Risalah Nur — Bahasa Indonesia

JENDELA KELIMA BELAS

Kalimat-Kalimat · Bahasa Indonesia

Di bagian ini

JENDELA KELIMA BELAS

Menurut rahasia ﺍَﻟَّﺬ۪ٓﻯ ﺍَﺣْﺴَﻦَ ﻛُﻞَّ ﺷَﻰْﺀٍ ﺧَﻠَﻘَﻪُ, memberi wujud dan mengenakan bentuk kepada setiap sesuatu sesuai kemampuan hakikatnya, dipotong dengan timbangan serta tata sempurna, disusun dengan seni indah, pada jalan paling pendek, dalam rupa paling indah, dengan cara paling ringan, dalam bentuk paling mudah digunakan—misalnya, pandanglah pakaian burung serta betapa mudah mereka setiap saat menggerakkan dan menggunakan bulunya—juga dengan cara tanpa pemborosan dan penuh Hikmah, melalui bahasa sebanyak benda-benda itu bersaksi atas Wujud Niscaya Sang Pembuat yang Hakîm, serta menunjukkan Sang Qadîr Yang Alîm Mutlak.

JENDELA KEENAM BELAS

Tata serta penataan dalam mengadakan dan mengatur makhluk-makhluk yang diperbarui dari musim ke musim pada muka bumi jelas memperlihatkan Hikmah umum. Karena sifat tidak ada tanpa pemilik sifat, tentu Hikmah umum itu memperlihatkan Sang Hakîm.
Dalam tabir Hikmah itu, hiasan-hiasan luar biasa jelas memperlihatkan Perhatian sempurna. Perhatian sempurna tentu memperlihatkan Sang Khâliq yang Karîm dan penuh Perhatian.
Dalam tabir Perhatian itu, Perlakuan lembut serta karunia yang mencakup semua jelas memperlihatkan Rahmat luas. Rahmat luas itu tentu memperlihatkan Ar-Rahmân Ar-Rahîm.
Di atas tabir Rahmat itu, pemberian makanan serta rezeki kepada seluruh makhluk hidup yang membutuhkan rezeki dengan cara yang layak dan sempurna jelas memperlihatkan Pemberian Rezeki yang mendidik dan Rububiyah yang penuh kasih sayang. Pendidikan serta Pengelolaan itu tentu memperlihatkan Ar-Razzâq Yang Mahamulia.
Ya, seluruh makhluk pada muka bumi yang dididik dengan Hikmah sempurna, dihiasi dengan Perhatian sempurna, diperlakukan dengan lembut dengan Rahmat sempurna, serta diberi makanan dengan Kasih Sayang sempurna, satu per satu bersaksi atas Wujud Niscaya Sang Pembuat yang Hakîm, Karîm, Rahîm dan Razzâq, serta menunjukkan Keesaan-Nya. Pandanglah sekaligus: Hikmah umum yang tampak dan terlihat pada segenap muka bumi serta jelas memperlihatkan Maksud dan Kehendak; Perhatian sempurna yang mencakup seluruh karya ciptaan serta memuat Hikmah; Rahmat luas yang memuat Perhatian serta Hikmah dan mencakup seluruh yang ada di bumi; dan pemberian rezeki serta makanan umum, yang memuat Rahmat, Hikmah serta Perhatian, yang mencakup seluruh makhluk hidup dengan cara amat pemurah.
Sebagaimana tujuh warna menyusun cahaya, dan cahaya yang menerangi muka bumi itu tanpa ragu memperlihatkan matahari, demikian pula Perhatian dalam Hikmah, Rahmat dalam Perhatian, serta pemberian rezeki dalam Rahmat memperlihatkan Keesaan serta Kesempurnaan Rububiyah Sang Wâjibul Wujûd yang amat Hakîm, Karîm, Rahîm dan Razzâq, dalam skala besar, pada tingkat tinggi dan dengan cara cemerlang.
Wahai pengingkar bodoh yang lengah! Dengan apa engkau dapat menjelaskan Pendidikan yang penuh Hikmah, Kemurahan, Rahmat serta pemberian rezeki di hadapan mata ini, serta keadaan yang menakjubkan, luar biasa dan penuh mukjizat ini?Dengan kebetulan yang berkeliaran seperti dirimu? Dengan daya yang buta seperti kalbumu? Dengan tabiat yang tuli seperti kepalamu? Dengan sebab-sebab yang tak berdaya, tak bernyawa dan tak tahu seperti dirimu? Atau engkau hendak membuat kesalahan tak berhingga dengan memberi Zat Dzul-Jalâl, yang tak berhingga tingkatnya Suci, Bebas dari cacat, Bersih dan Luhur, serta tak berhingga tingkatnya Qadîr, Alîm, Samî' dan Basîr, nama "tabiat" yang tak berhingga tingkatnya tak berdaya, tak tahu, tuli, buta, mungkin ada dan serbakurang? Dengan kekuatan mana engkau dapat memadamkan hakikat yang cemerlang seperti matahari ini? Di bawah tabir kelengahan mana engkau dapat menyembunyikannya?

