Risalah Nur — Bahasa Indonesia

SINAR KEDUA

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

ﺍَﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﺳْﺘَﻮٰﻯ Melalui perumpamaan, ia menunjukkan Rububiyah Ilahi dalam contoh kerajaan, serta tingkat Rububiyah-Nya dalam mengatur alam, seperti seorang sultan yang duduk di takhta kerajaan dan menjalankan pemerintahan. Ya, Al-Qur'an adalah Kalam Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Pencipta alam ini. Ia keluar dari tingkat Tertinggi Rububiyah-Nya, datang di atas semua tingkat, membimbing mereka yang naik ke tingkat-tingkat itu, melewati tujuh puluh ribu tirai, memandang serta menerangi tirai-tirai tersebut, dan membagikan limpahan serta menyebarkan cahayanya kepada ribuan lapisan penerima dengan pemahaman dan kecerdasan yang berbeda. Ia telah hidup melintasi masa dan zaman yang berlainan kemampuannya serta menyebarkan makna-maknanya dengan begitu berlimpah. Meski demikian, kemudaannya yang sempurna tidak berkurang sedikit pun; ia tetap amat segar dan sangat halus. Dengan cara yang amat mudah, yang tampak sederhana tetapi tak dapat ditiru, ia memberi pelajaran yang dapat dipahami setiap orang awam. Pada pelajaran yang sama, dengan kata-kata yang sama, ia juga mengajar, meyakinkan, dan memuaskan banyak lapisan yang berbeda pemahaman serta tingkatnya. Dari sisi mana pun kitab yang menunjukkan mukjizat ini diperhatikan, tentu akan terlihat suatu kilau i'jaz. ~Kesimpulannya:

Ketika kata Al-Qur'an seperti "Alhamdulillah" dibaca, sebagaimana ia memenuhi gua yang merupakan telinga gunung, kata yang sama juga masuk sepenuhnya ke telinga lalat yang sangat kecil. Demikian pula, sebagaimana makna-makna Al-Qur'an memuaskan akal sebesar gunung, dengan kata-kata yang sama ia juga mengajar dan memuaskan akal yang kecil serta sederhana seperti lalat. Sebab, Al-Qur'an mengajak semua lapisan seluruh manusia dan jin kepada iman. Ia juga mengajarkan serta membuktikan ilmu-ilmu iman kepada semuanya. Maka, orang awam yang paling ummi akan duduk dengan bahu sejajar dan lutut berdekatan dengan orang khusus yang paling tinggi, bersama mendengarkan pelajaran Al-Qur'an dan mengambil manfaat. Jadi, Al-Qur'an Al-Karim adalah hidangan dari langit: pikiran, akal, hati, dan ruh dari ribuan lapisan yang berbeda menemukan makanannya dan mengambil yang mereka inginkan dari meja itu. Keinginan mereka terpenuhi. Bahkan, banyak pintunya tetap tertutup dan ditinggalkan bagi mereka yang akan datang kelak. Jika engkau menginginkan contoh untuk maqam ini, seluruh Al-Qur'an dari awal hingga akhir adalah contohnya. Ya, semua murid Al-Qur'an dan pendengar pelajarannya, seperti para mujtahid, orang-orang yang teguh dalam kebenaran, para ahli hikmah Islam, penyelidik hakikat, ulama usul fikih, ahli ilmu kalam, wali yang mengenal Allah subhânahu, para pemuka yang mencintai-Nya, ulama yang teliti, dan kaum Muslimin awam, sepakat berkata, "Kami memahami pelajaran kami dengan baik." Kesimpulannya,

seperti pada maqam-maqam lain, kilau-kilau i'jaz Al-Qur'an juga bersinar pada maqam membuat orang memahami dan mengajar.

SINAR KEDUA

Cakupan Al-Qur'an yang luar biasa dan menyeluruh.

Sinar ini memiliki lima Kilau. KILAU PERTAMA: Cakupan menyeluruh dalam kata-katanya. Tentu, cakupan ini tampak jelas dari ayat-ayat yang disebutkan dalam Kalimat-Kalimat terdahulu maupun Kalimat ini. Ya, sebagaimana ditunjukkan oleh hadis ﻟِﻜُﻞِّ ﺍٰﻳَﺔٍ ﻇَﻬْﺮٌ ﻭَﺑَﻄْﻦٌ ﻭَﺣَﺪٌّ ﻭَﻣُﻄَّﻠَﻊٌ ﴾ﻭَ ﻟِﻜُﻞٍّ ﺷُﺠُﻮﻥٌ ﻭَﻏُﺼُﻮﻥٌ ﻭَ ﻓُﻨُﻮﻥٌ﴿, kata-kata Al-Qur'an ditempatkan sedemikian rupa sehingga setiap tuturan, bahkan setiap kata, bahkan setiap huruf, bahkan terkadang satu diam, memiliki banyak segi makna. Ia memberi setiap penerimanya bagian masing-masing melalui pintu yang berbeda. Misalnya,

ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ, yakni "Aku menjadikan gunung-gunung sebagai pasak dan tiang bagi bumi kalian," adalah satu tuturan. Bagian orang awam dari tuturan ini: ia melihat gunung yang tampak seperti pasak tertancap di tanah, memikirkan manfaat dan nikmat di dalamnya, lalu bersyukur kepada Khâliq-nya. Bagian seorang penyair: ia membayangkan bumi sebagai lantai, kubah langit sebagai tenda megah yang hijau dan berhias lampu listrik di atasnya, serta gunung-gunung yang terlihat dalam lingkaran cakrawala di pangkal tepi langit sebagai pasak tenda itu. Dengan takjub, ia menyembah Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang menciptakannya. Bagian seorang sastrawan penghuni tenda: ia membayangkan permukaan bumi sebagai gurun dan padang, serta rangkaian gunung sebagai banyak tenda Badui yang sangat beragam. Seakan lapisan tanah dibentangkan di atas tiang-tiang tinggi, dan ujung runcing tiang itu mengangkat tirai tanah tersebut sebagai tempat tinggal banyak makhluk berbeda yang saling berhadapan. Ia bersujud dengan takjub kepada Sang Fâthir Dzul-Jalâl yang dengan mudah mendirikan dan menempatkan makhluk-makhluk besar serta megah itu di muka bumi seperti tenda. Bagian seorang sastrawan ahli geografi: ia memikirkan bola bumi sebagai kapal yang mengapung di lautan udara atau eter, dan gunung-gunung sebagai pasak serta tiang yang ditancapkan pada kapal itu untuk meneguhkan dan menyeimbangkannya. Kepada Sang Qadîr Dzul-Kamâl, yang membuat bola bumi besar itu seperti kapal teratur, menempatkan kita di dalamnya, dan membawa kita berkeliling penjuru alam, ia mengucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﻋْﻈَﻢَ ﺷَﺎْﻧَﻚَ. Bagian seorang ahli hikmah yang pakar peradaban dan kehidupan masyarakat: ia memahami bumi sebagai rumah; tiang rumah itu adalah kehidupan hewan; tiang kehidupan hewan adalah air, udara, dan tanah, yang menjadi syarat hidup. Tiang dan pasak air, udara, dan tanah adalah gunung-gunung. Sebab, gunung merupakan gudang air, sisir udara—mengendapkan gas berbahaya dan membersihkan udara—pelindung tanah—menjaganya dari rawa dan serbuan laut—serta khazanah kebutuhan hidup manusia lainnya. Dengan penuh penghormatan, ia memuji Sang Pembuat Dzul-Jalâli wal-Ikrâm yang menjadikan gunung-gunung besar itu sebagai tiang bumi, rumah kehidupan kita, dan menetapkannya sebagai penjaga khazanah nafkah kita. Bagian seorang filsuf ilmu alam: ia memahami bahwa gempa dan getaran yang muncul sebagai hasil sejumlah perubahan serta percampuran di dalam perut bumi menjadi tenang dengan munculnya gunung. Keluarnya gunung menyebabkan bumi tetap stabil pada orbit dan porosnya, serta tidak keluar dari orbit tahunan akibat guncangan gempa. Ia memahami pula bahwa amarah dan geram bumi menjadi tenang dengan bernapas melalui lubang-lubang gunung. Ia sepenuhnya beriman dan mengucapkan ﺍَﻟْﺤِﻜْﻤَﺔُ ﻟِﻠّٰﻪِ. Misalnya,

Dalam ﺍَﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضَ ﻛَﺎﻧَﺘَﺎ ﺭَﺗْﻘًﺎ ﻓَﻔَﺘَﻘْﻨَﺎﻫُﻤَﺎ, kata ﺭَﺗْﻘًﺎ memberi seorang ulama yang tidak tercemar kajian filsafat pemahaman berikut: langit jernih tanpa awan; bumi kering tanpa kehidupan dan tidak mampu menumbuhkan. Membuka langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan hijau, lalu menciptakan semua makhluk hidup dari air itu melalui suatu bentuk perkawinan serta pembuahan, merupakan Pekerjaan Sang Qadîr Dzul-Jalâl. Muka bumi hanyalah kebun kecil-Nya, dan awan, penutup wajah langit, adalah spons di kebun-Nya. Ia memahami dan bersujud kepada Keagungan Kudrat-Nya. Kata itu memberi seorang ahli hikmah yang menyelidiki hakikat pemahaman berikut: pada awal penciptaan, langit dan bumi masing-masing merupakan gumpalan tanpa bentuk, adonan basah yang tidak bermanfaat, bahan terkumpul tanpa anak dan makhluk. Sang Fâthir Yang Hakîm membuka dan membentangkannya, memberi bentuk indah serta rupa yang bermanfaat, dan menjadikannya sumber makhluk yang berhias serta banyak. Ia memahami dan takjub akan luasnya Hikmah-Nya. Kepada filsuf zaman baru, kata ini memberi pemahaman berikut: bola bumi kita dan planet-planet lain yang membentuk tata surya, pada awalnya bercampur dengan matahari sebagai adonan yang belum terbuka. Sang Qadîr yang Qayyûm membuka adonan itu, menempatkan planet satu per satu di tempatnya, meninggalkan matahari di sana, membawa bumi kita ke sini, menghamparkan tanah pada bumi, menurunkan hujan dari arah langit, menebarkan cahaya dari matahari, menghidupkan suasana dunia, lalu menempatkan kita di dalamnya. Ia memahami, mengangkat kepalanya dari rawa tabiat, dan mengucapkan ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِ الْاَحَدِ. Misalnya,

"Lam" dalam ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻟِﻤُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ ﻟَﻬَﺎ mengungkapkan maknanya sendiri, makna "fi", serta makna "ila". Orang awam melihat "lam" pada ﻟِﻤُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ dalam makna "ila" dan memahami bahwa matahari, lampu bergerak yang menerangi serta menghangatkan kalian, tentu akan selesai perjalanannya pada suatu hari. Ia akan mencapai tempat menetapnya dan berubah ke dalam keadaan yang tidak lagi memberi manfaat bagi kalian. Dengan memikirkan nikmat-nikmat besar yang diikatkan Sang Khâliq Dzul-Jalâl kepada matahari, ia mengucapkan "Subhanallah, Alhamdulillah". Ia juga menunjukkan "lam" kepada seorang ulama dalam makna "ila". Namun, ulama itu membayangkan matahari bukan sekadar lampu, melainkan sekoci bagi kain Rabbani yang ditenun di alat tenun musim semi dan musim panas, serta tinta dan tempat tinta bercahaya bagi surat-surat Allah subhânahu Yang Samad yang ditulis pada halaman malam dan siang. Dengan memikirkan keteraturan alam yang ditandai dan ditunjukkan oleh gerak lahiriah matahari, ia berkata "Masyaallah" bagi Karya Sang Pembuat yang Hakîm, "Barakallah" bagi Hikmah-Nya, lalu bersujud. Kepada filsuf ahli ilmu susunan langit, ia menjelaskan "lam" dalam makna "fi": matahari, di pusat dan porosnya sendiri, bergerak seperti pegas, mengatur serta menggerakkan tata suryanya atas Perintah Ilahi. Kepada Sang Pembuat Dzul-Jalâl yang menciptakan dan mengatur jam besar seperti itu, ia mengucapkan ﺍَﻟْﻌَﻈَﻤَﺔُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَ ﺍﻟْﻘُﺪْﺭَﺓُ ﻟِﻠّٰﻪِ dengan amat takjub dan kagum, meninggalkan filsafat, lalu masuk ke dalam hikmah Al-Qur'an. Kepada seorang ahli hikmah yang teliti, ia menunjukkan "lam" sekaligus dalam makna sebab dan tempat, lalu memberi pemahaman berikut: "Karena Sang Pembuat yang Hakîm menjadikan sebab-sebab lahiriah sebagai tirai bagi Pekerjaan-Nya, dengan Hukum Ilahi bernama gravitasi umum, Dia mengikat planet-planet kepada matahari seperti batu umban. Dengan daya tarik itu, Dia memutar planet-planet dalam lingkup Hikmah-Nya dengan gerakan berbeda tetapi teratur. Untuk menimbulkan daya tarik itu, Dia menjadikan gerakan matahari pada pusatnya sendiri sebagai sebab lahiriah. Jadi, makna ﻟِﻤُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ adalah ﻓ۪ﻰ ﻣُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ ﻟَﻬَﺎ لِاِسْتِقْرَارِ ﻣَﻨْﻈُﻮﻣَﺘِﻬَﺎ; yakni, ia bergerak di tempat menetapnya sendiri demi kestabilan dan keteraturan tata suryanya. Sebab, seolah gerak secara lahiriah menimbulkan panas, panas menimbulkan daya, dan daya menimbulkan daya tarik, sesuai Kebiasaan Ilahi dan Hukum Rabbani." Ketika memahami hikmah seperti ini dari satu huruf Al-Qur'an, ahli hikmah itu berkata, "Alhamdulillah, hikmah sejati ada dalam Al-Qur'an. Filsafat tak kuanggap bernilai lima para pun."Seorang yang memiliki pikiran dan hati puitis memahami makna berikut dari "lam" dan menetapnya itu: "Matahari adalah pohon bercahaya. Planet-planet adalah buahnya yang bergerak. Berbeda dari pohon-pohon lain, matahari mengguncangkan diri agar buah-buah itu tidak jatuh. Jika tidak mengguncangkan diri, semuanya akan jatuh dan tercerai." Ia juga dapat membayangkan, "Matahari adalah pemimpin zikir yang terpikat. Di pusat lingkaran zikir, ia berzikir dengan daya tarik dan membuat yang lain berzikir." Dalam sebuah risalah, tentang makna ini aku pernah berkata, "Ya, matahari adalah pohon berbuah; ia mengguncangkan diri agar buah-buahnya yang bergerak tidak jatuh. Jika diam dan tenang, daya tarik pun pergi; mereka yang terpikat dan teratur itu menangis di ruang langit." Juga, misalnya,

