Risalah Nur — Bahasa Indonesia

KALIMAT KEDUA PULUH TIGA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

KALIMAT KEDUA PULUH TIGA

Kalimat ini memiliki dua pembahasan.

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺭَﺩَﺩْﻧَﺎﻩُ ﺍَﺳْﻔَﻞَ ﺳَﺎﻓِﻠ۪ﻴﻦَ ٭ اِلَّا ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَ ﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ

Pembahasan Pertama

Dari ribuan keindahan iman, kami hanya menjelaskan lima di antaranya dalam lima pokok.

POKOK PERTAMA

Dengan cahaya iman, manusia naik ke a'lâ illiyyîn dan memperoleh nilai yang layak bagi surga. Dengan gelapnya kufur, ia jatuh ke asfal as-sâfilîn dan berada dalam keadaan yang layak menjadi penghuni neraka. Sebab, iman menghubungkan manusia dengan Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang menciptakannya; iman adalah suatu ikatan. Maka, dengan iman, manusia memperoleh nilai berdasarkan Seni Ilahi dan ukiran Asma Rabb yang tampak dalam dirinya. Kufur memutuskan hubungan itu. Karena hubungan terputus, Seni Rabb tersembunyi. Nilainya hanya berdasarkan materi. Karena materi itu fana, akan sirna, dan berupa kehidupan hewani sementara, nilainya seolah-olah tidak ada.
Kami akan menjelaskan rahasia ini dengan sebuah perumpamaan. Misalnya, dalam seni manusia, nilai materi dan nilai seni berbeda-beda. Terkadang sama, terkadang materi lebih berharga, dan terkadang pada materi seperti besi seharga lima kuruş terdapat seni seharga lima lira. Bahkan, terkadang sebuah karya seni antik bernilai satu juta, padahal materinya tidak bernilai lima kuruş pun. Jika karya seni antik itu dibawa ke pasar barang antik dan dipamerkan sebagai karya seorang seniman terampil dari masa sangat lama yang terbiasa membuat hal-hal menakjubkan, sambil mengingat seniman itu, ia akan terjual dengan harga satu juta. Jika dibawa ke pasar pandai besi kasar, ia dapat dibeli dengan harga besi lima kuruş.
Manusia adalah karya seni antik Allah subhânahu yang demikian, dan mukjizat Kudrat-Nya yang paling halus dan lembut. Dia menciptakan manusia sebagai tempat tampaknya seluruh Asma-Nya, tempat ukiran-ukiran-Nya, dan contoh kecil alam.
Jika cahaya iman masuk ke dalamnya, seluruh ukiran bermakna pada dirinya terbaca dengan cahaya itu. Orang beriman tersebut membacanya dengan sadar, dan membuatnya terbaca melalui ikatan itu. Yakni, dengan makna-makna seperti, "Aku adalah karya seni dan makhluk Sang Pembuat Dzul-Jalâl; aku mendapat Rahmat dan Kemurahan-Nya," Seni Rabb pada manusia menjadi tampak. Jadi, iman yang berupa ikatan dengan Sang Pembuatnya menampakkan seluruh jejak seni pada manusia. Nilai manusia sesuai dengan Seni Rabb itu, dan berdasarkan dirinya sebagai cermin Allah subhânahu Yang Samad. Maka, manusia yang tampak tidak penting ini, dari segi tersebut, menjadi pihak yang diajak berbicara oleh Allah subhânahu di atas seluruh makhluk, dan tamu Rabb yang layak bagi surga.Jika kufur yang berupa terputusnya ikatan masuk ke dalam manusia, seluruh ukiran Asma Ilahi yang bermakna itu menjadi gelap dan tidak terbaca. Sebab, jika Sang Pembuat dilupakan, segi-segi maknawi yang mengarah kepada Sang Pembuat pun tidak dipahami. Seolah-olah semuanya terbalik. Kebanyakan karya seni yang luhur dan ukiran maknawi yang luhur serta bermakna itu tersembunyi. Sebagian yang tersisa dan terlihat oleh mata dinisbatkan kepada sebab-sebab yang rendah, tabiat, dan kebetulan, sehingga jatuh serendah-rendahnya. Masing-masing yang tadinya berlian berkilau menjadi kaca redup. Nilainya hanya dilihat dari materi hewani. Tujuan dan hasil materi itu, seperti telah kami katakan, hanyalah menjalani hidup yang juz'i dalam usia sangat singkat, sebagai yang paling tak berdaya, paling membutuhkan, dan paling sedih di antara hewan-hewan. Kemudian ia membusuk dan pergi. Begitulah kufur meruntuhkan hakikat manusia, mengubahnya dari berlian menjadi batu bara.

