KILAU KETUJUH
Lihatlah bagaimana engkau dapat melihat meterai-meterai Zat Yang Ahad lagi Samad pada halaman bumi dengan sedikit perhatian. Angkatlah kepala, bukalah mata, dan lihatlah kitab besar alam ini! Engkau akan melihat bahwa pada alam secara keseluruhan terbaca meterai Keesaan dengan kejelasan yang sebanding dengan besarnya. Sebab, seperti bagian dan anggota sebuah pabrik, istana, atau kota yang tertib, makhluk-makhluk ini saling menyokong, mengulurkan tangan pertolongan satu sama lain, dan menjawab permintaan kebutuhan satu sama lain dengan berkata, "Aku siap! Baiklah." Mereka bergandeng tangan dan bekerja dengan tertib. Mereka berpadu untuk melayani makhluk hidup. Mereka bahu-membahu menaati Sang Pengatur Yang Hakîm dengan mengarah kepada satu tujuan.
Ya, mulai dari matahari dan bulan, malam dan siang, musim dingin dan musim panas, hingga datangnya tanaman membantu hewan-hewan yang membutuhkan dan lapar, bergegasnya hewan membantu manusia yang lemah dan mulia, bahkan melesatnya zat-zat makanan membantu anak-anak dan buah-buah yang lembut dan rapuh, hingga bergeraknya zarah-zarah makanan membantu sel-sel tubuh, gerak mereka menurut suatu kaidah saling menolong menunjukkan kepada siapa pun yang tidak sepenuhnya buta bahwa mereka bergerak dengan Kekuatan satu Pendidik yang sangat Pemurah, dengan Perintah satu Pengatur yang sangat Bijaksana.
Saling menyokong, saling membantu, saling menjawab, saling merangkul, tunduk, dan tertib yang berlangsung dalam alam ini bersaksi dengan pasti bahwa mereka diatur melalui susunan satu Pengatur dan diarahkan melalui Pengaturan satu Pendidik. Bersamaan dengan itu, Pemeliharaan yang sempurna dalam Hikmah yang menyeluruh, yang dengan jelas tampak dalam seni benda-benda; Rahmat yang luas, yang bersinar dalam Pemeliharaan itu; serta rezeki-rezeki yang dihamparkan di atas Rahmat itu dan disebarkan untuk memberi makan setiap makhluk hidup yang membutuhkan rezeki dengan cara yang sesuai kebutuhannya, dan diberinya makanan secara menyeluruh, merupakan meterai Tauhid yang begitu terang sehingga siapa pun yang akalnya belum sepenuhnya padam memahaminya, dan siapa pun yang belum sepenuhnya buta melihatnya.Ya, suatu tabir Hikmah yang menunjukkan Tujuan, Kesadaran, dan Kehendak telah meliputi seluruh alam. Di atas tabir Hikmah itu terhampar tabir Pemeliharaan yang menunjukkan Kelembutan, dihias dan diperindahnya ciptaan, serta Kebaikan. Di atas tabir Pemeliharaan yang berhias itu, suatu jubah Rahmat meliputi alam, memperlihatkan kilau-kilau membuat Diri-Nya dicintai dan dikenal, memberi nikmat dan memuliakan. Di atas tabir Rahmat menyeluruh yang bercahaya itu, terhampar suatu hidangan rezeki bagi semua, yang menunjukkan Kasih, Kebaikan, Kemurahan, Kasih Sayang yang sempurna, Didikan yang baik, dan Kelembutan Rububiyah.
Ya, makhluk-makhluk ini, dari zarah hingga matahari, baik individu maupun jenis, kecil maupun besar, dikenakan sebuah baju megah dari kain Hikmah yang berhias hasil dan tujuan, faedah dan manfaat. Di atas baju rupa yang menunjukkan Hikmah itu, jubah Pemeliharaan yang berhias bunga Kelembutan dan Kebaikan dipotong sesuai ukuran setiap benda. Pada jubah Pemeliharaan yang berhias itu disematkan lencana-lencana Rahmat yang bercahaya dengan kilau membuat Diri-Nya dicintai, memuliakan, mengasihi, dan memberi nikmat. Bersamaan dengan diberikannya lencana-lencana bercahaya dan bertatah itu, di muka bumi terbentang suatu hidangan rezeki bagi semua, yang cukup bagi seluruh kelompok makhluk hidup dan memenuhi seluruh kebutuhan mereka.
