Risalah Nur — Bahasa Indonesia

PERTANYAAN:

Isyarat-Isyarat Kemukjizatan · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

PERTANYAAN:

Kedurhakaan kekufuran seorang kafir terbatas dan berlangsung dalam waktu singkat. Dihukumnya ia dengan hukuman yang abadi dan tidak berujung tidak sesuai dengan Keadilan Ilahi maupun Hikmah Azali. Belas kasih Ilahi tidak membolehkannya?

JAWABAN:

Jika diterima bahwa hukuman orang kafir itu tidak berujung, melalui enam sisi terbukti bahwa kedurhakaan kekufuran yang dilakukan dalam waktu singkat tersebut merupakan kejahatan yang tidak berujung:

Pertama:

Jika seorang kafir yang meninggal dalam kekufuran hidup dengan umur abadi, tidak diragukan bahwa ia pasti akan menghabiskan umur yang tidak berujung itu dalam kekufuran. Sebab, hakikat ruh orang kafir itu telah rusak. Dari sisi ini, kalbu yang rusak tersebut memiliki potensi melakukan kejahatan yang tidak berujung. Karena itu, hukumannya yang abadi tidak bertentangan dengan keadilan.

Kedua:

Meskipun kedurhakaan orang kafir itu berlangsung dalam waktu terbatas, ia merupakan kejahatan yang tidak berujung terhadap kesaksian seluruh kainat yang tidak berujung mengenai keesaan Allah سُبْحَانَهُ.

Ketiga:

Karena kekufuran merupakan tidak mensyukuri nikmat-nikmat yang tidak berujung, ia merupakan kejahatan yang tidak berujung.

Keempat:

Kekufuran merupakan kejahatan terhadap Zat dan Sifat-Sifat Ilahi yang tidak berujung.

Kelima:

Meskipun nurani manusia secara lahir terbatas, secara batin ia memandang hidup abadi dan menginginkan hidup abadi. Dari sisi ini, nurani yang berkedudukan tidak berujung itu ternoda oleh kekufuran, lalu hancur dan lenyap.

Keenam:

Meskipun suatu lawan menentang lawannya, dalam banyak hal ia menyerupainya. Karena itu, sebagaimana iman menghasilkan buah berupa kenikmatan abadi, merupakan sifat kekufuran untuk menghasilkan penderitaan pedih dan abadi di akhirat.

Hasil yang muncul dari keenam sisi ini ialah: hukuman yang tidak berujung terhadap kejahatan yang tidak berujung merupakan keadilan itu sendiri.

PERTANYAAN:

Kami menerima bahwa hukuman orang kafir itu sesuai dengan keadilan. Namun, apa yang engkau katakan tentang Hikmah Azali yang tidak membutuhkan keburukan-keburukan yang menghasilkan azab?

JAWABAN:

Termasuk kaidah-kaidah dasar bahwa “Kebaikan yang banyak tidak ditinggalkan demi keburukan yang sedikit, yang sesekali terjadi. Jika ditinggalkan, timbullah keburukan yang banyak.” Karena itu, memperlihatkan keteguhan hakikat-hakikat relatif merupakan tuntutan Hikmah Azali. Tampaknya hakikat-hakikat semacam ini hanya terwujud melalui adanya keburukan. Agar batas tidak dilampaui melalui keburukan, diperlukan ancaman dan tindakan menakutkan. Pengaruh ancaman pada nurani terwujud dengan membenarkan ancaman itu. Pembenaran ancaman bergantung pada adanya azab secara nyata di luar. Sebab, seperti akal dan prasangka, nurani terpengaruh oleh ancaman yang berasal dari azab yang telah menjadi hakikat nyata dan abadi. Maka, sebagaimana di dunia, di akhirat pun ancaman dan tindakan menakutkan melalui adanya api merupakan hikmah itu sendiri.

PERTANYAAN:

Baiklah, kami menerima bahwa hukuman abadi itu sesuai dengan hikmah. Namun, apa yang engkau katakan tentang belas kasih dan kasih sayang Ilahi?

JAWABAN:

Saudaraku yang Aziz! Terdapat dua kemungkinan tentang orang kafir itu. Ia akan pergi kepada tiada, atau tetap ada dalam azab yang terus-menerus. Bahwa keberadaan, meskipun dalam neraka, lebih baik daripada tiada merupakan putusan nurani. Sebab, sebagaimana tiada adalah keburukan murni, ia juga merupakan tempat kembali seluruh musibah dan kedurhakaan. Adapun keberadaan, meskipun dalam neraka, merupakan kebaikan murni. Meskipun demikian, tempat tinggal orang kafir adalah neraka dan ia akan tetap di sana selamanya.

