Risalah Nur — Bahasa Indonesia

BUKTI KEDUA BELAS

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

BUKTI KEDUA BELAS

Mari, wahai saudara yang mulai sedikit sadar! Saya akan menunjukkan satu lagi bukti sekuat seluruh sebelas bukti. Lihatlah titah bercahaya ini {(Catatan kaki): Titah bercahaya mengisyaratkan Al-Qur'an, dan tanda tangan di atasnya mengisyaratkan kemukjizatannya.}, yang turun dari atas dan dipandang setiap orang dengan perhatian penuh karena takjub atau hormat. Pribadi dengan seribu tanda itu berdiri di sisinya dan menjelaskan makna titah tersebut kepada semua orang. Gaya titah ini bersinar dengan cara yang menarik pandangan kagum setiap orang; ia menyebut persoalan yang begitu serius dan penting, sehingga setiap orang terpaksa mendengarkan. Sebab, ia menjelaskan satu per satu syuunat, tindakan, perintah, serta sifat pribadi yang mengatur seluruh negeri ini, membuat istana ini, dan memperlihatkan keajaiban-keajaiban ini. Sebagaimana pada keseluruhan titah itu terdapat tanda tangan yang paling agung, lihatlah, pada setiap baris serta setiap kalimatnya terdapat tanda tangan yang tidak dapat ditiru. Demikian pula, di atas makna, hakikat, perintah, serta hikmah yang dinyatakannya tampak gaya khusus pribadi itu, seperti segel maknawi miliknya masing-masing. Kesimpulannya,

titah yang paling agung itu memperlihatkan pribadi yang paling agung seperti matahari; yang tidak buta dapat melihat. Wahai sahabat! Jika sudah sadar, sebanyak ini cukup. Jika memiliki perkataan, ucapkan sekarang. Orang yang keras kepala itu menjawab, "Terhadap bukti-buktimu ini, saya hanya mengatakan, Alhamdulillah, saya beriman. Saya beriman dengan cara yang cemerlang seperti matahari dan terang seperti siang; saya menerima bahwa negeri ini memiliki satu Sang Mâlik Dzul-Kamâl, alam ini memiliki satu Pemilik Dzul-Jalâl, dan istana ini memiliki satu Pembuat Dzul-Jamâl. Semoga Allah subhânahu meridaimu, karena engkau membebaskan saya dari sikap keras kepala serta kegilaan saya sebelumnya. Setiap bukti yang engkau bawa, sendiri saja, cukup untuk memperlihatkan hakikat ini. Namun, karena setiap bukti yang datang membuka lapisan makrifat, tabir pengenalan, serta jendela cinta yang lebih cemerlang, lebih manis, lebih menyenangkan, lebih bercahaya, dan lebih indah, saya menanti dan mendengarkan." Kisah perumpamaan yang mengisyaratkan hakikat agung tauhid serta iman "amantu billah" telah selesai. Berkat Karunia Ar-Rahmân, limpahan Al-Qur'an, serta cahaya iman, dari matahari tauhid sejati kita akan memperlihatkan dua belas kilau serta suatu pengantar, sebagai bandingan dua belas bukti dalam kisah perumpamaan. ﻭَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺘَّﻮْﻓ۪ﻴﻖُ ﻭَ ﺍﻟْﻬِﺪَﺍﻳَﺔُ

--

Maqam Kedua Kalimat Kedua Puluh Dua

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻛ۪ﻴﻞٌ ٭ ﻟَﻪُ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ ٭ ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ ٭ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ ٭ ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺩَٓﺍﺑَّﺔٍ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺍٰﺧِﺬٌ ﺑِﻨَﺎﺻِﻴَﺘِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺭَﺑّ۪ﻰ ﻋَﻠٰﻰ ﺻِﺮَﺍﻁٍ ﻣُﺴْﺘَﻘ۪ﻴﻢٍ

PENGANTAR

Mengenai iman kepada Allah subhânahu, pusat terbesar rukun-rukun iman, dalam Katre Risalesi (Risalah Tetes) kami telah menjelaskan secara ringkas bahwa setiap makhluk ini menunjukkan dan bersaksi melalui lima puluh lima bahasa atas keharusan Wujud serta Keesaan Allah subhânahu. Dalam Nokta Risalesi, kami juga menyebut empat bukti menyeluruh di antara dalil keharusan Wujud serta Keesaan Allah subhânahu, masing-masing sekuat seribu bukti. Karena dalam sekitar dua belas risalah berbahasa Arab saya telah menyebut ratusan bukti pasti yang menunjukkan keharusan Wujud serta Keesaan Allah subhânahu, kini kita akan mencukupkan diri dengan semuanya dan tidak masuk ke pemeriksaan mendalam. Dalam Kalimat Kedua Puluh Dua ini, kita hanya akan berusaha memperlihatkan dari matahari iman kepada Allah subhânahu dua belas kilau yang telah saya tulis secara ringkas dalam Risaletü'n-Nur.

