Akal menyeluruh semacam itu hanya dapat berbentuk hukum. Hukum semacam itu hanyalah syariat.
Kemudian, diperlukan suatu tempat rujukan dan pemegang yang akan menjamin pengaruh, pelaksanaan, serta penerapan syariat itu. Tempat rujukan dan pemegang tersebut hanyalah nabi. Sebagaimana seorang nabi memerlukan derajat tinggi secara jasmani dan maknawi serta suatu keistimewaan untuk melanggengkan kepemimpinannya atas masyarakat secara lahir dan batin, ia juga memerlukan dalil untuk memperlihatkan tingkat hubungan serta ikatannya dengan Sang Khâliq. Dalil semacam itu hanyalah mukjizat-mukjizat.
Kemudian, untuk membangun dan menjamin ketaatan serta kepatuhan kepada Perintah dan Larangan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, diperlukan peneguhan Keagungan Sang Pembuat dalam pikiran. Peneguhan ini hanya terwujud melalui akidah, yakni tampaknya ketetapan-ketetapan iman. Penguatan dan pengembangan ketetapan iman hanya terwujud melalui ibadah yang diperbarui dengan pengulangan.
Kedua: Ibadah dimaksudkan untuk mengalihkan pikiran kepada Sang Pembuat Yang Hakîm. Perhatian hamba kepada Sang Pembuat Yang Hakîm menghasilkan ketaatan dan kepatuhan. Ketaatan serta kepatuhan memasukkan hamba ke bawah keteraturan paling sempurna. Dengan masuknya hamba ke dalam keteraturan dan mengikuti tatanan, rahasia Hikmah terwujud. Adapun Hikmah tampak melalui corak-corak seni yang bersinar pada halaman-halaman kainat.
Ketiga: Seperti pusat pembangkit, manusia merupakan pusat bagi seluruh tatanan penciptaan, hukum-hukum fitrah, dan sinar-sinar hukum Ilahi dalam kainat. Karena itu, manusia harus berhubungan dan terikat dengan hukum-hukum tersebut, berpegang erat serta memegang ujungnya, agar menjamin arus umum dan tidak remuk di bawah roda-roda yang berputar pada lapisan-lapisan alam karena menentang gerak roda-roda tersebut. Ini hanya terwujud melalui ibadah yang berupa perintah dan larangan.
Keempat: Dengan mematuhi perintah dan menjauhi larangan, satu individu memperoleh hubungan serta kaitan dengan banyak tingkat dalam kehidupan sosial. Terutama dalam ketentuan agama dan kepentingan umum, satu individu menjadi berkedudukan sebagai suatu golongan. Artinya, banyak tugas seperti hak, martabat, bimbingan, pengajaran, dan perbaikan dibebankan kepada satu orang. Jika tidak ada orang yang mematuhi perintah dan menjauhi larangan tersebut, seluruh tugas itu terinjak-injak.
Kelima: Melalui Islam, dengan dorongan ibadah, manusia memperoleh hubungan tetap dengan seluruh Muslim serta meraih ikatan dan keterkaitan yang kuat. Semua ini menjadi sebab persaudaraan yang tidak terguncang dan cinta sejati. Memang, anak-anak tangga pertama dan paling awal bagi kesempurnaan serta kemajuan kehidupan sosial adalah persaudaraan dan cinta.
Penjelasan bahwa ibadah menjadi sebab kesempurnaan pribadi:
Meskipun tubuh manusia kecil, lemah, dan tidak mampu, serta ia dianggap termasuk hewan, ia membawa ruh yang sangat tinggi, memiliki potensi yang sangat besar, kecenderungan yang tidak dapat dibatasi, harapan yang tidak berujung, pikiran yang tidak terhitung, serta daya-daya tidak terbatas seperti syahwat dan amarah. Ia memiliki penciptaan yang begitu menakjubkan sehingga seakan-akan diciptakan sebagai daftar isi seluruh jenis dan alam.
Yang memperluas ruh luhur manusia seperti ini adalah ibadah.
Yang mengembangkan potensinya adalah ibadah.
Yang membedakan dan menyucikan kecenderungannya adalah ibadah.
Yang mewujudkan harapannya adalah ibadah.
Yang memperluas dan menempatkan pikirannya di bawah keteraturan adalah ibadah.
Yang membatasi daya syahwat dan amarahnya adalah ibadah.
Yang menghilangkan karat alam yang mengotori anggota serta indra lahir dan batinnya adalah ibadah.
Yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaan yang ditentukan baginya adalah ibadah.
Ikatan paling tinggi dan paling halus antara hamba dan Yang Disembah hanyalah ibadah.
Ya, kesempurnaan manusia yang paling tinggi adalah ikatan dan hubungan ini.
Peringatan: Ruh ibadah adalah ikhlas. Adapun ikhlas ialah dilakukannya ibadah hanya karena diperintahkan. Jika hikmah atau manfaat lain dijadikan dasar ibadah, ibadah itu batil. Manfaat dan hikmah hanya dapat menjadi faktor yang menguatkan pilihan, tidak dapat menjadi dasar.
Ketika Al-Qur'an Al-Karîm mengajak manusia beribadah melalui perintah
ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ ﺍﻟﺦ,
untuk menjawab pertanyaan yang seakan-akan diajukan melalui bahasa keadaan, “Mengapa kami beribadah; apa dasarnya?”, melalui kalimat-kalimat
ﺭَﺑَّﻜُﻢُ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺍﻟﺦ
Al-Qur'an Al-Karîm mulai menyebutkan bukti-bukti tentang Wujud dan keesaan Sang Pembuat.
PENDAHULUAN
Sebagaimana penalaran dari pemberi pengaruh kepada hasil, seperti petunjuk api kepada asap, disebut bukti limmi, penalaran dari hasil kepada pemberi pengaruh, seperti petunjuk asap kepada api, disebut bukti inni. Bukti inni lebih selamat dari keraguan.
Salah satu dalil ayat ini yang mengisyaratkan Wujud dan keesaan Sang Pembuat adalah dalil pemeliharaan. Dalil ini berupa tatanan yang memberikan kehidupan kepada kainat dengan menyelamatkan kainat, bagian-bagian, dan jenis-jenisnya dari kekacauan, keadaan tidak selaras, serta tercerai-berai, lalu menempatkan seluruh keadaannya di bawah keteraturan. Sumber seluruh maslahat, hikmah, kegunaan, dan manfaat adalah tatanan ini. Seluruh ayat Al-Qur'an yang membicarakan manfaat dan maslahat berjalan di atas tatanan ini serta menjadi tempat tampaknya tatanan tersebut.
Karena itu, suatu tatanan yang menjadi rujukan seluruh maslahat, kegunaan, serta manfaat, dan yang memberikan kehidupan kepada kainat, tentu dan pasti menunjukkan keberadaan suatu pengatur. Dengan menunjukkan pula maksud dan hikmah pengatur itu, ia meniadakan prasangka-prasangka tentang kebetulan buta.
Wahai manusia! Jika pikiran dan pandanganmu tidak mampu menemukan tatanan luhur ini, dan engkau tidak dapat memperolehnya melalui induksi menyeluruh, yakni meneliti secara umum, pandanglah kainat melalui ilmu-ilmu yang lahir dari pertemuan pikiran manusia, yang disebut saling bergabungnya pikiran, dan yang berkedudukan sebagai indra umat manusia, serta bacalah halaman-halamannya, agar engkau melihat tatanan luhur yang membuat akal takjub tersebut.
