TENTANG KENABIAN
﴾ﻭَﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَٓﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ ٭ ﻓَﺎِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ ﺍُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ﴿
Maknanya yang sangat singkat: “Jika kalian memiliki keraguan dalam Al-Qur'an yang Kami Turunkan kepada hamba Kami, buatlah satu surah dari yang serupa dengan Al-Qur'an. Panggillah pula para saksi dan penolong selain Allah سُبْحَانَهُ yang kalian rujuk dalam urusan kalian, agar mereka membantu. Jika kalian benar dalam ucapan kalian, bekerjalah bersama-sama dan bawalah satu surah dari yang serupa dengan Al-Qur'an. Jika kalian tidak dapat membawa yang serupa—memang kalian tidak akan dapat—jagalah diri dari api yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
PENDAHULUAN
Sebagaimana dijelaskan pada awal kitab, tujuan dasar yang ditempuh Al-Qur'an Al-Karîm ada empat. Tujuan pertama, “tauhid”, dijelaskan melalui ayat sebelumnya. Melalui ayat ini pula, tujuan kedua, “kenabian”, dinyatakan dan dijelaskan. Hanya ada satu hal: ayat ini membuktikan kenabian Muhammad ﷺ, bukan kenabian secara mutlak. Padahal tujuannya adalah kenabian mutlak. Namun, yang menyeluruh termasuk dalam yang juz'i. Dengan dibuktikannya yang juz'i, yang menyeluruh pun dibuktikan.
Ayat ini membuktikan kenabian Nabi Muhammad ﷺ dengan membicarakan kemukjizatan Al-Qur'an, yang merupakan mukjizat beliau yang terbesar. Dalil-dalil kenabian beliau ﷺ dijelaskan dalam risalah-risalah kami yang lain. Di sini kami hanya akan menjelaskan sebagian secara ringkas dalam enam persoalan:
PERSOALAN PERTAMA
Sebagai hasil pemeriksaan dan pengkajian menyeluruh terhadap pokok-pokok yang dijadikan landasan serta dasar kenabian pada para nabi terdahulu dan tindakan mereka terhadap umatnya—dengan mengecualikan hanya beberapa keadaan akibat waktu dan tempat—terbukti bahwa pada Nabi Muhammad ﷺ terdapat yang lebih sempurna dan lebih tinggi.
Karena itu, seluruh orang yang meraih tingkat kenabian, melalui mukjizat serta keadaan lainnya, dengan bahasa keadaan dan ucapan, telah mengumumkan kesaksian tentang kebenaran kenabian Nabi Muhammad ﷺ, yang menyandang gelar Guru Umat Manusia ﷺ ketika umat manusia mencapai usia matang. Beliau ﷺ pun, dengan seluruh mukjizatnya, mengumumkan kepada alam Wujud serta keesaan Sang Pembuat sebagai bukti bercahaya.
PERSOALAN KEDUA
Jika seluruh keadaan dan gerak beliau ﷺ dari awal sampai akhir diperhatikan, meskipun tidak setiap gerak dan keadaan luar biasa, semuanya menunjukkan kebenaran beliau. Di antaranya: dalam peristiwa gua, ketika bersama Ebubekiri's-Sıddık harapan keselamatan telah terputus sepenuhnya, penghiburan yang diberikan kepada Ebubekiri's-Sıddık melalui
لَا ﺗَﺨَﻒْ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻣَﻌَﻨَﺎ,
“Jangan takut, Allah سُبْحَانَهُ bersama kita!”, serta keadaan yang diperlihatkan beliau dengan kesungguhan, keteguhan, dan keberanian di atas kemampuan manusia, tanpa takut atau ragu, tentu merupakan bukti seperti matahari bagi kebenaran beliau dan kepercayaan beliau kepada Khâliq yang menjadi titik sandaran beliau.
Demikian pula, ketepatan dasar-dasar yang beliau tetapkan demi kebahagiaan dua negeri, serta bahwa kaidah-kaidah yang diperlihatkan beliau tersambung dengan hakikat dan melekat pada kebenaran, telah dan terus diterima serta dibenarkan seluruh dunia.
Peringatan: Jika keadaan dan gerak beliau ﷺ satu per satu memperlihatkan kebenaran serta kelurusan beliau, keseluruhannya menjadi dalil kebenaran kenabian beliau sedemikian rupa sehingga bahkan memaksa setan-setan membenarkannya.