KILAU PERTAMA

Tauhid terbagi dua. Misalnya, ketika beragam barang seorang pribadi besar datang ke suatu pasar serta kota, dengan dua cara dapat diketahui bahwa semuanya miliknya. Yang satu ialah secara ringkas dan awam: "Barang sebesar ini tidak mungkin dimiliki siapa pun selain dirinya." Namun, di bawah pengawasan orang awam seperti itu, banyak pencurian dapat terjadi. Banyak orang dapat mengaku sebagai pemilik sebagian barang. Cara kedua ialah membaca tulisan pada setiap bungkusan, mengenali tanda tangan pada setiap gulungan, serta mengetahui segelnya pada setiap pengumuman, lalu mengatakan, "Segala sesuatu milik pribadi itu." Dalam keadaan ini, setiap benda memperlihatkan pribadi itu secara maknawi. Demikian pula, tauhid juga memiliki dua jenis. Yang satu: Tauhid yang awam serta lahiriah: "Allah subhânahu itu Esa; Dia tidak memiliki sekutu serta bandingan; alam ini milik-Nya." Yang kedua: Tauhid sejati; dengan melihat cap Kudrat, segel Rububiyah, serta ukiran Pena-Nya pada setiap benda, orang membuka jendela langsung dari setiap benda menuju Cahaya-Nya. Dengan keyakinan yang hampir setingkat menyaksikan langsung, ia membenarkan dan beriman akan Keesaan-Nya, bahwa segala sesuatu keluar dari Tangan Kudrat-Nya, serta bahwa dalam Keilahian-Nya, Rububiyah-Nya, serta Kerajaan-Nya, Dia sama sekali tidak memiliki sekutu atau penolong dari segi mana pun; ia juga memperoleh suatu keadaan terus berada di Hadirat-Nya. Dalam Kalimat ini, kita akan menyebut sinar-sinar yang memperlihatkan tauhid sejati yang murni dan luhur itu.

Suatu peringatan dalam pokok halus pertama

Wahai orang lalai yang memuja asbab! Asbab adalah tabir, karena Kemuliaan serta Kebesaran menuntut demikian. Namun, yang melakukan pekerjaan ialah Kudrat Allah subhânahu Yang Samad, karena Tauhid serta Keagungan menuntut demikian dan mengharuskan-Nya berdiri sendiri. Petugas-petugas Sang Sultan Azali bukan pelaksana Tindakan-Tindakan Kekuasaan Rububiyah, melainkan penyeru Kekuasaan itu serta pengawas yang memandang Rububiyah tersebut. Petugas-petugas serta perantara-perantara itu ada untuk memperlihatkan Kemuliaan Kudrat serta Kemegahan Rububiyah, agar tidak terlihat bahwa Kudrat langsung melakukan urusan-urusan rendah. Dia tidak menjadikan petugas sekutu Kekuasaan-Nya karena tak berdaya serta membutuhkan, seperti sultan manusia yang tak berdaya dan selalu serba kurang. Jadi, asbab ditempatkan agar Kemuliaan Kudrat terjaga di hadapan pandangan lahir akal. Sebab, seperti dua sisi cermin, setiap benda memiliki sisi "mulk", yang menyerupai sisi cermin berwarna, yang dapat menjadi tempat berbagai warna serta keadaan. Sisi yang lain ialah "malakut", yang menyerupai sisi cermin berkilau. Pada sisi mulk serta lahir terdapat keadaan-keadaan yang bertentangan dengan Kemuliaan serta Kesempurnaan Kudrat Allah subhânahu Yang Samad. Asbab ditempatkan agar menjadi tempat kembali serta dasar keadaan-keadaan tersebut. Namun, pada sisi malakut serta hakikat, segala sesuatu transparan dan indah. Hal itu sesuai bagi Kudrat untuk langsung melakukan pekerjaan, dan tidak bertentangan dengan Kemuliaan-Nya. Karena itu, asbab semata-mata lahiriah; mereka tidak memiliki pengaruh nyata dalam malakut serta hakikat. Hikmah lain dari asbab lahir ialah: agar keluhan yang tidak adil serta keberatan yang batil tidak diarahkan kepada Sang Âdil Mutlak, asbab ditempatkan sebagai sasaran keluhan serta keberatan tersebut. Sebab, kekurangan keluar dari mereka dan berasal dari ketidakmampuan mereka menerima. Mengenai rahasia ini, diriwayatkan suatu perumpamaan maknawi sebagai contoh yang halus: Azrail, 'alaihis-salâm, mengatakan kepada Allah subhânahu, "Dalam tugas mengambil ruh, hamba-hamba-Mu akan mengeluhkan saya dan merasa tersinggung oleh saya." Melalui bahasa Hikmah, Allah subhânahu mengatakan kepadanya, "Aku akan meletakkan tabir musibah serta penyakit di antara engkau dan hamba-hamba-Ku, agar keluhan diarahkan kepada semuanya dan mereka tidak tersinggung olehmu." Lihatlah, sebagaimana penyakit adalah tabir serta tempat kembalinya keburukan yang disangka terdapat pada ajal, hikmah serta keindahan yang secara nyata terdapat pada pengambilan ruh berkaitan dengan tugas Azrail, 'alaihis-salâm. Demikian pula, Azrail sendiri juga adalah tabir. Ia merupakan pengawas tugas itu serta tabir bagi Kudrat Ilahi, agar menjadi tempat kembalinya sebagian keadaan yang secara lahir tampak tanpa belas kasih dan tidak sesuai dengan Kesempurnaan Rahmat dalam pengambilan ruh. Ya, Kemuliaan serta Kebesaran menuntut agar asbab menjadi penjaga tabir Tangan Kudrat dalam pandangan akal. Tauhid serta Keagungan menuntut agar asbab menarik tangannya dari pengaruh nyata.