Ya, tentang setiap jenis dalam kainat telah terbentuk atau sedang terbentuk suatu bidang ilmu. Ilmu berupa kaidah-kaidah menyeluruh. Sifat menyeluruh kaidah menunjukkan tingginya derajat dan keindahan tatanan. Sebab, sesuatu yang tidak memiliki tatanan tidak dapat memiliki sifat menyeluruh. Misalnya, “Di kepala setiap ulama terdapat serban putih.” Ketetapan yang dikatakan secara menyeluruh ini bergantung pada adanya keteraturan dalam golongan ulama. Maka, sebagai hasil pemeriksaan umum, masing-masing ilmu tentang kainat menjadi dalil adanya tatanan luhur dalam kainat melalui sifat menyeluruh kaidah-kaidahnya.
Setiap ilmu juga merupakan bukti bercahaya yang mengumumkan Maksud dan Hikmah Sang Pembuat, dengan memperlihatkan buah-buah maslahat yang tergantung serta berayun seperti tandan dalam rangkaian makhluk, dan manfaat-manfaat yang tersembunyi dalam perubahan keadaan. Seakan-akan untuk mengusir setan-setan prasangka, setiap ilmu adalah bintang penembus, yakni bintang yang menembus serta membakar prasangka-prasangka batil.
Wahai Sahabat! Daripada menyelidiki seluruh kainat untuk menemukan tatanan itu, perhatikan contoh ini; yang engkau cari akan diperoleh: suatu mikroba, hewan kecil yang tidak terlihat mata, meskipun kecil, mengandung mesin Ilahi yang sangat halus dan menakjubkan. Karena mesin itu termasuk yang mungkin ada, ada dan tidak adanya sama. Mustahil ia hadir tanpa sebab. Pasti mesin itu hadir dari suatu sebab. Sebab tersebut bukan sebab-sebab alami. Sebab, tatanan halus dalam mesin itu adalah hasil ilmu dan kesadaran. Adapun sebab-sebab alami adalah benda-benda tak bernyawa tanpa ilmu dan kesadaran. Orang yang mengklaim bahwa mesin halus yang membuat akal takjub itu lahir dari sebab-sebab alami harus memberikan kesadaran Eflatun dan hikmah Calinos kepada setiap zarah sebab-sebab, sekaligus mengimani adanya komunikasi di antara zarah-zarah itu. Ini adalah penalaran sesat dan takhayul sedemikian rupa sehingga bahkan mempermalukan sofis yang terkenal.
Selain itu, dituntut berkumpulnya daya tarik dan daya tolak, yang dijadikan dasar pada sebab-sebab materi, dalam suatu bagian yang tidak dapat dibagi. Padahal karena saling berlawanan, keduanya tidak boleh berkumpul. Namun, jika yang dimaksud hukum daya tarik dan daya tolak adalah hukum-hukum Ilahi yang disebut adatullah, serta syariat fitri yang dinamakan alam, hal itu dibolehkan. Akan tetapi, ia diterima dengan syarat tidak beralih dari hukum kepada alam, dari wujud dalam pikiran kepada wujud di luar, dari hal-hal menurut tinjauan kepada hal-hal hakiki, atau dari alat kepada pemberi pengaruh. Jika tidak, ia tidak dibolehkan.
Wahai Sahabat! Jika melalui akalmu engkau melihat tatanan dan keteraturan dalam pabrik besar hewan mikroskopis kecil yang kutunjukkan sebagai contoh, yakni mikroba, angkatlah kepala dan pandanglah kainat! Yakinlah bahwa sebanding dengan jelas serta tampaknya kainat, engkau akan melihat dan membaca tatanan luhur itu pada halaman-halaman kainat dalam bentuk yang sangat nyata dan terbaca.
Wahai Sahabat! Jika engkau belum dapat membaca ayat-ayat pada halaman kainat yang berkenaan dengan tatanan yang disebut “dalil pemeliharaan”, pandanglah ayat-ayat Al-Qur'an yang Agung, yang datang dari Sifat Kalam. Seluruh ayatnya yang mengajak manusia berpikir menganjurkan dalil pemeliharaan ini. Ayat-ayat yang menghitung nikmat dan manfaat pun membicarakan buah-buah tatanan luhur yang disebut dalil pemeliharaan tersebut. Di antaranya: melalui kalimat-kalimat
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ الْاَرْضَ ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺑِﻨَٓﺎﺀً ﻭَﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ ﺑِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟَﻜُﻢْ,
ayat yang sedang kita bahas memetik manfaat serta nikmat tatanan itu dan memberikannya kepada manusia.
Dalil Penciptaan Baru:
Salah satu dalil ayat tersebut yang mengisyaratkan Wujud dan keesaan Sang Pembuat ialah “dalil penciptaan baru”, yang diisyaratkannya melalui kalimat
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ.
Ringkasan dalil penciptaan baru dapat dijelaskan demikian:
Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memberikan wujud yang khusus dan mandiri kepada setiap individu serta setiap jenis, sebagai sumber jejak-jejak khususnya dan landasan kesempurnaan yang layak baginya. Tidak ada suatu jenis pun yang memanjang tanpa akhir ke arah azali. Sebab, seluruh jenis belum keluar dari lingkup kemungkinan menuju lingkup wajib ada. Jelas pula bahwa rantai tanpa akhir batil. Melalui perubahan dan pergantian yang tampak dalam alam, datangnya sebagian benda kepada wujud secara baru juga terlihat oleh mata. Datangnya sebagian lainnya secara baru pun teguh melalui keharusan akal. Berarti, tidak dapat ditempuh arah keazalian sesuatu pun.
Demikian pula, sebagaimana dibuktikan dalam zoologi dan botani, jumlah jenis lebih dari dua ratus ribu. Bagi jenis-jenis ini diperlukan masing-masing suatu Adam dan seorang bapak pertama. Karena para bapak pertama dan Adam ini tidak berada dalam lingkup wajib ada, melainkan termasuk yang mungkin ada, pasti mereka hadir langsung tanpa perantara dari Kudrat Ilahi.
Sebab, rantai tanpa akhir jenis-jenis tersebut, yakni memanjangnya tanpa ujung, batil. Prasangka bahwa sebagian jenis muncul dari jenis lain pun batil. Sebab, jenis yang lahir dari dua jenis pada umumnya mandul atau keturunannya terputus. Ia tidak dapat menjadi permulaan suatu rangkaian melalui perkembangbiakan.
Kesimpulannya: Sebagaimana permulaan rangkaian-rangkaian yang dibentuk manusia dan hewan lain terputus pada seorang bapak paling awal, ujung akhirnya pun akan terputus dan berakhir pada seorang anak terakhir.
Ya, kemampuan sebab-sebab alami yang tidak sadar, tidak dapat memilih, tak bernyawa, dan sederhana untuk menciptakan rangkaian jenis-jenis yang membuat seluruh akal takjub berada di luar lingkup kemungkinan. Demikian pula, menisbatkan penciptaan baru serta terbentuknya individu-individu yang terkandung dalam jenis-jenis itu, yang masing-masing membawa corak menakjubkan dan seni luar biasa dari mukjizat Kudrat, kepada sebab-sebab tersebut bukan hanya satu hal mustahil, melainkan takhayul terbesar di antara hal-hal mustahil.
Karena itu, jenis-jenis dan individu-individu yang membentuk rangkaian-rangkaian itu memberikan kesaksian pasti mengenai Wujud yang Wajib dari Khâliq mereka melalui bahasa baru terwujud dan kemungkinan.
