JENDELA KEDUA PULUH EMPAT
لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
Kematian, sebagaimana hidup, merupakan bukti Rububiyah, dan hujah Keesaan yang amat kuat. Menurut petunjuk ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓَ, dalam Surat Pertama telah diperlihatkan bahwa kematian bukan tiada, pemusnahan, fana, kehampaan ataupun kepunahan tanpa pelaku, melainkan pelepasan dari pelayanan, perpindahan tempat, pergantian tubuh, berhenti dari tugas, pembebasan dari penjara tubuh, serta hasil Hikmah yang teratur oleh Sang Pelaku yang Hakîm.
Ya, sebagaimana karya-karya ciptaan dan makhluk-makhluk hidup pada muka bumi, serta muka bumi yang hidup, bersaksi atas Wujud Niscaya dan Keesaan Sang Pembuat yang Hakîm, makhluk-makhluk hidup itu pun melalui kematian mereka bersaksi atas sifat Kekal serta Wâhidiyah Zat yang Hayy dan Bâqî. Karena dalam Kalimat Kedua Puluh Dua telah dibuktikan serta dijelaskan bahwa kematian ialah bukti Keesaan yang amat kuat serta hujah Kekekalan, kami menyerahkan pembahasan ini ke sana dan hanya akan menjelaskan satu butir pentingnya. Demikianlah:
Sebagaimana makhluk-makhluk hidup melalui wujud mereka menunjukkan Wujud Sang Wâjibul Wujûd, melalui kematian mereka mereka bersaksi atas sifat Kekal serta Wâhidiyah Zat yang Hayy dan Bâqî. Misalnya, muka bumi, satu makhluk hidup, memperlihatkan Sang Pembuat melalui tata serta keadaannya. Ketika mati, yakni ketika musim dingin menutup muka bumi yang mati itu dengan kafan putihnya, ia memalingkan pandangan manusia darinya. Atau pandangan mengikuti jenazah musim semi yang pergi itu ke masa lalu, lalu memperlihatkan pemandangan lebih luas.
Yakni, sebagaimana seluruh musim semi yang telah berlalu memenuhi bumi, yang masing-masing mukjizat Kudrat, mereka membuat hadirnya makhluk-makhluk bumi yang hidup, yang memenuhi musim semi, yang akan datang sebagai keajaiban Kudrat serta muka bumi yang hidup, terasa dan bersaksi atas adanya. Dalam skala begitu luas, dengan cara begitu cemerlang dan pada tingkat begitu kuat, mereka bersaksi atas Wujud Niscaya, Keesaan, Baqa serta sifat Kekal Sang Pembuat Dzul-Jalâl, Sang Qadîr Dzul-Kamâl, Yang Qayyûm dan Bâqî, Sang Matahari Kekal. Mereka memperlihatkan dalil-dalil begitu cemerlang sehingga mau tak mau, dengan bukti yang nyata, membuat orang mengucapkan ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪِ الْاَحَدِ.
Kesimpulannya,
menurut rahasia ﻭَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ, sebagaimana bumi yang hidup ini bersaksi atas Sang Pembuat dalam satu musim semi, melalui kematiannya ia memalingkan pandangan kepada mukjizat-mukjizat Kudrat-Nya yang tersusun pada kedua sayap waktu, masa lalu serta masa depan. Ia memperlihatkan ribuan musim semi sebagai ganti satu musim semi, serta menunjukkan ribuan mukjizat Kudrat-Nya sebagai ganti satu mukjizat. Setiap musim semi itu bersaksi lebih pasti daripada musim semi yang hadir ini. Sebab, yang pergi ke sisi masa lalu telah pergi bersama sebab-sebab lahiriah mereka; di belakang mereka, yang lain seperti mereka kembali datang menggantikannya.
Jadi, sebab-sebab lahiriah tidak berarti. Hal itu hanya memperlihatkan bahwa Sang Qadîr Dzul-Jalâl menciptakan mereka dan mengirimnya dengan mengikat kepada sebab-sebab melalui Hikmah-Nya. Wajah-wajah bumi yang hidup, yang tersusun pada masa depan, bersaksi lebih cemerlang. Sebab, mereka akan dibuat baru dari tiada, dikirim dan diletakkan di bumi, dibuat menunaikan tugas lalu dikirim pergi.
Wahai orang lengah yang terpaku pada tabiat dan hampir tenggelam di rawa! Bagaimana sesuatu yang tidak memiliki Tangan Rohani penuh Hikmah serta Kudrat yang menjangkau seluruh masa lalu serta masa depan dapat ikut campur dalam hidup bumi ini? Dapatkah kebetulan serta tabiat, yang sama sekali tidak berarti seperti dirimu, ikut campur padanya? Jika hendak selamat, katakan, "Tabiat paling jauh hanyalah buku Kudrat Ilahi. Kebetulan ialah tabir Hikmah Ilahi tersembunyi yang menutupi ketidaktahuan kita," dan mendekatlah kepada hakikat.