Namun, meskipun orang kafir memperoleh hak atas keadaan ini melalui amalnya sendiri, setelah menjalani hukuman amalnya, ia memperoleh suatu keakraban dengan api dan terbebas dari kerasnya azab sebelumnya. Terdapat isyarat-isyarat hadis bahwa sebagai ganjaran atas amal-amal baik yang dilakukan orang-orang kafir itu di dunia, mereka memperoleh rahmat Ilahi tersebut.

Meskipun demikian, menerima hukuman dengan kerelaan yang baik untuk menghilangkan noda kejahatan, meringankan rasa malunya, atau karena kerinduan agar keadilan dijalankan merupakan sifat fitri ruh. Ya, di dunia banyak orang yang menjaga kehormatan telah meminta agar hukuman diterapkan kepada mereka untuk terbebas dari rasa malu atas kejahatannya, dan ada pula yang masih memintanya.

ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣَﻦْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺑِﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ الْاٰخِرِ ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ

Sisi susunan ayat ini bersama bagian sebelumnya:

Sebagaimana turut sertanya dua kata tunggal dalam satu ketetapan atau bersatunya dua kalimat dalam satu tujuan mengharuskan penghubungan, demikian pula penghubungan dua kisah yang mengejar satu sasaran dan satu maksud merupakan tuntutan balagah. Karena itu, kisah orang-orang munafik yang mengandung ringkasan dua belas ayat dihubungkan kepada makna dua ayat terdahulu tentang orang-orang kafir.

Ya, mula-mula dimulai dengan pujian Al-Qur'an. Kemudian beralih kepada pujian orang-orang beriman. Kemudian membawa kepada celaan orang-orang kafir. Untuk melengkapi bagian-bagian manusia, kisah orang-orang munafik pun disebutkan.

PERTANYAAN:

Mengenai celaan terhadap orang-orang kafir, cukup digunakan dua ayat. Atas dasar apa dilakukan pemanjangan mengenai orang-orang munafik dengan ringkasan dua belas ayat?

JAWABAN:

Ada beberapa butir hikmah yang mengharuskan pemanjangan dan uraian panjang mengenai orang-orang munafik:

1-

Ketika musuh tidak dikenal, ia lebih berbahaya. Jika pandai memperdaya, ia lebih jahat. Jika menipu, kerusakannya lebih keras. Jika berada di dalam, bahayanya lebih besar. Sebab, musuh dari dalam mencerai-beraikan kekuatan dan mengurangi keberanian. Sebaliknya, musuh dari luar menguatkan semangat kebersamaan dan menambah keteguhan.

Kejahatan kemunafikan terhadap Islam sangat besar. Yang membuat dunia Islam mengalami gempa adalah kemunafikan. Karena itulah Al-Qur'an yang Agung sangat mencela dan memperlihatkan keburukan mereka.

2-

Karena pergaulannya dengan orang-orang beriman, orang munafik perlahan-lahan memperoleh keakraban dan menjadi akrab dengan iman. Dengan terus mendengar perkataan tentang buruknya kemunafikan, baik dari Al-Qur'an maupun dari orang-orang beriman, ia merasa jijik terhadap keadaan kotornya. Pada akhirnya, uraian diperpanjang untuk menyiapkan landasan agar kalimat tauhid menetes dari lidahnya ke kalbunya.

3-

Akhlak buruk seperti ejekan, tipu daya, bermuka dua, muslihat, dusta, dan ria terdapat pada orang munafik; pada orang kafir tidak sampai pada tingkat itu. Dari sisi ini, dilakukan pemanjangan mengenai orang-orang munafik.

4-

Karena pada umumnya orang-orang munafik berasal dari ahli kitab, mereka memiliki kecerdasan setani dan lebih pandai berbuat muslihat serta tipu daya. Mengenai orang-orang munafik dalam keadaan inilah pemanjangan, yakni memperpanjang ucapan, merupakan balagah itu sendiri.

Marilah beralih kepada hubungan-hubungan di antara kata-kata ayat ini:

Jika jar dan majrur ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ merupakan khabar bagi kata ﻣَﻦْ yang menyatakan orang-orang munafik, timbul pertanyaan berikut:

Jelas bahwa orang-orang munafik termasuk manusia. Bukankah ketetapan ini hanya berupa pemberitahuan tentang sesuatu yang sudah diketahui?