JENDELA KETUJUH BELAS

ﺍِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ وَالْاَرْضِ لَاٰيَاتٍ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨ۪ﻴﻦَ
Ketika menyaksikan muka bumi pada musim panas, kita melihat bahwa dalam mengadakan benda-benda, Kedermawanan tak berhingga serta Kemurahan mutlak, yang menuntut kekacauan dan menjadi sebab tanpa tata, tampak dalam keadaan amat serasi serta teratur. Lihatlah seluruh tumbuhan yang menghiasi muka bumi.
Kecepatan mutlak dalam mengadakan benda-benda, yang menuntut keadaan tak seimbang dan kasar, juga tampak dalam keseimbangan sempurna. Pandanglah seluruh buah yang menghiasi muka bumi.
Jumlah tak terbatas, yang menuntut tiadanya bobot, bahkan keburukan, juga tampak dalam keindahan seni sempurna. Pandanglah seluruh bunga yang menyepuh muka bumi.
Kemudahan mutlak dalam mengadakan benda-benda, yang menuntut keadaan tanpa seni dan sederhana, juga tampak dalam seni, keahlian serta perhatian pada tingkat tak berhingga. Pandanglah dengan saksama seluruh benih serta biji, yang seperti kotak perangkat serta rancangan pepohonan dan tumbuhan di muka bumi, serta kotak riwayat hidup mereka.
Jarak yang jauh serta kejauhan mutlak, yang menuntut perbedaan serta pemisahan, juga tampak dalam kesepakatan mutlak. Pandanglah seluruh jenis biji-bijian yang ditanam di seluruh penjuru bumi.
Percampuran sempurna, yang menuntut tercampur dan ternoda, justru tampak dalam pembedaan serta pemisahan sempurna. Pandanglah pembedaan sempurna seluruh benih, ketika bertunas, yang dilempar bercampur di bawah tanah dan saling menyerupai dalam bahan; pemisahan berbagai bahan yang masuk ke pepohonan menjadi daun, bunga serta buah dengan pembedaan sempurna; dan pemilahan makanan bercampur yang masuk ke lambung sesuai berbagai anggota serta sel, dengan pembedaan sempurna. Lihatlah Kesempurnaan Kudrat dalam Hikmah sempurna.
Kelimpahan serta murahnya yang amat tinggi, yang menuntut tiadanya bobot dan nilai, juga tampak pada muka bumi dalam sifat karya serta seni yang amat berharga dan mahal. Di antara keajaiban seni tak terbatas itu, pada meja Sang Rahmân di muka bumi, pandanglah hanya jenis-jenis murbei, manisan-manisan Kudrat. Lihatlah Rahmat sempurna dalam seni sempurna.Pada segenap muka bumi, nilai yang amat tinggi bersama murahnya yang tak terbatas; dalam murahnya tak terbatas, percampuran serta kekacauan tak terbatas bersama pembedaan serta pemisahan tak terbatas; dalam pembedaan serta pemisahan tak terbatas, jarak yang amat jauh bersama kesesuaian serta kemiripan tertinggi; dalam kemiripan tertinggi, kemudahan yang amat tinggi bersama pembuatan yang amat penuh perhatian; dalam pembuatan yang amat indah, kecepatan mutlak bersama keadaan yang amat seimbang, terukur dan tanpa pemborosan; dalam keadaan yang amat tanpa pemborosan, jumlah yang amat banyak bersama keindahan seni tertinggi; dalam keindahan seni tertinggi, kedermawanan yang teramat tinggi bersama tata mutlak; tentu semuanya, sebagaimana siang memperlihatkan cahaya dan cahaya memperlihatkan matahari, bersaksi atas Wujud Niscaya, Kesempurnaan Kudrat, Keindahan Rububiyah, Keesaan serta Ahadiyah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, Sang Hakîm Dzul-Kamâl dan Sang Rahîm Dzul-Jamâl. Semuanya memperlihatkan rahasia ﻟَﻪُ الْاَسْمَٓاءُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨٰﻰ.
Kini, wahai sosok malang yang bodoh, lengah, keras kepala dan muattil! Dengan apa engkau dapat menjelaskan hakikat agung ini? Dengan apa engkau dapat menerangkan keadaan yang luar biasa dan penuh mukjizat pada tingkat tertinggi ini? Kepada apa engkau dapat mengaitkan seni-seni menakjubkan yang tak terbatas ini? Tabir kelengahan mana yang dapat engkau lempar untuk menutup jendela seluas muka bumi ini? Di mana kebetulanmu? Di mana teman tak sadar yang engkau sebut tabiat dan percayai, tempat sandaran serta sahabatmu dalam kesesatan? Tidakkah ikut campurnya kebetulanmu dalam pekerjaan-pekerjaan ini seratus tingkat mustahil? Tidakkah menyerahkan satu dari seribu pekerjaan luar biasa ini kepada tabiat menjadi seribu tingkat mustahil? Atau tabiat yang tak bernyawa serta tak berdaya itu mempunyai mesin dan percetakan rohani dalam setiap sesuatu, sebanyak benda-benda yang dibuat dari sesuatu itu?