Pekerjaan ini, seterang matahari, menunjuk dan memperlihatkan Zat Dzul-Jamâl Yang Hakîm, Karîm, Rahîm, dan Razzâq tanpa batas.
Benarkah begitu? Apakah segala sesuatu membutuhkan rezeki?
Ya, sebagaimana seorang individu membutuhkan rezeki dan hidup yang berlanjut, kita melihat bahwa seluruh makhluk di alam, terutama jika hidup, baik yang umum maupun yang juz'i, keseluruhan maupun bagian, memiliki banyak keperluan dan banyak kebutuhan, secara jasmani dan maknawi, agar ada, bertahan, hidup, dan terus hidup. Mereka bergantung pada dan membutuhkan hal-hal yang paling rendah sekalipun tidak terjangkau oleh tangan mereka, dan kekuatan mereka tidak cukup bagi keinginan mereka yang paling kecil sekalipun. Dalam keadaan itu, kita melihat bahwa segala keperluan serta rezeki jasmani dan maknawi mereka, ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ لَا ﻳَﺤْﺘَﺴِﺐُ, diberikan ke tangan mereka dari tempat-tempat yang tidak disangka-sangka, dengan tertib sempurna, pada waktu yang tepat, dengan cara yang layak, dan dengan Hikmah sempurna.Apakah bergantung dan butuhnya makhluk, serta pertolongan dan bantuan gaib dengan cara ini, tidak memperlihatkan, seterang matahari, Sang Pendidik Yang Hakîm Dzul-Jalâl dan Sang Pengatur Yang Rahîm Dzul-Jamâl?
KILAU KEDELAPAN
Sebagaimana satu jenis benih yang ditanam di sebuah ladang menunjukkan bahwa ladang itu pasti berada di bawah kuasa pemilik benih, dan benih itu pun berada di bawah kuasa pengelola ladang. Demikian pula, lahan karya seni yang disebut unsur-unsur ini, bersama wâhidiyah dan sifatnya yang sederhana, meluas dan meliputi segalanya; sedangkan tanaman dan hewan yang disebut makhluk-makhluk ini, yang merupakan buah Rahmat, mukjizat Kudrat, dan kata-kata Hikmah, bersama kemiripan dan keserupaannya, tersebar di banyak tempat, ada dan menetap di segala penjuru. Semua itu menunjukkan dengan cara sedemikian rupa bahwa mereka berada di bawah Kendali satu Sang Pembuat yang menunjukkan mukjizat, seolah-olah setiap bunga, buah, dan hewan merupakan cap, meterai, dan tanda agung Sang Pembuat itu. Di mana pun ditemukan, masing-masing berkata melalui bahasa keadaannya, "Zat yang aku menjadi cap-Nya, tempat ini pun karya seni-Nya. Zat yang aku menjadi meterai-Nya, tempat ini pun surat-Nya. Zat yang aku menjadi tanda agung-Nya, tanah airku ini pun tenunan-Nya."
Jadi, siapa pun yang tidak buta melihat bahwa Rububiyah atas makhluk paling rendah khusus bagi Yang menggenggam seluruh unsur di bawah Kendali-Nya; dan mengatur serta mengurus hewan paling sederhana hanya khusus bagi Yang mendidik seluruh hewan, tanaman, dan karya seni dalam genggaman Rububiyah-Nya.
Ya, setiap individu berkata melalui bahasa kemiripan dan keserupaannya dengan individu-individu lain, "Yang memiliki seluruh jenisku dapat memilikiku; selain itu, tidak." Setiap jenis berkata bersama jenis-jenis lain, melalui bahasa tersebarnya mereka di muka bumi, "Yang memiliki seluruh permukaan bumi dapat memilikiku; selain itu, tidak." Bumi berkata melalui bahasa hubungannya bersama planet-planet lain dengan satu matahari serta saling menyokongnya dengan langit, "Yang memiliki seluruh alam dapat memilikiku; selain itu, tidak."
Ya, andaikan seseorang berkata kepada sebuah apel yang memiliki kesadaran, "Engkau karya seniku," apel itu akan berkata kepadanya melalui bahasa keadaannya, "Diam! Jika engkau sanggup membuat seluruh apel di seluruh muka bumi, bahkan dapat menguasai seluruh tanaman berbuah yang sejenis dengan kami dan tersebar di bumi, bahkan seluruh hadiah Ar-Rahmân yang datang dari khazanah Rahmat dengan kapal musim semi, barulah mengaku memiliki rububiyah atasku." Satu apel itu akan berkata demikian dan menampar mulut orang bodoh itu.
