Risalah Nur — Bahasa Indonesia

SURAH AL-BAQARAH

Isyarat-Isyarat Kemukjizatan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

SURAH AL-BAQARAH

PERTANYAAN:

Dalam Al-Qur'an yang Agung, yang memiliki sifat ringkas dan mukjizat, banyak ayat seperti

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ,

ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺍﻟﺦ,

dan

ﻭَﻳْﻞٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﺍﻟﺦ

diulang. Padahal pengulangan ini bertentangan dengan balagah dan menimbulkan kebosanan?

JAWABAN:

Wahai Sahabat! Tidak setiap sesuatu yang bersinar adalah api yang membakar. Ya, pengulangan kadang-kadang menimbulkan kebosanan, tetapi hal ini tidak berlaku umum. Ia tidak mencakup setiap tempat, setiap ucapan, dan setiap kitab. Banyak pengulangan lahiriah yang dianggap membosankan justru dipandang baik dan dihargai dalam balagah.

Ya, makanan yang dimakan manusia terbagi dua: yang satu merupakan makanan pokok, yang lainnya makanan untuk dinikmati sebagai buah. Bagian pertama memberikan kepuasan dan kekuatan setiap kali diulang, serta menjadi sebab syukur yang berlipat-lipat. Pada bagian kedua, pengulangan menimbulkan kebosanan, sedangkan pergantian memberikan kenikmatan.

Demikian pula, ucapan terbagi dua. Sebagiannya merupakan hakikat-hakikat yang memberi makanan kepada ruh dan kekuatan kepada pikiran; setiap kali diulang, ia memberi kehidupan kepada ruh dan pikiran seperti cahaya matahari. Pada bagian yang seperti buah dan membangkitkan selera, pengulangan tidak diterima dan tidak dipandang baik.

Karena itu, sebagaimana Al-Qur'an secara keseluruhan menjadi makanan dan kekuatan bagi kalbu, serta pengulangannya memberikan kemanisan dan kenikmatan, bukan kebosanan, di antara ayat-ayat Al-Qur'an pun terdapat suatu bagian yang bagaikan ruh kekuatan itu: semakin diulang, semakin bersinar dan menebarkan cahaya kebenaran serta hakikat.

ﻫُﻮَ ﺍﻟْﻤِﺴْﻚُ ﻣَﺎ ﻛَﺮَّﺭْﺗَﻪُ ﻳَﺘَﻀَﻮَّﻉُ

Di antaranya: inti kehidupan dan landasan-landasan bercahaya yang terdapat dalam ayat-ayat seperti

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ

membangkitkan selera setiap kali diulang; seperti kesturi, semakin diaduk semakin harum. Berarti, apa yang dianggap pengulangan sebenarnya bukan pengulangan. Hanya saja, seperti

ﻭَﺍُﺗُﻮﺍ ﺑِﻪ۪ ﻣُﺘَﺸَﺎﺑِﻬًﺎ,

ucapan-ucapan berulang yang menyatakan hikmah, butir halus, dan tujuan yang berbeda-beda itu dianggap berulang karena hanya ungkapan dan lafaznya menyerupai satu sama lain.

Bahkan kisah Musa mengandung banyak keistimewaan dan hikmah. Disebutkannya pada setiap kedudukan pembicaraan dengan suatu sisi yang sesuai dengan kedudukan tersebut merupakan balagah itu sendiri. Ya, Al-Qur'an yang Agung mengambil kisah yang terkenal itu, yang semula seperti perak, ke dalam tangannya yang putih bercahaya dan menuangkannya menjadi bentuk emas, sehingga memberinya corak balagah sedemikian rupa bahwa seluruh ahli balagah terpesona oleh balagahnya dan bersujud.

Demikian pula, basmalah memiliki banyak sisi, seperti mengharapkan keberuntungan, mencari berkah, dan memohon pertolongan; mengandung banyak kedudukan, seperti tauhid, menyatakan Allah سُبْحَانَهُ Mahasuci, pujian, Jalal, Jamal, dan ihsan; serta mengisyaratkan empat tujuan, yaitu tauhid, kenabian, kebangkitan, serta keadilan. Pada setiap tempat penyebutannya, ia telah dan terus disebutkan dari salah satu sisi atau kedudukan tersebut.

Meskipun demikian, dalam surah mana pun terdapat pengulangan, suatu sisi yang sesuai dengan ruh surah tersebut dimaksudkan secara utama. Adapun penyebutan sisi-sisi lainnya sebagai selingan dan ikutan tidak bertentangan dengan balagah.

ﺍﻟٓﻢٓ

Kami akan menyebutkan penjelasan tentang huruf-huruf terpisah yang terdapat pada permulaan surah-surah dalam empat pembahasan.