JENDELA KEDELAPAN BELAS

ﺍَﻭَﻟَﻢْ ﻳَﻨْﻈُﺮُﻭﺍ ﻓ۪ﻰ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕِ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَ الْاَرْضِ
Pandanglah perumpamaan yang dijelaskan dalam Kalimat Kedua Puluh Dua: sebuah karya seperti istana, yang sempurna, teratur dan berseni, jelas menunjukkan perbuatan yang teratur. Yakni, sebuah bangunan menunjukkan pertukangan. Perbuatan yang sempurna serta teratur tentu menunjukkan pelaku yang sempurna, pembuat yang ahli dan tukang kayu. Gelar pembuat serta tukang kayu yang sempurna jelas menunjukkan sifat yang sempurna, yakni kecakapan seni. Sifat serta kecakapan seni yang sempurna jelas menunjukkan adanya bakat yang sempurna. Bakat yang sempurna menunjukkan adanya ruh yang luhur serta sosok yang tinggi.
Demikian pula, karya-karya yang diperbarui, yang memenuhi muka bumi, bahkan alam, jelas memperlihatkan Perbuatan pada tingkat Kesempurnaan tertinggi. Perbuatan dalam lingkup tata serta Hikmah tertinggi itu jelas memperlihatkan Sang Pelaku yang Gelar dan Nama-Nya sempurna. Sebab, diketahui dengan pasti bahwa perbuatan yang teratur serta penuh Hikmah tidak ada tanpa pelaku. Gelar-Gelar yang amat sempurna menunjukkan Sifat-Sifat Pelaku itu yang amat sempurna. Sebagaimana dalam ilmu saraf isim fail dibentuk dari masdar, sumber serta asal Gelar dan Nama pun ialah Sifat. Sifat-Sifat pada tingkat Kesempurnaan tertinggi tanpa ragu menunjukkan Syuunat Zat yang amat sempurna. Syuun Zat yang sempurna itu, yang tidak dapat kami ungkapkan dengan istilah kemampuan Zat, menunjukkan melalui haqqul-yaqin Zat pada tingkat Kesempurnaan tak terbatas.
Karena hasil-hasil seni di seluruh alam serta seluruh makhluk masing-masing ialah karya yang sempurna, masing-masing bersaksi atas Perbuatan; Perbuatan atas Nama; Nama atas Sifat; Sifat atas Sya'n; dan Sya'n atas Zat. Sebanyak karya-karya ciptaan itu, mereka bersaksi atas Wujud Niscaya satu Sang Pembuat Dzul-Jalâl serta menunjukkan Ahadiyah-Nya; seluruhnya pun merupakan mikraj makrifat, sekuat rangkaian makhluk. Ia bukti hakikat yang berangkai, yang tidak dapat dimasuki syubhat dari segi apa pun.
Kini, wahai pengingkar malang yang lengah! Dengan apa engkau dapat mematahkan bukti sekuat rangkaian alam ini? Dengan apa engkau dapat menutup jendela berjeruji serta berlubang tak terbatas ini, yang memperlihatkan sinar hakikat sebanyak karya-karya ciptaan? Tabir kelengahan mana yang dapat engkau tarik di atasnya?