JENDELA KEDUA PULUH LIMA
Sebagaimana yang dipukul tentu menunjukkan pemukul; karya berseni menuntut pembuat seni; anak menuntut orang tua; yang di bawah mengharuskan yang di atas; dan seterusnya, seperti seluruh sifat nisbi yang disebut perkara-perkara berhubungan, yang satu tidak ada tanpa yang lain, sifat mungkin ada yang terlihat pada hal-hal juz'i serta keseluruhan alam ini juga memperlihatkan sifat niscaya. Terkenanya tindakan yang terlihat pada semuanya memperlihatkan Perbuatan. Sifat diciptakan yang terlihat pada seluruhnya memperlihatkan Sifat Sang Khâliq. Yang beraneka serta tersusun yang terlihat pada seluruhnya mengharuskan Keesaan. Sifat niscaya, Perbuatan, Sifat Sang Khâliq serta Keesaan jelas dan tentu menuntut Sang Pemiliknya, Yang Niscaya, Sang Pelaku, Wâhid dan Sang Khâliq, yang bukan mungkin ada, terkena tindakan, beraneka, tersusun ataupun diciptakan.
Maka, seluruh sifat mungkin ada, seluruh keadaan terkena tindakan, seluruh sifat diciptakan serta seluruh keragaman dan susunan di segenap alam jelas bersaksi atas Zat Wâjibul Wujûd, Fa'alun lima yurîd, Sang Khâliq segala sesuatu, Wâhid dan Ahad.
Kesimpulannya,
sebagaimana sifat niscaya terlihat dari sifat mungkin ada, Perbuatan dari terkenanya tindakan, dan Keesaan dari yang beraneka; adanya yang terakhir menunjukkan dengan pasti adanya yang pertama. Demikian pula, sifat-sifat yang terlihat pada yang ada, seperti diciptakan dan diberi rezeki, menunjukkan dengan pasti adanya Syuun seperti membuat dan memberi rezeki. Adanya sifat-sifat ini tentu dan jelas menunjukkan Wujud Sang Pembuat yang Rahîm, Khallâq dan Razzâq.
Jadi, melalui bahasa ratusan sifat semacam ini yang dibawanya, setiap yang ada bersaksi atas ratusan Asma indah Zat Wâjibul Wujûd. Jika kesaksian-kesaksian ini tidak diterima, seluruh sifat semacam itu pada yang ada harus diingkari.
JENDELA KEDUA PULUH ENAM
{(Catatan): Jendela ini tidak umum. Ia khusus bagi ahli kalbu serta ahli cinta.}
Keindahan serta keelokan yang diperbarui, datang dan pergi pada wajah yang ada di alam ini menunjukkan bahwa mereka semacam bayangan Pancaran Keindahan kekal. Ya, setelah gelembung-gelembung pada wajah sungai bersinar lalu pergi, yang datang di belakangnya bersinar seperti yang telah pergi; hal itu memperlihatkan bahwa mereka cermin-cermin sinar matahari yang terus ada. Demikian pula, kilauan-kilauan keindahan yang bersinar pada yang ada yang berjalan di sungai waktu yang mengalir menunjukkan Keindahan kekal dan ialah semacam tanda bagi-Nya.
Cinta yang sungguh-sungguh dalam kalbu alam memperlihatkan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna. Ya, sesuatu yang tidak ada dalam hakikat pohon tidak terdapat secara mendasar dalam buahnya; berdasarkan petunjuk itu, cinta ilahi yang sungguh-sungguh pada jenis manusia, buah peka pohon alam, memperlihatkan bahwa di segenap alam terdapat cinta serta kasih sejati, tetapi dalam bentuk-bentuk lain. Maka, cinta serta kasih sejati dalam kalbu alam ini memperlihatkan Sang Kekasih Azali.
Berbagai keadaan tertarik, gelora serta daya tarik yang tampak pada dada alam memperlihatkan kepada kalbu yang sadar bahwa semuanya melalui Tarikan suatu Hakikat Azali yang memikat.
Berdasarkan kesepakatan ahli kasyaf serta kewalian, golongan makhluk yang paling peka dan bercahaya, mereka bersandar pada penghayatan serta apa yang mereka saksikan, lalu bersama-sama memberitakan bahwa mereka menjadi tempat tampaknya Pancaran serta Tajalli Sang Jamîl Dzul-Jalâl, dan melalui penghayatan mengetahui bahwa Sang Jalîl Dzul-Jamâl itu membuat Diri-Nya dikenali dan dicintai. Hal ini juga bersaksi dengan pasti atas Wujud Zat Wâjibul Wujûd, Sang Jamîl Dzul-Jalâl, serta Dia membuat Diri-Nya dikenali manusia.
Pena memperindah serta menghias yang bekerja pada wajah alam dan di atas segala yang ada memperlihatkan dengan jelas Keindahan Asma Zat Pemilik Pena itu.
