Risalah Nur — Bahasa Indonesia

CABANG KEEMPAT

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

CABANG KEEMPAT

ﺍَﻟَﻢْ ﺗَﺮَ ﺍَﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﺴْﺠُﺪُ ﻟَﻪُ ﻣَﻦْ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﻦْ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻭَﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ ﻭَﺍﻟﻨُّﺠُﻮﻡُ ﻭَﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝُ ﻭَﺍﻟﺸَّﺠَﺮُ ﻭَﺍﻟﺪَّﻭَٓﺍﺏُّ ﻭَﻛَﺜ۪ﻴﺮٌ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﻛَﺜ۪ﻴﺮٌ ﺣَﻖَّ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟْﻌَﺬَﺍﺏُ ﻭَﻣَﻦْ ﻳُﻬِﻦِ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﻟَﻪُ ﻣِﻦْ ﻣُﻜْﺮِﻡٍ ﺍِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣَﺎ ﻳَﺸَٓﺎﺀُ
Kami hanya akan menunjukkan satu permata dari khazanah ayat besar dan luas ini. Demikianlah:
Al-Qur'an Al-Hakîm menyatakan secara tegas bahwa dari Arasy hingga bumi, bintang hingga lalat, malaikat hingga ikan, dan planet hingga zarah, segala sesuatu bersujud, beribadah, memuji, dan bertasbih kepada Allah subhânahu. Namun, ibadah mereka berbeda dan beragam menurut Asma yang tampak pada mereka serta kemampuan mereka. Kami akan menjelaskan satu jenis keragaman ibadah mereka dengan perumpamaan.
Misalnya, ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى, ketika seorang penguasa kerajaan yang agung membangun kota besar atau istana megah, ia mempekerjakan serta menggunakan empat jenis pekerja dalam pembangunannya:
Jenis pertama ialah hamba-hamba miliknya dan budak-budaknya. Jenis ini tidak memiliki gaji ataupun upah. Dalam setiap pekerjaan yang dilakukan atas perintah tuannya, mereka memiliki kesenangan yang sangat halus dan semangat yang menyenangkan. Apa pun yang mereka katakan sebagai pujian serta gambaran sifat tuannya menambah kesenangan dan semangat mereka. Mereka menganggap ikatan dengan tuannya yang suci itu sebagai kehormatan besar dan mencukupkan diri dengannya. Mereka juga memperoleh kenikmatan maknawi karena memandang pekerjaan atas nama, demi, dan melalui pandangan tuannya. Mereka tidak memerlukan upah, pangkat, ataupun gaji.
Bagian kedua ialah beberapa pelayan awam. Mereka tidak mengetahui mengapa bekerja. Penguasa yang mulia itu menggunakan mereka dan membuat mereka bekerja dengan pikiran serta pengetahuannya sendiri. Ia juga memberi mereka upah yang juz'i dan layak. Pelayan-pelayan itu tidak mengetahui tujuan menyeluruh dan manfaat tinggi yang mengikuti perbuatan mereka. Bahkan, sebagian mengira perbuatan mereka tidak memiliki tujuan selain upah dan gaji yang hanya terkait diri mereka.
Bagian ketiga: Penguasa kerajaan itu memiliki beberapa hewan. Ia mempekerjakan mereka untuk beberapa pekerjaan dalam membangun kota atau istana tersebut. Ia hanya memberi mereka pakan. Bekerja dalam pekerjaan yang sesuai kemampuannya juga memberi mereka kenikmatan. Sebab, jika kemampuan dan bakat yang masih berupa potensi mengambil bentuk tindakan serta perbuatan, ia mengembang, bernapas lega, dan memberi kenikmatan. Kenikmatan dalam seluruh kegiatan berasal dari rahasia ini. Upah dan gaji pelayan-pelayan bagian ini hanyalah pakan serta kenikmatan maknawi tersebut. Mereka mencukupkan diri dengannya.Bagian keempat ialah pekerja-pekerja yang mengetahui apa yang mereka kerjakan, mengapa dan untuk siapa mereka bekerja, mengapa pekerja-pekerja lain bekerja, apa tujuan penguasa kerajaan itu, dan mengapa ia membuat mereka bekerja. Pekerja jenis ini memiliki kepemimpinan dan pengawasan atas pekerja-pekerja lainnya. Mereka memiliki gaji bertingkat sesuai derajat serta pangkat mereka.
Tepat demikian pula, Rabb seluruh alam, Sang Mâlik Dzul-Jalâl atas langit dan bumi serta Sang Pembangun Dzul-Jamâl dunia dan akhirat, bukan karena kebutuhan—sebab, Dialah Sang Khâliq segala sesuatu—melainkan demi beberapa hikmah, seperti Kemuliaan, Keagungan, dan Syuunat Rububiyah, dalam istana alam dan lingkup sebab-sebab ini mempekerjakan malaikat, hewan, benda mati dan tanaman, serta manusia, lalu membuat mereka beribadah.
Dia menugaskan keempat jenis ini dengan tugas ubudiyah yang berbeda:
Bagian Pertama: Yang menjadi perumpamaan hamba-hamba milik dalam contoh ialah malaikat. Pada malaikat tidak terdapat kemajuan melalui perjuangan. Masing-masing memiliki maqam yang tetap dan pangkat yang tertentu. Namun, mereka memiliki kesenangan khusus dalam perbuatan itu sendiri. Dalam ibadah itu sendiri, mereka menerima limpahan sesuai derajatnya. Jadi, balasan para pelayan itu ada dalam khidmah mereka. Sebagaimana manusia memperoleh makanan dan kenikmatan melalui air, udara, cahaya, dan makanan, malaikat juga memperoleh makanan serta kenikmatan melalui cahaya zikir, tasbih, pujian, ibadah, makrifat, dan cinta. Karena diciptakan dari cahaya, cahaya cukup sebagai makanan mereka. Bahkan, aroma harum yang dekat dengan cahaya juga merupakan sejenis makanan mereka, dan mereka menyukainya. Ya, ruh-ruh baik menyukai aroma-aroma yang baik.