Dalam ﺍُﻭﻟٰٓﺌِﻚَ ﻫُﻢُ ﺍﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ terdapat diam dan makna yang tidak dibatasi. Tidak ditentukan mereka akan berhasil memperoleh apa, agar setiap orang dapat menemukan yang diinginkannya di dalamnya. Ia mengatakan sedikit agar maknanya panjang. Sebab, tujuan sebagian penerima adalah selamat dari api. Sebagian hanya memikirkan surga. Sebagian menginginkan kebahagiaan abadi. Sebagian hanya memohon Rida Ilahi. Sebagian menjadikan memandang Allah subhânahu sebagai tujuan harapannya, dan seterusnya. Seperti ini, di banyak tempat Al-Qur'an membiarkan tuturan tidak dibatasi agar mencakup semuanya. Ia tidak menyebutkan sesuatu agar mengungkapkan banyak makna. Ia mempersingkat agar setiap orang mendapat bagian. Ia berkata ﺍَﻟْﻤُﻔْﻠِﺤُﻮﻥَ, tanpa menentukan mereka akan memperoleh keselamatan dalam hal apa. Seakan dengan diam itu ia berkata, "Wahai kaum Muslimin! Kabar gembira bagi kalian. Wahai orang yang bertakwa! Engkau akan selamat dari neraka. Wahai orang saleh! Engkau akan berhasil mencapai surga. Wahai ahli makrifat! Engkau akan mencapai Rida Ilahi. Wahai orang yang mencintai! Engkau akan mendapat anugerah memandang-Nya," dan seterusnya. Dari ribuan contoh cakupan menyeluruh Al-Qur'an dari segi kata-katanya, kita hanya memberi satu contoh masing-masing bagi tuturan, kata, huruf, dan diam. Engkau dapat membandingkan ayat dan kisah dengan contoh-contoh ini. Misalnya,

Ayat ﻓَﺎﻋْﻠَﻢْ ﺍَﻧَّﻪُ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻭَﺍﺳْﺘَﻐْﻔِﺮْ ﻟِﺬَﻧْﺒِﻚَ memiliki begitu banyak segi makna dan begitu banyak tingkat, sehingga semua lapisan wali, di seluruh perjalanan ruhani dan tingkat mereka, melihat kebutuhan mereka akan ayat ini dan mengambil makanan ruhani serta makna segar yang sesuai dengan tingkat masing-masing. Sebab, "Allah" subhânahu adalah Nama yang menyeluruh; di dalamnya terdapat tauhid-tauhid sebanyak Asmaul Husna. ﺍَﻯْ لَا ﺭَﺯَّﺍﻕَ اِلَّا ﻫُﻮَ ٭ لَا ﺧَﺎﻟِﻖَ اِلَّا ﻫُﻮَ ٭ لَا ﺭَﺣْﻤٰﻦَ اِلَّا ﻫُﻮَ, dan seterusnya. Juga, misalnya,

Di antara kisah-kisah Al-Qur'an, kisah Musa 'alaihis-salâm, seperti tongkat Musa 'alaihis-salâm, memiliki ribuan manfaat. Kisah itu mempunyai banyak tujuan dan segi makna, seperti menenangkan serta menghibur Nabi ﷺ, mengancam orang-orang kafir, mengecam orang munafik, serta menegur orang Yahudi. Karena itu, ia diulang dalam surah-surah. Di setiap tempat, bersama mengungkapkan semua tujuan, hanya satu yang menjadi tujuan utama, sementara yang lain mengikutinya. ~Jika engkau berkata:

Bagaimana kita mengetahui bahwa Al-Qur'an menghendaki dan menunjukkan semua makna dalam contoh-contoh terdahulu? ~Jawaban:

Karena Al-Qur'an adalah Khutbah Azali dan menyapa serta mengajar seluruh anak Adam yang duduk berbaris dalam lapisan-lapisan berbeda sepanjang zaman dan sesudahnya, tentu ia akan memuat serta menghendaki banyak makna sesuai beragam pemahaman itu, dan menempatkan tanda-tanda bagi maksudnya. Ya, dalam İşaratü'l-İ'caz, banyak makna kata-kata Al-Qur'an seperti makna-makna di sini telah dibuktikan dengan kaidah ilmu saraf dan nahwu, dasar ilmu bayan dan makna, serta hukum balagah. Bersama itu, semua segi dan makna yang benar menurut ilmu bahasa Arab dan haq menurut dasar-dasar agama, diterima dalam ilmu makna, sesuai dalam ilmu bayan, serta indah dalam balagah, termasuk makna-makna Al-Qur'an, menurut ijmak para ahli ijtihad, tafsir, usul agama, dan usul fikih, serta kesaksian perbedaan pendapat mereka. Ia menempatkan tanda bagi makna-makna itu sesuai tingkat masing-masing. Tandanya berupa kata atau makna. Tanda berupa makna berasal dari tuturan sebelum atau sesudahnya, atau dari ayat lain yang menunjukkan makna itu. Ratusan ribu tafsir yang ditulis oleh para penyelidik hakikat, sebagian berjumlah dua puluh, tiga puluh, empat puluh, enam puluh, bahkan delapan puluh jilid, merupakan bukti terang yang pasti bagi cakupan menyeluruh serta keajaiban kata-kata Al-Qur'an. Bagaimanapun... Jika dalam Kalimat ini kita menunjukkan tanda setiap makna beserta hukum dan kaidahnya, pembicaraan akan amat panjang. Karena itu, kita mempersingkat dan sebagian merujuk kepada İşaratü'l-İ'caz. KILAU KEDUA: Cakupan menyeluruh yang luar biasa dalam maknanya. Ya, Al-Qur'an memberi semua mujtahid sumber rujukannya, semua ahli makrifat cita rasanya, semua yang telah mencapai tujuan corak ruhaninya, semua insan yang sempurna jalannya, dan semua penyelidik hakikat mazhabnya, dari khazanah maknanya. Bersama itu, ia selalu menjadi penuntun mereka dan pembimbing setiap saat dalam kemajuan mereka, menyebarkan cahaya ke jalan mereka dari khazanahnya yang tak habis. Hal ini dibenarkan dan disepakati oleh mereka semua. KILAU KETIGA: Cakupan menyeluruh yang luar biasa dalam ilmunya. Ya, sebagaimana Al-Qur'an mengalirkan banyak dan beragam ilmu syariat, berbagai ilmu hakikat yang melimpah, serta beragam ilmu tarekat yang tak terhingga dari lautan ilmunya, ia juga mengalirkan secara teratur dan melimpah hikmah sejati lingkup segala yang mungkin ada, ilmu-ilmu sejati tentang lingkup Wujud yang niscaya, serta pengetahuan yang sulit dipahami tentang lingkup akhirat dari lautan itu. Jika contoh diberikan bagi Kilau ini, perlu ditulis satu jilid.Maka, sebagai contoh saja, kita menunjukkan dua puluh lima Kalimat ini. Ya, semua hakikat yang benar dalam seluruh dua puluh lima Kalimat hanyalah dua puluh lima tetes dari lautan ilmu Al-Qur'an. Jika terdapat kekurangan dalam Kalimat-Kalimat itu, kekurangan tersebut berasal dari pemahamanku yang terbatas. KILAU KEEMPAT: Cakupan menyeluruh yang luar biasa dalam pembahasannya. Bersama mengumpulkan pembahasan menyeluruh tentang manusia dan tugasnya, alam dan Khâliq alam, bumi dan langit, dunia dan akhirat, masa lalu dan masa depan, azali dan abadi, ia menjelaskan semua pembahasan dasar serta penting: dari penciptaan dari setetes mani hingga masuk kubur; dari adab makan dan tidur hingga pembahasan qada dan takdir; dari penciptaan alam dalam enam hari hingga tugas angin yang bertiup, yang ditunjukkan oleh sumpah-sumpah وَالْمُرْسَلَاتِ ٭ ﻭَﺍﻟﺬَّﺍﺭِﻳَﺎﺕِ; dari Campur Tangan-Nya dalam hati dan kehendak manusia, sesuai petunjuk ﻭَﻣَﺎ ﺗَﺸَٓﺎﺅُﻥَ اِلَّٓا ﺍَﻥْ ﻳَﺸَٓﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ٭ ﻳَﺤُﻮﻝُ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻤَﺮْﺀِ ﻭَﻗَﻠْﺒِﻪ۪, hingga ﻭَﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﻣَﻄْﻮِﻳَّﺎﺕٌ ﺑِﻴَﻤ۪ﻴﻨِﻪ۪, yakni menggenggam seluruh langit dalam satu Genggaman-Nya; dari bunga, anggur, dan kurma bumi dalam ﻭَﺟَﻌَﻠْﻨَﺎ ﻓ۪ﻴﻬَﺎ ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﻣِﻦْ ﻧَﺨ۪ﻴﻞٍ ﻭَﺍَﻋْﻨَﺎﺏٍ hingga hakikat menakjubkan yang diungkapkan oleh ﺍِﺫَﺍ ﺯُﻟْﺰِﻟَﺖِ الْاَرْضُ ﺯِﻟْﺰَﺍﻟَﻬَﺎ; dari keadaan langit dalam ﺛُﻢَّ ﺍﺳْﺘَﻮٰٓﻯ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻭَﻫِﻰَ ﺩُﺧَﺎﻥٌ hingga terbelah dengan asap serta bintang-bintangnya jatuh dan tersebar di ruang yang tak terhingga; dari dunia dibuka untuk ujian hingga ditutup; dari kubur, tempat pertama akhirat, kemudian barzakh, kebangkitan, dan jembatan, hingga surga, hingga kebahagiaan abadi; dari peristiwa masa lalu, penciptaan tubuh Adam, pertengkaran kedua putranya, hingga banjir besar, tenggelamnya kaum Firaun, dan peristiwa-peristiwa penting sebagian besar nabi; serta dari peristiwa azali yang ditunjukkan ﺍَﻟَﺴْﺖُ ﺑِﺮَﺑِّﻜُﻢْ hingga peristiwa abadi yang diungkapkan ﻭُﺟُﻮﻩٌ ﻳَﻮْﻣَﺌِﺬٍ ﻧَﺎﺿِﺮَﺓٌ ٭ ﺍِﻟٰﻰ ﺭَﺑِّﻬَﺎ ﻧَﺎﻇِﺮَﺓٌ. Ia menjelaskannya dengan cara yang layak bagi Zat Dzul-Jalâl, yang mengatur seluruh alam seperti istana, membuka dan menutup dunia serta akhirat seperti dua kamar, mengatur bumi seperti taman dan langit seperti atap berhias lampu, serta memandang masa lalu dan masa depan seperti malam dan siang, sebagai dua halaman yang hadir di hadapan Pandangan-Nya. Dia memandang azali dan abadi seperti kemarin dan hari ini, sebagai waktu yang hadir, dengan kedua ujung rangkaian Syuunat saling bertemu dan terhubung. Sebagaimana seorang ahli bangunan membicarakan dua rumah yang dibangun dan dikelolanya,ia membuat rencana kerja, daftar, dan indeks pekerjaannya. Demikian pula, Al-Qur'an memiliki gaya yang layak bagi penjelasan Zat yang membuat serta mengatur alam ini, dan menulis serta menunjukkan daftar dan indeks Pekerjaan-Nya—jika istilah ini dapat dipakai, Rencana kerja-Nya. Sama sekali tidak terlihat tanda dibuat-buat atau dipaksakan. Tidak ada noda meniru, ataupun tanda tipu daya seperti berbicara atas nama orang lain dan membayangkan diri berada di tempatnya. Sebagaimana cahaya siang berkata, "Aku datang dari matahari," demikian pula Al-Qur'an, dengan seluruh kesungguhan, kemurnian, dan ketulusannya serta penjelasannya yang bersih, jernih, dan terang, berkata, "Aku adalah Penjelasan dan Kalam Khâliq alam." Ya, selain Sang Pembuat dan Sang Mun'im—yang menghias dunia dengan karya-karya seni luar biasa, memenuhinya dengan nikmat yang lezat, serta dengan perhatian kepada karya dan nikmat menebarkan keajaiban Karya-Nya yang begitu banyak dan nikmat-Nya yang begitu berharga di wajah dunia, mengaturnya berbaris, menghamparkannya di bumi, dan menyusunnya dengan indah—, bagi siapa Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat—yang memenuhi dunia dengan gemuruh penghargaan dan kekaguman serta lantunan pujian dan syukur, dan mengubah bumi menjadi tempat zikir, masjid, dan tempat menyaksikan Karya Ilahi—itu layak, dan Kalam siapa ia dapat menjadi? Siapa selain Dia dapat mengakuinya sebagai miliknya? Ucapan siapa ia dapat menjadi selain Ucapan-Nya? Cahaya yang menerangi dunia layak bagi apa selain matahari? Penjelasan Al-Qur'an, yang menyingkap rahasia alam dan meneranginya, dapat menjadi cahaya siapa selain Sang Matahari Azali? Siapa yang mampu mendatangkan tandingannya atau membuat tiruannya? Ya, mustahil Sang Seniman yang menghias dunia dengan karya-karya-Nya tidak berbicara dengan manusia yang mengagumi Karya-Nya. Karena Dia membuat dan mengetahui, tentu Dia berbicara. Karena Dia berbicara, tentu Al-Qur'anlah yang layak bagi Pembicaraan-Nya. Bagaimana Sang Mâlikul-Mulk, yang tidak mengabaikan susunan satu bunga pun, mengabaikan tuturan yang membuat seluruh Kerajaan-Nya bergemuruh? Apakah Dia akan menganggapnya milik orang lain dan merendahkannya menjadi tidak berarti? KILAU KELIMA: Cakupan menyeluruh yang luar biasa dalam gaya dan ringkasnya Al-Qur'an. Di sini terdapat lima Cahaya. Cahaya Pertama: Gaya Al-Qur'an memiliki cakupan yang begitu menakjubkan sehingga satu surah memuat lautan Al-Qur'an yang meliputi alam. Satu ayat memuat khazanah surah itu. Sebagian besar ayat masing-masing merupakan surah kecil, dan sebagian besar surah masing-masing merupakan Al-Qur'an kecil.Dari cara ringkas yang menunjukkan i'jaz ini lahir Karunia bimbingan yang besar dan kemudahan yang indah. Sebab, meski setiap orang membutuhkan Al-Qur'an setiap saat, ada yang tidak membaca seluruh Al-Qur'an setiap saat karena kurang cerdas atau sebab lain, atau tidak menemukan waktu serta kesempatan untuk membacanya. Agar orang-orang ini tidak kehilangan bagian dari Al-Qur'an, setiap surah menjadi seperti Al-Qur'an kecil, bahkan setiap ayat panjang menjadi seperti surah pendek. Bahkan, ahli kasyaf sepakat bahwa Al-Qur'an terkandung dalam Al-Fatihah, dan Al-Fatihah dalam basmalah. Bukti hakikat ini adalah ijmak para penyelidik hakikat. Cahaya Kedua: Melalui makna dan petunjuknya, ayat-ayat Al-Qur'an mencakup semua lapisan tuturan, pengetahuan sejati, dan kebutuhan manusia: perintah dan larangan; janji dan ancaman; dorongan dan peringatan; larangan keras dan bimbingan; kisah dan perumpamaan; hukum, pengetahuan Ilahi, dan ilmu tentang alam; serta hukum dan syarat kehidupan pribadi, masyarakat, hati, ruhani, dan akhirat. Bersama itu, makna yang diungkapkan ﺧُﺬْ ﻣَﺎ ﺷِﺌْﺖَ ﻟِﻤَﺎ ﺷِﺌْﺖَ, yakni "Ambillah apa pun yang engkau inginkan dari Al-Qur'an untuk segala hal yang engkau inginkan," diterima sebagai begitu benar sehingga menjadi peribahasa di antara para ahli hakikat. Ayat-ayat Al-Qur'an memiliki cakupan menyeluruh sehingga dapat menjadi obat setiap derita dan makanan setiap kebutuhan. Ya, memang harus demikian. Sebab, penuntun mutlak bagi semua lapisan insan yang sempurna, yang terus melewati tingkat-tingkat dalam kemajuan, tentu harus memiliki sifat ini. Cahaya Ketiga: Ringkasnya Al-Qur'an yang menunjukkan i'jaz. Terkadang ia menyebutkan kedua ujung rangkaian panjang dengan cara yang memperlihatkan rangkaian itu dengan indah. Terkadang pula ia memasukkan banyak bukti suatu pernyataan ke dalam satu kata, secara jelas, melalui petunjuk, isyarat tersembunyi, atau kilasan makna. Misalnya,