PERSOALAN KETIGA
Terdapat beberapa halaman yang menulis dan membenarkan kebenaran kenabian beliau ﷺ. Kini kami akan membaca halaman-halaman itu:
Halaman pertama adalah diri beliau. Namun, sebelum mengkaji halaman ini, perlu memperhatikan empat butir hikmah:
Butir Hikmah Pertama:
ﻟَﻴْﺲَ ﺍﻟْﻜَﺤَﻞُ ﻛَﺎﻟﺘَّﻜَﺤُّﻞِ
Artinya, mata hitam alami tidak seperti mata hitam buatan. Artinya, sesuatu yang dibuat dan tiruan, betapa pun indah serta sempurnanya, tidak dapat mencapai tingkat sesuatu yang fitri dan alami atau menempati kedudukannya. Bagaimanapun, kesalahan-kesalahan kepalsuan akan tampak dari keadaan serta perilakunya.
Butir Hikmah Kedua: Yang melekatkan akhlak luhur dan tabiat tinggi kepada hakikat serta selalu membuat akhlak itu hidup adalah kesungguhan dan kejujuran. Jika kejujuran hilang dan dusta masuk, orang itu pun menjadi permainan manusia seperti daun yang menjadi permainan angin.
Butir Hikmah Ketiga: Di antara benda-benda yang selaras terdapat kecenderungan dan tarikan. Artinya, semuanya saling cenderung dan menarik, lalu terjadi persatuan di antaranya. Namun, di antara benda-benda yang berlawanan terdapat kebencian dan saling tidak tahan.
Butir Hikmah Keempat: Kekuatan dalam jamaah tidak terdapat dalam individu. Misalnya, kekuatan pada tambang yang dibentuk keseluruhan banyak benang tidak terdapat ketika benang-benang terpisah satu sama lain.
Halaman beliau harus dibaca dengan menghadirkan butir-butir hikmah ini di depan mata. Ya, seluruh jejak, perjalanan, riwayat hidup, dan keadaan lainnya menyaksikan bahwa beliau memiliki akhlak yang sangat besar dan agung. Bahkan, karena sangat luhur akhlaknya, musuh-musuh beliau pun memberinya gelar Muhammadü'l-Emin ﷺ.
Telah diketahui bahwa dari perpaduan akhlak luhur yang berkumpul pada suatu diri lahir keadaan-keadaan tinggi seperti harga diri, martabat, kehormatan, dan kewibawaan, yang tidak membolehkan turun kepada hal-hal rendah. Ya, karena luhur derajatnya, malaikat menolak dan tidak menerima setan. Demikian pula, akhlak luhur yang berkumpul pada suatu diri menolak keadaan-keadaan rendah seperti dusta dan muslihat. Ya, seseorang yang hanya terkenal karena keberanian pun tidak mudah merendahkan diri kepada dusta. Bagaimana seseorang yang menghimpun seluruh akhlak luhur merendahkan diri kepada dusta dan muslihat; mungkinkah?
Kesimpulannya: Nabi Muhammad ﷺ dengan dirinya sendiri merupakan bukti seperti matahari.
Demikian pula, dalam masa muda yang beliau ﷺ lalui dari usia empat sampai empat puluh tahun, tidak terlihat muslihat atau pengkhianatan, dan tidak terdengar dustanya. Jika dalam penciptaan serta tabiat beliau terdapat perasaan dan kecenderungan buruk, pasti ia akan keluar melalui dorongan masa muda. Padahal beliau menghabiskan seluruh umur dengan kelurusan, keteguhan, dan kesucian diri yang sempurna, menurut kesinambungan serta keteraturan. Bahkan musuh-musuhnya tidak melihat keadaan yang mengisyaratkan muslihat.
Demikian pula, ketika usia mencapai empat puluh, akhlak, baik atau buruk dan bagaimanapun bentuknya, menjadi kuat serta menetap dan tidak mungkin lagi ditinggalkan. Yang membuat dunia menerima serta membenarkan perubahan agung yang dilakukan beliau pada awal usia tepat empat puluh tahun, dan menarik serta memikat dunia, adalah kejujuran dan amanah beliau ﷺ yang diketahui setiap orang dari awal sampai akhir.
Berarti, kejujuran dan amanah beliau ﷺ telah menjadi bukti terbesar bagi pernyataan kenabiannya.