PEMBAHASAN PERTAMA

Pembahasan ini berkenaan dengan kemukjizatan yang berembus dari ﺍﻟٓﻢٓ dan huruf-huruf terpisah pada permulaan surah-surah. Kemukjizatan adalah cahaya yang tampak dari perpaduan dan pertemuan kilauan kehalusan-kehalusan balagah yang lembut seperti mutiara. Dalam pembahasan ini, kami akan membuat cahaya tersebut bersinar dengan menjelaskannya melalui beberapa kehalusan. Meskipun setiap kehalusan itu lembut dan cahayanya sedikit, fajar sejati akan muncul melalui cahaya sempurna yang lahir dari keseluruhannya.

1-

Jumlah huruf abjad—dengan mengecualikan alif yang sukun—adalah dua puluh delapan. Al-Qur'an yang Agung menyebutkan separuh huruf ini pada permulaan surah-surah dan meninggalkan separuh lainnya.

2-

Separuh yang diambil Al-Qur'an lebih sering digunakan daripada separuh yang ditinggalkannya.

3-

Dalam bagian yang disebutkannya pada permulaan surah-surah, Al-Qur'an banyak mengulang “alif, lam”, yang lebih mudah bagi lidah.

4-

Al-Qur'an membagikan huruf-huruf yang diambilnya kepada surah-surah sebanyak jumlah huruf abjad.

5-

Dari masing-masing jenis huruf abjad yang berpasangan, seperti mahmusah, majhurah, syadidah, rakhwah, musta'liyah, munkhafidhah, munthabiqah, dan munfatihah, ia juga mengambil separuh.

6-

Pada bagian yang tidak memiliki pasangan—awtar—ia mengambil sedikit dari yang berat dan banyak dari yang ringan. Seperti qalqalah dan dzalaqah.

7-

Cara yang dipilih Al-Qur'an yang Agung dalam membagi dua huruf-huruf terpisah pada permulaan surah-surah menurut pola yang disebutkan itu dipilih dari lima ratus empat kemungkinan. Selain cara yang dipilih ini, pembagian dua tersebut tidak mungkin dilakukan dengan kemungkinan mana pun. Sebab, pembagian-pembagian itu sangat bertumpang tindih dan sangat beragam. Orang yang tidak memperoleh bagian dari kilau-kilau kemukjizatan seperti ini hendaklah mencela dan menegur cita rasanya sendiri.

PEMBAHASAN KEDUA

Dalam pembahasan ini juga terdapat beberapa kehalusan:

1-

Keanehan yang tampak mencolok pada ﺍﻟٓﻢٓ dan yang serupa dengannya mengisyaratkan bahwa huruf-huruf ini merupakan pendahuluan dan barisan pengintai bagi sesuatu yang sangat aneh dan menakjubkan.

2-

Mengeja nama-nama dengan memisahkan huruf pada permulaan surah-surah ini mengisyaratkan sumber sesuatu yang dinamai dan dari mana ia berasal.

3-

Pemisahan huruf-huruf ini mengisyaratkan bahwa sesuatu yang dinamai merupakan satu kesatuan menurut tinjauan, bukan suatu susunan yang melebur.

4-

Penghitungan huruf-huruf ini dengan memisahkannya memperlihatkan bahan dan sumber seni itu kepada penerima sapaan. Dengan menantang orang-orang yang hendak membuat tandingan, ia mengisyaratkan teguran yang merendahkan mereka: “Inilah seni kemukjizatan yang kubuat dari susunan dan corak huruf-huruf yang kalian lihat ini. Silakan maju ke arena!”

5-

Penyebutan huruf-huruf abjad yang terlepas dari makna ini mengisyaratkan bahwa para penentang dibuat tidak memiliki hujah. Ya, Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya mengumumkan melalui bahasa keadaan huruf-huruf tanpa makna tersebut: “Aku tidak meminta dari kalian khotbah-khotbah dan pidato-pidato luhur yang menyatakan makna-makna balig, ketentuan-ketentuan, dan hakikat-hakikat. Buatlah saja suatu tandingan dari huruf-huruf yang kuhitung ini, meskipun hanya berupa kebohongan dan cerita!”

6-

Mengeja dengan menghitung huruf-huruf khusus dilakukan oleh para pemula yang baru mulai membaca dan menulis. Dari sini dipahami bahwa Al-Qur'an mengajar suatu kaum yang tidak membaca dan menulis, serta lingkungan pemula.

7-

Menyatakan dan menyebutkan huruf-huruf seperti ﺍ, ﻝ, dan ﺩ dengan nama-namanya, misalnya “alif, lam, dal”, merupakan cara yang digunakan oleh orang-orang yang membaca dan menulis. Dari sini dipahami bahwa, karena baik yang berbicara maupun yang mendengar tidak membaca dan menulis, ungkapan-ungkapan ini tidak lahir dari pembicara dan bukan miliknya, tetapi datang kepadanya dari tempat lain.