PERTANYAAN: Padahal kesaksian pasti seluruh rangkaian terhadap Wujud yang Wajib dari Khâliq terdapat di depan mata, apa sebab sebagian manusia jatuh dalam kesesatan dengan berpendapat bahwa materi dan gerak materi bersifat azali?
JAWABAN: Melalui pandangan dangkal dan tidak saksama, bukan dengan maksud serta perhatian, yang mustahil dan batil dapat dipandang sebagai mungkin. Misalnya:
Pada suatu petang hari raya, di antara mereka yang mencari bulan dan hilal di langit terdapat pula seorang tua. Ketika orang ini mengarahkan pandangan ke langit dengan seluruh maksud serta perhatian dan sibuk mencari hilal, untuk melihat hilal di langit, entah bagaimana sehelai rambut putih yang memanjang dari bulu matanya dan melengkung di atas pupil tersangkut dalam pandangannya. Orang itu segera berkata, “Aku melihat hilal!” Ia menetapkan, “Inilah bulan yang kulihat!”
Sebagaimana pandangan dangkal dan tidak saksama jatuh ke dalam kesalahan seperti ini, manusia yang memiliki hakikat luhur dan diri yang dimuliakan, ketika senantiasa mencari kebenaran serta hakikat dengan maksud dan perhatian, kadang-kadang memandang kebatilan melalui pandangan dangkal dan tidak saksama. Kebatilan itu datang kepada pikirannya tanpa pilihan, permintaan, atau undangan. Pikirannya mau tidak mau menerima dan menyimpannya, lalu perlahan-lahan kebatilan itu pun diterima serta dibenarkan. Namun, penerimaan dan pembenarannya terhadap kebatilan itu muncul dari kelalaiannya terhadap tatanan alam, yang menjadi rujukan seluruh hikmah, serta dari kebutaannya terhadap pertentangan materi dan geraknya dengan keazalian, sehingga dengan terpaksa menisbatkan corak-corak menakjubkan dan karya-karya seni luar biasa ini kepada sebab-sebab yang tak bernyawa, mereka jatuh dalam kesesatan-kesesatan tersebut.
Sebagaimana dikatakan Hüseyin-i Cisrî, seseorang yang memasuki rumah berhias jejak-jejak peradaban dan memuat seluruh hiasan, karena tidak melihat pemilik rumah, terpaksa menisbatkan hiasan serta dasar-dasar itu kepada kebetulan dan alam.
Demikian pula, orang-orang lalai yang mengabaikan kesaksian seluruh hikmah dan manfaat dalam tatanan alam terhadap Pilihan yang sempurna, Ilmu yang meliputi segalanya, dan Kudrat yang sempurna, menurut pandangan dangkal mereka terpaksa memberikan daya pengaruh sejati kepada sebab-sebab yang tak bernyawa.
Wahai Sahabat! Dengan mengesampingkan jejak Seni Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq yang sangat halus serta keajaiban Kudrat-Nya yang sangat luhur, pandanglah hanya keadaan pencerminan dan penggambaran yang paling nyata dari jejak serta sebab yang disebut alam ini.
Misalnya, ketika engkau menghadapkan suatu cermin kepada langit, dapatkah engkau memperoleh keyakinan bahwa sebab pemberi pengaruh yang menarik langit beserta ketinggian, corak, dan bintang-bintangnya, lalu mencerminkan serta menggambarkannya dalam cermin, adalah sifat pada permukaan cermin? Hâşâ!
Atau, dapatkah engkau memahami dan menerima gravitasi umum, yang pada hakikatnya hanya berupa suatu hal menurut prasangka, sebagai sebab pemberi pengaruh yang menggerakkan serta mengatur bumi dan bintang-bintang secara teratur dalam ruang ini? Hâşâ! Semua itu hanya dapat menjadi syarat dan sebab, bukan sebab pemberi pengaruh.
Kesimpulannya: Ketika manusia memandang sesuatu yang batil dan mustahil dengan pandangan dangkal serta tanpa maksud, jika tidak dapat menemukan sebab sejatinya, ada kemungkinan ia menerimanya dengan mau tidak mau menyatakan kebenaran atau pengingkarannya. Namun, jika ia memandang secara sengaja dan saksama sebagai pencari serta pembeli, ia tidak menerima satu pun persoalan batil yang mereka sebut filsafat itu. Ia hanya menerimanya secara bodoh dengan mengandaikan hikmah seluruh politikus dan akal para filsuf dalam zarah-zarah.
PERTANYAAN: Apakah alam, hukum-hukum, dan daya-daya yang selalu mereka bicarakan dengan bangga, yang dengannya mereka berusaha meyakinkan diri?
JAWABAN: Yang mereka sebut alam adalah tempat percetakan, bukan pencetak ﴾ﻃَﺎﺑِﻊْ﴿. Pencetak hanyalah Kudrat. Ia hukum, bukan kekuatan. Kekuatan hanya terdapat pada Kudrat. Atau, sebagaimana syariat yang kita ketahui merupakan ringkasan kaidah-kaidah yang menempatkan perbuatan-perbuatan manusia yang dilakukan dengan pilihan di bawah suatu tatanan serta keteraturan dan membatasinya, atau kumpulan tatanan, pedoman, dan hukum yang mengatur urusan negara,
demikian pula yang disebut alam adalah syariat fitri Ilahi yang menimbulkan tatanan serta keteraturan di antara perbuatan-perbuatan yang lahir dari anggota dan bagian alam nyata. Karena itu, sebagaimana syariat dan tatanan negara merupakan hal-hal akali serta menurut tinjauan, alam pun merupakan suatu hal menurut tinjauan dan hanya berupa adatullah yang berlaku dalam penciptaan.
Adapun menyangka bahwa alam merupakan suatu yang berwujud di luar menyerupai prasangka liar seorang yang tidak beradab ketika melihat gerakan teratur suatu satuan pasukan dalam latihan: “Ada sesuatu seperti tali yang mengatur tatanan di antara mereka dan mengaitkan mereka satu sama lain.” Karena itu, seseorang yang nurani serta akalnya liar, melalui pandangan dangkal dan sebagai ikutan, dapat menganggap mungkin bahwa alam, yang menjaga keberlangsungan dan kelanjutannya, merupakan suatu yang berwujud di luar dan memberikan pengaruh.
Kesimpulannya: Alam adalah seni Allah سُبْحَانَهُ dan syariat fitri-Nya. Hukum-hukum adalah persoalan-persoalannya. Daya-daya pun merupakan ketentuan persoalan-persoalan tersebut.
Kita beralih kepada tauhid:
Al-Qur'an Al-Karîm tidak meninggalkan sesuatu pun dari dalil-dalil tentang keesaan Sang Pembuat. Khususnya, bukti saling menghalangi yang dikandung ayat
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ,
yang bermakna “Seandainya di bumi dan langit terdapat ilah-ilah selain Allah سُبْحَانَهُ, keteraturan yang terlihat ini akan rusak”, merupakan dalil yang mencukupi bahwa Sang Pembuat esa dan mandiri. Ia juga merupakan bukti bercahaya bahwa kemandirian adalah sifat khas zatiah dan konsekuensi yang niscaya dari Keilahian.