Keindahan pada wajah alam, cinta dalam kalbunya, daya tarik dalam dadanya, kasyaf serta pengalaman melihat pada matanya, keelokan dan hiasan pada wujudnya, membuka jendela yang amat lembut serta bercahaya. Melaluinya ia memperlihatkan kepada akal dan kalbu yang sadar Sang Jamîl Dzul-Jalâl, yang seluruh Asma-Nya indah, Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, serta Sang Ma'bûd yang tidak pernah lenyap.
Wahai orang lengah yang meronta dalam gelap materi, gelap sangkaan dan syubhat yang mencekik! Sadarlah. Naiklah dengan cara yang layak bagi manusia. Pandanglah melalui keempat lubang ini; lihatlah Keindahan Keesaan, peroleh iman yang sempurna dan jadilah manusia sejati!
JENDELA KEDUA PULUH TUJUH
ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻛ۪ﻴﻞٌ
Kita memandang benda-benda yang tampak sebagai "sebab dan hasil" dalam alam, lalu melihat bahwa sebab yang paling tinggi pun tidak mempunyai daya untuk hasil yang paling biasa. Jadi, sebab-sebab ialah tabir; Yang membuat hasil ialah Yang Lain.
Misalnya, sebagai satu contoh juz'i saja dari karya-karya tak terbatas, kita memandang daya ingat yang ditempatkan pada tempat sekecil biji sawi dalam kepala manusia. Kita melihat bahwa ia seperti kitab yang begitu menyeluruh, bahkan perpustakaan, tempat seluruh perjalanan hidup ditulis tanpa tercampur.
Sebab mana yang dapat ditunjukkan bagi mukjizat Kudrat ini? Lipatan-lipatan otak? Zarah-zarah sel yang sederhana dan tak sadar? Angin-angin kebetulan? Padahal, mukjizat seni itu hanya dapat merupakan Seni Zat yang menyalin serta menulis dokumen kecil dari buku amal besar manusia yang akan dibentangkan pada hasyr, lalu menyerahkannya kepada tangan akal agar diingat saat perhitungan dan agar diketahui bahwa setiap perbuatan yang dikerjakannya ditulis; ia Seni Sang Pembuat yang Hakîm.
Sebagai contoh daya ingat manusia, bandingkan seluruh telur, biji serta benih, dan bandingkan hasil-hasil lainnya dengan mukjizat-mukjizat kecil yang menyeluruh ini. Sebab, hasil serta karya ciptaan mana pun yang engkau pandang mempunyai seni begitu luar biasa, sehingga bukan hanya sebabnya yang biasa dan sederhana, bahkan seluruh sebab, jika berkumpul, akan memperlihatkan ketakberdayaan di hadapannya. Misalnya, andaikan matahari, yang disangka sebab besar, mempunyai kehendak bebas serta kesadaran, lalu dikatakan kepadanya, "Dapatkah engkau membuat tubuh seekor lalat?" Tentu ia berkata, "Dengan karunia Sang Khâliq yang menciptakanku, di tokoku ada banyak cahaya, warna serta panas. Namun, dalam tubuh lalat terdapat sesuatu seperti mata, telinga dan hidup, yang tidak ada di tokoku dan tidak berada dalam lingkup dayaku."
Sebagaimana seni serta hiasan luar biasa pada hasil menyingkirkan sebab-sebab, menunjukkan Sang Wâjibul Wujûd, Musabbibul-Asbâb, dan menyerahkan urusan kepada-Nya menurut rahasia ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﻳُﺮْﺟَﻊُ الْاَمْرُ ﻛُﻠُّﻪُ, hasil-hasil, tujuan serta manfaat yang dipasangkan pada yang dihasilkan juga jelas memperlihatkan bahwa di balik tabir sebab mereka ialah pekerjaan Sang Rabb yang Karîm, Sang Hakîm yang Rahîm.
Sebab, sebab-sebab yang tak sadar tentu tidak bekerja dengan memikirkan suatu tujuan. Padahal, kita melihat setiap makhluk yang hadir datang dengan mengikuti bukan satu tujuan, melainkan banyak tujuan, manfaat serta hikmah. Jadi, Sang Rabb yang Hakîm dan Karîm membuat serta mengirim hal-hal itu.Dia menjadikan manfaat-manfaat itu tujuan wujud mereka.
Misalnya, hujan datang. Diketahui betapa jauh sebab-sebab yang secara lahir menghasilkan hujan dari memikirkan, mengasihani serta menyayangi hewan. Jadi, ia dikirim sebagai pertolongan melalui Hikmah Sang Khâliq yang Rahîm, yang menciptakan hewan serta menjamin rezeki mereka. Bahkan, hujan disebut "rahmat". Karena memuat banyak hasil serta manfaat Rahmat, seolah Rahmat menjadi tubuh berupa hujan, menjadi tetes dan datang setetes demi setetes.
Seluruh hiasan serta keindahan pada tumbuhan dan hewan berhias, yang tersenyum kepada wajah seluruh makhluk, jelas menunjukkan Wujud Niscaya serta Keesaan Zat Dzul-Jalâl di balik tabir gaib, yang hendak membuat Diri-Nya dikenal, dicintai dan diketahui melalui seni-seni berhias serta indah ini. Jadi, keadaan berhias serta sifat menarik pada benda-benda menunjukkan dengan pasti Sifat membuat Diri dikenali dan dicintai. Sifat membuat Diri dicintai dan dikenali jelas bersaksi atas Wujud Niscaya serta Keesaan Sang Pembuat yang Qadîr, Wadûd dan Ma'rûf.