Malaikat juga memiliki kebahagiaan begitu besar dalam pekerjaan yang dilakukan atas Perintah Ma'bûd mereka; perbuatan demi-Nya; khidmah atas Nama-Nya; pengawasan melalui Pandangan-Nya; kehormatan yang diperoleh melalui ikatan dengan-Nya; kesenangan berkeliling yang diterima dengan membaca mulk dan malakut-Nya; serta kenikmatan yang diperoleh dengan menyaksikan Tajalli Keindahan dan Keagungan-Nya, sehingga akal manusia tidak memahaminya, dan yang bukan malaikat tidak mengetahuinya.
Sebagian malaikat beribadah, sedangkan ubudiyah sebagian lainnya terdapat dalam perbuatan. Bagian pekerja dari malaikat bumi menyerupai manusia dalam suatu segi.Jika ungkapan ini dibenarkan, mereka menjalankan sejenis penggembalaan dan pertanian. Yakni, muka bumi adalah lahan menyeluruh. Seorang malaikat yang ditugaskan mengawasi seluruh kelompok hewan di dalamnya dengan Perintah serta Izin Sang Khâliq Dzul-Jalâl, demi-Nya, dan dengan Daya serta Kekuatan-Nya. Di bawahnya, untuk setiap jenis hewan ada malaikat yang ditugaskan melakukan sejenis penggembalaan khusus.
Muka bumi juga merupakan ladang tempat seluruh tanaman ditanam. Ada malaikat yang ditugaskan mengawasi semuanya atas Nama dan dengan Kekuatan Allah subhânahu. Di bawahnya ada malaikat-malaikat yang beribadah serta bertasbih kepada Allah subhânahu dengan mengawasi kelompok tertentu. Malaikat Mikail, 'alaihis-salâm, yang termasuk pemikul Arasy Pemberian rezeki, merupakan pengawas terbesar mereka.
Malaikat-malaikat yang ibarat penggembala dan petani tidak menyerupai manusia. Sebab, pengawasan mereka semata-mata demi Allah subhânahu, atas Nama-Nya, serta dengan Kekuatan dan Perintah-Nya. Pengawasan itu hanya berupa menyaksikan Tajalli Rububiyah pada jenis yang ditugaskan kepadanya, membaca Tajalli Kudrat dan Rahmat pada jenis tersebut, memberi sejenis ilham tentang Perintah-Perintah Ilahi kepada jenis itu, serta mengatur tindakan-tindakan pilihannya dalam suatu segi.
Terutama, pengawasan mereka terhadap tanaman di ladang bumi hanya berupa mewakili tasbih maknawi tanaman melalui bahasa malaikat; mengumumkan melalui bahasa malaikat salam maknawi yang tanaman persembahkan kepada Sang Fâthir Dzul-Jalâl dengan kehidupan mereka; serta menggunakan perangkat yang diberikan kepada tanaman itu dengan baik, mengarahkannya kepada beberapa tujuan, dan mengaturnya dalam suatu segi.
Khidmah malaikat ini merupakan sejenis usaha melalui kehendak bebas mereka yang terbatas, bahkan sejenis ubudiyah dan ibadah. Mereka tidak memiliki kendali nyata. Sebab, pada setiap benda terdapat cap yang khas bagi Sang Khâliq segala sesuatu. Yang lain tidak dapat ikut campur dalam menciptakan sesuatu. Jadi, perbuatan malaikat seperti ini ialah ibadah mereka, bukan kebiasaan seperti pada manusia.
Bagian kedua pekerja dalam istana alam ini ialah hewan. Karena hewan juga memiliki nafsu yang berselera dan kehendak bebas yang terbatas, perbuatan mereka tidak tulus semata-mata demi Allah subhânahu. Hingga suatu tingkat, mereka juga mengambil bagian bagi nafsu mereka.Karena Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl wal-Ikrâm adalah Karîm, Dia memberi hewan-hewan itu gaji di dalam perbuatannya, agar nafsu mereka juga memperoleh bagian. Misalnya, Sang Fâthir Yang Hakîm mempekerjakan burung bulbul yang terkenal {(Catatan kaki): Karena bulbul berbicara dengan puitis, pembahasan kami ini juga agak puitis. Namun, ini bukan khayalan, melainkan hakikat.}, hewan kecil yang dikenal mencintai mawar itu. Dia menggunakannya untuk lima tujuan:
Pertama: Ia ditugaskan mengumumkan hubungan yang kuat dengan kelompok-kelompok tanaman atas nama suku-suku hewan.
Kedua: Ia merupakan khatib Rabb dari pihak hewan, yang ibarat tamu-tamu Ar-Rahmân yang membutuhkan rezeki, dan ditugaskan menyambut hadiah-hadiah yang dikirim oleh Ar-Razzâq Yang Mahamulia dengan tepuk tangan serta mengumumkan kegembiraan.
Ketiga: Menunjukkan di atas kepala semua orang sambutan yang baik terhadap tanaman yang dikirim untuk menolong sesama jenisnya.
Keempat: Menjelaskan di atas kepala-kepala mereka yang diberkahi, di hadapan wajah tanaman yang indah, betapa kuatnya kebutuhan jenis hewan kepada tanaman hingga mencapai derajat cinta.
Kelima: Mempersembahkan tasbih yang paling halus, dalam semangat yang paling halus, pada wajah yang paling halus seperti mawar, ke Hadirat Kasih Sayang Mâlikul-Mulk Dzul-Jalâl wal-Jamâl wal-Ikrâm.