PERSOALAN KEEMPAT
Kami akan membaca halaman kedua. Halaman ini adalah masa silam, yakni masa sebelum Zaman Kebahagiaan. Keadaan dan kisah para nabi terdahulu yang dikandung halaman ini masing-masing merupakan bukti bagi kebenaran kenabian beliau. Hanya perlu memperhatikan empat butir hikmah:
Butir Hikmah Pertama: Setelah seseorang mengetahui dasar suatu ilmu dan pokok-pokok yang berkaitan dengan kehidupannya, serta mengetahui penggunaannya pada tempat yang tepat, dibangunnya pernyataannya di atas dasar-dasar itu merupakan dalil bahwa ia mahir dan ahli dalam ilmu tersebut.
Butir Hikmah Kedua: Menurut tuntutan fitrah manusia, sekalipun seseorang biasa, bahkan anak, bahkan berada dalam kaum kecil, ia tidak berani menentang masyarakat luas dan berdusta dalam suatu perkara yang sangat tidak berharga.
Jika demikian, bukankah seseorang yang memiliki martabat sangat besar, dalam suatu perkara yang meliputi seluruh alam, di tengah kaum yang sangat keras kepala dan banyak, meskipun tidak termasuk golongan pembaca dan penulis, membicarakan beberapa hal yang akal sendiri tidak mampu memahami lalu menyebarkan serta mengumumkannya kepada alam dengan kesungguhan sempurna, menjadi dalil kebenarannya sekaligus bukti bahwa perkara itu berasal dari Allah سُبْحَانَهُ?
Butir Hikmah Ketiga: Telah diketahui bahwa banyak ilmu, sifat, dan perbuatan yang dikenal serta akrab bagi manusia berperadaban tidak diketahui orang-orang Badui; mereka tidak mengenal hal-hal tersebut. Karena itu, seseorang yang ingin membicarakan keadaan orang-orang Badui, terutama pada masa silam, harus pergi dalam khayal ke masa-masa serta gurun-gurun itu dan menemui mereka. Sebab, dengan menilai keadaan mereka hanya dari ingatan tanpa melihat mereka, ia tidak dapat memperoleh pengetahuan yang diinginkannya.
Butir Hikmah Keempat: Jika seseorang yang tidak membaca dan menulis berdebat dengan para ulama suatu ilmu, membenarkan persoalan-persoalan yang disepakati para ulama dan memperbaiki persoalan yang menjadi pokok beda pendapat, bukankah keadaan luar biasa orang itu menunjukkan derajatnya yang sangat tinggi serta bahwa ilmunya dianugerahkan?
Hadirkan keempat butir hikmah ini di depan mata dan pandanglah Muhammad dari bangsa Arab ﷺ: meskipun beliau tidak membaca dan menulis sebagaimana diakui semua orang, melalui bahasa Al-Qur'an beliau menyampaikan keadaan para nabi serta kaum mereka seakan-akan telah melihat dan menyaksikannya. Dengan menjelaskan keadaan serta rahasia mereka, beliau menyebarkan dan mengumumkannya kepada alam. Khususnya, kisah-kisah mereka yang beliau sampaikan dimaksudkan untuk membuktikan pernyataan kenabiannya, yang menarik perhatian seluruh orang cerdas. Dasar-dasar yang beliau sampaikan, pada bagian yang disepakati para nabi, beliau benarkan, sedangkan bagian yang menjadi pokok beda pendapat beliau perbaiki, lalu dijadikan pendahuluan bagi pernyataannya. Seakan-akan melalui ruh beliau yang terjaga, yang merupakan cermin Wahyu Ilahi, beliau melipat waktu serta tempat, masuk ke lembah-lembah terdalam masa itu, dan menyampaikan sebagaimana yang dilihatnya.
Karena itu, keadaan beliau ini merupakan mukjizat beliau dan dalil kenabiannya. Demikian pula, dalil-dalil kenabian para nabi terdahulu berkedudukan sebagai dalil maknawi yang membuktikan kenabian beliau.
PERSOALAN KELIMA
Persoalan ini berkenaan dengan Zaman Kebahagiaan, khususnya Jazirah Arab. Di dalamnya juga terdapat empat butir hikmah.