~Kesimpulannya:
Karena sebab amat biasa serta tak berdaya, sedangkan hasil yang dikaitkan kepadanya amat berseni dan berharga, hasil itu menyingkirkan sebab. Tujuan serta manfaat hasil pun menyingkirkan sebab-sebab yang tak tahu dan tak bernyawa, lalu menyerahkan kepada Tangan Sang Pembuat yang Hakîm. Hiasan serta keahlian pada wajah hasil menunjukkan Sang Pembuat yang Hakîm, yang hendak memberitahukan Kudrat-Nya kepada makhluk-makhluk yang sadar serta ingin membuat Diri-Nya dicintai.
Wahai pemuja sebab yang malang! Dengan apa engkau dapat menjelaskan ketiga hakikat penting ini? Bagaimana engkau dapat memperdayakan dirimu? Jika mempunyai akal, robeklah tabir sebab-sebab. Ucapkan ٔﻭَﺣْﺪَﻩُ لَا ﺷَﺮ۪ﻳﻚَ ﻟَﻪُٔ dan selamatlah dari sangkaan-sangkaan tak terbatas.
JENDELA KEDUA PULUH DELAPAN
ﻭَﻣِﻦْ ﺍٰﻳَﺎﺗِﻪ۪ ﺧَﻠْﻖُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافُ ﺍَﻟْﺴِﻨَﺘِﻜُﻢْ ﻭَ ﺍَﻟْﻮَﺍﻧِﻜُﻢْ ﺍِﻥَّ ﻓ۪ﻰ ﺫٰﻟِﻚَ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻠْﻌَﺎﻟِﻤ۪ﻴﻦَ
Kita memandang alam ini dan melihat Hikmah serta Penataan yang mencakup dari sel-sel tubuh hingga seluruh alam. Kita memandang sel-sel tubuh dan melihat pengaturan penting pada sel-sel amat kecil itu melalui Perintah serta Hukum Zat yang melihat dan mengelola manfaat tubuh. Sebagaimana sebagian rezeki untuk lambung disimpan dalam bentuk lemak dan digunakan saat dibutuhkan, pada sel-sel kecil itu pun ada Tasarruf serta Penyimpanan demikian. Kita memandang tumbuhan dan terlihat Pendidikan serta Pengaturan yang amat penuh Hikmah. Kita memandang hewan dan melihat Pendidikan serta pemberian makanan yang amat pemurah. Kita memandang pilar-pilar besar alam dan melihat Pemutaran serta Penerangan yang agung demi tujuan-tujuan penting. Kita memandang seluruh alam dan melihat Penataan sempurna, seperti negeri, kota ataupun istana teratur, demi hikmah luhur serta tujuan-tujuan bernilai tinggi.
Sebagaimana dijelaskan serta dibuktikan dalam Bagian Pertama Kalimat Ketiga Puluh Dua, dari zarah hingga bintang, tidak tersisa tempat seukuran zarah pun bagi syirik. Mereka begitu berhubungan dalam makna sehingga yang tidak menundukkan serta memegang seluruh bintang tidak dapat membuat satu zarah menerima rububiyahnya. Untuk menjadi rabb sejati bagi satu zarah, seluruh bintang harus dimiliki. Sebagaimana dijelaskan serta dibuktikan dalam Bagian Kedua Kalimat Ketiga Puluh Dua, yang tidak mampu menciptakan serta menyempurnakan langit tidak dapat membuat ciri khas wajah manusia. Jadi, yang bukan Rabb seluruh langit tidak dapat membuat corak wajah yang menjadi tanda pembeda pada wajah seorang manusia.
Inilah jendela sebesar alam; jika dipandang melaluinya, ayat-ayat ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺧَﺎﻟِﻖُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠٰﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻭَﻛ۪ﻴﻞٌ ﻟَﻪُ ﻣَﻘَﺎﻟ۪ﻴﺪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ akan terlihat oleh mata akal, tertulis dengan huruf-huruf besar pada lembaran alam. Maka, yang tidak melihatnya tidak mempunyai akal, atau tidak mempunyai kalbu, atau ia hewan dalam rupa manusia.
JENDELA KEDUA PULUH SEMBILAN
ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪
Pada suatu musim semi, aku bepergian dengan rasa asing serta tafakur. Saat melewati kaki bukit kecil, sebuah bunga kuning yang cemerlang menarik pandanganku. Ia mengingatkanku kepada bunga-bunga kuning sejenis yang dahulu aku lihat di tanah asalku serta negeri-negeri lain. Makna berikut datang ke kalbu: bunga ini lambang, cap, meterai serta corak milik siapa, tentu seluruh bunga sejenis pada segenap muka bumi ialah meterai-meterai serta cap-cap-Nya.