Wahai Sahabat! Orang yang tidak dapat melihat corak balagah luhur yang ditenun dari benang-benang halus kehalusan ini bukanlah ahli balagah. Hendaklah ia merujuk kepada para ahli balagah.

PEMBAHASAN KETIGA

ﺍﻟٓﻢٓ merupakan contoh tingkat ringkasnya ungkapan yang paling tinggi dan paling halus, dari antara dasar-dasar kemukjizatan. Dalam hal ini juga terdapat beberapa kehalusan:

1-

Melalui ketiga hurufnya, ﺍﻟٓﻢٓ mengisyaratkan tiga ketetapan. Demikianlah:

Alif mengisyaratkan ketetapan dan pernyataan

ﻫٰﺬَﺍ كَلَامُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ الْاَزَلِىِّ;

lam mengisyaratkan ketetapan dan pernyataan

ﻧَﺰَﻝَ ﺑِﻪ۪ ﺟِﺒْﺮ۪ﻳﻞُ;

mim mengisyaratkan ketetapan dan pernyataan

ﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻉ ﺹ ﻡ

melalui lambang dan petunjuk tersirat.

Ya, sebagaimana ketetapan-ketetapan Al-Qur'an terlukis dan tampak dalam suatu surah panjang, surah panjang dalam surah pendek, surah pendek dalam ayat, ayat dalam kalimat, kalimat dalam kata, dan kata itu dalam huruf-huruf terpisah seperti “sin, lam, mim”, demikian pula salah satu ketetapan yang disebutkan tampak terwujud dalam masing-masing huruf ﺍﻟٓﻢٓ.

2-

Huruf-huruf terpisah pada permulaan surah-surah merupakan sandi Ilahi. Pikiran manusia tidak dapat mencapainya. Kuncinya hanya berada pada Nabi Muhammad ﷺ.

3-

Penyebutan huruf-huruf terpisah yang seperti sandi ini mengisyaratkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga Muhammad ﷺ menerima dan memahami lambang-lambang, petunjuk-petunjuk tersirat, serta hal-hal yang paling tersembunyi seakan-akan jelas.

4-

Pemisahan huruf-huruf ini mengisyaratkan bahwa nilai yang dimiliki huruf dan lafaz tidak hanya menurut makna yang dinyatakannya. Sebagaimana dijelaskan dalam ilmu rahasia huruf, terdapat hubungan-hubungan fitri di antara huruf-huruf, seperti pada angka dan bilangan. {(Catatan kaki (Hâsyiyah)): Empat puluh tahun kemudian, Risale-i Nur memperlihatkan kilau kemukjizatan ini bahkan kepada orang-orang buta.}

5-

Dengan pemisahannya, ﺍﻟٓﻢٓ mengisyaratkan makhraj “tenggorokan, bagian tengah, bibir”, yang merupakan makhraj dasar seluruh huruf. Ia mengalihkan perhatian pikiran kepada makhraj-makhraj tersebut, agar pikiran mengkaji dengan takjub dan mengambil pelajaran bagaimana lafaz dan huruf terbentuk, baik pada ketiga makhraj itu maupun pada makhraj-makhraj kecil yang berkaitan dengannya.

Wahai Sahabat yang mewarnai pikiranmu dengan warna balagah! Jika engkau memeras kehalusan-kehalusan ini,

ﻫٰﺬَﺍ كَلَامُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ

akan keluar darinya.

PEMBAHASAN KEEMPAT

Penyebutan ﺍﻟٓﻢٓ bersama yang serupa dengannya dalam bentuk huruf terpisah dari bentuk susunan mengisyaratkan bahwa bentuk ini mandiri, tidak mengikuti imam mana pun, dan tidak meniru siapa pun; bahwa ia adalah keindahan baru yang hadir di alam wujud, dengan gaya yang menakjubkan dan ragam yang aneh. Dalam pembahasan ini juga terdapat beberapa kehalusan:

1-

Sudah menjadi kebiasaan para pengkhotbah dan ahli balagah untuk selalu mengikuti suatu contoh dalam jalan mereka, menenun corak menurut suatu pola, dan berjalan pada jalan yang telah digarap. Namun, menurut apa yang dipahami dari huruf-huruf ini, Al-Qur'an tidak mengikuti contoh mana pun, tidak membuat corak menurut pola balagah mana pun, dan berjalan pada jalan yang belum digarap.

