Peringatan:
Hidayah terbesar ialah memperlihatkan yang benar sebagai benar dan yang batil sebagai batil dengan disingkirkannya hijab.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺍَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺣَﻘًّﺎ ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍِﺗِّﺒَﺎﻋَﻪُ ، ﻭَﺍَﺭِﻧَﺎ ﺍﻟْﺒَﺎﻃِﻞَ بَاطِلًا ﻭَﺍﺭْﺯُﻗْﻨَﺎ ﺍِﺟْﺘِﻨَﺎﺑَﻪُ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ
Jalan yang lurus mengisyaratkan keadilan yang lahir dari perpaduan dan intisari keberanian, iffah, dan hikmah. Demikianlah:
Agar ruh yang ditempatkan dalam tubuh manusia yang berkebutuhan serta mengalami perubahan, pergantian, dan bencana ini dapat hidup, diciptakanlah tiga daya.
Daya pertama ialah daya syahwat hewani untuk mendatangkan dan menarik manfaat.
Kedua ialah daya amarah kebuasan untuk menolak hal-hal yang berbahaya.
Ketiga ialah daya akal yang bersifat malaikati untuk membedakan manfaat dan bahaya, serta baik dan buruk.
Namun, meskipun syariat telah menetapkan batas dan ujung bagi daya-daya dalam manusia ini, karena secara fitri batas itu tidak ditetapkan, masing-masing daya tersebut terbagi menjadi tiga tingkat yang disebut “kekurangan, pertengahan, berlebihan”.
Misalnya, tingkat kekurangan pada daya syahwat ialah humud: ia tidak memiliki syahwat atau hasrat, baik kepada yang halal maupun yang haram. Tingkat berlebihannya ialah fujur: ia berhasrat menginjak-injak kehormatan dan kesucian diri orang lain. Adapun tingkat pertengahannya ialah iffah: ia memiliki syahwat kepada yang halal baginya, tetapi tidak kepada yang haram.
Peringatan:
Ketiga tingkat ini juga terdapat pada cabang-cabang daya syahwat, seperti makan, minum, tidur, dan berbicara.
Demikian pula, tingkat kekurangan pada daya amarah ialah sifat penakut: ia takut bahkan kepada sesuatu yang tidak patut ditakuti. Tingkat berlebihannya ialah tindakan nekat: ia tidak takut pada apa pun, baik jasmani maupun maknawi. Seluruh kesewenang-wenangan, penindasan, dan kezaliman merupakan hasil tingkat ini. Adapun tingkat pertengahannya ialah keberanian: ia mengorbankan nyawanya demi hak-hak agama dan dunianya, tetapi tidak terlibat dalam hal-hal yang tidak dibenarkan.
Peringatan:
Ketiga tingkat ini juga memiliki tempat pada cabang-cabang daya amarah tersebut.
Demikian pula, tingkat kekurangan pada daya akal ialah kebodohan: ia tidak mengetahui apa pun. Tingkat berlebihannya ialah kecerdikan yang menyesatkan: ia memiliki kecerdasan menipu sampai dapat memperlihatkan yang benar sebagai batil dan yang batil sebagai benar. Adapun tingkat pertengahannya ialah hikmah: ia mengetahui yang benar sebagai benar lalu mematuhinya, serta mengetahui yang batil sebagai batil lalu menjauhinya.
ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﺆْﺕَ ﺍﻟْﺤِﻜْﻤَﺔَ ﻓَﻘَﺪْ ﺍُﻭﺗِﻰَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ
Peringatan:
Sebagaimana daya ini terbagi menjadi tiga tingkat tersebut, cabang-cabangnya pun memuat ketiga tingkat itu. Misalnya, dalam persoalan penciptaan perbuatan, mazhab Jabariyah bersifat berlebihan karena sama sekali meniadakan peran manusia. Mazhab Muktazilah bersifat kekurangan karena memberikan daya pengaruh kepada manusia. Mazhab Ahlusunah berada di pertengahan. Sebab, mazhab ini berada di antara keduanya: ia menisbatkan permulaan perbuatan-perbuatan itu kepada kehendak terbatas manusia, dan akhirnya kepada kehendak yang menyeluruh.
