JENDELA KETIGA PULUH DUA
ﻫُﻮَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺭْﺳَﻞَ ﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﺑِﺎﻟْﻬُﺪٰﻯ ﻭَﺩ۪ﻳﻦِ ﺍﻟْﺤَﻖِّ ﻟِﻴُﻈْﻬِﺮَﻩُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺪّ۪ﻳﻦِ ﻛُﻠِّﻪ۪ ﻭَ ﻛَﻔٰﻰ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺷَﻬ۪ﻴﺪًﺍ ٭ ﻗُﻞْ ﻳَٓﺎ ﺍَﻳُّﻬَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺍِﻧّ۪ﻰ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﺟَﻤ۪ﻴﻌًﺎ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﻟَﻪُ ﻣُﻠْﻚُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ لَٓا ﺍِﻟٰﻪَ اِلَّا ﻫُﻮَ ﻳُﺤْﻴ۪ﻰ ﻭَ ﻳُﻤ۪ﻴﺖُ
Jendela ini ialah jendela Nabi Muhammad, matahari di langit kerasulan, bahkan Matahari segala Matahari ﷺ. Betapa bercahaya serta jelas jendela yang amat cemerlang, amat besar dan sangat bercahaya ini telah dibuktikan dalam Mi'rac Risalesi (Risalah Mikraj), Kalimat Ketiga Puluh Satu; Nübüvvet-i Ahmediye Risalesi (Risalah Kenabian Ahmad) ﷺ, Kalimat Kesembilan Belas; serta Surat Kesembilan Belas yang mempunyai sembilan belas isyarat. Maka, dengan memikirkan kedua Kalimat serta Surat itu, juga Isyarat Kesembilan Belasnya, pada maqam ini kami menyerahkan pembicaraan kepada mereka dan hanya berkata:
Pribadi Ahmad ﷺ, bukti tauhid yang berbicara, melalui sayap kerasulan serta kewalian, yakni dengan kekuatan yang mencakup ijmak mutawatir seluruh nabi sebelumnya serta riwayat mutawatir yang berijmak dari seluruh wali dan orang-orang suci sesudahnya, sepanjang hidup dan dengan seluruh kekuatannya memperlihatkan serta menyatakan Keesaan. Ia membuka jendela yang luas, cemerlang serta bercahaya seperti alam Islam menuju makrifatullah. Jutaan orang suci yang meneliti dengan saksama serta shiddiq, seperti Imam Ghazâlî, Imam Rabbânî, Muhyiddin al-Arabî dan Abdul Qâdir al-Jailânî, memandang melalui jendela itu serta memperlihatkannya kepada yang lain. Adakah tabir yang dapat menutup jendela semacam ini? Apakah yang menuduhnya dan tidak memandang melalui jendela ini mempunyai akal? Mari, katakan!
JENDELA KETIGA PULUH TIGA
ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﻧْﺰَﻝَ ﻋَﻠٰﻰ ﻋَﺒْﺪِﻩِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺠْﻌَﻞْ ﻟَﻪُ ﻋِﻮَﺟًﺎ ﻗَﻴِّﻤًﺎ ٭ ﺍﻟٓﺮٰ ﻛِﺘَﺎﺏٌ ﺍَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎﻩُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻟِﺘُﺨْﺮِﺝَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻈُّﻠُﻤَﺎﺕِ ﺍِﻟَﻰ ﺍﻟﻨُّﻮﺭِ
Pikirkanlah bahwa seluruh jendela sebelumnya ialah beberapa tetes dari lautan Al-Qur'an. Kemudian engkau dapat membandingkan betapa banyak cahaya tauhid dalam Al-Qur'an yang seperti air kehidupan. Namun, sekalipun dipandang dengan sangat ringkas serta sederhana, Al-Qur'an, sumber, tambang serta asal seluruh jendela itu, tetap merupakan jendela menyeluruh yang amat cemerlang dan bercahaya.
Betapa pasti, cemerlang dan bercahaya jendela itu kami serahkan kepada İ'caz-ı Kur'an Risalesi, Kalimat Kedua Puluh Lima, serta Isyarat Kedelapan Belas Surat Kesembilan Belas. Kami memohon kepada Arasy Rahmân dari Zat Dzul-Jalâl, yang mengirim Al-Qur'an kepada kita, lalu berkata: ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺆَﺍﺧِﺬْﻧَٓﺎ ﺍِﻥْ ﻧَﺴ۪ﻴﻨَٓﺎ ﺍَﻭْ ﺍَﺧْﻄَﺎْﻧَﺎ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ لَا ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺍِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ٭ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﻣِﻨَّﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺴَّﻤ۪ﻴﻊُ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ٭ ﻭَ ﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻨَﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢُ
PERINGATAN
Surat Ketiga Puluh Tiga yang mempunyai Tiga Puluh Tiga Jendela ini, insya Allah subhânahu, membawa yang tidak mempunyai iman kepada iman, memperkuat iman yang lemah, menjadikan iman yang kuat tetapi taklidi menjadi iman tahkiki, serta memperluas iman tahkiki. Kepada yang imannya luas, ia memberi kemajuan dalam makrifatullah, pusat serta dasar seluruh kesempurnaan sejati, dan membuka pemandangan-pemandangan yang lebih bercahaya serta cemerlang.