POKOK KEDUA

Sebagaimana iman merupakan cahaya yang menerangi manusia dan membuat seluruh surat Allah subhânahu Yang Samad yang tertulis pada dirinya terbaca, ia juga menerangi alam. Ia menyelamatkan masa lalu dan masa depan dari gelap. Kami akan menjelaskan rahasia ini melalui perumpamaan yang kulihat dalam suatu pengalaman batin mengenai salah satu rahasia ayat mulia ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻟِﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ. Demikianlah:
Dalam suatu pengalaman khayal, aku melihat dua gunung tinggi yang berhadapan. Di atasnya dibangun jembatan yang mengerikan. Di bawah jembatan terdapat lembah yang sangat dalam... Aku berada di atas jembatan itu. Gelap yang pekat telah meliputi dunia dari segala sisi. Aku memandang ke kanan dan melihat, yakni membayangkan, sebuah kuburan yang sangat besar dalam gelap tanpa batas. Aku memandang ke kiri dan seolah-olah melihat badai besar, gejolak, dan malapetaka sedang disiapkan di tengah gelombang gelap yang mengerikan. Aku memandang ke bawah jembatan dan mengira melihat jurang yang sangat dalam. Untuk menghadapi gelap yang mengerikan ini, aku memiliki senter saku yang redup. Aku menggunakannya dan memandang dengan cahayanya yang tidak memadai. Keadaan yang amat mengerikan tampak kepadaku. Bahkan, di ujung jembatan di depanku dan di sekelilingnya tampak naga, singa, dan binatang buas yang begitu mengerikan, sampai aku berkata, "Andai aku tidak memiliki senter saku ini dan tidak melihat kengerian-kengerian ini." Ke arah mana pun aku mengarahkan senter itu, aku melihat kengerian seperti itu. Aku berkata, "Celaka! Senter ini menjadi bencana bagiku." Aku pun marah, membanting senter itu ke tanah, dan memecahkannya. Seolah-olah dengan pecahnya senter itu aku menyentuh sakelar lampu listrik besar yang menerangi dunia, gelap itu mendadak tersingkir. Segala penjuru dipenuhi cahaya lampu itu. Cahaya itu menunjukkan hakikat segala sesuatu.
Aku melihat bahwa jembatan yang kulihat itu merupakan jalan di dataran yang sangat tertata. Aku menyadari bahwa kuburan sangat besar yang kulihat di kananku, seluruhnya adalah majelis-majelis ibadah, khidmah, perbincangan, dan zikir di bawah pimpinan orang-orang bercahaya, dalam kebun-kebun yang indah dan hijau. Di kiriku, di balik gunung-gunung berhias, elok, dan menarik, yang jurang dan puncaknya kukira penuh badai dan gejolak, aku melihat samar-samar sebuah tempat jamuan besar, tempat menikmati pemandangan yang indah, dan tempat rekreasi yang tinggi. Makhluk-makhluk yang kukira binatang buas dan naga yang mengerikan itu ternyata hewan-hewan jinak yang ramah, seperti unta, sapi, domba, dan kambing.Dengan mengatakan "Alhamdulillâhi 'alâ nûril-îmân", aku membaca ayat mulia ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﻟِﻰُّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﺍٰﻣَﻨُﻮﺍ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ, lalu tersadar dari pengalaman batin itu.
Dua gunung itu ialah awal kehidupan dan akhir kehidupan, yakni alam bumi dan alam barzakh. Jembatan itu ialah jalan kehidupan. Sisi kanan itu ialah masa lalu. Sisi kiri ialah masa depan. Senter saku itu ialah keakuan manusia yang hanya memandang diri sendiri, bersandar pada apa yang diketahuinya, dan tidak mendengarkan wahyu langit. Hal-hal yang dikira binatang buas itu ialah peristiwa-peristiwa alam dan makhluk-makhluknya yang menakjubkan.
Orang yang bersandar pada keakuannya, jatuh dalam gelap kelalaian, dan terjangkit gelap kesesatan, menyerupai keadaan pertamaku dalam pengalaman batin itu. Dengan pengetahuan yang tidak lengkap dan berlumur kesesatan, yang ibarat senter saku tersebut, ia melihat masa lalu sebagai kuburan yang sangat besar, dalam gelap seolah-olah segala sesuatu telah lenyap. Pengetahuan itu memperlihatkan kepadanya masa depan sebagai tempat yang amat liar, penuh badai, dan bergantung pada kebetulan. Pengetahuan itu juga menggambarkan kepadanya peristiwa dan makhluk—yang masing-masing petugas Sang Hakîm Yang Rahîm, yang tunduk kepada-Nya—sebagai binatang buas yang membahayakan, serta membuat orang itu terkena ketentuan ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُٓﻭﺍ ﺍَﻭْﻟِﻴَٓﺎﺅُﻫُﻢُ ﺍﻟﻄَّﺎﻏُﻮﺕُ ﻳُﺨْﺮِﺟُﻮﻧَﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ.
Jika Hidayah Ilahi datang, iman masuk ke hatinya, sifat Firaun dalam nafsunya dipatahkan, dan ia mendengarkan Kitabullah, ia akan menyerupai keadaan keduaku dalam pengalaman batin itu. Saat itu, alam seketika mengambil warna siang dan dipenuhi Cahaya Ilahi. Alam membaca ayat ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﻧُﻮﺭُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ. Saat itu, masa lalu bukanlah sebuah kuburan yang sangat besar. Dengan mata hati, ia melihat bagaimana, pada setiap abad, kelompok-kelompok ruh suci yang menunaikan tugas ubudiyah di bawah pimpinan seorang nabi atau para wali, setelah menuntaskan tugas kehidupan, terbang ke maqam-maqam yang tinggi dengan mengatakan "Allahu akbar" dan beralih ke sisi masa depan. Ia memandang ke kiri dan, melalui cahaya iman itu, melihat dari kejauhan jamuan Ar-Rahmân yang disiapkan dalam istana-istana kebahagiaan di kebun-kebun surga, di balik beberapa perubahan alam barzakh dan akhirat yang seperti gunung. Ia mengetahui bahwa peristiwa seperti badai, gempa, dan wabah merupakan petugas-petugas yang tunduk. Ia melihat peristiwa seperti badai musim semi dan hujan sebagai hal yang tampak kasar, tetapi menjadi sarana bagi hikmah-hikmah yang sangat lembut secara maknawi. Bahkan, ia melihat kematian sebagai pendahuluan kehidupan abadi dan kubur sebagai pintu kebahagiaan abadi. Bandingkanlah segi-segi lainnya sendiri. Terapkan hakikat pada perumpamaan itu.