Demikian pula, dalam akidah, meniadakan sifat-sifat Ilahi merupakan sikap berlebihan, menyerupakan Allah سُبْحَانَهُ dengan makhluk merupakan sikap kekurangan, dan tauhid merupakan pertengahan.
Kesimpulannya: Dari sembilan tingkat ini, enam adalah kezaliman dan tiga adalah keadilan. Yang dimaksud jalan yang lurus ialah ketiga tingkat tersebut.
ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
Rangkaian lafaz-lafaz Al-Qur'an yang bagaikan mutiara tidak terbatas pada satu benang, satu macam, atau satu corak. Bahkan, ia dirangkai dan disusun pada banyak corak yang lahir dari banyak kesesuaian yang berbeda-beda dalam tampak atau tersembunyinya, serta dekat atau jauhnya. Memang, setelah keringkasan, dasar kemukjizatan hanya terdapat pada corak-corak seperti ini.
Ya, terdapat suatu hubungan antara
ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
dan setiap kata sebelumnya.
Misalnya, ia memiliki hubungan dengan ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ. Sebab, nikmat merupakan bukti dan petunjuk bagi pujian.
Ia memiliki hubungan dengan ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ. Sebab, kesempurnaan didikan terwujud melalui nikmat-nikmat yang datang terus-menerus dan silih berganti.
Ia berkaitan dengan
ﺍَﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ.
Sebab, “para nabi, syahid, orang saleh, dan ulama” yang dimaksud oleh ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ merupakan rahmat.
Ia memiliki hubungan dengan
ﻣَﺎﻟِﻚِ ﻳَﻮْﻡِ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ.
Sebab, nikmat yang sempurna hanyalah agama. Ia memiliki hubungan dengan ﻧَﻌْﺒُﺪُ. Sebab, merekalah para imam dalam ibadah.
Ia memiliki hubungan dengan ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ. Sebab, merekalah yang memperoleh taufik dan pertolongan.
Ia memiliki hubungan dengan ﺍِﻫْﺪِﻧَﺎ. Sebab, merekalah yang diikuti dalam hidayah.
Ia memiliki hubungan dengan
ﺻِﺮَﺍﻁَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢَ.
Sebab, jalan yang benar hanyalah jalan mereka.
Dibanding kata-kata ﻃَﺮ۪ﻳﻖْ atau ﺳَﺒ۪ﻴﻞْ, dipilihnya kata ﺻِﺮَﺍﻁْ mengisyaratkan bahwa jalan mereka merupakan jalan raya yang batas-batasnya jelas dan ramai dilalui, serta bahwa mereka yang memasuki jalan raya itu tidak keluar lagi.
Ungkapan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ, yang termasuk isim maushul yang lazim digunakan untuk sesuatu yang telah dikenal dan diketahui, mengisyaratkan bahwa mereka bersinar seperti berlian di tengah manusia yang diliputi gelap, sehingga tidak perlu menyelidiki, menuntut, dan mencari mereka. Mereka memiliki derajat luhur yang menjamin bahwa mereka hadir di hadapan mata semua orang. Penyebutan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ dengan bentuk jamak mengisyaratkan adanya kemungkinan untuk meneladani dan mengikuti mereka, serta bahwa dalam jalan mereka tidak terdapat kebatilan. Sebab, dalam suatu jalan yang tidak bersifat perseorangan terdapat tawatur, dan dalam tawatur tidak terdapat kebatilan.
Penyebutan ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ dengan bentuk lampau mengisyaratkan bahwa ia menjadi sarana untuk kembali memohon nikmat, dan kata gantinya yang merujuk kepada Allah سُبْحَانَهُ menjalankan tugas sebagai penolong dan pemberi syafaat. Artinya, “Wahai Rabbku! Karena memberi nikmat adalah Perbuatan-Mu, dan Engkau juga telah memberi nikmat sebelumnya, mengulangi pemberian nikmat meskipun aku tidak berhak mendapatkannya merupakan Keadaan-Mu.”