JAWABAN:

Telah diketahui bahwa ketika suatu ketetapan jelas, yang dimaksud adalah konsekuensi ketetapan itu. Yang dimaksud di sini adalah rasa heran, yang merupakan konsekuensi ketetapan tersebut. Seakan-akan Al-Qur'an yang Agung secara tersirat mengundang manusia untuk merasa heran dengan mengatakan, “Bahwa orang-orang munafik termasuk manusia merupakan sesuatu yang mengherankan.” Sebab, manusia dimuliakan. Manusia yang dimuliakan tidak merendahkan diri kepada kemunafikan.

PERTANYAAN:

Karena ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ adalah khabar, mengapa ia didahulukan atas ﻣَﻦْ?

JAWABAN:

Karena rasa heran dimaksudkan dari ketetapan itu, sifat ungkapan yang membangkitkan rasa heran ialah berada pada permulaan ucapan.

Kemudian, beberapa kehalusan muncul dari ungkapan ﻧَﺎﺱ:

1-

Tidak ditentukannya pribadi-pribadi orang munafik oleh Al-Qur'an, melainkan diisyaratkannya mereka melalui suatu sifat umum, lebih sesuai dengan kebijakan Rasul Yang Paling Mulia ﷺ. Sebab, jika dengan ditentukan pribadinya kesalahan mereka ditamparkan ke wajah mereka, orang-orang beriman akan terjerumus dalam waswas melalui muslihat nafsu. Padahal waswas membawa kepada rasa takut, rasa takut kepada ria, dan ria kepada kemunafikan.

Demikian pula, jika Al-Qur'an mencela mereka dengan menentukan pribadinya, akan dikatakan, “Rasul Yang Paling Mulia ﷺ ragu-ragu dan tidak memiliki kepercayaan kepada para pengikutnya.”

Demikian pula, kadang-kadang jika keburukan tidak disingkap, ada kemungkinan ia hilang perlahan-lahan. Namun, jika diumumkan, ia membangkitkan amarah pelakunya dan menyebabkan ia melakukan lebih banyak lagi.

Demikian pula, pertentangan suatu sifat umum seperti ﻧَﺎﺱ dengan kemunafikan menunjukkan bahwa sifat-sifat khusus lebih bertentangan lagi. Sebab, manusia dimuliakan. Kehinaan semacam ini tidak sesuai dengan martabatnya.

Kemudian, ﺍٰﻣَﻨَّﺎ dan juga ungkapan manusia menyatakan bahwa kemunafikan tidak khusus bagi suatu kelompok atau lapisan, melainkan terdapat dalam jenis manusia, kelompok mana pun ia.

Demikian pula, karena kemunafikan merupakan kehinaan yang merusak harga diri serta kehormatan seluruh manusia, ungkapan ﻧَﺎﺱ mengisyaratkan perlunya mengalihkan pandangan umum untuk menentang kemunafikan dan berusaha menghilangkannya serta mencegah penyebarannya.

PERTANYAAN:

Padahal rujukan ﻳَﻘُﻮﻝُ dan ﺍٰﻣَﻨَّﺎ satu, apa hikmah penyebutan yang satu dalam bentuk tunggal dan yang lainnya dalam bentuk jamak?

JAWABAN:

Ia mengisyaratkan suatu kehalusan yang anggun: meskipun yang disifati dengan iman adalah jamak, yang mengucapkannya adalah tunggal.

Kalimat ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺍٰﻣَﻨَّﺎ menceritakan klaim iman mereka. Dalam kalimat ini, sebagaimana penolakan terhadap klaim mereka diisyaratkan melalui dua sisi, penguatan klaim mereka pun disiratkan melalui dua sisi. Demikianlah:

Kata ﻳَﻘُﻮﻝُ, dari segi dasar katanya, mengisyaratkan bahwa klaim iman mereka tidak berasal dari akidah, melainkan hanya suatu ucapan. Demikian pula, melalui bentuk mudhari, ia mengisyaratkan bahwa yang mendorong pembelaan yang terus mereka lakukan bukan suatu sebab dalam nurani, melainkan sikap ria di hadapan manusia.

Adapun isyarat-isyarat yang dibuat untuk menguatkan klaim mereka:

Dari bentuk kata kerja lampau ﺍٰﻣَﻨَّﺎ merembes suatu dalil yang menguatkan seperti “Kami, jamaah-jamaah ahli kitab, telah beriman sejak dahulu. Kini tidak mungkin kami tertinggal dari iman.” Demikian pula, dari kata ganti ﻧَﺎ yang merujuk kepada jamak, muncul penguatan kedua seperti “Kami bukan seperti satu individu. Kami adalah jamaah yang megah. Kami tidak merendahkan diri kepada dusta.”

ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺑِﺎﻟْﻴَﻮْﻡِ الْاٰخِرِ

Al-Qur'an Al-Karîm mengatur hal-hal yang dikisahkannya dengan mengambilnya persis sebagaimana adanya, atau mengambil maknanya, ataupun meringkas ungkapannya.

Menurut kemungkinan pertama, dipilihnya hanya kedua rukun ini dari antara rukun-rukun iman mengisyaratkan bahwa mereka hendak memperlihatkan kejujuran mereka dengan menampakkan rukun-rukun yang paling penting. Pada saat yang sama, menurut sangkaan mereka, kedua rukun inilah yang paling patut diterima dari mereka.

Menurut kemungkinan kedua, dikhususkannya kedua rukun yang dianggap poros di antara rukun-rukun iman oleh Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq mengisyaratkan bahwa iman yang mereka klaim dengan kuat bukanlah iman kepada agama. Sebab, mereka tidak beramal dan berakidah menurut tuntutan kedua rukun tersebut. Pengulangan ﺏ mengisyaratkan bahwa iman kepada kedua rukun tidak dari satu sisi yang sama. Sebab, iman kepada Allah سُبْحَانَهُ adalah iman kepada keberadaan dan keesaan Allah سُبْحَانَهُ. Adapun iman kepada hari akhir adalah iman bahwa hari itu benar dan pasti akan datang.

ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ

PERTANYAAN:

Untuk menanggapi ﺍٰﻣَﻨَّﺎ, apa hikmah dipilihnya bukan ungkapan serupa ﻭَﻣَﺎ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ, melainkan kalimat nominal

ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ?

JAWABAN:

1-

Untuk menghindari pertentangan lahiriah yang tampak di antara kedua ﺍٰﻣَﻨَّﺎ.

2-

ﺍٰﻣَﻨَّﺎ bukan pemberitaan, melainkan ungkapan yang membentuk suatu pernyataan. Karena ungkapan semacam ini tidak dapat didustakan melalui penyangkalan, tidak dikatakan ﻭَﻣَﺎ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ.

3-

Dari kalimat ﺍٰﻣَﻨَّﺎ dipahami secara tersirat kalimat ﻧَﺤْﻦُ ﻣُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ; untuk mengarahkan penyangkalan dan pendustaan kepada kalimat itulah dikatakan

ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ.

4-

Kalimat nominal dipilih untuk menunjukkan mereka terus-menerus tidak beriman.

PERTANYAAN:

Padahal ﻣَﺎ, yang menyatakan penyangkalan, berada pada permulaan kalimat, apa hikmah tidak ditunjukkannya penyangkalan terhadap keberlangsungan yang dipahami dari kalimat?

JAWABAN:

Penyangkalan adalah makna yang ditunjukkan suatu partikel yang padat. Adapun keberlangsungan adalah makna yang dipahami dari bentuk ringan kalimat nominal. Karena itu, yang padat lebih dekat kepada yang padat, yakni penyangkalan lebih dekat kepada iman.

PERTANYAAN:

Dalam

ﻭَﻣَﺎ ﻫُﻢْ ﺑِﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ,

apa yang diisyaratkan oleh masuknya ﺏ, yang merupakan huruf jar, pada khabar?

JAWABAN:

Meskipun secara lahir mereka memiliki iman, untuk menunjukkan bahwa pada hakikatnya mereka tidak dianggap termasuk golongan mukmin sebagai orang-orang yang pantas dan layak beriman, pada khabar ﻣَﺎ dimasukkan ﺏ.

ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻣَﺎﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ اِلَّٓا ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ ٭ ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺮَﺽٌ ﻓَﺰَﺍﺩَ ﻫُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺮَﺿًﺎ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺬِﺑُﻮﻥَ

Ayat ini, melalui seluruh kalimatnya, menyerang kemunafikan, menegur, mencela, mengancam, dan membuat orang heran terhadap orang-orang munafik. Ia menjelaskan dengan tujuan serta sebab apa mereka sebelumnya mengucapkan ﺍٰﻣَﻨَّﺎ, dan menjelaskan tipu daya serta muslihat mereka, yang merupakan kejahatan kemunafikan yang paling pertama.

