Risalah Nur — Bahasa Indonesia

Kalimat Kedua Puluh Lima

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

Kalimat Kedua Puluh Lima

Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi (Risalah Mukjizat Al-Qur'an)

~Selagi mukjizat kekal seperti Al-Qur'an ada di tangan, ~Mencari bukti lain tampak berlebih bagi akalku. ~Selagi bukti hakikat seperti Al-Qur'an ada di tangan, ~Apakah hatiku terasa berat untuk membungkam para pengingkar?

PERINGATAN

Pada awal Kalimat ini, kami berniat menulis lima Nyala. Namun, menjelang akhir Nyala Pertama, kami terpaksa menulis dengan sangat cepat agar dapat mencetaknya dengan huruf lama. Bahkan, pada hari-hari tertentu kami menulis dua puluh atau tiga puluh halaman dalam dua atau tiga jam. Karena itu, kami menulis tiga Nyala secara singkat dan ringkas, lalu meninggalkan dua Nyala untuk sementara. Kami berharap saudara-saudara kami memandang kekurangan, ketidaksempurnaan, hal-hal yang sukar dipahami, serta kesalahan yang berasal dariku dengan adil dan lapang hati.

--

Sebagian besar ayat dalam Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi ini adalah ayat-ayat yang dijadikan bahan kritik oleh orang-orang yang menyangkal agama, dipersoalkan oleh para ahli sains, atau menjadi sasaran bisikan dan syubhat setan dari jin maupun manusia. Kalimat Kedua Puluh Lima ini menjelaskan hakikat dan pokok-pokok makna halus ayat-ayat itu dengan cara yang membuktikan, melalui kaidah ilmiah, bahwa titik-titik yang dianggap cacat oleh para penyangkal agama dan ahli sains justru merupakan kilau i'jaz dan sumber kesempurnaan balagah Al-Qur'an. Agar tidak menimbulkan rasa keruh, syubhat mereka tidak dikutip, tetapi jawaban yang pasti diberikan, seperti ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ٭ ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ. Hanya dalam Maqam Pertama Kalimat Kedua Puluh, syubhat tentang tiga atau empat ayat disebutkan. Meski Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi ini ditulis dengan amat singkat dan tergesa, penjelasannya dari segi ilmu balagah dan ilmu bahasa Arab disampaikan dengan sangat ilmiah, mendalam, dan kuat, sampai membuat para ulama takjub. Memang, tidak setiap pembaca yang teliti dapat memahami dan mengambil manfaat penuh dari setiap pembahasannya. Namun, setiap orang mempunyai bagian yang penting di taman itu. Karena disusun dengan amat tergesa dan dalam keadaan kacau, ungkapan dan susunan katanya memiliki kekurangan. Meski demikian, ia menjelaskan hakikat persoalan-persoalan yang amat penting dari segi ilmu.

Bedîüzzaman Said Nursî

--

Mu'cizat-ı Kur'aniye Risalesi

ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﻗُﻞْ ﻟَﺌِﻦِ ﺍﺟْﺘَﻤَﻌَﺖِ الْاِنْسُ ﻭَﺍﻟْﺠِﻦُّ ﻋَﻠٰٓﻰ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻫٰﺬَﺍ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ لَا ﻳَﺎْﺗُﻮﻥَ ﺑِﻤِﺜْﻠِﻪ۪ ﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﺑَﻌْﻀُﻬُﻢْ ﻟِﺒَﻌْﺾٍ ﻇَﻬ۪ﻴﺮًﺍ Dalam risalah-risalah berbahasa Arabku, Risaletü'n-Nur berbahasa Arab, tafsirku yang bernama İşaratü'l-İ'caz, dan dua puluh empat Kalimat terdahulu, kita telah menunjukkan hampir empat puluh segi i'jaz dari segi-segi i'jaz yang tak terhingga pada Al-Qur'an Al-Hakîm, yang ungkapannya bermukjizat, yang merupakan khazanah mukjizat dan mukjizat Ahmad ﷺ yang paling agung. Kini, kita akan menjelaskan hanya lima segi di antaranya sampai kadar tertentu, memasukkan segi-segi lain secara ringkas ke dalamnya, lalu melalui sebuah pendahuluan menunjukkan definisi dan hakikatnya.

PENDAHULUAN

Terdiri dari tiga bagian.

BAGIAN PERTAMA

Apakah Al-Qur'an itu? Bagaimana definisinya?

~Jawaban:

Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kesembilan Belas dan dibuktikan dalam Kalimat-Kalimat lain:

AL-QUR'AN

Terjemahan sejak azali bagi kitab besar alam ini. Penerjemah abadi bagi beragam lisannya yang membaca ayat-ayat penciptaan. Penafsir kitab alam gaib dan alam yang tampak ini. Penyingkap khazanah ruhani Asma Ilahi yang tersembunyi di bumi dan di langit. Kunci hakikat-hakikat yang tersimpan di bawah baris-baris peristiwa. Lisan alam gaib di alam yang tampak. Khazanah Perhatian abadi Sang Rahmân dan Sapaan Azali Allah subhânahu Yang Mahasuci, yang datang dari alam gaib di balik tirai alam yang tampak ini. Matahari, dasar, dan rancangan alam ruhani Islam ini. Peta suci alam-alam akhirat. Ucapan yang menjelaskan, tafsir yang terang, bukti yang pasti, dan penerjemah yang bercahaya tentang Zat, Sifat, Asma, dan Syuun Ilahi. Pendidik alam manusia ini. Air dan cahaya Islam, yang merupakan sifat manusiawi paling agung. Hikmah sejati bagi umat manusia. Pembimbing dan penunjuk jalan sejati yang membawa manusia menuju kebahagiaan. Bagi manusia, ia sekaligus kitab syariat, kitab doa, kitab hikmah, kitab ubudiyah, kitab perintah dan seruan, kitab zikir, kitab pemikiran, serta satu kitab suci yang menyeluruh, yang memuat banyak kitab sebagai tempat rujukan semua kebutuhan ruhani seluruh manusia. Ia juga kitab dari langit yang laksana perpustakaan suci: menyajikan sebuah risalah bagi setiap corak ruhani dan setiap jalan yang berbeda dari seluruh wali, orang-orang yang teguh dalam kebenaran, ahli makrifat, dan para penyelidik hakikat; sesuai dengan cita rasa setiap corak ruhani dan meneranginya, serta sesuai dengan arah setiap jalan dan menggambarkannya.

BAGIAN KEDUA DAN PELENGKAP DEFINISI

Karena Al-Qur'an datang dari Arasy yang paling agung, dari Ismul A'zham, dan dari tingkat tertinggi setiap Nama, sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam Kalimat Kedua Belas:

AL-QUR'AN

Firman Allah subhânahu sebagai Rabb seluruh alam. Perintah Allah subhânahu dengan gelar Ilah seluruh makhluk. Sapaan atas Nama Khâliq seluruh langit dan bumi. Percakapan dari sisi Rububiyah mutlak. Khutbah Azali atas nama Kerajaan menyeluruh Allah subhânahu Yang Mahasuci. Catatan Perhatian Sang Rahmân dari sisi Rahmat yang luas dan meliputi. Kumpulan pesan, yang terkadang diawali sandi, dari segi Keagungan dan Kemegahan Keilahian. Kitab suci yang menebarkan hikmah, turun dari lingkup Ismul A'zham, memandang dan memeriksa semua yang diliputi Arasy yang paling agung. Karena rahasia inilah gelar "Kalamullah" diberikan kepada Al-Qur'an dengan sepenuhnya layak, dan selalu diberikan. Setelah Al-Qur'an, barulah tingkat kitab-kitab dan suhuf para nabi lainnya. Adapun sebagian Firman Ilahi lain yang tak terhingga merupakan percakapan dalam bentuk ilham: tampil dari sudut yang khusus, dengan Gelar yang juz'i, Tajalli yang khusus, Nama yang juz'i, Rububiyah yang khusus, Kerajaan yang tertentu, dan Rahmat yang khusus. Ilham para malaikat, manusia, dan hewan amat beragam dari segi cakupannya yang menyeluruh atau khusus.

BAGIAN KETIGA

Al-Qur'an adalah kitab dari langit yang memuat secara ringkas kitab-kitab seluruh nabi dari zaman yang berbeda, risalah-risalah seluruh wali dengan corak ruhani yang berbeda, dan karya-karya seluruh insan suci dengan jalan yang berbeda. Keenam sisinya terang dan bersih dari gelap sangkaan keliru serta syubhat. Sandarannya, dengan yakin, adalah wahyu dari langit dan Kalam Azali; sasaran dan tujuannya, dengan menyaksikan, adalah kebahagiaan abadi. Isinya, dengan jelas, adalah petunjuk murni; atasnya, secara niscaya, adalah cahaya-cahaya iman; bawahnya, dengan yakin melalui ilmu, adalah dalil dan bukti; kanannya, melalui pengalaman, adalah hati dan nurani yang berserah; kirinya, dengan yakin melalui penglihatan langsung, adalah akal dan pemahaman yang tunduk; buahnya, dengan yakin melalui pengalaman nyata, adalah Rahmat Sang Rahmân dan kediaman surga; kedudukan dan sambutannya, dengan intuisi yang benar, adalah diterima oleh malaikat, manusia, dan jin. Setiap sifat dalam tiga bagian definisi Al-Qur'an ini telah dibuktikan secara pasti di tempat lain atau akan dibuktikan. Pernyataan kita bukan sekadar klaim; masing-masing disertai bukti yang pasti.

--

NYALA PERTAMA

Nyala ini memiliki tiga Sinar.

SINAR PERTAMA

Balagah Al-Qur'an pada tingkat i'jaz.