KILAU KEDUA

Perhatikan taman alam ini, kebun bumi ini, dan wajah indah langit ini yang dihiasi bintang-bintang! Engkau akan melihat bahwa Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Fâthir Dzul-Jamâl, memiliki cap yang khusus bagi Sang Khâliq segala sesuatu pada setiap karya di antara karya-karya seni yang terhampar dan tersebar itu; memiliki meterai yang khusus bagi Sang Pembuat segala sesuatu pada setiap makhluk-Nya; dan memiliki tanda agung yang tidak dapat ditiru pada lapisan-lapisan makhluk yang tertulis di lembaran malam dan siang, musim panas dan musim semi, yang masing-masing merupakan maklumat Pena Kudrat. Sekarang, sebagai contoh, kami akan menyebutkan beberapa cap, meterai, dan tanda agung itu.
Misalnya, di antara cap-cap-Nya yang tak terhitung, di antara banyak cap yang Dia letakkan pada kehidupan, lihatlah cap ini: "Dia membuat segala sesuatu dari satu hal, dan membuat satu hal dari segala sesuatu." Sebab, dari air mani dan juga dari air biasa yang diminum, Dia membuat tak terhitung banyaknya anggota dan perangkat tubuh hewan. Mengubah satu hal menjadi segala sesuatu tentu merupakan pekerjaan Sang Qadîr Mutlak. Dan yang mengubah berbagai zat dari makanan tak terbatas yang disantap—baik makanan hewani maupun nabati—menjadi satu tubuh tertentu dengan tertib sempurna, menenun kulit yang khas darinya, dan membuat perangkat-perangkat sederhana darinya, tentu adalah Sang Qadîr atas segala sesuatu dan Sang Alîm Yang Mutlak.
Ya, Sang Khâliq bagi kematian dan kehidupan mengatur kehidupan di bengkel dunia ini dengan Hikmah-Nya, melalui suatu hukum perintah yang menunjukkan mukjizat, sedemikian rupa sehingga menerapkan dan menjalankan hukum itu hanya khusus bagi Zat yang menggenggam seluruh alam di bawah Kendali-Nya.
Jika akalmu belum padam dan hatimu belum buta, engkau memahami bahwa membuat segala sesuatu dari satu hal dengan amat mudah dan tertib, serta dengan seni membuat satu hal dari segala sesuatu dengan ukuran dan tata yang sempurna, merupakan cap yang khusus bagi Sang Pembuat segala sesuatu dan khas bagi Sang Khâliq segala sesuatu.
Misalnya, engkau melihat seseorang yang terbiasa membuat hal-hal menakjubkan. Dari satu dirham kapas, ia menenun seratus gulung kain wol, sutra, atau berbagai kain lain seperti kain katun, dan sekaligus membuat banyak makanan seperti halwa dan baklava dari kapas itu. Kemudian engkau melihat orang itu mengambil besi dan batu, madu dan minyak, air dan tanah ke dalam telapak tangannya, lalu membuat emas yang indah. Tentu engkau akan memutuskan dengan pasti bahwa orang itu memiliki suatu seni yang khusus baginya; seluruh unsur bumi tunduk pada perintahnya, dan segala yang lahir dari tanah mengikuti ketentuannya.
Ya, Tajalli Kudrat dan Hikmah dalam kehidupan seribu tingkat lebih menakjubkan daripada contoh ini. Inilah satu cap saja di antara banyak cap pada kehidupan...