JENDELA KESEMBILAN BELAS

Menurut rahasia ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﺑِﺤَﻤْﺪِﻩ۪, Sang Pembuat Dzul-Jalâl memasangkan begitu banyak hikmah serta makna pada benda-benda langit, seolah membuat langit berbicara melalui kata-kata matahari, bulan dan bintang untuk menyatakan Keagungan serta Keindahan-Nya. Demikian pula, Dia memasangkan hikmah, makna serta tujuan pada yang ada di udara langit, seolah membuat udara langit berbicara melalui kata-kata kilat, petir, guntur serta tetes-tetes, dan mengajarkan Kesempurnaan Hikmah serta Keindahan Rahmat-Nya.
Sebagaimana Dia membuat kepala bumi berbicara melalui kata-kata bermakna yang disebut hewan serta tumbuhan, lalu memperlihatkan Kesempurnaan Seni-Nya kepada alam, Dia juga membuat tumbuhan serta pohon, masing-masing kata kepala itu, berbicara melalui kata-kata daun, bunga serta buah, kembali menyatakan Kesempurnaan Seni serta Keindahan Rahmat-Nya. Dia membuat bunga serta buah, masing-masing kata, berbicara melalui kata-kata benih kecil, mengajarkan kepada makhluk yang sadar ketelitian Seni serta Kesempurnaan Rububiyah-Nya.
Di antara kata-kata tasbih tak terbatas ini, kami hanya akan memasang telinga serta mendengarkan cara satu bulir dan satu bunga menyatakan makna. Kami akan mengetahui bagaimana ia bersaksi.
Ya, setiap tumbuhan serta setiap pohon memperlihatkan Sang Pembuatnya melalui banyak bahasa sedemikian rupa sehingga membuat orang-orang yang saksama kagum, dan membuat para penyaksi berkata, "Subhanallah! Betapa indah ia bersaksi!"
Saat setiap tumbuhan berbunga serta memberi bulir, tasbihnya ketika berbicara rohani sambil tersenyum indah serta jelas seperti dirinya. Sebab, tata yang memperlihatkan Hikmah melalui mulut indah setiap bunga, bahasa bulir teratur, serta kata-kata benih seimbang dan biji teratur, terlihat berada dalam timbangan yang memperlihatkan Ilmu. Timbangan itu berada dalam corak seni yang memperlihatkan Keahlian Seni. Corak seni itu berada dalam hiasan yang memperlihatkan Kelembutan serta Kemurahan. Hiasan itu pun berada dalam aroma lembut yang memperlihatkan Rahmat serta Karunia. Keadaan-keadaan bermakna yang saling berada di dalam ini ialah bahasa kesaksian yang mengenalkan Sang Pembuat Dzul-Jamâl melalui Asma-Nya, menyifati-Nya melalui Sifat-Sifat-Nya, menjelaskan Pancaran Asma-Nya, serta menyatakan bahwa Dia menumbuhkan cinta kepada-Nya dan memperkenalkan Diri-Nya, yakni membuat Diri-Nya dicintai dan dikenali.Jika engkau mendengar kesaksian demikian dari satu bunga, lalu dapat mendengarkan seluruh bunga dalam taman-taman Rabb pada muka bumi dan mendengar betapa tinggi kekuatan mereka menyatakan Wujud Niscaya serta Keesaan Sang Pembuat Dzul-Jalâl, dapatkah tersisa syubhat, bisikan ataupun kelengahanmu? Jika tetap ada, dapatkah engkau disebut manusia dan makhluk yang sadar?
Mari, kini pandanglah sebuah pohon dengan saksama! Lihatlah mulutnya yang lembut pada musim semi, dalam keluarnya daun secara teratur, mekarnya bunga secara seimbang, tumbuhnya buah dengan Hikmah serta Rahmat, dan bermainnya mereka pada tangan-tangan cabang seperti anak-anak tak berdosa saat angin sepoi bertiup. Timbangan adil dalam tata penuh Hikmah, yang dinyatakan melalui bahasa daun yang menghijau dengan Tangan Kemurahan, bahasa bunga yang tersenyum dengan Kegembiraan Kelembutan, serta kata-kata buah yang tertawa dengan Pancaran Rahmat; seni-seni dan corak-corak teliti dalam timbangan yang memperlihatkan Keadilan; berbagai rasa manis serta aroma indah yang memperlihatkan Rahmat dan Karunia dalam corak serta hiasan yang dibuat dengan terampil; dan benih serta biji, yang masing-masing mukjizat Kudrat dalam aroma serta rasa yang menyenangkan; semuanya memperlihatkan dengan amat jelas Wujud Niscaya, Keesaan, Keindahan Rahmat serta Kesempurnaan Rububiyah Sang Pembuat yang Hakîm, Karîm, Rahîm, Muhsin, Mun'im, Mujammil dan Mufadhdhil.
Jika engkau dapat mendengarkan sekaligus bahasa keadaan seluruh pohon pada segenap muka bumi, engkau akan melihat serta memahami betapa indah permata-permata dalam khazanah ﻳُﺴَﺒِّﺢُ ﻟِﻠّٰﻪِ ﻣَﺎ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕِ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻰ الْاَرْضِ.
Wahai orang lengah yang celaka, yang dalam sikap tidak bersyukur menyangka dirimu dibiarkan bebas! Jika engkau tidak ingin mengenal Sang Karîm Dzul-Jamâl, yang melalui bahasa-bahasa tak terbatas pada tingkat demikian membuat Diri-Nya dikenal, diketahui dan dicintai olehmu, bahasa-bahasa ini harus dibungkam. Karena tidak dapat dibungkam, mereka harus didengarkan. Jika engkau menutup telinga dengan kelengahan, engkau tidak dapat selamat. Sebab, dengan engkau menutup telinga, alam tidak diam, yang ada tidak membisu, dan saksi-saksi Keesaan tidak menghentikan suara mereka. Tentu mereka akan menghukummu.