Dalam ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ, ﻋَﻠٰﻰ mengisyaratkan bahwa beban kerasulan dan kewajiban yang diletakkan pada para nabi sangat berat. Sebagaimana gunung-gunung tinggi mengalami kerasnya hujan, salju, dan badai demi memberi manfaat kepada padang-padang, para nabi pun mengalami kesulitan-kesulitan kerasulan demi melimpahkan manfaat kepada umat mereka.
Peringatan:
Ayat mulia yang disebutkan dalam surah lain, yaitu
ﻓَﺎُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻣَﻊَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻢَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻴّ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﻟﺸُّﻬَﺪَٓﺍﺀِ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤ۪ﻴﻦَ,
menjelaskan ayat mulia
ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
di sini. Memang, satu bagian Al-Qur'an menafsirkan bagian lainnya.
PERTANYAAN:
Sebagaimana jalan-jalan para nabi tidak sama satu sama lain, ibadah mereka pun berbeda satu sama lain. Apa sebab-sebabnya?
JAWABAN:
Dalam akidah dan amal, pada dasar-dasar dan ketentuan-ketentuan pokok, seluruh nabi tetap, teguh, dan bersatu. Perbedaan dan ragam mereka hanya terdapat pada cabang-cabangnya. Memang, berubah dan bergantinya cabang-cabang seiring pergantian zaman merupakan sesuatu yang alami. Ya, dalam empat musim, banyak hal seperti pengobatan dan pakaian mengalami pergantian. Misalnya, pakaian tebal yang dikenakan pada musim dingin berubah pada musim panas; atau suatu obat yang berpengaruh baik pada musim dingin berpengaruh buruk pada musim panas, sehingga tidak digunakan. Demikian pula, cabang-cabang ketentuan agama yang menjadi makanan kalbu dan ruh mengalami pergantian menurut tahap-tahap umur umat manusia.
ﻏَﻴْﺮِ ﺍﻟْﻤَﻐْﻀُﻮﺏِ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ
Adapun hubungan sifat ini, yang merupakan kedudukan takut dan lari, dengan kedudukan-kedudukan sebelumnya ialah: ia membuat orang memandang kedudukan Rububiyah yang memiliki Jalal dan Jamal dengan pandangan takjub dan gentar; memandang kedudukan ubudiyah dalam ﻧَﻌْﺒُﺪُ dengan pandangan berlindung dan mencari naungan; memandang kedudukan tawakal dalam ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ dengan pandangan lemah; serta memandang kedudukan harapan, yang merupakan pendamping tetap, dengan pandangan mencari penghiburan. Sebab, orang yang melihat sesuatu yang menakutkan diliputi rasa takut dan takjub, lalu cenderung melarikan diri. Jika lemah, ia bertawakal, kemudian mencari jalan-jalan penghiburan.
PERTANYAAN:
Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq adalah Ghaniyy Mutlak. Apa hikmah penciptaan umat manusia, yang melakukan begitu banyak kesesatan dan hal-hal buruk yang sangat jelek di alam ini?
JAWABAN:
Yang diciptakan di kainat sebagai tujuan pada dirinya sendiri, secara menyeluruh dan meliputi segalanya, hanyalah kesempurnaan, kebaikan, dan keindahan. Adapun keburukan, kejelekan, dan kekurangan diciptakan sebagai ikutan, berupa hal-hal terbatas yang begitu terpencar di antara keindahan, kebaikan, dan kesempurnaan sehingga hampir tidak terlihat. Semua itu menjadi sarana untuk memperlihatkan tingkat-tingkat, jenis-jenis, dan bagian-bagian kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan, serta menjadi pendahuluan dan tolok ukur bagi adanya atau tampaknya hakikat-hakikat relatif.
PERTANYAAN:
Apa nilai hakikat-hakikat relatif, sehingga keburukan dipandang baik demi hakikat-hakikat itu?