POKOK KETIGA

Iman adalah cahaya sekaligus kekuatan. Ya, orang yang memperoleh iman sejati dapat menantang alam dan, menurut kekuatan imannya, terbebas dari tekanan peristiwa-peristiwa. Ia mengatakan ﺗَﻮَﻛَّﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪِ dan berlayar dengan sepenuhnya aman dalam kapal kehidupan di tengah gelombang peristiwa yang sebesar gunung. Ia menyerahkan seluruh bebannya kepada Tangan Kudrat Sang Qadîr Mutlak, melewati dunia dengan tenteram, dan beristirahat di alam barzakh. Kemudian ia dapat terbang menuju surga untuk memasuki kebahagiaan abadi. Jika tidak bertawakal, beban-beban dunia bukannya membiarkannya terbang, melainkan menariknya ke asfal as-sâfilîn. Jadi, iman mengharuskan Tauhid; Tauhid mengharuskan berserah diri; berserah diri mengharuskan tawakal; dan tawakal mengharuskan kebahagiaan dua negeri.
Namun, jangan salah paham! Tawakal bukan berarti menolak sebab-sebab sepenuhnya. Sebaliknya, tawakal berarti menganggap sebab-sebab sebagai tabir Tangan Kudrat dan memperhatikannya, menganggap usaha melalui sebab-sebab sebagai semacam doa dengan tindakan, meminta hasil-hasilnya hanya dari Allah subhânahu, mengetahui bahwa hasil itu dari-Nya, dan berterima kasih kepada-Nya.
Perumpamaan orang yang bertawakal dan yang tidak menyerupai kisah ini:
Dahulu dua orang memikul beban berat di pinggang dan kepala mereka, membeli tiket, lalu naik ke sebuah kapal besar. Begitu masuk, seorang di antaranya meletakkan bebannya di kapal, duduk di atasnya, dan menjaganya. Yang lain, karena bodoh dan sombong, tidak meletakkan bebannya.
Ia diberi tahu, "Letakkan beban beratmu di kapal dan beristirahatlah."
Ia berkata, "Tidak, aku tidak akan meletakkannya. Mungkin nanti hilang. Aku kuat. Aku akan menjaga hartaku di pinggang dan kepalaku."
Ia diberi tahu lagi, "Kapal sultan yang aman dan mengangkut kami serta kalian ini lebih kuat dan menjaganya lebih baik. Bisa jadi kepalamu pusing, lalu engkau jatuh ke laut bersama bebanmu. Kekuatanmu juga semakin berkurang. Pinggangmu yang membungkuk dan kepalamu yang tidak berakal ini tidak akan sanggup menahan beban yang semakin berat itu. Jika kapten melihatmu dalam keadaan ini, ia akan mengusirmu karena menganggapmu gila, atau memerintahkan, 'Ia pengkhianat, menuduh kapal kita dan mengejek kita; penjarakan dia.' Engkau juga menjadi bahan tertawaan semua orang. Sebab, dalam pandangan orang yang memperhatikan, engkau membuat dirimu menjadi bahan tertawaan dengan sikap angkuhmu yang menunjukkan kelemahan, kesombonganmu yang menunjukkan ketidakmampuan, dan kepura-puraanmu yang menunjukkan ria dan hina. Semua orang menertawakanmu." Setelah diberi tahu demikian, orang malang itu pun sadar. Ia meletakkan bebannya, lalu duduk di atasnya. Ia berkata, "Ah! Semoga Allah subhânahu meridaimu. Aku terbebas dari kesulitan, penjara, dan menjadi bahan tertawaan."
Wahai manusia yang tidak bertawakal! Sadarlah seperti orang ini dan bertawakallah, agar engkau terbebas dari meminta-minta kepada seluruh alam, gemetar menghadapi setiap peristiwa, membanggakan diri, menjadi bahan tertawaan, kesengsaraan akhirat, dan penjara tekanan dunia.