Karena itu, engkau tidak dapat berkata, "Satu jendela cukup bagiku, sudah." Jika akalmu telah puas dan memperoleh bagiannya, kalbumu pun menginginkan bagiannya, ruhmu menginginkan bagiannya, bahkan khayalmu akan meminta bagiannya dari cahaya itu. Maka, setiap jendela mempunyai manfaat berbeda.
Dalam Mi'rac Risalesi, yang utama diajak bicara ialah mukmin; pengingkar Allah subhânahu berada pada tingkat kedua, pada maqam sebagai pendengar. Dalam risalah ini, yang diajak bicara ialah pengingkar; mukmin berada pada maqam-maqam sebagai pendengar. Pikirkan hal ini dan pandanglah sesuai itu.
Namun, sayangnya, karena suatu sebab penting surat ini ditulis dengan amat cepat, bahkan tetap sebagai draf, tentu akan ada kekacauan serta cacat pada cara ungkapan yang berasal dariku. Aku meminta saudara-saudaraku memandangnya dengan lapang, memperbaikinya jika mampu, dan mendoakan ampunan bagiku. وَالسَّلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﺍﻟْﻬُﺪٰﻯ وَالْمَلَامُ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦِ ﺍﺗَّﺒَﻊَ ﺍﻟْﻬَﻮٰﻯ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻋِﻠْﻢَ ﻟَﻨَٓﺎ اِلَّا ﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨَٓﺎ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢُ ﺍﻟْﺤَﻜ۪ﻴﻢُ ﺍَﻟﻠّٰﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﻋَﻠٰﻰ ﻣَﻦْ ﺍَﺭْﺳَﻠْﺘَﻪُ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﻭَ ﺳَﻠِّﻢْ ﺍٰﻣ۪ﻴﻦَ
--
Lemaat
ﻣِﻦْ ﺑَﻴْﻦِ هِلَالِ ﺍﻟﺼَّﻮْﻡِ ﻭَ هِلَالِ ﺍﻟْﻌ۪ﻴﺪِ
Bunga-Bunga Benih
Sebuah kumpulan syair kecil berpasangan serta himpunan puisi iman bagi para murid Risale-i Nur.
Penulis: Bedîüzzaman Said Nursî
PERINGATAN
Sebab karya bernama Lemaat ini tidak hanya mengikuti satu atau dua pokok dengan cara seperti himpunan puisi lainnya ialah: ia ditulis dalam bentuk prosa untuk menjelaskan pada suatu tingkat ungkapan-ungkapan amat singkat dari karya lamanya, Hakikat Çekirdekleri (Benih-Benih Hakikat), dan tidak masuk ke dalam khayalan serta perasaan tanpa timbangan seperti himpunan puisi lain. Dari awal hingga akhir, berupa penalaran serta hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman, karya ini merupakan pelajaran ilmiah, bahkan pelajaran iman serta Al-Qur'an bagi beberapa murid yang berada di sisinya, seperti keponakannya. Sebagaimana dikatakan guru kami dalam ungkapan awalnya, kami pun memahami bahwa ia sama sekali tidak cenderung kepada syair serta puisi dan tidak menekuninya. Ia memperlihatkan contoh rahasia ﻭَﻣَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﻨَﺎﻩُ ﺍﻟﺸِّﻌْﺮَ.
Di tengah banyak kesibukan serta tugas di Darulhikmet, karya ini ditulis seperti syair selama dua puluh hari Ramadan, dengan bekerja dua atau dua setengah jam sehari. Karena waktunya begitu singkat dan satu halaman syair sesulit sepuluh halaman, karya ini diucapkan serta dicetak demikian sekaligus, tanpa perhatian saksama ataupun koreksi. Bagi kami, ia keajaiban demi Risale-i Nur. Tidak terlihat himpunan syair berirama yang dapat dibaca tanpa dibuat-buat sebagai prosa seperti ini. Insya Allah subhânahu, suatu ketika karya ini menjadi semacam kumpulan syair berpasangan bagi para murid Risale-i Nur. Karya ini juga seperti daftar pembawa kabar gembira berupa isyarat gaib kepada bagian-bagian penting Risale-i Nur, yang muncul sepuluh tahun sesudahnya dan selesai dalam dua puluh tiga tahun.