Balagah itu luar biasa: lahir dari kekuatan dan keteguhan susunan katanya, dari gaya-gayanya yang belum pernah ada, unik, dan indah; dari penjelasannya yang cemerlang, unggul, dan murni; dari makna-maknanya yang kuat dan benar; serta dari kata-katanya yang fasih dan lancar. Ia mengajak para sastrawan manusia yang paling jenius, para orator yang paling hebat, dan para ulama yang paling luas ilmunya untuk menandinginya. Selama seribu tiga ratus tahun ia terus menantang dan sangat menyentuh urat harga diri mereka. Meski diajak menandingi, para jenius yang kepalanya seakan membentur langit karena sombong dan angkuh itu tidak mampu membuka mulut untuk melawannya; mereka menunduk dengan amat hina. Kita menunjukkan segi i'jaz dalam balagahnya dengan dua cara. CARA PERTAMA: I'jaznya ada dan nyata. Sebab, pada masa itu sebagian terbesar penduduk Jazirah Arab ummi. Karena sifat ummi mereka, mereka menyimpan hal-hal yang mereka banggakan, peristiwa sejarah, dan peribahasa yang membantu akhlak baik melalui syair dan balagah sebagai ganti tulisan. Ucapan yang sarat makna terus tinggal dalam ingatan dari leluhur kepada keturunan, berkat daya tarik syair dan balagah. Akibat kebutuhan alami ini, barang yang paling laku di pasar perdagangan ruhani kaum itu adalah kefasihan dan balagah. Bahkan, sastrawan yang pandai bertutur dalam suatu kabilah seperti pahlawan terbesar bangsanya. Dialah yang paling mereka banggakan. Kaum cerdas yang setelah Islam mengatur dunia dengan kecerdasannya itu berada paling maju dan paling tinggi di antara bangsa-bangsa dunia dalam balagah, hal yang paling diminati, paling mereka banggakan, dan amat mereka butuhkan. Balagah begitu berharga sehingga dua kaum dapat berperang besar karena satu ucapan seorang sastrawan, lalu berdamai dengan satu ucapannya. Bahkan, tujuh kasidah karya tujuh sastrawan di antara mereka ditulis dengan emas pada dinding Ka'bah dengan nama "Muallakat-ı Seb'a". Mereka membanggakannya. Pada masa seperti itulah, saat balagah paling diminati, Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat turun. Sebagaimana sihir diminati pada masa Musa 'alaihis-salâm dan pengobatan pada masa Isa 'alaihis-salâm, mukjizat penting mereka datang dalam bidang itu. Saat itu, Al-Qur'an mengajak para ahli balagah Arab untuk menandingi surahnya yang paling pendek. Dengan Perintah ﻭَﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ ia menantang mereka. Ia juga berkata, "Jika kalian tidak beriman, kalian terlaknat. Kalian akan masuk neraka."Ia memukul urat harga diri mereka dengan keras, menghancurkan kesombongan mereka dengan dahsyat, dan meremehkan akal mereka yang angkuh. Mula-mula ia menghukum mereka dengan hukuman mati abadi; kemudian, bersama hukuman mati abadi di neraka, juga dengan hukuman mati di dunia. Ia berkata, "Tandingilah, atau nyawa dan harta kalian akan binasa." Seandainya menandingi itu mungkin, mungkinkah jalan perang yang paling berbahaya dan paling sulit dipilih, padahal ada jalan keluar yang mudah berupa menandingi dengan satu atau dua baris lalu membatalkan klaimnya? Mungkinkah kaum cerdas, bangsa yang piawai berpolitik dan pernah mengatur dunia dengan politik itu meninggalkan jalan yang paling pendek, mudah, dan ringan, lalu memilih jalan panjang yang paling berbahaya, yang mempertaruhkan seluruh harta dan nyawanya? Sebab, jika seorang sastrawan mereka dapat menandingi dengan beberapa huruf, Al-Qur'an akan meninggalkan klaimnya. Mereka pun akan selamat dari kebinasaan jasmani dan ruhani. Namun, mereka memilih jalan panjang yang dahsyat, yaitu perang. Jadi, menandingi dengan huruf tidak mungkin, mustahil. Karena itu, mereka terpaksa berperang dengan pedang. Ada pula dua sebab yang amat kuat untuk membuat tandingan dan tiruan Al-Qur'an: keinginan keras musuh untuk menandingi dan semangat para sahabatnya untuk meniru. Di bawah dua dorongan kuat ini, jutaan kitab berbahasa Arab telah ditulis, tetapi tidak satu pun menyerupainya. Siapa pun yang melihat Al-Qur'an dan kitab-kitab itu, baik ulama maupun orang awam, pasti akan berkata, "Al-Qur'an tidak menyerupai kitab-kitab ini. Tidak satu pun dapat menandinginya." Maka, Al-Qur'an berada di bawah semuanya—dan ini, menurut kesepakatan semua sahabat maupun musuh, tidak benar dan mustahil—atau Al-Qur'an berada di atas seluruh kitab yang telah ditulis itu. ~Jika engkau berkata:

Bagaimana kita tahu bahwa tak seorang pun mencoba menandingi? Apakah tak seorang pun cukup percaya diri untuk maju? Apakah saling membantu pun tidak bermanfaat? ~Jawaban:

Seandainya menandingi itu mungkin, pasti usaha itu akan dilakukan dalam keadaan apa pun. Sebab, harga diri dan kehormatan dipertaruhkan, serta nyawa dan harta terancam. Seandainya usaha itu dilakukan, pasti akan ditemukan sangat banyak pendukung dalam keadaan apa pun. Sebab, penentang dan pembangkang haq selalu banyak. Seandainya memperoleh pendukung, pasti ia menjadi terkenal dalam keadaan apa pun. Sebab, pertarungan kecil saja menarik perhatian manusia yang heran dan menjadi terkenal dalam kisah-kisah. Pertarungan dan peristiwa yang begitu menakjubkan tidak dapat tetap tersembunyi. Bahkan, hal-hal paling buruk dan paling keji yang melawan Islam pun dikisahkan dan menjadi terkenal. Namun, tentang usaha menandingi, tidak ada yang dikisahkan selain satu atau dua petikan Musailamah si Pendusta. Memang, Musailamah itu memiliki balagah. Akan tetapi, karena dibandingkan dengan penjelasan Al-Qur'an yang memiliki keindahan tanpa batas, kata-katanya tercatat dalam sejarah sebagai ocehan. I'jaz dalam balagah Al-Qur'an pasti ada, sebagaimana dua kali dua adalah empat; karena itulah keadaan demikian terjadi. CARA KEDUA: Kita akan menjelaskan hikmah i'jaz Al-Qur'an dalam balagahnya melalui lima poin. Poin Pertama: Ada kekuatan luar biasa dalam susunan kata Al-Qur'an. İşaratü'l-İ'caz menjelaskan kekuatan dan keteguhan susunan kata itu dari awal hingga akhir. Sebagaimana bagian jam yang menghitung detik, menit, dan jam saling melengkapi keteraturannya, demikian pula susunan pada setiap kalimat dan unsur-unsurnya dalam Al-Qur'an Al-Hakîm, keteraturan kata-katanya, dan keteraturan hubungan antarkalimat dijelaskan dalam İşaratü'l-İ'caz sampai akhir. Siapa yang ingin dapat melihatnya dan dengan cara ini menyaksikan kekuatan luar biasa dalam susunan katanya. Kita hanya akan menyebutkan satu atau dua contoh untuk menunjukkan susunan dalam unsur-unsur sebuah kalimat. Misalnya,

ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﻣَﺴَّﺘْﻬُﻢْ ﻧَﻔْﺤَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻋَﺬَﺍﺏِ ﺭَﺑِّﻚَ Kalimat ini hendak menunjukkan betapa dahsyat azab dengan menunjukkan dampak kuat azab yang paling sedikit. Maka, semua unsur kalimat yang mengungkapkan sedikitnya itu harus mengarah kepada maksud tersebut dan menguatkannya. Kata ﻟَﺌِﻦْ menunjukkan kemungkinan yang diragukan. Keraguan mengarah kepada sedikitnya. Kata ﻣَﺲَّ berarti menyentuh sedikit; ini juga mengungkapkan sedikitnya. Makna dasar kata ﻧَﻔْﺤَﺔٌ adalah sedikit embusan bau, yang mengungkapkan sedikitnya; bentuk katanya juga menunjukkan satu kali. Dalam istilah ilmu saraf, masdar sekali berarti hanya satu kali dan mengungkapkan sedikitnya. Tanwin yang membuatnya tak tertentu pada ﻧَﻔْﺤَﺔٌ bertujuan menunjukkan sedikitnya: begitu kecil sampai tak dapat diketahui. Kata ﻣِﻦْ menunjukkan sebagian, berarti sepotong; ia mengungkapkan sedikitnya. Kata ﻋَﺬَﺍﺏِ adalah suatu macam hukuman yang ringan dibanding hukuman berat dan ganjaran hukuman, sehingga menunjukkan sedikitnya. Kata ﺭَﺑِّﻚَ, sebagai ganti Al-Qahhâr, Al-Jabbâr, dan Al-Muntaqim, juga menunjukkan sedikitnya dengan mengisyaratkan Kasih Sayang. Jadi, kalimat ini menyatakan: jika sepotong azab yang begitu sedikit saja berdampak demikian, kalian dapat membayangkan betapa dahsyat Hukuman Ilahi. Lihatlah bagaimana unsur-unsur kecil dalam kalimat ini saling memandang dan membantu. Masing-masing menguatkan maksud menyeluruh dengan lisannya sendiri. Contoh ini, sampai kadar tertentu, berkaitan dengan kata dan maksudnya. Contoh kedua:

ﻭَﻣِﻤَّﺎ ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ Unsur-unsur kalimat ini menunjukkan lima syarat diterimanya sedekah. ~Syarat pertama:

Memberi sedekah dalam kadar yang tidak membuat diri sendiri membutuhkan sedekah. Pada kata ﻭَﻣِﻤَّﺎ, ﻣِﻦْ yang menunjukkan sebagian mengungkapkan syarat itu. ~Syarat kedua:

Bukan mengambil dari Ali untuk diberikan kepada Veli, melainkan memberi dari harta sendiri. Kata ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ mengungkapkan syarat ini. Artinya, "Berikanlah dari yang menjadi rezeki kalian." ~Syarat ketiga:

Tidak mengungkit pemberian. Pada ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎ, kata ﻧَﺎ menunjukkan syarat ini. Yakni, "Aku memberi kalian rezeki. Kalian tidak berhak mengungkit saat memberi harta-Ku kepada hamba-Ku." ~Syarat keempat:

Berilah kepada orang yang menggunakannya untuk nafkahnya. Sedekah kepada mereka yang menggunakannya untuk hidup bejat tidak diterima. Kata ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻥَ menunjukkan syarat ini. ~Syarat kelima:

Memberi atas Nama Allah subhânahu, yang diungkapkan oleh ﺭَﺯَﻗْﻨَﺎﻫُﻢْ. Yakni, "Harta itu milik-Ku. Kalian harus memberi atas Nama-Ku." Bersama syarat-syarat ini, ada pula perluasan. Yakni, sedekah dapat dilakukan dengan harta, juga dengan ilmu, ucapan, perbuatan, dan nasihat. Dalam kata ﻣِﻤَّﺎ, cakupan umum ﻣَﺎ menunjukkan macam-macam ini. Kalimat itu sendiri juga menunjukkannya. Sebab, ia tidak dibatasi, sehingga mengungkapkan semuanya. Kalimat yang begitu pendek tentang sedekah ini memberi akal lima syarat beserta lingkup yang luas. Susunannya membuat hal itu terasa. Ada banyak sekali susunan seperti ini dalam unsur-unsur kalimat. Kata-kata pun, dalam hubungannya satu sama lain, memiliki lingkup susunan yang sama luasnya. Kemudian, begitu pula kalimat-kalimat. Misalnya,