POKOK KEEMPAT

Iman menjadikan manusia benar-benar manusia. Bahkan, menjadikannya sultan. Maka, tugas pokok manusia adalah iman dan doa. Kufur menjadikan manusia binatang buas yang sangat tak berdaya.
Di antara ribuan dalil persoalan ini, perbedaan antara hewan dan manusia ketika datang ke dunia saja merupakan dalil yang jelas dan bukti yang tegas. Ya, perbedaan kedatangan manusia dan hewan ke dunia menunjukkan bahwa manusia menjadi manusia melalui iman. Sebab, ketika hewan datang ke dunia, ia datang—yakni dikirim—dalam keadaan sempurna sesuai kemampuannya, seolah-olah telah disempurnakan di alam lain. Dalam dua jam, dua hari, atau dua bulan, ia mempelajari seluruh syarat hidupnya, hubungannya dengan alam, dan hukum-hukum kehidupannya, lalu memiliki kecakapan. Kemampuan menjalani hidup dan kecakapan bertindak yang diperoleh manusia dalam dua puluh tahun dipelajari hewan seperti burung pipit dan lebah dalam dua puluh hari, yakni diilhamkan kepadanya.
Jadi, tugas pokok hewan bukanlah menjadi sempurna dengan belajar, bukan maju dengan memperoleh makrifat, dan bukan meminta pertolongan serta berdoa dengan menunjukkan bahwa dirinya tak berdaya. Sebaliknya, tugasnya ialah bekerja sesuai kemampuannya, berbuat, dan melakukan ubudiyah melalui tindakan.
Manusia, ketika datang ke dunia, perlu mempelajari segala sesuatu dan tidak mengetahui hukum-hukum kehidupan. Bahkan, dalam dua puluh tahun ia belum dapat mempelajari seluruh syarat kehidupan. Ia tetap perlu belajar hingga akhir hidupnya. Ia juga dikirim ke dunia dalam keadaan sangat tak berdaya dan lemah, baru dapat berdiri dalam satu atau dua tahun. Dalam lima belas tahun ia baru membedakan bahaya dan manfaat. Ia baru dapat memperoleh manfaat dan menghindari bahaya dengan bantuan kehidupan masyarakat manusia.
Jadi, tugas fitri manusia adalah menjadi sempurna dengan belajar dan melakukan ubudiyah dengan berdoa. Yakni, mengetahui, "Dengan Rahmat siapa aku diatur dengan begitu bijaksana? Dengan Kemurahan siapa aku dididik dengan begitu penuh kasih? Dengan Karunia-Karunia siapa aku diberi makan dan diurus dengan begitu lembut?" Dan memohon, meminta, serta berdoa kepada Sang Pemenuh Kebutuhan melalui bahasa keadaannya yang tak berdaya dan serba kurang, mengenai kebutuhan-kebutuhannya yang bahkan satu dari seribunya pun tidak terjangkau tangannya. Yakni, terbang menuju maqam ubudiyah yang paling tinggi dengan keadaan tak berdaya dan serba kurang sebagai dua sayapnya.
Jadi, manusia datang ke alam ini untuk menjadi sempurna melalui ilmu dan doa. Berdasarkan hakikat dan kemampuannya, segala sesuatu bergantung pada ilmu.Dasar, tambang, cahaya, dan ruh seluruh ilmu sejati adalah makrifatullah, dan dasar paling pokoknya adalah iman kepada Allah subhânahu.
Selain itu, karena manusia yang tak berdaya tanpa batas menghadapi malapetaka tak terhingga dan serangan musuh tak terbatas, serta dengan keadaannya yang serba kurang tanpa batas terjerat kebutuhan tak terhingga dan membutuhkan hal-hal yang diinginkannya, yang tak terhingga, tugas fitrinya yang pokok setelah iman adalah doa. Doa ialah dasar ubudiyah. Sebagaimana seorang anak menangis atau meminta untuk memperoleh maksud dan keinginan yang tidak terjangkau tangannya. Yakni, ia berdoa melalui bahasa keadaannya yang tak berdaya, dengan tindakan ataupun ucapan, lalu berhasil memperoleh tujuannya. Demikian pula, manusia ibarat anak yang halus, lembut, dan manja di antara seluruh alam makhluk hidup. Di hadapan Ar-Rahmân Yang Rahîm, ia harus menangis dengan kelemahan dan ketidakmampuannya, atau berdoa dengan keadaannya yang serba kurang dan butuh, agar tujuan-tujuannya tunduk kepadanya, atau agar ia menunaikan syukur atas ditundukkannya hal-hal itu. Jika tidak, seperti anak bodoh dan nakal yang menjerit karena seekor lalat, ia berkata, "Dengan kekuatanku, aku menundukkan benda-benda menakjubkan ini—yang tidak dapat ditundukkan olehnya dan seribu tingkat lebih kuat darinya—dan dengan pikiran serta pengaturanku, aku membuat mereka menaatiku," lalu melenceng ke jalan mengingkari nikmat. Selain bertentangan dengan fitrah asli manusia, hal itu membuat dirinya layak menerima azab yang keras.