Butir Hikmah Pertama: Telah diketahui dunia bahwa menghapus suatu kebiasaan rendah dan tidak penting dari kebiasaan kaum kecil, atau menghilangkan tabiat terbatas dan lemah dari suatu kelompok hina serta malang, bagi seorang penguasa besar pun memerlukan banyak kesulitan, bahkan dalam waktu yang panjang.
Jika demikian, bukankah luar biasa seseorang yang, meskipun bukan penguasa, dalam waktu singkat menghapus kebiasaan-kebiasaan yang telah kuat dan mengakar pada suatu kaum yang sangat fanatik terhadap kebiasaan, keras kepala, dan banyak; membuat mereka meninggalkan akhlak yang menetap dalam kalbu serta berlangsung terus selama zaman-zaman; lalu menetapkan sebagai gantinya kebiasaan-kebiasaan yang sangat luhur dan akhlak indah?
Butir Hikmah Kedua: Telah diketahui pula dunia bahwa negara adalah pribadi maknawi. Ia terbentuk dan bertumbuh secara bertahap seperti anak. Demikian pula, suatu negara baru mengalahkan negara lama yang telah menembus sampai ruh suatu bangsa juga bertahap dan bergantung pada waktu.
Jika demikian, bukankah luar biasanya Muhammad dari bangsa Arab ﷺ yang membuat negara yang beliau bentuk sekaligus dalam waktu singkat, yang memuat seluruh dasar luhur dan membuka pintu seluruh kemajuan jasmani serta maknawi dan peradaban Islam, mengalahkan seluruh negara dunia serta mempertahankan dan melanggengkan kekuasaan jasmani serta maknawinya?
Butir Hikmah Ketiga: Ya, melalui penundukan dan paksaan, kekuasaan lahiriah serta penguasaan dangkal dapat dipertahankan dalam waktu singkat. Namun, mempertahankan dan melanggengkan kepemimpinan atas nurani dengan memengaruhi seluruh kalbu, pikiran, dan ruh, dengan syarat disukai secara lahir serta batin—sebagai keajaiban terbesar—hanya dapat menjadi salah satu sifat khas kenabian.
Butir Hikmah Keempat: Ya, melalui ancaman, ketakutan, dan muslihat, pikiran masyarakat umum dapat dialihkan ke jalur lain. Namun, pengaruhnya terbatas, dangkal, dan sementara. Ia dapat menutup penilaian akal dalam waktu singkat.
Adapun melalui bimbingan menembus sampai kedalaman kalbu, menggugah perasaan yang paling halus, membuka jalan bagi berkembangnya potensi, menetapkan akhlak luhur dan menghancurkan serta menghilangkan tabiat rendah, mengangkat tirai dari hakikat manusia dan menampakkan hakikat, serta memberikan kebebasan berbicara, hanyalah mukjizat luar biasa yang diambil dari sinar hakikat.
Ya, pada masa-masa sebelum Zaman Kebahagiaan, kerasnya kalbu dan tiadanya belas kasih telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga, karena malu menikahkan putri mereka, mereka menguburkannya hidup-hidup. Melalui belas kasih, kasih sayang, dan kemanusiaan yang dilahirkan Islam pada Zaman Kebahagiaan, mereka yang dahulu tidak merasa sedih ketika menguburkan putri mereka, setelah masuk ke lingkup Islam bahkan tidak lagi menginjak semut. Dapatkah perubahan ruhani, kalbu, dan nurani seperti ini diterapkan pada suatu hukum apa pun?
Setelah memasukkan butir-butir hikmah ini ke saku kalbumu, perhatikan pula pokok-pokok berikut:
1- Melalui kesaksian sejarah dunia, terbukti bahwa seorang jenius terbesar yang ditunjuk orang hanya dapat menghidupkan suatu potensi umum, membangunkan suatu sifat umum, dan mengembangkan suatu perasaan umum. Jika ia tidak dapat membangunkan perasaan seperti ini, seluruh usahanya sia-sia.
2- Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa manusia terbesar berhasil membangunkan satu, dua, atau tiga perasaan umum, seperti semangat kebangsaan, rasa persaudaraan, rasa cinta, dan rasa kebebasan. Bukankah luar biasa mengembangkan ribuan perasaan luhur yang tersembunyi di bawah gelapnya kebodohan, kemalangan, dan kezaliman masa-masa terdahulu, di negeri Jazirah Arab, di tengah kaum Badui yang terpencar? Ya, ini berasal dari cahaya matahari hakikat.