KILAU KETIGA

Lihatlah makhluk-makhluk hidup yang berkeliling di alam yang terus mengalir ini, di antara makhluk-makhluk yang terus bergerak ini! Engkau akan melihat bahwa pada setiap makhluk hidup terdapat banyak meterai yang Sang Hayy lagi Qayyûm letakkan. Salah satu meterai itu ialah:
Makhluk hidup itu, misalnya manusia ini, seakan-akan merupakan contoh kecil alam, buah pohon ciptaan, dan benih alam ini yang merangkum kebanyakan contoh dari berbagai jenis makhluk di alam. Seolah-olah makhluk hidup itu adalah setetes yang disaring dari seluruh alam dengan timbangan yang amat peka. Jadi, menciptakan makhluk hidup ini dan menjadi Rabb baginya mengharuskan seluruh alam berada dalam genggaman Kendali-Nya.
Jika akalmu belum tenggelam dalam angan-angan yang keliru, engkau memahami bahwa menjadikan satu kata Kudrat, misalnya "lebah madu", semacam daftar kecil bagi kebanyakan benda; menuliskan kebanyakan persoalan kitab alam ini pada satu halaman, misalnya "manusia"; memasukkan rancangan pohon ara yang besar ke dalam satu titik, misalnya "biji ara" yang kecil; menunjukkan pada satu huruf, misalnya "hati manusia", bekas-bekas seluruh Asma yang bertajalli dan meliputi halaman-halaman alam yang besar ini; menuliskan tulisan sebanyak satu perpustakaan pada "daya ingat manusia" yang hanya menempati ruang sebesar sebutir lentil, serta memasukkan daftar terperinci segala peristiwa di alam ke dalam daya yang kecil itu, tentu, tentu merupakan meterai yang khas bagi Sang Khâliq segala sesuatu dan khusus bagi Rabb Dzul-Jalâl alam ini.
Jika satu saja dari sekian banyak meterai Rabb pada makhluk hidup menunjukkan cahayanya demikian dan membuat tanda-tanda-Nya terbaca seperti ini, sekiranya engkau dapat melihat seluruh meterai itu sekaligus, tidakkah engkau akan berkata ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦِ ﺍﺧْﺘَﻔٰﻰ ﺑِﺸِﺪَّﺓِ ﻇُﻬُﻮﺭِﻩ۪?

KILAU KEEMPAT

Lihat dan perhatikanlah makhluk-makhluk beraneka warna dan karya-karya seni yang beragam, yang berenang di lautan langit dan tersebar di muka bumi ini! Engkau akan melihat bahwa pada masing-masing terdapat tanda-tanda agung Matahari Azali yang tidak dapat ditiru. Sebagaimana cap-cap-Nya tampak pada kehidupan dan meterai-meterai-Nya pada makhluk hidup—dan kita telah melihat satu atau dua di antaranya—Dia juga memiliki tanda-tanda agung pada Tindakan menghidupkan. Karena perumpamaan mendekatkan makna-makna yang dalam kepada pemahaman, kami akan menunjukkan hakikat ini dengan sebuah perumpamaan.
Misalnya, mulai dari planet-planet hingga tetesan air, hingga potongan kaca yang kecil dan zarah salju yang berkilau, tampak suatu tanda dari citra dan pantulan matahari ini, suatu jejak bercahaya yang khas bagi matahari. Jika engkau tidak menerima bahwa matahari-matahari kecil yang terlihat dalam benda-benda tak terhingga itu merupakan tampaknya matahari melalui pantulan serta tajalli bayangannya, engkau harus jatuh ke dalam kegilaan yang luar biasa dan kebodohan tanpa batas: menganggap ada matahari alami yang nyata dan berdiri sendiri pada setiap tetes, setiap potongan kaca yang terkena sinar, dan setiap zarah bening yang menghadap cahaya.
Demikian pula, dalam hal "menghidupkan", yakni "memberi kehidupan", yang merupakan salah satu Tajalli Bercahaya Matahari Azali, pada setiap makhluk hidup terdapat tanda agung yang sedemikian rupa sehingga, andaikan seluruh asbab berkumpul dan masing-masing menjadi pelaku yang bebas memilih, mereka tetap tidak dapat menirunya. Sebab, setiap makhluk hidup yang merupakan mukjizat Kudrat itu menjadi titik pusat berkumpulnya Asma-Nya, yang masing-masing ibarat sinar Matahari Azali itu.
Jika ukiran seni yang menakjubkan, susunan Hikmah yang luar biasa, dan Tajalli Rahasia Ahadiyah yang tampak pada makhluk hidup itu tidak dinisbatkan kepada Zat Yang Ahad lagi Samad, engkau harus menganggap bahwa dalam setiap makhluk hidup, bahkan dalam seekor lalat dan sekuntum bunga, tersembunyi Kudrat Pencipta yang tak terbatas, terdapat Ilmu yang meliputi segala sesuatu, dan ada Kehendak Mutlak yang sanggup mengatur alam; bahkan Sifat-Sifat lainnya yang khusus bagi Wâjibul Wujûd juga berada di dalamnya. Itu mengharuskanmu jatuh ke tingkat kesesatan yang paling dungu dan takhayul yang paling bodoh, seolah-olah memberi keilahian kepada setiap zarah bunga dan lalat itu.Sebab, zarah-zarah benda itu, terutama jika berupa benih, diberi suatu keadaan sehingga zarah itu memperhatikan makhluk hidup yang ia menjadi bagiannya dan mengambil posisi sesuai tata makhluk itu. Bahkan, seakan-akan memperhatikan seluruh jenis makhluk hidup tersebut, ia mengambil sifat seperti tumbuh sayap-sayap kecil agar dapat menanam diri di setiap tempat yang berguna bagi kelangsungan jenisnya dan menegakkan panji jenisnya. Bahkan, ia mengambil posisi yang akan terus menjaga hubungannya dengan segala makhluk yang terkait dengannya dan dibutuhkannya, serta hubungannya dalam memperoleh rezeki.
Jika zarah itu bukan petugas Sang Qadîr Mutlak dan hubungannya dengan Sang Qadîr Mutlak terputus, zarah itu harus diberi mata yang melihat segala sesuatu dan kesadaran yang meliputi segala sesuatu. Kesimpulannya,