Setelah membayangkan meterai ini, datang gambaran berikut: sebagaimana meterai pada surat yang dimeteraikan memperlihatkan pemilik surat, bunga ini pun meterai Sang Rahmân. Bukit kecil yang ditulis dengan berbagai corak serta baris-baris tumbuhan bermakna ini ialah surat Sang Pembuat bunga tersebut. Bukit itu juga meterai. Gurun serta dataran ini menjadi seperti surat Sang Rahmân.
Dari gambaran ini, hakikat berikut datang ke pikiran: setiap sesuatu, sebagai meterai Rabb, mengaitkan seluruh sesuatu kepada Sang Khâliq yang menciptakannya. Ia membuktikan bahwa semuanya surat Sang Penulisnya sendiri. Setiap sesuatu ialah jendela tauhid yang mengaitkan seluruh benda kepada Zat Yang Wâhid dan Ahad.
Jadi, pada setiap sesuatu, terutama yang hidup, ada corak yang begitu luar biasa dan seni yang begitu penuh mukjizat, sehingga Yang membuatnya serta memberinya corak bermakna demikian dapat membuat seluruh sesuatu; dan tentu Yang membuat seluruh sesuatu ialah Dia. Maka, yang tidak dapat membuat seluruh sesuatu tidak dapat mengadakan satu sesuatu pun.
Wahai orang lengah! Pandanglah wajah alam ini: lembaran-lembaran yang ada seperti surat-surat Allah subhânahu Yang Samad yang tak terbatas dan saling berada di dalam; setiap surat dimeteraikan dengan meterai cap tauhid yang tak terbatas. Siapa yang dapat mendustakan kesaksian seluruh meterai ini? Daya mana yang dapat membungkam mereka? Mana pun yang engkau dengarkan dengan telinga kalbu, engkau mendengar ia berkata ﺍَﺷْﻬَﺪُ ﺍَﻥْ لَا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ.
JENDELA KETIGA PULUH
ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ ٭ ﻛُﻞُّ ﺷَﻰْﺀٍ ﻫَﺎﻟِﻚٌ اِلَّا ﻭَﺟْﻬَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤُﻜْﻢُ ﻭَ ﺍِﻟَﻴْﻪِ ﺗُﺮْﺟَﻌُﻮﻥَ
Jendela ini ialah jendela seluruh ahli ilmu kalam yang didasarkan pada imkan serta huduts, dan jalan mereka untuk membuktikan Sang Wâjibul Wujûd. Dengan menyerahkan rinciannya kepada kitab-kitab besar para ahli peneliti seperti "Syarh al-Mawâqif" serta "Syarh al-Maqâsid", kami hanya akan memperlihatkan satu atau dua sinar yang datang ke ruh dari limpahan Al-Qur'an serta jendela ini. Demikianlah:
Tuntutan memerintah serta berkuasa ialah tidak menerima pesaing, menolak sekutu dan menyingkirkan campur tangan. Karena itu, jika ada dua kepala desa dalam desa kecil, mereka merusak ketenteraman serta tatanya. Jika ada dua kepala dalam satu kecamatan, dua gubernur dalam satu provinsi, mereka membuat kekacauan. Jika ada dua raja dalam satu negeri, mereka menimbulkan kekacauan berbadai.
Jika bayangan lemah dari bayangan kuasa serta perintah, dan contoh juz'i pada manusia tak berdaya yang membutuhkan bantuan, demikian tidak menerima pesaing, lawan ataupun campur tangan yang sejenis, bandingkan betapa mendasar hukum menolak campur tangan itu menjalankan kuasanya pada Sang Qadîr Mutlak, dalam Kekuasaan berupa Kerajaan mutlak serta Perintah pada tingkat Rububiyah.
Jadi, tuntutan paling pasti serta terus ada dari Keilahian dan Rububiyah ialah Keesaan serta Ketunggalan. Bukti terang serta saksi pasti baginya ialah tata paling sempurna dan keadaan paling serasi dalam alam. Dari sayap lalat hingga pelita-pelita langit, terdapat tata sedemikian rupa sehingga akal, karena kagum serta mengaguminya, berkata, "Subhanallah, masyaallah, barakallah," lalu bersujud.
Jika terdapat tempat seukuran zarah bagi sekutu dan ia ikut campur, menurut petunjuk ayat mulia ﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ﻓ۪ﻴﻬِﻤَٓﺎ ﺍٰﻟِﻬَﺔٌ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻟَﻔَﺴَﺪَﺗَﺎ, tata akan rusak, bentuk akan berubah dan hasil-hasil kerusakan akan terlihat. Padahal, menurut petunjuk ﻓَﺎﺭْﺟِﻊِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻫَﻞْ ﺗَﺮٰﻯ ﻣِﻦْ ﻓُﻄُﻮﺭٍ ٭ ﺛُﻢَّ ﺍﺭْﺟِﻊِ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮَ ﻛَﺮَّﺗَﻴْﻦِ ﻳَﻨْﻘَﻠِﺐْ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﺒَﺼَﺮُ ﺧَﺎﺳِﺌًﺎ ﻭَ ﻫُﻮَ ﺣَﺴ۪ﻴﺮٌ dan ungkapan ini, pandangan manusia, sejauh apa pun berusaha mencari cacat, tidak menemukannya di mana pun; ia kembali dengan lelah ke tempat tinggalnya, mata, lalu berkata kepada akal pengkritik yang mengirimnya, "Aku lelah sia-sia, tidak ada cacat." Ucapan itu menunjukkan bahwa tata serta keteraturan amat sempurna. Maka, tata alam ialah saksi pasti Keesaan.