Kepada orang yang tidak dapat memasukkan pokok-pokok ini ke dalam akalnya, kami akan menghadapkan Jazirah Arab ke matanya.
Wahai orang yang keras kepala! Pergilah ke Jazirah Arab, pilih pula seratus filsuf terbesar, dan bawalah bersama. Biarlah mereka di sana bekerja untuk mengembangkan akhlak dan kehidupan maknawi. Dapatkah para filsufmu pada masa peradaban serta kemajuan ini memberikan bahkan satu persen dari polesan yang diberikan Muhammad dari bangsa Arab ﷺ kepada orang-orang Badui liar pada masa kebiadaban itu? Sebab, polesan yang beliau berikan adalah polesan Ilahi yang teguh dan tidak berubah, serta salah satu mukjizat besar beliau.
Demikian pula, orang yang ingin berhasil dalam suatu pekerjaan harus menjaga kemurnian dan kesesuaiannya dengan Adat Allah سُبْحَانَهُ, mengenal hukum-hukum fitrah, serta memperoleh hubungan dengan ikatan-ikatan kehidupan sosial. Jika tidak, fitrah akan menjawab dengan ketidaksesuaian.
Demikian pula, dalam kehidupan sosial perlu tidak menentang arus umum. Jika ditentang, ia jatuh dari atas roda dan tertimpa di bawahnya. Karena itu, melalui diperolehnya izin Taufik Ilahi dalam arus-arus tersebut, terbukti bahwa Muhammad dari bangsa Arab ﷺ berpegang pada kebenaran di atas roda itu.
Ya, hakikat-hakikat syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ telah menjaga keseimbangan dalam hukum-hukum fitrah, tidak merusak hubungan-hubungan yang diperlukan bagi ikatan kehidupan sosial. Semakin panjang waktu, semakin terwujud persambungan di antaranya. Dari sini dipahami bahwa Islam merupakan agama fitri bagi umat manusia dan satu-satunya faktor yang menjaga kehidupan sosial dari guncangan.
Perhatikan butir-butir hikmah serta pokok-pokok ini dan pandanglah Muhammad dari Bani Hasyim ﷺ:
Selain tidak membaca dan menulis, beliau juga tidak memiliki suatu kekuatan. Baik beliau maupun leluhurnya tidak pernah memiliki kekuasaan; mereka tidak cenderung kepada kekuasaan atau kerajaan. Dalam keadaan seperti ini, pada suatu kedudukan penting dan tempat berbahaya, beliau memulai pekerjaan besar dengan kepercayaan serta ketenteraman sempurna. Beliau mengungguli seluruh pikiran masyarakat umum, membuat seluruh ruh mencintainya, dan melampaui seluruh tabiat. Dengan menghapus seluruh kebiasaan liar serta akhlak buruk dari kalbu, beliau menetapkan kebiasaan yang sangat luhur dan akhlak indah. Beliau mengubah kerasnya kalbu yang padam dalam gurun kebiadaban dengan perasaan halus dan menampakkan hakikat manusia. Beliau mengeluarkan mereka dari sudut-sudut kebiadaban itu, mengangkatnya ke puncak peradaban, dan menjadikan mereka guru bagi masa serta alam tersebut. Beliau membentuk bagi mereka negara yang, seperti tongkat Musa yang menelan sihir para penyihir, menelan negara-negara zalim lainnya, membakar serta meruntuhkan ikatan kezaliman, kerusakan, kekacauan, dan kemalangan yang menguasai umat manusia, serta dalam waktu singkat memperluas negara Islam dari timur sampai barat. Bukankah perjalanan beliau ini menunjukkan bahwa jalannya adalah kebenaran dan hakikat?
PERSOALAN KEENAM
Persoalan ini memandang halaman masa depan. Pada halaman ini juga terdapat empat butir hikmah:
Butir Hikmah Pertama: Betapa pun luhur seorang manusia, ia hanya dapat menjadi ahli dan memiliki kecakapan yang menetap dalam empat atau lima ilmu.