jika matahari-matahari kecil dan beragam warna dalam tetesan dan zarah kaca ini tidak dinisbatkan kepada tampaknya matahari melalui bayangan serta tajalli pantulannya, kita harus menerima matahari-matahari tak terhingga sebagai ganti satu matahari. Kita harus menerima takhayul yang mustahil di dalam hal yang mustahil. Tepat demikian pula, jika segala sesuatu tidak dinisbatkan kepada Sang Qadîr Mutlak, kita harus jatuh ke dalam ocehan kegilaan: mengakui ilah-ilah tak terhingga, bahkan sebanyak zarah alam, sebagai ganti satu Allah subhânahu; menganggap ada suatu hal mustahil yang berada di dalam seratus lapis hal yang mustahil.
~Kesimpulannya: Dari setiap zarah, tiga jendela terbuka menuju cahaya Keesaan Matahari Azali dan keharusan Wujud-Nya:
Jendela Pertama: Sebagaimana setiap zarah, ibarat seorang prajurit, memiliki hubungan dalam setiap lingkup ketentaraannya, yakni regu, kompi, batalion, resimen, divisi, dan pasukannya; memiliki tugas menurut hubungan itu, dan bergerak sesuai tata lingkup tugas itu...
Demikian pula, misalnya zarah mati dalam pupil matamu memiliki hubungan dan tugas dalam matamu, kepalamu, tubuhmu, juga dalam pembuluh vena, arteri, dan saraf lain yang melayani aliran darah, rasa, dan gerak melalui daya menghasilkan, menarik, menolak, dan membentuk; juga dalam jenismu, dan seterusnya. Hal ini dengan jelas menunjukkan kepada mata yang tidak buta bahwa zarah itu merupakan karya seni Sang Qadîr Yang Azali, petugas yang diberi tugas oleh-Nya, dan berada di bawah Pengaturan-Nya.
Jendela Kedua: Setiap zarah di udara dapat mengunjungi setiap bunga dan setiap buah. Ia juga dapat masuk dan bekerja dalam setiap bunga dan buah. Jika zarah yang berkeliaran itu bukan petugas yang tunduk kepada Sang Qadîr Mutlak yang melihat dan mengetahui segala sesuatu, zarah itu harus mengetahui perangkat dan cara dibuatnya seluruh buah dan bunga, seni mereka masing-masing, keterampilan menjahit rupa-rupa yang dikenakan kepada mereka, serta seni menjahit yang sempurna dan menyeluruh. Zarah ini menunjukkan satu sinar dari cahaya Tauhid, seperti matahari. Bandingkan cahaya dengan udara, dan air dengan tanah.
Memang, asal utama benda-benda adalah empat zat ini: menurut ilmu alam baru, hidrogen, oksigen, karbon, dan nitrogen; unsur-unsur ini merupakan bagian dari unsur-unsur yang dahulu disebut.Jendela Ketiga: Sepotong tanah yang terdiri dari zarah-zarah dapat menjadi tempat tumbuh dan berkembangnya setiap tanaman berbunga dan berbuah. Jika engkau mengisi sebuah mangkuk dengan zarah-zarah itu, benih-benih kecil dari segala jenis tanaman berbunga dan berbuah di seluruh dunia—benih-benih itu, seperti air mani hewan, bukan benda-benda yang berbeda; sebagaimana air mani berupa satu jenis air, benih-benih itu pun tersusun dari karbon, nitrogen, hidrogen, dan oksigen, serupa satu sama lain dalam hakikatnya, berbeda dalam sifatnya, dan hanya diberi rancangan asalnya oleh Pena Qadar, semata-mata secara maknawi—jika benih-benih itu kita letakkan bergantian ke dalam mangkuk tersebut, engkau percaya bahwa masing-masing akan muncul dengan perangkat, rupa, dan keadaan yang menakjubkan, seakan-akan hal itu sudah terjadi.
Jika zarah-zarah itu bukan petugas dan pelaksana perintah dari Zat yang mengetahui setiap keadaan dan posisi segala sesuatu, yang sanggup memberi setiap benda wujud yang layak baginya serta segala yang diperlukan wujudnya, dan bagi Kudrat-Nya segala sesuatu tunduk dengan amat mudah, maka di dalam setiap zarah tanah itu harus terdapat pabrik-pabrik dan percetakan-percetakan maknawi sebanyak seluruh tanaman berbunga dan berbuah. Dengan demikian, ia dapat menjadi asal berbagai makhluk yang perangkat dan rupanya berbeda dan berjauhan satu sama lain. Atau, zarah itu harus diberi ilmu yang meliputi seluruh makhluk tersebut dan kekuatan yang sanggup menyusun mereka semua, agar dapat menjadi sarana bagi seluruh susunan mereka.