Dari para murid Risale-i Nur
Sungur, Mehmed Feyzi, Hüsrev
PERINGATAN
Menurut kaidah ﺍَﻟْﻤَﺮْﺀُ ﻋَﺪُﻭٌّ ﻟِﻤَﺎ ﺟَﻬِﻞَ, aku pun tidak menghargai syair serta rima karena tidak mengetahuinya. Aku sama sekali tidak ingin mengubah bentuk hakikat menurut keinginan syair, dengan mengorbankan yang murni demi rima. Dalam kitab tanpa rima serta syair ini, aku mengenakan pakaian paling kacau kepada hakikat-hakikat paling luhur.
Pertama: Aku tidak mengetahui yang lebih baik. Aku hanya memikirkan makna.
Kedua: Aku hendak memperlihatkan kritikku terhadap penyair yang memahat serta menyerut tubuh menurut pakaian.
Ketiga: Pada Ramadan, gaya kekanak-kanakan ini dipilih agar nafsu, bersama kalbu, disibukkan dengan hakikat.
Namun, wahai pembaca! Aku telah salah, aku mengakuinya. Jangan engkau berbuat salah! Jangan memandang gaya yang robek lalu dengan tidak saksama meremehkan hakikat-hakikat luhur itu!
MENYATAKAN MAKSUD
Wahai pembaca! Sejak awal aku mengakui bahwa aku sangat mengeluhkan bakatku dalam seni tulisan serta syair. Bahkan kini aku tidak dapat menulis namaku dengan rapi. Dalam syair serta irama, sepanjang hidup aku belum pernah membuat satu bagian pun. Tiba-tiba, keinginan kuat kepada syair datang ke pikiranku. Ada kisah kepahlawanan berbahasa Kurdi tentang pertempuran para sahabat, bernama ﻗَﻮْﻝِ نَوَالَاس۪يسَبَانْ. Ruhku menyukai syair alaminya dalam gaya nyanyian religi. Aku pun memilih cara syairnya dengan caraku sendiri. Aku menulis prosa yang menyerupai syair. Namun, aku sama sekali tidak memaksakan irama. Yang menghendaki dapat membacanya tanpa susah sebagai prosa, tanpa mengingat syair. Ia pun harus dipandang sebagai prosa agar makna dipahami. Pada setiap bait, makna bersambung. Jangan berhenti pada rima. Topi dapat tanpa rumbai, irama dapat tanpa rima, dan syair dapat tanpa kaidah. Menurutku, jika kata serta syair memikat melalui seninya, pandangan sibuk dengannya. Agar pandangan tidak beralih dari makna, lebih baik ia tidak rapi.
Dalam karyaku ini, guruku Al-Qur'an. Kitabku hidup. Yang aku ajak bicara juga diriku. Adapun engkau, wahai pembaca, pendengar. Pendengar tidak mempunyai hak mengkritik; ia mengambil yang disukai dan tidak mengusik yang tidak disukai. Karena karyaku ini limpahan Ramadan yang diberkahi {(): Bahkan tanggalnya muncul sebagai ﻧَﺠْﻢُ ﺍَﺩَﺏٍ ﻭُﻟِﺪَ لِهِلَالَىْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ. Yakni, "Bintang adab yang lahir dari dua hilal Ramadan." Nilainya seribu tiga ratus tiga puluh tujuh.}, aku berharap, insya Allah subhânahu, ia memengaruhi kalbu saudara seagamaku, sehingga lidahnya memberiku doa ampunan atau membaca satu Fatihah.
EDDÂÎ
{(): Bait ini ialah tanda tangannya.}
Aku kubur yang runtuh, di dalamnya bertumpuk
Tujuh puluh sembilan yang mati dari Said, {(): Karena tubuh diperbarui dua kali setiap tahun, berarti dua Said mati. Tahun ini pun Said berada pada tahun ketujuh puluh sembilannya. Setiap tahun satu Said mati; berarti hingga tanggal ini Said akan hidup.} penuh dosa serta derita.
Yang kedelapan puluh menjadi batu nisan bagi kubur,
Bersama menangisi {(): Ia merasakan keadaannya kini, dua puluh tahun kemudian, melalui rasa sebelum terjadi.} kerugian Islam.
Dengan batu nisanku dan kubur penuh yang mati, yang mengerang,
Aku berjalan menuju medan akhirat hari esokku.
Aku yakin, langit masa depan dan bumi Asia
Bersama tunduk kepada tangan putih Islam.