Pertama-tama, perlu diperhatikan hasil-hasil berantai yang mengikuti tujuh kalimat, dari ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ sampai ﻳَﻜْﺬِﺑُﻮﻥَ, yang berkenaan dengan tipu daya sebagai kejahatan pertama kemunafikan:

1-

Mereka dinyatakan bodoh karena menghendaki sesuatu yang mustahil, seperti memperdaya Allah سُبْحَانَهُ.

2-

Mereka dinyatakan tolol karena mendatangkan bahaya bagi diri sendiri dengan niat memperoleh manfaat.

3-

Mereka dinyatakan tidak tahu karena tidak mampu membedakan manfaat dari bahaya.

4-

Mereka dihinakan melalui kehinaan-kehinaan seperti tabiat mereka yang kotor, sumber kesehatan mereka yang sakit, sumber kehidupan mereka yang mati, dan lainnya.

5-

Mereka direndahkan karena menambah penyakit mereka dengan mencari kesembuhan.

6-

Mereka diancam dengan azab berat yang tidak menghasilkan sesuatu selain penderitaan.

7-

Mereka diperlihatkan kepada khalayak sebagai pendusta, yang merupakan tanda paling buruk di antara manusia.

Kemudian, keteraturan dan keterkaitan di antara ketujuh kalimat ini perlu didengarkan melalui gambaran berikut:

Seseorang, untuk melarang orang lain dari sesuatu yang buruk melalui nasihat, mengarahkan perkataan demikian:

“Yâ hâzâ! Jika engkau memiliki akal, hal yang ingin engkau lakukan itu mustahil.

Selain itu, ia membahayakan dirimu sendiri.

Tidakkah engkau memiliki suatu perasaan yang membedakan baik dan buruk?

Tampaknya terdapat penyakit dalam watakmu, yang memperlihatkan hakikat sebagai takhayul dan yang manis sebagai pahit.

Tentu engkau ingin terbebas dari penyakit itu dan sembuh. Namun, keadaanmu ini tidak menghilangkan penyakit itu, melainkan menambahnya. Jika melalui keadaan ini engkau menginginkan suatu kenikmatan dan kesenangan, yang engkau peroleh adalah azab yang menghasilkan penderitaan paling keras. Pada akhirnya, jika engkau telah sadar dari kemabukan tetapi tidak meninggalkan keadaan burukmu, agar kerusakanmu tidak menjalar kepada orang lain, perlu diumumkan dan diperlihatkan siapa dirimu dengan dibubuhkan cap di atas belalaimu.”

Demikian pula, untuk menghardik dan melarang orang-orang munafik dari kemunafikan, Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Menamparkan keadaan-keadaan buruk mereka ke wajah mereka dengan menceritakannya demikian.

ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ

Artinya, mereka ingin memperdaya Allah سُبْحَانَهُ melalui muslihat. Sebab, Rasul Yang Paling Mulia ﷺ adalah utusan Allah سُبْحَانَهُ. Muslihat yang dilakukan terhadap beliau kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ. Adapun muslihat yang dilakukan terhadap Allah سُبْحَانَهُ mustahil. Menghendaki yang mustahil merupakan kebodohan. Kebodohan seperti hewan semacam ini menimbulkan rasa heran.

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ اِلَّا ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ

Artinya, mereka hanya menipu diri mereka sendiri. Sebab, dalam perbuatan mereka tidak terdapat manfaat, melainkan bahaya. Bahaya ini kembali kepada diri mereka. Hanya kelompok orang tolol yang membahayakan diri mereka sendiri.

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ Artinya, mereka tidak memiliki perasaan yang membedakan manfaat dan bahaya. Ini mengisyaratkan bahwa mereka telah jatuh pada tingkat ketidaktahuan yang paling rendah dan paling hina.

ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺮَﺽٌ

Artinya, karena kemunafikan dan dengki terdapat penyakit dalam kalbu serta ruh mereka yang menyebabkan mereka menganggap yang benar sebagai batil dan hakikat sebagai takhayul. Memang, lahirnya kehinaan semacam ini dari kalbu yang rusak dan ruh yang buruk merupakan hal yang alami.

ﻓَﺰَﺍﺩَﻫُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺮَﺿًﺎ

Artinya, jika melalui keburukan yang mereka lakukan mereka mencari penawar dan obat untuk menghilangkan amarah serta dengki mereka, apa yang mereka sangka obat itu adalah racun yang merusak kalbu dan ruh mereka. Orang yang berusaha mengobati dengan racun tentu hina. Ya, orang yang ingin membalas dendam dengan tangan yang patah dan terluka adalah orang malang yang berbuat untuk menambah lukanya.

ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ

Artinya, jika mereka mencari suatu kesenangan dan kenikmatan, sebagaimana dalam kemunafikan mereka terdapat banyak maksiat, bahkan kenikmatan sementara pun tidak ada. Ia hanyalah kesesatan yang menghasilkan penderitaan keras di dunia dan azab paling keras di akhirat.

ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺬِﺑُﻮﻥَ

Artinya, jika mereka tidak menyesali dusta yang mereka lakukan dan tidak merasa sesal, mereka perlu diperlihatkan di antara manusia sebagai pendusta dan diberi suatu tanda, agar orang lain tidak memercayai mereka lalu terkena penyakit mereka.

Marilah beralih kepada penjelasan keterkaitan dan keteraturan di antara bagian-bagian kalimat yang disebutkan:

Untuk menyatakan secara tegas bahwa tujuan yang ditempuh melalui tipu daya orang-orang munafik mustahil, serta untuk menghadirkan hal yang mustahil itu di depan mata dan memperlihatkannya dalam bentuk buruk, dalam kalimat

ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ

perbuatan orang-orang munafik diungkapkan dengan nama tipu daya, dalam bentuk mudhari dari pola yang menyatakan saling melakukan.

Demikian pula, berlawanan dengan tuntutan kedudukan pembicaraan, sebagai pengganti ﺍَﻟﻨَّﺒِﻰُّ disebutkan ﺍَﻟﻠّٰﻪ, dan sebagai pengganti ﺍَﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ disebutkan

ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ.

Sebab, dari dasar kata ﻳُﺨَﺎﺩِﻋُﻮﻥَ muncul rasa benci. Dari bentuknya muncul keberlangsungan dan kelanjutan. Dari polanya muncul saling melakukan. Saling melakukan mengharuskan kesesuaian balasan, yakni membalas dengan yang serupa. Kesesuaian balasan menuntut agar keburukan mereka dibalas dengan keburukan. Berarti, sebagaimana perbuatan buruk yang terus mereka lakukan ini menghasilkan kebencian yang mengguncangkan jiwa, ia juga menunjukkan bahwa tujuan yang mereka tempuh tetap tidak membuahkan hasil.

Penyebutan kata ﺍَﻟﻠّٰﻪُ secara tegas juga menunjukkan bahwa tujuan mereka mustahil. Sebab, tipu daya yang dilakukan terhadap Rasul Yang Paling Mulia ﷺ kembali kepada Allah سُبْحَانَهُ. Telah diketahui: orang yang ingin bergulat dengan Allah سُبْحَانَهُ akan jatuh.

Dipilihnya sifat iman sebagai shilah untuk menghilangkan ketidaktentuan

ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﺍَﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ

mengisyaratkan bahwa mereka ingin membuat diri mereka dicintai dari sisi iman dan dianggap termasuk orang-orang beriman. Demikian pula, ia menyiratkan bahwa muslihat tidak dapat tetap tersembunyi dari kecakapan orang-orang beriman, yang akalnya diterangi cahaya iman.

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ اِلَّا ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ

Pembatasan dalam kalimat ini mengisyaratkan ketololan mereka yang sempurna. Sebab, tindakan mereka untuk mencelakakan orang-orang beriman berbalik, sehingga dengan menghantamkan kapak kepada diri sendiri, seakan-akan dengan melakukan tipu daya itu terhadap diri sendiri secara langsung, mereka mengumumkan ketololan mereka.

Dipilihnya ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ daripada ﻳَﻀُﺮُّﻭﻥَ kembali mengisyaratkan ketololan mereka. Sebab, di antara orang-orang berakal ada yang sengaja membahayakan diri sendiri, tetapi tidak ada yang dengan sengaja menipu dirinya sendiri, kecuali jika ia seekor keledai dalam bentuk manusia.

ﺍَﻧْﻔُﺴَﻬُﻢْ Nama ini mengisyaratkan bahwa kemunafikan yang mereka lakukan dengan niat memperoleh kesenangan nafsani, demi menyenangkan diri yang sangat berharga dan tercinta bagi mereka, menghasilkan buah zaqqum sebagai reaksi yang berbalik.

PERTANYAAN:

Dari pembatasan dalam kalimat ini dipahami bahwa tipu daya dan kemunafikan mereka tidak membahayakan Islam serta dunia Islam. Padahal dunia Islam tidak mengalami bahaya dari sesuatu pun seperti bahaya yang dialaminya dari cabang-cabang kemunafikan, yang menyebar seperti racun mematikan dalam unsur-unsurnya?