Wahai Sahabat! Menurut tafsir İbn-i Abbas, perintah ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ pada permulaan ayat yang kita bahas merupakan perintah yang mengajak manusia kepada tauhid. Pada saat yang sama, ayat ini secara keseluruhan mengandung suatu bukti yang sangat halus dan indah yang mengisyaratkan tauhid. Demikianlah:
Saling membantu dan hubungan antara bumi serta langit untuk menghasilkan buah-buah yang menjadi sumber penghidupan umat manusia dan hewan lainnya, keserupaan jejak-jejak alam satu sama lain, bagian-bagian alam yang saling merangkul, memegang tangan satu sama lain, memenuhi kebutuhan masing-masing, menjawab pertanyaan satu sama lain dan bergegas membantu, sepenuhnya memandang satu titik, serta bergerak pada poros satu tatanan: mesin menakjubkan yang mengandung keadaan-keadaan seperti ini mengumumkan dengan kesaksian pasti bahwa Pemilik dan Sang Pembuatnya satu. Ia menggema melalui bait berikut, yang bermakna “Dalam setiap sesuatu terdapat ayat dan tanda yang menunjukkan keesaan Sang Pembuat”:
ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ
Wahai Sahabat! Sebagaimana Sang Pembuat Dzul-Jalâl Wâhid dan Wâjibul-Wujûd, Dia juga memiliki seluruh Sifat Kesempurnaan. Sebab, seluruh kesempurnaan dalam alam serta karya-karya ciptaan diambil dari bayangan yang bertajalli dari Kesempurnaan Sang Pembuat. Maka, Keindahan, Kesempurnaan, dan Keelokan pada Sang Pembuat lebih tinggi dengan tingkat-tingkat yang tiada berujung daripada seluruh keindahan, kesempurnaan, dan keelokan dalam seluruh kainat. Sebab, karunia lahir dari kekayaan pemberi nikmat dan menjadi dalil kekayaannya. Penciptaan menunjukkan keberadaan yang menciptakan. Menjadikan wajib merupakan bukti wajib adanya yang menjadikannya wajib. Keindahan yang diberikan menjadi dalil keindahan yang memberi.
Demikian pula, Sang Pembuat Dzul-Jalâl Mahasuci serta bebas dari seluruh kekurangan. Sebab, kekurangan muncul dari sedikitnya potensi dalam hakikat benda-benda materi. Padahal Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq bukan materi.
Demikian pula, Sang Pembuat Yang Qadîm dan Azali bebas serta Mahasuci dari konsekuensi dan sifat yang dituntut benda-benda dalam kainat, seperti berjasad, memiliki arah, berubah, dan menempati tempat. Al-Qur'an Al-Karîm mengisyaratkan kedua hakikat ini melalui ayat
فَلَا ﺗَﺠْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ
yang bermakna “Jangan menjadikan yang serupa bagi Allah!” سُبْحَانَهُ
Dalil Kemungkinan:
Salah satu dalil ayat ini yang mengisyaratkan Wujud Sang Pembuat adalah “dalil kemungkinan”, yang diisyaratkan melalui ayat
ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﻐَﻨِﻰُّ ﻭَﺍَﻧْﺘُﻢُ ﺍﻟْﻔُﻘَﺮَٓﺍﺀُ.
Ringkasan dalil ini:
Pada setiap zarah yang terkandung dalam kainat, baik pada zat, sifat, keadaan, maupun wujudnya, terdapat kemungkinan, peluang, kesulitan, jalan, dan hukum yang tiada berujung. Namun, tiba-tiba zarah itu menempuh suatu jalan tertentu dari antara jalan-jalan yang tiada berujung, memasuki satu keadaan dari antara keadaan-keadaan yang tidak terbatas, memiliki satu sifat dari antara sifat-sifat yang tidak terhitung, dan mulai bergerak menurut suatu hukum yang benar menuju tujuan yang ditentukan, serta segera menghasilkan Hikmah dan manfaat apa pun yang diberikan kepadanya sebagai tugas; lahirnya Hikmah serta manfaat itu hanya mungkin melalui gerak zarah tersebut yang demikian. Bukankah perjalanan zarah itu di antara begitu banyak jalan dan kemungkinan menunjukkan Maksud serta Hikmah Sang Pembuat melalui bahasa keadaannya?
Sebagaimana setiap zarah, secara mandiri dan dengan dirinya sendiri, menunjukkan Wujud Sang Pembuat, ke dalam susunan kecil atau besar mana pun ia masuk, atau gabungan mana pun ia menjadi bagian, pada kedudukan yang dimasukinya dan yang menjadi tempatnya sebagai bagian, ia menjaga petunjuknya kepada Sang Pembuat menurut hubungan yang diperolehnya.
Adapun sisi keterkaitan ayat ini dengan bagian sebelumnya:
Ketika Al-Qur'an Al-Karîm membagi manusia menjadi tiga bagian—pertama, mukmin yang bertakwa; kedua, kafir yang keras kepala; ketiga, munafik yang bermuka dua—serta membuat pembagian dan susunan di antaranya, ia menjelaskan sifat dan akibat setiap bagian. Kemudian, melalui ayat
ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ,
ia mengarahkan sapaan kepada ketiga bagian, memerintahkan dan mengajak mereka beribadah. Berarti, mengikuti dan datangnya ayat ini sesudah ayat-ayat sebelumnya seperti rumah serta bangunan mengikuti sketsa insinyur, amal mengikuti ilmu, dan pelaksanaan takdir mengikuti ketetapan takdir.
Ya, setelah susunan dan pembagian, sketsa dan rencana yang dibuat pada ayat-ayat sebelumnya, dalam ayat ini diperintahkan pembangunan bangunan ibadah. Setelah pengetahuan yang diberikan pada ayat-ayat itu, dalam ayat ini diperintahkan amal dan ibadah. Menurut sifat dan hak yang ditulis di sana, di sini diberikan ketetapan melalui perintah dan larangan. Demikian pula, setelah pembagian, keadaan, dan sifat manusia disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya, menurut tuntutan kedudukan pembicaraan ayat ini mengikutinya.
Ketika Al-Qur'an Al-Karîm membicarakan ketiga kelompok manusia dan menyampaikan sifat serta akibat setiap kelompok, menurut keinginan pendengar dan tuntutan kedudukan pembicaraan, ia beralih dari orang ketiga kepada sapaan langsung, lalu menyapa mereka demikian. Ya, dalam beralihnya pembicaraan orang-orang yang mula-mula berbicara tentang beberapa orang tanpa menyapanya lalu mengubahnya menjadi sapaan langsung, terdapat butir hikmah umum berikut:
Misalnya, ketika kebaikan atau keburukan seseorang dibicarakan, pada pembicara dan pendengar bangkit kecenderungan untuk memuji atau melaknat. Kemudian, perlahan-lahan kecenderungan itu menjadi begitu kuat sehingga membangkitkan keinginan besar untuk mempertemukan pemilik kecenderungan itu dengan orang tersebut dan berbicara secara langsung. Di sini, dengan memuaskan kecenderungan pendengar dan menurut tuntutan kedudukan pembicaraan, Al-Qur'an Al-Karîm membawa mereka ke hadapan pendengar serta mengarahkan ucapan kepada mereka melalui sapaan langsung.
Dalam peralihan dari orang ketiga kepada sapaan langsung pada ayat ini juga terdapat butir hikmah khusus: kesulitan yang lahir dari kewajiban ibadah diimbangi dengan kesenangan dan kenikmatan yang lahir dari Sapaan Ilahi, sehingga tidak terasa berat bagi manusia.
Demikian pula, mewajibkan ibadah melalui sapaan langsung mengisyaratkan bahwa tidak ada perantara antara hamba dan Sang Khâliq.