JENDELA KEDUA PULUH

{(Catatan): Suatu ketika hakikat Jendela Kedua Puluh ini datang ke kalbu dalam bahasa Arab sebagai berikut: تَلَئْلُاُ ﺍﻟﻀِّﻴَﺎﺀِ ﻣِﻦْ ﺗَﻨْﻮ۪ﻳﺮِﻙَ ﺗَﺸْﻬ۪ﻴﺮِﻙَ ٭ ﺗَﻤَﻮُّﺝُ الْاِعْصَارِ ﻣِﻦْ ﺗَﺼْﺮ۪ﻳﻔِﻚَ ﺗَﻮْﻇ۪ﻴﻔِﻚَ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﻋْﻈَﻢَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧَﻚَ ﺗَﻔَﺠُّﺮُ الْاَنْهَارِ ﻣِﻦْ ﺗَﺪْﺧ۪ﻴﺮِﻙَ ﺗَﺴْﺨ۪ﻴﺮِﻙَ٭ ﺗَﺰَﻳُّﻦُ الْاَحْجَارِ ﻣِﻦْ ﺗَﺪْﺑ۪ﻴﺮِﻙَ ﺗَﺼْﻮ۪ﻳﺮِﻙَ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﺑْﺪَﻉَ ﺣِﻜْﻤَﺘَﻚَ ﺗَﺒَﺴُّﻢُ الْاَزْهَارِ ﻣِﻦْ ﺗَﺰْﻳ۪ﻴﻨِﻚَ ﺗَﺤْﺴ۪ﻴﻨِﻚَ ٭ ﺗَﺒَﺮُّﺝُ الْاَثْمَارِ ﻣِﻦْ ﺍِﻧْﻌَﺎﻣِﻚَ ﺍِﻛْﺮَﺍﻣِﻚَ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﺣْﺴَﻦَ ﺻَﻨْﻌَﺘَﻚَ ﺗَﺴَﺠُّﻊُ الْاَطْيَارِ ﻣِﻦْ ﺍِﻧْﻄَﺎﻗِﻚَ ﺍِﺭْﻓَﺎﻗِﻚَ ٭ ﺗَﻬَﺰُّﺝُ الْاَمْطَارِ ﻣِﻦْ ﺍِﻧْﺰَﺍﻟِﻚَ ﺍِﻓْﻀَﺎﻟِﻚَ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﻭْﺳَﻊَ ﺭَﺣْﻤَﺘَﻚَ ﺗَﺤَﺮُّﻙُ الْاَقْمَارِ ﻣِﻦْ ﺗَﻘْﺪ۪ﻳﺮِﻙَ ﺗَﺪْﺑ۪ﻴﺮِﻙَ ﺗَﺪْﻭ۪ﻳﺮِﻙَ ﺗَﻨْﻮ۪ﻳﺮِﻙَ ٭ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﻧْﻮَﺭَ ﺑُﺮْﻫَﺎﻧَﻚَ ﻣَﺎ ﺍَﺑْﻬَﺮَ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧَﻚَ } ﻓَﺴُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ ٭ ﻭَ ﺍِﻥْ ﻣِﻦْ ﺷَﻰْﺀٍ اِلَّا ﻋِﻨْﺪَﻧَﺎ ﺧَﺰَٓﺍﺋِﻨُﻪُ ﻭَﻣَﺎ ﻧُﻨَﺰِّﻟُﻪُٓ اِلَّا ﺑِﻘَﺪَﺭٍ ﻣَﻌْﻠُﻮﻡٍ ٭ ﻭَ ﺍَﺭْﺳَﻠْﻨَﺎ ﺍﻟﺮِّﻳَﺎﺡَ ﻟَﻮَﺍﻗِﺢَ ﻓَﺎَﻧْﺰَﻟْﻨَﺎ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴَّﻤَٓﺎﺀِ ﻣَٓﺎﺀً ﻓَﺎَﺳْﻘَﻴْﻨَﺎﻛُﻤُﻮﻩُ ﻭَ ﻣَٓﺎ ﺍَﻧْﺘُﻢْ ﻟَﻪُ ﺑِﺨَﺎﺯِﻧ۪ﻴﻦَ ٭
Sebagaimana Kesempurnaan Hikmah serta Keindahan Seni terlihat pada hal-hal juz'i, hasil dan rincian, keadaan unsur-unsur menyeluruh serta makhluk-makhluk besar yang tampak kacau, yang disangka kebetulan serta bercampur, juga mengambil keadaan melalui Hikmah dan Seni.
Cahaya yang bersinar, dengan ditunjukkan pelayanan-pelayanan lain yang penuh hikmah, ialah memperlihatkan serta menyatakan karya-karya Ilahi pada muka bumi dengan Izin Rabb. Jadi, cahaya dipekerjakan oleh Sang Pembuat yang Hakîm. Melaluinya Dia memperlihatkan karya-karya seni langka-Nya pada pameran-pameran pasar alam.
Kini pandanglah angin-angin; dengan kesaksian manfaat serta tugas lain yang penuh hikmah dan kemurahan, mereka berlari kepada tugas-tugas yang amat penting serta banyak. Jadi, bergelombangnya mereka ialah penugasan, pengarahan serta pemakaian oleh Sang Pembuat yang Hakîm. Gelombang mereka ialah usaha cepat untuk segera menunaikan Perintah Rabb.
Kini pandanglah mata air, anak sungai serta sungai… Memancarnya mereka dari bumi serta gunung bukan kebetulan. Kesaksian manfaat serta buah yang mengikuti mereka, hasil-hasil Rahmat; pernyataan disimpannya mereka di gunung dengan Timbangan kebutuhan; serta petunjuk dikirimnya mereka dengan Timbangan Hikmah memperlihatkan bahwa hal itu melalui Penundukan serta Penyimpanan Sang Rabb yang Hakîm. Memancarnya mereka ialah kepatuhan penuh semangat kepada Perintah-Nya.
Kini pandanglah seluruh jenis batu, permata serta mineral di bumi! Manfaat-manfaat penuh hikmah yang terkait dengannya, serta disiapkannya mereka sesuai manfaat kehidupan, keperluan manusia serta kebutuhan hewan, menunjukkan bahwa hiasan dan sifat-sifat mereka yang bermanfaat melalui Penghiasan, Penyusunan, Pengaturan serta Pemberian Bentuk Sang Pembuat yang Hakîm.
Kini pandanglah bunga serta buah! Senyum, rasa, keindahan, corak serta aroma mereka diberikan sebagai pengenal dan surat undangan pada meja Sang Pembuat yang Karîm dan Sang Mun'im yang Rahîm, dengan warna, aroma serta rasa berbeda, sebagai pengenal dan undangan tersendiri bagi setiap jenis.
Kini pandanglah burung! Bukti pasti bahwa percakapan serta kicau mereka ialah dibuat berbicara dan bertutur oleh Sang Pembuat yang Hakîm ialah bahwa dengan suara-suara itu mereka saling bertukar perasaan dan menyatakan maksud dengan cara yang menakjubkan.
Kini pandanglah awan!Bukti pasti bahwa bunyi rintik hujan bukan suara tanpa makna, dan kilat serta guntur bukan gemuruh kosong, ialah: mengadakan keajaiban-keajaiban itu pada ruang yang kosong, memerah dari mereka tetes-tetes yang seperti air kehidupan, lalu menyusukannya kepada makhluk-makhluk hidup yang membutuhkan serta merindukan pada muka bumi. Hal ini menunjukkan bahwa bunyi gemericik serta gemuruh itu amat bermakna dan penuh hikmah; melalui Perintah Sang Rabb yang Karîm, hujan berseru kepada para perindu, menyatakan makna, "Kabar gembira bagi kalian, kami datang!"
Kini pandanglah langit! Dari benda-benda tak terbatas di langit, perhatikan bulan saja! Hikmah-hikmah penting yang terkait dengannya serta dengan muka bumi menunjukkan bahwa geraknya melalui Perintah Sang Qadîr yang Hakîm. Karena telah kami jelaskan di tempat lain, kami menyingkatnya.
Unsur-unsur menyeluruh yang kami sebut dari cahaya hingga bulan membuka jendela dengan cara amat luas dan dalam skala besar. Mereka memperlihatkan serta menyatakan Keesaan, Kesempurnaan Kudrat dan Keagungan Kerajaan Sang Wâjibul Wujûd.
Wahai orang lengah! Jika engkau dapat membungkam suara seperti guntur ini dan memadamkan cahaya yang cemerlang seperti sinar matahari itu, lupakanlah Allah subhânahu! Jika tidak, gunakan akalmu! Ucapkan ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﻣَﻦْ ﺗُﺴَﺒِّﺢُ ﻟَﻪُ ﺍﻟﺴَّﻤٰﻮَﺍﺕُ ﺍﻟﺴَّﺒْﻊُ وَالْاَرْضُ ﻭَﻣَﻦْ ﻓ۪ﻴﻬِﻦَّ.