2-

Dari awal sampai akhir, Al-Qur'an tetap dalam bentuk ketika diturunkan. Meskipun begitu banyak sahabat ingin meniru Al-Qur'an dan musuh-musuh menyerangnya, sampai sekarang Al-Qur'an belum pernah ditiru dan belum pernah diperlihatkan sesuatu yang menyamainya. Ya, jika Al-Qur'an dibandingkan dengan jutaan kitab berbahasa Arab, tidak dapat ditemukan yang serupa dengannya. Maka, Al-Qur'an berada di bawah semuanya—dan ini mustahil—atau berada di atas semuanya. Jadi, ia berada di atas semuanya; maka ia adalah firman Allah سُبْحَانَهُ.

3-

Sesuatu yang merupakan seni buatan manusia mula-mula buruk dan tidak teratur, lalu perlahan-lahan dibuat teratur. Adapun Al-Qur'an tetap mempertahankan kemanisan, keindahan, dan kemudaannya yang diperlihatkan ketika pertama kali muncul, hingga kini.

Wahai Sahabat yang menghirup aroma kelembutan balagah! Kirimkan pikiranmu menuju keempat pembahasan ini, agar lebah mengeluarkan madu

ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥَّ ﻫٰﺬَﺍ كَلَامُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ.

ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ:

Sahabat! Salah satu dasar balagah yang menambah keelokan ucapan dan membuat keindahannya semakin bersinar ialah sebagai berikut: seperti air yang mengalir dari sekeliling untuk memenuhi sebuah kolam, menurut jalan balagah, seluruh kata, batasan, dan susunan yang disebutkan dalam ucapan balig harus mengarah kepada tujuan dasar yang ditempuh ucapan itu dan berfungsi menguatkannya.

Contoh Pertama:

Jika ayat mulia

ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﻣَﺴَّﺘْﻬُﻢْ ﻧَﻔْﺤَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺭَﺑِّﻚَ

diperhatikan, akan terlihat bahwa tujuan dan dasar ucapan ini ialah “sangat menakutkan dengan azab yang amat sedikit”. Seluruh kata dan batasan yang disebutkan dalam ucapan ini bekerja untuk menguatkan tujuan tersebut.

Di antaranya:

ﺍِﻥْ, yang menyatakan keraguan dan kemungkinan, merupakan partikel syarat yang mengisyaratkan sedikit dan ringannya azab.

Demikian pula, ﻧَﻔْﺤَﺔٌ, melalui bentuk dan tanwinnya, memberikan petunjuk tersirat kepada ringannya azab.

Demikian pula, kata ﻣَﺲَّ mengisyaratkan bahwa azab tidaklah keras.

Demikian pula, ﻣِﻦْ yang menyatakan sebagian; sebagai pengganti kata ﻧَﻜَﺎﻝْ yang menunjukkan kerasnya azab, kata ﻋَﺬَﺍﺏِ yang menyiratkan ringannya; serta kasih sayang yang tersirat dari kata ﺭَﺏِّ: semuanya mengisyaratkan sedikit dan ringannya azab, sambil menghadirkan syair berikut melalui bahasa keadaan mereka:

ﻋِﺒَﺎﺭَﺍﺗُﻨَﺎ ﺷَﺘّٰﻰ ﻭَﺣُﺴْﻨُﻚَ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻭَﻛُﻞٌّ ﺍِﻟٰﻰ ﺫَﺍﻙَ ﺍﻟْﺠَﻤَﺎﻝِ ﻳُﺸ۪ﻴﺮُ

Artinya, “Meskipun ungkapan-ungkapan kami berbeda-beda, keindahanmu satu. Semuanya mengisyaratkan keindahan itu.”

Contoh Kedua:

Ayat mulia

ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ.

Dalam ayat ini, tujuan dasarnya ialah “memperlihatkan tingginya kedudukan Al-Qur'an”. Yang menguatkan tujuan ini adalah batasan-batasan

ﺍﻟٓﻢٓ ، ﺫٰﻟِﻚَ ، ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏ ، لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ.

Ya, sambil mengisyaratkan dalil-dalil yang amat halus dan tersembunyi yang menjadi sandarannya, batasan-batasan ini bergegas menguatkan tujuan tersebut.

Di antaranya:

Karena ﺍﻟٓﻢٓ merupakan sumpah, ia mengisyaratkan keagungan Al-Qur'an; melalui kehalusan-kehalusan yang disebutkan, yang tersembunyi di dalamnya, ia juga mengisyaratkan hal yang membuktikan pernyataan tersebut.

Demikian pula, karena ﺫٰﻟِﻚَ merupakan isyarat yang menunjukkan zat dan sifat-sifat, ia mengisyaratkan baik keagungan Al-Qur'an maupun sifat-sifat kesempurnaan yang membuktikan keagungan itu.

