Jawaban kepada Gereja Anglikan
Suatu ketika, musuh Islam yang tanpa ampun, seorang pendeta penuh tipu daya politik, penuh waswas yang ingin menampilkan dirinya di tempat tinggi, dengan maksud menipu dan sikap menyangkal, pada masa menyakitkan ketika ia mencengkeram leher kita dengan cakarnya, mengajukan empat pertanyaan kepada kita dengan nada sangat mencemooh. Ia meminta enam ratus kata. Untuk cemoohnya perlu dikatakan "Cih!" di hadapannya; untuk tipu dayanya, berpaling dan diam; untuk penyangkalannya, jawaban yang membungkam seperti palu. Aku tidak menjadikannya lawan bicara. Kepada orang yang mencintai haq, inilah jawaban kita. Pada pertanyaan pertama ia berkata~:
"Apa agama Muhammad ﷺ?" ~Aku berkata:
Itulah Al-Qur’an. Enam rukun iman, lima rukun Islam, adalah maksud dasar Al-Qur’an. Pada pertanyaan kedua ia berkata~:
"Apa yang diberikannya kepada pikiran dan hidup?" ~Aku berkata:
"Tauhid kepada pikiran, istiqamah kepada hidup. Saksiku tentang ini: ﻓَﺎﺳْﺘَﻘِﻢْ ﻛَﻤَٓﺎ ﺍُﻣِﺮْﺕَ ٭ ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ " Pada pertanyaan ketiga ia berkata~:
"Bagaimana ia mengobati kesulitan-kesulitan masa kini?" ~Aku berkata:
"Dengan haramnya riba dan wajibnya zakat. Saksiku tentang ini juga ﻳَﻤْﺤَﻖُ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺮِّﺑٰﻮﺍ. ﻭَﺍَﺣَﻞَّ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟْﺒَﻴْﻊَ ﻭَﺣَﺮَّﻡَ ﺍﻟﺮِّﺑٰﻮﺍ ٭ ﻭَﺍَﻗ۪ﻴﻤُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﻠٰﻮﺓَ ﻭَﺍٰﺗُﻮﺍ ﺍﻟﺰَّﻛٰﻮﺓَ " Pada pertanyaan keempat ia berkata~:
"Bagaimana ia memandang pergolakan manusia?" ~Aku berkata:
Usaha adalah dasar utama. Harta manusia tidak dihimpun dan disimpan di tangan orang-orang zalim. Saksiku tentang ini: ﻟَﻴْﺲَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا ﻣَﺎ ﺳَﻌٰﻰ ٭ ﻭَﺍﻟَّﺬ۪ﻳﻦَ ﻳَﻜْﻨِﺰُﻭﻥَ ﺍﻟﺬَّﻫَﺐَ ﻭَﺍﻟْﻔِﻀَّﺔَ وَلَا ﻳُﻨْﻔِﻘُﻮﻧَﻬَﺎ ﻓ۪ﻰ ﺳَﺒ۪ﻴﻞِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻓَﺒَﺸِّﺮْﻫُﻢْ ﺑِﻌَﺬَﺍﺏٍ ﺍَﻟ۪ﻴﻢٍ
(Seratus masyaallah bagi jawaban ini.)
--
CERAMAH
Inilah ceramah yang diberikan pada November 1950 di Universitas Ankara, dalam suatu majelis di masjid fakultas yang berlangsung hingga tengah malam, di hadapan para profesor dan anggota parlemen kita, para tamu dari Pakistan, serta mahasiswa dari berbagai fakultas. Ceramah itu didengarkan dengan perhatian dan minat yang besar.
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ الصَّلَاةُ ﻭَ السَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ Saudara-saudaraku yang berharga, yang haus akan air kehidupan iman dan Islam! Pertama, kuakui: karena berada di mimbar tempat ceramah ini disampaikan, aku tidak berbeda dari kalian. Aku saudara kalian. Ceramah ini pun merupakan pelajaran yang amat bermanfaat dan sangat kuperlukan. Yang disapa ialah diriku sendiri. Aku akan membacakan pelajaranku kepada kalian, saudara-saudaraku yang diberkahi, seperti berdiskusi. Kekurangan berasal dariku. Kesempurnaan dan keindahan adalah milik karya-karya Risale-i Nur yang kuambil manfaatnya. Jika tidak ada penghalang, dari ceramah-ceramah agama yang akan kita lanjutkan sekali seminggu, yang pertama hari ini tentang iman. Sebab, sebagaimana Bedîüzzaman Said Nursî menyatakan di Majelis Nasional Pertama, "Hakikat tertinggi dalam alam ialah iman; setelah iman ialah salat." Karena itu kami pun memandang sesuai bila ceramah kita tentang Al-Qur’an, iman, dan Nabi kita, junjungan kita Rasul Yang Mahamulia ﷺ. Yang kedua, insyaallah, tentang salat dan ibadah. Kami mencari karya yang akan mengajarkan perkara-perkara ini kepada kita. Akhirnya kami memilih Risale-i Nur, karya agama yang paling dipercaya, yang mengajarkan kebutuhan hidup dan abadi kita ini dengan cara yang sesuai dengan pemahaman zaman kita dan meyakinkan, serta hampir setengah abad mendapat kepercayaan dan rasa aman yang besar. Kini dengan menjelaskan mengapa ceramah pertama kita tentang iman, kami akan memberikan keterangan amat singkat mengenai karya ini dan penulisnya. Demikianlah: pada abad ini, musuh agama dan Islam menempatkan rencana melemahkan dan meruntuhkan dasar-dasar iman sebagai butir pertama program mereka. Terutama selama dua puluh lima tahun ini, serangan terhadap rukun-rukun iman dengan cara munafik dan di bawah beragam topeng, dalam bentuk yang tidak terlihat dalam sejarah, sangat mengerikan; cara-cara yang amat merusak diterapkan. Padahal syubhat atau penyangkalan pada salah satu rukun iman jauh lebih membawa bencana dan bahaya daripada tidak peduli dalam cabang-cabang agama. Karena itu pekerjaan terpenting kini ialah menguatkan iman dengan mengubah iman taklidi menjadi iman tahkiki, menopang iman, menyelamatkan iman. Lebih daripada segala hal, memperhatikan dasar-dasar iman telah menjadi keperluan yang pasti, kebutuhan mendesak, bahkan kewajiban. Sebagaimana ini berlaku di Turki, demikian pula di seluruh dunia Islam.Ya, sejauh mana usaha memperbaiki dan menghias kamar-kamar suatu bangunan yang dasar-dasarnya telah aus dapat berguna agar bangunan itu tidak runtuh? Dapatkah usaha menjaga pohon agar tidak kering dengan mengobati cabang dan daunnya bermanfaat bagi hidupnya, sementara akarnya sedang diusahakan membusuk? Manusia adalah bangunan seperti istana; dasar-dasarnya ialah rukun-rukun iman. Manusia adalah pohon; akarnya ialah dasar-dasar iman. Yang terpenting di antara rukun iman ialah iman billah, iman kepada Allah subhânahu. Lalu kenabian dan hasyr. Karena itu ilmu yang pertama-tama harus diusahakan seorang manusia ialah ilmu iman. Dasar ilmu-ilmu, raja dan sultan ilmu-ilmu, ialah ilmu iman. Iman bukan semata-mata pembenaran secara umum. Iman memiliki banyak tingkat. Iman taklidi, terutama menghadapi badai kesesatan pada zaman ini, cepat padam. Adapun iman tahkiki adalah kekuatan yang tidak terguncang dan tidak padam. Sekalipun iman dan Islam seseorang yang memperoleh iman tahkiki diterpa badai mengerikan sikap tanpa agama, badai itu pasti tidak berdaya di hadapan kekuatan iman ini. Bahkan filsuf yang paling tidak beragama tidak dapat membuat orang yang memperoleh iman tahkiki jatuh ke dalam waswas atau syubhat. Berdasarkan hakikat-hakikat ini, kami pun memandang mutlak perlu dan mendesak membaca dengan teguh, terus-menerus, dan saksama suatu karya yang memuat hakikat Al-Qur’an dan iman, yang mengajarkan iman tahkiki sehingga menguatkan iman dan membawa manusia menuju bahagia dan keselamatan abadi. Jika tidak, jatuh ke dalam musibah dunia dan akhirat yang mengerikan pada zaman ini merupakan hakikat yang tidak memberi ruang bagi syubhat. Karena itu satu-satunya jalan selamat kita ialah berpegang pada tafsir Al-Qur’an yang tinggi, yang menafsirkan ayat-ayat iman dan ayat-ayat mulia Al-Qur’an Al-Hakîm yang mengarah kepada abad ini. Kini dari wajah kalian yang mengungkapkan gejolak bercahaya tampak bahwa muncul pertanyaan dalam diri kalian, "Adakah karya seperti ini pada abad ini?" Ya, untuk menemukan karya yang sepenuhnya memenuhi kebutuhan semacam ini, kami mencari dengan sangat saksama dan hati-hati. Akhirnya kami sampai pada keyakinan bahwa karya-karya Risale-i Nur oleh Bedîüzzaman Said Nursî merupakan karya yang akan menjadi pemandu Qur’ani dan pembimbing paling sempurna, baik bagi pemuda Turki maupun seluruh kaum Muslim dan umat manusia.Bersama kami, ratusan ribu orang yang menyelamatkan imannya melalui Risale-i Nur juga menjadi saksi bagi hakikat ini. Ya, kami menjadikan dasar bahwa penulis suatu karya Qur’ani yang akan menjalankan tugas membimbing secara menyeluruh dan umum pada abad kedua puluh harus memiliki ciri-ciri ini. Kami melihat seluruh ciri itu terdapat dalam Risale-i Nur dan penulisnya, Bedîüzzaman Said Nursî. Demikianlah: Pertama: penulis hanya menjadikan Al-Qur’an Al-Hakîm sebagai gurunya... Kedua: Al-Qur’an Al-Hakîm adalah kitab suci yang memuat ilmu-ilmu sejati. Ia adalah Khotbah Azali yang menyapa seluruh lapisan manusia pada segala abad. Karena itu, agar hakikat diungkapkan secara murni ketika menafsirkan Al-Qur’an dan dengan demikian menjadi tafsir yang sejati, mufasir harus tidak berada di bawah pengaruh jalan dan kecenderungannya sendiri, serta tidak mencampurkan keinginannya. Untuk menetapkan hakikat-hakikat Al-Qur’an yang tampak melalui tersingkapnya makna-makna Al-Qur’an, mutlak perlu pula bahwa mufasir itu seorang alim besar yang memiliki pikiran luas, ahli dalam setiap ilmu, pandangan yang