Butir Hikmah Kedua: Kadang-kadang satu ucapan yang disampaikan dua orang berbeda: ia menunjukkan ketidaktahuan serta kedangkalan yang satu, dan ilmu serta kemahiran yang lain. Demikianlah:
Seseorang berbicara tanpa berpikir dan secara tidak teratur. Yang lain memandang awal serta akhir ucapan itu, memikirkan konteks sebelum dan sesudahnya, membayangkan hubungan ucapan itu dengan ucapan-ucapan lain, lalu menanamkannya pada tempat yang sesuai dan tanah yang subur. Dari cara bertindak orang ini, dapat dipahami tingkat ilmu serta makrifatnya. Ringkasan-ringkasan yang diambil Al-Qur'an Al-Karîm ketika membicarakan bidang-bidang ilmu termasuk ucapan semacam ini.
Butir Hikmah Ketiga: Pada masa ini, melalui industri yang semakin sempurna, banyak hal seperti sarana, alat, dan perlengkapan menjadi biasa seperti mainan anak. Jika semua itu hadir dua atau tiga abad sebelumnya, ia akan dianggap keajaiban. Demikian pula, waktu berpengaruh pada ucapan.
Misalnya, ucapan yang berharga pada suatu masa tidak memiliki nilai pada masa lain. Karena itu, Al-Qur'an yang mempertahankan kemudaan, keindahan, kemanisan, dan keajaibannya sepanjang masa serta abad yang begitu panjang, tentu dan pasti luar biasa.
Butir Hikmah Keempat: Syarat pertama bagi bimbingan yang lengkap dan bermanfaat ialah harus sesuai dengan potensi jamaah. Jamaah adalah masyarakat awam. Masyarakat awam tidak dapat melihat hakikat secara telanjang; mereka hanya dapat melihatnya di bawah gaya dan pakaian yang diketahui serta akrab bagi mereka. Karena itulah Al-Qur'an Al-Karîm menggambarkan hakikat-hakikat luhur melalui penyerupaan, contoh, dan metafora yang disebut mutasyabihat, serta mendekatkannya kepada pemahaman masyarakat umum.
Demikian pula, agar masyarakat awam yang belum sempurna tidak jatuh ke dalam kesalahan berbahaya, meskipun pada persoalan seperti matahari dan bumi, yang mereka lihat dengan indra lahir dan mereka yakini, ia membuat uraian ringkas serta tidak tertentu, ia tetap meletakkan beberapa tanda dan petunjuk yang mengisyaratkan hakikat.
Setelah memasukkan butir-butir hikmah ini ke dalam akalmu, perhatikan ringkasan berikut:
Syariat Islam berdiri di atas bukti-bukti akali. Syariat ini diringkas dari ilmu-ilmu yang sepenuhnya memuat pokok-pokok hidup ilmu dasar.
Ya, syariat Islam adalah daftar isi dasar-dasar yang terkandung dalam ilmu-ilmu seperti pemurnian ruh, latihan kalbu, pendidikan nurani, pengurusan jasad, pengelolaan rumah, kebijakan masyarakat, tatanan alam, hukum, hubungan-hubungan, adab sosial, dan seterusnya. Pada saat yang sama, pada persoalan yang dipandang perlu, ia memberikan penjelasan menurut kebutuhan. Pada tempat yang tidak diperlukan, atau persoalan yang pikiran belum memiliki potensi, ataupun pokok yang masa belum memiliki kemampuan, ia membuat uraian ringkas melalui suatu penutup. Artinya, ia menetapkan dasar-dasar, tetapi menyerahkan ketentuan yang diambil dari dasar-dasar itu atau cabang-cabang yang dibangun di atasnya kepada musyawarah akal. Bahkan sepertiga ilmu yang dikandung syariat seperti ini tidak dapat ditemukan dalam orang paling cerdas di tempat paling berperadaban pada masa kemajuan ini. Karena itu, orang yang nuraninya dihiasi sikap adil membenarkan bahwa hakikat syariat ini, pada seluruh masa, terutama masa dahulu, berada di luar kemampuan manusia.
Ya, bahkan para filsuf musuh yang secara lahir tidak masuk dalam lingkup Islam membenarkan hakikat ini. Di antaranya, filsuf Amerika Carlyle—dengan menyampaikan dari sastrawan Jerman terkenal Goethe—setelah memperhatikan hakikat-hakikat Al-Qur'an, bertanya, “Mungkinkah dunia peradaban mencapai kesempurnaan di dalam Islam?” Ia sendiri menjawab pertanyaan itu, “Ya, para peneliti kini memanfaatkan lingkup tersebut.” Carlyle juga mengatakan, “Ketika hakikat-hakikat Al-Qur'an terbit, ia menelan seluruh agama seperti api. Memang, itu adalah haknya. Sebab, tidak muncul sesuatu pun dari takhayul kaum Nasrani dan Yahudi.” Filsuf ini membenarkan makna ayat mulia
ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ ﻓَﺎِﻥْ ﻟَﻢْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻭَﻟَﻦْ ﺗَﻔْﻌَﻠُﻮﺍ ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟﺦ.