Dalam ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ terdapat enam kalimat: tiga menyatakan sesuatu dan tiga meniadakan sesuatu. Bersama membuktikan enam tingkat tauhid, ia menolak enam macam syirik. Setiap kalimatnya menjadi dalil sekaligus hasil bagi kalimat-kalimat lain. Sebab, setiap kalimat memiliki dua makna: dengan satu makna menjadi hasil, dengan makna lain menjadi dalil. Jadi, dalam Surah Al-Ikhlas terdapat surah-surah sebanyak tiga puluh Surah Al-Ikhlas, tersusun teratur dari dalil-dalil yang saling membuktikan. Misalnya, ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ لِاَنَّهُ ﺍَﺣَﺪٌ ، لِاَنَّهُ ﺻَﻤَﺪٌ ، لِاَنَّهُ ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ، لِاَنَّهُ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ ، لِاَنَّهُ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺍَﺣَﺪٌ. Juga ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺍَﺣَﺪٌ ، لِاَنَّهُ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ ، لِاَنَّهُ ﻟَﻢ ﻳَﻠِﺪْ ، لِاَنَّهُ ﺻَﻤَﺪٌ ، لِاَنَّهُ ﺍَﺣَﺪٌ ، لِاَنَّهُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ. Juga ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻓَﻬُﻮَ ﺍَﺣَﺪٌ ، ﻓَﻬُﻮَ ﺻَﻤَﺪٌ ، ﻓَﺎِﺫًﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ ، ﻓَﺎِﺫًﺍ ﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ ، ﻓَﺎِﺫًﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻪُ ﻛُﻔُﻮًﺍ ﺍَﺣَﺪٌ. Engkau dapat mengembangkan perbandingannya sesuai contoh ini. Misalnya,

ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﺫٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏُ لَا ﺭَﻳْﺐَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻫُﺪًﻯ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘ۪ﻴﻦَ Masing-masing dari empat kalimat ini memiliki dua makna. Dengan satu makna, ia menjadi dalil bagi kalimat-kalimat lain; dengan makna yang lain, ia menjadi hasilnya. Dari enam belas garis hubungan, terlahir corak susunan yang menunjukkan i'jaz. Dalam İşaratü'l-İ'caz, hal itu dijelaskan sedemikian rupa sehingga membentuk corak susunan yang menunjukkan i'jaz. Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Ketiga Belas, seakan setiap ayat dari sebagian besar ayat Al-Qur'an memiliki mata yang melihat dan wajah yang menghadap kepada setiap ayat dari sebagian besar ayat lainnya. Ia mengulurkan garis-garis hubungan ruhani kepadanya dan menenun corak-corak i'jaz. İşaratü'l-İ'caz menjelaskan kekuatan susunan ini dari awal hingga akhir. Poin Kedua: Balagah luar biasa dalam maknanya. Lihatlah contoh yang dijelaskan dalam Kalimat Ketiga Belas ini. Misalnya,

Jika engkau ingin merasakan balagah makna dalam ayat ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ, bayangkan dirimu berada sebelum cahaya Al-Qur'an, pada zaman jahiliah, di padang kehidupan Badui. Saat itu, segala sesuatu berada di bawah gelap kebodohan dan kelalaian, terselubung tirai tabiat yang beku. Dengarkanlah dari lisan langit Al-Qur'an ayat-ayat seperti ﺳَﺒَّﺢَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ atau ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ, lalu lihat! Bagaimana makhluk-makhluk alam yang telah mati atau tertidur itu, dengan suara ﺳَﺒَّﺢَ ﺗُﺴَﺒِّﺢُ, hidup kembali dalam pikiran pendengar, terjaga, berdiri, dan berzikir. Dengan seruan serta cahaya ﺗُﺴَﺒِّﺢُ, bintang-bintang yang semula hanya gumpalan api tak bernyawa di langit yang gelap, serta makhluk-makhluk yang tercerai di bumi, tampil di hadapan pendengar dalam rupa berikut: langit sebagai sebuah mulut; semua bintang sebagai kata-kata yang menunjukkan hikmah dan cahaya yang menyampaikan hakikat; bola bumi sebagai kepala; daratan dan lautan sebagai lisan; serta seluruh hewan dan tumbuhan sebagai kata-kata yang menebarkan tasbih. Misalnya,

Lihatlah contoh yang dibuktikan dalam Kalimat Kelima Belas ini. Dengarkan ayat-ayat ﻳَﺎ ﻣَﻌْﺸَﺮَ ﺍﻟْﺠِﻦِّ وَالْاِنْسِ ﺍِﻥِ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﺍَﻥْ ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﺍ ﻣِﻦْ ﺍَﻗْﻄَﺎﺭِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻓَﺎﻧْﻔُﺬُﻭﺍ لَا ﺗَﻨْﻔُﺬُﻭﻥَ اِلَّا ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ٭ ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ ٭ ﻳُﺮْﺳَﻞُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻤَﺎ ﺷُﻮَﺍﻅٌ ﻣِﻦْ ﻧَﺎﺭٍ ﻭَ ﻧُﺤَﺎﺱٌ فَلَا ﺗَﻨْﺘَﺼِﺮَﺍﻥِ ٭ ﻓَﺒِﺎَﻯِّ اٰلَٓاءِ ﺭَﺑِّﻜُﻤَﺎ ﺗُﻜَﺬِّﺑَﺎﻥِ ٭ ﻭَﻟَﻘَﺪْ ﺯَﻳَّﻨَّﺎ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀَ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺑِﻤَﺼَﺎﺑ۪ﻴﺢَ ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎﻫَﺎ ﺭُﺟُﻮﻣًﺎ ﻟِﻠﺸَّﻴَﺎﻃ۪ﻴﻦِ dan perhatikan apa yang dikatakannya. Ia berkata, "Wahai manusia dan jin, yang sombong dan memberontak di tengah keadaan tak berdaya dan hina, yang membangkang dan keras kepala di tengah kelemahan dan keadaan serba kurang! Jika kalian tidak menaati Perintah-Perintah-Ku, keluarlah dari batas-batas Kerajaan-Ku kalau mampu! Bagaimana kalian berani melawan Perintah Sultan yang demikian, padahal bintang-bintang, bulan-bulan, dan matahari-matahari menaati Perintah-Perintah-Nya seperti prajurit yang patuh? Dengan tindakan melampaui batas, kalian juga melawan Sang Penguasa Dzul-Jalâl, yang memiliki prajurit-prajurit patuh yang begitu agung. Seandainya setan-setan kalian mampu bertahan, mereka dapat merajamnya dengan peluru meriam sebesar gunung. Dengan ingkar terhadap nikmat, kalian juga memberontak di negeri Sang Mâlik Dzul-Jalâl, yang di antara pasukan-Nya terdapat mereka yang bukan saja mampu menghadapi makhluk kecil tak berdaya seperti kalian: bahkan jika, sebagai pengandaian yang mustahil, kalian masing-masing adalah musuh kafir sebesar gunung dan bumi, mereka dapat melemparkan bintang-bintang dan besi-besi berapi sebesar bumi dan gunung kepada kalian, lalu menghancurkan kalian. Kalian juga melanggar hukum yang ditaati oleh mereka yang, jika perlu, dapat membenturkan bumi kalian ke wajah kalian, serta menghujani kalian dengan bintang-bintang berupa bola seperti peluru meriam, dengan Izin Allah subhânahu." Bandingkanlah kekuatan, balagah, dan ungkapan luhur dalam makna ayat-ayat lain dengan contoh-contoh ini. Poin Ketiga: Gayanya yang luar biasa dan belum pernah ada. Ya, gaya-gaya Al-Qur'an unik, belum pernah ada, menakjubkan, dan meyakinkan. Ia tidak meniru apa pun atau siapa pun. Tak seorang pun dapat menirunya. Sebagaimana ketika datang, gaya-gaya itu selalu menjaga kesegaran, kemudaan, dan keunikannya, dahulu maupun kini. Di antaranya,

dalam İşaratü'l-İ'caz kita telah menulis bahwa gayanya yang belum pernah ada dalam huruf-huruf terpisah seperti sandi, misalnya ﺍﻟٓﻢٓ ٭ ﺍﻟٓﺮٰ ٭ ﻃٰﻪٰ ٭ ﻳٰﺲٓ ٭ ﺣٰﻢٓ ٭ ﻋٓﺴٓﻖٓ di awal sebagian surah, memuat lima atau enam kilau i'jaz. Di antaranya: huruf-huruf yang disebutkan pada awal surah mengambil separuh dari setiap kelompok di antara banyak kelompok huruf yang dikenal, seperti majhur, mahmus, syadid, rakhw, zalaqah, dan qalqalah. Semua kelompok dibagi dua; pada kelompok yang tidak dapat dibagi tepat dua, diambil separuh yang lebih banyak dari huruf ringan dan separuh yang lebih sedikit dari huruf berat. Kelompok-kelompok ini saling bertumpang tindih dan berada di dalam satu sama lain. Di antara dua ratus kemungkinan, hanya ada satu jalan tersembunyi yang tidak dapat ditemukan dengan pemikiran untuk membagi semuanya menjadi dua. Menuntun tuturan melalui jalan itu dan jarak yang luas itu tidak dapat menjadi pekerjaan pikiran manusia. Kebetulan sama sekali tidak dapat turut campur. Huruf-huruf di awal surah, yang merupakan sandi Ilahi, menunjukkan lima atau enam kilau i'jaz lain seperti ini. Para ulama ilmu rahasia huruf serta para wali yang menyelidiki hakikat telah menggali banyak rahasia dari huruf-huruf terpisah ini dan menemukan hakikat-hakikat yang membuat huruf-huruf terpisah ini, bagi mereka, menjadi mukjizat yang amat terang dengan sendirinya. Karena kita belum layak mengetahui rahasianya dan belum dapat membuktikannya bagi umum sampai dapat terlihat oleh mata, kita tidak dapat membuka pintu itu. Kita cukup merujuk lima atau enam kilau i'jaz yang dijelaskan dalam İşaratü'l-İ'caz tentangnya. Kini, kita akan memberikan masing-masing suatu petunjuk tentang gaya-gaya Al-Qur'an dari segi surah, tujuan, ayat, kalimat, dan kata. Misalnya,

Jika Surah ﻋَﻢَّ diperhatikan, dengan gaya yang belum pernah ada ia menunjukkan akhirat, kebangkitan, serta keadaan surga dan neraka sedemikian rupa sehingga meyakinkan hati: Perbuatan Ilahi dan karya Rabbani di dunia ini seolah satu per satu menghadap kepada keadaan-keadaan akhirat itu dan membuktikannya. Karena penjelasan gaya surah ini panjang, kita hanya menunjukkan satu atau dua poin. Untuk membuktikan hari kiamat, pada awal surah ini ia berkata, "Aku menjadikan bumi bagi kalian sebagai buaian yang terhampar indah; gunung-gunung sebagai tiang dan pasak yang menyimpan khazanah bagi rumah dan kehidupan kalian; kalian sebagai pasangan yang saling mencintai dan merasa akrab; malam sebagai selimut tidur yang nyaman; siang sebagai tempat mencari nafkah; matahari sebagai lampu yang menerangi dan menghangatkan; awan sebagai mata air kehidupan yang darinya Aku mengalirkan air. Dari air sederhana, dengan mudah dan dalam waktu singkat Kami menciptakan berbagai hal yang berbunga dan berbuah, yang membawa seluruh makanan kalian. Maka, kiamat, hari pemisahan itu, menanti kalian. Mendatangkan hari itu tidaklah berat bagi Kami." Setelah itu, secara tersembunyi ia menunjukkan bukti gunung-gunung tercerai, langit terbelah, neraka disiapkan, serta kebun dan taman diberikan kepada penghuni surga pada kiamat. Secara makna ia berkata, "Karena Dia melakukan pekerjaan-pekerjaan ini pada gunung dan bumi di hadapan mata kalian, Dia juga melakukan pekerjaan serupa di akhirat." Jadi, gunung di awal surah memandang keadaan gunung-gunung pada kiamat, sedangkan kebun memandang taman dan kebun di akhir surah serta di akhirat. Bandingkan poin-poin lainnya dengan ini, lalu lihatlah betapa indah dan luhur gayanya. Misalnya,

ﻗُﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﻣَﺎﻟِﻚَ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚِ ﺗُﺆْﺗِﻰ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣَﻦْ ﺗَﺸَٓﺎﺀُ ﻭَﺗَﻨْﺰِﻉُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚَ ﻣِﻤَّﻦْ ﺗَﺸَٓﺎﺀُ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮِ Dengan gaya yang begitu luhur, ia menjelaskan Syuunat Ilahi pada manusia, Tajalli-Tajalli Ilahi dalam pergantian malam dan siang, Pengaturan Rabbani pada musim-musim setahun, serta Perbuatan Rabbani dalam hidup dan mati, kebangkitan dan penyebaran di muka bumi, sehingga menundukkan akal pembaca yang teliti. Karena gayanya yang terang, luhur, dan luas dapat terlihat dengan sedikit perhatian, untuk sekarang kita tidak akan membuka khazanah itu. Misalnya,

ﺍِﺫَﺍ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀُ ﺍﻧْﺸَﻘَّﺖْ ٭ ﻭَﺍَﺫِﻧَﺖْ ﻟِﺮَﺑِّﻬَﺎ ﻭَﺣُﻘَّﺖْ ٭ ﻭَﺍِﺫَﺍ الْاَرْضُ ﻣُﺪَّﺕْ ٭ ﻭَﺍَﻟْﻘَﺖْ ﻣَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﻭَ ﺗَﺨَﻠَّﺖْ ٭ ﻭَﺍَﺫِﻧَﺖْ ﻟِﺮَﺑِّﻬَﺎ ﻭَﺣُﻘَّﺖْ ٭ Dengan gaya yang begitu luhur, ia menjelaskan kadar tunduk dan taat langit serta bumi kepada Perintah Allah subhânahu. Misalnya, seorang panglima besar membentuk dan membuka dua bagian untuk pekerjaan yang diperlukan dalam perjuangan, seperti perjuangan itu sendiri, latihan, dan perekrutan tentara. Setelah pekerjaan perjuangan dan urusan itu selesai, panglima besar tersebut beralih kepada kedua bagian itu untuk menggunakannya bagi pekerjaan lain, dengan mengubah fungsinya. Setiap bagian berkata melalui lisan para petugasnya, atau mulai berbicara dengan lisannya sendiri, "Wahai panglimaku! Berilah sedikit waktu agar aku membersihkan dan mengeluarkan sisa-sisa kecil serta barang-barang bekas pekerjaan terdahulu. Setelah itu, silakan datang. Kami telah membuangnya dan berdiri siap menerima perintahmu. Silakan, lakukan apa pun yang engkau kehendaki. Kami tunduk kepada perintahmu. Semua yang engkau lakukan benar, indah, dan bermanfaat." Demikian pula, langit dan bumi dibuka sebagai dua bagian untuk kewajiban, percobaan, dan ujian. Setelah waktunya berakhir, langit dan bumi menyingkirkan benda-benda yang terkait dengan lingkup kewajiban atas Perintah Ilahi. Mereka berkata, "Wahai Rabb kami! Silakan, gunakanlah kami untuk apa pun yang Engkau kehendaki. Kewajiban kami adalah menaati-Mu. Semua yang Engkau lakukan juga benar." Perhatikanlah kemegahan gaya dalam kalimat-kalimatnya. Juga, misalnya,

ﻳَٓﺎ ﺍَﺭْﺽُ ﺍﺑْﻠَﻌ۪ﻰ ﻣَٓﺎﺀَﻙِ ﻭَﻳَﺎ ﺳَﻤَٓﺎﺀُ ﺍَﻗْﻠِﻌ۪ﻰ ﻭَﻏ۪ﻴﺾَ ﺍﻟْﻤَٓﺎﺀُ ﻭَﻗُﻀِﻰَ الْاَمْرُ ﻭَﺍﺳْﺘَﻮَﺕْ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺠُﻮﺩِﻯِّ ﻭَﻗ۪ﻴﻞَ ﺑُﻌْﺪًﺍ ﻟِﻠْﻘَﻮْﻡِ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ Untuk menunjukkan setetes dari lautan balagah ayat ini, kita akan menampilkan salah satu gayanya dalam cermin sebuah perumpamaan. Dalam perang besar, setelah menang, seorang panglima berkata dan memerintahkan, "Hentikan tembakan!" kepada pasukannya yang masih menembak, dan "Berhenti!" kepada pasukan lain yang menyerbu. Saat itu juga tembakan berhenti dan serbuan terhenti. Ia berkata, "Pekerjaan selesai, kita telah menguasainya. Bendera kita tegak di pusat-pusat musuh, di puncak benteng-benteng mereka yang tinggi. Orang-orang zalim yang tak beradab, yang jatuh ke asfal as-sâfilîn itu, telah menerima hukumannya." Demikian pula, Raja yang Tiada Banding memerintahkan langit dan bumi untuk membinasakan kaum Nuh. Setelah mereka menjalankan tugasnya, Dia memerintahkan, "Wahai bumi! Telanlah airmu. Wahai langit! Berhentilah, tugasmu selesai." Air surut. Kapal utusan Ilahi, yang berfungsi sebagai tendanya, berhenti di puncak gunung. Orang-orang zalim menerima hukumannya. Lihatlah gaya luhur ini. Ia berkata, "Bumi dan langit mendengarkan Perintah dan menaati seperti dua prajurit yang patuh." Gaya ini menunjukkan bahwa alam marah karena manusia memberontak. Langit dan bumi menjadi murka. Dengan petunjuk ini, ia berkata, "Zat yang Perintah-Perintah-Nya ditaati oleh bumi dan langit seperti dua prajurit patuh tidak dilawan dan tidak patut dilawan." Ia mengungkapkan larangan keras yang dahsyat. Jadi, dalam beberapa kalimat, ia menjelaskan peristiwa menyeluruh seperti banjir besar beserta seluruh hasil dan hakikatnya dengan ringkas, menunjukkan i'jaz, indah, dan padat. Bandingkan tetes-tetes lain dari lautan ini dengan tetes tersebut. Kini, lihatlah gaya yang ditunjukkan melalui jendela kata-kata. Misalnya,

Dalam ﻭَﺍﻟْﻘَﻤَﺮَ ﻗَﺪَّﺭْﻧَﺎﻩُ ﻣَﻨَﺎﺯِﻝَ ﺣَﺘّٰﻰ ﻋَﺎﺩَ ﻛَﺎﻟْﻌُﺮْﺟُﻮﻥِ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﻢِ, lihatlah kata ﻛَﺎﻟْﻌُﺮْﺟُﻮﻥِ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﻢِ dan betapa halus gaya yang ditunjukkannya. Bulan memiliki tempat persinggahan yang merupakan lingkup bintang-bintang Surayya. Ketika berbentuk sabit, bulan diserupakan dengan tangkai kurma putih yang telah tua. Melalui perumpamaan ini, seakan ada pohon di balik tirai hijau langit: satu tangkainya yang putih, runcing, dan bercahaya merobek tirai lalu menjulurkan kepalanya; Surayya seperti setandan buah pada tangkai itu; dan bintang-bintang lain adalah buah-buah bercahaya pohon penciptaan yang tersembunyi itu. Dengan memperlihatkan semua ini kepada mata khayal pendengar, bagi penghuni padang yang sumber nafkah terpentingnya pohon kurma, ungkapan ini memiliki gaya yang begitu sesuai, indah, halus, dan luhur. Jika memiliki rasa, engkau akan memahaminya. Misalnya,

Sebagaimana dibuktikan pada akhir Kalimat Kesembilan Belas, dalam ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻟِﻤُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ ﻟَﻬَﺎ kata ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ membuka jendela kepada gaya yang luhur ini. Dengan kata ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ, yakni ungkapan "Matahari berputar," ia mengingatkan Pengaturan Kudrat Ilahi yang teratur dalam pergantian musim dingin dan musim panas, malam dan siang, sehingga membuat orang memahami Keagungan Sang Pembuat. Ia mengarahkan pandangan kepada surat-surat Allah subhânahu Yang Samad yang ditulis Pena Kudrat di halaman-halaman musim itu, dan menyatakan Hikmah Sang Khâliq Dzul-Jalâl. ﻭَ ﺟَﻌَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲَ ﺳِﺮَﺍﺟًﺎ Yakni, dengan ungkapan lampu, ia membuka jendela kepada gaya berikut: alam ini adalah istana; benda-benda di dalamnya adalah hiasan, makanan, dan perlengkapan yang disiapkan bagi manusia serta makhluk hidup; dan matahari adalah petugas lampu yang ditundukkan. Dengan mengingatkan hal itu, ia membuat orang memahami Kemegahan Sang Pembuat serta Karunia Sang Khâliq, dan menunjukkan dalil tauhid: matahari, yang dianggap orang musyrik sebagai ma'bûd paling penting dan paling cemerlang, hanyalah lampu yang ditundukkan, makhluk tak bernyawa. Jadi, ungkapan "lampu" mengingatkan Rahmat Sang Khâliq dalam Keagungan Rububiyah-Nya. Ia membuat orang memahami Karunia-Nya dalam luasnya Rahmat-Nya. Melalui pemahaman itu, ia membuat orang merasakan Kemurahan-Nya dalam Kemegahan Kerajaan-Nya. Melalui hal itu, ia menyatakan Keesaan-Nya dan secara makna berkata, "Lampu tak bernyawa yang ditundukkan sama sekali tidak layak disembah." Ungkapan gerak dalam ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ juga mengingatkan Pengaturan yang teratur dan menakjubkan dalam pergantian malam dan siang, musim dingin dan musim panas. Melalui pengingat itu, ia membuat orang memahami Keagungan Kudrat Sang Pembuat, yang satu-satunya Pemilik Rububiyah. Jadi, dari matahari dan bulan, ia mengarahkan pikiran manusia kepada halaman-halaman malam dan siang, musim dingin dan musim panas, lalu menarik perhatian kepada baris-baris peristiwa yang tertulis di halaman-halaman itu. Ya, Al-Qur'an tidak membicarakan matahari demi matahari itu sendiri, melainkan demi Zat yang meneranginya. Ia juga tidak membicarakan hakikat matahari yang tidak dibutuhkan manusia, melainkan tugas matahari: menjadi pegas bagi keteraturan karya Rabbani, pusat bagi keteraturan penciptaan Rabbani, serta sekoci tenun bagi keserasian karya Rabbani dalam benda-benda yang ditenun oleh Sang Penghias Azali dengan benang malam dan siang. Engkau dapat membandingkan kata-kata Al-Qur'an lainnya dengan contoh-contoh ini. Meski seolah hanya kata-kata sederhana yang akrab, semuanya berfungsi sebagai kunci khazanah makna-makna yang halus.Karena gaya Al-Qur'an pada umumnya luhur dan terang dalam bentuk-bentuk tadi, terkadang seorang Arab Badui terpikat oleh satu ucapan lalu bersujud sebelum menjadi Muslim. Seorang Badui bersujud segera setelah mendengar ucapan ﻓَﺎﺻْﺪَﻉْ ﺑِﻤَﺎ ﺗُﺆْﻣَﺮُ. Orang-orang bertanya kepadanya, "Apakah engkau menjadi Muslim?" Ia menjawab, "Tidak. Aku bersujud kepada balagah ucapan ini." Poin Keempat: Kefasihan luar biasa dalam kata-katanya. Ya, sebagaimana Al-Qur'an luar biasa dalam balagah makna dan gaya penjelasannya, kata-katanya juga memiliki kefasihan yang amat lancar. Tidak menimbulkan bosan adalah dalil bahwa kefasihannya pasti ada. Kesaksian para ulama jenius dalam ilmu bayan dan makna adalah bukti terang bagi hikmah kefasihannya. Ya, meski diulang ribuan kali, ia tidak membuat bosan, bahkan memberi rasa nikmat. Ia tidak memberatkan ingatan anak kecil yang sederhana; anak itu dapat menghafalnya. Ia tidak terasa buruk bagi telinga yang paling sakit, yang terganggu oleh sedikit ucapan; justru terasa menyenangkan. Pada lidah orang yang menghadapi ajal, ia seperti minuman manis. Lantunan Al-Qur'an terasa lezat pada telinga dan pikirannya, seperti air Zamzam di mulut dan lidahnya. Rahasia hikmah tidak membuat bosan itu ialah: Al-Qur'an merupakan makanan bagi hati, kekuatan dan kecukupan bagi akal, air dan cahaya bagi ruh, serta obat dan penyembuh bagi nafsu. Karena itu, ia tidak membuat bosan. Setiap hari kita makan roti dan tidak bosan. Namun, jika setiap hari memakan buah yang paling lezat, kita akan bosan. Jadi, karena Al-Qur'an adalah haq, hakikat, kebenaran, petunjuk, dan kefasihan yang luar biasa, ia tidak membuat bosan. Sebagaimana selalu menjaga kemudaannya, ia juga menjaga kesegaran dan manisnya. Bahkan, seorang ahli balagah yang teliti di antara para pemimpin Quraisy pergi atas nama orang-orang musyrik untuk mendengarkan Al-Qur'an. Ia mendengar, kembali, lalu berkata, "Ucapan ini memiliki rasa manis dan kesegaran yang tidak menyerupai ucapan manusia. Aku mengenal para penyair dan peramal. Ini sama sekali tidak menyerupai ucapan mereka. Paling-paling, untuk mengelabui pengikut kita, kita harus menyebutnya sihir." Bahkan musuh Al-Qur'an Al-Hakîm yang paling keras kepala pun takjub akan kefasihannya. Menjelaskan sebab-sebab kefasihan dalam ayat, tuturan, dan kalimat Al-Qur'an Al-Hakîm akan amat panjang. Karena itu, kita mempersingkat pembicaraan dan hanya menunjukkan contoh kelancaran serta kefasihan kata yang terlahir dari letak huruf-huruf dalam satu ayat, beserta kilau i'jaz yang memancar dari letak itu. Inilah,