Sebab, ia tangan kanan keberkahan iman,
Memberi rasa aman serta perlindungan kepada makhluk…
--
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟﺮَّﺣْﻤٰﻦِ ﺍﻟﺮَّﺣ۪ﻴﻢِ ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﺭَﺏِّ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻤ۪ﻴﻦَ وَالصَّلَاةُ ﻋَﻠٰﻰ ﺳَﻴِّﺪِ ﺍﻟْﻤُﺮْﺳَﻠ۪ﻴﻦَ ﻭَ ﻋَﻠٰﻰ ﺍٰﻟِﻪ۪ ﻭَ ﺻَﺤْﺒِﻪ۪ ﺍَﺟْﻤَﻌ۪ﻴﻦَ
Dua bukti agung tauhid
Alam ini seluruhnya ialah bukti yang agung. Dengan bahasa gaib serta kesaksian, ia bertasbih dan bertauhid. Ya, melalui tauhid Sang Rahmân, ia berzikir dengan suara besar:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Seluruh zarah serta selnya, seluruh pilar dan anggotanya masing-masing ialah bahasa yang berzikir; bersama suara besar itu berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Bahasa-bahasa itu beragam, suara-suara itu bertingkat. Namun, zikir serta suaranya mengumpulkan pada satu titik:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Ia manusia besar, berzikir dengan suara besar; seluruh bagian serta zarahnya, dengan suara-suara kecil mereka, bersama suara tinggi itu berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Dalam lingkaran zikir alam ini, Al-Qur'an, tempat terbit cahaya, membaca petikan ayat. Seluruh yang mempunyai ruh bertafakur:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Al-Furqân yang agung ini ialah bukti yang berbicara bagi tauhid; seluruh ayat bahasa yang benar, sinar-sinar kilauan iman. Bersama berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Jika engkau menempelkan telinga ke dada Al-Furqân ini, dari kedalaman yang terdalam engkau mendengar dengan jelas suara dari langit berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Suara itu amat luhur, sungguh-sungguh pada tingkat tertinggi, sejati dan sangat tulus, juga amat akrab, meyakinkan dan dibekali bukti. Berulang-ulang berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Pada bukti bercahaya ini, keenam sisinya bening; pada atasnya terukir cap mukjizat berbunga. Cahaya petunjuk yang bersinar di dalamnya berkata:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Ya, di bawahnya ditenun logika serta bukti yang ringan; di kanannya ia membuat akal berbicara; pikiran-pikiran dari segala sisi yang berkibar berkata, "Engkau benar":
~Lâ ilâha illâ Hû…
Di kirinya yang merupakan kanan, ia meminta kesaksian nurani. Di depannya keelokan kebaikan, pada tujuannya kebahagiaan. Kuncinya setiap saat ialah:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Di belakangnya yang merupakan depan, sandarannya dari langit, Wahyu Rabb yang murni. Keenam sisi ini bersinar, Tajalli tampak pada menara-menaranya:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Ya, bisikan yang mencuri, bersama sangkaan syubhat yang menyerang, bagaimana si penyimpang itu berani masuk ke istana yang gemerlap ini? Istana itu pun bersinar; surah-surah bentengnya menjulang, setiap kata malaikat yang berbicara:
~Lâ ilâha illâ Hû…
Betapa Al-Qur'an yang agung itu lautan tauhid. Satu tetes sebagai contoh, hanya surah Al-Ikhlas, tetapi hanya satu lambang singkat dari lambang-lambangnya yang tak berhingga.
Ia menolak seluruh jenis syirik serta membuktikan tujuh jenis tauhid; tiga meniadakan, tiga menetapkan, dalam keenam kalimat ini sekaligus.
Kalimat pertama: ﻗُﻞْ ﻫُﻮَ ialah isyarat tanpa petunjuk penyerta. Jadi, penentuan secara mutlak. Dalam penentuan itu ada keadaan tertentu. Wahai:
~Lâ Huwa illâ Hû…
Inilah isyarat kepada tauhid syuhud. Jika pandangan yang melihat hakikat tenggelam dalam tauhid, ia berkata:
~Lâ masyhûda illâ Hû…
Kalimat kedua: ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍَﺣَﺪٌ, yang menyatakan dengan jelas tauhid keilahian. Hakikat, bahasa haq, berkata:
~Lâ Ma'bûda illâ Hû…
Kalimat ketiga: ﺍَﻟﻠّٰﻪُ ﺍﻟﺼَّﻤَﺪُ. Ia cangkang bagi dua permata tauhid. Permata pertama: tauhid rububiyah. Ya, bahasa tata wujud berkata:
~Lâ Khâliqa illâ Hû…
Permata kedua: tauhid Qayyûmiyah. Ya, di segenap alam, dalam wujud serta tetap adanya, bahasa kebutuhan kepada Yang memberi pengaruh berkata:
~Lâ Qayyûma illâ Hû…
Keempat: ﻟَﻢْ ﻳَﻠِﺪْ. Tersembunyi tauhid Keagungan; ia menolak jenis-jenis syirik dan memutus kekufuran tanpa ragu.