Masih terdapat makna-makna lain seperti kelima tujuan ini. Makna dan tujuan tersebut ialah tujuan perbuatan bulbul demi Al-Haqq subhânahu wa ta'âlâ. Bulbul berbicara dengan bahasanya sendiri. Kita memahami makna-makna ini dari perkataannya yang sedih, seperti malaikat dan makhluk ruhani memahaminya. Meskipun ia sendiri tidak sepenuhnya mengetahui makna nyanyiannya, hal itu tidak merusak pemahaman kita. Terkenal ungkapan, "Pendengar lebih memahami daripada pembicara." Tidak diketahuinya tujuan-tujuan ini secara terperinci oleh bulbul juga tidak menunjukkan bahwa tujuan itu tidak ada. Setidaknya, seperti jam yang menunjukkan waktu kepadamu, ia sendiri tidak mengetahui apa yang dilakukan. Ia tidak tahu, tetapi hal itu tidak merusak pengetahuanmu.
Gaji yang juz'i bagi bulbul itu ialah kesenangan yang diperoleh dengan memandang bunga-bunga mawar indah yang tersenyum serta tertawa, dan kenikmatan berbincang, berbicara, serta mencurahkan kesedihan kepada bunga-bunga itu. Jadi, nyanyian sedihnya bukan keluhan yang berasal dari penderitaan hewani, melainkan ungkapan syukur dari pemberian-pemberian Ar-Rahmân.
Bandingkan dengan bulbul itu nahl, fahl, ankabut, dan naml, yakni lebah, hewan jantan yang menjadi sarana keturunan, laba-laba, dan semut, serta bulbul-bulbul hewan melata dan binatang kecil.Perbuatan masing-masing memiliki banyak tujuan seperti bulbul. Di dalam khidmah mereka juga dimasukkan kesenangan khusus yang ibarat gaji yang juz'i bagi mereka. Melalui kesenangan itu, mereka berkhidmah bagi tujuan-tujuan penting dalam Seni Rabb. Sebagaimana seorang prajurit menjalankan kemudi di kapal sultan dan menerima gaji yang juz'i, hewan-hewan yang berkhidmah kepada Allah subhânahu Yang Mahasuci ini juga memiliki gaji yang juz'i masing-masing.

PELENGKAP PEMBAHASAN BULBUL

Jangan sekali-kali mengira bahwa mengumumkan, menyeru, dan bernyanyi melalui nada-nada tasbih ini hanya khusus bagi bulbul. Dalam kebanyakan jenis terdapat kelompok yang seperti bulbul. Pada setiap jenis terdapat satu atau beberapa individu halus yang mewakili perasaan paling halus jenis itu melalui tasbih paling halus dan rangkaian bunyi berirama yang paling halus. Terutama, bulbul-bulbul lalat dan serangga sangat banyak serta beragam. Di atas kepala seluruh makhluk yang memiliki telinga, dari hewan paling kecil hingga paling besar, mereka memperdengarkan tasbih dengan bunyi berirama yang indah dan memberi mereka kenikmatan.
Sebagian aktif pada malam hari. Mereka merupakan sahabat pelantun kasidah bagi seluruh hewan kecil yang tenggelam dalam diam serta memasuki ketenangan pada malam hari, dan pembicara manis bagi mereka di tengah tenangnya malam serta diamnya makhluk. Mereka masing-masing menjadi pusat dalam lingkup zikir lirih di majelis menyendiri itu. Setiap makhluk mendengarkannya dan melakukan sejenis zikir serta tasbih kepada Sang Fâthir Dzul-Jalâl mereka dengan hati sendiri.
Sebagian lainnya aktif pada siang hari. Pada siang hari, di mimbar-mimbar pohon, di atas kepala seluruh makhluk hidup, pada musim panas dan musim semi, mereka mengumumkan Rahmat Ar-Rahmân Yang Rahîm dengan suara tinggi, nada halus, dan tasbih berirama. Seakan-akan menjadi pemimpin lingkaran zikir lantang, mereka menggerakkan ketertarikan batin para pendengar. Saat itu setiap pendengar mulai berzikir kepada Sang Fâthir Dzul-Jalâl yang menciptakannya melalui bahasa khas dan suara khusus. Jadi, setiap jenis makhluk, bahkan bintang, memiliki pemimpin zikir dan bulbul yang menyebarkan cahaya.
Namun, yang paling utama, paling terhormat, paling bercahaya, paling terang, paling agung, dan paling mulia di antara seluruh bulbul; paling tinggi suaranya, paling cemerlang sifatnya, paling lengkap zikirnya, paling menyeluruh syukurnya, paling sempurna hakikatnya, dan paling indah rupanya ﷺ; yang dalam taman alam membuat seluruh makhluk bumi dan langit mengalami kegembiraan serta ketertarikan batin dengan bunyi berirama yang halus, nada lezat, dan tasbih luhur; sang bulbul mulia umat manusia ﷺ serta bulbul pembawa Al-Qur'an di antara anak-anak Adam ﷺ, ialah Muhammad al-'Arabî ﷺ. ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺍَﻣْﺜَﺎﻟِﻪ۪ ﺍَﻓْﻀَﻞُ الصَّلَاةِ ﻭَ ﺍَﺟْﻤَﻞُ ﺍﻟﺘَّﺴْﻠ۪ﻴﻤَﺎﺕِ
~Kesimpulannya:

Hewan-hewan yang berkhidmah dalam istana alam menaati Perintah-Perintah penciptaan dengan ketaatan sempurna, menampakkan tujuan dalam fitrah mereka dengan cara yang baik dan atas Nama Allah subhânahu, serta menjalankan tugas kehidupan mereka dengan indah melalui Kekuatan Allah subhânahu. Tasbih dan ibadah yang dilakukan demikian ialah hadiah serta salam yang mereka persembahkan di Hadirat Sang Fâthir Dzul-Jalâl dan Sang Pemberi Kehidupan.
Bagian ketiga pekerja ialah tanaman dan benda mati. Karena tidak memiliki kehendak bebas, mereka tidak memiliki gaji. Perbuatan mereka tulus semata-mata demi Allah subhânahu, dilakukan dengan Kehendak-Nya, atas Nama-Nya, demi-Nya, serta dengan Daya dan Kekuatan-Nya. Namun, dari cara tanaman bergerak, terasa bahwa mereka memiliki sejenis kenikmatan dalam tugas penyerbukan, menghasilkan keturunan, dan merawat buah. Akan tetapi, mereka sama sekali tidak mengalami penderitaan. Karena hewan memiliki pilihan, bersama kenikmatan ia juga memiliki penderitaan. Karena pilihan tidak masuk dalam perbuatan benda mati dan tanaman, hasil-hasil mereka juga lebih sempurna daripada perbuatan hewan yang memiliki pilihan. Di antara yang memiliki pilihan, perbuatan mereka yang diterangi wahyu dan ilham, seperti lebah, lebih sempurna daripada perbuatan mereka yang mengandalkan kehendak bebasnya yang terbatas.