JENDELA KEDUA PULUH SATU

ﻭَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺗَﺠْﺮ۪ﻯ ﻟِﻤُﺴْﺘَﻘَﺮٍّ ﻟَﻬَﺎ ﺫٰﻟِﻚَ ﺗَﻘْﺪ۪ﻳﺮُ ﺍﻟْﻌَﺰ۪ﻳﺰِ ﺍﻟْﻌَﻠ۪ﻴﻢِ
Matahari, lampu alam ini, ialah jendela yang cemerlang serta bercahaya seperti matahari menuju Wujud serta Keesaan Sang Pembuat alam.
Ya, dua belas planet, termasuk bola bumi kita, yang disebut tata surya, meskipun benda-benda mereka amat berbeda dalam kecil serta besarnya, tempat mereka amat berbeda dalam jauh serta dekatnya, dan kecepatan gerak mereka amat beragam; gerak serta putaran mereka dengan tata, Hikmah dan Timbangan sempurna, tanpa keliru selama satu detik pun; serta terikatnya mereka pada matahari melalui Hukum Ilahi yang disebut hukum daya tarik, yakni mengikuti imam mereka; semuanya dalam skala besar memperlihatkan Keagungan Kudrat Ilahi serta Keesaan Rabb.
Bandingkan betapa memutar serta mempekerjakan benda-benda tak bernyawa dan massa-massa besar tak sadar itu dalam berbagai bentuk, jarak serta gerak, di tengah tata tertinggi dan Timbangan Hikmah, membuktikan Kudrat serta Hikmah. Jika kebetulan seukuran zarah ikut campur dalam pekerjaan besar serta berat ini, ia akan menimbulkan ledakan yang mencerai-beraikan alam. Sebab, jika kebetulan menghentikan salah satunya selama semenit, ia membuatnya keluar dari poros dan membuka jalan bagi tabrakan dengan yang lain. Engkau dapat membandingkan betapa dahsyat tabrakan dengan benda-benda seribu kali lebih besar daripada bola bumi.
Dengan menyerahkan keajaiban tata surya, yakni dua belas planet, makmum serta buah matahari, kepada Ilmu Ilahi yang menyeluruh, kami hanya memandang bumi, planet di hadapan mata kami. Kami melihat bahwa dengan cara yang memperlihatkan Keagungan Kuasa Rububiyah, Kemegahan Kerajaan Keilahian, serta Kesempurnaan Rahmat dan Hikmah, melalui Perintah Rabb, ia dibuat menempuh perjalanan panjang mengitari matahari demi pelayanan yang amat besar, sebagaimana dijelaskan dalam Surat Pertama. Sebagai kapal Rabb, ia diisi keajaiban karya-karya Ilahi dan diberi keadaan tempat tinggal bergerak seperti tempat berjalan-jalan bagi hamba-hamba Allah subhânahu yang sadar. Bulan pun dipasang padanya dengan Hitungan teliti serta hikmah-hikmah agung, seperti jarum jam yang memberitahukan waktu serta hitungan; dan bulan itu diberi perjalanan tersendiri pada tempat-tempat lain.Keadaan-keadaan planet kita yang diberkahi ini membuktikan Wujud Niscaya serta Keesaan Sang Qadîr Mutlak melalui kesaksian sekuat bola bumi. Karena planet kita demikian, engkau dapat membandingkan tata surya dengannya.
Memutar matahari, yang seperti roda dan pemintal pada porosnya, melalui Perintah Sang Qadîr Dzul-Jalâl, untuk membuatnya menggulung tali-tali rohani yang disebut daya tarik; mengikat serta menata planet-planet dengan tali-tali rohani itu; dan mengarahkan matahari beserta seluruh planetnya dengan kecepatan yang dapat menempuh jarak lima jam dalam satu detik, menurut suatu perkiraan ke arah "rasi Hercules" atau ke arah Matahari segala Matahari; tentu melalui Kudrat serta Perintah Zat Dzul-Jalâl, Sang Sultan Azali dan Abadi. Seolah, untuk memperlihatkan Keagungan Rububiyah-Nya, Dia membuat pasukan tata surya ini, yang seperti prajurit-prajurit penerima perintah-Nya, melakukan manuver.
Wahai tuan ahli kosmografi! Kebetulan mana yang dapat ikut campur dalam pekerjaan-pekerjaan ini? Tangan sebab mana yang dapat menjangkaunya? Daya mana yang dapat mendekatinya? Mari, katakan. Apakah Sang Sultan Dzul-Jalâl semacam itu akan memperlihatkan ketakberdayaan-Nya lalu membiarkan yang lain ikut campur dalam Kerajaan-Nya? Terutama, apakah Dia menyerahkan makhluk-makhluk hidup, buah, hasil, tujuan serta inti alam, kepada tangan-tangan lain? Apakah Dia membiarkan yang lain ikut campur? Terutama, apakah Dia membiarkan manusia tanpa arahan, yang merupakan buah paling menyeluruh, hasil paling sempurna, khalifah bumi serta tamu yang menjadi cermin bagi Sang Sultan itu? Apakah Dia menyerahkan mereka kepada tabiat serta kebetulan lalu meniadakan Keagungan Kerajaan-Nya dan menjatuhkan Kesempurnaan Hikmah-Nya?