Wahai Sahabat! Adapun hubungan-hubungan yang menyusun kalimat-kalimat ayat ini satu sama lain:
Dalam kalimat
ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍﻋْﺒُﺪُﻭﺍ,
perintah dan sapaan ditujukan kepada lapisan-lapisan yang mengandung seluruh individu yang telah hadir atau akan hadir pada masa silam, kini, dan depan, dari mukmin, kafir, serta munafik yang membentuk ketiga kelompok terdahulu.
Karena itu, bagi mukmin sempurna yang termasuk rujukan waw dalam ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ, ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ adalah perintah untuk terus beribadah dan teguh di dalamnya.
Bagi mukmin pada tingkat menengah, ia merupakan perintah untuk menambah ibadah.
Bagi orang-orang kafir, ia merupakan perintah melakukan ibadah bersama iman dan tauhid, yang merupakan syarat ibadah.
Bagi orang-orang munafik, ia merupakan perintah untuk ikhlas. Karena itu, kata ibadah yang dinyatakan ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ berkedudukan sebagai makna bersama bagi mereka yang dibebani kewajiban.
ﺭَﺑَّﻜُﻢْ Artinya, “Dialah Yang Mendidik dan Membesarkan kalian. Dialah Pendidik kalian. Maka, jadilah kalian hamba dengan beribadah kepada-Nya!”
Wahai Sahabat! Ketika Al-Qur'an Al-Karîm memerintahkan ibadah, ibadah hanya dapat terjadi setelah tiga hal.
Pertama: Yang Disembah ada.
Kedua: Yang Disembah esa.
Ketiga: Yang Disembah berhak menerima ibadah.
Sambil mengisyaratkan ketiga pertanyaan yang diperkirakan ada itu, ketika menyebutkan dalil-dalil syaratnya, Al-Qur'an Al-Karîm membagi dalil-dalil Wujud Yang Disembah menjadi dua:
Yang satu: dalil-dalil yang diambil dari luar, yang disebut afaki.
Yang kedua: bukti-bukti yang diambil dari diri manusia, yang disebut enfusi. Bagian enfusi pun dibaginya menjadi dua: yang satu berkenaan dengan diri sendiri dan yang lain dengan leluhur.
Berarti, ada tiga jenis dalil Wujud Yang Disembah: dari luar, dari diri sendiri, dan dari leluhur.
Pertama-tama, ia mengisyaratkan dalil diri sendiri yang paling nyata dan paling dekat melalui kalimat ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ, serta dalil leluhur melalui kalimat
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ.
Kemudian, ibadah dikaitkan kepada penciptaan manusia.
Ibadah mengikuti penciptaan manusia karena dua hal:
Entah manusia pada penciptaan pertama diciptakan dengan potensi ibadah dan kemampuan takwa. Orang yang melihat potensi serta kemampuan itu dalam mereka sangat berharap bahwa mereka akan menunaikan tugas ibadah dan takwa.
Atau, tujuan penciptaan manusia, tugas yang dibebankan kepadanya, dan kesempurnaan yang ditujunya adalah takwa, yang merupakan kesempurnaan ibadah.
ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ
Kalimat ini dapat diterapkan pada kedua pokok tersebut. Artinya, “Takwa yang ditanam dalam potensi serta kemampuan kalian, atau yang dimaksudkan dari tugas serta penciptaan kalian, perlu dikeluarkan dari potensi kepada perbuatan nyata.”
Kemudian, dalam Al-Qur'an Al-Karîm, dalil luar yang paling dekat tentang Wujud Yang Disembah diisyaratkan melalui kalimat
ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ الْاَرْضَ ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ.
Dari isyarat ini terdapat suatu lambang bahwa dibuatnya bumi dalam bentuk ini dan disiapkannya sebagai tempat yang dapat didiami umat manusia serta hewan lainnya hanya melalui Perbuatan Allah سُبْحَانَهُ, bukan pengaruh alam dan sebab-sebab. Sebab, memberikan daya pengaruh sejati kepada sebab-sebab merupakan suatu bentuk syirik.
Melalui kalimat
ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺑِﻨَٓﺎﺀً
diisyaratkan dalil luar yang paling sederhana dan paling tinggi tentang Wujud Sang Pembuat.
Kemudian, melalui kalimat
ﻭَﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﺍﻟﺦ
diisyaratkan sisi petunjuk benda-benda gabungan dan hasil-hasil kelahiran kepada Wujud Sang Pembuat.
Kemudian, sebagaimana setiap dalil terdahulu secara terpisah, yakni satu per satu, menunjukkan Wujud Sang Pembuat, keseluruhannya pun mengisyaratkan keesaan Sang Pembuat.
Kemudian, bentuk urutan kalimat-kalimat tersebut, yang mengisyaratkan tatanan alam sebagai asal dan sumber nikmat, bersama petunjuk ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟَﻜُﻢْ menunjukkan bahwa Yang Disembah berhak menerima ibadah. Sebab, ibadah adalah syukur. Syukur ditujukan kepada Pemberi Nikmat; yakni wajib bersyukur kepada Zat Yang Memberikan nikmat.
Kemudian, dari kalimat ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟَﻜُﻢْ terdapat suatu lambang bahwa, sebagaimana bumi dan hasil-hasil yang keluar darinya, yakni buah-buah bumi, melayani manusia, manusia pun harus berkhidmah kepada Sang Pembuat mereka.
Adapun kalimat
فَلَا ﺗَﺠْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ
berkaitan dengan setiap kalimat sebelumnya. Artinya, ketika beribadah kepada Rabb kalian, jangan menjadikan sekutu.
Sebab, Rabb kalian hanyalah Allah سُبْحَانَهُ. Dialah Yang Menciptakan kalian bersama jenis kalian. Dialah Yang Menyiapkan bumi sebagai tempat tinggal kalian. Dialah Yang Menciptakan langit sebagai atap bangunan kalian. Dialah Yang Mengirim air untuk menyediakan rezeki penghidupan kalian.
Kesimpulannya, seluruh nikmat milik-Nya; maka seluruh syukur dan ibadah pun hanya kepada-Nya.
Sahabat! Marilah beralih kepada keadaan dan butir hikmah kalimat-kalimat yang dikandung ayat ini:
Pertama: Sapaan dan seruan melalui ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ, yang banyak disebutkan dalam Al-Qur'an Al-Karîm, ditegaskan melalui tiga sisi dan tiga partikel.
Yang satu: huruf ﻳَﺎ, yang menyatakan peringatan dan digunakan untuk memperingatkan.
Yang kedua: kata ﺍَﻯُّ, yang digunakan untuk menemukan sesuatu dengan mencari tanda-tandanya, dan diterjemahkan dalam bahasa Turki dengan kata “hangi” (“yang mana”).
Yang ketiga: huruf ﻫَﺎ, yang digunakan untuk membangunkan dari kelalaian.
Dari penegasan-penegasan ini dipahami bahwa seruan dan sapaan yang dilakukan di sini dengan cara tersebut mengisyaratkan banyak manfaat serta butir hikmah.
Di antaranya:
Pertama: Kesulitan yang lahir dari diwajibkannya ibadah kepada manusia diringankan melalui kesenangan dan kenikmatan yang lahir dari diterimanya sapaan Ilahi.
Kedua: Ia mengisyaratkan bahwa naiknya manusia dari tingkat rendah saat tidak hadir kepada kedudukan tinggi saat hadir hanya melalui ibadah.
Ketiga: Ia mengisyaratkan bahwa penerima sapaan dibebani ibadah melalui tiga sisi. Dengan kalbunya ia dibebani berserah diri dan patuh; dengan akalnya iman dan tauhid; dengan jasadnya amal dan ibadah.