KILAU KESEMBILAN
Kami telah menunjuk sebagian cap, meterai, dan tanda agung pada bagian dan yang juz'i, pada keseluruhan dan yang umum, pada alam seluruhnya, kehidupan, makhluk hidup, dan tindakan menghidupkan. Sekarang kami akan menunjuk satu cap di antara cap-cap tak terhitung pada jenis-jenis makhluk.
Ya, sebagaimana buah-buah tak terhitung dari sebuah pohon berbuah dirawat dengan satu didikan dan satu hukum Keesaan dari satu pusat, sehingga beban, kesulitan, dan biaya menjadi begitu mudah sampai sama dengan satu buah yang dirawat melalui banyak pengelola. Jadi, banyak pengelola dan banyak pusat membutuhkan, untuk setiap buah, beban, biaya, dan perangkat sebanyak seluruh pohon. Perbedaannya hanya dalam sifat.
Seperti halnya membuat perlengkapan tentara yang diperlukan seorang prajurit membutuhkan pabrik-pabrik sebanyak seluruh pabrik yang diperlukan pasukan.
Jadi, jika pekerjaan beralih dari satu pengelola kepada banyak pengelola, bebannya bertambah—dari segi jumlah—sebanyak individu yang ada. Kemudahan luar biasa yang terlihat nyata pada setiap jenis tentu merupakan hasil mudah dan ringannya pekerjaan yang datang dari Keesaan dan Tauhid. Kesimpulannya,
sebagaimana cocok dan miripnya seluruh jenis dari satu golongan serta seluruh individu dari satu jenis dalam anggota-anggota pokok membuktikan bahwa mereka merupakan karya-karya satu Sang Pembuat—sebab, Pena yang satu dan ittihad pada cap menghendaki demikian—mudahnya pekerjaan secara mutlak dan tanpa beban yang terlihat ini pun mengharuskan, hingga tingkat pasti, bahwa mereka merupakan karya-karya Sang Pembuat Yang Wâhid. Jika tidak, kesulitan yang mencapai tingkat tidak mungkin akan membawa golongan itu lenyap dan jenis itu tidak ada.
~Kesimpulannya:
Jika dinisbatkan kepada Allah subhânahu, segala sesuatu menjadi semudah satu benda. Jika dinisbatkan kepada sebab-sebab, setiap benda menjadi sesulit segala sesuatu. Karena demikian, sangat murahnya benda-benda yang terlihat di alam dan limpahan tak terbatas di hadapan mata ini menunjukkan cap Keesaan seterang matahari. Jika buah-buah penuh seni yang kita peroleh begitu berlimpah ini bukan milik Sang Wâhid lagi Ahad, sekalipun kita menyerahkan seluruh dunia, kita tidak dapat memakan satu delima pun.
KILAU KESEPULUH
Sebagaimana kehidupan yang menunjukkan Tajalli Keindahan merupakan bukti Ahadiyah, bahkan semacam Tajalli Keesaan, kematian yang menampakkan Tajalli Keagungan pun merupakan bukti Wâhidiyah.
Ya, misalnya ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى, sebagaimana gelembung-gelembung sungai besar yang berkilau dan mengalir menghadap matahari, serta benda-benda bening berkilau di muka bumi, bersaksi bagi matahari dengan menunjukkan pantulan dan cahayanya; bersama tenggelam dan perginya tetesan dan benda-benda bening itu, tampaknya matahari yang tetap berlangsung dengan megah, tajalli cahayanya, dan terus bersinarnya tanpa kekurangan pada kelompok-kelompok tetesan dan kumpulan benda bening baru yang datang setelahnya, bersaksi dengan pasti bahwa matahari-matahari kecil berupa bayangan, sinar-sinar, dan cahaya-cahaya yang padam dan menyala, berubah dan diperbarui, datang dan bersinar, merupakan tampaknya satu matahari yang tetap ada, terus-menerus, tinggi, dan tajallinya tidak sirna. Jadi, sebagaimana tetesan-tetesan berkilau itu menunjukkan adanya matahari dengan muncul dan datangnya mereka, mereka juga menunjukkan tetap adanya matahari, terus berlangsungnya, dan tunggalnya, dengan tenggelam dan sirnanya mereka.