POKOK KELIMA

Sebagaimana iman mengharuskan doa sebagai sarana yang pasti dan fitrah manusia sangat menginginkannya, Allah subhânahu juga menyatakan ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻳَﻌْﺒَﺆُﺍ ﺑِﻜُﻢْ ﺭَﺑّ۪ﻰ لَوْلَا ﺩُﻋَٓﺎﺅُﻛُﻢْ dengan makna, "Jika tidak ada doa kalian, apa arti penting kalian?" Dia juga memerintahkan ﺍُﺩْﻋُﻮﻧ۪ٓﻰ ﺍَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ.
~Jika engkau berkata:

"Sering kali kami berdoa, tetapi tidak dikabulkan. Padahal ayat itu bersifat umum dan menyatakan bahwa setiap doa mendapat jawaban."
~Jawaban:

Menjawab berbeda dengan mengabulkan. Setiap doa mendapat jawaban; tetapi mengabulkan, sekaligus memberi persis apa yang diminta, mengikuti Hikmah Allah subhânahu. Misalnya, seorang anak sakit memanggil, "Wahai dokter! Perhatikan aku." Dokter berkata, "Aku siap," lalu menjawab, "Apa yang engkau inginkan?" Anak itu berkata, "Berikan obat ini kepadaku." Dokter memberikan persis yang dimintanya, atau memberikan yang lebih baik berdasarkan manfaatnya bagi si anak, atau mengetahui bahwa obat itu berbahaya bagi penyakitnya sehingga tidak memberikannya sama sekali. Karena Allah subhânahu, Sang Hakîm Yang Mutlak, hadir dan melihat, Dia menjawab doa hamba. Dengan Kehadiran dan Jawaban-Nya, Dia mengubah kengerian sunyi dan tanpa teman menjadi rasa akrab. Namun, bukan menurut desakan manusia yang memuja hawa nafsu dan mengikuti keinginannya, melainkan menurut tuntutan Hikmah Rabb, Dia memberi apa yang diminta, atau yang lebih baik, atau tidak memberi sama sekali.
Selain itu, doa adalah ubudiyah. Buah ubudiyah berada di akhirat. Tujuan-tujuan duniawi adalah waktu bagi doa dan ibadah jenis itu, bukan tujuannya. Misalnya, salat dan doa meminta hujan adalah ibadah. Tidak adanya hujan ialah waktu ibadah itu. Ibadah dan doa itu dilakukan bukan untuk mendatangkan hujan. Jika semata-mata diniatkan demikian, doa dan ibadah itu tidak tulus, sehingga tidak layak dikabulkan. Sebagaimana terbenamnya matahari merupakan waktu salat Magrib. Gerhana matahari dan bulan juga merupakan waktu bagi dua ibadah khusus yang disebut salat kusuf dan khusuf. Yakni, karena tertutupnya tanda-tanda bercahaya siang dan malam menjadi sarana mengumumkan Keagungan Ilahi, Allah subhânahu mengundang hamba-hamba-Nya melakukan suatu jenis ibadah pada waktu itu. Salat tersebut dilakukan bukan untuk tersingkapnya gerhana bulan dan matahari, yang kapan berakhir dan berapa lama berlangsungnya telah ditentukan melalui perhitungan ahli perbintangan. Tepat demikian pula, tidak adanya hujan merupakan waktu salat meminta hujan. Meluasnya malapetaka dan menguasanya hal-hal berbahaya juga merupakan waktu-waktu khusus bagi beberapa doa. Pada saat-saat itu, manusia memahami bahwa dirinya tak berdaya dan berlindung di hadapan Sang Qadîr Mutlak dengan doa dan permohonan.
Jika malapetaka tidak disingkirkan meskipun banyak doa dipanjatkan, jangan dikatakan, "Doa tidak dikabulkan." Sebaliknya, katakanlah, "Waktu doa belum selesai."Jika Allah subhânahu mengangkat malapetaka dengan Karunia dan Kemurahan-Nya, itu cahaya di atas cahaya; saat itu waktu doa berakhir dan selesai.