JAWABAN:

Bahaya yang tampak dalam dunia Islam hanya lahir dan menyebar dari tabiat mereka yang rusak, fitrah mereka yang membusuk, dan nurani mereka yang berbau busuk. Ia bukan hasil tipu daya serta muslihat yang mereka lakukan dengan keinginan dan pilihan. Sebab, muslihat mereka merupakan tindakan terhadap Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq, Nabi ﷺ, dan jamaah kaum Muslim. Telah diketahui bahwa Allah سُبْحَانَهُ Mengetahui tindakan tersebut. Nabi ﷺ juga mengetahuinya melalui wahyu. Bagi jamaah kaum Muslim, melalui kecerdasan tajam yang lahir dari iman, muslihat semacam itu tidak dapat tertutup dan tetap tersembunyi. Berarti, kapak yang mereka hantamkan kembali dan memecahkan kepala mereka sendiri. Sebab, yang tertipu bukan jamaah kaum Muslim; yang menipu itulah yang tertipu.

ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ

Artinya, mereka tidak merasakan bahwa muslihat yang dilakukan kembali kepada diri mereka. Penutup ini mengumumkan ketidaktahuan mereka. Sebab, mereka tidak termasuk orang-orang berakal, karena perbuatan mereka ini bukan perbuatan orang berakal. Demikian pula, mereka tidak menyerupai golongan hewan. Sebab, hewan menghindari hal-hal berbahaya karena merasakannya. Berarti, mereka bahkan tidak memiliki indra hewani. Maka, mereka termasuk jenis benda mati yang tidak memiliki pilihan dan kesadaran.

ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ ﻣَﺮَﺽٌ

Sisi keterkaitan kalimat ini dengan bagian sebelumnya:

Ketika mereka tidak bertindak melalui penilaian akal dengan menggunakan kesadaran, dipahami bahwa dalam ruh mereka terdapat penyakit. Setidaknya, mereka harus mengetahui bahwa penyakit itu berbahaya, agar tidak memercayai putusan-putusan yang lahir dari penyakit tersebut. Sebab, sifat penyakit itu ialah memperlihatkan yang pahit sebagai manis dan yang buruk sebagai indah dengan mengubah hakikat-hakikat.

Dari kata ﻓ۪ﻰ, yang menyatakan keberadaan di dalam, dipahami bahwa penyakit mereka tidak berada pada permukaan kalbu, melainkan penyakit yang berada dalam malakut kalbu, yakni sisi dalamnya.

Dari nama ﻗَﻠْﺐ dipahami bahwa, sebagaimana penyakit pada permukaan kalbu menghentikan seluruh amal jasmani, ketika sisi dalam kalbu sakit oleh kemunafikan, perbuatan-perbuatan ruhani sepenuhnya terjatuh dari gerak yang semestinya berada pada jalan lurus. Sebab, poros dan mesin kehidupan hanyalah kalbu.

Didahulukannya ﻓ۪ﻰ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢْ atas ﻣَﺮَﺽٌ menyatakan pembatasan melalui dua sisi.

Yang satu:

penyakit tidak berada pada anggota-anggota lain, melainkan terbatas hanya dalam kalbu.

Yang lain:

kalbu-kalbu itu hanya kalbu orang-orang munafik, bukan kalbu orang-orang lain.

Dari kedua pembatasan itu, melalui sindiran dipahami bahwa sifat cahaya iman ialah memberikan kesehatan dan kelurusan kepada seluruh perbuatan serta jejak manusia.

Dipahami pula bahwa kerusakan berada dalam kalbu. Telah diketahui: jika dasar dan kalbu sesuatu rusak, memperbaiki cabang-cabangnya tidak menghasilkan manfaat.

Dipahami pula bahwa hakikat lahir dari fitrah, dan fitrah merupakan sumber yang menjadi rujukan hakikat-hakikat. Adapun kerusakan dan kehancuran adalah penyakit yang datang kemudian. Sebab, asal segala sesuatu adalah sehat, sedangkan penyakit datang kemudian. Karena itu, mereka tidak dapat berdalih, “Kemunafikan dan kerusakan kami bersifat fitri. Karena tidak dilakukan dengan pilihan, ia tidak mengharuskan hukuman.”

Adapun tanwin yang menyatakan ketidaktentuan dan ketidaktahuan mengisyaratkan bahwa, karena penyakit itu sangat tersembunyi, tidak mungkin terlihat maupun diobati.