{(Catatan kaki (Hâsyiyah)): Dalam Risale-i Nur yang diterbitkan empat puluh tahun kemudian, dijelaskan pembenaran empat puluh filsuf terkenal seperti Carlyle, Goethe, dan Bismark. Insyaallah, hal ini juga akan ditulis dalam lampiran kitab ini.}
PERTANYAAN: Baik Al-Qur'an Al-Karîm maupun hadis mulia yang menjadi tafsirnya telah mengambil suatu ringkasan dari setiap ilmu. Suatu kitab atau seseorang tidak mesti luar biasa hanya karena meliputi ringkasan-ringkasan. Seseorang dapat meliputi banyak ringkasan?
JAWABAN: Ringkasan yang kita bicarakan bukan ringkasan yang diambil sembarangan. Ia adalah ringkasan yang digunakan dan ditanam dengan ketepatan baik pada tempat yang sesuai serta tanah subur, dengan mengandung banyak isyarat yang belum pernah didengar. Ringkasan-ringkasan yang diambil Al-Qur'an atau hadis termasuk jenis ini. Ringkasan semacam ini hanya dapat lahir setelah kecakapan menetap dan pengetahuan menyeluruh, sehingga setiap ringkasan berkedudukan sebagai ilmu yang menjadi sumbernya. Ini tidak dapat terdapat pada satu orang.
Sahabat yang Aziz! Sebagai hasil penilaian yang ditulis dalam persoalan-persoalan ini, masukkan pula kaidah-kaidah berikut ke dadamu; engkau akan memerlukannya.
1- Satu orang tidak dapat memiliki keahlian dalam banyak ilmu.
2- Suatu ucapan yang lahir dari dua orang berbeda menurut potensi mereka. Artinya, bagi yang satu nilainya emas, sedangkan bagi yang lain batu bara.
3- Ilmu-ilmu lahir dari pertemuan pikiran dan berkembang seiring berjalannya waktu.
4- Banyak persoalan yang pada masa dahulu bersifat teoretis kini menjadi jelas.
5- Masa silam tidak dapat dibandingkan dengan masa kini; terdapat banyak perbedaan di antaranya.
6- Karena orang-orang padang dan gurun sederhana serta murni, mereka tidak mengetahui dan tidak dapat menyembunyikan muslihat serta tipu daya yang dapat disembunyikan manusia berperadaban di balik tirai peradaban. Semua pekerjaan mereka terbuka dan berani; kalbu dan lidah mereka satu.
7- Banyak ilmu lahir melalui penanaman kebiasaan, pengajaran peristiwa, waktu, dan bantuan lingkungan.
8- Pandangan manusia tidak dapat menembus masa depan dan tidak dapat melihat keadaan serta sifat khususnya.
9- Sebagaimana manusia memiliki umur alami, hukum-hukum yang dibuatnya pun memiliki umur alami. Sebagaimana yang itu memiliki akhir, yang ini pun memiliki akhir.
10- Waktu dan tempat sangat berpengaruh pada sifat, tabiat, dan keadaan manusia.
11- Banyak hal yang dianggap luar biasa pada masa dahulu menjadi hal biasa melalui perkembangan dasar-dasar dan sarana.
12- Meskipun memiliki kecerdasan luar biasa, seseorang tidak mampu menciptakan serta menyempurnakan suatu ilmu sekaligus. Ilmu itu hanya mencapai kesempurnaan secara bertahap seperti anak.
Saudaraku yang Aziz! Setelah menghitung kaidah-kaidah ini satu per satu dan memasukkannya ke kepalamu, lepaskan khayal serta angan zaman, prasangka serta takhayul lingkungan; jadilah telanjang. Menyelamlah dari pantai abad ini dan naiklah ke Semenanjung Jazirah Arab. Kenakan penampilan serta pakaian manusia yang menjadi hasil semenanjung itu, pasangkan pikiran mereka pada kepalamu, dan pandanglah padang yang sangat luas tersebut.