Demikian pula, meskipun ﺫٰﻟِﻚَ khusus bagi isyarat indrawi, penggunaannya pada isyarat akali menyatakan penghormatan dan arti penting. Dengan memperlihatkan Al-Qur'an yang dipahami akal dalam bentuk sesuatu yang terindra, serta menghadapkan Al-Qur'an kepada perhatian pikiran dan pandangan, ia menampakkan dan membuat orang mengakui bahwa Al-Qur'an bersih dari tipu daya, kelemahan, dan hal-hal buruk lainnya yang harus disembunyikan.

Demikian pula, jarak jauh yang dinyatakan ﺫٰﻟِﻚَ melalui ﻝ mengisyaratkan tingginya derajatnya yang menunjukkan kesempurnaan Al-Qur'an.

Demikian pula, karena dalam ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏ, ﺍَﻝْ menyatakan pembatasan menurut pemakaian umum, ia mengisyaratkan keagungan Al-Qur'an dan kedudukannya di atas kitab-kitab lain dengan menghimpun keindahan mereka.

Demikian pula, ungkapan ﻛِﺘَﺎﺏُ mengisyaratkan bahwa ia bukan hasil karya seorang yang tidak membaca dan menulis, yang bukan termasuk kalangan pembaca dan penulis.

Demikian pula, berdasarkan kedua kemungkinan kata ganti لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ, ia membuktikan atau menegaskan kesempurnaan Al-Qur'an.

Demikian pula, لَا yang menyatakan cakupan menyeluruh: dalil-dalil dan bukti-bukti yang ditanamkan di setiap sudut Al-Qur'an serta disebutkan di setiap tempatnya menolak keraguan dan syak yang menyerang, dan mengumumkan bahwa Al-Qur'an bersih dari noda-noda semacam itu. Melalui bahasa keadaannya, ia membaca syair berikut:

ﻭَﻛَﻢْ ﻣِﻦْ ﻋَﺎﺋِﺐٍ قَوْلًا ﺻَﺤ۪ﻴﺤًﺎ ﻭَﺍٰﻓَﺘُﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻔَﻬْﻢِ ﺍﻟﺴَّﻘ۪ﻴﻢِ

Artinya, “Tidak ada satu titik pun dalam Al-Qur'an yang dapat dicela. Mencela ucapan-ucapan benar seperti Al-Qur'an hanya timbul dari sakitnya pemahaman.”

Demikian pula, ungkapan ﻓ۪ﻰ, yang menyatakan keberadaan di dalam, mengisyaratkan bahwa jika terdapat keraguan dan syak yang diletakkan pada permukaan serta lahir Al-Qur'an, ia dapat ditolak dengan hakikat-hakikat di dalamnya.

Sahabat! Jika melalui analisis engkau telah dapat memahami nilai susunan dan perbedaan antara keseluruhan dengan bagian-bagian, perhatikanlah batasan-batasan dan bentuk-bentuk susunan dalam contoh-contoh ini. Minumlah sampai puas air jernih balagah dan kautsar kefasihan yang memancar dari kata-kata itu, lalu katakan, “Elhamdülillah!”

PERTANYAAN:

Atas dasar apa kalimat-kalimat ayat mulia

ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ

tidak dikaitkan satu sama lain dengan kata penghubung?

JAWABAN:

Karena kuatnya persambungan, keterkaitan, dan pertautan di antara kalimat-kalimat itu, tidak ada pemisahan yang mengharuskan kalimat-kalimat itu dihubungkan satu sama lain. Sebab, setiap kalimat itu menjadi ayah sekaligus anak bagi kalimat-kalimat yang menyertainya. Artinya, ia menjadi dalil sekaligus hasil.

Ya, melalui bahasa keadaannya, ﺍﻟٓﻢٓ menantang untuk dibuatkan tandingan sekaligus mengumumkan bahwa ia bermukjizat.

ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ menyatakan secara tegas bahwa ia mengungguli seluruh kitab, sekaligus menampakkan bahwa ia istimewa dan unggul.

لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ menyatakan secara tegas bahwa Al-Qur'an bukan tempat keraguan dan syak, sekaligus menampakkan bahwa ia istimewa dan unggul.

ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ

memperlihatkan bahwa ia bertugas menunjukkan jalan yang lurus, sekaligus mengumumkan bahwa ia adalah cahaya hidayah yang terwujud.

Demikianlah, sebagaimana setiap kalimat ini menjadi dalil bagi kalimat-kalimat yang menyertainya melalui makna pertama yang dinyatakannya, melalui makna keduanya ia juga menjadi hasil bagi mereka.

Kemudian, di antara kalimat-kalimat ayat ini terdapat dua belas hubungan, kaitan, dan pertautan yang menjadi sumber kemukjizatan serta landasan balagah. Aku menyebutkan tiga di antaranya sebagai contoh dan menyerahkan yang lainnya kepadamu.