Di ladang muka bumi, setiap kelompok tanaman meminta serta berdoa kepada Sang Fâthir Yang Hakîm melalui bahasa keadaan dan kemampuan, "Yâ Rabbanâ! Berilah kami kekuatan agar dengan menegakkan panji kelompok kami di segala penjuru bumi, kami mengumumkan Kerajaan Rububiyah-Mu dengan bahasa kami. Berilah kami Taufik untuk beribadah kepada-Mu di setiap sudut masjid muka bumi. Berilah kami jalan berkembang dan kemampuan bepergian agar memamerkan ukiran Asma Husna-Mu, karya-karya seni-Mu yang indah dan antik, dengan bahasa kami sendiri di segala penjuru tempat pameran bumi."
Sang Fâthir Yang Hakîm mengabulkan doa maknawi mereka. Dia memberi benih suatu kelompok sayap-sayap kecil dari rambut, sehingga terbang dan pergi ke segala penjuru. Atas nama kelompoknya, mereka membuat Asma Ilahi terbaca, seperti benih kebanyakan tanaman berduri dan sebagian bunga kuning. Kepada sebagian lainnya, Dia memberi daging yang indah, yang manusia perlukan atau sukai. Dia menjadikan manusia pelayannya dan menanamnya di segala penjuru. Kepada beberapa kelompok, Dia memberi daging yang akan ditelan hewan di atas tulang keras yang tidak dapat dicerna, sehingga hewan menyebarkannya ke banyak penjuru.Kepada sebagian, Dia memberi kait-kait kecil, sehingga melekat pada setiap benda yang bersentuhan dengannya. Dengan pergi ke tempat lain, mereka menegakkan panji kelompoknya dan memamerkan karya seni antik Sang Pembuat Dzul-Jalâl. Kepada sebagian lainnya, seperti tanaman yang disebut mentimun pahit, Dia memberi kekuatan seperti senapan penabur peluru. Ketika waktunya tiba, buahnya yang seperti mentimun kecil jatuh, lalu melemparkan serta menanam benih-benih kecilnya beberapa meter jauh seperti peluru. Mereka berusaha membuat zikir serta tasbih Sang Fâthir Dzul-Jalâl terucap melalui banyak lidah. Bandingkanlah yang lainnya demikian.
Sang Fâthir Yang Hakîm dan Sang Qadîr Yang Alîm menciptakan segala sesuatu dengan indah dan tertib sempurna, melengkapinya dengan baik, mengarahkannya kepada tujuan yang baik, menugaskannya dengan tugas yang baik, membuatnya bertasbih dengan indah, serta membuatnya beribadah dengan indah. Wahai manusia! Jika engkau manusia, jangan mencampurkan tabiat, kebetulan, kesia-siaan, dan kesesatan ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang indah ini; jangan memperburuknya, jangan membuatnya buruk, dan jangan menjadi buruk.
Bagian keempat ialah manusia. Manusia yang merupakan sejenis pelayan dalam istana alam ini menyerupai malaikat sekaligus hewan. Mereka menyerupai malaikat dalam ubudiyah yang menyeluruh, luasnya pengawasan, cakupan makrifat, dan menjadi penyeru Rububiyah. Bahkan, manusia lebih menyeluruh. Namun, karena memiliki nafsu yang jahat dan berselera, berbeda dengan malaikat, manusia dapat mengalami kemajuan serta kemunduran yang sangat penting. Karena mencari kenikmatan bagi nafsunya dan bagian bagi dirinya dalam perbuatan, ia juga menyerupai hewan. Maka, manusia memiliki dua gaji: yang satu juz'i, hewani, dan disegerakan; yang kedua bersifat malaikat, menyeluruh, dan ditangguhkan.
Tugas, gaji, kemajuan, dan kemunduran manusia telah dibahas sebagian dalam dua puluh tiga Kalimat sebelumnya, terutama lebih banyak diterangkan dalam Kalimat Kesebelas dan Kedua Puluh Tiga. Karena itu, di sini kami meringkas dan menutup pintu. Kami mengakhirinya dengan memohon kepada Arhamur-Râhimîn agar membuka pintu-pintu Rahmat bagi kami, menjadikan Taufik-Nya pendamping dalam menyelesaikan Kalimat ini, serta mengampuni kekurangan dan kesalahan kami.

CABANG KELIMA

Cabang Kelima memiliki lima buah.
Buah Pertama: Wahai nafsuku yang memuja diri dan sahabatku yang memuja dunia! Cinta adalah salah satu sebab adanya alam semesta ini. Ia juga ikatan alam semesta ini. Ia juga cahaya alam semesta ini dan juga kehidupannya. Karena manusia merupakan buah paling menyeluruh alam semesta, cinta yang dapat meliputi alam semesta dimasukkan ke dalam hatinya, benih buah tersebut. Yang layak bagi cinta tak terhingga seperti ini ialah Pemilik Kesempurnaan tanpa batas.
Wahai nafsu dan wahai sahabat! Dalam fitrah manusia dimasukkan dua perangkat yang menjadi sarana takut dan cinta. Bagaimanapun, cinta dan takut itu akan mengarah kepada makhluk atau Sang Khâliq. Padahal, takut kepada makhluk merupakan malapetaka yang menyakitkan, dan mencintai makhluk juga musibah yang penuh bencana. Sebab, engkau takut kepada hal-hal yang tidak mengasihimu atau tidak menerima permohonan belas kasihmu. Maka, takut itu bencana yang menyakitkan.