Jadi, jika hubungan dengan Allah subhânahu terputus, kita harus mengakui ilah-ilah sebanyak zarah tanah. Ini adalah takhayul yang mustahil di dalam hal yang mustahil seribu kali lipat.
Namun, ketika zarah-zarah itu menjadi petugas, semuanya sangat mudah. Sebagaimana seorang prajurit biasa dari seorang sultan agung dapat memindahkan penduduk suatu negeri, menyatukan dua laut, dan menawan seorang raja atas nama serta dengan kekuatan rajanya, demikian pula atas Perintah Sultan dari azali hingga abadi, seekor lalat menjatuhkan seorang Namrud dan seekor semut merusak serta merobohkan istana seorang Firaun. Sebutir biji ara memikul sebatang pohon ara.
Selain itu, pada setiap zarah terdapat dua saksi benar lagi yang menunjukkan bahwa Sang Pembuat harus ada dan Dia Esa.
Salah satunya: Sekalipun tak berdaya sama sekali, setiap zarah memikul tugas-tugas yang sangat besar dan beraneka ragam.Dan meskipun tidak bernyawa, zarah itu menyesuaikan geraknya dengan tata umum secara tertib, yang menunjukkan kesadaran menyeluruh. Jadi, setiap zarah bersaksi melalui bahasa tak berdayanya bahwa Sang Qadîr Mutlak pasti harus ada, dan bersaksi bagi Keesaan-Nya dengan memperhatikan tata alam. ﻛَﻤَﺎ ﺍَﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺫَﺭَّﺓٍ ﺷَﺎﻫِﺪَﺍﻥِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺟِﺐٌ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﻰٍّ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺘَﺎﻥِ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ﺻَﻤَﺪٌ
Ya, pada setiap makhluk hidup terdapat satu cap Ahadiyah dan satu tanda agung Sifat Samad. Sebab, satu makhluk hidup sekaligus menunjukkan dalam cerminnya Asma yang tampilan-tampilannya terlihat di sebagian besar alam. Seakan-akan menjadi titik pusat berkumpulnya cahaya, ia menunjukkan Tajalli Ismul A'zham Sang Hayy lagi Qayyûm. Karena menunjukkan semacam bayangan Ahadiyah Zat di balik tabir Nama Muhyî, ia membawa cap Ahadiyah.
Selain itu, karena makhluk hidup itu ibarat contoh kecil alam dan buah pohon ciptaan, dipenuhinya sekaligus kebutuhan-kebutuhannya yang sebanyak alam dengan mudah dalam lingkup hidupnya yang kecil menunjukkan tanda agung Sifat Samad. Yakni, keadaan itu menunjukkan bahwa ia memiliki Rabb yang Perhatian-Nya kepadanya dapat menggantikan segala sesuatu, dan Pandangan-Nya dapat menempati kedudukan segala sesuatu. Seluruh benda tidak dapat menggantikan satu Perhatian-Nya. ﻧَﻌَﻢْ ﻳَﻜْﻔ۪ﻰ ﻟِﻜُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺷَﻰْﺀٌ ﻋَﻦْ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَ لَا ﻳَﻜْﻔ۪ﻰ ﻋَﻨْﻪُ ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَ ﻟَﻮْ ﻟِﺸَﻰْﺀٍ ﻭَﺍﺣِﺪٍ
Keadaan itu juga menunjukkan bahwa Rabb-nya tidak membutuhkan apa pun, tidak ada sesuatu pun yang berkurang dari khazanah-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang berat bagi Kudrat-Nya. Inilah semacam tanda agung yang menunjukkan bayangan Sifat Samad...
Jadi, pada setiap makhluk hidup terdapat cap Ahadiyah dan tanda agung Sifat Samad. Ya, setiap makhluk hidup membaca ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ melalui bahasa kehidupannya. Selain dua cap ini, masih ada beberapa jendela penting. Karena sudah diuraikan di tempat lain, di sini disingkat.
Karena setiap zarah alam ini membuka tiga jendela dan dua lubang seperti itu, dan kehidupan juga membuka dua pintu sekaligus menuju Keesaan Wâjibul Wujûd, engkau dapat membandingkan bagaimana lapisan-lapisan makhluk, dari zarah hingga matahari, menyebarkan cahaya makrifat Zat Dzul-Jalâl.
Dari sini, pahami dan bandingkanlah tingkat-tingkat kemajuan rohani dalam makrifatullah serta derajat-derajat merasa hadir di hadapan-Nya.