Tepat demikian pula, sebagaimana makhluk-makhluk yang terus mengalir ini bersaksi melalui wujud dan kehidupan mereka bahwa Wâjibul Wujûd pasti harus ada serta bagi Ahadiyah-Nya, mereka juga bersaksi melalui sirna dan matinya mereka bahwa Dia Azali, Kekal, dan memiliki Ahadiyah.
Ya, bersama bergantinya malam dan siang, musim dingin dan musim panas, abad dan masa, karya-karya seni yang indah dan makhluk-makhluk yang halus terus berganti dan diperbarui di tengah tenggelam dan lenyapnya. Sebagaimana mereka tentu menunjukkan bahwa Pemilik Keindahan yang Luhur, Kekal, dan terus bertajalli itu ada, Kekal, dan Esa, sirna dan matinya karya-karya seni itu bersama sebab-sebab lahir yang rendah juga menunjukkan tidak berartinya sebab-sebab tersebut dan bahwa mereka merupakan tabir. Keadaan ini membuktikan dengan pasti bahwa seni-seni, ukiran-ukiran, dan tampak-tampak ini merupakan seni yang terus diperbarui, ukiran yang berganti, cermin yang bergerak, cap yang datang berurutan, dan meterai yang berubah dengan Hikmah, milik Sang Jamîl Dzul-Jalâl, yang seluruh Asma-Nya Suci dan Indah. Kesimpulannya,
sebagaimana kitab besar alam ini mengajarkan kepada kita tanda-tanda dalam ciptaan mengenai Wujud dan Keesaan Allah subhânahu, ia juga bersaksi bagi seluruh Sifat Kesempurnaan, Keindahan, dan Keagungan Zat Dzul-Jalâl itu, serta membuktikan Kesempurnaan Zat-Nya yang tanpa cacat dan kekurangan. Sebab, jelas bahwa sempurnanya suatu karya menunjukkan sempurnanya tindakan yang menjadi asal dan sumber karya itu. Sempurnanya tindakan menunjukkan sempurnanya nama; sempurnanya nama menunjukkan sempurnanya sifat; sempurnanya sifat menunjukkan sempurnanya sya'n pribadi; dan sempurnanya sya'n itu menunjukkan sempurnanya pribadi pemilik syuun tersebut, melalui pemahaman langsung, secara pasti dan jelas.
Misalnya, sebagaimana ukiran dan hiasan yang sempurna dari sebuah istana tanpa cacat menunjukkan, di baliknya, sempurnanya tindakan seorang ahli. Sempurnanya tindakan-tindakan itu menunjukkan sempurnanya gelar dan nama yang menunjukkan derajat ahli pelakunya. Sempurnanya nama dan gelar itu menunjukkan sempurnanya sifat-sifat sang ahli dalam seninya. Sempurnanya seni dan sifat itu menunjukkan sempurnanya kemampuan dan bakat bawaan sang pemilik seni, yang disebut syuun pribadi. Sempurnanya syuun dan kemampuan bawaan itu menunjukkan sempurnanya hakikat pribadi sang ahli...
Tepat demikian pula, seni dalam karya-karya alam yang terlihat dan makhluk-makhluk alam yang tertib ini, yang tanpa cacat dan retak serta menampakkan rahasia ﻫَﻞْ ﺗَﺮٰﻯ ﻣِﻦْ ﻓُﻄُﻮﺭٍ, melalui apa yang terlihat menunjukkan sempurnanya Tindakan dari Pembuat yang memiliki Kudrat. Sempurnanya Tindakan itu dengan jelas menunjukkan sempurnanya Asma Pelaku Dzul-Jalâl tersebut. Sempurnanya Asma itu dengan pasti menunjukkan dan bersaksi bagi sempurnanya Sifat Musamma Dzul-Jamâl dari Asma itu. Sempurnanya Sifat itu dengan yakin menunjukkan dan bersaksi bagi sempurnanya Syuun Zat Dzul-Kamâl yang memiliki Sifat itu. Sempurnanya Syuun itu dengan haq al-yaqin menunjukkan sempurnanya Zat pemilik Syuun itu sedemikian rupa sehingga memperlihatkan bahwa segala jenis kesempurnaan yang tampak dalam seluruh alam merupakan tanda-tanda Kesempurnaan, lambang-lambang Keagungan, dan isyarat-isyarat Keindahan Zat Dzul-Kamâl, yang dibandingkan dengan Kesempurnaan-Nya hanya berupa bayangan lemah yang redup.