Engkau akan melihat: seorang manusia sendirian, tanpa penolong atau pembantu, tanpa kerajaan atau khazanah. Ia tampil dan bertarung menghadapi seluruh dunia, serta bersiap menghadapi seluruh manusia. Di atas bahunya ia membawa hakikat yang lebih besar daripada bola bumi. Di tangannya ia memegang syariat yang menjamin kebahagiaan manusia, yang tidak seperti pakaian; ia melekat seperti kulit dan, sebanding dengan berkembangnya potensi manusia, meluas serta berkembang, menghasilkan kebahagiaan dua negeri dan mengatur keadaan umat manusia. Ketika ditanya dari mana hukum serta kaidah syariat itu datang dan sampai ke mana terus berlangsung, syariat itu sendiri melalui bahasa kemukjizatannya akan menjawab:
Kami berasal dari Firman Azali; bersama pikiran umat manusia kami akan terus berlangsung sampai keabadian. Namun, setelah umat manusia memutus hubungan dengan dunia, kami pun secara bentuk, dari sisi pembebanan kewajiban, berpisah dari manusia. Akan tetapi, melalui makna dan rahasia kami, kami akan terus menjadi sahabat umat manusia, memberi makanan kepada ruh mereka, dan tidak berhenti menjadi penuntun bagi mereka.
Wahai Sahabat! Dari awal sampai akhir, keadaan, perubahan, dan kondisi yang dikandung halaman aneh serta menakjubkan yang engkau lihat ini berulang kali mengumumkan kepada umat manusia perintah yang menyatakan ketidakmampuan mereka dalam
ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪.
Saudaraku yang Aziz! Suatu pintu lagi terbuka; marilah memandangnya.
Sebagaimana diisyaratkan ayat mulia
ﻭَﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﺍﻟﺦ,
karena kelalaian dan ketidaktahuan terhadap keharusan memberi bimbingan menurut potensi jamaah serta tujuan yang ditempuh Pemberi Syariat dalam membimbing masyarakat umum, sebagian manusia mengalami banyak syak serta keraguan tentang Al-Qur'an. Sumber syak dan keraguan tersebut adalah tiga hal:
1- Mereka berkata: terdapatnya beberapa hal dalam Al-Qur'an yang disebut “mutasyabihat dan persoalan-persoalan sulit”, yang makna hakikinya tidak dipahami, bertentangan dengan kemukjizatannya. Sebab, kemukjizatan Al-Qur'an berdiri di atas balagah, dan balagah hanya berdiri di atas tampak serta jelasnya ungkapan.
2- Mereka berkata: persoalan-persoalan penciptaan dibiarkan tidak tertentu dan mutlak. Demikian pula, hanya sedikit dibicarakan ilmu-ilmu tentang kainat. Ini bertentangan dengan jalan pengajaran dan bimbingan.
3- Mereka berkata: sebagian ayat Al-Qur'an secara lahir bertentangan dengan dalil-dalil akali. Dari sini terlintas bahwa ayat-ayat itu tidak sesuai dengan kenyataan. Ini bertentangan dengan kebenaran Al-Qur'an.
Ketiga hal yang menurut sangkaan orang-orang itu dianggap sebagai kekurangan Al-Qur'an dan sebab syak serta keraguan tidak membentuk kekurangan bagi Al-Qur'an Al-Karîm. Semua itu justru merupakan saksi benar dan dalil pasti yang membuktikan kemukjizatan Al-Qur'an sekali lagi, serta bahwa dalam bimbingan Al-Qur'an memilih ungkapan paling balig dan gaya paling luhur. Berarti, kesalahan berada dalam pemahaman mereka, hâşâ, bukan dalam Al-Qur'an Al-Karîm.
Ya,
ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﺋِﺐٍ قَوْلًا ﺻَﺤ۪ﻴﺤًﺎ ٭ ﻭَﺍٰﻓَﺘُﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﻬْﻢِ ﺍﻟﺴَّﻘ۪ﻴﻢِ
Seperti dikatakan penyair, karena pemahaman mereka sakit, mereka mencela ucapan yang sehat; atau seperti beruang yang tangannya tidak mencapai tandan anggur lalu mengatakan asam. Karena pemahaman mereka pun tidak mencapai kemukjizatan Al-Qur'an yang luhur itu, mereka mencelanya.