Dalam cinta, benda yang engkau cintai tidak mengenalmu dan pergi tanpa mengucapkan, "Semoga Allah subhânahu menjagamu", seperti masa muda dan hartamu, atau merendahkanmu karena cintamu. Tidakkah engkau melihat bahwa dalam cinta majasi, sembilan puluh sembilan persen mengeluh tentang kekasihnya? Sebab, memuja kekasih-kekasih duniawi yang seperti berhala dengan bagian dalam hati, cermin Samad, terasa berat bagi kekasih-kekasih itu; mereka menganggapnya beban dan menolaknya. Fitrah menolak serta membuang hal yang tidak fitri dan tidak layak. (Cinta berdasarkan syahwat berada di luar pembahasan kita.)
Jadi, benda-benda yang engkau cintai tidak mengenalmu, merendahkanmu, atau tidak menemanimu. Benda-benda itu berpisah meskipun engkau tidak menghendakinya. Karena demikian, arahkan takut dan cinta ini kepada Zat yang membuat takutmu menjadi kerendahan diri yang nikmat, dan cintamu kebahagiaan tanpa kehinaan.
Ya, takut kepada Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang menciptakanmu berarti menemukan jalan menuju Kasih Sayang Rahmat-Nya dan berlindung kepada-Nya. Takut adalah cambuk yang melemparkanmu ke dalam pelukan Rahmat-Nya. Diketahui bahwa seorang ibu, misalnya, menakut-nakuti anaknya untuk menariknya ke dada. Takut itu sangat nikmat bagi anak, karena menariknya ke dada kasih sayang. Padahal kasih seluruh ibu merupakan satu kilau Rahmat Ilahi.
Jadi, dalam takut kepada Allah subhânahu terdapat kenikmatan yang besar. Karena takut kepada Allah subhânahu memiliki kenikmatan demikian, dapat diketahui betapa tak terbatasnya kenikmatan dalam mencintai Allah subhânahu. Orang yang takut kepada Allah subhânahu juga terbebas dari takut kepada yang lain yang menyedihkan dan penuh bencana.Karena demi Allah subhânahu, cintanya kepada makhluk juga tidak disertai perpisahan dan penderitaan.
Ya, manusia pertama-tama mencintai dirinya, kemudian kerabatnya, bangsanya, makhluk-makhluk hidup, lalu alam semesta dan dunia. Ia berhubungan dengan setiap lingkup ini. Ia dapat menikmati kenikmatan mereka dan menderita melalui penderitaan mereka. Padahal, karena tidak ada sesuatu pun yang tetap dalam keadaan semula di tengah alam yang kacau ini dan putaran waktu, hati manusia yang malang terus terluka. Benda-benda yang dipegang tangannya pergi, lalu merobek tangannya, bahkan memutuskannya. Ia selalu tinggal dalam penderitaan atau menjadi mabuk dengan kelalaian.
Karena demikian, wahai nafsu! Jika engkau berakal, kumpulkan seluruh cinta itu, berikan kepada Pemiliknya yang Sejati, dan bebaskan diri dari bencana-bencana ini. Cinta-cinta tak terhingga itu khusus bagi Pemilik Kesempurnaan dan Keindahan tanpa batas. Ketika memberikannya kepada Pemilik yang Sejati, engkau dapat mencintai segala sesuatu atas Nama-Nya dan karena menjadi cermin-Nya, tanpa penderitaan. Jadi, cinta ini tidak seharusnya dicurahkan langsung kepada alam semesta. Jika tidak, cinta yang merupakan nikmat paling lezat menjadi hukuman yang paling menyakitkan.
Tinggal satu segi, dan itulah yang paling penting: wahai nafsu! Engkau mencurahkan cintamu kepada nafsumu sendiri. Engkau menjadikan nafsumu ma'bûd dan kekasih bagi dirimu. Engkau mengorbankan segala sesuatu kepada nafsu, seolah-olah memberinya sejenis rububiyah. Padahal, sebab cinta ialah kesempurnaan, karena kesempurnaan dicintai dalam dirinya sendiri; atau manfaat, kenikmatan, kebaikan, maupun sebab-sebab seperti itu.
Sekarang, wahai nafsu! Dalam beberapa Kalimat kami telah membuktikan dengan pasti bahwa hakikat aslimu diolah dari cacat, kekurangan, keadaan serba kurang, dan ketidakmampuan. Sebagaimana gelap menunjukkan terangnya cahaya menurut tingkat gelapnya, melalui sifat berlawanan, dengan hal-hal itu engkau menjadi cermin Kesempurnaan, Keindahan, Kudrat, dan Rahmat Sang Fâthir Dzul-Jalâl.
Jadi, wahai nafsu! Jangan mencintai nafsumu, melainkan harus memusuhinya, atau merasa iba, atau mengasihinya setelah menjadi muthmainnah. Jika mencintai nafsumu—karena nafsumu merupakan sumber kenikmatan dan manfaat, dan engkau terpikat oleh kesenangan kenikmatan serta manfaat—jangan mengutamakan kenikmatan dan manfaat bagi nafsu yang sebesar zarah itu di atas kenikmatan dan manfaat tak terbatas. Jangan menjadi seperti kunang-kunang.Sebab, ia menenggelamkan seluruh sahabat serta benda yang dicintainya dalam sunyi yang gelap, dan mencukupkan diri dengan satu kilau kecil dalam dirinya. Sebab, engkau harus mencintai Sang Kekasih Azali, yang Perhatian-Nya menentukan kenikmatan serta manfaat nafsumu, sekaligus manfaat dan nikmat seluruh alam semesta serta semua makhluk yang berhubungan denganmu, yang seluruh manfaatnya engkau nikmati dan kebahagiaannya membuatmu bahagia. Agar engkau menikmati kebahagiaanmu sendiri dan seluruh kebahagiaan mereka, serta memperoleh kenikmatan tak terbatas dari cinta kepada Kesempurnaan Mutlak.