Yakni, yang berubah, berketurunan ataupun terbagi tentu bukan Khâliq, Qayyûm ataupun Ilah…
Gagasan tentang anak serta kekufuran berupa anggapan berketurunan, ditolak oleh ﻟَﻢْ dan diputus sekaligus. Dari syirik inilah sebagian besar manusia tersesat…
Syirik berupa anggapan berketurunan terkait Isa (as), Uzair, malaikat ataupun akal-akal, dari waktu ke waktu mengambil tempat pada jenis manusia…
Kelima: ﻭَﻟَﻢْ ﻳُﻮﻟَﺪْ. Isyarat tauhid Kekal: yang bukan Niscaya, Qadîm dan Azali tidak dapat menjadi Ilah…
Yakni, jika bermula dalam waktu, lahir dari materi ataupun terpisah dari suatu asal, tentu ia tidak dapat menjadi sandaran alam ini…
Memuja sebab, bintang, berhala serta tabiat masing-masing ialah jenis syirik, sumur dalam kesesatan…
Keenam: ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻜُﻦْ. Ia tauhid yang menyeluruh. Tidak ada yang sebanding dalam Zat-Nya, sekutu dalam Perbuatan-Nya, ataupun yang serupa dalam Sifat-Nya; itulah yang dipandang kata ﻟَﻢْ…
Keenam kalimat ini, dalam makna, saling menjadi hasil serta bukti; bukti-bukti berangkai dan hasil-hasil tersusun menetap dalam surah ini…
Jadi, dalam surah Al-Ikhlas ini terkandung tiga puluh surah yang berangkai serta tersusun, masing-masing seukuran dirinya; inilah fajar bagi mereka… لَا ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﺍﻟْﻐَﻴْﺐَ اِلَّا ﺍﻟﻠّٰﻪُ
Sebab semata-mata lahiriah
Kemuliaan Keagungan menuntut sebab-sebab alami menjadi tabir Tangan Kudrat dalam pandangan akal.
Tauhid serta Keagungan menuntut sebab-sebab alami menarik diri dari pengaruh sejati {(): Artinya, menarik tangan dari pengaruh sejati dan tidak ikut campur dalam mengadakan ciptaan.} pada hasil Kudrat.
Wujud tidak terbatas pada alam jasmani
Jenis-jenis wujud yang beragam dan tak terhitung tidak terbatas serta tidak terkurung dalam alam yang terlihat ini.
Alam jasmani seperti tabir berenda di atas alam-alam gaib yang memancarkan nyala.
Ittihad pada Pena Kudrat menyatakan tauhid
Hasil Seni yang kokoh pada setiap sudut fitrah jelas menolak sebab-sebabnya mengadakan ciptaan.
Corak Pena Kudrat yang sama pada setiap titik ciptaan tentu menolak adanya perantara-perantara.
Satu sesuatu tidak ada tanpa seluruh yang lain
Rahasia saling menopang tersembunyi sekaligus tersebar di seluruh alam. Pada segala sisi ia memperlihatkan saling menjawab serta membantu,
Menunjukkan bahwa hanya Kudrat yang mencakup alam yang membuatnya, menciptakan serta menempatkan zarah bersama seluruh hubungannya.
Setiap baris serta huruf kitab alam hidup; kebutuhan mengarahkan dan membuat mereka saling mengenal.
Dari mana pun suara kebutuhan datang, ia menjawab, "Aku hadir," membuat seluruh sisi saling berhubungan atas nama rahasia tauhid.
Setiap huruf hidup mempunyai wajah yang menghadap serta mata yang memandang setiap kalimat.
Gerak matahari demi daya tarik; daya tarik demi tetapnya tata suryanya
Matahari ibarat pohon yang berbuah; ia mengguncang diri agar buah-buah planetnya yang tertarik tidak jatuh.
Jika ia diam dan berhenti, daya tarik pergi; buah-buah teraturnya yang tertarik menangis di ruang.
Hal-hal kecil terikat pada yang besar
Yang menciptakan mata nyamuk tentu menciptakan matahari serta Bima Sakti.
Yang menata lambung kutu tentu menata tata surya.
Yang memasukkan penglihatan pada mata dan kebutuhan pada lambung tentu mengoleskan celak cahaya pada mata langit serta membentangkan meja makanan pada muka bumi.
Dalam susunan alam terdapat mukjizat besar
Lihatlah bahwa dalam susunan alam ada mukjizat. Jika seluruh sebab alami, melalui andaian yang mustahil,
Masing-masing menjadi pelaku berdaya yang mempunyai kehendak bebas, di hadapan mukjizat itu mereka akan patuh dalam keadaan sama sekali tak berdaya,
Lalu bersujud: ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ لَا ﻗُﺪْﺭَﺓَ ﻓ۪ﻴﻨَﺎ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻘَﺪ۪ﻳﺮُ الْاَزَلِىُّ ﺫُﻭ الْجَلَالِ
Terhadap Kudrat, segala sesuatu sama
ﻣَﺎ ﺧَﻠْﻘُﻜُﻢْ وَلَا ﺑَﻌْﺜُﻜُﻢْ اِلَّا ﻛَﻨَﻔْﺲٍ ﻭَﺍﺣِﺪَﺓٍ Ia Kudrat Zat yang Azali; keadaan tak berdaya tidak dapat menyusup padanya.