Mari beralih kepada "huduts". Para ahli ilmu kalam berkata:
"Alam berubah. Setiap yang berubah bermula. Setiap yang bermula mempunyai yang mengadakannya, yakni pembuatnya. Maka, alam ini mempunyai Yang mengadakan yang Azali."
Kami pun berkata: Ya, alam bermula.Sebab, kita melihat bahwa pada setiap abad, bahkan setiap tahun, bahkan setiap musim, satu alam ciptaan, satu alam, pergi dan yang lain datang. Jadi, ada Sang Qadîr Dzul-Jalâl yang mengadakan alam ini dari tiada; setiap tahun, bahkan setiap musim, bahkan setiap hari, Dia mengadakan satu alam, memperlihatkannya kepada makhluk yang sadar, lalu mengambilnya dan membawa yang lain. Dia menyambungkan mereka berangkai satu di belakang yang lain dan menggantungkannya pada pita waktu. Tentu, alam-alam yang datang dari tiada dan pergi di hadapan mata kita pada setiap musim semi, yang masing-masing merupakan alam yang diperbarui, seperti alam ini, ialah mukjizat-mukjizat Kudrat Zat Yang Qadîr yang mengadakan mereka. Tentu, Zat yang setiap saat menciptakan serta mengganti alam-alam di dalam alam juga menciptakan alam ini, dan menjadikan alam serta muka bumi rumah tamu bagi para tamu besar itu.
Mari beralih kepada pembahasan "imkan". Para ahli ilmu kalam berkata:
"Dalam imkan, kedua sisinya setara." Yakni, jika tiada dan wujud sama, diperlukan Yang menentukan, Yang memilih dan Yang mengadakan. Sebab, yang mungkin ada tidak dapat saling mengadakan dalam rangkaian tanpa akhir. Ia juga tidak dapat berbentuk lingkaran, yang satu mengadakan yang lain dan yang lain mengadakan yang pertama. Maka, ada Sang Wâjibul Wujûd yang mengadakan mereka. Mereka membatalkan lingkaran serta memperlihatkan mustahilnya rangkaian tanpa akhir melalui dua belas bukti, yakni dua belas dalil pasti yang terkenal dengan nama-nama seperti arasyi serta sulami. Mereka memutus rangkaian sebab dan membuktikan Wujud Sang Wâjibul Wujûd.
Kami pun berkata: memperlihatkan pada setiap sesuatu cap khusus Sang Khâliq segala sesuatu lebih pasti serta lebih mudah daripada memutus sebab-sebab pada ujung alam melalui bukti-bukti rangkaian tanpa akhir. Melalui limpahan Al-Qur'an, seluruh Jendela serta seluruh Kalimat menempuh dasar itu. Selain itu, segi imkan mempunyai keluasan tak terbatas. Dari segi-segi tak terbatas, ia memperlihatkan Wujud Sang Wâjibul Wujûd. Ia tidak hanya terbatas pada jalan para ahli ilmu kalam yang memutus rangkaian tanpa akhir, jalan yang memang luas serta besar itu. Ia justru membuka jalan kepada makrifat Sang Wâjibul Wujûd melalui jalan-jalan tak terhitung.Demikianlah:
Ketika setiap sesuatu berada di antara kemungkinan-kemungkinan tak terbatas, yakni banyak jalan serta sisi, dalam wujud, sifat dan masa bertahannya, kita melihat bahwa di antara sisi-sisi tak terbatas itu ia mengikuti jalan teratur dalam wujud. Setiap sifatnya pun diberikan dengan cara khusus. Seluruh sifat serta keadaan yang ia ganti selama masa bertahannya juga diberikan melalui penentuan demikian. Jadi, melalui Kehendak Yang menentukan, Pilihan Yang mengutamakan dan Penciptaan oleh Sang Pencipta yang Hakîm, Dia mengarahkannya pada jalan penuh hikmah di antara jalan-jalan tak terbatas, serta mengenakan kepadanya sifat dan keadaan teratur.
Kemudian Dia mengeluarkannya dari keadaan sendiri dan menjadikannya bagian tubuh yang tersusun; kemungkinan-kemungkinan bertambah. Sebab, ia dapat berada dengan ribuan cara dalam tubuh itu. Namun, di antara keadaan-keadaan tanpa hasil tersebut, ia diberi keadaan khusus yang berbuah, sehingga hasil serta manfaat penting dan tugas-tugas dalam tubuh itu ditunaikan. Lalu tubuh itu juga dijadikan bagian tubuh lain; kemungkinan semakin bertambah, sebab ia dapat berada dengan ribuan cara. Di antara ribuan cara itu, satu keadaan diberikan, dan melalui keadaan tersebut tugas-tugas penting ditunaikan, dan seterusnya. Semakin jauh, semakin pasti ia memperlihatkan Wujud Niscaya Sang Hakîm yang Mudabbir, serta memberitahukan bahwa ia diarahkan melalui Perintah Sang Pemberi Perintah yang Alîm.