Jadi, doa merupakan rahasia ubudiyah. Ubudiyah harus tulus hanya demi Allah subhânahu. Manusia hanya harus menunjukkan bahwa dirinya tak berdaya dan berlindung kepada-Nya dengan doa. Ia harus menghindari campur tangan dalam Rububiyah-Nya. Ia harus menyerahkan Pengaturan kepada-Nya, bersandar pada Hikmah-Nya, dan tidak menuduh Rahmat-Nya.
Ya, sesungguhnya, sebagaimana ditetapkan oleh penjelasan ayat-ayat yang terang, seluruh makhluk masing-masing melakukan tasbih tertentu, ibadah khusus, dan sujud khas. Demikian pula, yang datang dari seluruh alam ke Hadirat Ilahi adalah doa.
Doa itu melalui bahasa kemampuan. Seperti doa seluruh tanaman, yang masing-masing meminta suatu rupa dari Sang Fayyâdh Yang Mutlak melalui bahasa kemampuannya, dan meminta untuk menjadi tempat tampaknya Asma-Nya secara terbuka.
Atau melalui bahasa kebutuhan fitri. Inilah doa seluruh makhluk hidup bagi kebutuhan pokok mereka yang berada di luar kemampuan mereka. Melalui bahasa kebutuhan fitri itu, masing-masing meminta dari Sang Jawwâd Yang Mutlak beberapa hal yang mereka inginkan, yang ibarat rezeki untuk meneruskan hidup.
Atau doa melalui bahasa keadaan terdesak. Setiap makhluk bernyawa yang terdesak berdoa dengan berlindung secara pasti dan mencari perlindungan pada Pelindung yang tidak diketahuinya, bahkan mengarah kepada Rabbnya Yang Rahîm. Ketiga jenis doa ini selalu diterima jika tidak ada penghalang.
Jenis keempat, yang paling terkenal, ialah doa kita. Ini pun terbagi dua: yang satu melalui tindakan dan keadaan; yang lain melalui hati dan ucapan. Misalnya, berusaha melalui sebab-sebab merupakan doa dengan tindakan. Berkumpulnya sebab-sebab bukan untuk mengadakan hasil itu, melainkan untuk mengambil keadaan yang diridai agar meminta hasil dari Allah subhânahu melalui bahasa keadaan. Bahkan, membajak tanah berarti mengetuk pintu khazanah Rahmat. Karena doa dengan tindakan jenis ini mengarah kepada Nama dan Gelar Sang Jawwâd Yang Mutlak, sebagian besar dikabulkan.
Bagian kedua ialah berdoa dengan lisan dan hati. Meminta beberapa hal yang tidak terjangkau tangan. Seginya yang paling penting, tujuannya yang paling indah, dan buahnya yang paling manis ialah, "Orang yang berdoa memahami bahwa ada Zat yang mendengar lintasan-lintasan hatinya, menjangkau segala sesuatu, dapat memenuhi setiap keinginannya, mengasihi dirinya yang tak berdaya, dan menolongnya dalam keadaan serba kurang."
Wahai manusia yang tak berdaya dan wahai insan yang serba kurang!Jangan lepaskan sarana seperti doa, yang merupakan kunci khazanah Rahmat dan sumber kekuatan yang tidak habis. Berpeganglah padanya dan naiklah ke a'lâ illiyyîn kemanusiaan. Seperti seorang sultan, masukkan doa seluruh alam ke dalam doamu. Katakan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ seperti seorang hamba yang mencakup segalanya dan wakil bagi semua. Jadilah gambaran alam yang tersusun indah.