Keempat: Ia mengisyaratkan bahwa penerima sapaan terbagi menjadi tiga bagian: mukmin, kafir, dan munafik.
Kelima: Ia mengisyaratkan bahwa sapaan mencakup lapisan manusia yang tinggi, menengah, dan awam.
Keenam: Ia mengisyaratkan kebiasaan dalam seruan dan sapaan di antara manusia: mula-mula manusia memanggil orang yang dilihatnya dan menghentikannya. Kemudian ia memperhatikan tanda-tandanya untuk memahami siapa dirinya. Kemudian ia menjelaskan maksudnya.
Kesimpulannya: Sapaan tersebut mengisyaratkan butir-butir hikmah ini, yang ditegaskan melalui ketiga sisi terdahulu.
Manusia yang diseru melalui ﻳَﺎ mencakup banyak lapisan berbeda, seperti yang lalai, tidak hadir, hadir, tidak tahu, sibuk, sahabat, dan musuh. Ungkapan ﻳَﺎ berubah menurut lapisan-lapisan tersebut. Misalnya, kepada yang lalai ia menyatakan peringatan; kepada yang tidak hadir, menghadirkan; kepada yang tidak tahu, memperkenalkan; kepada sahabat, dorongan; kepada musuh, teguran serta hardikan. Ia memiliki ungkapan yang sesuai bagi setiap lapisan. Kemudian, meskipun kedudukan pembicaraan menghendaki kedekatan, digunakannya partikel ﻳَﺎ yang khusus bagi yang jauh mengisyaratkan beberapa butir hikmah:
1- Amanah dan ibadah yang dibebankan merupakan beban yang sangat besar. 2- Tingkat ubudiyah sangat jauh dari tingkat Keilahian. 3- Mereka yang dibebani kewajiban jauh dalam waktu dan tempat dari waktu serta tempat sapaan. 4- Tingkat kelalaian manusia.
Kata ﺍَﻯُّ, yang menyatakan pengenalan umum karena disebutkan tanpa mudhaf ilaih, mengisyaratkan bahwa sapaan mencakup seluruh kainat, tetapi manusia saja dikhususkan untuk memikul amanah dan ibadah sebagai fardu kifayah.
Maka, kekurangan manusia dalam ibadah merupakan pelampauan terhadap seluruh kainat.
Kemudian, dalam kata ﺍَﻯُّ ungkapannya ringkas dan belum tertentu, sebab disebutkan tanpa penyandaran. Karena keadaan yang belum tertentu dan ringkas itu dihilangkan serta diperinci melalui kata ﻧَﺎﺱْ, di antaranya lahir daya ungkapan ringkas dan terperinci.
ﻫَﺎ: Selain menggantikan mudhaf ilaih bagi ﺍَﻯُّ, ia dimaksudkan untuk memperingatkan mereka yang dipanggil melalui partikel ﻳَﺎ.
ﻧَﺎﺱْ Pada asalnya adalah isim fa'il yang diambil dari lupa. Dengan mempertimbangkan sifat asalnya, ia mengisyaratkan suatu teguran kepada manusia. Artinya, “Wahai manusia! Mengapa kalian melupakan perjanjian azali?” Namun, pada satu sisi ia juga menunjukkan jalan alasan bagi manusia. Artinya, kalian meninggalkan perjanjian itu bukan dengan sengaja, melainkan karena lalai dan lupa.
ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ merupakan jawaban kepada seruan. Karena lapisan-lapisan terdahulu berupa mukmin, kafir, dan munafik dipanggil melalui seruan, perintah ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ menyatakan makna yang sesuai bagi setiap lapisan, seperti terus berlanjut, taat, ikhlas, dan tauhid.
ﺭَﺑَّﻜُﻢْ: Gelar Rabb mengisyaratkan suatu dasar dan sebab bagi ibadah yang dibebankan melalui ﺍُﻋْﺒُﺪُﻭﺍ. Artinya, karena didikan kalian berada di tangan Rabb kalian, kalian selalu memerlukan-Nya. Dialah Yang Memberikan seluruh kebutuhan yang diperlukan bagi didikan kalian. Perlu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya itu. Adapun syukur hanyalah ibadah.
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ: Karena ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ termasuk nama-nama yang belum tertentu, rujukan dan maknanya hanya diketahui melalui kalimat yang dimasukinya, yang disebut shilah. Misalnya, ketika dikatakan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَٓﺎﺀَﻙَ, orang yang datang hanya diketahui melalui kedatangannya kepadamu, tidak diketahui dari sisi lain. Karena itu, disifatinya kata ﺭَﺏَّ di sini dengan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ mengisyaratkan bahwa mengenal Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq bukan melalui hakikat Zat-Nya, melainkan melalui Perbuatan serta jejak-Nya.
Sebagai pilihan atas menciptakan, membangun, atau kata lain, ungkapan ﺧَﻠَﻖَ yang menyatakan bentuk indah penciptaan mengisyaratkan bahwa potensi manusia sesuai bagi ibadah dari segi ketepatan dan kelurusan.
Demikian pula, ibadah merupakan upah dan hasil penciptaan. Dari sisi ini, ia mengisyaratkan bahwa pahala bukan upah ibadah, melainkan berasal dari Kemurahan Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq.
ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ:
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ yang menunjukkan tidak diketahuinya rujukan dan maknanya mengisyaratkan bahwa manusia-manusia terdahulu hancur dan pergi melalui kematian, serta tidak terdapat pengetahuan yang memberitahukan keadaan mereka. Hanya melalui datangnya sebagian makhluk seperti kalian ke tempat mereka, pengenalan manusia-manusia yang telah hancur itu mungkin.
ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ:
Kata ﻟَﻌَﻞَّ menyatakan harapan serta asa. Namun, makna ini secara hakiki tidak dapat digunakan bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq. Karena itu, entah ia akan digunakan secara majazi, atau dinisbatkan kepada penerima sapaan, ataupun kepada pendengar dan penyaksi.
Penisbatannya kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq melalui makna majazi digambarkan demikian:
Sebagaimana ketika seseorang melengkapi seorang lain untuk suatu pekerjaan, ia berharap pekerjaan itu dilakukan oleh orang tersebut, demikian pula—tanpa penyerupaan—Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Memberikan potensi kesempurnaan, kemampuan menerima kewajiban, dan pilihan kepada manusia. Dari sisi ini, dapat dikatakan bahwa Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menantikan dilakukannya pekerjaan-pekerjaan itu oleh manusia.
Dalam penyerupaan dan metafora ini terdapat isyarat
bahwa Hikmah penciptaan manusia adalah takwa, bahwa hasil ibadah juga takwa, dan bahwa takwa merupakan tingkat terbesar.
Penisbatan makna harapan kepada penerima sapaan dijelaskan demikian:
Wahai manusia penerima sapaan! Dengan berada di antara rasa takut dan harapan, beribadahlah kepada Rabb kalian dengan mengharapkan takwa.
Dari sisi ini, manusia tidak boleh mengandalkan ibadahnya dan harus selalu berusaha menambah ibadahnya.
Jika makna harapan menurut pendengar dan penyaksi, ia akan ditafsirkan demikian:
Wahai para penyaksi! Sebagaimana orang yang melihat cakar singa berharap serta menaruh asa bahwa singa mencabik menurut tuntutan cakar itu, kalian pun, karena melihat manusia dilengkapi perlengkapan ibadah, dapat mengharapkan dan menantikan takwa dari mereka.
Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa ibadah merupakan hasil suatu tuntutan fitri.
ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ: Karena takwa mengikuti ibadah lapisan-lapisan yang disebutkan, ia juga mencakup seluruh bagian dan tingkat takwa. Misalnya, takwa dari syirik; takwa dengan menjaga kalbu dari dosa-dosa besar dan segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ; takwa dengan menjauhi hukuman; serta takwa dengan menjaga diri dari murka. Berarti, kata ﺗَﺘَّﻘُﻮﻥَ mengandung tingkat-tingkat semacam ini.
Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa ibadah hanya menjadi ibadah melalui ikhlas; bahwa ibadah bukan semata-mata sarana, melainkan tujuan pada dirinya sendiri; dan bahwa ibadah tidak boleh dilakukan demi pahala atau hukuman.
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢُ الْاَرْضَ ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺑِﻨَٓﺎﺀً
Melalui Keagungan Kudrat Ilahi yang dijelaskan dengan kalimat ini, Al-Qur'an Al-Karîm mendorong dan menggugah manusia untuk beribadah. Demikianlah:
Wahai manusia! Zat Yang Membuat bumi dan langit patuh serta melayani kalian berhak menerima ibadah atas kebaikan yang dilakukan-Nya ini; beribadahlah kepada-Nya.
Demikian pula, ia merupakan petunjuk tersirat kepada keutamaan manusia, bahwa ia memiliki nilai luhur dan dimuliakan di sisi Allah سُبْحَانَهُ. Seakan-akan ia memerintahkan manusia:
Wahai manusia! Beribadahlah kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Yang Memberikan begitu banyak pemuliaan dan penghormatan kepada kalian dengan mengkhususkan seluruh benda tinggi dan rendah untuk manfaat kalian! Perlihatkanlah kelayakan kalian terhadap pemuliaan yang Dia Berikan.
Demikian pula, ia menolak diberikannya daya pengaruh kepada sebab-sebab dan alam. Demikianlah:
Wahai manusia! Bumi dan langit yang kalian lihat ini, beserta sifat-sifatnya, lahir melalui penciptaan, maksud, dan pengkhususan suatu Khâliq serta susunan suatu pengatur, lalu memperoleh keteraturan ini. Sebagaimana alam yang buta tidak memiliki tempat dalam hal-hal yang begitu besar, ia juga tidak memiliki tempat dalam hal-hal paling kecil.
Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa sifat-sifat pun menunjukkan Sang Pembuat karena termasuk hal-hal yang mungkin ada. Sebab, zarah-zarah yang membentuk jasad sama-sama dapat menerima keadaan serta bentuk yang tidak berujung, seperti besar dan kecil, buruk dan indah. Artinya, satu zarah memiliki kemampuan menerima seribu keadaan, dan satu keadaan dapat menjadi keadaan bagi ribuan zarah.
Karena itu, meskipun suatu sifat seperti keindahan dapat menjadi sifat bagi ribuan zarah dan dengan demikian jasad-jasad, ketika ia ditentukan kepada satu jasad di antara begitu banyak kemungkinan, tentu melalui suatu maksud, di bawah hikmah, dengan kehendak serta pengkhususan suatu Zat, jasad itu diberi sifat tersebut dari antara ribuan jasad.
ﻟَﻜُﻢُ: ﻝ ini bukan untuk pengkhususan, melainkan menyatakan sebab. Artinya, manusia adalah sebab, yakni sarana, dihamparkannya bumi. Jamuan di rumah singgah ini diberikan atas namanya. Namun, pemanfaatannya tidak khusus dan tidak terbatas pada manusia. Maka, yang tersisa melebihi kebutuhan serta manfaat manusia tidak dapat disebut sia-sia.
ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ: Ungkapan ini mengisyaratkan suatu butir balagah yang menakjubkan. Sebab, meskipun karena beratnya bumi tenggelam dan lenyap dalam air merupakan tuntutan tabiatnya, melalui Belas Kasih-Nya Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Membiarkan sebagian di luar dan Menghamparkannya sebagai tempat tinggal manusia serta meja jamuan bagi nikmat-nikmat-Nya.
Demikian pula, dari ungkapan ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ dipahami bahwa bumi dibentangkan serta dihamparkan bagi manusia dan hewan seperti lantai rumah. Maka, tumbuhan dan hewan di bumi berkedudukan sebagai anggota keluarga serta kebutuhan rumah seperti makanan dan lainnya.
Demikian pula, dari ungkapan ﻓِﺮَﺍﺷًﺎ dipahami bahwa bumi tidak begitu keras dan padat seperti batu sampai tidak dapat didiami, dan tidak begitu cair seperti air sampai tidak dapat ditanami serta dimanfaatkan. Ia dibuat dalam keadaan pertengahan agar menjadi tempat tinggal sekaligus ladang. Dijaminnya kedua manfaat ini tentu dan pasti hanya dapat melalui suatu tujuan, hikmah, dan tatanan.
ﻭَﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺑِﻨَٓﺎﺀً:
Dibuatnya langit seperti atap bagi manusia menuntut bintang-bintang menjadi seperti lampu yang tergantung pada atap tersebut, agar penyerupaan lengkap. Maka, keberadaan bintang-bintang secara tersebar dalam ruang yang tiada berujung ini serta keadaan mereka yang teratur dan tertata, yang membuat akal takjub, tidak dapat dinisbatkan kepada kebetulan buta.
PERTANYAAN: Manusia merupakan zarah dibanding bumi. Bumi pun merupakan zarah dibanding kainat. Demikian pula, satu individu manusia merupakan zarah dibanding jenisnya; jenisnya pun seperti zarah di antara jenis-jenis lain yang menjadi sesamanya. Demikian pula, tujuan dan manfaat yang dapat dipikirkan akal lebih rendah daripada satu zarah dibanding manfaat dalam Hikmah Azali dan Ilmu Ilahi. Karena itu, tidak masuk akal bahwa alam seperti ini diciptakan demi manfaat manusia?
JAWABAN: Ya, jika lahirnya dipandang, manusia berkedudukan sebagai zarah. Namun, dibanding ruh yang dibawanya, akal yang dipasang pada kepalanya, dan potensi yang dipelihara dalam kalbunya, alam nyata ini sempit dan tidak dapat menampungnya. Hanya alam akhirat yang akan memuaskan dan memenuhi keinginan ruh, pikiran akal, serta kecenderungan potensi tersebut.
Demikian pula, dalam pemanfaatan tidak terdapat desakan, saling menghalangi, atau pembagian; ia seperti hubungan sesuatu yang menyeluruh dengan hal-hal yang juz'i (yang sebagian) darinya. Sebagaimana yang menyeluruh terdapat pada seluruh hal yang juz'i darinya tanpa pembagian pada yang menyeluruh dan tanpa desakan serta saling menolak pada hal-hal yang juz'i darinya, meskipun ribuan pihak memanfaatkan bumi, tidak terjadi desakan di antara mereka atau kekurangan pada bumi. Hanya karena manusia dimuliakan di sisi Allah سُبْحَانَهُ, dalam penciptaan alam nyata manusia diperlihatkan berkedudukan sebagai sebab tujuan. Demi manusia diberikan jamuan umum kepada seluruh jenis. Ini tidak berarti bahwa seluruh manfaat alam terbatas pada manusia dan tidak ada manfaat bagi lainnya.
ﻭَﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ ﺑِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ ﺭِﺯْﻗًﺎ ﻟَﻜُﻢْ
Dari dinisbatkannya penurunan kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq dipahami bahwa tetes-tetes hujan tidak tanpa kendali, melainkan turun di bawah Hikmah dan dengan neraca yang disengaja. Sebab, meskipun datang dari jarak jauh itu serta angin dan udara membantu terjadinya benturan, di antara tetes-tetes tidak terjadi benturan. Maka, tetes-tetes itu tidak tanpa kendali; kekangnya berada di tangan malaikat-malaikat yang mewakilinya.
ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ: Karena kata langit telah disebutkan, meskipun kedudukan pembicaraan adalah tempat kata ganti, disebutkannya nama secara jelas mengisyaratkan bahwa hujan datang dari arah langit, bukan benda langit. Sebab, yang dimaksud kata langit sebelumnya adalah benda.
ﻣَٓﺎﺀً: Meskipun yang datang dari langit adalah salju, butiran hujan es, dan air, disebutkannya hanya air mengisyaratkan bahwa yang menjamin manfaat terbesar adalah air. Adapun tanwin pada kata ﻣَٓﺎﺀً yang menyatakan ketidaktentuan mengisyaratkan bahwa air hujan merupakan air menakjubkan, tatanannya luar biasa, dan perpaduan kimianya tidak diketahui kalian.
Dalam ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ, ﻑ menyatakan mengikuti segera tanpa waktu atau penundaan. Karena itu, keluarnya buah-buah semestinya terjadi sesudah turunnya hujan tanpa jeda waktu. Padahal terdapat waktu cukup lama antara mengeluarkan dan menurunkan. Maka, ﺍَﺧْﺮَﺝَ tidak dihubungkan kepada ﺍَﻧْﺰَﻝَ. Rangkaian perbuatan yang mengikuti penurunan disingkirkan, lalu ﺍَﺧْﺮَﺝَ yang berkedudukan sebagai hasil perbuatan-perbuatan itu dihubungkan kepada ﺍَﻧْﺰَﻝَ. Perkiraan ucapan semestinya demikian:
ﻭَﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﺎﻫْﺘَﺰَّﺕِ الْاَرْضُ ﻭَﺭَﺑَﺖْ ﻭَﺍَﺧْﻀَﺮَﺕْ ﻭَﺍَﻧْﺒَﺘَﺖْ ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ ﺑِﻪ۪ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ
Dari sisi ini, yang mengikuti penurunan adalah kata kerja ﺍِﻫْﺘَﺰَّﺕْ. Tempat asli ﻑ pun pada ﺍِﻫْﺘَﺰَّﺕْ.
Dalam ﺑِﻪ۪, huruf ﺏ bermakna melekat bersama sebab. Artinya, sebagaimana air menjadi sebab lahirnya buah, karena bercampur dan melekat pada buah, ia juga menjadi sarana menjaga kesegaran buah.
Dalam ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ, ﻣِﻦْ menyatakan permulaan bersama penjelasan. Dari sisi ini, ia tidak dapat menjadi objek bagi ﺍَﺧْﺮَﺝَ. Objeknya yang ditentukan menurut pemahaman pendengar diperkirakan ada. Adapun ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ merupakan penjelasan bagi objek tersebut. Perkiraan ucapan berbentuk
ﻓَﺎَﺧْﺮَﺝَ ﺑِﻪ۪ ﺍَﻧْﻮَﺍﻋًﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺜَّﻤَﺮَﺍﺕِ.
Disebutkannya ﺭِﺯْﻗًﺎ sebagai nakirah mengisyaratkan bahwa dari mana dan melalui apa rezeki ini lahir tidak diketahui kalian.
Dalam ﻟَﻜُﻢْ, ﻝ dimaksudkan bagi tujuan dan sebab. Artinya, kalian merupakan sebab datangnya rezeki, tetapi pemanfaatannya tidak khusus serta tidak terbatas pada kalian; yang lainnya pun ikut memperoleh manfaat sebagai ikutan.
Demikian pula, ia mengisyaratkan bahwa sebagaimana Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengkhususkan nikmat-nikmat-Nya bagi kalian, kalian pun perlu mengkhususkan syukur kepada-Nya.
فَلَا ﺗَﺠْﻌَﻠُﻮﺍ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ ﻑ
pada permulaan memandang empat bagian sebelumnya. Artinya, “Dialah Yang Disembah; jangan menjadikan sekutu. Dialah Qadîr Mutlak; jangan mengimani sekutu bagi-Nya. Dialah Mun'im (Pemberi Nikmat); jangan menjadikan sekutu dalam bersyukur kepada-Nya. Dialah Sang Khâliq; jangan membayangkan pencipta lain.”
ﺗَﺠْﻌَﻠُﻮﺍ: Dipilihnya ungkapan ini daripada ungkapan ﺗَﻌْﺘَﻘِﺪُﻭﺍ mengisyaratkan bahwa, karena sekutu dan yang serupa yang mereka nisbatkan kepada Allah سُبْحَانَهُ tidak memiliki dasar atau hakikat, sekutu-sekutu rekaan tersebut bukan sesuatu yang dapat diimani, melainkan hanya hal-hal rekaan dan buatan.
ﻟِﻠّٰﻪِ: Didahulukannya lafaz jalalah atas ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ mengisyaratkan perlunya memikirkan bahwa Allah سُبْحَانَهُ selalu Hadir, serta bahwa sumber larangan adalah dibuatnya sekutu bagi Allah سُبْحَانَهُ.
ﺍَﻧْﺪَﺍﺩًﺍ: Andad adalah bentuk jamak nidd. Nidd bermakna yang serupa. Padahal yang dijadikan serupa bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq menjadi lawan-Nya. Sesuatu tidak dapat sekaligus menjadi lawan dan serupa, serta lawan sesuatu tidak dapat serupa dengannya. Maka, adanya yang serupa menuntut mustahilnya yang serupa. Disebutkannya andad dalam bentuk jamak mengisyaratkan ketidaktahuan kaum musyrik. Artinya, “Bagaimana kalian menjadikan sekumpulan yang serupa dan lawan bagi Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, yang tidak memiliki yang serupa dari sisi mana pun?”
Demikian pula, ia mengisyaratkan penolakan seluruh jenis syirik. Artinya, “Tidak ada sekutu atau yang menyerupai-Nya, baik dalam Zat, Sifat, maupun Perbuatan-Nya.”
Demikian pula, ia mengisyaratkan lapisan-lapisan sekutu yang disangka kelompok-kelompok sesat seperti kaum penyembah berhala, kaum Sabi, penganut trinitas, dan kaum naturalis.
Peringatan: Asal jalan penyembahan berhala adalah hal-hal menggelikan seperti mengimani bintang sebagai ilah, membayangkan hulul, dan menyangka berjasad.
ﻭَﺍَﻧْﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ
Kalimat ini serta kalimat-kalimat serupa yang disebutkan pada akhir ayat mengisyaratkan bahwa asal Islam adalah ilmu dan dasarnya akal. Karena itu, sifat Islam adalah menerima hakikat dan menolak prasangka-prasangka yang bernalar sesat.
Ditinggalkannya suatu objek bagi ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ menjadi sebab diperkirakannya banyak objek. Berarti, ketika menghindari pemanjangan dan uraian panjang dengan ungkapan yang ringkas serta padat, ia justru menjadi sebab pemanjangan yang lebih besar. Artinya, kalian mengetahui bahwa tidak ada sesembahan dan pencipta kalian selain Allah سُبْحَانَهُ, tidak ada Qadîr Mutlak lain dan tidak ada Mun'im kalian yang lain. Demikian pula, kalian mengetahui bahwa ilah-ilah serta berhala yang mereka reka tidak berkuasa atas sesuatu pun, dan semuanya juga diciptakan serta dibuat.