Dalam seluruh susunan ini, tubuh menjadi bagian tubuh, satu di dalam yang lain. Sebagaimana seorang prajurit mempunyai tugas khusus, hubungan penuh hikmah dan pelayanan teratur terhadap setiap kumpulan yang saling mencakup itu, pada regu, kompi, batalion, resimen, divisi serta pasukannya; demikian pula, satu sel pupil matamu mempunyai hubungan serta tugas dalam matamu, juga tugas dan pelayanan penuh hikmah terhadap keseluruhan kepalamu. Jika keliru seukuran zarah, kesehatan serta pengelolaan tubuh rusak. Ia mempunyai tugas khusus serta keadaan penuh hikmah terhadap pembuluh darah, saraf perasa dan penggerak, bahkan keseluruhan tubuh. Di antara ribuan kemungkinan, keadaan tertentu itu diberikan melalui Hikmah Sang Pembuat yang Hakîm.
Demikian pula, masing-masing yang ada dalam alam ini, melalui diri serta sifatnya, wujud khusus, bentuk penuh hikmah dan sifat-sifat bermanfaat di antara banyak jalan kemungkinan, bersaksi atas Sang Wâjibul Wujûd.Ketika masuk ke dalam susunan-susunan pun, pada setiap susunan ia menyatakan Sang Pembuatnya dengan bahasa lain. Semakin jauh, hingga susunan terbesar, melalui hubungan, tugas serta pelayanannya ia bersaksi atas Wujud Niscaya, Pilihan serta Kehendak Sang Pembuat yang Hakîm. Sebab, Yang menempatkan satu sesuatu dengan menjaga hubungan-hubungan penuh hikmah terhadap seluruh susunan hanyalah Sang Khâliq seluruh susunan tersebut. Jadi, satu sesuatu seperti bersaksi atas-Nya melalui ribuan bahasa.
Dari segi imkan, kesaksian-kesaksian atas Wujud Sang Wâjibul Wujûd datang bukan sebanyak yang ada di alam, melainkan sebanyak sifat serta susunan mereka.
Wahai orang lengah! Betapa tuli dan tak berakal seseorang harus menjadi, agar tidak mendengar kesaksian-kesaksian serta suara-suara yang memenuhi alam ini? Mari, katakan…
JENDELA KETIGA PULUH SATU
ﻟَﻘَﺪْ ﺧَﻠَﻘْﻨَﺎ الْاِنْسَانَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﺣْﺴَﻦِ ﺗَﻘْﻮ۪ﻳﻢٍ ٭ ﻭَ ﻓِﻰ الْاَرْضِ ﺍٰﻳَﺎﺕٌ ﻟِﻠْﻤُﻮﻗِﻨ۪ﻴﻦَ ٭ ﻭَ ﻓ۪ٓﻰ ﺍَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ اَفَلَا ﺗُﺒْﺼِﺮُﻭﻥَ
Jendela ini ialah jendela manusia dan menghadap ke dalam diri. Dengan menyerahkan rincian sisi dalam diri jendela ini kepada kitab-kitab terperinci ribuan wali yang meneliti dengan saksama, kami hanya menunjukkan beberapa dasar yang kami ambil dari limpahan Al-Qur'an. Demikianlah:
Sebagaimana dijelaskan dalam Kalimat Kesebelas, "Manusia ialah salinan yang menyeluruh, sehingga Allah subhânahu membuat manusia merasakan seluruh Asma-Nya melalui nafsu manusia." Dengan menyerahkan rinciannya kepada Kalimat lainnya, kami hanya akan memperlihatkan tiga nokta.
Nokta Pertama: Manusia ialah cermin Asma Ilahi dari tiga sisi.
Sisi Pertama: Sebagaimana gelap memperlihatkan cahaya pada malam hari, manusia melalui kelemahan serta ketakberdayaannya, keadaan serbakurang serta kebutuhannya, kekurangan serta cacatnya, memberitahukan Kudrat, Kekuatan, Kekayaan serta Rahmat Sang Qadîr Dzul-Jalâl; dengan cara ini ia mencerminkan banyak Sifat Ilahi lainnya. Bahkan, dalam ketakberdayaannya yang tak terbatas dan kelemahannya yang tak berhingga, melalui pencarian sandaran menghadapi musuh-musuh tak terbatas, nurani senantiasa memandang Sang Wâjibul Wujûd. Dalam keadaannya yang serbakurang tanpa batas, di tengah kebutuhan tak berhingga, karena harus mencari tempat meminta pertolongan demi tujuan-tujuan tak berhingga, nurani senantiasa bersandar dari segi itu kepada Pintu Sang Ghaniyy Yang Rahîm, mengangkat tangan dengan doa.