Dalam ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ, dengan menyebutkan awal dan akhir rangkaian penciptaan alam, yang membentuk rangkaian tanda dan bukti Keesaan, ia menunjukkan rangkaian kedua dan membuat rangkaian pertama terbaca. Ya, tingkat pertama halaman-halaman alam yang bersaksi bagi Sang Pembuat yang Hakîm adalah penciptaan awal langit dan bumi. Kemudian, langit dihias dengan bintang dan bumi diramaikan oleh makhluk hidup; lalu matahari serta bulan ditundukkan dan musim-musim berganti; lalu rangkaian Syuunat dalam perbedaan serta pergantian malam dan siang. Demikian seterusnya, sampai ciri khusus, perbedaan, dan keunikan wajah serta suara, tempat yang paling luas tersebarnya hal-hal yang banyak. Karena pada keunikan wajah setiap orang, yang paling jauh dari keteraturan dan paling mungkin dimasuki kebetulan, terdapat keteraturan penuh hikmah yang menakjubkan, serta ditunjukkan bahwa Pena Sang Hakîm yang amat Terampil berkarya bekerja di atasnya, tentu halaman-halaman lain yang keteraturannya jelas akan dipahami dengan sendirinya dan menunjukkan Sang Penghias-nya. Karena Karya dan Hikmah terlihat dalam penciptaan awal langit dan bumi yang besar, tentu jejak Karya dan corak Hikmah Sang Pembuat, yang meletakkan langit serta bumi dengan Hikmah sebagai batu dasar bangunan istana alam, sangat jelas pada bagian-bagian lainnya. Dengan menampakkan yang tersembunyi dan menyembunyikan yang tampak, ayat ini membuat tuturan amat indah dan ringkas. Sungguh, rangkaian bukti dari ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺣ۪ﻴﻦَ ﺗُﻤْﺴُﻮﻥَ hingga ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ ﻭَﻫُﻮَ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ, yang enam kali diawali ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪, adalah rangkaian permata, rangkaian cahaya, rangkaian i'jaz, serta rangkaian ungkapan ringkas yang menunjukkan i'jaz. Hatiku ingin memperlihatkan berlian-berlian yang tersembunyi dalam khazanah ini. Namun, apa yang dapat kulakukan? Maqam ini tidak memuatnya. Aku menundanya ke waktu lain dan kini tidak membuka pintu itu. Juga, misalnya,