1-

ﺍﻟٓﻢٓ mengundang seluruh penentang untuk membuat tandingan. Maka, ia adalah kitab yang paling luhur. Maka, ia adalah cangkang keyakinan. Sebab, kesempurnaan kitab terwujud melalui keyakinan. Maka, ia adalah hidayah yang terwujud bagi umat manusia.

2-

ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ, artinya, ia mengungguli yang sejenis dengannya. Maka, ia istimewa. Sebab, ia bukan tempat keraguan dan syak. Sebab, ia menunjukkan jalan yang benar kepada orang-orang bertakwa. Maka, ia bermukjizat.

3-

ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ,

artinya, ia membimbing kepada jalan yang lurus. Maka, ia termasuk hal-hal yang pasti. Maka, ia unggul. Maka, ia bermukjizat.

Wahai Sahabat! Cahaya balagah dan keelokan ucapan dalam kalimat

ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ

ini tampak dari empat pokok:

1-

Dalam kalimat ini, “mubtada” dihapus. Penghapusan ini mengisyaratkan bahwa kesatuan antara “mubtada” dan “khabar”, yang membentuk kalimat, telah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga seakan-akan “mubtada” tidak dihapus, melainkan masuk ke dalam khabar. Sebagaimana keduanya bersatu secara lahir, keduanya juga bersatu dalam pikiran.

2-

Sebagai pengganti ﻫَﺎﺩ۪ﻯ, digunakannya ﻫُﺪًﻯ, yakni masdar pada tempat isim fa'il, mengisyaratkan bahwa hakikat Al-Qur'an terbentuk dari cahaya hidayah yang terwujud.

3-

Dari tanwin yang menyatakan ketidaktentuan dalam ﻫُﺪًﻯ, dipahami bahwa hidayah Al-Qur'an telah mencapai tingkat yang sedemikian halus sehingga hakikatnya tidak dapat dipahami, serta menempati ruang yang sedemikian luas sehingga tidak mungkin diliputi dengan pengetahuan. Sebab, “nakirah”, yang merupakan lawan “ma'rifah”, timbul karena sangat tersembunyi atau karena sangat tampak. Atas dasar inilah dikatakan, “Penyebutan dalam bentuk tidak tentu kadang-kadang menyatakan perendahan dan kadang-kadang penghormatan.”

4-

Ungkapan ringkas yang dibuat dengan kata ﻣُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ, yang dipilih dalam bentuk isim fa'il sebagai pengganti beberapa kata, mengisyaratkan buah dan pengaruh hidayah, sekaligus menjadi dalil melalui akibat bagi adanya hidayah.

PERTANYAAN:

Mungkinkah kemukjizatan yang dikatakan berada di luar kemampuan manusia lahir dari beberapa pokok yang sangat terbatas dan sedikit?

JAWABAN:

Pada segala sesuatu, baik jasmani maupun maknawi, saling membantu dan berkumpul memiliki kekuatan serta pengaruh yang besar. Ya, melalui rahasia pencerminan, apabila keindahan tiga hal berkumpul, ia menjadi lima. Jika lima berkumpul, ia menjadi sepuluh. Jika sepuluh berkumpul, ia menjadi empat puluh. Sebab, pada segala sesuatu terdapat semacam pencerminan dan semacam rupa yang tampak. Sebagaimana pada dua cermin yang dihadapkan satu sama lain terlihat banyak cermin, demikian pula ketika dua atau tiga butir halus, atau dua atau tiga keindahan, berkumpul, lahirlah banyak butir halus dan banyak keindahan.

Atas dasar rahasia ini, setiap pemilik keindahan dan setiap pemilik kesempurnaan memiliki kecenderungan fitri untuk berkumpul dengan yang sejenis dengannya. Ketika mereka berkumpul, keindahan dan kesempurnaan mereka yang semula satu menjadi dua. Bahkan, sebuah batu, meskipun hanya batu, dalam bangunan berkubah begitu keluar dari tangan tukang langsung menundukkan kepala dan cenderung bergabung dengan sahabatnya, agar mereka terbebas dari bahaya jatuh. Sayangnya, manusia belum memahami rahasia saling membantu. Setidaknya, hendaklah mereka mengambil pelajaran dari keadaan saling membantu di antara batu-batu.

Pertanyaan:

Padahal maksud balagah dan hidayah ialah memperlihatkan hakikat dengan jelas serta membebaskan pikiran dari beda pendapat, bagaimana kebenaran dan hakikat dapat terlihat di bawah perbedaan-perbedaan yang dibuat para mufasir pada ayat-ayat semacam ini, kemungkinan-kemungkinan yang mereka tunjukkan, dan sisi-sisi berbeda yang mereka jelaskan, yang tidak selaras satu sama lain?