KILAU KELIMA

Sebagaimana satu pena cukup untuk menulis sebuah buku jika buku itu berupa tulisan tangan, jika buku itu dicetak, diperlukan pena-pena sebanyak hurufnya, yakni huruf-huruf besi, agar buku itu dapat dicetak dan terwujud. Jika sebagian besar buku itu tertulis dengan tulisan yang sangat halus di dalam beberapa hurufnya—seperti Surah Yâsîn yang ditulis di dalam kata Yâsîn—seluruh huruf besi berukuran kecil itu diperlukan dalam satu huruf tersebut agar dapat dicetak.
Tepat demikian pula, jika engkau mengatakan bahwa kitab alam ini adalah tulisan Pena Kudrat Allah subhânahu Yang Samad dan surat Zat yang bersifat Ahadiyah, engkau menempuh jalan yang mudah hingga tingkat pasti, dan masuk akal hingga tingkat mesti. Jika engkau menisbatkannya kepada tabiat dan sebab-sebab, engkau menempuh jalan yang sulit hingga tidak mungkin, rumit hingga mustahil, dan penuh takhayul yang tidak dapat diterima oleh angan-angan apa pun. Dalam jalan itu, bagi tabiat, harus terdapat miliaran percetakan logam dan pabrik maknawi yang tak terbatas dalam setiap bagian tanah, setiap tetes air, dan setiap bagian udara, agar dapat menjadi tempat munculnya susunan karya-karya seni berbunga dan berbuah yang tak terhitung. Atau, engkau harus menganggap ada ilmu yang meliputi segala sesuatu dan kekuatan untuk melakukan segala sesuatu di dalamnya, agar dapat menjadi sumber nyata karya-karya seni ini.
Sebab, setiap bagian tanah, air, dan udara dapat menjadi asal kebanyakan tanaman. Padahal susunan setiap tanaman—baik berbuah maupun berbunga—begitu tertib, begitu terukur, begitu berbeda satu sama lain, dan begitu berlainan sifatnya, sehingga masing-masing membutuhkan pabrik maknawi atau percetakan tersendiri yang hanya khusus baginya.
Jadi, jika tabiat beralih dari alat penggaris menjadi sumber yang menghasilkan, ia harus memiliki mesin-mesin bagi seluruh benda dalam setiap benda. Dasar gagasan memuja tabiat ini merupakan takhayul sedemikian rupa sehingga para penggemar takhayul pun malu karenanya. Lihat dan ambillah pelajaran dari bagaimana orang-orang sesat yang menganggap diri mereka berakal memilih kebodohan yang penuh ocehan tak terbatas!
~Kesimpulannya:

Sebagaimana setiap huruf sebuah buku menunjukkan dirinya hanya sebesar satu huruf dan menunjukkan bahwa dirinya ada dengan satu cara saja, tetapi menjelaskan penulisnya dengan sepuluh kata dan menunjukkan penulisnya dari banyak segi. Misalnya, ia berkata, "Penulisku memiliki tulisan yang indah, penanya merah, ia begini dan begitu."
Tepat demikian pula, setiap huruf kitab besar alam ini menunjukkan dirinya sebatas ukurannya dan memperlihatkan dirinya sebatas rupanya. Namun, ia menjelaskan Asma Sang Pengukir Yang Azali sepanjang sebuah kasidah, menunjukkan Asma itu dengan jari-jari telunjuk sebanyak sifat yang dimilikinya, dan bersaksi bagi Musamma Asma tersebut.
Jadi, bahkan orang bodoh seperti seorang sofis yang menyangkal dirinya sendiri dan seluruh alam seharusnya tetap tidak sampai menyangkal Sang Pembuat Dzul-Jalâl.