Tidak ada tingkat-tingkat di dalamnya, penghalang tidak dapat masuk. Baik keseluruhan maupun bagian, tidak ada perbedaan dalam hubungannya.
Sebab, setiap sesuatu terikat pada seluruh yang lain. Yang tidak dapat membuat seluruh sesuatu tidak dapat membuat satu sesuatu pun.
Yang tidak dapat memegang alam tidak dapat menciptakan zarah
Jika seseorang tidak memiliki tangan yang begitu kuat untuk menyusun dan mengangkat bumi kita, matahari-matahari serta bintang-bintang tak terhitung seperti tasbih,
Lalu memasangkannya pada kepala serta dada ruang ini,
Ia tidak dapat mengaku menciptakan ataupun mengadakan sesuatu pun di dunia.
Menghidupkan jenis seperti menghidupkan individu
Sebagaimana menghidupkan lalat yang membeku dalam tidur bercampur kematian pada musim dingin tidak memberatkan Kudrat,
Demikian pula kematian serta dihidupkannya dunia ini. Menghidupkan seluruh yang mempunyai ruh tidak menjadi lebih berat bagi-Nya.
Tabiat ialah karya seni Ilahi
Tabiat bukan pencetak, melainkan tempat cetak. Ia bukan pemberi corak, melainkan corak. Bukan pelaku, melainkan penerima. Bukan sumber, melainkan penggaris.
Bukan penyusun, melainkan tata. Bukan kudrat, melainkan hukum. Ia syariat Kehendak, tidak memiliki hakikat di luar.
Nurani mengenal Allah subhânahu melalui geloranya
Dalam nurani terdapat keadaan tertarik serta gelora. Keadaan tertarik terus ada melalui tarikan Yang memikat.
Makhluk yang sadar jatuh dalam gelora jika Sang Dzul-Jamâl tampak, jika Tajalli terus berlangsung dengan kemilau penuh tanpa tabir.
Fitrah yang sadar ini bersaksi dengan pasti atas Sang Wâjibul Wujûd, Sang Pemilik Keagungan serta Keindahan.
Satu saksinya gelora, yang lain keadaan tertarik.
Kesaksian fitrah benar
Dalam fitrah tidak ada dusta; apa pun yang dikatakannya benar. Bahasa biji,
Kecenderungan tumbuh, berkata, "Aku akan tumbuh dan berbuah…" Pernyataannya menjadi benar.
Dalam telur, kecenderungan hidup berbicara dari kedalaman,
"Aku akan menjadi anak ayam, jika ada Izin Ilahi." Bahasanya benar.
Jika segenggam air dalam peluru besi hendak membeku saat dingin,
Kecenderungan mengembang di dalamnya berkata, "Luaskan, aku perlu tempat lebih banyak." Perintah yang tidak memberi ampun…
Besi kokoh berusaha, tetapi tidak membuatnya berdusta. Kebenaran serta ketulusan hatinya justru
Memecahkan besi itu. Seluruh kecenderungan ini Perintah Penciptaan, Putusan Ilahi,
Syariat fitri serta Pancaran Kehendak. Kehendak Ilahi, Pengelolaan Alam,
Mempunyai perintah-perintah ini: setiap kecenderungan ialah kepatuhan terhadap Perintah Rabb.
Tajalli dalam nurani ialah Pancaran yang sama; keadaan tertarik serta gelora menjadi dua jiwa murni,
Dua kaca bening, tempat Keindahan yang tidak pernah sirna serta cahaya iman terpantul.
Kenabian diperlukan bagi manusia
Kudrat Azali yang tidak membiarkan semut tanpa pemimpin ataupun lebah tanpa pemimpin tentu
Tidak membiarkan manusia tanpa syariat serta nabi. Rahasia tata alam tentu menuntut demikian.
Mikraj bagi malaikat seperti terbelahnya bulan bagi manusia
Melalui mikraj karamah, malaikat melihat dengan benar bahwa dalam kenabian yang diakui ada kewalian yang agung.
Sosok cemerlang itu ﷺ menaiki Burak lalu menjadi kilat. Seperti bulan, ia melihat seluruh alam cahaya.
Sebagaimana mukjizat besar yang terindra bagi manusia yang tersebar dalam alam yang terlihat ini ialah ﺍِﻧْﺸَﻖَّ ﺍﻟْﻘَﻤَﺮُ,
Mikraj ini mukjizat terbesar bagi penghuni alam ruh: ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺳْﺮٰﻯ.
Bukti kalimat syahadat berada di dalamnya
Kalimat syahadat mempunyai dua ucapan. Keduanya saling menjadi saksi, dalil serta bukti.
Yang pertama ialah bukti limmi bagi yang kedua. Yang kedua ialah bukti inni bagi yang pertama.