--

Pembahasan Kedua

Terdiri dari lima pokok halus yang menjadi dasar kebahagiaan dan kesengsaraan manusia.

Karena manusia diciptakan dalam ahsani taqwîm dan diberi kemampuan yang sangat menyeluruh, ia dilemparkan ke medan ujian, tempat ia dapat masuk dan jatuh ke maqam, tingkatan, derajat tinggi, dan derajat rendah yang tersusun dari asfal as-sâfilîn hingga a'lâ illiyyîn, dari bumi hingga Arasy, dari zarah hingga matahari. Dua jalan menuju jatuh dan naik tanpa batas terbuka di hadapannya. Ia dikirim ke dunia ini sebagai mukjizat Kudrat, hasil ciptaan, dan keajaiban seni. Kami akan menjelaskan rahasia kemajuan dan kemunduran manusia yang mengerikan ini dalam lima pokok halus.

BUTIR PERTAMA

Manusia membutuhkan dan berhubungan dengan kebanyakan jenis makhluk di alam. Kebutuhannya tersebar di segala penjuru alam, dan keinginannya menjangkau hingga abadi. Sebagaimana menginginkan sekuntum bunga, ia juga menginginkan seluruh musim semi. Sebagaimana mendambakan sebuah kebun, ia juga mendambakan surga abadi. Sebagaimana rindu melihat seorang sahabat, ia juga rindu melihat Sang Jamîl Dzul-Jalâl. Sebagaimana perlu membuka pintu suatu tempat untuk mengunjungi orang yang dicintainya yang tinggal di tempat lain, untuk mengunjungi sembilan puluh sembilan persen sahabatnya yang telah berpindah ke alam barzakh dan terbebas dari perpisahan abadi, ia perlu berlindung di hadapan Sang Qadîr Mutlak, yang akan menutup pintu dunia yang besar, membuka pintu akhirat yang merupakan tempat berhimpun penuh keajaiban, mengangkat dunia, serta mendirikan dan meletakkan akhirat sebagai gantinya.
Dalam keadaan demikian, Ma'bûd Sejati bagi manusia hanyalah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Rahîm Dzul-Jamâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl, yang memegang kendali segala sesuatu, memiliki khazanah segala sesuatu, menyaksikan di sisi segala sesuatu, hadir di setiap tempat, Suci dari tempat, Bebas dari keadaan tak berdaya, Suci dari cacat, dan Tinggi di atas kekurangan. Sebab, hanya Pemilik Kudrat tanpa batas dan Ilmu yang meliputi segalanya dapat memenuhi kebutuhan manusia yang tak terhingga. Maka, hanya Dialah yang layak menjadi Ma'bûd.
Wahai manusia! Jika engkau hanya menjadi hamba-Nya, engkau memperoleh kedudukan di atas seluruh makhluk. Jika engkau menolak ubudiyah, engkau menjadi hamba yang hina bagi makhluk-makhluk yang tak berdaya. Jika engkau mengandalkan keakuan dan kemampuanmu, meninggalkan tawakal serta doa, lalu melenceng menuju sikap angkuh dan mengaku-aku, dalam hal kebaikan dan mengadakan sesuatu engkau jatuh lebih rendah daripada lebah dan semut, lebih lemah daripada laba-laba dan lalat. Dalam hal keburukan dan merusak, engkau menjadi lebih berat daripada gunung dan lebih berbahaya daripada wabah.