Jawaban:

Telah diketahui bahwa Al-Qur'an yang Agung tidak diturunkan hanya untuk satu zaman, melainkan untuk seluruh zaman. Selain itu, ia tidak khusus bagi satu lapisan manusia, melainkan meliputi seluruh lapisan umat manusia. Selain itu, ia tidak berkenaan dengan satu golongan manusia, melainkan merujuk kepada seluruh golongan umat manusia.

Karena itu, setiap orang, setiap lapisan, dan setiap zaman dapat mengambil bagian dari hakikat-hakikat Al-Qur'an menurut pemahaman serta potensinya, dan memiliki bagian di dalamnya.

Adapun umat manusia berbeda dalam tingkat, beragam dalam cita rasa, serta tidak sama satu sama lain dalam kecenderungan, apa yang dipandang baik, kenikmatan, dan tabiat. Misalnya, sesuatu yang dipandang baik oleh satu kelompok bertentangan dengan cita rasa kelompok lainnya. Sesuatu yang dicenderungi satu kaum dibenci oleh kaum lainnya. Atas dasar rahasia ini, dalam ayat-ayat yang disebutkannya tentang hukuman dosa atau ganjaran kebaikan, Al-Qur'an Al-Karîm tidak membuat pengkhususan, tetapi membiarkannya dalam bentuk umum, agar setiap orang memahaminya menurut cita rasanya.

Kesimpulannya:

Al-Qur'an yang bermukjizat dalam penjelasannya menyusun dan menempatkan ayat-ayat serta kalimat-kalimatnya sedemikian rupa sehingga terdapat jalan-jalan kemungkinan dari setiap sisi, agar berbagai pemahaman dan potensi dapat mengambil bagiannya menurut cita rasanya.

Karena itu, dengan syarat sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu bahasa Arab, prinsip-prinsip balagah, dan ilmu usul, dapat diputuskan bahwa penjelasan serta kemungkinan para mufasir yang berbeda satu sama lain itu dimaksudkan dan dibolehkan menurut zaman, lapisan, dan pemahaman.

Dari butir hikmah ini dipahami bahwa salah satu sisi kemukjizatan Al-Qur'an ialah bahwa susunannya memiliki gaya yang dapat sesuai dengan seluruh zaman dan lapisan.

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ

Adapun sisi-sisi hubungan yang mengharuskan kalimat ini tersusun bersama kalimat sebelumnya ialah:

Kalimat ini memuji orang-orang beriman, sedangkan kalimat sebelumnya memuji Al-Qur'an. Di antara kedua pujian ini terdapat aliran: yang satu menghendaki yang lain, dan yang lain menghendaki yang satu. Sebab, pujian kedua merupakan hasil dari pujian pertama, dalil melalui akibat bagi pujian pertama, serta buah dan saksi hidayah. Pada saat yang sama, ia menjalankan tugas sebagai penolong bagi hidayah. Sebab, memuji orang-orang beriman mengandung dorongan untuk beriman. Dorongan merupakan suatu bentuk hidayah.

Adapun hubungan antara ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ dan ﻣُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ:

Yang satu adalah takhliyah ﴾ﺗَﺨْﻠِﻴَﻪ﴿, yang lain tahliyah ﴾ﺗَﺤْﻠِﻴَﻪ﴿. Takhliyah ﴾ﺗَﺨْﻠِﻴَﻪ﴿ berarti menyucikan dan membersihkan, sedangkan tahliyah ﴾ﺗَﺤْﻠِﻴَﻪ﴿ bermakna menghias dan memperindah. Keduanya saling bersahabat dan selalu saling mengikuti, sebagaimana di sini. Karena itu, begitu kalbu dibersihkan dari keburukan melalui takwa, segera sesudahnya ia dihias dan diperindah dengan iman.

Al-Qur'an Al-Karîm menyebutkan pembersihan dari keburukan dengan tiga tingkatnya:

Pertama, meninggalkan syirik.

Kedua, meninggalkan maksiat.

Ketiga, meninggalkan segala sesuatu selain Allah سُبْحَانَهُ.

Adapun tahliyah ﴾ﺗَﺤْﻠِﻴَﻪ﴿ terwujud melalui amal-amal baik. Amal baik dilakukan dengan kalbu, atau dengan jasad dan tubuh, ataupun dengan harta.

Matahari amal-amal kalbu adalah iman.

Daftar isi amal-amal jasmani adalah salat.

Poros amal-amal harta adalah zakat.

PERTANYAAN:

Meskipun

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ

ringkas menurut tuntutan keadaan, dibanding kata ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ yang menyatakan makna yang sama, ia merupakan pemanjangan. Ya, huruf ﺍَﻝْ diganti dengan ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ, dan kata ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ dengan kata kerja ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ. Apa sebab pemanjangan ini lebih dipilih daripada ungkapan ringkas?