JAWABAN:
Yang disebut hakikat-hakikat relatif adalah hubungan-hubungan yang terdapat di antara bagian-bagian kainat. Tatanan dalam kainat hanya lahir dari hakikat-hakikat relatif. Dari hakikat-hakikat relatif itu, suatu keberadaan yang tunggal tercermin pada jenis-jenis kainat. Hakikat-hakikat relatif jauh lebih banyak daripada hakikat-hakikat yang melekat pada sesuatu itu sendiri. Bahkan, jika hakikat yang melekat pada suatu diri berjumlah tujuh, hakikat relatifnya berjumlah tujuh ratus. Karena itu, meskipun terdapat keburukan dalam kejelekan dan keburukan, jumlahnya sedikit.
Telah diketahui bahwa kebaikan yang banyak tidak ditinggalkan demi keburukan yang sedikit. Jika ditinggalkan, timbullah keburukan yang banyak. Seperti dalam zakat dan jihad.
Ya, maksud pernyataan yang terkenal
ﺍِﻧَّﻤَﺎ ﺗُﻌْﺮَﻑُ الْاَشْيَاءُ ﺑِﺎَﺿْﺪَﺍﺩِﻫَﺎ
ialah bahwa lawan suatu hal menjadi sebab adanya atau tampaknya hakikat-hakikat relatif dari hal itu. Misalnya, seandainya kejelekan tidak ada dan tidak masuk di antara keindahan-keindahan, tingkat-tingkat keindahan yang tiada terhingga tidak akan tampak.
PERTANYAAN:
Apa hikmah penyebutan ﺍَﻧْﻌَﻤْﺖَ sebagai kata kerja, ﻣَﻐْﻀُﻮﺏِ sebagai isim maf'ul, dan ﺿَٓﺎﻟّ۪ﻴﻦَ sebagai isim fa'il? Demikian pula, apa hikmah menyebutkan sifat golongan ketiga, akibat yang timbul dari sifat golongan kedua, dan gelar sifat golongan pertama secara tepat sebagaimana adanya?
JAWABAN:
Gelar “nikmat” dipilih karena merupakan suatu kenikmatan yang selalu dicenderungi nafsu. Sebab penyebutannya sebagai kata kerja lampau telah dijelaskan sebelumnya.
Adapun golongan kedua telah melampaui batas karena dominasi dan pelampauan daya amarah, lalu terjerumus dalam kezaliman dan kefasikan dengan meninggalkan ketentuan-ketentuan. Seperti sikap membangkang orang-orang Yahudi. Karena dalam kezaliman dan kefasikan tampak suatu kenikmatan yang rendah dan tanpa kebaikan, nafsu tidak merasa jijik terhadapnya. Al-Qur'an Al-Karîm menyebutkan murka Ilahi, yang merupakan akibat kezaliman itu, agar nafsu dibuat menjauhi kezaliman dan kefasikan tersebut. Penyebutannya sebagai isim maf'ul, dari jenis kata benda yang sifatnya menyatakan keberlangsungan dan kelanjutan, mengisyaratkan bahwa jika keburukan dan kedurhakaan terus berlangsung serta tidak terputus melalui tobat dan pengampunan, ia akan menjadi pasti dan berubah menjadi cap yang tidak terhapus.
Adapun golongan ketiga ialah sebagian orang Nasrani yang terjerumus dalam kemunafikan dengan mengikuti suatu akidah batil karena prasangka dan hawa nafsu mengungguli akal serta nurani mereka. Karena kesesatan merupakan suatu penderitaan yang membuat nafsu menjauh dan melukai ruh, Al-Qur'an Al-Karîm menyebutkan golongan itu dengan sifat tersebut sendiri. Sebab penyebutannya sebagai isim fa'il mengisyaratkan bahwa kesesatan menjadi kesesatan bergantung pada kelanjutannya; ketika terputus, ia akan termasuk dalam pengampunan.