ﻓَﺎَﺭْﺳِﻠُﻮﻥِ ٭ ﻳُﻮﺳُﻒُ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﺼِّﺪّ۪ﻳﻖُ ﻓَﺎَﺭْﺳِﻠُﻮﻥِ Di antara tuturan terakhir yang dikutip di atas dan kata ﻳُﻮﺳُﻒُ terdapat kalimat-kalimat berikut: ﺍِﻟٰﻰ ﻳُﻮﺳُﻒَ لِاَسْتَعْبَرَ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺮُّﺅْﻳَﺎ ﻓَﺎَﺭْﺳَﻠُﻮﻩُ ﻓَﺬَﻫَﺐَ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﺴِّﺠْﻦِ ﻭَ ﻗَﺎﻝَ ﻳُﻮﺳُﻒُ. Jadi, meski merangkum lima kalimat dalam satu kalimat dan mempersingkatnya, ia tidak merusak kejelasan serta tidak mempersulit pemahaman. Juga, misalnya,

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺟَﻌَﻞَ ﻟَﻜُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺸَّﺠَﺮِ الْاَخْضَرِ ﻧَﺎﺭًﺍ Terhadap penyangkalan manusia yang membangkang, yang seolah menantang, "Siapa yang akan menghidupkan tulang-tulang lapuk?", Al-Qur'an berkata, "Yang menciptakannya pada awalnya, Dialah yang akan menghidupkannya. Zat yang menciptakan itu mengetahui setiap hal dalam setiap keadaannya. Zat yang mengeluarkan api dari pohon hijau bagi kalian juga dapat memberi kehidupan kepada tulang yang lapuk." Tuturan ini mengarah kepada pernyataan tentang menghidupkan kembali dari banyak sisi dan membuktikannya. Pertama, dengan tuturan ini ia memulai, menggerakkan, dan mengingatkan rangkaian Karunia-Nya kepada manusia. Karena dijelaskan secara terperinci dalam ayat-ayat lain, ia mempersingkat dan menyerahkannya kepada akal. Yakni, sebagaimana Zat itu memberi kalian buah serta api dari pohon, makanan serta biji-bijian dari rumput, hewan serta tumbuhan dari tanah, Dia juga menjadikan bumi sebagai buaian yang menyenangkan dengan semua makanan kalian di dalamnya, dan alam sebagai istana indah yang memuat semua perlengkapan kalian. Kalian tidak dapat lari dari-Nya, dibiarkan bebas, menuju keadaan tidak ada, lalu bersembunyi. Kalian tidak dapat bebas dari tugas, masuk kubur, dan berbaring nyaman tanpa dibangunkan. Kemudian, ia menunjukkan satu dalil pernyataan itu. Dengan kata ﺍَﻟﺸَّﺠَﺮِ الْاَخْضَرِ, melalui isyarat tersembunyi ia berkata, "Wahai manusia yang menyangkal kebangkitan! Lihatlah pohon-pohon! Kudrat Zat yang pada musim semi menghidupkan dan menghijaukan pohon-pohon tak terhingga yang pada musim dingin seperti tulang mati, bahkan menunjukkan pada setiap pohon tiga contoh kebangkitan dari segi daun, bunga, dan buah, tidak dapat ditantang dengan penyangkalan dan anggapan bahwa kebangkitan itu sulit terjadi." Lalu, ia menunjukkan dalil lain dan berkata, "Bagaimana kalian menganggap sulit terjadinya pemberian kehidupan seperti api dan kesadaran seperti cahaya kepada tulang seperti kayu oleh Zat yang mengeluarkan bahan halus, ringan, dan bercahaya seperti api dari bahan padat, berat, dan gelap seperti pohon?" Kemudian, ia menyatakan dalil lain dengan jelas dan berkata, "Zat yang menciptakan api ketika dua ranting pohon terkenal yang menghasilkan api sebagai pengganti korek bagi orang Badui digesekkan saat masih hijau, menyatukan dua sifat yang berlawanan—hijau dengan basahnya dan kering dengan panasnya—serta menjadikan yang satu sumber bagi yang lain. Dengan ini, Dia menunjukkan bahwa setiap hal, bahkan unsur-unsur asli dan sifat-sifat dasar, menanti Perintah-Nya dan bergerak dengan Kekuatan-Nya; tidak ada yang dibiarkan bebas lalu bergerak menurut sifatnya sendiri. Tidak patut dianggap sulit terjadinya pengeluaran kembali dari tanah manusia yang dibuat dari tanah dan kemudian kembali ke tanah oleh Zat itu.Dia tidak ditantang dengan pemberontakan." Kemudian, ia mengingatkan pohon Musa 'alaihis-salâm yang terkenal; pernyataan Ahmad ﷺ ini juga merupakan pernyataan Musa 'alaihis-salâm. Dengan mengisyaratkan secara tersembunyi kesepakatan para nabi, ia menambah kehalusan pada ringkasnya kata tersebut. Cahaya Keempat: Ringkasnya Al-Qur'an begitu menyeluruh dan luar biasa sehingga, jika diperhatikan, terkadang ia seolah memperlihatkan lautan dalam kendi. Demi kasih kepada pemahaman sederhana dan awam, ia menunjukkan dasar-dasar menyeluruh serta hukum-hukum umum yang amat luas dan panjang melalui satu bagian sederhana atau peristiwa khusus. Dari ribuan contoh, kita hanya menunjukkan dua. Contoh Pertama:

Tiga ayat yang dijelaskan secara terperinci dalam Maqam Pertama Kalimat Kedua Puluh: dengan sebutan Ta'lîmul-Asmâ yang diberikan kepada pribadi Adam, ayat-ayat itu mengungkapkan pengajaran seluruh ilmu dan sains yang diilhamkan kepada umat manusia. Melalui peristiwa malaikat bersujud kepada Adam dan setan tidak bersujud, ayat-ayat itu mengungkapkan bahwa sebagaimana sebagian besar makhluk, dari ikan hingga malaikat, ditundukkan bagi manusia, makhluk berbahaya dari ular hingga setan juga tidak menaatinya dan memusuhinya. Melalui kaum Musa (as) menyembelih seekor sapi, ayat-ayat itu mengungkapkan bahwa gagasan pemujaan sapi yang diambil dari pemujaan sapi Mesir dan menunjukkan pengaruhnya dalam peristiwa "anak sapi" dipotong oleh pisau Musa 'alaihis-salâm. Melalui sebutan air keluar dari batu, sungai mengalir, dan batu tercerai serta berguling, ayat-ayat itu mengungkapkan bahwa lapisan batu di bawah lapisan tanah menjaga khazanah urat-urat air dan menjadi ibu bagi tanah. Contoh Kedua:

Kalimat dan bagian kisah Musa 'alaihis-salâm yang sering diulang dalam Al-Qur'an: setiap kalimat, bahkan setiap bagian, diperlihatkan sebagai ujung suatu dasar menyeluruh dan mengungkapkan dasar tersebut. Misalnya, ﻳَﺎ ﻫَﺎﻣَﺎﻥُ ﺍﺑْﻦِ ﻟ۪ﻰ ﺻَﺮْﺣًﺎ. Firaun memerintahkan menterinya, "Bangunlah menara tinggi bagiku. Aku akan mengamati dan melihat keadaan langit. Dari keadaan langit, adakah ilah yang mengatur di langit sebagaimana dinyatakan Musa (as)?" Dengan kata ﺻَﺮْﺣًﺎ dan peristiwa yang juz'i ini, ia mengungkapkan dasar menakjubkan yang menguasai tradisi para Firaun Mesir: karena berada di gurun tanpa gunung, mereka merindukan gunung; karena tidak mengenal Khâliq, mereka memuja tabiat dan mengaku memiliki rububiyah; dengan menunjukkan karya kuasa paksanya, mereka mengabadikan nama; memuja kemasyhuran, mereka membangun piramida terkenal sebesar gunung; meyakini sihir dan perpindahan ruh ke tubuh lain, mereka membuat jenazah menjadi mumi dan menyimpannya dalam kubur sebesar gunung. Misalnya, ﻓَﺎﻟْﻴَﻮْﻡَ ﻧُﻨَﺠّ۪ﻴﻚَ ﺑِﺒَﺪَﻧِﻚَ. Dengan berkata kepada Firaun yang tenggelam, "Hari ini Aku akan menyelamatkan tubuhmu yang tenggelam," ia mengungkapkan suatu dasar hidup seluruh Firaun yang berlumur kematian dan memperlihatkan pelajaran: dengan membuat jenazah menjadi mumi berdasarkan gagasan perpindahan ruh ke tubuh lain, mereka mengambilnya dari masa lalu dan mengirimnya untuk diperlihatkan kepada keturunan yang akan datang. Bersama itu, ia mengungkapkan petunjuk gaib yang menunjukkan mukjizat, suatu kilau i'jaz, serta bahwa satu kata ini adalah mukjizat: tubuh yang pada zaman akhir ini ditemukan sebagai tubuh Firaun yang tenggelam itu akan dilemparkan dari lautan waktu, di atas gelombang zaman, ke pantai zaman ini, sebagaimana dilemparkan dari laut tempat tenggelamnya ke pantai. Juga, misalnya, ﻳُﺬَﺑِّﺤُﻮﻥَ ﺍَﺑْﻨَٓﺎﺀَﻛُﻢْ ﻭَﻳَﺴْﺘَﺤْﻴُﻮﻥَ ﻧِﺴَٓﺎﺀَﻛُﻢْ. Melalui sebutan peristiwa pada masa seorang Firaun, yaitu putra-putra Bani Israil disembelih dan perempuan serta anak perempuannya dibiarkan hidup, ia mengungkapkan banyak pembantaian yang dialami bangsa Yahudi di sebagian besar negeri pada setiap zaman, serta peran perempuan dan anak perempuan mereka dalam kehidupan manusia yang bejat.ﻭَﻟَﺘَﺠِﺪَﻧَّﻬُﻢْ ﺍَﺣْﺮَﺹَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻠٰﻰ ﺣَﻴٰﻮﺓٍ ٭ ﻭَﺗَﺮٰﻯ ﻛَﺜ۪ﻴﺮًﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻳُﺴَﺎﺭِﻋُﻮﻥَ ﻓِﻰ الْاِثْمِ ﻭَﺍﻟْﻌُﺪْﻭَﺍﻥِ ﻭَﺍَﻛْﻠِﻬِﻢُ ﺍﻟﺴُّﺤْﺖَ ﻟَﺒِﺌْﺲَ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳَﻌْﻤَﻠُﻮﻥَ ٭ ﻭَﻳَﺴْﻌَﻮْﻥَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻓَﺴَﺎﺩًﺍ ﻭَﺍﻟﻠّٰﻪُ لَا ﻳُﺤِﺐُّ ﺍﻟْﻤُﻔْﺴِﺪ۪ﻳﻦَ ٭ ﻭَﻗَﻀَﻴْﻨَٓﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺑَﻨ۪ٓﻰ ﺍِﺳْﺮَٓﺍﺋ۪ﻴﻞَ ﻓِﻰ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻟَﺘُﻔْﺴِﺪُﻥَّ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻣَﺮَّﺗَﻴْﻦِ ٭ وَلَا ﺗَﻌْﺜَﻮْﺍ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﻣُﻔْﺴِﺪ۪ﻳﻦَ Dua ketetapan Al-Qur'an yang mengarah kepada kaum Yahudi ini memuat dua dasar umum yang dahsyat yang dijalankan bangsa itu dengan putaran tipu daya dalam kehidupan masyarakat manusia. Ia menyatakan bahwa bangsa itulah yang mengguncangkan kehidupan masyarakat manusia, mengadu kerja dan usaha dengan modal serta membenturkan orang miskin dengan orang kaya, melakukan riba berlipat dan menjadi sebab didirikannya bank, lalu mengumpulkan harta dengan tipu dan muslihat. Bangsa itu pula yang ikut serta dalam segala macam kelompok perusak dan turut campur dalam setiap macam pergolakan, untuk membalas pemerintah serta pihak yang menang, yang menghalangi mereka dan yang selalu mereka alami kezalimannya. Misalnya, ﻓَﺘَﻤَﻨَّﻮُﺍ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ: "Jika kalian benar, inginkanlah kematian. Kalian tidak akan pernah menginginkannya." Melalui sebutan peristiwa yang juz'i dari suatu kelompok kecil di majelis Nabi ﷺ, ia mengungkapkan bahwa hingga kiamat, bahasa keadaan bangsa Yahudi, yang paling terkenal di antara bangsa manusia karena rakus akan kehidupan dan takut pada kematian, tidak akan menginginkan kematian serta tidak akan meninggalkan kerakusan hidupnya. Misalnya, ﺿُﺮِﺑَﺖْ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢُ ﺍﻟﺬِّﻟَّﺔُ ﻭَﺍﻟْﻤَﺴْﻜَﻨَﺔُ. Dengan sebutan ini, ia mengungkapkan secara umum takdir masa depan bangsa itu. Karena dasar-dasar dahsyat yang tersimpan dalam watak dan takdir bangsa ini, Al-Qur'an bersikap sangat keras terhadap mereka dan memberi tamparan pendidikan yang dahsyat. Bandingkan bagian-bagian lain kisah Musa 'alaihis-salâm dan Bani Israil, serta kisah-kisah lain, dengan kisah ini berdasarkan contoh-contoh tersebut. Seperti kilau ringkas yang menunjukkan i'jaz pada Cahaya Keempat ini, di balik kata-kata sederhana dan pembahasan yang juz'i dari Al-Qur'an terdapat banyak kilau i'jaz. Bagi orang yang memahami, satu petunjuk cukup. Cahaya Kelima: Cakupan menyeluruh yang luar biasa pada Al-Qur'an dari segi tujuan dan persoalan, makna dan gaya, kehalusan dan keindahan. Ya, jika surah dan ayat Al-Qur'an yang ungkapannya bermukjizat diperhatikan, khususnya pembukaan surah serta awal dan akhir ayat, terlihat bahwa ia mengumpulkan semua macam balagah, semua jenis keutamaan tutur, semua macam gaya luhur, seluruh akhlak baik, semua rangkuman ilmu alam, semua indeks pengetahuan Ilahi, seluruh dasar bermanfaat kehidupan pribadi dan masyarakat manusia, serta seluruh hukum bercahaya dari hikmah luhur alam, tanpa terlihat sedikit pun tanda kacau.Sungguh, mengumpulkan begitu banyak macam yang berbeda di satu tempat tanpa pertentangan atau kekacauan hanya dapat menjadi pekerjaan susunan i'jaz yang menguasai. Sungguh, bersama keteraturan dalam seluruh cakupan menyeluruh ini, sebagaimana dijelaskan dan dibuktikan dalam dua puluh empat Kalimat terdahulu, ada pekerjaan-pekerjaan berikut: dengan penjelasan tajam merobek tirai hal-hal biasa, sumber kebodohan yang tak disadari; mengeluarkan dan menunjukkan keajaiban yang tersembunyi di bawah tirai kebiasaan; memecahkan tagut tabiat, sumber kesesatan, dengan pedang berlian bukti; membuyarkan lapisan-lapisan tebal tidur lalai dengan seruan seperti guruh; serta membuka dan menyingkap rahasia alam yang rumit dan teka-teki penciptaan alam yang menakjubkan, yang membuat filsafat serta hikmah manusia tak berdaya. Tentu, semua itu merupakan pekerjaan luar biasa suatu kitab pembuat mukjizat seperti Al-Qur'an, yang melihat hakikat, mengenal yang gaib, memberi petunjuk, dan memperlihatkan haq. Ya, jika ayat-ayat Al-Qur'an diperhatikan dengan adil, terlihat bahwa ia tidak menyerupai rangkaian pemikiran bertahap yang mengejar satu atau dua tujuan seperti kitab-kitab lain. Sebaliknya, ia memiliki sikap yang langsung dan seketika, serta cara yang seperti disampaikan dari luar. Setiap kelompok ayat yang datang bersama memiliki tanda pesan yang amat serius dan penting, datang tersendiri dari tempat jauh, satu per satu dan pendek-pendek. Ya, siapa selain Khâliq alam dapat menyampaikan pesan yang begitu serius terkait dengan alam dan Khâliq alam? Siapa dapat melampaui batasnya tanpa batas, lalu membuat Sang Khâliq Dzul-Jalâl berbicara sesuka hatinya dan membuat alam berbicara dengan benar? Ya, dalam Al-Qur'an terlihat Sang Pembuat alam berbicara dan membuat yang lain berbicara dengan amat serius, nyata, luhur, dan haq. Tidak ada tanda yang mengisyaratkan tiruan. Dia berbicara dan membuat yang lain berbicara. Jika, sebagai pengandaian yang mustahil, seseorang seperti Musailamah melampaui batasnya tanpa batas lalu secara meniru membuat Sang Khâliq Dzul-Jalâl, Pemilik Kemuliaan dan Kuasa Paksaan itu, berbicara menurut pikirannya sendiri, dan membuat alam berbicara melalui itu, tentu akan ditemukan ribuan tanda tiruan dan ribuan tanda kepalsuan. Sebab, setiap keadaan mereka yang mengambil sikap paling tinggi dalam keadaan paling rendah memperlihatkan bahwa mereka meniru. Lihat dan perhatikanlah ﻭَﺍﻟﻨَّﺠْﻢِ ﺍِﺫَﺍ ﻫَﻮٰﻯ ٭ ﻣَﺎ ﺿَﻞَّ ﺻَﺎﺣِﺒُﻜُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻏَﻮٰﻯ ٭ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﻨْﻄِﻖُ ﻋَﻦِ ﺍﻟْﻬَﻮٰﻯ ٭ ﺍِﻥْ ﻫُﻮَ اِلَّا ﻭَﺣْﻰٌ ﻳُﻮﺣٰﻰ, yang mengumumkan hakikat ini dengan sumpah.