JAWABAN:

Karena ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ termasuk nama-nama yang belum tertentu, hanya shilah-nya (kalimat penjelasnya) yang menentukan dan membedakannya. Berarti, seluruh nilainya terdapat pada shilah-nya. Sifat-sifat lainnya tidak memiliki nilai sama sekali. Dengan memberikan keagungan besar kepada iman, yang menjadi shilah-nya di sini, hal ini mendorong manusia untuk beriman.

Adapun sebagai pengganti kata ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ, dipilihnya ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ dalam bentuk kata kerja mengisyaratkan diperlihatkannya perbuatan iman kepada pandangan khayal untuk menggambarkan keadaannya, serta diperbaruinya iman secara terus-menerus dan berkelanjutan melalui tampaknya dalil-dalil dari dalam dan luar. Ya, sebanding dengan tampaknya dalil-dalil, iman bertambah dan diperbarui.

ﺑِﺎﻟْﻐَﻴْﺐِ, artinya, mereka beriman tanpa kemunafikan, dengan kalbu yang ikhlas. Atau, mereka beriman meskipun hal-hal yang diimani itu gaib. Ataupun, mereka beriman kepada yang gaib atau alam gaib.

Iman adalah cahaya yang lahir dari membenarkan secara terperinci pokok-pokok agama yang wajib diketahui, yang disampaikan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dan membenarkan secara umum hal-hal selain pokok-pokok tersebut.

PERTANYAAN:

Dari masyarakat awam, hanya satu persen yang dapat mengungkapkan hakikat-hakikat agama?

JAWABAN:

Tidak mampu mengungkapkan tidak dapat menjadi bukti bahwa ia tidak mengetahui. Ya, sebagaimana lidah sering kali tidak mampu mengungkapkan kehalusan-kehalusan dalam bayangan pikiran manusia, kehalusan dalam kalbu dan nuraninya pun tidak tampak kepada akal. Bahkan, orang seperti Sekkakî, yang termasuk sosok cemerlang dalam balagah, tidak dapat menangkap kehalusan balagah yang ditampilkan Imruu'l-Kays atau seorang Badui lainnya. Meskipun demikian, ada atau tidaknya iman dapat diketahui melalui pertanyaan. Misalnya, jika seorang awam ditanya apakah Sang Pembuat, Yang Menguasai dan Mengatur alam ini beserta seluruh sisi serta bagiannya, berada pada salah satu sisi alam yang diciptakan⁠-⁠Nya, cukup apabila ia menjawab, “Tidak berada pada sisi mana pun!” Sebab, hal itu menunjukkan bahwa penolakan terhadap arah telah teguh dalam nuraninya.

Menurut penjelasan Sa'd-ı Taftazanî, iman disebut “cahaya yang Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Masukkan ke dalam kalbu hamba yang Dia Kehendaki, setelah hamba itu menggunakan kehendak bebasnya sebagai manusia”. Maka, iman adalah cahaya dan sinar yang dianugerahkan kepada nurani manusia dari Matahari Azali, yang menerangi sisi dalam nurani sepenuhnya. Melalui ini, terwujud keakraban dan rasa aman dengan seluruh kainat. Ia mengenal segala sesuatu. Dalam kalbu manusia pun lahir suatu daya maknawi, yang dengannya manusia dapat bertahan menghadapi setiap musibah dan peristiwa. Ia juga memberi keluasan sedemikian rupa sehingga dengan keluasan itu manusia dapat menelan masa silam dan masa depan.

Demikian pula, sebagaimana iman adalah cahaya yang dianugerahkan dari Matahari Azali, ia juga merupakan kilauan dari kebahagiaan abadi. Melalui kilauan itu, benih-benih seluruh harapan dan potensi dalam nuraninya mulai tumbuh berkembang seperti pohon Tuba, bergerak dan pergi menuju negeri yang abadi.

ﻭَﻳُﻘ۪ﻴﻤُﻮﻥَ الصَّلَاةَ

Keterkaitan dan hubungan kalimat ini dengan kalimat sebelumnya jelas seperti siang hari. Namun, dikhususkannya salat dari antara ibadah serta ketaatan jasmani mengisyaratkan bahwa salat merupakan daftar isi dan contoh seluruh amal baik.

Ya, sebagaimana Al-Fatihah menjadi daftar isi Al-Qur'an dan manusia menjadi daftar isi kainat, salat pun menjadi daftar isi amal-amal baik. Sebab, sebagaimana salat memuat hakikat-hakikat saum, haji, zakat, dan lainnya, ia juga mencakup contoh-contoh ibadah yang dilakukan dengan pilihan maupun secara fitri oleh makhluk yang memiliki dan tidak memiliki daya memahami. Misalnya, ia adalah ibadah yang mengingatkan pada ibadah para malaikat yang bersujud, rukuk, dan berdiri, serta pada keadaan batu, pohon, dan hewan yang menyerupai ibadah-ibadah tersebut.