KILAU KESEBELAS YANG SEKUAT MATAHARI-MATAHARI
Junjungan kita Muhammad al-Amîn ﷺ, yang dijelaskan dalam Kalimat Kesembilan Belas, merupakan tanda teragung kitab besar itu ﷺ, Ismul A'zham dalam Al-Qur'an besar itu ﷺ, benih dan buah paling bercahaya dari pohon alam itu ﷺ, matahari istana alam itu ﷺ, bulan purnama bercahaya dunia Islam ﷺ, penyeru Kerajaan Rububiyah Ilahi ﷺ, dan pengungkap penuh hikmah bagi teka-teki alam ﷺ. Dengan sayap kerasulan yang menaungi seluruh nabi dan sayap-sayap Islam yang melindungi seluruh dunia Islam, beliau terbang pada lapisan-lapisan hakikat. Beliau membawa di belakangnya seluruh nabi dan rasul, seluruh wali dan orang-orang yang benar, seluruh orang-orang suci dan para peneliti hakikat, menunjukkan Keesaan dengan seluruh kekuatan, serta membuka dan menunjukkan jalan menuju arasy Ahadiyah. Adakah angan-angan keliru dan syubhat yang sanggup menutup dan menjadi tabir bagi iman kepada Allah subhânahu yang beliau tunjukkan serta Keesaan Ilahi yang beliau buktikan?
Karena dalam Kalimat Kesembilan Belas dan Surat Kesembilan Belas kami telah menjelaskan dan menerangkan secara ringkas, hingga suatu tingkat, empat belas tetes dari air kehidupan makrifat bukti yang tegas itu ﷺ dan sembilan belas isyarat beserta berbagai jenis mukjizat sosok yang menampakkan mukjizat itu ﷺ, di sini kami cukupkan dengan isyarat ini. Kami menutup dengan suatu salawat mulia yang menunjuk dasar-dasar yang meneguhkan bukti tegas Keesaan itu ﷺ dan bersaksi bagi kebenarannya. ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺩَﻝَّ ﻋَﻠٰﻰ ﻭُﺟﻮُﺏِ ﻭُﺟُﻮﺩِﻙَ ﻭَ ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَّﺘِﻚَ ﻭَ ﺷَﻬِﺪَ ﻋَﻠٰﻰ جَلَالِكَ ﻭَ ﺟَﻤَﺎﻟِﻚَ ﻭَ ﻛَﻤَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪُ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕُ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻕُ ﻭَ ﺍﻟْﺒُﺮْﻫَﺎﻥُ ﺍﻟﻨَّﺎﻃِﻖُ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻖُ ﺳَﻴِّﺪُ الْاَنْبِيَاءِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﺤَﺎﻣِﻞُ ﺳِﺮَّ ﺍِﺟْﻤَﺎﻋِﻬِﻢْ ﻭَ ﺗَﺼْﺪ۪ﻳﻘِﻬِﻢْ ﻭَ ﻣُﻌْﺠِﺰَﺍﺗِﻬِﻢْ ﻭَ ﺍِﻣَﺎﻡُ الْاَوْلِيَاءِ ﻭَ ﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻘ۪ﻴﻦَ ﺍﻟْﺤَﺎﻭ۪ﻯ ﺳِﺮَّ ﺍِﺗِّﻔَﺎﻗِﻬِﻢْ ﻭَ ﺗَﺤْﻘ۪ﻴﻘِﻬِﻢْ ﻭَ ﻛَﺮَﺍﻣَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺫُﻭ ﺍﻟْﻤُﻌْﺠِﺰَﺍﺕِ ﺍﻟْﺒَﺎﻫِﺮَﺓِ ﻭَ ﺍﻟْﺨَﻮَﺍﺭِﻕِ ﺍﻟﻈَّﺎﻫِﺮَﺓِ ﻭَ الدَّلَائِلِ ﺍﻟْﻘَﺎﻃِﻌَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺤَﻘَّﻘَﺔِ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻗَﺔِ ﻟَﻪُ ﺫُﻭ ﺍﻟْﺨِﺼَﺎﻝِ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﻴَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﺫَﺍﺗِﻪ۪ ﻭَ الْاَخْلَاقِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟِﻴَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﻭَﻇ۪ﻴﻔَﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﺠَﺎﻳَﺎ ﺍﻟﺴَّﺎﻣِﻴَﺔِ ﻓ۪ﻰ ﺷَﺮ۪ﻳﻌَﺘِﻪِ ﺍﻟْﻤُﻜَﻤَّﻠَﺔِ ﺍﻟْﻤُﻨَﺰَّﻫَﺔِ ﻟَﻪُ ﻋَﻦِ الْخِلَافِ ﻣَﻬْﺒِﻂُ ﺍﻟْﻮَﺣْﻰِ ﺍﻟﺮَّﺑَّﺎﻧِﻰِّ ﺑِﺎِﺟْﻤَﺎﻉِ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰِﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻭَ ﺍﻟْﻤُﻨْﺰَﻝِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺳَﻴَّﺎﺭُ ﻋَﺎﻟَﻢِ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐِ ﻭَ ﺍﻟْﻤَﻠَﻜُﻮﺕِ ﻣُﺸَﺎﻫِﺪُ الْاَرْوَاحِ ﻭَ ﻣُﺼَﺎﺣِﺐُ ﺍﻟْﻤَﻠٰﺌِﻜَﺔِ ﺍَﻧْﻤُﻮﺫَﺝُ ﻛَﻤَﺎﻝِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺷَﺨْﺼًﺎ ﻭَ ﻧَﻮْﻋًﺎ ﻭَ ﺟِﻨْﺴًﺎ ﴾ﺍَﻧْﻮَﺭُ ﺛَﻤَﺮَﺍﺕِ ﺷَﺠَﺮَﺓِ ﺍﻟْﺨِﻠْﻘَﺔِ﴿ ﺳِﺮَﺍﺝُ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﺑُﺮْﻫَﺎﻥُ ﺍﻟْﺤَﻘ۪ﻴﻘَﺔِ ﺗِﻤْﺜَﺎﻝُ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﺔِ ﻣِﺜَﺎﻝُ ﺍﻟْﻤَﺤَﺒَّﺔِ ﻛَﺸَّﺎﻑُ ﻃِﻠْﺴِﻢِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ دَلَّالُ ﺳَﻠْﻄَﻨَﺔِ ﺍﻟﺮُّﺑُﻮﺑِﻴَّﺔِ ﺍﻟْﻤُﺮْﻣِﺰُ ﺑِﻌُﻠْﻮِﻳَّﺔِ ﺷَﺨْﺼِﻴَّﺘِﻪِ ﺍﻟْﻤَﻌْﻨَﻮِﻳَّﺔِ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻧُﺼْﺐُ ﻋَﻴْﻦِ ﻓَﺎﻃِﺮِ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﻓ۪ﻰ ﺧَﻠْﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺫُﻭ ﺍﻟﺸَّﺮ۪ﻳﻌَﺔِ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻫِﻰَ ﺑِﻮُﺳْﻌَﺔِ ﺩَﺳَﺎﺗ۪ﻴﺮِﻫَﺎ ﻭَ ﻗُﻮَّﺗِﻬَﺎ ﺗُﺸ۪ﻴﺮُ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﻧَّﻬَﺎ ﻧِﻈَﺎﻡُ ﻧَﺎﻇِﻢِ ﺍﻟْﻜَﻮْﻥِ ﻭَ ﻭَﺿْﻊُ ﺧَﺎﻟِﻖِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻧَﻌَﻢْ ﺍِﻥَّ ﻧَﺎﻇِﻢَ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﺑِﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ الْاَتَمِّ الْاَكْمَلِ ﻫُﻮَ ﻧَﺎﻇِﻢُ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﺑِﻬٰﺬَﺍ ﺍﻟﻨِّﻈَﺎﻡِ الْاَحْسَنِ الْاَجْمَلِ ﺳَﻴِّﺪُﻧَﺎ ﻧَﺤْﻦُ ﻣَﻌَﺎﺷِﺮَ ﺑَﻨ۪ﻰ ﺍٰﺩَﻡَ ﻭَ ﻣُﻬْﺪ۪ﻳﻨَﺎ ﺍِﻟَﻰ الْا۪يمَانِ ﻧَﺤْﻦُ ﻣَﻌَﺎﺷِﺮَ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺑْﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟْﻤُﻄَّﻠِﺐِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍَﻓْﻀَﻞُ ﺍﻟﺼَّﻠَﻮَﺍﺕِ ﻭَ ﺍَﺗَﻢُّ ﺍﻟﺘَّﺴْﻠ۪ﻴﻤَﺎﺕِ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻣَﺖِ الْاَرْضُ ﻭَ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻓَﺎِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟﺸَّﺎﻫِﺪَ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻕَ ﺍﻟْﻤُﺼَﺪَّﻕَ ﻳَﺸْﻬَﺪُ ﻋَﻠٰﻰ ﺭُﺅُﺱِ الْاَشْهَادِ ﻣُﻨَﺎﺩِﻳًﺎ ﻭَ ﻣُﻌَﻠِّﻤًﺎ لِاَجْيَالِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ ﺧَﻠْﻒَ الْاَعْصَارِ ﻭَ الْاَقْطَارِ ﻧِﺪَﺍﺀً ﻋُﻠْﻮِﻳًّﺎ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﻗُﻮَّﺗِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﻐَﺎﻳَﺔِ ﺟِﺪِّﻳَّﺘِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﻨِﻬَﺎﻳَﺔِ ﻭُﺛُﻮﻗِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﻘُﻮَّﺓِ ﺍِﻃْﻤِﺌْﻨَﺎﻧِﻪ۪ ﻭَ ﺑِﻜَﻤَﺎﻝِ ﺍ۪ﻳﻤَﺎﻧِﻪ۪ ﺑِﺎَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ
KILAU KEDUA BELAS YANG SEKUAT MATAHARI-MATAHARI
Kilau Kedua Belas dari Kalimat Kedua Puluh Dua ini merupakan lautan hakikat sedemikian rupa sehingga seluruh dua puluh dua Kalimat hanyalah dua puluh dua tetesnya, dan sumber cahaya sedemikian rupa sehingga dua puluh dua Kalimat ini hanyalah dua puluh dua kilau dari matahari itu. Ya, masing-masing dari dua puluh dua Kalimat tersebut adalah satu kilau dari satu bintang ayat yang bersinar di langit Al-Qur'an, satu tetes dari sungai sebuah ayat yang mengalir dari lautan Al-Furqân, dan satu mutiara dari satu ayat di antara ayat-ayat yang masing-masing merupakan peti permata dalam khazanah teragung Kitabullah.
Kalam Allah subhânahu yang sedikit dijelaskan dalam Tetes Keempat Belas dari Kalimat Kesembilan Belas itu turun dari Ismul A'zham, Arasy Teragung, dan Tajalli teragung Rububiyah. Dengan lingkup dan derajat yang begitu luas dan tinggi hingga menghubungkan azali dengan abadi, menghubungkan bumi dengan Arasy, ia berulang kali mengatakan لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ dengan seluruh kekuatan dan seluruh kepastian ayat-ayatnya, menjadikan seluruh alam saksi dan membuatnya bersaksi. Ya, لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﺑَﺮَﺍﺑَﺮْ ﻣ۪ﻴﺰَﻧَﺪْ ﻋَﺎﻟَﻢْ.
Ya, jika engkau memandang Al-Qur'an itu dengan mata hati yang sehat, engkau akan melihat bahwa keenam arahnya begitu bersinar dan bening sehingga tidak ada gelap, kesesatan, syubhat dan kebimbangan, ataupun tipu daya yang dapat menemukan celah untuk masuk ke dalamnya dan ke dalam lingkupnya yang terjaga. Sebab, di atasnya terdapat cap i'jaz, di bawahnya bukti dan dalil, di belakangnya tempat bersandarnya berupa wahyu Rabb semata, di depannya kebahagiaan dua negeri, di kanannya ia menanyai akal dan memperoleh pembenarannya, di kirinya ia menjadikan hati nurani saksi dan menetapkan tunduknya. Di dalamnya, dengan jelas, terdapat Hidayah Ar-Rahmân yang murni; di permukaannya, terlihat nyata, terdapat cahaya-cahaya iman yang tulus; dan buah-buahnya, yang terlihat dengan ain al-yaqin, adalah orang-orang suci dan para peneliti hakikat, para wali dan orang-orang benar yang berhias kesempurnaan manusia. Jika engkau menempelkan telinga pada dada bahasa alam gaib itu dan mendengarkan, engkau akan mendengar dari kedalaman suatu suara langit yang sangat ramah dan meyakinkan, amat serius dan luhur, serta dilengkapi bukti. Suara itu mengatakan dan mengulangi لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ dengan kepastian sedemikian rupa sehingga menyampaikan dan melimpahkan kepadamu pengetahuan yang yakin, seperti ain al-yaqin, bahwa ucapannya berada pada derajat haq al-yaqin.