Sesungguhnya, cinta kuat yang ada dalam dirimu kepada nafsumu ialah cinta kepada Zat-Nya, yang engkau salah gunakan dan curahkan kepada dirimu sendiri. Maka, robeklah "aku" dalam nafsumu dan tampakkan "Dia". Seluruh cintamu yang tersebar di alam semesta juga cinta yang diberikan kepada Asma dan Sifat-Sifat-Nya. Engkau telah menyalahgunakannya dan menerima hukumannya. Sebab, hukuman cinta yang tidak dibenarkan dan tidak dicurahkan pada tempatnya ialah musibah yang tidak berbelas kasih. Sang Kekasih Azali, melalui Nama Ar-Rahmân Yang Rahîm, menyiapkan tempat tinggal seperti surga berhias bidadari yang mencakup seluruh keinginanmu bagi hasrat jasmanimu; melalui Asma-Nya yang lain, menyiapkan di surga itu pemberian-pemberian abadi yang memuaskan keinginan ruh, hati, sir, akal, dan daya halusmu yang lain; dan dalam setiap Nama-Nya terdapat banyak khazanah maknawi Kebaikan serta Kemurahan. Tentu satu zarah cinta kepada-Nya dapat menggantikan alam semesta. Alam semesta tidak dapat menggantikan satu Tajalli Cinta-Nya yang juz'i. Maka, dengarkan dan ikutilah Maklumat Azali berikut, yang Sang Kekasih Azali perintahkan kepada kekasih-Nya ﷺ untuk diucapkan: ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺗُﺤِﺒُّﻮﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻓَﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧ۪ﻰ ﻳُﺤْﺒِﺒْﻜُﻢُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Buah Kedua: Wahai nafsu! Ubudiyah bukan pendahuluan balasan yang akan datang, melainkan hasil nikmat yang terdahulu. Ya, kita telah menerima upah. Sesuai hal itu, kita ditugaskan melakukan khidmah dan ubudiyah.
Sebab, wahai nafsu! Sang Khâliq Dzul-Jalâl yang mengenakan wujud—kebaikan semata—kepadamu memberi perut yang berselera. Karena itu, melalui Nama Razzâq, Dia meletakkan seluruh makanan di hadapanmu dalam hidangan nikmat.
Kemudian Dia memberi kehidupan yang peka kepadamu. Kehidupan itu juga meminta rezeki seperti perut. Seluruh indramu, seperti mata dan telinga, ibarat tangan. Dia meletakkan hidangan nikmat seluas muka bumi di hadapan tangan-tangan tersebut.Kemudian, karena Dia memberimu sifat manusiawi yang membutuhkan banyak rezeki dan nikmat ruhani, Dia membuka bagimu hidangan nikmat seluas alam mulk dan alam malakut, di hadapan perut kemanusiaan itu, sejauh dapat dijangkau oleh tangan akalmu. Kemudian, karena Dia memberimu Islam dan iman, yang merupakan sifat manusiawi paling agung, yang menginginkan nikmat tanpa batas dan mendapat makanan dari buah-buah Rahmat yang tak terhingga, Dia membuka bagimu hidangan nikmat, kebahagiaan, dan kenikmatan yang mencakup lingkup segala yang mungkin ada beserta lingkup Asmaul Husna dan Sifat-Sifat Suci. Kemudian, dengan memberimu cinta yang merupakan cahaya iman, Dia menganugerahimu hidangan nikmat, kebahagiaan, dan kenikmatan yang tak berujung. Yakni, dari segi tubuhmu, engkau adalah bagian yang kecil, lemah, tak berdaya, hina, terikat, dan terbatas. Dengan Karunia-Nya, dari bagian yang juz'i engkau beralih menjadi seperti suatu keseluruhan bercahaya yang mencakup banyak hal. Sebab, dengan memberimu kehidupan, Dia mengangkatmu dari keadaan yang juz'i menjadi suatu bentuk keadaan yang menyeluruh; dengan memberimu sifat manusiawi, menjadi keadaan yang benar-benar menyeluruh; dengan memberimu Islam, menjadi keadaan menyeluruh yang luhur dan bercahaya; dan dengan memberimu makrifat dan cinta, menjadi cahaya yang meliputi. Maka, wahai nafsu! Engkau telah menerima upah ini. Engkau dibebani tugas yang lezat, penuh nikmat, nyaman, dan ringan, yaitu berubudiyah. Namun, untuk ini pun engkau malas. Kalaupun melakukannya setengah hati, engkau menuntut hal-hal yang amat besar dengan angkuh, seolah upah-upah terdahulu belum cukup. Engkau juga merajuk, berkata, "Mengapa doaku tidak dikabulkan?" Ya, hakmu bukan merajuk, melainkan memohon. Allah subhânahu menganugerahkan surga dan kebahagiaan abadi semata-mata dengan Karunia dan Kemurahan-Nya. Berlindunglah selalu kepada Rahmat dan Kemurahan-Nya. Percayalah kepada-Nya dan dengarkanlah Perintah ini: ﻗُﻞْ ﺑِﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻪ۪ ﻓَﺒِﺬٰﻟِﻚَ ﻓَﻠْﻴَﻔْﺮَﺣُﻮﺍ ﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻤَّﺎ ﻳَﺠْﻤَﻌُﻮﻥَ ~Jika engkau berkata:

Bagaimana aku dapat membalas nikmat yang begitu menyeluruh dan tak terhingga ini dengan syukurku yang terbatas dan juz'i? ~Jawaban:

Dengan niat yang menyeluruh dan keyakinan yang tak terbatas... Misalnya, seseorang datang menghadap seorang raja dengan hadiah senilai lima kurus. Ia melihat hadiah-hadiah yang masing-masing bernilai jutaan, dikirim oleh orang-orang yang diterima dengan baik, tersusun di sana. Terlintas dalam hatinya, "Hadiahku tidak berarti. Apa yang harus kulakukan?" Tiba-tiba ia berkata, "Wahai tuanku! Atas namaku sendiri, aku mempersembahkan semua hadiah berharga ini kepadamu. Sebab, engkau layak menerimanya. Seandainya aku mampu, aku akan menghadiahkan yang serupa kepadamu." Raja itu tidak membutuhkan apa pun dan menerima hadiah rakyatnya sebagai tanda kadar kesetiaan dan hormat mereka. Maka, ia menerima niat dan keinginan orang yang tak berdaya itu, yang besar dan menyeluruh, serta keyakinannya yang indah dan luhur akan kelayakan sang raja, seperti hadiah yang paling besar. Demikian pula, seorang hamba yang tak berdaya mengucapkan ﺍَﻟﺘَّﺤِﻴَّﺎﺕُ ﻟِﻠّٰﻪِ dalam salatnya. Yakni, atas namaku sendiri, aku mempersembahkan kepada-Mu semua hadiah ubudiyah yang dipersembahkan oleh seluruh makhluk melalui kehidupan mereka. Seandainya aku mampu, aku akan mempersembahkan kepada-Mu penghormatan sebanyak yang mereka persembahkan. Engkau layak menerima semuanya, bahkan lebih banyak lagi. Niat dan keyakinan ini adalah syukur menyeluruh yang amat luas. Benih dan biji tumbuhan adalah niat mereka. Misalnya, melon menyimpan seribu niat dalam hatinya dalam bentuk biji-biji: "Wahai Khâliqku! Aku ingin mengumumkan corak-corak Asmaul Husna-Mu di banyak tempat di bumi." Karena Allah subhânahu mengetahui bagaimana hal-hal yang akan datang kelak terjadi, Dia menerima niat mereka seperti ibadah yang sungguh telah dilakukan. Sabda "Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya" menunjuk kepada rahasia ini. Rahasia ini juga menjelaskan hikmah bertasbih dengan bilangan yang tak terhingga, seperti ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻭَ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﻋَﺪَﺩَ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﻭَ ﺭِﺿَﺎﺀَ ﻧَﻔْﺴِﻚَ ﻭَ ﺯِﻧَﺔِ ﻋَﺮْﺷِﻚَ ﻭَ ﻣِﺪَﺍﺩِ ﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﻧُﺴَﺒِّﺤُﻚَ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﺗَﺴْﺒ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﺍَﻧْﺒِﻴَﺎﺋِﻚَ ﻭَ ﺍَﻭْﻟِﻴَﺎﺋِﻚَ ﻭَ ﻣَﻠٰﺌِﻜَﺘِﻚَ. Seorang perwira mempersembahkan seluruh pengabdian para prajuritnya kepada raja atas namanya sendiri. Demikian pula, manusia yang bertindak sebagai perwira bagi makhluk, memimpin hewan dan tumbuhan, mampu menjadi khalifah bagi makhluk di bumi, dan menganggap dirinya sebagai wakil semua dalam alam pribadinya, mengucapkan ﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﻌْﺒُﺪُ ﻭَﺍِﻳَّﺎﻙَ ﻧَﺴْﺘَﻌ۪ﻴﻦُ. Ia mempersembahkan ibadah dan permohonan pertolongan seluruh makhluk kepada Sang Ma'bûd Dzul-Jalâl atas namanya sendiri. Ia juga mengucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺑِﺠَﻤ۪ﻴﻊِ ﺗَﺴْﺒ۪ﻴﺤَﺎﺕِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺨْﻠُﻮﻗَﺎﺗِﻚَ ﻭَ ﺑِﺎَﻟْﺴِﻨَﺔِ ﺟَﻤ۪ﻴﻊِ ﻣَﺼْﻨُﻮﻋَﺎﺗِﻚَ, membuat seluruh makhluk mengucapkannya atas namanya. Ia juga mengucapkan ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠٰﻰ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺑِﻌَﺪَﺩِ ﺫَﺭَّﺍﺕِ ﺍﻟْﻜَﺎﺋِﻨَﺎﺕِ ﻭَ ﻣُﺮَﻛَّﺒَﺎﺗِﻬَﺎ, bersalawat atas nama segala sesuatu. Sebab, segala sesuatu terkait dengan cahaya Ahmad ﷺ.Pahamilah hikmah bilangan yang tak terhingga dalam tasbih dan salawat. Buah Ketiga: Wahai nafsu! Jika engkau menginginkan amal akhirat yang tak terhingga dalam umur yang singkat, ingin setiap menit umurmu memberi manfaat sebesar satu umur, dan suka mengubah kebiasaanmu menjadi ibadah serta kelalaianmu menjadi sadar di hadapan Allah subhânahu, ikutilah Sunnah yang mulia. Sebab, ketika engkau menyesuaikan amalmu dengan tata cara syariat, hal itu memberimu suatu bentuk kesadaran di hadapan Allah subhânahu. Ia menjadi suatu bentuk ibadah dan menghasilkan banyak buah akhirat. Misalnya, engkau membeli sesuatu. Pada saat menerapkan ijab dan kabul sesuai syariat, jual beli biasa itu menjadi seperti ibadah. Mengingat hukum syariat itu menghadirkan bayangan tentang wahyu. Dengan memikirkan Sang Penetap syariat, hal itu membuatmu menghadap kepada Allah subhânahu, lalu memberimu kesadaran di hadapan-Nya. Jadi, dengan menyesuaikan amal dengan Sunnah yang mulia, diperoleh manfaat yang membuat umur fana ini menghasilkan buah-buah kekal dan menjadi sarana bagi kehidupan abadi. Dengarkanlah Perintah ﻓَﺎٰﻣِﻨُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻰِّ الْاُمِّىِّ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻳُﺆْﻣِﻦُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﻭَﻛَﻠِﻤَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَﺍﺗَّﺒِﻌُﻮﻩُ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ. Berusahalah menjadi tempat yang menyeluruh bagi limpahan Tajalli setiap Nama dalam Asmaul Husna, yang Pancarannya tersebar di dalam hukum-hukum syariat dan Sunnah yang mulia. Buah Keempat: Wahai nafsu! Jangan meniru orang-orang yang mengejar dunia, terutama mereka yang hidup bejat, terlebih orang-orang kafir, dengan terpikat oleh hiasan lahiriah