KILAU KEENAM

Sebagaimana Sang Khâliq Dzul-Jalâl meletakkan cap Ahadiyah-Nya pada kepala setiap individu makhluk-Nya dan pada wajah setiap bagian karya seni-Nya—seperti sebagian yang telah engkau lihat dalam kilau-kilau sebelumnya—Dia juga meletakkan dengan sangat terang banyak cap Ahadiyah pada setiap jenis, berbagai meterai Wâhidiyah pada setiap keseluruhan, hingga beragam tanda agung Keesaan pada alam seluruhnya. Di antara sekian banyak cap, meterai, dan tanda agung itu, kami akan menunjukkan sebuah cap dan sebuah meterai yang diletakkan pada halaman permukaan bumi di musim semi. Demikianlah:
Sang Pengukir Yang Azali menghimpun dan menyebarkan sedikitnya tiga ratus ribu jenis tanaman dan hewan di muka bumi pada musim panas dan musim semi, di tengah campur baur yang tak terbatas, dengan amat jelas membedakan dan mengenali masing-masing serta dengan tata dan pemisahan yang sangat baik. Ini merupakan cap Tauhid yang terang dan nyata, bersinar seperti musim semi.
Ya, di tengah dihidupkannya bumi yang mati pada musim semi, Dia mengadakan tiga ratus ribu contoh kebangkitan dengan tertib sempurna. Dia menulis pada halaman bumi, saling bercampur, individu-individu dari tiga ratus ribu jenis yang berbeda, tanpa kesalahan, tanpa kelalaian, tanpa kekeliruan, tanpa kekurangan, dengan sangat terukur, tersusun, tertib, dan sempurna. Siapa pun yang memiliki kesadaran sebesar zarah tentu harus memahami bahwa ini merupakan cap yang khas bagi Zat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Dzul-Kamâl, dan Sang Hakîm Dzul-Jamâl, yang memiliki Kudrat tanpa batas, Ilmu yang meliputi segalanya, dan Kehendak yang akan mengatur alam.
Al-Qur'an Al-Hakîm menyatakan: ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ
Ya, dibandingkan dengan Kudrat Pencipta yang membuat dan menunjukkan tiga ratus ribu contoh kebangkitan dalam beberapa hari ketika menghidupkan bumi, tentu membangkitkan manusia mudah bagi-Nya. Misalnya, apakah kepada seseorang yang menunjukkan mukjizat dengan mengangkat Gunung Gelincik dan Gunung Sübhan melalui satu isyarat akan dikatakan, "Dapatkah engkau mengangkat batu besar di lembah ini yang menghalangi jalan kami?" Demikian pula, apakah kepada Sang Qadîr Yang Hakîm, Sang Karîm Yang Rahîm, yang mengadakan langit, gunung, dan bumi dalam enam hari serta dari waktu ke waktu mengisi dan mengosongkannya, akan dikatakan dengan menganggapnya sulit terlaksana, "Dapatkah Engkau mengangkat dari atas kami lapisan tanah ini yang menghalangi jalan kami menuju jamuan-Mu yang disiapkan dan dihamparkan dari sisi alam abadi? Dapatkah Engkau meratakan bumi dan membuat kami melewatinya?"Engkau telah melihat sebuah cap Tauhid di muka bumi ini pada musim panas. Sekarang lihatlah: pada Pengaturan agung di muka bumi saat musim semi yang dilakukan dengan penuh Penglihatan dan Hikmah itu, tampak sangat jelas sebuah meterai Wâhidiyah. Sebab, tata yang sempurna, indahnya seni secara sempurna, dan sempurnanya ciptaan yang tampak dalam tindakan-tindakan ini, di tengah bentangan yang mutlak luas, bersama keluasan itu dengan laju yang mutlak cepat, dan bersama laju itu dalam limpahan yang mutlak banyak, merupakan meterai yang hanya dapat dimiliki oleh Pemilik Ilmu dan Kudrat yang tak terbatas.
Ya, kita melihat ada tindakan mengadakan, mengatur, dan bekerja di seluruh muka bumi dalam bentangan yang mutlak luas.
Di dalam keluasan itu, pekerjaan berlangsung dengan laju yang mutlak cepat.
Bersama laju dan keluasan itu, pekerjaan dilakukan dengan mutlak mudah.
Bersama mudah, cepat, dan luasnya itu, terlihat limpahan yang mutlak banyak ketika individu-individu diperbanyak.
Bersama limpahan, mudah, cepat, dan luasnya itu, terdapat tata yang sempurna dalam limpahan yang amat banyak, sekaligus tata yang mutlak, seni yang sangat istimewa, dan ciptaan yang sangat luar biasa sempurna pada setiap jenis dan setiap individu.
Mengadakan ciptaan yang sempurna di tengah begitu banyaknya individu; seni yang indah di tengah laju yang amat cepat; perbedaan yang paling jelas di tengah campur baur yang tak terbatas; karya-karya yang sangat berharga di tengah jumlah yang amat melimpah; serasi sepenuhnya dalam lingkup yang amat luas; dan karya-karya indah penuh seni dengan amat mudah; serta menunjukkan seni yang menakjubkan dan pekerjaan yang menampakkan mukjizat dalam sekejap, di setiap tempat, dengan satu cara, pada setiap individu, tentu, tentu merupakan meterai Zat yang tidak berada di suatu tempat pun, namun hadir dan melihat di setiap tempat. Sebagaimana tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya, tidak ada sesuatu pun yang berat bagi-Nya. Zarah dan bintang sama saja bagi Kudrat-Nya.
Misalnya, aku menghitung tandan-tandan yang tergantung pada sebatang sulur anggur setebal dua jari, yang kulihat ibarat sebutir buah dari tandan mukjizat-Nya dalam kebun Kemurahan Sang Rahîm Dzul-Jamâl: jumlahnya seratus lima puluh lima. Aku menghitung buah pada satu tandan: sekitar seratus dua puluh.Aku berpikir dan berkata: Jika batang anggur ini merupakan keran air madu dan terus mengalirkan air, air itu hanya akan cukup bagi tandan-tandan yang menyusui ratusan pompa kecil sirup Rahmat ini di tengah panas seperti ini. Padahal terkadang ia hanya mendapat sedikit kelembapan. Jadi, Yang melakukan pekerjaan ini harus mampu melakukan segala sesuatu. ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺗَﺤَﻴَّﺮَ ﻓ۪ﻰ ﺻُﻨْﻌِﻪِ ﺍﻟْﻌُﻘُﻮﻝُ