halus, dan ikhlas yang utuh; ia juga memiliki kejeniusan yang amat tinggi, ijtihad yang menembus dan mendalam, serta daya suci. Ketiga: tafsir Al-Qur’an ditulis dengan ikhlas yang utuh; penulis tidak menjadikan manfaat materi maupun maknawi sebagai tujuan selain Rida Allah subhânahu, dan keadaan luhur ini terlihat dalam peristiwa-peristiwa hidup penulis... Keempat: salah satu mukjizat terbesar Al-Qur’an ialah mempertahankan keadaan muda dan segar, serta memiliki sisi yang memenuhi kebutuhan setiap abad seolah diturunkan pada abad itu. Maka dalam tafsir yang dibuat pada abad ini, sisi Al-Qur’an Al-Hakîm yang mengarah kepada zaman kita harus disingkap, dijelaskan, dan dibuktikan dengan gaya yang dapat dimanfaatkan setiap lapisan, dari awam hingga orang yang paling khusus... Kelima: mufasir mengajarkan hakikat Al-Qur’an dan iman dengan membuktikannya melalui dalil dan hujah yang tidak terbantahkan. Yakni menjadikan positivisme (berdasarkan bukti) sebagai dasar...Keenam: hakikat Al-Qur’an yang diajarkannya menerangi dan memuaskan akal, hati, ruh, serta nurani, menundukkan nafsu, dan begitu kuat, fasih, menembus, serta berpengaruh hingga membungkam setan pula... Ketujuh: membebaskan dari sifat-sifat buruk yang juga menghalangi pemahaman hakikat, seperti mementingkan diri, sombong, ujub, dan keakuan, lalu membuat orang memiliki akhlak yang tinggi dan indah, seperti rendah hati dan tidak menonjolkan diri... Kedelapan: seorang alim besar yang menafsirkan Al-Qur’an yang mulia harus mengikuti sunnah Rasul Yang Mahamulia ﷺ, mengamalkan ilmunya menurut mazhab Ahlus-Sunnah wal-Jamâ'ah, memiliki zuhud dan takwa yang maksimal, ikhlas yang maksimal, serta dalam melayani agama memiliki keteguhan yang maksimal, kejujuran, setia, dan pengorbanan yang maksimal, hemat dan kanaah yang maksimal. Ringkasnya, mufasir harus seorang pelayan Al-Qur’an yang, melalui risalah-risalah Qur’aninya, menjadi tempat tampaknya kilatan kerasulan Ahmad ﷺ, dan melalui takwa yang maksimal, ubudiyah yang maksimal, serta daya sucinya, menjadi tempat tampaknya kilatan kewalian Ahmad ﷺ... Kesembilan: mufasir harus memiliki keberanian Islam yang tidak memperhitungkan tekanan dan penyiksaan apa pun ketika menjelaskan masalah Al-Qur’an dan syariat, tidak memberi fatwa karena berada di bawah suatu pengaruh, serta mengucapkan hakikat tanpa takut dengan kekuatan iman yang meremehkan maut dan menantang dunia. Di masa mengerikan ketika rencana eksekusi diterapkan dan satu risalah agama pun tidak diizinkan terbit, ia nyata-nyata telah menulis dan menerbitkan dasar-dasar Al-Qur’an serta syariat yang terutama dituju untuk dimusnahkan dan dipadamkan. Maka ia harus menjadi pembimbing yang sempurna, pemandu sejati paling sempurna bagi Islam pada abad ini, dan mufasir agung Al-Qur’an yang dipercaya. Kini, bahwa kesembilan syarat dan ciri di atas terdapat sepenuhnya dalam penulis Bedîüzzaman Said Nursî dan karya-karyanya, Risalah-Risalah Nur, telah terbukti dengan ijmak, riwayat mutawatir, dan sepakat para ulama Islam yang sejati serta luas ilmunya. Hal itu juga diketahui dan dibenarkan oleh bangsa Islam yang mulai bangkit ini, serta oleh Eropa dan Amerika. Wahai kawan-kawan! Kami mencari tafsir Al-Qur’an seperti ini dan menginginkan mufasir seperti ini. Saudara-saudaraku yang berharga!Pada abad yang begitu mengerikan ini, perkara terbesar manusia ialah menyelamatkan atau kehilangan iman. Perang-perang dunia telah membangunkan manusia, memperingatkan fana hidup dunia, dan membangkitkan rasa ingin hidup dalam bahagia abadi di alam yang kekal. Tentu, untuk memenangkan perkara yang begitu besar pada zaman yang membingungkan dan memperdaya ini, kita harus sangat saksama menemukan seorang pembela perkara. {(Catatan): Jutaan orang yang menyelamatkan imannya melalui Risale-i Nur menjadi saksi bahwa pada zaman ini pembela perkara semacam itu ialah Risale-i Nur.} Karena itu kami akan memperluas telaah sedikit lagi. Demikianlah: karya-karya yang dibuat oleh para ahli kalam Islam yang jenius, imam-imam agama kita yang luar biasa, dan para mufasir Al-Qur’an Al-Hakîm yang jenius sebelum abad kita begitu berharga hingga nilainya tidak dapat ditaksir. Mereka masing-masing matahari Islam. Namun zaman ini berbeda dari zaman ketika pribadi-pribadi besar itu hidup. Dahulu kesesatan datang dari kebodohan; menghapusnya mudah. Pada zaman ini kesesatan—serangan terhadap Al-Qur’an, Islam, dan iman—datang dari sains, filsafat, dan ilmu. Menghapusnya sulit. Dahulu jenis kedua ditemukan satu dalam seribu; dari yang ditemukan, hanya satu dalam seribu yang dapat dibimbing ke jalan benar. Sebab mereka tidak mengetahui, tetapi mengira diri mengetahui. Kalian pun mengetahui bahwa pada abad-abad terdahulu, ilmu-ilmu positif belum maju sejauh pada abad kedua puluh. Maka untuk meruntuhkan sampai ke akar sikap tanpa agama dan materialisme yang tersebar di dunia pada abad ini, menunjukkan jalan haq dan hakikat, membawa manusia ke sirat mustakim, serta menyelamatkan iman, satu-satunya jalan ialah menyingkap sisi Al-Qur’an Al-Hakîm yang mengarah kepada abad ini dan menafsirkannya dengan cara yang dapat dimanfaatkan semua orang; tentu ini dapat dilakukan pada abad ini. Bedîüzzaman Said Nursî berhasil menyingkap hakikat-hakikat dalam Al-Qur’an yang mulia yang diperlukan abad ini, lalu menafsirkan dan menjelaskannya dalam Risalah-Risalah Nur dengan cara yang dapat dimanfaatkan setiap orang sesuai dengan kemampuannya. Karena itu muncul keyakinan bahwa Risale-i Nur merupakan mahakarya yang belum terlihat padanannya. Karena keistimewaan Risale-i Nur ini pula, jutaan orang beruntung dari bangsa Islam yang diberkahi ini memilih membaca Risale-i Nur dengan kebutuhan yang lebih besar, kerinduan dan cinta yang mendalam, di tengah tekanan yang berlangsung bertahun-tahun.Karena ditulis pada saat dibutuhkan, Risale-i Nur pun berkembang seluas Turki dan dunia Islam, memperlihatkan kepada mata bahwa ia memperoleh keistimewaan yang menarik perhatian dunia. Saudara-saudaraku yang berharga! Ketika berada di Istanbul empat puluh tahun dahulu, Bedîüzzaman Said Nursî membuat pengumuman luar biasa, ‘Siapa pun, tanyakanlah apa yang diinginkan.’ Maka para ulama dan alim besar yang terkenal pada masa itu datang berombongan ke kamar Bedîüzzaman Said Nursî. Pertanyaan paling sulit dan samar yang mereka ajukan tentang segala jenis ilmu dan berbagai pokok bahasan dijawab dengan benar oleh Bedîüzzaman Said Nursî tanpa berhenti ragu. Membuat pengumuman yang tidak ditentukan batasnya demikian, yakni tanpa pembatasan ‘Dalam ilmu atau pokok bahasan ini atau itu, siapa pun tanyakanlah apa yang diinginkan,’ lalu selalu berhasil, belum terlihat dalam sejarah manusia. Hingga kini belum muncul seorang jenius Islam dengan ilmu yang begitu luas dan tinggi (kecuali pada zaman bahagia Nabi ﷺ). Bahkan ketika Syekh Bahît Efendi yang terkenal, salah satu pemimpin Universitas Al-Azhar di Mesir, datang berkunjung ke Istanbul pada masa itu, para ulama Islam yang tidak dapat membungkam Bedîüzzaman Said Nursî—yang datang dari antara batu-batu terjal Kurdistan ke Istanbul—meminta Syekh Bahît membungkam guru muda ini, Bedîüzzaman Said Nursî. Syekh Bahît menerima usul itu dan mencari kesempatan berdebat. Pada suatu waktu salat, setelah keluar dari Masjid Hagia Sophia dan duduk di kedai teh, Syekh Bahît Efendi memandangnya sebagai kesempatan, lalu menyapa Bedîüzzaman Said Nursî: ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮﻝُ ﻓ۪ﻰ ﺣَﻖِّ الْاَوْرُوبَا ﻭَ ﺍﻟْﻌُﺜْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔِ Yakni, ‘Apa yang Anda katakan tentang Eropa dan Negara Utsmani? Bagaimana pendapat Anda?’ Maksud Syekh Bahît Efendi yang mulia dari pertanyaan ini bukan menguji ilmu Bedîüzzaman Said Nursî yang tak diragukan seperti samudra luas dan kecerdasannya yang berapi. Ia bermaksud memahami luasnya pandangan terhadap masa depan dan pemikirannya tentang politik dalam mengatur dunia. Jawaban Bedîüzzaman Said Nursî ialah: ﺍِﻥَّ الْاَوْرُوبَا ﺣَﺎﻣِﻠَﺔٌ بِالْاِسْلَامِيَّةِ ﻓَﺴَﺘَﻠِﺪُ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻣَﺎ ﻭَ ﺍِﻥَّ ﺍﻟْﻌُﺜْﻤَﺎﻧِﻴَّﺔَ ﺣَﺎﻣِﻠَﺔٌ بِالْاَوْرُوبَائِيَّةِ ﻓَﺴَﺘَﻠِﺪُ ﺍَﻳْﻀًﺎ ﻳَﻮْﻣًﺎ ﻣَﺎ Yakni, Eropa mengandung negara Islam, Negara Utsmani mengandung negara Eropa. Pada suatu hari mereka akan melahirkannya. Menghadapi jawaban ini, Syekh Bahît yang mulia berkata, ‘Pemuda ini tidak dapat didebat. Aku pun berpendapat sama. Namun mengungkapkannya dengan cara begitu ringkas dan fasih hanya khas Bedîüzzaman Said Nursî.’ Kedua kutub berita itu pun terwujud sebagaimana dikatakan Bedîüzzaman Said Nursî.Satu atau dua tahun kemudian, pada masa pemerintahan konstitusional, diambil banyak kebiasaan asing yang bertentangan dengan syiar Islam dan sedikit demi sedikit ditanamkan di Turki. Kini di Eropa tampak perhatian baik terhadap Al-Qur’an dan Islam, terutama peristiwa diterimanya Islam berombongan oleh bangsa Jerman yang beruntung. Peristiwa-peristiwa ini sepenuhnya membenarkan berita itu. Para ulama besar Islam dan syekh yang mulia, melalui banyak percobaan dan ujian, sampai pada keyakinan ini: apa pun yang dikatakan Bedîüzzaman Said Nursî adalah hakikat. Karya-karya Bedîüzzaman Said Nursî merupakan ilham yang datang ke hati, mendapat pembenaran dan penghargaan mayoritas ulama. Ahli ilmu, ahli tasawuf, ahli sekolah, dan sains hanya mengambil cahaya serta manfaat dari karya-karya Bedîüzzaman Said Nursî. Ya, ia hanya belajar selama tiga bulan. Selama empat puluh tahun ia tidak menekuni kitab selain Al-Qur’an yang mulia, ketika menulis seratus tiga puluh karya Turki dan lima belas karya Arab tidak merujuk kitab apa pun menurut kesaksian para penulisnya yang masih hidup, pada dasarnya tidak memiliki perpustakaan, setengah ummi; melalui pengumuman yang tidak ada bandingnya itu, nyata-nyata berhasil dalam semua debatnya pada usia muda dengan para alim tinggi dan pembimbing besar dalam beragam ilmu, termasuk ilmu-ilmu baru; membenarkan masalah yang disepakati dan meluruskan yang diperselisihkan; dibenarkan para alim besar bahwa ‘Tidak ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab Bedîüzzaman Said Nursî’; meruntuhkan hingga ke akar keberatan sebagian filsuf Eropa yang tidak memahami dan penuh prasangka terhadap ayat mulia serta hadis mulia yang mutasyabih dengan membuktikan melalui karya-karyanya bahwa masing-masing ayat dan hadis itu suatu mukjizat; dengan demikian menyelamatkan pula sebagian ahli ilmu yang dijatuhkan ke dalam angan-angan dan menggagalkan serangan terhadap Islam. Tidak mungkin ada syubhat bahwa penulis seperti Bedîüzzaman Said Nursî adalah mufasir Al-Qur’an yang jenius, ilmunya wahbi dan luas, dan karya-karyanya, Risalah-Risalah Nur, mahakarya luar biasa yang layak dibaca sepanjang hidup. Saudara-saudaraku yang waspada! Sangat perlu kita begitu saksama memilih karya yang akan menyelamatkan hidup abadi kita dan dunia Islam, menerangi serta membimbing kita, menjaga dari kesesatan.Sebab pada zaman ini, di balik tirai, dengan beragam tipu daya mereka berusaha menyesatkan pemuda Islam. Ketika suatu karya akan dibaca atau suatu perkataan didengarkan, mula-mula perhatikan kaidah dasar ﻣَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻟِﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ ﻭَ ﻓ۪ﻴﻤَﺎ ﻗَﺎﻝَ, yakni ‘Siapa yang berkata? Kepada siapa ia berkata? Untuk apa ia berkata? Dalam maqam apa ia berkata?’ Ya, sumber luhur, indah, dan kuatnya tingkat-tingkat perkataan ialah empat hal ini: pembicara, pihak yang disapa, maksud, dan maqam. Jika tidak, jangan membaca setiap buku yang didapat, jangan mendengarkan setiap perkataan yang diucapkan. Misalnya, betapa berbeda perintah ‘Maju!’ yang diberikan seorang panglima kepada pasukan dan kata ‘Maju!’ dari seorang prajurit. Yang pertama menggerakkan pasukan besar. Yang kedua, meskipun perkataannya sama, mungkin tidak dapat membuat satu prajurit pun berjalan. Karena empat dasar ini, dan karena ratusan ribu orang yang membawa cinta besar dalam hatinya kepada Bedîüzzaman Said Nursî memberikan arti besar dengan penuh cinta bahkan kepada keadaan paling kecil gurunya, ingin mengetahuinya dan mengikuti, sebagian saudara kita di sini dengan terus-menerus meminta keterangan mengenai hidup, karya, jalan, serta kecenderungan Ustaz kita. Namun kita tidak dapat mengungkapkan sepenuhnya hidup, karya, dan watak pribadi seperti Bedîüzzaman Said Nursî. Karena hakikat ini juga diakui para sastrawan yang merupakan ahli ilmu berpandangan tajam, pelayanan ini jauh melampaui batas kita. Kepada saudara-saudara yang ingin memperoleh keterangan mengenai Bedîüzzaman Said Nursî, kami sampaikan pula bahwa ini hanya dapat dilakukan dengan membaca Kumpulan Risale-i Nur secara saksama dan terus-menerus. Saudara-saudaraku yang mulia! Dalam pribadi maknawi Risale-i Nur, yang memiliki pertolongan dan daya untuk mewujudkan bahagia serta keselamatan abadi tanah air dan bangsa yang diberkahi ini serta dunia Islam, dan dengan demikian damai serta keselamatan umum di bumi, telah terhimpun dan berpadu kekuatan-kekuatan yang amat kukuh ini: 1 - Hakikat Islam, daya yang tinggi dan guru segala kesempurnaan... 2 - Keberanian iman. Yakni tidak merendahkan diri, tidak menguasai dan menyombongkan diri terhadap orang yang lemah... 3 - Kemuliaan dan kehormatan yang diberikan Islam kepada manusia, kemuliaan Islam yang merupakan penggerak terpenting kemajuan dan naiknya derajat... Kawan-kawan! Ada hadis mulia dengan makna ini: ‘Ulama sejati adalah ulama yang mengucapkan haq dan hakikat tanpa takut di hadapan penguasa yang zalim.’Kita hanya dapat mempercayai perkataan dan karya alim besar yang demikian dan bertakwa. Pada abad kita, Risale-i Nur nyata hadir, sesuai dengan hadis mulia ini melalui peristiwa hidup penulis dan karya-karyanya. Penulis Bedîüzzaman Said Nursî adalah pejuang yang sepenuhnya mengikuti sunnah luhur Rasul Yang Mahamulia ﷺ dalam perjuangan agamanya, pelayanan kepada Al-Qur’an, dan ubudiyahnya. Junjungan kita Rasul Yang Mahamulia ﷺ, dalam Perang Badar yang merupakan peristiwa politik paling besar di dunia, memimpin para sahabat mulia salat berjamaah bergiliran. Yakni beliau mendahulukan dan mengutamakan suatu kebaikan seperti ‘salat berjamaah’, yang tidak wajib dan terutama dapat ditinggalkan pada saat perang, di atas peristiwa politik terbesar dunia. Bahkan di tengah kengerian medan perang itu, beliau tidak meninggalkan pahala kecil. Dalam perang melawan Rusia yang diikutinya sebagai komandan resimen sukarelawan, di medan perang, pada garis tembak, Bedîüzzaman Said Nursî menulis tafsir Arab yang terkenal, İşârâtü'l-İ'câz, tafsir atas sebagian Al-Qur’an. Karya agung ini mendapat penghargaan dan pujian para ulama terbesar di dunia Islam. Mereka mengakui tidak mampu memahaminya sepenuhnya dan belum pernah melihat tafsir seperti itu, yang menampilkan dan membuktikan butir paling halus, masalah paling mendalam, i'jaz yang tidak ada bandingnya, serta balagah dan fasihnya Al-Qur’an yang mulia yang luar biasa tinggi. Bahkan saat menampilkan makna halus satu huruf di garis tembak, meriam musuh tidak dapat memalingkan pikirannya darinya; riuh dan ngeri perang tidak dapat menghalangi. Pada masa gelap dan mengerikan ketika azan Muhammad ﷺ dilarang dan bidah dipaksakan kepada semua orang, para pelajar Nur tidak mengumandangkan azan buatan itu. Dengan menjaga diri secara gagah terhadap bidah-bidah semacam itu, mereka tidak masuk ke dalamnya. Pada masa tragis ketika iman dan Islam diusahakan dihapus dan seorang alim tidak dapat menerbitkan satu karya agama pun, bahkan secara sembunyi, Bedîüzzaman Said Nursî menulis dan menerbitkan seratus tiga puluh karya iman secara sembunyi di tempat-tempat pengasingannya, dalam pengawasan dan tekanan para tiran zalim. Bersamaan dengan itu, pada malam hari setelah tidur amat sedikit, ia berdoa demi selamat dan baiknya bangsa-bangsa Islam yang merintih dalam tawanan, memohon dengan berlindung ke Hadirat Ilahi. Ya, Ustaz yang mulia sepenuhnya mengikuti sunnah luhur junjungan kita Rasul Yang Mahamulia ﷺ.Keadaan Bedîüzzaman Said Nursî ini pun teladan bagi seluruh pejuang Islam dan semua kaum Muslim. Yakni ia menjalankan jihad bersama ubudiyah dan takwa; tidak menjalankan yang satu lalu melalaikan yang lain. Sekalipun ia dikirim ke penjara melalui rencana musuh agama yang tiran dan zalim, dibiarkan dalam pengasingan mutlak di kamar yang amat dingin, dan berada dalam derita dan gemetar akibat dingin berat serta sakit, juga kelemahan usia tua, penulisannya tidak berkurang. As-Siddîq al-Akbar radhiyallahu 'anh berkata: ‘Biarlah tubuhku membesar sedemikian rupa di neraka hingga tidak tersisa tempat bagi orang beriman.’ Untuk menjadi tempat tampaknya sedikit kilatan watak yang amat luhur ini, Bedîüzzaman Said Nursî naik ke puncak pengorbanan dengan berkata, ‘Aku siap masuk ke neraka untuk menyelamatkan iman beberapa orang.’ Bahwa ia demikian, seorang pelayan Al-Qur’an dan Islam yang ikhlas serta rela berkorban, terbukti dengan kesaksian hidupnya selama delapan puluh tahun. Sikap sabar, tabah, dan seimbang yang diperlihatkannya secara luar biasa di hadapan kezaliman dan penyiksaan yang begitu berat, musibah dan bencana yang banyak menimpanya, masing-masing menjadi saksi yang benar bahwa demi pelayanan Al-Qur’an dan iman, Bedîüzzaman Said Nursî mengorbankan martabat, kehormatan, ruh, nafsu, dan hidupnya. Bedîüzzaman Said Nursî mengorbankan kenyamanan dunia demi pelayanan Al-Qur’an, iman, dan Islam; ia tidak mengumpulkan harta dunia bagi diri sendiri. Dengan menjalani umur dalam zuhud, takwa, riyadhah, hemat, dan kanaah, ia memutus hubungan dengan dunia. Termasuk dalam hal ini, demi sejahtera dan bahagianya kaum Muslim, untuk mewakafkan serta mengkhususkan seluruh menit hidupnya semata-mata bagi pelayanan iman dan berhasil memperoleh ikhlas yang utuh, ia memisahkan diri dari dunia dan tetap tidak menikah. Ya, Bedîüzzaman Said Nursî naik ke derajat pejuang Islam bersejarah dan pelayan ikhlas Al-Qur’an Al-Hakîm, yang mengorbankan segala hal sedemikian rupa demi pelayanan iman dan Islam, sekaligus menjadi pribadi istimewa dalam ubudiyah, zuhud, dan takwa.Dalam perjuangan Risale-i Nur, Bedîüzzaman Said Nursî memiliki rasa tenteram di hati, sikap jujur dan setia, keteguhan dan kekukuhan, serta ikhlas sedemikian rupa sehingga kezaliman dan tirani musuh agama yang begitu berat, serangan dan tekanan yang begitu banyak, serta kekurangan materi yang menyertainya tidak dapat membuatnya meninggalkan perjuangan atau menimbulkan sedikit keraguan pun. Dalam masa mudanya yang disebutnya ‘Said Lama’, Bedîüzzaman Said Nursî maju sangat jauh dalam filsafat. Dengan limpahan Al-Qur’an Al-Hakîm, dalam filsafat dan hikmah ia jauh melampaui filsuf Barat yang mengandung hakikat seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, serta ahli hikmah Timur yang jenius seperti Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Farabi. Ia menyatakan bahwa tidak ada penyelamat dan pemandu sejati selain Al-Qur’an, lalu membuktikannya dalam karya-karya Risale-i Nur. Jika ada yang mempunyai syubhat tentang hakikat-hakikat ini, sebelum Ustaz berangkat ke akhirat, ia dapat menghapus syubhatnya secara langsung. Bedîüzzaman Said Nursî memilih jalan pelayanan Al-Qur’an dan iman; tanpa menjadikan manfaat materi ataupun maknawi, maqam maknawi seperti menjadi saleh dan wali, sebagai maksud dan tujuan, ia melayani semata-mata demi Rida Allah subhânahu. Bedîüzzaman Said Nursî dengan marah menolak derajat tinggi yang diberikan kepada pribadinya oleh ahli ilmu berpandangan tajam dan seluruh kaum Muslim, seperti ‘penyelamat politik dan agama yang ditunggu kemunculannya’. Ia meyakini dan menyatakan bahwa ia hanya pelayan Al-Qur’an dan teman belajar para pelajar Risale-i Nur. Seorang alim terhormat yang bertugas dua puluh lima tahun di Kementerian Pertahanan Nasional, ketika beberapa kawan kita yang kini ada bersama kita mengunjunginya bersamaku sehari sebelum kemarin, berkata tentang Bedîüzzaman Said Nursî yang mulia: ‘Untuk memahami pribadi Bedîüzzaman Said Nursî, cukup membaca Kumpulan Risale-i Nur dengan saksama dan teguh. Sebagai contoh, hanya dari segi kemampuan duniawinya kukatakan: dengan pribadi maknawi Risale-i Nur, jika pengurusan bukan hanya satu negara, melainkan bangsa-bangsa di muka dunia diserahkan kepadanya, Bedîüzzaman Said Nursî memiliki daya dan pertolongan untuk mengurus mereka dalam keselamatan dan bahagia.’ Ya, Bedîüzzaman Said Nursî adalah keajaiban penciptaan. Namun selama dua puluh lima tahun ia telah melarang dirinya dan para pelajarnya dari politik; ia tidak menekuni urusan dunia.Ketika Bedîüzzaman Said Nursî menulis Risale-i Nur dan ditugasi dalam pelayanan Al-Qur’an, kecerdasan, kecermatan, akal, logika, pikiran, khayalan, ingatan, renungan, firasat, intuisi dan pemahaman, kecepatan menangkap makna, sifat-sifat ruh, hati, dan nurani, perasaan serta daya-daya halus maknawinya tidak ada bandingnya. Ini bukti nyata bahwa ia ditugasi; ahli ilmu dan ahli hati yang berpandangan tajam membenarkan dan memuji bahwa ia melayani Al-Qur’an pada derajat demikian bukan atas pilihan dan kemauannya sendiri, melainkan dengan Inayah Ilahi. Di Mesir, almarhum Abdülaziz Çâviş, salah satu ulama utama, menerbitkan artikel dalam pers Mesir tentang Bedîüzzaman Said Nursî sebagai orang paling cerdas pada zamannya yang memiliki kecerdasan luar biasa besar. Almarhum Syekhulislam Mustafa Sabri Efendi, seorang alim besar yang kukuh, membela Risale-i Nur di Mesir dan menempatkannya pada kedudukan tertinggi di Universitas Al-Azhar. Risale-i Nur adalah pedang Islam yang amat tajam dan terbuat dari berlian. Dalil bagi hakikat-hakikat ini ialah Bedîüzzaman Said Nursî menyampaikan hakikat tanpa takut kepada penguasa dan panglima zalim dengan meremehkan maut, menerbitkan hakikat Al-Qur’an dan iman pada masa tirani paling pekat dengan mengorbankan diri menghadapi kekuatan sikap tanpa agama yang meliputi dunia, serta melayani hakikat suci ini dengan mempertaruhkan nyawa. Seorang jaksa penuntut umum berkata dalam surat dakwaannya: ‘Bedîüzzaman Said Nursî melanjutkan kegiatan agama dengan energi yang bertambah seiring bertambah tuanya.’ Dalam laporan ahli Pengadilan Denizli dinyatakan: ‘Ya, ada energi dalam Bedîüzzaman Said Nursî. Namun disimpulkan bahwa ia tidak menggunakan energi ini untuk mendirikan tarekat atau perkumpulan, melainkan untuk menjelaskan hakikat Al-Qur’an dan melayani agama.’ Salah satu menteri pemerintahan terdahulu yang menentang agama, saat undang-undang antidemokratis dibahas di Majelis Nasional, berkata: ‘Selama dua puluh lima tahun kami tidak dapat menghalangi kegiatan agama Bedîüzzaman Said Nursî.’ Kami pun berkata: ya, Bedîüzzaman Said Nursî yang mulia adalah pribadi dinamis dan energik yang belum terlihat padanannya. Bahkan para penentangnya, musuh agama, dalam hati membenarkan dan menghargai bahwa Bedîüzzaman Said Nursî adalah manusia luar biasa. Ketika Bedîüzzaman Said Nursî kadang memberi nikmat membacakan Risale-i Nur kepada seorang pelajarnya, ia berkata: ‘Ini pelajaranku. Aku membaca untuk diriku sendiri. Hingga kini mungkin aku telah membaca risalah ini seratus kali. Namun kini aku memiliki kebutuhan dan kerinduan untuk membacanya lagi seolah baru melihatnya.’Ia pun kembali berkata: ‘Aku tidak menulis buku untuk orang lain. Aku menulis untuk diriku sendiri. Siapa yang menginginkan obat-obat yang kutemukan dari Al-Qur’an ini dapat membacanya.’ Ya, Bedîüzzaman Said Nursî meyakini dan berkata: ‘Aku memerlukan pelajaran, didikan, dan perbaikan nafsuku.’ Jika pribadi seperti Bedîüzzaman Said Nursî berkata demikian, ukurlah betapa kita memerlukan karya-karya ini. Sepanjang hidupnya, Bedîüzzaman Said Nursî menjauhi kejayaan, kemasyhuran, dan penghormatan, serta tidak bergantung kepada manusia. Dalam sebuah karya Arab, tentang kemasyhuran ia berkata: ‘Kemasyhuran adalah ria itu sendiri, madu beracun yang membunuh hati. Ia membuat manusia menjadi hamba dan budak manusia. Yakni orang yang menginginkan nama dan kemasyhuran berbuat ria dan menjilat manusia agar mereka menyukai dan mencintainya. Ia bersikap dibuat-buat. Jika engkau jatuh ke dalam bencana dan musibah itu, katakanlah ﺍِﻧَّﺎ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻭَﺍِﻧَّٓﺎ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ.’ Meski Ustaz begitu menjauhi kemasyhuran dalam perbuatan dan keadaan, entah apa hikmahnya, manusia berlari kepadanya untuk meminta pertolongan dan terus mendatanginya berbondong-bondong, seolah ada Dorongan Ilahi. Watak sucinya yang sepenuhnya haq ini menjadi pelayan bagi karya seluas dunia seperti Risale-i Nur. Sejak kecil Bedîüzzaman Said Nursî tidak bergantung pada hadiah yang diberikan orang tanpa balasan. Ia menjadikan tidak menerima hadiah sebagai jalan hidup. Ketika diasingkan dari penjara ke penjara, dari negeri ke negeri, bahkan dalam kebutuhan yang dibebankan usia tua, ia tidak melanggar kaidah tidak bergantung ini selama delapan puluh tahun. Jika pelajarnya yang paling dekat memberikan sesuatu sebesar satu suapan, ia memberi balasannya; bila tidak, ia merasa terganggu. Sebagai salah satu sebab tidak menerima hadiah, ia berkata: ‘Zaman ini berbeda dari dahulu. Dahulu jika ada sepuluh tangan yang menyelamatkan iman, kini tinggal satu. Dahulu sebab-sebab yang mendorong kepada kehilangan iman sepuluh, kini menjadi seratus. Pada zaman demikian, untuk melayani iman aku tidak mengulurkan tangan kepada dunia; aku meninggalkan dunia. Aku tidak akan menjadikan pelayanan imanku sebagai alat bagi apa pun.’ Jika seseorang bersusah payah demi pribadi Ustaz yang mulia atau melakukan suatu pelayanan baginya, sebagai balasan ia memberi upah atau tabarruk. Jika tidak, itu berat bagi ruhnya, tidak disukainya. Dalam pelayanannya kepada Al-Qur’an, iman, dan agama, Bedîüzzaman Said Nursî selama bertahun-tahun terus berada di bawah pengawasan, pengintaian, pengejaran, dan pemeriksaan.Di berbagai pengadilan pun terbukti bahwa ia melayani Islam hanya dan semata-mata demi Rida Ilahi, hanya dan semata-mata demi hakikat, serta tidak menjadikan pelayanan Al-Qur’annya sebagai alat bagi apa pun. Sekiranya ada hal terkecil yang bertentangan dengan hakikat-hakikat ini serta keunggulan luhur dan hakikat tinggi yang dilihat serta diumumkan dalam Bedîüzzaman Said Nursî dan karya-karyanya oleh para pencinta haq yang melihat haq dan hakikat dalam karya-karyanya, selama dua puluh lima tahun ini hal itu pasti diumumkan musuh agama kepada dunia dengan tambahan, gemerlap, dan kegaduhan terbesar. Ketika ia dikirim ke pengadilan dengan tuduhan dan fitnah yang sepenuhnya palsu melalui hasutan musuh agama yang tiran dan menindas, ia dipamerkan pada halaman pertama surat kabar dengan seratus tambahan pada satu perkara. Ketika setelah diselidiki dan diadili terbukti tidak ada kejahatan dan ia dibebaskan, mereka diam. Inilah salah satu dari banyak bukti nyata bagi hakikat ini. Bedîüzzaman Said Nursî amat menyayangi saudara-saudara seagamanya. Ia menanggung derita mereka, menderita bersama para pejuang Islam yang mengorbankan nyawa demi bebas dan merdekanya dunia Islam, merasakan derita besar saat pukulan dilancarkan terhadap Al-Qur’an dan Islam. Karena pengaruh derita yang begitu pedih, ia bahkan tidak dapat memakan sedikit supnya yang memang amat sedikit; hal ini telah sering terlihat dan masih terlihat. Kebanyakan harinya berlalu dengan penyakit dan kesusahan. Sebagaimana ditulis seorang pelajar Nur: ‘Wahai Ustazku yang penuh kasih, yang tidak menemukan kenyamanan di dunia demi sejahtera dan bahagia abadi bangsa Islam! Penyakitmu yang terus berlangsung bukan penyakit tubuh. Selama tirani dan kezaliman terhadap agama kita belum berakhir, selama dunia Islam belum selamat, deritamu tidak akan reda.’ Ya, kami pun berkeyakinan demikian. Namun derita yang menyakitkan itu sama sekali tidak membuat Bedîüzzaman Said Nursî putus asa. Sebaliknya, ia mendorongnya kepada jihad agama yang begitu menyeluruh dan umum, doa serta ubudiyah, sehingga ia berkata, ‘Satu-satunya jalan selamat ialah berpegang pada Al-Qur’an,’ lalu berpegang padanya. Dengan menuliskan obat-obat yang ditemukannya dalam Al-Qur’an, ia menghasilkan karya-karya Risale-i Nur, yang pada zaman ini menyelamatkan Islam dan menjadi sarana bahagia umat manusia. Kuasa dan kemegahan duniawi musuh agama yang haus darah sama sekali tidak dapat membuat Bedîüzzaman Said Nursî berdiam diri. Dengan meyakini, ‘Tugasku melayani Al-Qur’an. Membuat menang atau kalah adalah milik Allah subhânahu,’ ia tidak tertinggal sesaat pun dari kegiatan.Ya, Ustaz yang mulia memiliki tekad begitu besar sehingga kezaliman mengerikan yang dilakukan kepadanya pasti tidak berdaya di hadapan tekad ini. Bedîüzzaman Said Nursî menyaksikan makhluk-makhluk di bumi dan langit dengan takjub dan kagum. Ia banyak berjalan di padang dan gunung, terutama pada musim semi. Di tempat-tempat pemandangan itu pikirannya bekerja, bertafakur dengan teliti, dan terus berada dalam kesadaran akan Hadirat Allah subhânahu. Dengan berkata tentang pohon, tumbuhan, dan bunga, ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺑَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻓَﺘَﺒَﺎﺭَﻙَ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣْﺴَﻦُ ﺍﻟْﺨَﺎﻟِﻘ۪ﻴﻦَ ‘Betapa indah mereka diciptakan,’ ia memandangnya untuk mengambil pelajaran, membaca kitab alam. Seperti setiap anggota dan indranya, ia terus menggunakan matanya demi Allah subhânahu dan dalam batas Izin-Nya. Matanya pembaca kitab besar alam ini, penyaksi mukjizat Seni Rabbani dalam alam ini, dan seperti lebah yang diberkahi bagi bunga-bunga Rahmat di taman bumi ini. Dalam hidup pribadinya Ustaz rendah hati, dalam menjalankan tugas ia berwibawa. Dalam rendah hati dan tidak menonjolkan diri, ia berada pada derajat yang menjadi teladan. Tentang ini ia berkata: ‘Seorang prajurit ketika berjaga tidak akan meletakkan senjatanya, sekalipun panglima besar datang. Aku pelayan dan prajurit Al-Qur’an. Ketika bertugas, siapa pun yang muncul di hadapanku, kukatakan inilah haq, aku tidak menundukkan kepala.’ Ringkasnya kami sampaikan: Bedîüzzaman Said Nursî adalah mufasir Al-Qur’an yang sejati dan luar biasa, memiliki ikhlas yang utuh. Ia pun pelayan Al-Qur’an yang gagah dan tidak ada bandingnya, mencapai ikhlas yang paling sempurna. Sebagai penulis Risale-i Nur, ia ahli kalam yang agung, alim besar yang amat luas serta kukuh ilmunya, penyelidik dan penelaah yang teliti, juga guru tinggi ilmu logika yang tidak ada bandingnya. Karyanya bernama Ta'likat (Catatan-Catatan) adalah mahakarya dalam logika. Ia pun pribadi jenius yang istimewa, mencintai haq dan melihat hakikat; filsuf pencinta hakikat dari filsafat lurus yang berdamai dengan Al-Qur’an; sosiolog (ahli masyarakat), psikolog (ahli jiwa), dan pedagog (ahli didikan) yang tidak ada bandingnya; penulis dan sastrawan yang tinggi, tidak ada bandingnya, dan jenius, yang selalu telah dan terus menyanyikan hakikat. Karena Bedîüzzaman Said Nursî selama bertahun-tahun berada di bawah tirani dan pembatasan berat, tidak diperkenalkan, serta menyelubungi dan menyembunyikan keunggulan pribadinya sendiri, mungkin ada yang belum mengetahui setiap sifat tersebut.Keterangan kami tentang hal-hal ini serta ciri-ciri Risale-i Nur merupakan putusan sebagian ulama sejati dan para wali Allah subhânahu yang mencintai hakikat serta kebajikan pada zaman ini, dengan kekuatan sepakat dan ijmak. Ia pun keyakinan kami yang pasti. Dalil kami yang paling dipercaya, paling utama, dan paling sejati bahwa Bedîüzzaman Said Nursî memiliki ilmu dan sifat-sifat demikian ialah Bedîüzzaman Said Nursî sendiri. Siapa yang mempunyai syubhat, hendaklah membaca Risale-i Nur. Ya, hakikat-hakikat besar yang telah dan akan kami sebutkan ini kami ungkapkan serta umumkan kepada seluruh dunia Islam dan seluruh umat manusia. Ya, selama seribu tahun dunia Islam dan manusia menunggu karya seperti Risale-i Nur. Bedîüzzaman Said Nursî dapat menulis karya istimewa dalam banyak ilmu. Namun ia berkata, ‘Zaman ini adalah zaman menyelamatkan iman,’ lalu mengkhususkan seluruh tekad, usaha, dan hidupnya untuk menulis serta menerbitkan ilmu-ilmu iman. Ya, dengan menerbitkan ilmu-ilmu iman, Ustaz yang mulia menghidupkan dan menerangi dunia Islam serta umat manusia. Semoga Allah subhânahu meridai Ustaz besar itu selamanya dan memberinya umur panjang, amin, amin, amin! Risale-i Nur adalah tafsir tinggi dan cemerlang dari Al-Qur’an yang ungkapannya bermukjizat, suatu mukjizat maknawinya pada abad ini. Ya, Risale-i Nur adalah penakluk dan kekasih hati, sultan ruh, guru akal, pendidik dan penyuci nafsu. Salah satu ciri Risale-i Nur ialah pembahasan ini pada halaman seratus dua puluh sembilan jilid pertama Mektubat: ‘Dalam beberapa Kalimat, tentang perbedaan jalan ahli kalam dan metode sejati yang diambil dari Al-Qur’an, kami memberi perumpamaan begini: misalnya, untuk mendatangkan air, sebagian orang menggali di bawah gunung dan membawa air dari tempat jauh dengan pipa-pipa air. Sebagian menggali sumur di setiap tempat dan mengeluarkan air. Jenis pertama sangat sulit. Ia tersumbat, terputus. Namun mereka yang mampu menggali sumur dan mengeluarkan air di setiap tempat menemukan air tanpa kesulitan di mana-mana... Demikian pula, para ahli kalam memutus sebab-sebab pada ujung alam melalui mustahilnya tasalsul dan daur, lalu dengannya membuktikan Wujud Sang Wâjibul Wujûd. Jalan yang panjang dilalui. Adapun metode sejati Al-Qur’an Al-Hakîm menemukan dan mengeluarkan air di setiap tempat.Setiap ayatnya seperti tongkat Musa; di mana pun dipukulkan, ia memancarkan air kehidupan. Ia membuat segala sesuatu membacakan kaidah ﻭَ ﻓ۪ﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻟَﻪُ ﺍٰﻳَﺔٌ ﺗَﺪُﻝُّ ﻋَﻠٰﻰ ﺍَﻧَّﻪُ ﻭَﺍﺣِﺪٌ. Iman pun bukan hanya melalui ilmu; banyak daya halus memiliki bagian dalam iman. Sebagaimana makanan yang masuk ke perut dibagi dan disalurkan dengan cara berbeda kepada saraf-saraf yang berbeda, perkara-perkara iman yang datang melalui ilmu pun setelah masuk ke perut akal, menurut tingkatnya, dibagikan kepada ruh, hati, sirr, nafsu, dan seterusnya... Daya-daya halus masing-masing mengambil dan menyerap bagian menurut dirinya. Jika mereka tidak mendapat bagian, itu kurang.’ Risale-i Nur menemukan dan mengeluarkan air di setiap tempat. Ia memendekkan jalan panjang yang dahulu ditempuh, membuatnya lurus dan aman. Para ahli hikmah dahulu berkata tentang sebagian hukum syariat dan akidah iman, ‘Ini naqli, kami mengimaninya, akal tidak mencapainya.’ Padahal pada abad ini akal memutuskan. Bedîüzzaman Said Nursî berkata, ‘Semua hukum syariat dan hakikat iman bersifat akli. Aku siap membuktikan bahwa semuanya akli,’ lalu membuktikannya dalam Risale-i Nur. Dalam Risale-i Nur terdapat sastra, balagah, dan uraian ringkas yang istimewa; gaya yang tidak ada bandingnya, menarik, dan asli. Ya, Bedîüzzaman Said Nursî memiliki gaya yang khas bagi dirinya. Gayanya tidak dapat ditimbang dan dibandingkan dengan gaya lain. Jika pada sebagian karya dijumpai suatu hal yang disangka kurang sesuai menurut kaidah sastra atau gaya lain, di sana terdapat makna halus, isyarat, arti, atau hikmah yang amat halus. Cara uraian itu sepenuhnya sesuai dengan tempatnya. Namun para alim pun mengakui tidak segera memahami kehalusan itu. Karena itu mereka yang tidak banyak menekuni Risale-i Nur tidak dapat segera menangkap ciri dan kehalusan dalam karya-karya Bedîüzzaman Said Nursî. Penyair besar kita, kebanggaan sastra kita, almarhum Mehmed Âkif, berkata dalam majelis sastrawan, ‘Para Victor Hugo, Shakespeare, dan Descartes dapat menjadi seorang pelajar Bedîüzzaman Said Nursî dalam sastra dan filsafat.’ Para sastrawan dan penyair menangis karena lenyap dan berpisah, meratap karena maut. Mereka menggambarkan musim gugur dengan sedih. Bahkan para sastrawan Arab yang terkenal di dunia berkata لَوْلَا ﻣُﻔَﺎﺭَﻗَﺔُ الْاَحْبَابِ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪَﺕْ ﻟَﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﻨَﺎﻳَﺎ ﺍِﻟٰﻰ ﺍَﺭْﻭَﺍﺣِﻨَﺎ سُبُلًا, dengan makna ‘Jika tidak ada perpisahan, maut tidak dapat menemukan jalan datang untuk mengambil ruh kita.’ Adapun Bedîüzzaman Said Nursî berkata, ‘Di alam, lenyap, berpisah, dan tidak ada itu hanya tampak secara lahir. Sebenarnya tidak ada perpisahan, ada wishâl.Tidak ada lenyap dan keadaan tidak ada, ada pembaruan. Segala sesuatu dalam alam mendapat suatu bentuk baqa. Maut ialah pergi dari alam fana ini ke alam yang kekal. Bagi orang yang mendapat petunjuk dan ahli Al-Qur’an, maut adalah sarana bertemu kawan serta kekasih lama yang telah pergi ke alam lain. Ia juga sarana masuk ke tanah air sejati. Ia pun undangan dari penjara dunia ke taman-taman surga. Ia giliran menerima upah bagi pelayanannya dari Karunia Sang Rahmân Rahîm. Ia pelepasan dari beban tugas hidup. Ia akhir latihan dan perintah ubudiyah serta ujian. Jika Azrail alaihissalam datang hari ini, aku akan menyambutnya dengan tersenyum, berkata selamat datang, datanglah dengan gembira.’ Ketika menyelamatkan manusia dari hidup yang rusak dan kesesatan melalui Risale-i Nur, Bedîüzzaman Said Nursî tidak mengikuti cara menimbulkan takut dan ngeri. Dengan menunjukkan seratus derita dalam nikmat yang tidak sah, ia mengalahkan dorongan rasa. Ia menjaga hati dan ruh dari dikalahkan perasaan. Melalui perbandingan-perbandingan, Risale-i Nur membuktikan bahwa dalam kufur dan kesesatan terdapat benih zaqqum neraka yang membuat orang menanggung siksa neraka bahkan di dunia; dalam iman, Islam, dan ibadah terdapat benih surga, kenikmatan yang lezat, rasa, serta buah-buah surga, yang membuat orang memperoleh suatu jenis ganjaran bahkan di dunia. Risale-i Nur menghapus nifak dan pertikaian, pemecahan, fitnah dan kerusakan, lalu menanamkan persaudaraan, ukhuwah agama, saling menopang dan membantu. Ini pun salah satu dasar jalan Risale-i Nur. Risale-i Nur menyelamatkan dari akhlak buruk seperti angkuh, sombong, memamerkan diri, dan kehinaan, lalu membuat orang memiliki akhlak indah seperti rendah hati, tidak menonjolkan diri, mulia, dan berwibawa. Risale-i Nur membuat manusia yang benar-benar manusia memahami bahwa dirinya tak berdaya dan serba kurang. Bedîüzzaman Said Nursî berkata, ‘Dengan memahami bahwa dirinya tak berdaya dan serba kurang, manusia menjadi Muslim dan hamba yang utuh.’ Mereka yang berkata atau melakukan, ‘Marilah juga memperoleh pendidikan baru untuk mengalahkan orang-orang yang tidak beragama ini,’ mencapai tujuannya dengan menelaah Risalah-Risalah Nur secara terus-menerus dan teguh; hanya inilah jalannya. Dengan demikian, pengetahuan sekolah mereka pun berubah menjadi makrifat Ilahi. Wahai saudara-saudaraku yang berjiwa pejuang, keturunan bangsa yang selama seribu tahun membawa panji Islam!Kami, kaum Muslim zaman ini, serta kaum Muslim abad-abad mendatang memerlukan pemandu yang demikian, tafsir Al-Qur’an yang agung, yang melalui pelajaran iman tahkiki membuat orang maju dan meningkat dalam tingkat-tingkat iman. Ia pun hendaklah membina kaum Muslim yang tidak penakut, justru berani, gagah, aktif, beramal saleh, taat beragama, dan bertakwa seperti para pelajar Risale-i Nur; sekaligus pejuang yang mengorbankan kenyamanan serta kepentingan pribadinya demi selamatnya iman dan Islam, membebaskan dari sikap tidak peduli. Ia hendaklah membina pelayan-pelayan Islam seperti para pelajar Nur yang setia dan ikhlas, yang hanya melayani demi Rida Allah subhânahu, yang di hadapan serangan, penyiksaan, dan kemungkinan maut sama sekali tidak mundur dari barisan Al-Qur’an dan Islam dengan keberanian yang datang dari kekuatan iman tahkiki, berkata, ‘Jika mati aku syahid, jika tetap hidup aku pelayan Al-Qur’an,’ dan tidak menjadi gentar. Ia hendaklah menghasilkan kaum Muslim yang begitu mulia. Ya, abad ini mutlak memerlukan tafsir Al-Qur’an seperti Risale-i Nur, yang menggerakkan akal, pikiran, dan logika, menerangi ruh, hati, serta nurani. Ia membangunkan kaum Muslim dan manusia, memberi kesadaran, menyelamatkan dari lalai. Ia menunjukkan jalan Al-Qur’an, sirat mustakim. Dengan membuat orang menyadari hal-hal yang disuruh dilakukan dan dilakukan bertentangan dengan sunnah luhur serta syiar Islam, ia mengajarkan mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan membangkitkan usaha menghidupkannya. Bahwa Risale-i Nur adalah tafsir Al-Qur’an yang memuat sifat-sifat demikian telah nyata selama tiga puluh tahun dan terbukti dengan pembenaran ahli hakikat. Pembelaan para pelajar Risale-i Nur yang diseret ke pengadilan melalui rencana musuh agama yang tanpa ampun pun merupakan dalil nyata. Begitu pula selama pelayanan Islam, mereka tidak gentar terhadap penyiksaan akibat tipu daya musuh Islam yang tersembunyi, para tiran zalim yang tanpa belas kasih. Tanpa memikirkan diri, yakni mengorbankan hidup sejahtera mereka sendiri agar Islam sejahtera dan bahagia, mereka teguh dengan setia yang sungguh-sungguh dan melawan kezaliman paling berat.Ya, kakak-kakak kita yang menjadi pahlawan Nur, yang selama dua puluh lima tahun mewakafkan seluruh dirinya kepada pelayanan iman melalui Risale-i Nur, hingga kini berkali-kali menghadapi serangan dan penggeledahan ‘musuh agama yang kejam’, namun selama dua puluh lima tahun dalam menyendiri menerbitkan Risale-i Nur, adalah pejuang iman dan Islam yang menjadi teladan bagi kita. Kita kaum Muslim mencari tafsir Al-Qur’an seperti ini, menunggu pemandu seperti ini. Para pelajar Nur yang ikhlas itu, selain mengimani, ‘Allah subhânahu adalah Hafîzh. Aku berada di bawah Inayah dan Perlindungan-Nya. Apa pun yang menimpaku adalah baik,’ juga beramal. Mereka menjalankan pelayanan iman. Mereka pun berhati-hati agar tidak ditangkap musuh agama dan agar Risalah-Risalah Nur yang mereka yakini lebih berharga daripada nyawa mereka tidak dirampas oleh musuh itu. Mereka terus melayani tanpa memperhitungkan bahaya bagi diri. Ketika dilempar ke penjara dan ruang tahanan, lalu disiksa, mereka tetap terhubung dengan gurunya, Bedîüzzaman Said Nursî. Jika memperoleh kesempatan secara sembunyi, mereka tetap menekuni Risale-i Nur. Bahkan ada pelajar yang menghafal sebagian karya Nur karena berpikir, ‘Mungkin aku dipenjarakan, Risalah-Risalah Nurku tidak diberikan, aku kehilangan kesempatan belajar.’ Ketika seorang pelajar Nur yang ikhlas dikeluarkan dari penjara, seolah penjara dengan cambuk, pukulan pada telapak kaki, dan beragam penyiksaan itu menjadi sumber kekuatan serta energi baginya, memberi pengaruh seperti cambuk untuk berlari dalam pelayanan Nur dengan setia dan waspada, ia semakin dekat kepada gurunya dan lebih banyak menekuni serta menerbitkan karya Nur daripada dahulu. Dalam peristiwa Afyon, ketika Bedîüzzaman Said Nursî dipenjara, seorang pelajar Nur yang menjadi guru memberikan jawaban gagah tentang Risale-i Nur dan Ustaz di kejaksaan. Jaksa marah, mengancam, ‘Kini akan kulempar engkau ke penjara!’ Guru yang rela berkorban demi Islam itu menjawab, ‘Aku siap, kirimkan aku segera ke penjara!’ Dalam Pengadilan Afyon pula, diberikan putusan penahanan terhadap seorang pelajar Nur, tetapi pihak pengadilan tidak dapat menemukannya. Pelajar itu mengetahuinya. Seperti saudara-saudara Nur yang lain, dengan berkata, ‘Bagaimana aku dapat berada di luar sementara Ustaz dan saudara-saudaraku dipenjara?’ ia menyerahkan diri kepada kejaksaan dan masuk penjara. Di penjara yang sama, seorang pelajar Nur dibebaskan karena keliru. Ia berpikir, ‘Ustaz dan saudara-saudaraku masih dipenjara.Selain itu, ada Risalah-Risalah Nur yang baru ditulis dan salinannya harus kuselesaikan.’ Dengan berpikir demikian, ia berkata kepada kepala penjara, ‘Aku seharusnya dibebaskan empat puluh hari lagi. Masa hukumanku belum berakhir.’ Mereka menghitung dan ternyata benar demikian; mereka memasukkannya kembali ke penjara. Saudara-saudaraku yang memahami dan layak memiliki semangat membela agama! Jika Bedîüzzaman Said Nursî melihat keterangan seperti ini tentang dirinya, ia akan berkata: ‘Mengapa mereka berbuat demikian? Pribadiku tidak penting. Nilai ada dalam Risale-i Nur yang merembes dari Al-Qur’an dan merupakan milik Al-Qur’an Al-Hakîm. Aku bukan apa-apa.’ Karena hakikat-hakikat Al-Qur’an dan cahaya yang tampak serta tercermin dalam pribadi Ustaz, pelajaran iman dan Islam yang diterbitkannya, dan pelayanannya kepada Al-Qur’an serta agama dengan ikhlas yang utuh secara umum dan menyeluruh, penghargaan serta pujian kepadanya, dengan makna harfi, tidak tetap menjadi milik pribadinya. Semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan Islam, atas nama dan demi Allah subhânahu. Permusuhan serta serangan yang dilancarkan musuh agama kepadanya juga mengarah pada maksud khusus menghapus Al-Qur’an dan Islam yang dilayani Bedîüzzaman Said Nursî. Sebab karya-karya Risale-i Nur yang meliputi dunia dan memuat hakikat Al-Qur’an serta iman dianugerahkan kepadanya. Para penentang dan musuh iman serta Islam yang bertopeng, tersembunyi, dan munafik, yang mengetahui hakikat nyata ini, selama hampir setengah abad masih berusaha merusak nama pribadi Bedîüzzaman Said Nursî yang tidak dapat mereka runtuhkan, dengan dusta dan kegaduhan. Maksud mereka: jangan sampai Risale-i Nur disukai, diterima, dan tersebar; jangan sampai iman dan Islam berkembang. Padahal semakin mereka mengusik Bedîüzzaman Said Nursî, Risale-i Nur semakin bersinar, lingkup penerbitannya meluas. Peristiwa-peristiwa selama dua puluh lima tahun yang menjadi contoh nyata hadir. Sementara musuh Islam terus melancarkan propaganda yang sepenuhnya dusta dan serangan di satu sisi, di sisi lain mereka berusaha menghalangi dari balik tirai semacam pembelaan para pelajar Nur terhadap guru mereka dan Risale-i Nur, berupa tulisan serta perkataan penuh penghargaan yang mengungkapkan terima kasih dan syukur, lahir dari manfaat serta cahaya yang diperoleh sesuai dengan bakat mereka. Untuk itu, dengan tampak tulus kepada kawan-kawan dari para kawan yang mereka pandang mudah percaya, atau kepada para kawan itu, mereka membuat orang mengatakan hal-hal seperti ‘Kalian berlebihan.’ Dengan beragam fitnah yang begitu licik, penuh tipu daya dan intrik, mereka berusaha menakuti, membuat kita gentar, dan membungkam kita.Ya, masuk akalkah musuh agama membuat kegaduhan yang hanya terdiri atas fitnah dan dusta, sementara kita diam dalam membela dengan menampakkan hakikat? Mungkinkah ketika para propagandis tanpa belas kasih yang, karena memusuhi Islam, melakukan ketidakadilan secara zalim dan tiran terhadap Ustaz Bedîüzzaman Said Nursî menebarkan dusta mereka, kita tidak berusaha menggagalkan dusta yang luar biasa itu dengan menyatakan benarnya Ustaz dan Risale-i Nur? Bukankah bodoh dan mudah tertipu bila musuh Al-Qur’an dan iman yang haus darah, menindas, dan zalim terus meninggikan suara dengan cerita buatan untuk menentang Bedîüzzaman Said Nursî, yang melayani pembelaan serta penjagaan Al-Qur’an, Islam, dan agama dari kufur mutlak melalui Risale-i Nur, sementara kita diam dan bungkam dalam menjelaskan serta menyatakan haq dan hakikat, atau dengan sesuatu seperti ‘Diamlah sebentar!’ memberi semacam bantuan dan dukungan kepada orang-orang tanpa agama yang tersembunyi, yang bekerja di balik penyekat dan tirai? Sama sekali tidak, sekali-kali tidak! Kita pasti tidak akan diam dan mereka tidak akan dapat membungkam. Kita tidak akan berhenti dan mereka tidak akan dapat menghentikan. Sampai nyawa keluar dari sangkar ini, sampai ruh berpisah dari tubuh ini, sampai napas meninggalkan badan ini, kita akan membaca dan menerbitkan Risale-i Nur. Menghadapi musuh agama yang haus darah, pemfitnah dan perancang tipu daya, kita akan menampakkan dan menyatakan bahwa Risale-i Nur sepenuhnya hakikat dan haq itu sendiri, serta Bedîüzzaman Said Nursî sepenuhnya bersih dan bebas dari tuduhan-tuduhan yang dilancarkan. Saudara-saudaraku yang berharga! Dalam sejarah Islam telah muncul pribadi-pribadi besar dan tidak ada bandingnya yang tempatnya berada pada halaman-halaman emas. Tafsir serta karya pribadi-pribadi yang tidak ada bandingnya itu begitu istimewa sehingga tidak dapat dibandingkan dengan karya filsuf Eropa mana pun. Para penulis dan jenius Islam yang besar itu melayani Al-Qur’an dan Islam dengan benar serta murni, tanpa berada selama bertahun-tahun di bawah tawanan berat dan tirani pekat suatu pemerintahan.Dibiarkan di bawah tirani mutlak dan kezaliman paling berat yang tidak ada bandingnya dalam sejarah, dalam tawanan yang mengerikan, menghadapi musuh agama yang berusaha memusnahkan dirinya dan karya-karyanya, Bedîüzzaman Said Nursî, suatu pribadi maknawi, berhasil dan menang dalam jihad agama terbesarnya dengan cara yang belum terlihat dalam sejarah manusia, dengan sepenuhnya mengikuti sunnah junjungan kita Rasul Yang Mahamulia ﷺ. Mampu menulis secara sembunyi seratus tiga puluh karya iman di bawah tirani, tekanan, dan pembatasan berat seperti Bedîüzzaman Said Nursî; memiliki takwa dan ubudiyah yang kuat; bersama itu bertempur sebagai pejuang dengan pasukan sukarelawannya di medan perang; bahkan di garis tembak, setiap ada kesempatan, menulis tafsir Al-Qur’an yang menjelaskan butir paling halus serta i'jaz-nya yang luar biasa; sekaligus menang dalam perjuangan melawan nafsu dan menjadikan nafsunya pelayan agama; kebebasannya dirampas, diasingkan ke desa terpencil, dikepung dalam pengasingan mutlak, pengawasan, dan segala siksa, di bawah tekanan kekuatan berkuasa yang jauh melampaui kezaliman Inkuisisi, di tengah penyiksaan amat biadab oleh penjahat-penjahat buas, menerbitkan dari balik tirai karya-karya seperti Risale-i Nur dengan rahasia ﺳِﺮًّﺍ ﺗَﻨَﻮَّﺭَﺕْ; dengan demikian sebagai pelayan sunnah luhur Rasul Yang Mahamulia, ‘Penakluk’ materi dan maknawi dunia ﷺ, membawa masyarakat yang kini mencapai jutaan orang maju dengan selamat di jalan raya besar Al-Qur’an Al-Hakîm melalui Inayah Ilahi; menjadi sarana melalui karya seperti Risale-i Nur bagi bahagia abadi orang beriman serta umat manusia, bukan hanya urusan dunia mereka: kepada pribadi mana lagi dalam sejarah, selain penulis