Jadi, pada setiap nurani, dari segi tempat bersandar serta meminta pertolongan, dua jendela kecil terbuka menuju Pintu Rahmat Sang Qadîr yang Rahîm; ia dapat setiap saat memandang melalui keduanya.
Sisi Kedua menjadi cermin: melalui hal-hal juz'i seperti ilmu, daya, penglihatan, pendengaran, kepemilikan serta kuasa yang diberikan kepada manusia sebagai contoh, ia mencerminkan Ilmu, Kudrat, Penglihatan, Pendengaran serta Kuasa Rububiyah Sang Pemilik alam semesta. Ia memahami serta memberitahukannya. Misalnya, sebagaimana aku membuat rumah ini, mengetahui dan melihat cara membuatnya, memilikinya serta mengelolanya, istana alam semesta yang besar ini pun mempunyai Sang Pembuat. Sang Pembuat itu mengetahui, melihat, membuat serta mengelolanya, dan seterusnya.
Sisi Ketiga menjadi cermin: manusia mencerminkan Asma Ilahi yang coraknya terlihat pada dirinya. Sebagaimana sedikit dijelaskan pada awal Bagian Ketiga Kalimat Ketiga Puluh Dua, dalam hakikat manusia yang menyeluruh terdapat lebih dari tujuh puluh Asma yang coraknya tampak. Misalnya, dari diciptakannya ia memperlihatkan Nama Sâni' serta Khâliq; dari bentuk terbaiknya Nama-Nama Rahmân serta Rahîm; dari pendidikan yang baik Nama-Nama Karîm serta Latîf; dan seterusnya…Melalui seluruh anggota serta alatnya, perangkat serta organnya, unsur-unsur halus serta rohaninya, indra serta perasaannya, ia memperlihatkan corak-corak berbeda dari Asma yang berbeda.
Jadi, sebagaimana di antara Asma terdapat Ismul A'zham, pada corak-corak Asma itu juga ada corak teragung, yakni manusia.
Wahai manusia yang mengetahui dirimu sebagai manusia! Bacalah dirimu… Jika tidak, mungkin engkau manusia seperti hewan ataupun benda tak bernyawa.
Nokta Kedua: Menunjukkan suatu rahasia Ahadiyah yang penting. Demikianlah:
Ruh manusia mempunyai hubungan dengan seluruh jasadnya sedemikian rupa sehingga membuat seluruh anggota serta bagiannya saling menolong. Yakni, ruh, yang merupakan hukum Perintah serta unsur halus dari Rabb yang dikenakan wujud luar dari Perintah Penciptaan, Pancaran Kehendak Ilahi, tidak terhalangi ataupun dibuat keliru oleh bagian-bagian itu dalam mengelola, merasakan suara-suara rohani serta melihat kebutuhan mereka. Bagi ruh, jauh dan dekat sama. Mereka tidak saling menjadi tabir. Jika menghendaki, ruh membawa sebagian besar untuk menolong satu bagian. Jika menghendaki, melalui setiap bagian tubuh ia dapat mengetahui, merasakan serta mengelola. Bahkan, jika telah banyak memperoleh sifat cahaya, melalui setiap bagian ia dapat melihat serta mendengar.
Demikian pula, ﻭَ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟْﻤَﺜَﻞُ الْاَعْلٰى karena ruh, satu hukum Perintah Allah subhânahu, memperlihatkan keadaan ini pada tubuh serta anggota manusia, alam kecil, tentu dalam alam semesta, alam besar, perbuatan, suara, doa serta pekerjaan tak terbatas tidak memberatkan Kehendak Menyeluruh serta Kudrat Mutlak Zat Wâjibul Wujûd dari segi apa pun, dan tidak saling menghalangi. Mereka tidak menyibukkan ataupun membuat Sang Khâliq Dzul-Jalâl keliru. Dia melihat semuanya sekaligus dan mendengar seluruh suara sekaligus. Dekat dan jauh satu. Jika menghendaki, Dia mengirim semuanya untuk menolong satu sesuatu. Melalui setiap sesuatu Dia dapat melihat setiap sesuatu, mendengar suara mereka dan mengetahui setiap sesuatu, dan seterusnya…
Nokta Ketiga: Hidup mempunyai hakikat yang amat penting serta tugas yang penting. Namun, karena pembahasan itu telah dijelaskan panjang lebar dalam Jendela Hidup serta Kalimat Kedelapan Surat Kedua Puluh, kami menyerahkannya ke sana dan hanya mengingatkan bahwa corak-corak bercampur yang memancar dari hidup sebagai perasaan menunjukkan banyak Asma serta Syuunat Zat. Dengan cara amat cemerlang, ia mencerminkan Syuunat Zat yang Hayy dan Qayyûm.Karena belum waktunya menjelaskan rahasia ini kepada yang tidak mengenal Allah subhânahu serta belum membenarkan-Nya sepenuhnya, kami menutup pintu.