ﺛُﻢَّ ﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺍﻟْﻐَﻢِّ ﺍَﻣَﻨَﺔً ﻧُﻌَﺎﺳًﺎ ﻳَﻐْﺸٰﻰ ﻃَٓﺎﺋِﻔَﺔً ﻣِﻨْﻜُﻢْ ﺍِﻟٰﻰ ﺍٰﺧِﺮﻩ Semua huruf abjad terdapat dalam ayat ini. Lihatlah: meski semua kelompok huruf yang berat hadir bersama, kelancarannya tidak rusak. Bahkan, semuanya menambah kecemerlangan dan irama kefasihan dari beragam senar yang serasi serta saling menopang. Perhatikan pula kilau i'jaz ini: di antara huruf abjad, "ya" dan "alif" paling ringan dan dapat berubah satu menjadi yang lain. Karena itu, seperti dua saudara, masing-masing diulang dua puluh satu kali. "Mim" dan "nun" {(Catatan): Tanwin juga adalah nun.} bersaudara dan saling menggantikan, sehingga masing-masing disebut tiga puluh tiga kali. ﺹ, ﺱ, dan ﺵ bersaudara dari segi tempat keluarnya bunyi, sifat, dan suara, sehingga masing-masing tiga kali. Meski ﻉ dan ﻍ bersaudara, ﻉ lebih ringan, sehingga enam kali; sedangkan ﻍ, karena berat, disebut separuhnya, yaitu tiga kali. ﻁ, ﻅ, ﺫ, dan ﺯ bersaudara dari segi tempat keluarnya bunyi, sifat, dan suara, sehingga masing-masing dua kali. "Lam" dan "alif" bersama-sama membentuk ittihad dalam rupa ﻻ, dan bagian "alif" dalam rupa ﻻ adalah separuh bagian "lam". Karena itu, "lam" disebut empat puluh dua kali dan "alif" separuhnya, yaitu dua puluh satu kali. "Hamzah" dan "ha" bersaudara dari segi tempat keluarnya bunyi, sehingga hamzah {(Catatan): Hamzah yang diucapkan dan tidak diucapkan berjumlah dua puluh lima, dan tiga tingkat di atas alif, saudaranya yang tidak berharakat. Sebab, harakat ada tiga.} disebut tiga belas kali; "ha", karena satu tingkat lebih ringan, empat belas kali. ﻕ, ﻑ, dan ﻙ bersaudara. Karena ﻕ memiliki satu titik lebih banyak, ﻕ disebut sepuluh kali, ﻑ sembilan kali, dan ﻙ sembilan kali. ﺏ sembilan kali, ﺕ dua belas kali; karena tingkat "ta" adalah tiga, ia disebut dua belas kali. ﺭ adalah saudara "lam". Namun, menurut hitungan abjad, ﺭ bernilai dua ratus dan "lam" tiga puluh. Karena naik enam tingkat, ia turun enam tingkat. Selain itu, karena ﺭ berulang ketika diucapkan, ia berat dan disebut hanya enam kali. ﺥ, ﺡ, ﺙ, dan ﺽ disebut masing-masing satu kali karena beratnya dan beberapa segi hubungan. "Wau" lebih ringan daripada "ha" dan "hamzah", tetapi lebih berat daripada "ya" dan "alif". Karena itu, ia disebut tujuh belas kali: empat tingkat di atas hamzah yang berat, empat tingkat di bawah alif yang ringan.Letak teratur yang luar biasa, hubungan tersembunyi, keteraturan yang indah, susunan serta keserasian yang cermat dan halus dalam penyebutan huruf-huruf ini menunjukkan sejelas dua kali dua adalah empat: melakukan hal ini berada di luar batas pikiran manusia. Kebetulan mustahil turut campur. Sebagaimana keteraturan yang menakjubkan dan susunan yang unik pada letak huruf ini menjadi dasar kelancaran serta kefasihan kata, masih mungkin terdapat banyak hikmah yang lebih tersembunyi. Karena keteraturan seperti ini diperhatikan pada huruf-hurufnya, tentu pada kata, kalimat, dan maknanya diperhatikan keteraturan yang begitu sarat rahasia serta keserasian yang begitu penuh cahaya, sehingga jika mata melihatnya, ia berkata "Masyaallah", dan jika akal memahaminya, ia berkata "Barakallah". Poin Kelima: Kecemerlangan penjelasannya. Yakni, keunggulan, keteguhan, dan kemegahannya. Sebagaimana terdapat kekuatan pada susunannya, kefasihan pada kata-katanya, balagah pada maknanya, dan gaya yang belum pernah ada, demikian pula terdapat kecemerlangan yang unggul pada penjelasannya. Ya, dalam semua macam tuturan dan lapisan sapaan, seperti memberi dorongan dan peringatan, memuji dan mencela, membuktikan dan membimbing, membungkam ﴾ﺍﻓﺤﺎﻡ﴿ serta membuat memahami ﴾ﺍﻓﻬﺎﻡ﴿, penjelasan Al-Qur'an berada pada tingkat tertinggi. Misalnya,

Di antara contoh yang tak terhingga pada maqam memberi dorongan dan semangat, penjelasan dalam Surah ﻫَﻞْ ﺍَﺗٰﻰ ﻋَﻠَﻰ الْاِنْسَانِ {(Catatan): Gaya penjelasan ini mengenakan pakaian makna surah tersebut.} menyenangkan seperti air Kautsar, mengalir lancar seperti mata air Salsabil, manis seperti buah surga, dan indah seperti pakaian bidadari. Di antara banyak contoh pada maqam memberi peringatan dan ancaman, misalnya pada awal Surah ﻫَﻞْ ﺍَﺗٰﻴﻚَ ﺣَﺪ۪ﻳﺚُ ﺍﻟْﻐَﺎﺷِﻴَﺔِ, penjelasan Al-Qur'an memengaruhi orang-orang yang sesat seperti timah hitam mendidih di telinga mereka, api membakar di pikiran mereka, zaqqum terbakar di lidah mereka, neraka menyerbu wajah mereka, serta tumbuhan dari' yang pahit dan berduri di perut mereka. Ya, petugas azab seperti neraka yang menunjukkan Ancaman suatu Zat hampir pecah karena amarah dan geramnya, mengucapkan ﺗَﻜَﺎﺩُ ﺗَﻤَﻴَّﺰُ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻐَﻴْﻆِ serta dibuat mengucapkannya. Ini menunjukkan betapa dahsyat Peringatan Zat itu. Di antara ribuan contoh pada maqam pujian, penjelasan Al-Qur'an dalam lima surah yang diawali "Alhamdulillah" terang seperti matahari, {(Catatan): Ungkapan-ungkapan ini menunjuk kepada pembahasan dalam surah-surah itu.} berhias seperti bintang, megah seperti langit dan bumi, menyenangkan seperti malaikat, penuh kasih seperti kasih sayang kepada anak-anak di dunia, dan indah seperti surga di akhirat. Di antara ribuan contoh pada maqam celaan dan larangan keras, misalnya,