Hidup ialah sejenis Tajalli Keesaan
Hidup ialah cahaya Keesaan. Dalam yang beraneka ini, tauhid bertajalli. Ya, Pancaran Keesaan menyatukan yang beraneka dan menjadikannya satu.
Hidup membuat satu sesuatu memiliki seluruh yang lain. Bagi sesuatu tanpa hidup, seluruh benda seperti tiada.
Ruh ialah hukum yang dikenakan wujud luar
Ruh ialah hukum bercahaya, aturan yang mengenakan wujud luar; ia memasang kesadaran pada kepalanya.
Ruh yang ada ini dan hukum yang dipahami itu menjadi dua saudara, dua teman.
Seperti hukum-hukum fitri yang tetap serta terus ada, ruh datang dari alam Perintah serta Sifat Kehendak.
Kudrat mengenakan wujud yang terindra, memasang kesadaran pada kepala, dan menjadikan cairan halus cangkang bagi permata itu.
Jika Kudrat Sang Khâliq mengenakan wujud luar pada hukum-hukum berbagai jenis, masing-masing menjadi ruh.
Jika ruh melepas wujud dan menurunkan kesadaran dari kepalanya, ia kembali menjadi hukum yang tidak mati.
Wujud tanpa hidup seperti tiada
Cahaya serta hidup masing-masing menyingkap yang ada. Jika tidak ada cahaya hidup,
Wujud bercampur tiada, bahkan seperti tiada. Ya, sekalipun bulan, ia asing serta yatim jika tanpa hidup.
Melalui hidup, semut menjadi lebih besar daripada bumi
Jika engkau menimbang semut dengan timbangan wujud, alam yang muncul padanya tidak muat dalam bola bumi kita.
Menurutku, bumi hidup. Jika engkau membawa bumi, yang menurut yang lain mati, lalu meletakkannya
Di hadapan semut, ia bahkan tidak menjadi separuh kepala yang sadar itu.
Kristen akan tunduk kepada Islam
Kristen akan padam atau menjadi murni. Ia akan tunduk kepada Islam dan meletakkan senjata.
Ia berulang-ulang robek hingga mencapai Protestan; dalam Protestan ia tidak menemukan yang akan memperbaikinya.
Tabir kembali robek, ia jatuh dalam kesesatan mutlak. Namun, sebagian agak mendekat kepada tauhid dan akan menemukan keselamatan di sana.
Sejak kini ia bersiap {(): Menunjuk keadaan setelah Perang Dunia yang dahsyat ini. Bahkan, memberitakan dengan tepat Perang Dunia Kedua.}, mulai robek. Jika tidak padam, ia akan menjadi murni dan menjadi milik Islam.
Inilah rahasia agung, lambang serta isyaratnya: Kebanggaan para Rasul ﷺ berkata, "Isa akan mengamalkan syariatku dan menjadi bagian umatku."
Pandangan yang mengikuti yang lain memandang yang mustahil sebagai mungkin
Terkenal bahwa sekumpulan besar orang memandang hilal hari raya. Tidak seorang pun melihat sesuatu.
Seorang tua yang malang bersumpah, "Aku melihatnya." Padahal, yang dilihatnya ialah sehelai rambut putih bulu matanya yang melengkung.
Rambut itu menjadi hilalnya. Di mana rambut melengkung itu, dan di mana bulan yang menjadi hilal? Jika engkau memahami lambang ini:
Gerak-gerak zarah menjadi bulu-bulu gelap pada bulu mata akal, membutakan mata materi.
Ia tidak dapat melihat Sang Pelaku yang menyusun seluruh jenis, kesesatan jatuh pada kepalanya.
Di mana gerak itu, dan di mana Sang Penata wujud? Menyangka yang satu sebagai yang lain ialah mustahil di dalam mustahil!
Al-Qur'an menghendaki cermin, bukan wakil
Bagi mayoritas umat serta seluruh orang awam, lebih daripada bukti, kesucian sumber memberi semangat taat dan mengarahkan kepada kepatuhan.
Sembilan puluh persen syariat ialah hal-hal syar'i yang diakui serta pokok-pokok agama yang pasti, masing-masing pilar berlian.
Perkara-perkara ijtihad, yang diperselisihkan serta cabang, hanya sepuluh persen. Pemilik sepuluh emas
Tidak dapat memasukkan sembilan puluh pilar berlian ke kantongnya, ataupun membuat mereka mengikutinya. Tambang berlian itu Al-Qur'an serta hadis; bagiannya harus setiap saat diminta dari sana.
Kitab-kitab serta ijtihad harus menjadi cermin ataupun teropong Al-Qur'an. Matahari yang penjelasannya bermukjizat itu tidak menghendaki bayangan ataupun wakil.