dan kenikmatan haram mereka yang menipu. Sebab, jika engkau meniru mereka, engkau tidak akan dapat menjadi seperti mereka. Engkau akan jatuh amat jauh. Menjadi hewan pun engkau tidak bisa. Sebab, akal di kepalamu menjadi alat pembawa petaka yang akan terus memukul kepalamu. Misalnya, ada sebuah istana dengan lampu listrik besar di ruang besarnya. Lampu-lampu listrik kecil yang bercabang dari lampu itu dan terhubung dengannya tersebar di ruang-ruang kecil. Jika seseorang memutar sakelar lampu listrik besar itu dan memadamkan cahayanya, semua ruang jatuh ke dalam gelap yang pekat dan suasana mencekam. Di istana lain, setiap ruang memiliki lampu listrik kecil yang tidak terhubung dengan lampu besar. Jika pemilik istana memutar sakelar lampu besar dan memadamkannya, ruang-ruang lain masih dapat memiliki cahaya. Ia dapat mengerjakan urusannya dengan cahaya itu, dan para pencuri tidak dapat mengambil keuntungan. Wahai nafsuku! Istana pertama adalah seorang Muslim. Nabi ﷺ adalah lampu listrik besar itu di dalam hatinya.Jika ia melupakan beliau, lalu mengeluarkan beliau dari hatinya—semoga Allah subhânahu melindungi—ia tidak dapat lagi menerima nabi mana pun. Bahkan, tak ada lagi tempat bagi kesempurnaan apa pun dalam ruhnya; ia bahkan tidak mengenal Rabbnya. Semua ruang dan daya halus dalam dirinya jatuh ke dalam gelap, dan terjadi kehancuran dahsyat serta suasana mencekam dalam hatinya. Apa yang dapat engkau peroleh untuk merasakan keakraban sebagai ganti kehancuran dan suasana mencekam ini? Manfaat apa yang dapat engkau temukan untuk memperbaiki kerusakan akibat kehancuran itu? Sementara itu, orang-orang asing seperti istana kedua. Meski mengeluarkan cahaya Nabi ﷺ dari hati mereka, menurut pandangan mereka, sebagian cahaya dapat tetap tinggal, atau mereka mengira demikian. Suatu bentuk iman kepada Musa dan Isa 'alaihimas-salâm serta suatu macam keyakinan kepada Khâliq mereka dapat tetap tinggal dan menjadi dasar kesempurnaan akhlak ruhani mereka. Wahai nafsu ammarah! Jika engkau berkata, "Aku tidak ingin menjadi orang asing, melainkan hewan," sudah berapa kali kukatakan kepadamu, "Engkau tidak dapat menjadi seperti hewan. Sebab, di kepalamu ada akal. Dengan tamparan derita masa lalu dan ketakutan akan masa depan, akal itu memukul wajah, mata, dan kepalamu. Ia mencampurkan seribu derita ke dalam satu kenikmatan. Adapun hewan menikmati kenikmatan yang baik tanpa derita dan merasakan lezatnya. Maka, keluarkan dan buanglah akalmu dahulu, barulah menjadi hewan. Lihat pula tamparan peringatan كَالْاَنْعَامِ ﺑَﻞْ ﻫُﻢْ ﺍَﺿَﻞُّ." Buah Kelima: Wahai nafsu! Sebagaimana telah berulang kali kita katakan, manusia adalah buah pohon penciptaan. Karena itu, seperti buah, ia merupakan makhluk yang berada paling jauh, paling menyeluruh, dan menghadap kepada semuanya; membawa benih berupa hati yang menyimpan sisi kesatuan semuanya, sedangkan wajahnya menghadap kepada yang banyak, yang akan lenyap, dan dunia. Ubudiyah adalah benang penghubung yang memalingkan wajahnya dari yang akan lenyap kepada yang kekal, dari makhluk kepada Al-Haqq, dari yang banyak kepada kesatuan, dari ujung kepada pangkal; atau titik penghubung antara pangkal dan ujung. Seandainya suatu buah berharga yang memiliki kesadaran dan akan menjadi benih melihat makhluk bernyawa di bawah pohon, percaya pada kecantikannya, lalu melemparkan dirinya ke tangan mereka, atau lalai dan jatuh, ia akan masuk ke tangan mereka, hancur, dan terbuang seperti satu buah biasa.Jika buah itu menemukan sandarannya dan dapat memikirkan bahwa benih di dalamnya bukan saja memuat sisi kesatuan seluruh pohon, tetapi juga akan menjadi sarana bagi pohon untuk tetap hidup dan hakikatnya untuk terus berlangsung, maka satu benih dalam satu buah itu menjadi tempat tampilnya hakikat menyeluruh yang terus bertahan, dalam umur yang kekal. Demikian pula manusia. Jika ia tenggelam dalam yang banyak, terbenam di tengah alam, pening karena cinta kepada dunia, tertipu oleh senyum mereka yang fana, lalu melemparkan dirinya ke pelukan mereka, tentu ia jatuh ke dalam kerugian yang tak terhingga. Ia jatuh dalam fana, dalam yang bersifat fana, dan dalam keadaan tidak ada. Secara ruhani, ia pun menghukum mati dirinya. Jika dengan telinga hati ia mendengar pelajaran iman dari lisan Al-Qur'an, mengangkat kepalanya, dan menghadap kepada kesatuan, ia dapat naik ke arasy kesempurnaan melalui mi'raj ubudiyah. Ia menjadi manusia yang kekal. Wahai nafsuku! Karena hakikatnya demikian dan engkau termasuk umat Ibrahim (as), ucapkanlah لَٓا ﺍُﺣِﺐُّ الْاٰفِل۪ينَ seperti Ibrahim, palingkan wajahmu kepada Sang Kekasih Yang Kekal, dan menangislah seperti aku, demikian: (Bait-bait Persia di sini telah ditulis dalam Maqam Kedua Kalimat Ketujuh Belas, sehingga tidak ditulis di sini.)

--