Dalam ayat ﺍَﻳُﺤِﺐُّ ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ ﺍَﺧ۪ﻴﻪِ ﻣَﻴْﺘًﺎ, ia mencela tindakan mencela pada enam tingkat dan melarang gibah dengan keras dalam enam tingkat. Hamzah di awal ayat, sebagaimana diketahui, bermakna bertanya, "Apakah?" Makna pertanyaan itu masuk ke semua kata ayat seperti air. Dengan hamzah pertama, ia berkata, "Apakah kalian tidak memiliki akal, tempat bertanya dan menjawab, sehingga tidak memahami sesuatu yang begitu buruk?" Kedua, dengan kata ﻳُﺤِﺐُّ, ia berkata, "Apakah hati kalian, tempat cinta dan benci, telah rusak sehingga mencintai pekerjaan yang paling dibenci?" Ketiga, dengan kata ﺍَﺣَﺪُﻛُﻢْ, ia berkata, "Apa yang terjadi pada kehidupan bermasyarakat dan peradaban kalian, yang mendapat kehidupan dari masyarakat, sehingga menerima perbuatan yang meracuni hidup kalian seperti ini?" Keempat, dengan ucapan ﺍَﻥْ ﻳَﺎْﻛُﻞَ ﻟَﺤْﻢَ, ia berkata, "Apa yang terjadi pada sifat manusiawi kalian sehingga kalian mencabik teman dengan gigi seperti binatang buas?" Kelima, dengan kata ﺍَﺧ۪ﻴﻪِ, ia berkata, "Apakah kalian sama sekali tidak memiliki kasih kepada sesama manusia dan ikatan silaturahmi, sehingga tanpa belas kasih menggigit diri ruhani seorang yang dizalimi, yang merupakan saudara kalian dari banyak sisi? Apakah kalian tak memiliki akal sehingga seperti orang gila menggigit anggota tubuh kalian sendiri dengan gigi kalian sendiri?" Keenam, dengan ucapan ﻣَﻴْﺘًﺎ, ia berkata, "Di mana nurani kalian? Apakah fitrah kalian telah rusak sehingga terhadap seorang saudara dalam keadaan paling patut dihormati dilakukan perbuatan paling menjijikkan seperti memakan dagingnya?" Jadi, mencela dan gibah tercela dari segi akal, hati, sifat manusiawi, nurani, fitrah, ikatan kelompok, dan bangsa. Lihatlah! Dengan ringkas, ayat ini mencela tindakan mencela pada enam tingkat; dengan menunjukkan i'jaz, ia melarang kejahatan itu dengan keras dalam enam tingkat. Di antara ribuan contoh pada maqam membuktikan, misalnya,

Dalam ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ ﺍِﻥَّ ﺫٰﻟِﻚَ ﻟَﻤُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻤَﻮْﺗٰﻰ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻗَﺪ۪ﻳﺮٌ, untuk membuktikan kebangkitan dan menghapus anggapan bahwa hal itu jauh dari mungkin, ia menjelaskan dengan cara yang tidak dapat dilampaui oleh bukti lain. Sebagaimana dibuktikan dan dijelaskan dalam Hakikat Kesembilan Kalimat Kesepuluh dan Kilau Keenam Kalimat Kedua Puluh Dua, setiap musim semi, dalam cara menghidupkan bumi, meskipun Dia mencampurkan contoh-contoh kebangkitan dalam tiga ratus ribu bentuk dengan amat rumit satu sama lain, Dia memperlihatkannya kepada manusia dengan keteraturan dan pembedaan yang paling sempurna. Ia berkata bahwa kebangkitan dan kiamat tidak dapat berat bagi Zat yang melakukan semuanya demikian. Menulis ratusan ribu jenis bersama-sama, saling berada di dalam satu sama lain, pada halaman bumi dengan Pena Kudrat-Nya, tanpa kesalahan dan tanpa cacat, adalah cap satu Zat yang Wâhid lagi Ahad. Karena itu, bersama membuktikan Keesaan sejelas matahari, ayat ini menunjukkan kiamat dan kebangkitan sebagai hal yang mudah dan pasti seperti terbit dan terbenam matahari. Sebagaimana menunjukkan hakikat ini dari segi cara dalam kata ﻛَﻴْﻒَ, ia juga menyebutkannya secara terperinci dalam banyak surah. Misalnya,

Dalam Surah ﻕٓ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﻤَﺠ۪ﻴﺪِ, dengan penjelasan yang begitu terang, indah, manis, dan luhur, ia membuktikan kebangkitan hingga memberi keyakinan yang pasti seperti datangnya musim semi. Lihatlah: sebagai jawaban bagi orang-orang kafir yang menyangkal hidupnya kembali tulang-tulang lapuk dan berkata, "Ini aneh, tidak mungkin," ia memerintahkan sampai ﺍَﻓَﻠَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُٓﻭﺍ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻓَﻮْﻗَﻬُﻢْ ﻛَﻴْﻒَ ﺑَﻨَﻴْﻨَﺎﻫَﺎ ﻭَ ﺯَﻳَّﻨَّﺎﻫَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻟَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﻓُﺮُﻭﺝٍ ﺍﻟﺦ ﻛَﺬٰﻟِﻚَ ﺍﻟْﺨُﺮُﻭﺝُ. Penjelasannya mengalir seperti air dan berkilau seperti bintang. Bagi hati, ia memberi rasa nikmat dan lezat seperti kurma, serta menjadi makanan. Juga,

di antara contoh paling halus pada maqam membuktikan, ia berkata ﻳٰﺲٓ ٭ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢِ ٭ ﺍِﻧَّﻚَ ﻟَﻤِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ. Yakni, "Aku bersumpah demi Al-Qur'an yang penuh hikmah: engkau termasuk para rasul." Sumpah ini menunjukkan bahwa bukti kerasulan begitu pasti dan haq sehingga, dalam kebenarannya, mencapai kedudukan yang diagungkan dan dihormati, sampai sumpah dilakukan dengannya. Dengan petunjuk itu, ia berkata, "Engkau adalah rasul. Sebab, di tanganmu ada Al-Qur'an. Al-Qur'an itu haq dan merupakan Kalam Al-Haqq. Sebab, di dalamnya terdapat hikmah sejati dan di atasnya terdapat cap i'jaz." Juga,

di antara contoh pada maqam membuktikan yang ringkas dan menunjukkan i'jaz, terdapat ini: ﻗَﺎﻝَ ﻣَﻦْ ﻳُﺤْﻴِﻰ ﺍﻟْﻌِﻈَﺎﻡَ ﻭَﻫِﻰَ ﺭَﻣ۪ﻴﻢٌ ٭ ﻗُﻞْ ﻳُﺤْﻴ۪ﻴﻬَﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺸَﺎَﻫَٓﺎ ﺍَﻭَّﻝَ ﻣَﺮَّﺓٍ ﻭَﻫُﻮَ ﺑِﻜُﻞِّ ﺧَﻠْﻖٍ ﻋَﻠ۪ﻴﻢٌ. Yakni, manusia berkata, "Siapa yang akan menghidupkan tulang-tulang lapuk?" Katakanlah, "Yang menciptakan dan memberi kehidupan kepadanya pada awalnya, Dialah yang akan menghidupkannya." Sebagaimana digambarkan dalam perumpamaan ketiga Hakikat Kesembilan Kalimat Kesepuluh, seorang membentuk satu pasukan besar dari awal dalam sehari di hadapan mata. Lalu seseorang berkata, "Orang ini dapat mengumpulkan satu batalion yang anggotanya tersebar untuk beristirahat dengan satu tiupan terompet, dan dapat mengembalikannya ke dalam susunan batalion." Wahai manusia, jika engkau berkata, "Aku tidak percaya," engkau tahu betapa gilanya penyangkalan itu. Demikian pula, dengan Perintah "kun fayakun", Zat yang Qadîr lagi Alîm menetapkan dan menempatkan zarah serta daya halus tubuh-tubuh laksana batalion dari seluruh hewan dan makhluk hidup lain yang laksana pasukan, dari tiada, dari awal, dengan keteraturan sempurna dan timbangan Hikmah. Pada setiap zaman, bahkan setiap musim semi, Dia menciptakan ratusan ribu jenis dan kelompok makhluk hidup laksana pasukan di muka bumi. Apakah patut bertanya, dengan menganggapnya jauh dari mungkin, "Bagaimana Dia dapat mengumpulkan zarah-zarah dasar dan bagian-bagian asli yang telah saling mengenal karena berada dalam susunan satu tubuh laksana batalion, dengan satu seruan, dengan tiupan sangkakala Israfil?" Jika dikatakan, itu adalah kegilaan orang yang bodoh. Pada maqam bimbingan, penjelasan Al-Qur'an begitu menyentuh dan halus, begitu akrab dan penuh kasih, sehingga memenuhi ruh dengan semangat, hati dengan rasa nikmat, akal dengan rasa ingin tahu, dan mata dengan air mata. Di antara ribuan contoh, hanya ini:

ﺛُﻢَّ ﻗَﺴَﺖْ ﻗُﻠُﻮﺑُﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺑَﻌْﺪِ ﺫٰﻟِﻚَ ﻓَﻬِﻰَ ﻛَﺎﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓِ ﺍَﻭْ ﺍَﺷَﺪُّ ﻗَﺴْﻮَﺓً ﺍﻟﺦ Sebagaimana dibuktikan dan dijelaskan dalam pembahasan ayat ketiga pada Maqam Pertama Kalimat Kedua Puluh, ia berkata kepada Bani Israil, "Di hadapan mukjizat seperti tongkat Musa 'alaihis-salâm, batu yang keras saja mengalirkan air mata seperti mata air dari dua belas matanya. Apa yang terjadi pada kalian sehingga, terhadap seluruh mukjizat Musa 'alaihis-salâm, kalian tetap tak peduli: mata kalian kering tanpa air mata, dan hati kalian tetap keras tanpa api?" Karena makna bimbingan ini dijelaskan dalam Kalimat itu, aku merujuk ke sana dan mempersingkat pembicaraan di sini. Di antara ribuan contoh pada maqam membungkam dan mengharuskan pengakuan, lihatlah hanya dua contoh ini. Contoh pertama:

ﻭَﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﻓ۪ﻰ ﺭَﻳْﺐٍ ﻣِﻤَّﺎ ﻧَﺰَّﻟْﻨَﺎ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻧَﺎ ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺴُﻮﺭَﺓٍ ﻣِﻦْ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ ﻭَﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺷُﻬَﺪَٓﺍﺀَﻛُﻢْ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻥِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻥْ ﻛُﻨْﺘُﻢْ ﺻَﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ Yakni, "Jika kalian memiliki syubhat, panggillah semua tokoh besar dan pendukung kalian yang akan membantu serta bersaksi bagi kalian. Buatlah tandingan bagi satu surahnya." Karena telah dijelaskan dan dibuktikan dalam İşaratü'l-İ'caz, di sini kita hanya menunjukkan ringkasannya. Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat berkata: Wahai manusia dan jin! Jika kalian memiliki syubhat bahwa Al-Qur'an adalah Kalam Ilahi dan mengira ia ucapan manusia, ayo, inilah medan tantangannya, datanglah! Bawalah atau mintalah dibuatkan kitab seperti Al-Qur'an ini dari seorang ummi yang tidak bisa membaca dan menulis, yang tidak pernah belajar membaca atau menulis, seperti orang yang kalian sendiri sebut Muhammad Al-Amin ﷺ. Jika kalian tidak dapat melakukannya, ayo, tak perlu seorang ummi; ambillah sastrawan paling terkenal, seorang ulama. Jika ini pun tidak dapat kalian lakukan, ayo, tak perlu satu orang; kumpulkan semua ahli balagah dan orator kalian, bahkan karya-karya indah seluruh ahli balagah terdahulu, bantuan semua sastrawan yang akan datang, serta pertolongan ilah-ilah kalian. Berusahalah dengan seluruh kekuatan kalian, buatlah tandingan bagi Al-Qur'an ini. Jika ini pun tidak dapat kalian lakukan, ayo, kesampingkan hakikat-hakikat Al-Qur'an yang tak dapat ditiru serta banyak mukjizat ruhaninya; buatlah hanya sebuah karya yang menandingi balagah susunan katanya. Dengan ﻓَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ ﻣُﻔْﺘَﺮَﻳَﺎﺕٍ, ia mengharuskan pengakuan dan berkata, "Ayo, Aku tidak menuntut kebenaran maknanya. Biarlah berupa hal yang direka, dusta, dan kisah yang tidak benar." Ini pun tidak dapat kalian lakukan. Ayo, tak perlu sebanyak seluruh Al-Qur'an; bawalah tandingan hanya bagi ﺑِﻌَﺸْﺮِ ﺳُﻮَﺭٍ, sepuluh surahnya. Ini pun tidak dapat kalian lakukan. Ayo, bawalah tandingan satu surah saja. Ini pun terlalu banyak. Ayo, tampilkan tandingan bagi satu surah pendek. Bahkan, karena ini pun tidak kalian lakukan dan tidak dapat kalian lakukan, padahal kalian begitu membutuhkannya—sebab harga diri dan kehormatan kalian, kemuliaan dan agama kalian, ikatan kelompok dan martabat kalian, nyawa dan harta kalian, dunia dan akhirat kalian dapat diselamatkan dengan membawa tandingannya—maka jika tidak, di dunia kalian akan binasa tanpa harga diri, kehormatan, agama, dan martabat, dalam kehinaan, dengan nyawa serta harta yang hancur. Di akhirat, sebagaimana ditunjukkan oleh ﻓَﺎﺗَّﻘُﻮﺍ ﺍﻟﻨَّﺎﺭَ ﺍﻟَّﺘ۪ﻰ ﻭَﻗُﻮﺩُﻫَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﻭَ ﺍﻟْﺤِﺠَﺎﺭَﺓُ, kalian dihukum penjara abadi di neraka dan menjadi kayu bakar bersama berhala-berhala kalian. Karena kalian telah memahami keadaan tak berdaya kalian pada delapan tingkat, tentu kalian harus mengetahui delapan kali pula bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat. Berimanlah, atau diamlah dan pergilah ke neraka! Lihatlah bagaimana Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat mengharuskan pengakuan pada maqam membungkam, lalu katakanlah: ﻟَﻴْﺲَ ﺑَﻌْﺪَ ﺑَﻴَﺎﻥِ ﺍﻟْﻘُﺮْﺍٰﻥِ ﺑَﻴَﺎﻥٌ. Ya, setelah penjelasan Al-Qur'an, tidak dapat ada penjelasan lain dan tidak ada lagi kebutuhan akan penjelasan. Contoh Kedua:

ﻓَﺬَﻛِّﺮْ ﻓَﻤَٓﺎ ﺍَﻧْﺖَ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺖِ ﺭَﺑِّﻚَ ﺑِﻜَﺎﻫِﻦٍ وَلَا ﻣَﺠْﻨُﻮﻥٍ ٭ ﺍَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺷَﺎﻋِﺮٌ ﻧَﺘَﺮَﺑَّﺺُ ﺑِﻪ۪ ﺭَﻳْﺐَ ﺍﻟْﻤَﻨُﻮﻥِ ٭ ﻗُﻞْ ﺗَﺮَﺑَّﺼُﻮﺍ ﻓَﺎِﻧّ۪ﻰ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﺘَﺮَﺑِّﺼ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍَﻡْ ﺗَﺎْﻣُﺮُﻫُﻢْ اَحْلَامُهُمْ ﺑِﻬٰﺬَٓﺍ ﺍَﻡْ ﻫُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﻃَﺎﻏُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺗَﻘَﻮَّﻟَﻪُ ﺑَﻞْ لَا ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ ٭ ﻓَﻠْﻴَﺎْﺗُﻮﺍ ﺑِﺤَﺪ۪ﻳﺚٍ ﻣِﺜْﻠِﻪ۪ٓ ﺍِﻥْ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﺻَﺎﺩِﻗ۪ﻴﻦَ ٭ ﺍَﻡْ ﺧُﻠِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺷَﻰْﺀٍ ﺍَﻡْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﺧَﻠَﻘُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﺑَﻞْ لَا ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻦُ ﺭَﺑِّﻚَ ﺍَﻡْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻴْﻄِﺮُﻭﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻠَّﻢٌ ﻳَﺴْﺘَﻤِﻌُﻮﻥَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺎْﺕِ ﻣُﺴْﺘَﻤِﻌُﻬُﻢْ ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ ٭ ﺍَﻡْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺒَﻨَﺎﺕُ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻨُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﺗَﺴْﺌَﻠُﻬُﻢْ ﺍَﺟْﺮًﺍ ﻓَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻣَﻐْﺮَﻡٍ ﻣُﺜْﻘَﻠُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐُ ﻓَﻬُﻢْ ﻳَﻜْﺘُﺒُﻮﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُﻭﻥَ ﻛَﻴْﺪًﺍ ﻓَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻜ۪ﻴﺪُﻭﻥَ ٭ ﺍَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺍِﻟٰﻪٌ ﻏَﻴْﺮُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ ٭ Di antara ribuan hakikat ayat-ayat ini, kita hanya menjelaskan satu hakikat sebagai contoh penjelasan yang membungkam. Dengan kata-kata ﺍَﻡْ–ﺍَﻡْ, melalui lima belas tingkat pertanyaan yang menolak dan mengungkapkan keheranan, ia membungkam semua kelompok yang sesat serta menutup semua sumber syubhat. Ia tidak membiarkan lubang setani untuk dimasuki dan dijadikan tempat bersembunyi oleh mereka yang sesat; ia menutupnya. Ia tidak membiarkan tirai kesesatan untuk tempat bersembunyi di bawahnya; ia merobeknya. Ia tidak membiarkan seekor ular pun dari dusta mereka; ia meremukkan kepalanya. Dalam setiap petikan, ia membatalkan ringkasan pemikiran kafir suatu kelompok dengan ungkapan pendek; atau, karena salahnya sudah jelas, dengan diam ia menyerahkan salahnya itu kepada hal yang nyata; atau, karena telah ditolak secara terperinci dalam ayat-ayat lain, di sini ia menunjukkannya secara ringkas. Misalnya, petikan pertama menunjuk kepada ayat ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﻨَﺎﻩُ ﺍﻟﺸِّﻌْﺮَ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﺒَﻐ۪ﻰ ﻟَﻪُ, dan petikan kelima belas mengisyaratkan ayat ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ. Bandingkan petikan-petikan lain dengan ini. Pada awalnya, ia berkata, "Sampaikanlah Hukum-Hukum Ilahi. Engkau bukan peramal, sebab ucapan peramal kacau dan bersifat dugaan, sedangkan ucapanmu haq dan pasti. Engkau tidak mungkin gila; bahkan musuhmu bersaksi akan akalmu yang sempurna." ﺍَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺷَﺎﻋِﺮٌ ﻧَﺘَﺮَﺑَّﺺُ ﺑِﻪ۪ ﺭَﻳْﺐَ ﺍﻟْﻤَﻨُﻮﻥِ Apakah, seperti orang kafir awam yang tidak menimbang dengan akal, mereka menyebutmu penyair? Apakah mereka menanti kebinasaanmu? Katakanlah, "Tunggulah. Aku pun menunggu." Hakikat-hakikatmu yang terang dan besar bebas dari khayal syair serta tidak membutuhkan hiasannya. ﺍَﻡْ ﺗَﺎْﻣُﺮُﻫُﻢْ اَحْلَامُهُمْ ﺑِﻬٰﺬَﺍ Atau, seperti filsuf tak berakal yang percaya pada akalnya, apakah mereka berkata, "Akal kami cukup bagi kami," lalu enggan mengikutimu? Padahal, akal memerintahkan mereka mengikutimu. Sebab, semua yang engkau katakan masuk akal, tetapi akal sendirian tidak dapat mencapainya. ﺍَﻡْ ﻫُﻢْ ﻗَﻮْﻡٌ ﻃَﺎﻏُﻮﻥَ Atau, apakah sebab penyangkalan mereka ialah tidak tunduk kepada Al-Haqq, seperti orang zalim yang melampaui batas? Padahal, akhir nasib Firaun dan Namrud, para pemimpin orang zalim yang angkuh itu, telah diketahui. ﺍَﻡْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﺗَﻘَﻮَّﻟَﻪُ ﺑَﻞْ لَا ﻳُﺆْﻣِﻨُﻮﻥَ Atau, seperti orang munafik pendusta yang tak memiliki nurani, apakah mereka menuduhmu, "Al-Qur'an adalah kata-katamu"? Padahal, hingga kini, dengan menyebutmu Muhammad Al-Amin ﷺ, mereka mengenalmu sebagai orang paling jujur di antara mereka ﷺ. Jadi, mereka tidak berniat beriman. Jika tidak demikian, hendaklah mereka menemukan tandingan Al-Qur'an di antara karya manusia. ﺍَﻡْ ﺧُﻠِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﻏَﻴْﺮِ ﺷَﻰْﺀٍ Atau, seperti filsuf yang meyakini alam sia-sia dan tanpa tujuan, apakah mereka mengira diri mereka dibiarkan bebas, tanpa hikmah, tanpa tujuan, tanpa tugas, dan tanpa Khâliq?Apakah mata mereka telah buta sehingga tidak melihat bahwa alam dihiasi hikmah dari awal sampai akhir dan berbuah tujuan-tujuan, serta semua makhluk, dari zarah hingga matahari, diberi tugas dan ditundukkan kepada Perintah-Perintah Ilahi? ﺍَﻡْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘُﻮﻥَ Atau, seperti kaum materialis yang menjadi Firaun, apakah mereka membayangkan, "Mereka ada dengan sendirinya, memberi makan diri sendiri, dan menciptakan semua yang mereka perlukan," sehingga enggan beriman dan berubudiyah? Jadi, mereka menganggap diri masing-masing sebagai khâliq. Padahal, Khâliq satu hal haruslah Khâliq setiap hal. Kesombongan dan sikap angkuh telah membuat mereka begitu bodoh sehingga menganggap seorang yang sama sekali tak berdaya, yang kalah menghadapi lalat dan mikroba, sebagai sang qadîr mutlak. Karena mereka telah jatuh sejauh ini dari akal dan sifat manusiawi, mereka lebih rendah daripada hewan, bahkan benda tak bernyawa. Maka, jangan terpengaruh oleh penyangkalan mereka. Anggaplah mereka sebagai suatu macam hewan berbahaya dan benda kotor. Jangan memandangnya, jangan menganggapnya penting. ﺍَﻡْ ﺧَﻠَﻘُﻮﺍ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﺑَﻞْ لَا ﻳُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ Atau, seperti kaum Mu'attilah yang tak berpikir dan pening, yang menyangkal Khâliq, apakah mereka menyangkal Allah subhânahu sehingga tidak mendengarkan Al-Qur'an? Jika demikian, hendaklah mereka menyangkal adanya langit dan bumi, atau berkata, "Kami menciptakannya." Hendaklah mereka sepenuhnya keluar dari batas akal dan masuk ke dalam ocehan kegilaan. Sebab, bukti-bukti tauhid terlihat dan terbaca sebanyak bintang di langit serta bunga di bumi. Jadi, mereka tidak berniat mencari keyakinan dan haq. Jika tidak demikian, meski tahu bahwa satu huruf pun tidak ada tanpa penulis, bagaimana mereka mengira kitab alam ini tanpa penulis, padahal pada satu hurufnya tertulis satu kitab? ﺍَﻡْ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢْ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻦُ ﺭَﺑِّﻚَ Atau, seperti sebagian filsuf sesat yang meniadakan Pilihan Allah subhânahu dan seperti kaum Barahimah, apakah mereka menyangkal dasar kenabian sehingga tidak beriman kepadamu? Jika demikian, hendaklah mereka menyangkal semua karya Hikmah, tujuan, keteraturan, buah, karya Rahmat dan Pertolongan yang terlihat pada seluruh makhluk dan menunjukkan Pilihan serta Kehendak, juga seluruh mukjizat semua nabi; atau berkata, "Khazanah karunia yang diberikan kepada makhluk ada di sisi dan tangan kami." Hendaklah mereka menunjukkan bahwa mereka tidak layak diajak berbicara. Engkau pun jangan bersedih karena penyangkalan mereka. Katakanlah, "Hewan tak berakal milik Allah subhânahu banyak." ﺍَﻡْ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﺼَﻴْﻄِﺮُﻭﻥَ Atau, seperti kaum Mu'tazilah yang memaksakan kuasa dan menjadikan akal sebagai hakim, apakah mereka membayangkan diri sebagai pengawas dan pemeriksa Pekerjaan Khâliq, lalu hendak meminta pertanggungjawaban Sang Khâliq Dzul-Jalâl? Jangan sampai kehilangan semangat. Penyangkalan orang-orang yang hanya memandang diri sendiri itu tidak menghasilkan apa pun.Engkau pun jangan memedulikannya. ﺍَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺳُﻠَّﻢٌ ﻳَﺴْﺘَﻤِﻌُﻮﻥَ ﻓ۪ﻴﻪِ ﻓَﻠْﻴَﺎْﺕِ ﻣُﺴْﺘَﻤِﻌُﻬُﻢْ ﺑِﺴُﻠْﻄَﺎﻥٍ ﻣُﺒ۪ﻴﻦٍ Atau, seperti penjual ramalan dan orang yang mengaku berhubungan dengan ruh, yang mengikuti jin serta setan, apakah mereka mengira telah menemukan jalan lain menuju alam gaib? Jika demikian, apakah mereka membayangkan memiliki tangga untuk naik ke langit yang tertutup bagi setan-setan mereka, sehingga mendustakan berita-beritamu dari langit? Penyangkalan para penipu seperti ini sama dengan tidak ada. ﺍَﻡْ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺒَﻨَﺎﺕُ ﻭَﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺒَﻨُﻮﻥَ Atau, seperti filsuf musyrik yang meyakini sekutu-sekutu dengan nama "sepuluh akal" dan "penguasa jenis-jenis"; seperti kaum Sabiun yang memberikan suatu bentuk keilahian kepada bintang dan malaikat; seperti para penyangkal agama dan orang sesat yang menisbahkan anak kepada Allah subhânahu: apakah mereka menisbahkan anak, yang bertentangan dengan Wujud yang niscaya, Keesaan, Sifat Samad, dan Sifat sama sekali tidak membutuhkan apa pun milik Zat Yang Ahad lagi Samad, serta menisbahkan sifat perempuan, yang bertentangan dengan ubudiyah, terjaga dari dosa, dan jenis para malaikat? Apakah mereka menganggapnya pemberi syafaat bagi mereka, sehingga tidak mengikutimu? Bagi makhluk seperti manusia yang mungkin ada, fana, membutuhkan kelangsungan jenisnya, bertubuh, dapat terbagi, dapat bertambah banyak, tak berdaya, mencintai dunia, serta membutuhkan dan merindukan pewaris yang membantu, beranak adalah sarana bertambah banyak dan saling membantu, serta ikatan hidup dan kelangsungan. Namun, sudah tentu, sudah tentu, menisbahkan anak kepada Zat Dzul-Jalâl, yang niscaya ada dan senantiasa ada, Kekal sejak Azali hingga Abadi, Zat-Nya Bebas dan Tinggi di atas sifat bertubuh, Hakikat-Nya Suci dan Bebas dari terbagi serta bertambah banyak, Kudrat-Nya Suci dari keadaan tak berdaya dan tiada banding—terlebih menisbahkan suatu macam anak, yakni anak-anak perempuan yang tak terhingga, yang bahkan manusia tak berdaya, mungkin ada, dan miskin itu tidak menyukainya serta tidak menganggapnya sesuai dengan kemuliaan mereka yang angkuh—merupakan pikiran yang begitu keliru dan ocehan kegilaan, sehingga dusta serta penyangkalan orang-orang yang berpikir demikian sama sekali tidak berarti. Engkau tidak patut memedulikannya. Tidak satu pun pikiran keliru orang yang pening atau ocehan orang gila patut didengarkan. ﺍَﻡْ ﺗَﺴْﺎَﻟُﻬُﻢْ ﺍَﺟْﺮًﺍ ﻓَﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﻣَﻐْﺮَﻡٍ ﻣُﺜْﻘَﻠُﻮﻥَ Atau, seperti pemuja dunia yang melampaui batas, memberontak, serta terbiasa rakus dan kikir, apakah mereka menganggap kewajiban yang engkau sampaikan berat sehingga lari darimu? Tidakkah mereka tahu bahwa engkau meminta ganjaran dan upah hanya kepada Allah subhânahu? Apakah berat memberi sepersepuluh atau seperempat puluh dari harta yang diberikan Allah subhânahu kepada mereka kepada orang-orang miskin mereka sendiri, demi berkah serta selamat dari iri dan doa buruk orang miskin, sehingga mereka menganggap Perintah zakat berat dan menjauh dari Islam? Dusta mereka tidak penting; yang layak mereka terima adalah tamparan, bukan jawaban.ﺍَﻡْ ﻋِﻨْﺪَﻫُﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐُ ﻓَﻬُﻢْ ﻳَﻜْﺘُﺒُﻮﻥَ Atau, seperti penganut Buddha yang mengaku mengenal yang gaib dan orang-orang yang memamerkan akal, yang mengira dugaan mereka tentang perkara gaib sebagai keyakinan yang pasti, apakah mereka tidak menyukai berita-berita gaibmu? Apakah mereka memiliki kitab gaib sehingga tidak menerima kitab gaibmu? Jika demikian, mereka membayangkan alam gaib hadir dan terbuka di sisi mereka, lalu berkhayal menulis dengan mengambil pengetahuan darinya; padahal alam itu tidak dibuka kepada siapa pun selain para rasul yang menerima wahyu, dan tak seorang pun berhak memasukinya dengan kemampuannya sendiri. Jangan biarkan dusta orang-orang sombong yang memamerkan diri dan telah melampaui batas tanpa batas ini membuatmu kehilangan semangat. Sebab, dalam waktu singkat hakikat-hakikatmu akan menjungkirbalikkan khayal mereka. ﺍَﻡْ ﻳُﺮ۪ﻳﺪُﻭﻥَ ﻛَﻴْﺪًﺍ ﻓَﺎﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻜ۪ﻴﺪُﻭﻥَ Atau, seperti orang munafik penipu yang fitrahnya rusak dan nuraninya membusuk, serta orang yang ingkar agama dan penuh tipu daya, apakah mereka hendak menipu orang banyak untuk memalingkannya dari petunjuk yang tidak mereka peroleh? Apakah mereka hendak membujuk orang lain agar percaya, dengan menyebutmu kadang peramal, kadang gila, kadang penyihir, padahal mereka sendiri tidak mempercayainya? Jangan menganggap penipu penuh tipu daya seperti ini sebagai manusia, lalu terpengaruh oleh muslihat dan penyangkalan mereka hingga kehilangan semangat. Justru berusahalah lebih keras. Sebab, mereka menipu diri sendiri dan merugikan diri sendiri. Keberhasilan mereka dalam keburukan hanya sementara dan merupakan istidraj, Muslihat Ilahi. ﺍَﻡْ ﻟَﻬُﻢْ ﺍِﻟٰﻪٌ ﻏَﻴْﺮُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ Atau, seperti kaum Majusi yang membayangkan dua ilah terpisah dengan nama khâliq kebaikan dan khâliq keburukan; seperti pemuja asbab dan berhala, yang memberikan suatu macam keilahian kepada asbab yang berbeda dan membayangkannya sebagai sandaran bagi diri: apakah mereka bersandar pada ilah-ilah lain lalu melawanmu? Apakah mereka merasa tidak membutuhkanmu? Jadi, sesuai dengan ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ, mereka buta dan tidak melihat keteraturan yang paling sempurna serta keserasian yang paling indah, yang terlihat sejelas siang di seluruh alam ini. Padahal, jika ada dua pemimpin di satu desa, dua gubernur di satu kota, atau dua raja di satu negeri, keteraturan akan jungkir balik dan keserasian menjadi kacau. Namun, dari sayap lalat hingga lampu-lampu langit, keteraturan diperhatikan dengan begitu cermat sehingga tidak ditinggalkan tempat bagi syirik, bahkan sebesar sayap lalat. Karena mereka bertindak sejauh ini melawan akal dan hikmah serta bertentangan dengan indra dan kenyataan yang jelas, jangan biarkan dusta mereka membuatmu berhenti memberi peringatan.Di antara ratusan permata ayat-ayat yang merupakan rangkaian hakikat ini, kita hanya menjelaskan secara ringkas satu permata penjelasan tentang membungkam dan mengharuskan pengakuan. Seandainya aku mampu menunjukkan beberapa permata lagi, engkau pun akan berkata, "Ayat-ayat ini sendiri adalah mukjizat." Adapun penjelasan Al-Qur'an dalam membuat orang memahami dan mengajar begitu luar biasa, begitu halus dan lancar, sehingga orang awam yang paling sederhana dapat dengan mudah memahami hakikat terdalam dari penjelasannya. Ya, Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat menyampaikan dan mengajarkan banyak hakikat yang sulit dipahami dengan sederhana dan tampak jelas, dengan cara yang menyenangkan pandangan umum, tidak melukai perasaan umum, serta tidak mengganggu dan melelahkan pikiran orang awam. Sebagaimana ketika berbicara dengan anak digunakan ungkapan anak-anak, demikian pula gaya-gaya Al-Qur'an yang disebut تَنَزُّلَاتٌ ﺍِﻟٰﻬِﻴَّﺔٌ ﺍِﻟٰﻰ ﻋُﻘُﻮﻝِ ﺍﻟْﺒَﺸَﺮِ: dalam gaya tutur-Nya, Pembicara turun dengan kata-kata-Nya kepada tingkat lawan bicara dan berbicara demikian. Melalui sejumlah perumpamaan dan gambaran dalam bentuk mutasyabihat, ia membuat orang awam yang paling ummi memahami Hakikat-Hakikat Ilahi yang Sulit dipahami serta Rahasia-Rahasia Rabbani yang tidak dapat dicapai oleh pikiran filsuf yang paling luas ilmunya. Misalnya,