Penganut yang batil mengambilnya sebagai haq
Karena fitrah manusia dimuliakan, ia sengaja mencari haq. Kadang yang batil datang ke tangannya; ia menyangkanya haq dan menyimpannya di dada.
Saat menggali hakikat, tanpa pilihannya kesesatan jatuh pada kepalanya; ia menyangkanya hakikat lalu mengenakannya pada kepala.
Cermin-cermin Kudrat banyak
Kudrat Dzul-Jalâl mempunyai banyak cermin. Masing-masing membuka jendela yang lebih bening serta halus daripada yang lain menuju alam Mitsal.
Dari air ke udara, udara ke eter, eter ke alam Mitsal, alam Mitsal ke ruh, ruh ke waktu, waktu ke khayal,
Khayal ke pikiran; berbagai cermin senantiasa menampilkan Syuunat yang mengalir.
Pandanglah dengan telingamu cermin udara: satu kata menjadi jutaan kata!
Pena Kudrat itu menyalin dengan menakjubkan, inilah rahasia berkembang biak…
Jenis-jenis pantulan berbeda
Pantulan dalam cermin terbagi dalam empat bentuk: hanya identitas; identitas bersama sifat; identitas serta kilauan hakikat; atau hakikat bersama identitas.
Jika menginginkan contoh, inilah manusia, matahari, malaikat serta kata. Pantulan benda padat pada cermin masing-masing menjadi yang mati tetapi bergerak.
Pantulan ruh bercahaya pada cermin-cerminnya menjadi hidup yang terikat; jika bukan sama dengan dirinya, ia pun bukan yang lain,
Melainkan cahaya yang meluas. Jika matahari hidup, panasnya menjadi hidupnya, cahaya menjadi kesadarannya; pantulannya pada cermin memiliki sifat-sifat ini.
Inilah kunci rahasia-rahasia itu: Jibril berada di Sidrah dan dalam rupa Dihyah di majelis Nabi ﷺ,
Dan entah di berapa tempat! Dalam satu saat, Allah subhânahu mengetahui di berapa tempat Izrail mengambil ruh. Dalam satu saat, Nabi ﷺ
Tampak kepada umatnya pada kasyaf para wali serta mimpi-mimpi benar, dan pada hasyr bertemu seluruhnya melalui syafaat.
Para wali abdal muncul dan terlihat di banyak tempat dalam satu saat.
Yang berbakat dapat menjadi mujtahid; tidak dapat menjadi pembuat syariat
Setiap yang berbakat dan memenuhi syarat ijtihad berijtihad bagi dirinya pada yang tidak mempunyai nas. Ia mengikat dirinya, tidak dapat memaksakan kepada yang lain.
Ia tidak dapat membuat syariat dengan mengundang umat. Pemahamannya berasal dari syariat, tetapi tidak dapat menjadi syariat. Ia dapat menjadi mujtahid, tetapi tidak pembuat syariat.
Ijmak serta mayoritaslah yang mengenali cap syar'i. Untuk mengundang kepada suatu pendapat, dugaan bahwa mayoritas akan menerimanya menjadi syarat pertama.
Jika tidak, undangan itu bidah dan ditolak. Ia disumbatkan ke mulutnya dan tidak lagi dapat keluar.
Cahaya akal datang dari kalbu
Para terpelajar yang gelap harus mengetahui ucapan ini: tanpa cahaya kalbu, cahaya pikiran tidak bersinar.
Jika cahaya serta sinar itu tidak bercampur, ia gelap, menyemburkan kezaliman serta ketidaktahuan; gelap palsu yang mengenakan pakaian cahaya.
Dalam matamu ada siang, tetapi putih dan gelap. Di dalamnya ada yang hitam, malam yang bercahaya.
Jika yang hitam itu tidak ada, potongan lemak itu bukan mata dan engkau tidak dapat melihat sesuatu pun. Penglihatan tanpa mata batin juga tidak berharga.
Jika dalam pikiran putih tidak ada titik hitam kalbu, campuran otak bukan ilmu ataupun penglihatan batin. Tidak dapat ada akal tanpa kalbu.
Tingkat-tingkat ilmu dalam otak berbeda dan saling tercampur
Dalam otak ada tingkatan-tingkatan yang saling tercampur, dengan hukum berbeda. Mula-mula khayal, kemudian gambaran,
Lalu memahami dengan akal, membenarkan, menerima dengan sadar, berpegang, kemudian berkeyakinan.
Berkeyakinan berbeda dari berpegang. Dari masing-masing timbul keadaan: keteguhan dari keyakinan,
Fanatisme dari berpegang, kepatuhan dari menerima dengan sadar, berpegang dari membenarkan, netral pada memahami dengan akal, tanpa bagian pada gambaran.
Pada khayal timbul penalaran palsu jika tidak mampu mencampurkannya. Menggambarkan hal-hal batil dengan indah setiap saat
Melukai serta menyesatkan pikiran-pikiran yang murni.