Risale-i Nur Bedîüzzaman Said Nursî, dianugerahkan terhimpunnya ciri-ciri tersebut dalam pribadi maknawinya? Ya, saudara-saudaraku!Risale-i Nur memancarkan terang hakikat, bukti haq, dan pelita hakikat demikian rupa, mengajarkan hakikat Al-Qur’an serta iman yang akan mewujudkan bahagia dua dunia, dan merupakan Karunia Ilahi sedemikian rupa sehingga selama dua puluh lima tahun, setiap lapisan manusia—keluarga dan anak-anak, muda dan tua, perempuan dan laki-laki, guru, filsuf, pelajar, alim, serta ahli tasawuf—menjadi pencinta cahaya ini, ngengat cahaya ini, tertarik oleh cahaya ini, menyayangi cahaya ini. Mereka berlari kepada cahaya ini, melemparkan diri ke dadanya, meminta bantuan darinya. Himpunan besar yang terdiri atas jutaan orang beruntung diterangi dan diselamatkan oleh cahaya ini. Ya, saudara-saudaraku! Risale-i Nur, tafsir sejati Al-Qur’an yang agung, khazanah mukjizat sekaligus mukjizat terbesar, mengajarkan hakikat yang begitu membangkitkan rasa ingin tahu, begitu menarik, begitu dahsyat dan agung, serta membuktikan masalah-masalah demikian rupa sehingga menjadi, dan akan menjadi, sarana berkembang serta meluasnya iman dan Islam seluas benua. Ya, Risale-i Nur memberi hati cinta dan kasih begitu besar, memberi ruh rasa terpukau dan gejolak demikian rupa, meyakinkan akal serta logika dengan cara demikian, dan menghasilkan rasa tenteram di hati demikian rupa sehingga jutaan pelajar Nur dibuatnya membaca berulang kali, menulis, dan menelaah sepanjang umur; selama bertahun-tahun ia seolah menerbitkan dirinya sendiri. Saudara-saudaraku yang mulia! Untuk memusnahkan Islam, kelompok-kelompok zindik yang digerakkan tangan asing memainkan intrik dan tipu daya demikian, menjalankan siasat khianat, melakukan kezaliman yang haus darah serta biadab, menerapkan rencana setan yang dibenci, dan memperdaya di negeri-negeri Islam, terutama Turki. Mereka mengikuti metode setan yang licik, membenturkan saudara dengan saudara, membuat dusta, propaganda, dan kegaduhan yang begitu memperdaya, menebarkan benih fitnah, kerusakan, dan pemecahan, sehingga membuka celah-celah dalam serta membuat kerusakan besar dalam tubuh Islam.Namun melalui pribadi yang memperoleh ikhlas utuh seperti Bedîüzzaman Said Nursî, yang digerakkan dan ditugasi dengan Pertolongan Allah subhânahu, musibah-musibah itu menjadi sebab munculnya karya-karya Risale-i Nur, yang dengan Rahmat Ilahi memiliki sifat memberi pertolongan dan kesembuhan, disukai serta meliputi dunia. Pada saat yang sama, musibah itu membangunkan kaum Muslim, mendorong mereka mencari jalan selamat. Ia membuat mereka sangat merasakan kebutuhan memperoleh pelajaran iman sejati, berlindung kepada Allah subhânahu dan menaati Perintah-Nya demi menyelamatkan hidup akhirat yang abadi; membuat mereka memahami bahwa musibah-musibah itu memperingatkan kelalaian dan kekurangan dalam hal ini. Memang inilah hikmah bencana dan musibah yang menimpa manusia serta orang beriman. Ya, perlakuan dan kezaliman seperti binatang buas oleh orang-orang asing itu juga mempercepat arus kebebasan, kemerdekaan, dan ittihad Islam dalam dunia Islam. Akhirnya ia menghasilkan terbentuknya negara-negara Islam yang merdeka. Insyaallahu Ta'âlâ, republik-republik Islam yang bersekutu pun akan terwujud, dan Islam akan berkuasa serta memerintah dunia. Dengan kuat kami berharap dan memohon dari Rahmat Ilahi. Penulis Risale-i Nur Bedîüzzaman Said Nursî adalah pejuang Islam sedemikian rupa, dan karyanya Risale-i Nur merupakan karya yang begitu membangunkan, menyelamatkan, luar biasa, dan meliputi dunia, sehingga mematahkan punggung semua kelompok yang menentang agama itu, menggagalkan kegiatan-kegiatan berbahaya serta jahat tersebut, menghancurkan batu-batu dasar sikap tanpa agama dan memutusnya hingga ke akar. Dari balik tirai ia mengembangkan meluasnya Islam dan iman dari hati ke hati, serta menyiapkan landasan bagi kekuasaan mutlak Al-Qur’an yang agung. Ya, Risale-i Nur memperbaiki, dan akan memperbaiki, kerusakan itu dengan hakikat-hakikat berlian Al-Qur’an serta jalan paling pendek dan paling lurus dalam Al-Qur’an yang mulia; mengobati, dan akan mengobati, luka-luka itu dengan obat-obat dari apotek besar Al-Qur’an Al-Hakîm.Para pejuang dan ulama Islam yang berpandangan tajam pun sepakat dengan keyakinan pasti yang bertumpu pada perbuatan serta pengamatan: satu-satunya jalan yang telah dan akan mengalahkan dengan meratakan, memusnahkan, serta meruntuhkan secara mutlak para imperialis dan penjajah yang parasit, menumpang hidup, rakus, buas, dan barbar, yang mengisap darah kaum Muslim tak bersalah dan hartanya merupakan darah bangsa yang membatu, beserta pelayan mereka di antara kita yang hanya diperbudak kepentingan pribadi, zalim, haus darah, tamak, dan menindas, ialah karya-karya Risale-i Nur, mukjizat maknawi Al-Qur’an yang ungkapannya bermukjizat pada abad ini. Ya, sejarah manusia tidak menampilkan karya seperti Risale-i Nur. Maka dipahami bahwa Risale-i Nur merupakan tafsir Al-Qur’an yang tidak ada bandingnya. Ya, bukan hanya dunia Islam, dunia Kristen pun berutang dan berterima kasih kepada Bedîüzzaman Said Nursî. Karena keberhasilan dan kemenangan dalam jihad umumnya menghadapi sikap tanpa agama, bahkan Paus di Roma menulis surat selamat dan terima kasih secara resmi kepadanya. Kini dari Kumpulan Risale-i Nur aku akan membaca apa adanya beberapa bagian karya mengenai iman, Al-Qur’an, dan junjungan kita Nabi yang mulia ﷺ. Kalian hendaklah memperoleh karya-karya ini dan membaca semuanya. Saat membaca, mungkin ada saudara kita yang ingin penjelasan. Namun tentang ini kusampaikan: ketika Ustaz kita Bedîüzzaman Said Nursî kadang memberi karunia membacakan Risale-i Nur kepada seorang pelajar Nur, ia tidak menjelaskan, melainkan berkata, ‘Risale-i Nur telah menjelaskan masalah-masalah iman sejauh diperlukan. Guru Risale-i Nur adalah Risale-i Nur. Risale-i Nur tidak menyisakan kebutuhan belajar dari orang lain. Setiap orang mengambil manfaat sendiri sesuai dengan bakatnya. Sekalipun akal kalian tidak memahami setiap masalah sepenuhnya, ruh, hati, dan nurani kalian mengambil bagiannya. Sebesar apa pun manfaat yang kalian peroleh, itu keuntungan besar.’ Jika penjelasan risalah Turki atau Arab yang dibaca ada dalam risalah lain, ia membawa dan membacanya. Para ulama berpandangan tajam yang memahami butir-butir amat halus dalam Risale-i Nur juga berkata: seorang alim mungkin memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ketika membaca Risale-i Nur kepada jamaah, jika ia masuk ke perincian dan menjelaskan dengan pengetahuan lamanya, penjelasan ini dapat menjadi tirai bagi pemahaman serta pengaruh hakikat-hakikat yang diuraikan Risale-i Nur, yang sesuai dengan pemahaman zaman kita dan sepenuhnya menjawab kebutuhannya, juga bagi pemahaman hakikat Risale-i Nur.Karena itu, membaca apa adanya dengan menyebut arti sebagian kata lebih berpengaruh dan lebih utama. Saudara-saudara kita di Universitas Istanbul juga membaca demikian. Kami pun berkata dengan ringkas: Risale-i Nur amat fasih dan padat. Nilai perkataan ada pada ringkas dan pendeknya. Ketika suatu masalah iman dan Al-Qur’an diajarkan kepada semua orang, mengajarkannya secara ringkas memberi lebih banyak cahaya serta manfaat. Wahai Ustaz dan junjungan kami! Semua manusia yang tahu menghargai akan memuliakan dan menghormati Risale-i Nur serta Anda selamanya. Dengan seluruh ruh dan nyawa, dengan seluruh diri, kami mencintai dan memuliakan Risale-i Nur, yang menyelamatkan iman kami melalui pelajaran iman tahkiki, yang nilainya seharga dunia. Cinta dan kasih ini, pengagungan dan hormat ini akan berpindah dari generasi ke generasi, abad ke abad, zaman ke zaman. Ya, hakikat Al-Qur’an dalam Risale-i Nur merupakan kekuatan demikian rupa sehingga di hadapan daya ini dasar-dasar kufur mutlak dan sikap tanpa agama akan tercerai-berai, terguling ke lubang-lubang runtuh, dan mati. Yang tetap tinggal akan berhasil dan selamat dengan cahaya iman serta Al-Qur’an. Ya, kekuatan Al-Qur’an ini, yang dapat menyebarkan gunung dan batu seperti kapas, mencairkan besi serta granit seperti minyak, akan menenggelamkan dunia dalam cahaya dan bahagia. Cahaya Al-Qur’an ini akan berkuasa serta memerintah dunia dalam menyelamatkan iman. ﻭَ ﺍٰﺧِﺮُ ﺩَﻋْﻮٰﻳﻬُﻢْ ﺍَﻥِ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