JENDELA KEDUA PULUH DUA

ﺍَﻟَﻢْ ﻧَﺠْﻌَﻞِ الْاَرْضَ ﻣِﻬَﺎﺩًﺍ ٭ ﻭَ ﺍﻟْﺠِﺒَﺎﻝَ ﺍَﻭْﺗَﺎﺩًﺍ ٭ ﻭَﺧَﻠَﻘْﻨَﺎﻛُﻢْ ﺍَﺯْﻭَﺍﺟًﺎ ٭ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮْ ﺍِﻟٰٓﻰ ﺍٰﺛَﺎﺭِ ﺭَﺣْﻤَﺖِ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﻛَﻴْﻒَ ﻳُﺤْﻴِﻰ الْاَرْضَ ﺑَﻌْﺪَ ﻣَﻮْﺗِﻬَﺎ
Bola bumi ialah sebuah kepala yang mempunyai seratus ribu mulut. Setiap mulut mempunyai seratus ribu bahasa. Setiap bahasa mempunyai seratus ribu bukti, yang masing-masing dari banyak sisi bersaksi atas Wujud Niscaya, Keesaan, Sifat-Sifat suci serta Asma indah Zat Dzul-Jalâl, Wâjibul Wujûd, Wâhid dan Ahad, Qadîr atas segala sesuatu serta Alîm atas segala sesuatu.
Ya, kita memandang awal bumi diciptakan: batu diciptakan dari bahan mengalir yang menjadi cair, dan tanah dari batu. Jika tetap cair, ia tidak dapat dihuni. Jika setelah menjadi batu cairan itu sekeras besi, ia tidak dapat dimanfaatkan. Tentu, yang memberinya keadaan ini ialah Hikmah Sang Pembuat yang Hakîm, yang melihat kebutuhan penghuni bumi.
Lalu lapisan tanah diletakkan di atas tiang-tiang gunung, agar gempa yang timbul dari perubahan di dalamnya bernapas melalui gunung dan tidak membuat bumi keliru dalam gerak serta tugasnya; agar menyelamatkan tanah dari serbuan laut; menjadi khazanah bagi keperluan hidup makhluk-makhluk hidup; menyisir udara serta membersihkannya dari gas berbahaya agar dapat dihirup; mengumpulkan serta menyimpan air; dan menjadi sumber serta pusat mineral-mineral lain yang diperlukan makhluk hidup.
Keadaan ini bersaksi dengan amat pasti serta kuat atas Wujud Niscaya dan Keesaan Sang Qadîr Mutlak serta Sang Hakîm yang Rahîm.
Wahai tuan ahli geografi! Dengan apa engkau menjelaskannya? Kebetulan mana yang dapat menjadikan kapal Rabb, yang penuh keajaiban karya ciptaan ini, sebuah pameran keajaiban, memutarnya dengan cepat pada jarak dua puluh empat ribu tahun dalam setahun, tanpa membuat sesuatu pun dari benda-benda yang tersusun pada wajahnya jatuh?
Pandanglah karya-karya seni menakjubkan pada muka bumi! Betapa penuh Hikmah unsur-unsur ditugaskan. Melalui Perintah Sang Qadîr yang Hakîm, betapa indah mereka memperhatikan para tamu Sang Rahmân pada muka bumi dan berlari melayani mereka.
Pandanglah garis-garis bercorak pada wajah muka bumi, yang beraneka warna, menakjubkan dan penuh hikmah, di tengah karya-karya seni yang menakjubkan serta langka! Betapa Dia menjadikan sungai serta anak sungai, laut serta sungai besar, gunung serta bukit, sebagai tempat tinggal dan sarana perjalanan yang layak bagi berbagai makhluk serta hamba-Nya. Kemudian, memenuhi bumi dengan ratusan ribu golongan tumbuhan serta jenis hewan dengan Hikmah dan tata sempurna, memberi hidup serta memakmurkannya; mengosongkannya melalui kematian sebagai pelepasan dari tugas secara teratur dari waktu ke waktu; lalu kembali memenuhinya secara teratur dalam bentuk ﺑَﻌْﺚُ ﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕِ; semuanya bersaksi dengan ratusan ribu bahasa atas Wujud Niscaya serta Keesaan Sang Qadîr Dzul-Jalâl dan Sang Hakîm Dzul-Kamâl.
Kesimpulannya:

Bumi, yang wajahnya pameran keajaiban seni, tempat berkumpulnya makhluk-makhluk langka, jalan lewat kafilah-kafilah yang ada, serta masjid dan tempat tinggal barisan-barisan hamba-Nya, merupakan kalbu seluruh alam; karena itu ia memperlihatkan cahaya Keesaan sebesar alam.
Wahai tuan ahli geografi! Jika kepala bumi ini dengan seratus ribu mulut, masing-masing dengan seratus ribu bahasa, mengenalkan Allah subhânahu, tetapi engkau tidak mengenal-Nya dan memasukkan kepalamu ke rawa tabiat, pikirkan tingkat kesalahanmu. Ketahuilah betapa ia membuatmu layak menerima hukuman dahsyat, sadarlah dan keluarkan kepalamu dari rawa. Ucapkan ﺍٰﻣَﻨْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠّٰﻪِ ﺍﻟَّﺬ۪ﻯ ﺑِﻴَﺪِﻩ۪ ﻣَﻠَﻜُﻮﺕُ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْﺀٍ.

JENDELA KEDUA PULUH TIGA

ﺍَﻟَّﺬ۪ﻯ ﺧَﻠَﻖَ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﺍﻟْﺤَﻴٰﻮﺓَ
Hidup ialah yang paling bercahaya dan paling indah dari mukjizat-mukjizat Kudrat Rabb; yang paling kuat dan paling cemerlang dari bukti-bukti Keesaan; serta yang paling menyeluruh dan paling bening dari cermin-cermin Tajalli Allah subhânahu Yang Samad.
Ya, hidup sendiri memberitahukan Sang Hayy dan Qayyûm bersama seluruh Asma serta Syuunat-Nya. Sebab, hidup ialah cahaya dan obat penawar, seperti ramuan yang mencampur banyak sifat. Sebagaimana tujuh warna bercampur dalam cahaya dan berbagai obat dalam penawar, hidup pun hakikat yang dibuat dari banyak sifat. Sebagian sifat dalam hakikat itu meluas melalui indra, berkembang dan terpisah. Sebagian besar memperlihatkan diri sebagai perasaan dan memberitahukan diri dengan memancar dari hidup.
Hidup juga mencakup rezeki, Rahmat, Perhatian serta Hikmah yang berkuasa dalam mengatur dan mengelola alam. Seolah, hidup memasang mereka di belakangnya dan menarik mereka ke tempat yang dimasukinya. Misalnya, ketika hidup masuk ke suatu benda ataupun tubuh, Nama Hakîm pun bertajalli; melalui Hikmah, Dia membuat serta menata sarangnya dengan indah. Pada saat yang sama, Nama Karîm pun bertajalli, menyusun serta menghiasi tempat tinggalnya menurut kebutuhan. Pada saat yang sama, Pancaran Nama Rahîm terlihat: Dia memperlakukannya dengan lembut melalui berbagai karunia demi berlangsung serta sempurnanya hidup itu. Pada saat yang sama, Pancaran Nama Razzâq terlihat: Dia menyediakan makanan materi serta rohani yang diperlukan agar hidup itu tetap ada dan berkembang, serta menyimpan sebagian dalam tubuhnya.
Jadi, hidup ialah titik fokus tempat berbagai sifat saling masuk, bahkan menjadi sama satu dengan yang lain. Seolah, hidup sepenuhnya sekaligus ilmu, kudrat, hikmah, rahmat, dan seterusnya. Melalui hakikatnya yang menyeluruh ini, hidup ialah cermin Sifat Samad, yang mencerminkan Syuun Zat Rabb.
Karena rahasia inilah Zat Wâjibul Wujûd yang Hayy dan Qayyûm menciptakan hidup dalam jumlah amat banyak dan melimpah, menyebarkan serta memperlihatkannya. Dia membuat segala sesuatu berkumpul di sekeliling hidup dan menjadi pelayannya. Sebab, tugas hidup besar. Ya, menjadi cermin Sifat Samad bukan sesuatu yang mudah dan bukan tugas biasa.Hidup-hidup baru yang tak terhitung ini, yang setiap saat kita lihat di hadapan mata, serta ruh-ruh yang menjadi asal dan diri hidup itu, yang tiba-tiba datang dari tiada lalu dikirim, memperlihatkan Wujud Niscaya, Sifat-Sifat suci serta Asma indah Zat Wâjibul Wujûd yang Hayy dan Qayyûm, sebagaimana kilauan memperlihatkan matahari. Sebagaimana orang yang tidak mengenal serta menerima matahari terpaksa mengingkari cahaya yang memenuhi siang, orang yang tidak mengenal Sang Matahari Ahadiyah, Yang Hayy dan Qayyûm, Muhyî dan Mumît, harus mengingkari adanya makhluk-makhluk hidup yang memenuhi muka bumi, bahkan masa lalu dan masa depan, dan jatuh seratus tingkat di bawah hewan. Ia harus jatuh dari tingkat hidup, menjadi sosok tak bernyawa yang amat bodoh.