Wahai Sahabat! Sebagaimana seluruh kenikmatan terdapat dalam iman, seluruh penderitaan pun terdapat dalam kesesatan. Penjelasannya ialah: seseorang, ketika dilemparkan oleh Kudrat Azali dari gelapnya keadaan tanpa wujud ke padang dunia yang menakutkan ini, membuka matanya dan melihat. Ketika ia mengharapkan suatu karunia, tiba-tiba penyakit, penderitaan, dan bencana mulai menyerang bagaikan musuh. Ketika ia memandang alam dan unsur-unsur dengan memohon belas kasih untuk memperoleh bantuan dan pertolongan, ia menghadapi kerasnya hati dan tiadanya belas kasih. Ia mengangkat kepala ke langit untuk meminta pertolongan dari benda-benda langit. Benda-benda itu tampak di matanya dalam keadaan mengerikan dan dahsyat seperti bom atom. Segera ia memejamkan mata, menundukkan kepala, dan mulai berpikir. Ia melihat kebutuhan-kebutuhan hidupnya mulai berteriak dan berseru. Diliputi ketakutan sepenuhnya, segera ia menutup telinga dan berlindung pada nuraninya. Ia melihat bahwa nuraninya, yang dipenuhi ribuan harapan dan angan-angan, menjadi sedemikian gaduh sehingga membuatnya nyaris kehilangan akal.
Jika orang malang itu, yang tidak dapat menemukan jalan penghiburan dari sisi mana pun, tidak mengimani asal mula dan tempat kembali, Sang Pembuat dan kebangkitan, bukankah neraka lebih sejuk daripada keadaannya itu?
Ya, orang malang itu berada dalam keadaan yang tersusun dari takut dan gentar, lemah dan gemetar, rasa asing dan sesak hati, kesendirian seperti anak yatim dan putus asa. Ia memandang kemampuannya: kemampuannya lemah dan tidak sempurna. Ia memandang kebutuhan-kebutuhannya: tidak dalam keadaan yang dapat dipenuhi. Jika ia berseru meminta pertolongan, tidak ada yang datang menolongnya. Ia melihat segala sesuatu sebagai musuh, segala sesuatu sebagai asing. Seribu kali ia menyesali kedatangannya ke dunia dan mengutuknya. Namun, jika dengan memasuki jalan yang lurus kalbu dan ruh orang itu diterangi cahaya iman, keadaannya yang dahulu gelap berubah menjadi keadaan bercahaya. Demikianlah:
Ketika melihat bencana dan musibah yang menyerang, orang itu bersandar kepada Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq lalu merasa tenteram.
Ketika memikirkan harapan-harapan dan potensinya yang menjangkau masa tanpa akhir, orang itu kembali membayangkan kebahagiaan abadi. Ia meneguk seteguk air kehidupan dari kebahagiaan abadi itu dan menenangkan harapan-harapan dalam kalbunya.
Orang itu kembali mengangkat kepala dan memandang langit serta sekelilingnya; ia memperoleh rasa akrab dengan segala sesuatu.
Orang itu kembali memandang benda-benda di langit; dari gerak mereka ia memperoleh keakraban dan rasa aman, bukan ketakutan, serta merenungkan gerak mereka dengan mengambil pelajaran dan merasa takjub.
Orang itu kembali mengenal benda-benda tinggi di langit sedemikian rupa sehingga, benda mana pun yang dipandangnya, ia mulai mendengar dalam kalbu suara-suara akrab yang memberi rasa aman dari benda-benda itu: “Wahai Sahabat! Jangan merasa takut kepada kami! Jangan takut terhadap gerak kami! Kami semua adalah petugas dari satu Khâliq.”
Kesimpulannya: Dalam keadaan pertama, orang itu ingin menumpulkan perasaannya melalui berbagai penghiburan dan melupakan keadaan-keadaan itu dengan mabuk, untuk terbebas dari penderitaan berat yang mengerikan, asing, dan menakutkan dalam nuraninya. Dalam keadaan kedua, ia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan luhur dalam ruhnya. Semakin ia membangunkan kalbunya, menggerakkan nuraninya, dan membuat ruhnya merasakan, semakin bertambah kebahagiaan itu, dan pintu-pintu surga maknawi terbuka baginya.
ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺑِﺤُﺮْﻣَﺔِ ﻫٰﺬِﻩِ ﺍﻟﺴُّﻮﺭَﺓِ ﺍِﺟْﻌَﻠْﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﺍَﺻْﺤَﺎﺏِ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁِ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢِ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