Ya, wahai manusia! Engkau memiliki dua segi. Yang satu ialah segi mengadakan, ada, kebaikan, hal yang positif, dan bertindak. Yang lain ialah segi merusak, tidak ada, keburukan, meniadakan, dan menerima pengaruh. Dari segi pertama, engkau lebih rendah daripada lebah dan burung pipit, lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Dari segi kedua, engkau melampaui gunung, bumi, dan langit. Engkau memikul beban yang mereka hindari dan yang di hadapannya mereka menunjukkan diri tak berdaya. Engkau menjangkau lingkup yang lebih luas dan besar daripada mereka.Sebab, ketika berbuat baik dan mengadakan sesuatu, engkau hanya dapat melakukannya sesuai lingkupmu, sejauh tanganmu menjangkau, dan sebatas kekuatanmu sanggup. Jika berbuat buruk dan merusak, keburukanmu melampaui batas dan kerusakanmu menyebar.
Misalnya, kufur merupakan keburukan, tindakan merusak, dan tidak membenarkan. Namun, satu keburukan itu mencakup penghinaan terhadap seluruh alam, perendahan seluruh Asma Ilahi, dan penistaan seluruh kemanusiaan. Sebab, makhluk-makhluk ini memiliki maqam yang luhur dan tugas yang penting. Mereka merupakan surat-surat Rabb, cermin-cermin Allah subhânahu Yang Mahasuci, dan petugas-petugas Ilahi. Kufur menjatuhkan mereka dari maqam sebagai cermin, petugas, dan sesuatu yang bermakna, ke tingkat mainan kesia-siaan dan kebetulan; menurunkan mereka menjadi zat-zat fana yang cepat rusak dan berubah karena hancurnya akibat sirna dan perpisahan, serta ke tingkat tidak penting, tidak bernilai, dan tidak berarti. Selain itu, dengan menyangkal Asma Ilahi yang ukiran, Tajalli, dan Keindahannya terlihat dalam seluruh alam serta cermin-cermin makhluk, kufur merendahkannya. Ia juga menjatuhkan manusia—yang merupakan kasidah hikmah tersusun yang mengumumkan dengan indah Tajalli seluruh Asma Ilahi yang Suci; mukjizat Kudrat yang terang, seperti benih yang merangkum perangkat pohon yang kekal; serta pemilik derajat khalifah di bumi yang, dengan memikul amanah teragung, melampaui bumi, langit, dan gunung serta memperoleh keunggulan dibandingkan malaikat—ke tingkat yang lebih hina, lemah, tidak mampu, dan fakir daripada hewan yang paling hina, fana, dan akan sirna. Ia menurunkannya menjadi papan biasa yang tidak bermakna, kacau, dan cepat rusak. Kesimpulannya,

nafsu ammarah dapat melakukan kejahatan tak terbatas dalam hal merusak dan berbuat buruk, tetapi kemampuannya dalam mengadakan sesuatu dan berbuat baik sangat sedikit dan juz'i. Ya, ia dapat merusak sebuah rumah dalam satu hari, tetapi tidak dapat membuatnya dalam seratus hari. Namun, jika meninggalkan keakuan, meminta kebaikan dan wujud melalui Taufik Ilahi, meninggalkan keburukan, tindakan merusak, dan bersandar pada nafsu, serta beristigfar dan sepenuhnya menjadi hamba, ia akan menampakkan rahasia ﻳُﺒَﺪِّﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺳَﻴِّﺌَﺎﺗِﻬِﻢْ ﺣَﺴَﻨَﺎﺕٍ. Kemampuannya yang tak terbatas untuk berbuat buruk berubah menjadi kemampuan tak terbatas untuk berbuat baik. Ia memperoleh nilai ahsani taqwîm dan naik ke a'lâ illiyyîn.
Wahai manusia yang lalai! Lihatlah Karunia dan Kemurahan Allah subhânahu! Padahal mencatat satu keburukan sebagai seribu, mencatat satu kebaikan sebagai satu atau tidak mencatatnya sama sekali, merupakan keadilan; Dia mencatat satu keburukan sebagai satu, dan satu kebaikan sebagai sepuluh, terkadang tujuh puluh, terkadang tujuh ratus, dan terkadang tujuh ribu. Dari butir ini, pahamilah bahwa masuk ke neraka yang mengerikan itu merupakan hukuman atas perbuatan dan keadilan itu sendiri. Namun, masuk ke surga merupakan Karunia semata.