~Kesimpulannya:
Rasul Yang Paling Mulia ﷺ, dan Al-Furqân yang paling teguh, yang masing-masing merupakan matahari:
Yang satu, sebagai bahasa alam yang disaksikan, di tengah seribu mukjizat dan dengan pembenaran seluruh nabi serta orang-orang suci, menunjuk dengan jari-jari Islam dan kerasulan kepada suatu hakikat yang beliau tunjukkan dengan seluruh kekuatan...
Yang lain, sebagai bahasa alam gaib, di tengah empat puluh segi i'jaz dan dengan pembenaran seluruh tanda ciptaan di alam, menunjuk dengan jari-jari kebenaran dan hidayah kepada hakikat yang sama, yang ditunjukkannya dengan penuh kesungguhan... Tidakkah hakikat itu lebih terang daripada matahari dan lebih nyata daripada siang?
Wahai manusia kecil yang membangkang dan berlumur kesesatan! {(Catatan kaki): Seruan ini ditujukan kepada orang yang berusaha menyingkirkan Al-Qur'an.} Bagaimana engkau dapat melawan matahari-matahari ini dengan lentera kepalamu yang lebih redup daripada kunang-kunang? Bagaimana engkau dapat merasa tidak membutuhkan mereka? Bagaimana engkau berusaha memadamkan mereka dengan tiupan? Cih, cih, akalmu yang ingkar itu! Bagaimana engkau dapat menyangkal perkataan dan pernyataan yang disampaikan dua bahasa alam gaib dan alam yang disaksikan itu atas Nama serta demi Rabb seluruh alam, Pemilik alam ini? Wahai yang malang, lebih tak berdaya dan lebih hina daripada lalat! Siapakah engkau sehingga berani berusaha mendustakan Pemilik Dzul-Jalâl alam ini?
--
Penutup
Wahai sahabat yang akalnya sadar dan hatinya terjaga! Jika engkau telah memahami Kalimat Kedua Puluh Dua ini dari awal hingga di sini, peganglah kedua belas kilau itu sekaligus. Dengan menemukan lampu hakikat yang sekuat ribuan lampu listrik, berpeganglah pada ayat-ayat Al-Qur'an yang datang terulur dari Arasy Teragung. Naikilah Buraq taufik, mendakilah di langit-langit hakikat, naiklah menuju arasy makrifatullah. Katakan ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍَﻧْﺖَ ﻭَﺣْﺪَﻙَ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻚَ. Dan dengan mengatakan لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﻰٌّ لَا ﻳَﻤُﻮﺕُ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮُ ﻭَ ﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ, nyatakanlah Keesaan di atas kepala seluruh makhluk alam dan di masjid besar alam. ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ وَلَا ﺗَﺤْﻤِﻞْ ﻋَﻠَﻴْﻨَٓﺎ ﺍِﺻْﺮًﺍ ﻛَﻤَﺎ ﺣَﻤَﻠْﺘَﻪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻨَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ وَلَا ﺗُﺤَﻤِّﻠْﻨَﺎ ﻣَﺎ لَا ﻃَﺎﻗَﺔَ ﻟَﻨَﺎ ﺑِﻪ۪ ﻭَﺍﻋْﻒُ ﻋَﻨَّﺎ ﻭَﺍﻏْﻔِﺮْﻟَﻨَﺎ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﺍَﻧْﺖَ ﻣَﻮْﻟٰﻴﻨَﺎ ﻓَﺎﻧْﺼُﺮْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟْﻜَﺎﻓِﺮ۪ﻳﻦَ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ ٭ ﺭَﺑَّﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺟَﺎﻣِﻊُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻟِﻴَﻮْﻡٍ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ لَا ﻳُﺨْﻠِﻒُ ﺍﻟْﻤ۪ﻴﻌَﺎﺩَ ٭ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ ﻭَﺍﺭْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻭَ ﺍﺭْﺣَﻢْ ﺍُﻣَّﺘَﻪُ ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﻳَﺎ ﺍَﺭْﺣَﻢَ ﺍﻟﺮَّﺍﺣِﻤ۪ﻴﻦَ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ
--