Sisi keterkaitan

ﻓَﺰَﺍﺩَﻫُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻣَﺮَﺿًﺎ,

yang membentuk kalimat kelima, dengan bagian sebelumnya, serta sisi keteraturan di antara bagian-bagiannya:

Ya, orang-orang munafik tidak menjauhi perbuatan yang mereka lakukan dengan keyakinan bahwa ia suatu penyakit. Sebaliknya, mereka memandang baik perbuatan-perbuatan itu dan meminta lebih banyak. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq pun Menambahnya menurut permintaan mereka.

PERTANYAAN:

Dalam ﻓَﺰَﺍﺩَ, ﻑ menyatakan bahwa bagian sebelumnya menjadi sebab bagi bagian sesudahnya. Padahal di sini adanya penyakit bukan sebab bertambahnya penyakit?

JAWABAN:

Ketika mereka tidak mengenali penyakit mereka dan tidak meminta pengobatannya, seakan-akan melalui kelalaian mereka meminta tambahannya. Allah سُبْحَانَهُ Al-Haqq Mengubah harapan mereka menjadi putus asa melalui kemenangan orang-orang beriman. Melalui unggulnya kaum Muslim, Dia Mengubah permusuhan mereka menjadi dengki dan dendam. Kemudian, dengan membuat putus asa yang mereka alami serta penyakit-penyakit takut, lemah, dan hina yang lahir dari dendam menguasai kalbu mereka, Dia Menambah penyakit mereka.

PERTANYAAN:

Apa yang diisyaratkan oleh penggunaan kata “penyakit” oleh Al-Qur'an Al-Karîm dalam kalimat ini sebagai tamyiz, bukan maf'ul?

JAWABAN:

Kata ﻣﺮﺽ digunakan sebagai tamyiz untuk menyatakan bahwa penyakit batin dan kalbu orang-orang munafik seakan-akan telah keluar ke lahir, menjalar kepada seluruh amal serta perbuatan mereka, sehingga tubuh mereka sepenuhnya menjadi penyakit. Ya, jika kata ﻣﺮﺽ menjadi maf'ul, ia tidak dapat menyatakan makna ini. Sebab, ketika itu tambahan hanya berkaitan dengan penyakit.

Sisi keterkaitan

ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ,

yang membentuk kalimat keenam:

Ya, dari ﻝ yang menyatakan manfaat, dipahami bahwa manfaat orang-orang munafik adalah azab pedih di dunia atau penderitaan keras di akhirat. Ini bukan manfaat. Maka, manfaat mereka mustahil.

Pertanyaan:

ﺍَﻟ۪ﻴﻢٌ bermakna “yang menderita”. Yang menderita merupakan sifat seseorang. Karena itu, apa hikmah disifatinya azab dengan “pedih”?

Jawaban:

Azab begitu menutupi tubuh mereka, meliputi jasad mereka, dan menembus batin mereka sehingga seakan-akan tubuh mereka menjadi sebongkah azab. Tidak terlihat sesuatu selain azab. Bahkan, seruan “ah!”, jeritan, dan penderitaan yang memancar dari bongkahan azab itu seakan-akan lahir dari azab itu sendiri. Artinya, disangka bahwa yang berseru, berteriak, dan menderita adalah azab itu sendiri.

Sisi keterkaitan

ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻜْﺬِﺑُﻮﻥَ,

yang membentuk kalimat ketujuh:

Ya, di antara kejahatan-kejahatan mereka yang disebutkan, disifatinya azab orang-orang munafik hanya dengan dusta mengisyaratkan sangat buruk dan jeleknya dusta. Isyarat ini juga merupakan saksi yang benar tentang betapa kuatnya pengaruh racun dusta. Sebab, Dusta adalah dasar kekufuran.

Dusta adalah tanda pertama kemunafikan.

Dusta adalah fitnah terhadap Kudrat Ilahi.

Dusta bertentangan dengan Hikmah Rabbani.

Yang menghancurkan akhlak luhur adalah dusta.

Yang meracuni dunia Islam hanyalah dusta.

Yang merusak keadaan dunia manusia adalah dusta.

Yang membuat umat manusia tertinggal dari kesempurnaan adalah dusta. Yang membuat Müseylime-i Kezzab dan yang serupa dengannya hina serta dipermalukan di dunia adalah dusta.

Karena sebab-sebab inilah, di antara seluruh kejahatan, dusta dikhususkan untuk laknat dan ancaman. Ayat ini mengundang perhatian manusia, khususnya kaum Muslim.